BAB XXV

TALAAT BERUJAR KENAPA IA "MENDEPORTASI" ORANG-ORANG ARMENIA

Ini adalah beberapa waktu sebelum kisah kejahatan Armenia mencapai Kedubes Amerika dalam seluruh penjelasan mengerikannya. Pada Januari dan Februari, laporan-laporan terpisah mulai dimajukan, namun penekanannya mula-mula dianggap kami sebagai manifestasi penyakit yang menjangkiti provinsi Armenia selama beberapa tahun. Kala laporan tersebut datang dari Urumia, Enver dan Talaat mengeluarkan sifat liar dan kala untuk pertama kalinya mereka mendengar gangguan di Van, para perwira Turki menyatakan bahwa mereka tak lebih dari segerombolan orang pemberontak yang kemudian dapat dikendalikan. Aku kini memandang, apa yang tak muncul pada bulan-bulan awal, bahwa Pemerintah Turki memutuskan untuk menahan kabar tersebut, selama mungkin, dari dunia luar. Ini jelas-jelas adalah tujuan yang Eropa dan Amerika harus dengar soal penyingkiran ras Armenia hanya setelah penyingkiran tersebut telah rampung. Karena negara yang diharapkan Turki untuk tetap abai adalah Amerika Serikat, kami memajukan kejadian paling tak tau malu tersebut kala membahas situasi dengan diriku dan dengan stafku.

Pada awal April, otoritas menangkapi dua ratus orang Armenia di Konstantinopel dan mengirim mereka ke pelosok. Kebanyakan orang yang dideportasi adalah pemimpin pendidikan dan sosial dan pria yang berpengaruh dalam industri dan keuangan. Aku mengenal kebanyakan pria tersebut dan sehingga merasakan kepentingan pribadi dalam kesialan mereka. Namun kala aku berbicara kepada Talaat soal pengusiran mereka, ia menjawab bahwa Pemerintah bertindak mempertahankan diri. Ia berujar, orang-orang Armenia di Van telah menunjukkan kemampuan mereka sebagai revolusionis. Ia memahami bahwa para pemimpin di Konstantinopel menjalin hubungan dengan Rusia dan ia memiliki setiap aalsan untuk ketakutan bahwa mereka akan memulai pemberontakan melawan Pemerintah Pusat. Sehingga, rencana teramannya adalah mengirimkan mereka ke Angora dan kota-kota pelosok lainnya. Talaat menyangkal bahwa ini adalah bagian dari skema yang lebih besar untuk menyerbu kota berpenduduk Armenia, dan menyatakan bahwa masyarakat Armenia di Konstantinopel tak akan diganggu.

