Cerita Dubes Morgenthau/Bab 14


BAB XIV

WANGENHEIM DAN PERUSAHAAN BAJA BETHLEHEM

— SEBUAH PERANG SUCI YANG DIBUAT

DI JERMAN

Sepanjang waktu, aku meningkatkan pengetahuanku terhadap karakter Jerman modern, seperti yang diilustrasikan pada Wangenheim dan para rekannya. Pada hari-hari awal perang, Jerman menunjukan keterpihakan paling menonjol mereka kepada Amerika. Namun, kala waktu datang dan ini menjadi nampak bahwa opini masyarakat Amerika Serikat nyaris mendukung Sekutu, dan bahwa Pemerintahan Washington tak akan menghiraukan hukum netralitas dalam rangka mempromosikan kepentingan Jerman, sikap persahabatan ini berubah dan menjadi nyaris bergesekan.

Keluhan yang Dubes Jerman ajukan dibalas dengan pernyataan yang mengusik adalah hal familiar yang lama — penjualan amunisi Amerika ke Sekutu. Aku susah payah menemuinya agar ia tak membicarakan hal tersebut. Ia membujukku untuk memberikan pesan kepada Presiden Wilson, memintanya untuk melakukan. Pada kenyataannya, saya menganggap bahwa perdagangan munisi sepenuhnya disahkan tanpa membuat tekanan. Karena perjuangan di Dardanelles menjadi makin mendalam, pertentangan Wangenheim terhadap persoalan amunisi Amerika berkembang. Ia menganggap bahwa kebanyakan rudal yang dipakai di Dardanelles dibuat di Amerika dan bahwa Amerika Serikat sebetulnya menawarkan perang terhadap Turki. Suatu hari, dengan lebih murka ketimbang biasanya, ia membawakanku sepotong rudal. Pada benda tersebut, rudal tersebut nampak jelas menampilkan tulisan "B.S.Co."

"Lihat itu!" ujarnya. "Aku anggap kau tau apa itu 'B.S.Co.'? Itu adalah Bethlehem Steel Company (Perusahaan Baja Bethlehem)! Ini akan membuat Turki khawatir. Dan mengingat bahwa mereka menyatakan Amerika Serikat bertanggung jawab terhadapnya. Kami memberikan dukungan lebih dan lebih, dan kami pergi untuk mendorongmu untuk mencatat setiap kematian yang disebabkan oleh rudal Amerika. Jika kau hanya akan menulis di rumah dan membuat mereka berhenti menjual amunisi kepada musuh-musuh kami, perang kemudian akan berakhir."

Aku membuat pembelaan biasa, dan menyebut agar Wangenheim menyoroti bahwa Jerman telah menjual munisi kepada Spanyol dalam Perang Spanyol, namun semua itu bukanlah tujuan. Semua yang disoroti oleh Wangenheim adalah suplai Amerika yang menghimpun aset kepada musuhnya. Legalitas situasi tak mementingkannya. Sebetulnya, aku enggan untuk ditekan agar menulis kepada Presiden soal permasalahan tersebut.

Beberapa hari setelahnya, sebuah artikel muncul dalam Ikdam yang membahas hubungan Turki dan Amerika. Secara garis besar, kontribusinya sangat bergantung pada Amerika. Namun, tujuan sebenarnya berseberangan antara masa kini dengan masa lalu, dan menekankan agar tindakan kami dalam mengerahkan amunisi ke musuh-musuh Turki sangat tak selaras dengan persahabatan antar dua negara tersebut sepanjang sejarah. Segala hal yang ditulis sebetulnya ditulis selaras dengan pernyataan orang Turki pada paragraf akhirnya. "Menurut laporan koresponden di Dardanelles, sebagian besar rudal yang ditembakkan oleh Inggris dan Prancis pada bombardemen terakhir nampak dibuat di Amerika." Pada masa itu, Kedubes Jerman mengendalikan Ikdam, dan melakukan sepenuhnya untuk kepentingan propaganda Jerman. Sebuah pernyataan dari catatan tersebut, yang timbul dari pikiran Turki fanatik dan mudah terpengaruh, dapat memiliki dampak yang sangat besar. Sehingga, aku membawa persoalan tersebut langsung kepada sosok yang aku anggap bertanggung jawab besar terhadap serangan tersebut—Dubes Jerman.