Namun kemudian catatan dari dalam negeri menjadi lebih spesifik dan lebih tak terbungkamkan. Penarikan armada Sekutu dari Dardanelles menciptakan perubahan berbeda pada keadaannya. Sampai saat itu, terdapat sejumlah indikasi bahwa semuanya tak berjalan baik di provinsi-provinsi Armenia. Namun, kala pada akhirnya diputuskan bahwa para teman tradisional Armenia, Britania Raya, Prancis, dan Rusia, tak dapat melakukan apapun untuk membantu orang-orang yang menderita, topeng tersebut mulai lenyap. Pada bulan April, aku mendadak diberi hak memakai kata santi untuk berkomunikasi dengan konsul-konsul Armenia. Penyensoran yang sangat ketat juga diterapkan pada surat-surat. Alat semacam itu yang dapat bekerja hanyalah hal-hal yang terjadi di Asia Kecil yang otoritasnya memutuskan untuk membiarkannya. Namun, mereka tak berhasil. Meskipun segala jenis pemasukan ditempatkan pada perjalanan, tentunya orang-orang Amerika; terutama para misionaris, berhasil dalam mengambil kesempatan tersebut. Selama berjam-jam, kami duduk di kantorku dan, dengan tangis mengalir turun pada wajah mereka, mereka akan memberitahukanku kengerian yang mereka lalui. Banyak orang, baik pria maupun wanita, nyaris patah hati akibat kejadian yang telah disaksikan oleh mereka. Dalam banyak kasus, mereka membawakanku surat-surat dari konsul-konsul Amerika, mengkonfirmasikan penjelasan paling mengerikan dan menambahkan banyak penjelasan yang tak tercetak. Keperluan umum dari seluruh laporan tangan pertama menyatakan bahwa kekejaman dan kebejatan penuh dari sikap Turki telah dirayakan sepanjang berabad-abad, kini telah mengagetkan diri mereka sendiri. Hanya ada satu harapan dalam menyelamatkan nyaris 2.000.000 orang dari pembantaian, kelaparan, dan bahkan lebih buruk, yang aku katakan—itu adalah kekuatan moral Amerika Serikat. Jurubicara negara yang mengecam menyatakan bahwa, tanpa Dubes Amerika dapat membujuk Turki untuk menahan persenjataan mereka, seluruh orang Armenia akan lenyap. Ini bukanlah para misionaris Amerika dan Kanda yang membuat banding pribadi tersebut. Banyak rekan Jerman kami yang menawarkanku untuk ikut campur. Pria dan wanita mengkonfirmasikan seluruh hal terburuk yang pernah didengar olehku, dan mereka menuntut tanah air mereka sendiri. Mereka tak tahan akan penghinaan yang mereka rasakan, seperti halnya orang-orang Jernam, yang pada kenyataannya bahwa negara mereka sendiri bersekutu dengan orang-orang yang dapat meredam keburukan-keburukan semacam itu, namun mereka memahami bahwa kebijakan Jerman juga dibutuhkan untuk memahami bahwa Jernam tak akan ikut campur. Tak ada gunanya mengharapkan bantuan dari Kaiser, mereka berujar—Amerika harus menghentikan pembantaian tersebut, atau mereka akan pergi.

Sebetulnya, secara teknis, aku tak memiliki hak untuk ikut campur. Menurut legalitas keadaan berdarah dingin tersebut, perlakuan warga Turki oleh Pemerintah Turki secara murni merupakan urusan dalam negeri. Tanpa nyawa dan kepentingan Amerika yang terdampak langsung, ini berada di luar perhatian Pemerintah Amerika. Kala aku mula-mula membahas persoalan tersebut kepada Talaat, ia menyatakan bahwa perhatianku terhadap fakta tersebut berada dalam keadaan menentu. Wawancara ini merupakan salah satu perbincangan paling menarik yang aku lakukan pada masa itu. Dua misionaris datang padaku, memberikan penjelasan lengkap kejadian pergesekan di Konia. Usai menyimak kisah mereka, aku tak dapat menahan diriku, dan langsung datang ke Sublime Porte. Aku sempat mengamati bahwa Talaat berada dalam keadaan pikiran paling ganasnya. Selama berbulan-bulan, ia berniat untuk meminta pembebasan salah satu teman dekatnya, Ayoub Sabri, dan Zinnoun, yang dijadikan tahanan oleh Inggris di Malta. Kegagalannya dalam persoalan tersebut menjadi kepedihan dan kerisihan mutlak. Ia selalu membicarakan tentangnya, seringkali membuat sugesti baru untuk membawa teman-temannya kembali ke Turki, dan selalu memohon kepadaku untuk menolongnya. Keresahan Pemimpin Turki tersebut menjadi kala memikirkan teman-temannya yang absen yang biasanya merujuk kepada manifestasi Talaat dalam "perasaan Ayoub Sabri"-nya. Pagi itu, Mendagri tersebut berada dalam "perasaan Ayoub Sabri" terburuknya. Suatu ketika, ia bekerja untuk membebaskan para pengasingan, dan pada kesempatan lain, ia gagal. Seperti biasanya, ia berniat untuk menunjukkan ketenangan luar dan memberi hormat kepdaku, namun frase pendeknya, kelakuan bull-dognya, dan pergelangan tangannya yang diletakkan di atas meja, menunjukkan bahwa ini merupakan kesempatan yang tak menguntungkan untuk menyetirnya ke rasa malu atau bersalah. Aku mula-mula berujar kepadanya soal misionaris Kanada, Dr. McNaughton, yang menerima perlakuan kasar di Asia Kecil.

KAISER WILLIAM II, BERSERAGAM MARSEKAL LAPANGAN TURKI
Ia bersikeras, enggan campur tangan, sementara sekutunya, Turki, membantai 600.000 sampai 1.000.000 orang Armenia. Pembunuhan seluruh golongan tersebut menjadi dampak terburuk doktrin Prusia,—bahwa segala hal dibenarkan untuk memajukan kesuksesan persenjataan Jerman. Setelah pembantaian berakhir, Kaiser memberikan penghargaan kepada Sultan, tepatnya pada 1898, usai Abdul Hamid membantai 200.000 orang Kristen, ia mengunjungi penguasa tersebut dan terang-terang memeluknya
BAGIAN DALAM GEREJA ARMENIA DI URFA
Tempat banyak orang Armenia dibakar. Gereja Armenia tersebut berdiri pada abad keempat. Gereja tersebut dikatakan sebagai gereja Kristen negeri tertua yang berdiri

"Pria itu adalah seorang agen Inggris," jawabnya, "dan kami memiliki bukti untuk hal tersebut."

"Bolehkah aku melihatnya," tanyaku.

"Kami tak melakukannya untuk warga Inggris atau Kanada lainnya," jawabnya, "sampai mereka membebaskan Ayoub dan Zinnoun."

"Namun aku berjanji untuk memperlakukan Inggris dalam pengerjaan orang Amerika selaku orang Amerika," jawabku.

"Itu mungkin," ujar Menteri, "namun janji tak dapat disimpan selamanya. Aku menarik janji itu sekarang. Terdapat batas waktu pada suatu janji."

"Namun jika janji tak mengikat, lalu apa?" tanyaku.

"Sebuah jaminan," jawab Talaat dengan cepat.

Kekhasan Turki murni tersebut memiliki kepentingan metafisika tertentu, namun aku lebih memiliki persoalan praktikal untuk membahasnya pada masa itu. Sehingga, aku mulai berbincang soal orang-orang Armenia di Konia. Aku dengan lantang memulainya kala sikap Talaat menjadi lebih cerdik. Matanya bersinar, dagunya terangkat, menyorotiku, dan berujar:

"Apakah mereka orang Amerika?"

Implikasi pertanyaan ini benar-benar bersifat diplomatik. Ini sebetulnya adalah cara memberitahuku bahwa persoalan tersebut bukanlah urusanku. Pada kala itu, Talaat menyatakannya dalam sangat banyak kata.

"Orang-orang Armenia tak dapat dipercaya," ujarnya, "selain itu, apa yang kami lakukan terhadap mereka tak berkaitan dengan Amerika Serikat."

Aku menjawab bahwa aku menghargai diriku sendiri sebagai teman orang-orang Armenia dan menjelaskan hal yang mereka alami. Namun, ia menggelengkan kepalanya dan enggan membahas persoalan tersebut. Aku lihat tak ada yang dapat diberikan lewat pemaksaan masalah tersebut pada kala itu. Aku berbicara atas perantara warga Inggris lain yang tak mengalami hal yang sebenarnya.

"Ia orang Inggris, bukankah begitu?" jawab Talaat. "Kemudian aku harus melakukan sebagaimana yang aku sukai dengannya!"

"Santap dia, jika kau ingin!" jawabku.

"Tidak," ujar Talaat, "ia akan menyerang pencernaanku."

Ia bertindak ceroboh. "Gott strafe England!" teriaknya—memakai salah satu frase Jerman yang ia ketahui. "Seperti orang-orang Armenia-mu, mereka tak diberikan peluang bagi masa depan! Mereka hanya hidup pada masa sekarang! Seperti halnya Inggris, aku mengharapkan agar Anda menghubungi Washington agar mereka tak melakukan suatu hal pada mereka sampai mereka membebaskan Ayoub Sabri dan Zinnoun!"

Kemudian mendengar itu, aku terhentak, menekan tanganku ke jantungku, dan berkata, dalam bahasa Inggris—Aku pikir nyaris semua kata Inggris seharusnya diketahui olehnya:

"Ayoub Sabri—ia—saudara—ku!"

Meskipun demikian, aku membuat permohonan lain untuk Dr. McNaughton.

"Ia bukan orang Amerika," ujar Talaat, "ia orang Kanada."

"Ini nyaris merupakan hal yang sama," ujarku.