Mula-mula, Wangenheim menyatakan ketidakbersalahannya. Ia bertingkat seperti anak-anak dalam menentang penghirauannya terhadap segala perkara. Ia menyerukan perhatiannya kepada fakta bahwa pernyataan dalam Ikdam nyaris identik sama dengan orang-orang yang ia hadapkan kepadaku pada beberapa har sebelumnya; bahwa bahasa pada hal tertentu nyaris merupakan pengulangan dari perbincangannya sendiri.

"Bukankah kau menulis artikel itu sendiri," ujarku, "atau kau memanggil wartawan dan memberikannya gagasan-gagasan utama."

Wangenheim memandang bahwa tidak ada pemakaian pembantahan kepengarangan lebih lanjut. "Ngomong-ngomong," ujarnya sembari membalikkan kepalanya, "apa yang kau lakukan terhadapnya?"

Sikap serupa Tweed ini lebih memerangkapkanku dan aku membawakannya kembali ke TKP.

"Aku berkata kepadamu bahwa aku datang untuk melakukan hal itu," jawabku, "dan kau tau bahwa aku akan dapat mengeluarkan ancaman-ancamanku. Entahkau berhenti menyetir perasaan anti-Amerika di Turki atau aku harus memulai kampanye sentimen anti-Jerman disini.

"Kau tau. Baron," tambahku, "bahwa orang-orang Jermanmu berseluncur di atas es yang sangat tipis di negara ini. Kau tau bahwa Turki tak mengasihimu juga. Pada kenyataannya, kau tau bahwa Amerika lebih populer disini ketimbang kamu. Mendadak agar aku berjalan keluar, memberitahukan Turki bagaimana kau menggunakan mereka untuk pemanfaatanmu sendiri—bahwa tak tak benar-benar menganggap mereka sebagai sekutumu, namun sekadar sebagai bidak dalam permainan yang kau mainkan. Kini, dalam menyetir perasaan anti-Amerika yang dapat kamu rasakan disini menyentuh titik terlembutku. Kau menyeret lembaga pendidikan dan keagamaan kami untuk diserang Turki. Tidak ada orang yang mengetahui apa yang mereka lakukan jika mereka mendorong agar para kerabat mereka ditembak oleh rudal-rudal Amerika. Kau sempat menghentikannya, atau dalam tiga pekan, aku akan memenuhi seluruh Turki dengan permusuhan terhadap Jerman. Ini akan menjadi pertikaian antara kita, dan aku siap untuknya."

Sikap Wangenheim sempat berubah. Ia berbalik, menempatkan tangannya di pundaknya, dan menunjukkan perilaku yang sangat damai dan nyaris penuh kasih sayang.

"Ayolah, mari kita berteman," ujarnya. "Aku melihat bahwa kamu berhak terhadapnya. Aku lihat bahwa serangan semacam itu dapat mencederai teman-temanmu, para misionaris. Aku menjanjikanmu agar kami akan berhenti."

Dari hari itu, pers Turki tak pernah membuat sikap sangat tak bersahabat dengan Amerika Serikat. Keruwetan dengan serangan-serangan tersebut terhenti menunjukkanku bahwa Jerman benar-benar mengangkat Turki menjadi salah satu pihak paling setia terhadap Tanah Air—pengendalian pemerintah absolut terhadap pers. Namun kala aku memikirkan rencana-rencana menonjol yang dirancang oleh Wangenheim pada kesempatan itu, pertentangannya terhadap pemakaian beberapa rudal Amerika oleh kapal-kapal tempur Inggris—jika kapal-kapal tempur Inggris memakai rudal semacam itu, yang aku benar-benar ragukan—nampak nyaris tak masuk akal. pada hari-hari awal, Wangenheim menjelaskan padaku soal salah satu keperluan utaman Jerman dalam memaksa Turki ikut konflik. Ia membuat penjelasan ini dengan cepat dan tanpa hambatan, seperti halnya persoalan paling biasa di dunia. Duduk dikantorku, menghisap rokok Jerman hitam besarnya, ia membongkar skema Jerman untuk mengembangkan dunia Muslim yang sepenuhnya fanatik melawan Kristen. Jerman merencanakan "perang suci" yang sebenarnya sebagai suatu alat menghancurkan pengaruh Inggris dan Prancis di dunia. "Turki sendiri sebetulnya bukanlah persoalan penting," ujar Wangenheim. "Pasukannya berjumlah kecil, dan kami tak mengharapkannya terlalu banyak. Karena sebagian besar akan bertindak defensif. Namun hal besarnya adalah dunia Muslim. Jika kami dapat menyetir umat Muslim melawan Inggris dan Rusia, kami dapat memaksa mereka untuk berdamai."