"Ngomong-ngomong," jawab Talaat, "jika aku membiarkannya pergi, akankah kau berjanji agar Amerika Serikat akan mencaplok Kanada?"

"Aku janji," ujarku, dan kami berdua tertawa dengan lelucon kecil ini.

"Setiap kali kau datang kesini," ujar Talaat, "kau selalu mencuri sesuatu hal dariku. Baiklah, kau dapat mendapatkan McNaughton-mu!"

Tentunya wawancara ini bukanlah dorongan permulaan, sejauh kepentingan orang-orang Armenia. Namun Talaat tak selalu dalam "perasaan Ayoub Sabri." Ia timbul dari satu emosi ke lainnya seringan anak-anak. Aku akan mendapatinya bersikukuh dan pantang menyerah pada suatu hari, dan bertindak baik dan menerima pada keesokan harinya. Sehingga, kebijaksanaan yang menandakan bahwa ia harus menunggu kesempatan paling beraninya sebelum menghadapiku mengenai persoalan tersebut menimbulkan seluruh sikap barbar dalam sifatnya. Kesempatan semacam itu kemudian muncul. Suatu hari, tak lama usai wawancara mengenai hal di atas, aku kembali memanggil Talaat. Hal pertama yang dilakukan olehnya adalah membuka lacinya dan memperlihatkan segenggam kabelgram kuning.

"Kenapa kau tak memberikan uang ini kepada kami?" ujarnya, sembari meringis.

"Uang apa?" tanyaku.

"Ini adalah kabelgram untukmu dari Amerika, mengirimkanmu sejumlah uang untuk orang-orang Armenia. Kau seharusnya tak menggunakannya demikian; berikanlah itu kepada kami orang-orang Turki, kami membutuhkannya seburuk mereka melakukannya."

"Aku tak menerima kabelgram semacam itu," jawabku.

"Oh, tidak, namun kau hendak," jawabnya. "Aku selalu mengambil setiap kabelgrammu mula-mula, kau tau. Setelah aku rampung membacanya, aku mengirimkannya kepadamu."

Pernyataan tersebut benar secara harfiah. Setiap pagi, seluruh kabelgram tak berkode yang diterima di Konstantinopel dimajukan ke Talaat, yang membacanya, sebelum melayangkannya ke tempat tujuannya. Bahkan kabelgram para dubes nampak bukanlah pengecualian, meskipun sebetulnya pesan-pesan yang disandikan tak diusik. Biasanya, aku menentang penyelewengan hak-hakku, namun tindakan Talaat terhadap pembocoran perbincanganku dan menjebol kabelgramku sendiri di hadapanku memberikanku pembukaan bulat untuk memperkenalkan hal terlarang tersebut.

Namun terkadang, seperti kebanyakan orang lainnya, Talaat mengelak dan tak berniat dan menunjukkan banyak pergesekan pada kepentingan orang-orang Amerika yang tergambarkan dalam orang-orang Armenia. Ia menjelaskan kebijaksanaannya atas dasar bahwa orang-orang Armenia juga menghubungi orang-orang Rusia. Keputusan dalam perbincangan tersebut yang tertinggal dalam pikiranku adalah bahwa Talaat merupakan musuh paling menonjol dari ras tertindas tersebut. "Ia memberikanku penekanan," merupakan hal yang aku temukan dalam buku harianku pada 3 Agustus, "bahwa Talaat adalah orang yang ingin menghancurkan orang-orang Armenia yang malang." Ia berujar kepadaku bahwa Komite Persatuan dan Kemajuan dengan hati-hati menganggap persoalan tersebut dalam seluruh penjelasan dan kebijakan yang dimajukan yang resmi diadopsi. Ia berujar bahwa aku seharusnya tak memegang gagasan bahwa deportasi tersebut diputuskan secara tergesa-gesa. Pada kenyataannya, kejadian tersebut adalah akibat keputusan berkepanjangan dan hati-hati. Karena permohonan berulangku agar ia harus menunjukkan belas kasihan terhadap orang-orang tersebut, ia terkadang menanggapinya dengan serius, terkadang murka, dan terkadang sembrono.

"Suatu hari," ujarnya lagi, "Aku akan datang dan membahas seluruh persoalan Armenia denganmu," dan kemudian ia menambahkan dengan nada yang rendah dalam bahasa Turki:

"Namun hari itu tak akan pernah datang!"

"Kenapa kau sangat mementingkan orang-orang Armenia, ngomong-ngomong?" ujarnya, pada kesempatan lain. "Kau itu Yahudi; orang-orang itu Kristen. Muslim dan Yahudi selalu hidup tentram. Kami memperlakukan Yahudi disini dengan baik. Apa yang kau keluhkan? "Kenapa kau tak membiarkan kami memperlakukan orang-orang Kristen tersebut sesuai yang kami inginkan?"

Aku kemudian ingat bahwa orang-orang Turki memandang setiap pertanyaan sebagai persoalan pribadi, sehingga sudut pandang ini lebih memojokkanku. Namun, ini merupakan pernyataan lengkap dari mentalitas Turki. Di atas segala ras dan agama, fakta menyatakan bahwa terdapat hal-hal seperti kemanusiaan dan peradaban, kesempatan tersebut tak pernah memasuki pikiran mereka. Kami dapat memahami perjuangan Kristen untuk Kristen dan perjuangan Yahudi untuk Yahudi, namun keabstrakan semacam bentuk keadilan dan kesopanan bukanlah bagian dari pembentukan hal-hal mereka.

"Kau tak nampak menyadarinya," jawabku, "bahwa aku disini bukan sebagai Yahudi namun sebagai Dubes Amerika. Negaraku terdiri dari lebih dari 97.000.000 orang Kristen dan kurang dari 3.000.000 Yahudi. Sehingga, setidaknya dalam ranah kedubesanku, aku 97 persen Kristen. Namun setelah semua itu, itu bukanlah intinya. Aku tak memohon kepadamu atas nama ras atau agama apapun, namun sebetulnya sebagai umat manusia. Kau berujar padaku beberapa kali bahwa kau ingin membuat Turki menjadi bagian dari dunia progresif modern. Cara kamu memperlakukan orang-orang Armenia tak akan membantumu mewujudkan ambisi tersebut. Ini menempatkanmu dalam kelas orang-orang reaksioner terbelakang."

"Kami juga memperlakukan orang-orang Amerika dengan baik," ujar Talaat. "Aku tak memandang kenapa kau harus mengeluh."

"Namun orang-orang Amerika dihadapkan oleh penindasanmu terhadap orang-orang Armenia," jawabku. "Kau harus mendasarkan prinsip-prinsipmu terhadap kemanusiaan, bukan diskriminasi rasial, atau Amerika Serikat tak akan memandangmu teman atau setara. Dan kau harus memahami perubahan besar yang terjadi di kalangan Kristen di seluruh belahan dunia. Mereka melupakan perbedaan mereka dan setiap aliran datang bersama secara terpadu. Kau lihat misionaris-misionaris Amerika, namun jangan lupa bahwa itu merupakan unsur terbaik di Amerika yang mendukung kegiatan keagamaan mereka, serta lembaga-lembaga pendidikan mereka. Orang-orang Amerika sebetulnya tak materialis, seringkali memberikan uang—mereka menunjukkan kemanusiaan dan berminat dalam menyebarkan keadilan dan peradaban ke seluruh dunia. Usai perang berakhir, kau akan menghadapi keadaan baru. Kau berkata bahwa, jika menang, kau dapat menentang dunia, namun kau salah. Kau akan menemui opini publik dimana-mana, terutama di Amerika Serikat. Orang-orang kami tak akan pernah melupakan pembantaian tersebut. Mereka akan selalu menyebarkan penghancuran seluruh Kristen di Turki. Kami akan menyorotinya tak lain selain pembunuhan nyata dan akan dengan serius mengecam seluruh orang yang bertanggung jawab terhadapnya. Kau tak akan dapat membela dirimu sendiri dengan status politikmu dan berujar bahwa kau bertindak selaku Mendagri dan bukan selaku Talaat. Kau mengartikan segala gagasan keadilan seperti halnya kami memahami kepentingan di negara kami."

Anehnya, pernyataan tersebut tak menghentakan Talaat, namun kami tak berniat mencampuri keputusannya. Aku bak berbicara dengan tembok batu. Dari kerancuannya, ia langsung memajukan suatu hal.