Apa yang Wangenheim buktikan diartikan oleh "hal besar" yang menjadi nampak pada 13 November, kala Sultan mengeluarkan deklarasi perang. Deklarasi tersebut benar-benar diwujudnyatakan lewat Jihad, atau "Perang Suci" terhadap kafir. Tak lama kemudian, Sheik-ul-Islam menerbitkan proklamasinya, mendorong seluruh dunia Muslim untuk bangkit dan membantai penindas Kristen mereka. "Wahai para Muslim!" ujar dokumen tersebut. "Yang seturut dengan kebahagiaan dan dalam rangka mengorbankan nyawamu dan barang-barangmu untuk kepentingan hak, dan memberanikan para murid, yang berkumpul kini di sekitaran takhta Kekaisaran, ikuti perintah Yang Maha Kuasa, yang, dalam al-Qur'an, menjanjikan kita kebahagiaan di dunia ini dan di dunia selanjutnya; doronglah kaki takhta Khalifah dan ketahuilah bahwa negara sedang berperang dengan Rusia, Inggris, Prancis, dan Sekutu-sekutu mereka, dan bahwa mereka adalah musuh-musuh Islam. Pemimpin umat, Khalifah, mengundang Anda sekalian sebagai Muslim untuk ikut dalam Perang Suci!" Para pemimpin agama membacakan proklamasi tersebut kepada umat-umat mereka kala berkumpul di masjid-masjid. Seluruh surat kabar mencetaknya secara berkelanjutan. Proklamasi tersebut tersebar luas di seluruh negara dengan populasi Muslim yang besar — India, Tiongkok, Persia, Mesir, Aljazair, Tripoli, Maroko, dan lain sebagainya. Di seluruh tempat tersebut, proklamasi tersebut dibacakan kepada kumpulan umat dan masyarakat yang didorong untuk menerapkan perintah tersebut. Ikdam, surat kabar Turki yang dimiliki Jerman, secara langsung dikutip pada masyarakat. "Perbuatan musuh kita," tulis editor Turki-Jerman tersebut, "mendatangkan kemurkaan Allah. Sinar harapan telah muncul. Wahai seluruh Muslim, tua dan muda, pria, wanita, dan anak-anak, harus memenuhi tugas mereka agar sinar tersebut tidak padam, namun memberikan penyinaran kepada kita selamanya. Berapa banyak hal-hal besar yang dapat disertai oleh pasukan pria yang kuat, dengan bantuan yang lainnya, wanita dan anak-anak! . . . Waktu untuk bertindak telah datang. Kita semua harus berjuang dengan segala kekuatan kita, dengan segala jiwa kita, dengan gigi dan kuku, dan dengan seluruh otot raga kita dan jiwa kita. Jika kita melakukannya, kemunculan kerajaan-kerajaan Muslim terjadi. Kemudian, jika Allah berkehendak, kita harus bergerak tanpa rasa malu melalui pihak teman-teman kita yang mengirim penyambutan kita kepada Bulan Sabit. Allah membantu kita dan Nabi mendukung kita."

Proklamasi Sultan menjadi dokumen publik resmi, dan bersepakat dengan cetusan Perang Suci hanya dalam cara umum, namun nyaris pada waktu yang sama, pamflet rahasia muncul yang memberikan pengerahan kepada umat dalam istilah yang lebih spesifik. Kertas tersebut tak dibacakan di masjid-masjid. Karya tulis tersebut giat disebarkan di seluruh negara Muslim — India, Mesir, Maroko, Suriah, dan banyak negara lainnya; dan karya tulis tersebut seringkali dicetak dalam bahasa Arab, bahasa al-Qur'an. Karya tulis tersebut memiliki ukuran sepanjang dokumen (terjemahan Inggrisnya berisi 10.000 kata) yang dipenuhi kutipan dari al-Qur'an, dan gayanya disesuaikan dengan penerapannya terhadap kebencian rasial dan keagamaan. Karya tulis tersebut menjelaskan penjelasan rencana operasi untuk pembunuhan dan pemusnahan seluruh Kristen — kecuali yang berkebangsaan Jerman. Sedikit ringkasan akan secara jelas menggambarkan intisarinya: "Wahai umat dan wahai Muslim tercinta, menyatakan kondisi terkini dunia Islam, melalui kesempatan singkat ini. Karena jika kamu anggap ini sebentar namun Anda akan menangis panjang. Anda akan memegang urusan yang dikehendaki yang akan menyebabkan tangisan berjatuhan dan api kesedihan berkobar. Anda lihat negara besar India, yang terdiri dari ratusan juta Muslim, jatuh, karena perpecahan dan pelemahan agama, ke genggaman musuh-musuh Allah, kafir Inggris. Kau lihat empat puluh juta Muslim di Jawa diperangkapkan oleh rantai penahanan dan diduduki di bawah kekuasaan Belanda, walau para kafir tersebut berjumlah lebih sedikit ketimbang umat dan tak menikmati peradaban yang lebih tinggi. Kau lihat Mesir, Maroko, Tunisia, Aljazair, dan Sudan mengalami luka berat dan terperosok dalam genggaman musuh Allah dan rasulnya. Kau lihat sebagian besar negara Siberia dan Turkestan dan Khiva dan Bokhara dan Kaukasus dan Krimea dan Kazan dan Ezferhan dan Kosahastan, yang rakyat Muslimnya percaya akan persatuan Allah, terkapar di bawah kaki penindas mereka, yang merupakan musuh dari agama kita. Kau lihat Persia yang direncanakan untuk dipecah dan kau lihat kota Kekhalifahan, yang selama bermasa-masa tak berhenti berjuang napas demi napas dengan musuh agama kita, kini menjadi target untuk penindasan dan kekerasan. Sehingga kala kau lihat yang kau lirik musuh-musuh agama benar, terutama Inggris, Rusia, dan Prancis, menindas Islam dan menggerogoti hak-haknya dalam segala cara yang memungkinkan. Kami tak dapat menghitung hinaan yang mereka berikan pada tangan negara-negara yang ingin secara bulat menghancurkan Islam dan mengantar seluruh Muslim keluar dari muka bumi. Tirani ini mendorong seluruh batas yang dimajukan; secangkir penindasan kita sepenuhnya berkibar. . . . Singkatnya, Muslim bekerja dan kafir bersantap; Muslim lapar dan menderita dan kafir menunjung diri mereka sendiri dan hidup dalam kemewahan. Dunia Islam tenggelam dan bergerak mundur, dan dunia Kristen bergerak maju dan makin dan semakin dijunjung. Muslim diperbudak dan kafir adalah penguasa besarnya. Ini semua karena Muslim meninggalkan rencana yang direncanakan dalam al-Qur'an dan menghiraukan Perang Suci yang diperintahkan. . . . Namun waktu kini telah datang untuk Perang Suci, dan dengan ini, tanah Islam harus selamanya bebas dari kekuatan kafir yang menindasnya. Perang suci ini kini telah menjadi tugas suci. Ketahuilah bahwa darah kafir di wilayah Islam ditumpahkan tanpa penghukuman — kecuali orang-orang yang menjanjikan keamanan terhadap kekuatan Muslim dan yang bersekutu dengannya. [Disini, kami menemukan bahwa Jerman dan Austria yang dikecualikan dari pembantaian.] Pembunuhan para kafir yang menjajah Islam telah menjadi tugas suci, entah kamu melakukannya diam-diam atau terbuka, seperti yang al-Qur'an perintahkan: 'Ambil mereka dan bunuh mereka dimanapun kamu menemukan mereka. Dorong mereka agar menyerahkan mereka ke dalam tanganmu dan memberikanmu kekuatan besar atas mereka.' Ia yang membunuh seorang kafir dari orang-orang yang memerintah kita, entah ia melakukannya diam-diam atau terbuka, harus dianugerahi oleh Allah. Dan marilah setiap Muslim, di tempat manapun di dunia ia berada, nyatakanlah sumpah kesungguhan untuk membunuh setidaknya tiga atau empat kafir yang mendudukinya, karena mereka adalah musuh Allah dan keyakinan. Mari setiap Muslim ketahui bahwa karunianya dapat digandakan oleh Allah yang menciptakan surga dan bumi. Seorang Muslim yang melakukan ini dapat selamat dari teror hari Penghakiman, kebangkitan orang-orang mati. Siapa orang yang dapat menolak ganti rugi semacam itu untuk perbuatan kecil semacam itu? . . . Sehingga waktunya telah datang agar kita harus bangkit sebagai kebangkitan satu orang, di satu tangan sebuah pedang, di tangan lain sebuah senapan, di dalam kantungnya bola api dan misil mematikan, dan di hatinya terdapat cahaya keyakinan, dan bahwa kita harus mengeluarkan suara kita, seraya berkata — India untuk Muslim India, Jawa untuk Muslim Jawa, Aljazair untuk Muslim Aljazair, Maroko untuk Muslim Maroko, Tunisia untuk Muslim Tunisia, Mesir untuk Muslim Mesir, Iran untuk Muslim Iran, Turan untuk Muslim Turan, Bokhara untuk Muslim Bokhara, Kaukasus untuk Muslim Kaukasus, dan Kekaisaran Utsmaniyah untuk Turki dan Arab Utsmaniyah."

Instruksi spesifik untuk mengerahkan keperluan suci ini disusul. Harus ada "perang hati" — yang setiap pengikut Nabi harus memenuhi jiwanya dengan kebencian terhadap kafir; "perang bicara" — dengan lidah dan pena setiap Muslim harus menyebarkan kebencian yang sama dimanapun Muslim berada; dan perang perbuatan — bertarung dan membunuhi kafir dimanapun ia menunjukkan kepalanya. Konflik terakhir tersebut, ujar pamflet tersebut, adalah "perang sebenarnya." Terdapat "perang suci kecil" dan "perang suci besar"; yang pertama menyebut pertempuran yang setiap Muslim lakukan di komunitas mereka melawan tetangga Kristennya, dan yang kedua adalah perjuangan dunia besar yang menyatukan Islam, di India, Arabia, Turki, Afrika, dan negara lain yang berjuang melawan penindas kafir. "Perang Suci," ujar pamflet tersebut, "akan terdiri dari tiga bentuk. Pertama, perang individual, yang meliputi perbuatan pribadi seseorang. Ini dapat dilakukan dengan memotong, membunuh orang-orang penting, seperti perang suci yang salah satu umat lakukan melawan Peter Galy, gubernur kafir Inggris, seperti menyembelih kepala polisi di India, dan seperti membunuh seorang pejabat yang datang ke Makkah oleh Abi Busir (yang Allah merahmatinya)." Dokumen tersebut memberikan banyak contoh pembunuhan lain yang umat pakai untuk mencontohnya. Yang kedua, para umat dikatakan untuk menghimpun "kelompok," dan bergerak maju dan menyembelih Kristen. Pemakaian terbanyak adalah orang-orang yang terorganisir dan beroperasi secara rahasia. "Ini diharapkan agar dunia Islam saat ini akan sangat diuntungkan dari kelompok rahasia semacam itu." Metode ketiga adalah lewat "kampanye terorganisir," yang dilakukan oleh pasukan terlatih.

Di seluruh bagian dari dorongan pembunuhan tersebut, terdapat indikasi bahwa tangan Jerman telah ikut campur dalam penaungan editorial. Hanya orang-orang kafir yang disembelih, "yang berkuasa atas kita" — yakni, orang-orang yang menjadi umat Muslim. Karena Jerman tak memiliki subyek semacam itu, klausa menyelamatkan ini diharapkan melindungi orang-orang Jerman dari serangan. Dengan kepentingan biasa mereka dalam kehendak mereka sendiri dan ketidaksepakatan biasa mereka terhadap sekutu mereka, Jerman benar-benar melirik fakta bahwa Austria memiliki banyak penduduk Muslim di Bosnia dan Herzegovina. Muslim diperintahkan agar mereka harus membentuk pasukan, "bahkan menjalankannya untuk dijadikan kebutuhan untuk mengenalkan beberapa unsur asing" — yakni, mengirimkan instruktur Jerman dan perwira Jerman. "Anda harus ingat" — ini benar-benar ditujukan sebagai lapisan pelindung untuk orang-orang Jerman di segala tempat — "agar ini menjadi benar-benar tak berhukum untuk melawan orang-orang manapun dari agama lain antara pihak lain dan pihak Muslim yang setia atau orang-orang yang tak mewujudkan pertikaian terhadap kursi Kekhalifahan atau orang-orang masuk di bawah perlindungan Muslim."

Meskipun aku tak mendapatkan pernyataan pribadi Wangenheim agar Jerman berniat untuk membangkitkan umat Muslim di tempat manapun melawan Inggris, Prancis, dan Rusia, interpolasi tersebut akan benar-benar mengindikasikan inspirasi nyata dari dokumen menakjubkan tersebut. Pada masa itu, Wangenheim membahas persoalan tersebut denganku, gagasan utamanya memandang bahwa "perang suci" dari jenis ini akan menjadi alat paling cepat yang memaksa Inggris untuk berdamai. Menurut sudut pandang ini, ini benar-benar merupakan serangan damai yang besar. Pada masa itu, Wangenheim merefleksikan pernyatana, yang diselaraskan dengan seluruh lingkar resmi, bahwa Jerman membuat kekeliruan dalam membuat Inggris ikut konflik, dan ini membuktikan gagasannya kini bahwa jika tembakan balik dapat mulai melawan Inggris di India, Mesir, Sudan dan tempat lain, Kekaisaran Inggris akan mundur. Bahkan jika Muslim Inggris enggan untuk bangkit, Wangenheim meyakini bahwa ancaman dari pemberontakan semacam itu akan membuat Inggris meninggalkan Belgia dan Prancis pada nasib mereka. Bahaya menyebarkan karya tulis semacam itu di kalangan orang-orang fanatik menjadi nampak. Aku tak hanya diplomat netral yang mengkhawatirkan dampak paling serius. M. Tocheff, Perwakilan Bulgaria, salah satu anggota menonjol dari kalangan diplomatik, sangat terganggu. Pada masa itu, Bulgaria bersikap netral, dan M. Tocheff dipakai untuk memberitahukanku bahwa negaranya berharap untuk mempertahankan netralitasnya. Ia berujar, setiap pihak mengharapkan agar Bulgaria akan menjadi sekutunya, dan ini merupakan kebijakan Bulgaria untuk mempertahankan setiap pihak dalam wadah pemikiran yang diinginkan ini. Kala Jerman berhasil dalam memulai "Perang Suci" dan kala pembantaian-pembantaian timbul, Bulgaria, ujar M. Tocheff, tentu akan menggabungkan pasukannya dengan Entente.

Kami memutuskan agar ia harus memanggil Wangenheim dan mengulang pernyataan ini, dan bahwa aku harus mengirim penekanan serupa kepada Enver. Namun, dari awal, Perang Suci tersebut mengalami kegagalan. Umat Islam dari negara-negara seperti India, Mesir, Aljazair, dan Maroko mengetahui bahwa mereka mendapatkan perlakuan yang lebih baik ketimbang yang mereka dapatkan di bawah kondisi terbayangkan lainnya. Selain itu, umat Islam yang berpikiran sederhana tak dapat memahami kenapa mereka harus melaksanakan perang suci melawan Kristen dan pada saat yang sama memiliki negara-negara Kristen, seperti Jerman dan Austria, sebagai mitra mereka. Asosiasi ini menciptakan pernyataan yang sepenuhnya konyol. Pada kenyataannya, al-Qur'an memerintahkan penjagalan Kristen, namun pada bagian penting tak membuat pengecualian terhadap Jerman dan, dalam pikiran Muslim fanatik, rayah Jerman merupakan Kristen kotor layaknya Inggris atau Prancis, dan pembantaiannya hanya sekadar sebuah tindakan. Pembedaan murni yang dibutuhkan oleh diplomasi Eropa yang nyaris aku mengerti seperti halnya ia memahami hukum gravitasi atau hipotesis nebular. Kegagalan Jerman untuk mengambil catatan tersebut hanya merupakan bentuk lain kecanggungan Jerman fundamental dan penghirauan nyata terhadap psikologi rasial. Satu-satunya fakta yang ada menyatakan bahwa keinginan Kaiser untuk mengerahkan 300.000.000 umat Islam dalam pembantaian besar St. Bartolomeus terhadap umat Kristen.

Apakah saat itu tak ada "perang suci" secara keseluruhan? Apakah "Hal Besar" Wangenheim benar-benar gagal? Kala aku memikirkan Jihad menjadi peristiwa menonjol di Kedubes Amerika datang ke pikiranku. Di satu sisi meja, Enver duduk,menyeruput teh dengan sangat damai dan menyantap kue, dan di sisi lain adalah diriku, yang diperlakukan dalam perlaku yang sama seperti sebelum perang. Kala itu pada tanggal 14 November, sehari usai Sultan menyatakan perang sucinya. Terdapat pertemuan-pertemuan di masjid-masjid dan tempat lainnya. Disana, deklarasi tersebut dibacakan dan pidato-pidato dibuat. Enver kini menyatakan kepadaku bahwa tak ada penganiayaan yang akan terjadi pada orang-orang Amerika. Pada kenyataannya, tidak ada pembantaian yang terjadi. Kala ia berbincang, salah satu jurutulisku datang dan menyatakan kepadaku bahwa segerombolan kecil mengadakan unjuk rasa melawan pihak-pihak asing tertentu. Peristiwa tersebut menimpa toko Austria yang dengan tak bijaksana menyatakan bahwa toko tersebut memiliki "busana-busana Inggris" untuk dijual. Aku bertanya kepada Enver soal apa artinya ini. Ia menjawab bahwa itu semua merupakan kesalahpahaman. Tak ada niat untuk menyerang siapapun. Sebentar usai aku pergi, aku diberitahu bahwa gerombolan tersebut menyerang Bon Marché, sebuah toko barang kering Prancis, dan langsung menghampiri Kedubes Inggris. Aku sesekali menghubungi Enver lewat telepon. Ia berujar bahwa itu semua tak akan menimpa kedubes tersebut. Satu atau dua menit setelahnya, gerombolan tersebut langsung mengelilingi dan memasuki Tokatlian's, rumah makan paling terkenal di Konstantinopel. Fakta bahwa ini dilakukan oleh orang Amerika menjadikannya permainan yang adil. Enam orang yang memiliki galah, dengan pengait di ujungnya, memecahkan seluruh cermin dan jendela, yang lainnya mengambil marmer atasan meja dan menghancurkannya sampai berkeping-keping. Dalam beberapa menit, tempat tersebut mengalami kerusakan berat.

Unjuk rasa tersebut menyerukan "Perang Suci," sepanjang Konstantinopel memahaminya. Itu merupakan akhir upaya Jerman untuk membangkitkan 300.000.000 Muslim melawan dunia Kristen! Hanya satu hasil penting yang menyertai Kaiser dengan menyebarkan karya tulis tersebut. Hal tersebut membangkitkan jiwa Muslim sepenuhnya bahwa kekejaman mendalam terhadap Kristen yang merupakan fakta fundamental dalam ranah emosional anehnya, dan sehingga memulai semangat membara yang setelah itu menjalankan diri mereka sendiri dalam pembantaian Armenia dan kalangan lainnya.