"Orang-orang itu," ujarnya, "enggan menurut kala kami berbincang dengan mereka. Mereka melawan kami di Van dan Zeitoun, dan mereka menolong Rusia. Ini hanyalah satu cara agar kami mempertahankan diri kami sendiri melawan mereka di masa depan, dan itu cukup dengan mendeportasi mereka."

"Karena sedikit orang Armenia mengkhianatimu," ujarku. "Apakah itu alasan untuk menghancurkan seluruh ras? Apakah itu keputusan untuk mendera wanita dan anak-anak tak berdosa?"

"Hal-hal tersebut tak terhindarkan," jawabnya.

Pernyataan itu kepadaku bukanlah pembungkaman sebagaimana tindakan terhadap hal yang kemudian dibuat oleh Talaat kepada seorang wartawan Berliner Tageblatt, yang menanyainya pertanyaan yang sama. "Kami dipersalahkan," ujarnya, menurut pewawancara tersebut, "karena tak membedakan mana Armenia yang tak bersalah dan bersalah, Mustahil. Karena sebagaimana yang lumrah terjadi, orang-orang yang tak bersalah saat ini tau-tau besok sudah bersalah"!

Satu alasan kenapa Talaat tak membahas persoalan tersebut denganku secara bebas, adalah karena anggota staf kedubes yang menerjemahkan seorang Armenia kepadaku sendiri. Sehingga, pada paruh awal Agustus, ia mengirim pembawa pesan pribadi kepadaku, menanyai apakah ia tak dapat melihatnya sendiri—ia berujar bahwa ia sendiri akan menyediakan penerjemah. Ini adalah pertama kalinya Talaat menjelaskan bahwa perlakuannya terhadap orang-orang Armenia menjadi persoalan yang aku soroti. Wawancara tersebut terjadi dua hari setelahnya.Ini terjadi sejak terakhir kali aku mendatangi Talaat, aku memotong jenggotku. Tak lama kala aku mendatanginya, menteri tersebut mulai memperbincangkan gaya candaan khasnya.

"Kau jadi pria muda lagi," ujarnya; "kau sangat muda sekarang agar aku tak dapat membujukmu dengan nasehat apapun."

"Aku mencukur jenggotku," jawabku, "karena itu telah menjadi sangat beruban—menjadi beruban akibat perlakuanmu terhadap orang-orang Armenia."

Setelah itu, perbincangan kami alihkan ke ranah bisnis. "Aku berbincang kepadamu sekarang," ujar Talaat, "sehingga aku dapat menjelaskan posisi kami terhadap seluruh warga Armenia. Kami mendasarkan pertentangan kami terhadap orang-orang Armenia atas tiga dasar berbeda. Di tempat pertama, mereka memperkaya diri mereka sendiri dari pengeluaran orang-orang Turki. Di tempat kedua, mereka memutuskan untuk melampaui kami dan mendirikan negara terpisah. Di tempat ketiga, mereka secara terbuka mendukung musuh-musuh kami. Mereka membantu Rusia di Kaukasus dan kegagalan kami disana sebagian besar diakibatkan oleh tindakan mereka. Sehingga, kami memutuskan agar kami harus membuat mereka tak memiliki kekuatan sebelum perang berakhir."

PARA PRAJURIT ARMENIA
Sampai 1908, tidak ada orang Armenia yang diijinkan bertugas dalam ketentaraan Utsmaniyah. Dalam Perang Balkan, mereka menjunjung diri mereka sendiri atas keberanian dan keterampilan mereka. Pada perang terkini, Turki melucuti senjata mereka dan mengubah mereka menjadi hewan pikul dan tenaga kerja jalan raya
ORANG-ORANG YANG BERJATUHAN DI PINGGIR JALAN
Pemandangan-pemandangan seperti ini umum di seluruh belahan provinsi Armenia, pada bulan-bulan musim semi dan musim panas tahun 1915. Kematian yang terjadi dalam banyak bentuk—pembantaian, kelaparan, kehausan—memusnahkan sebagian besar pengungsi. Kebijakan Turki menyatakan bahwa pemusnahan berada di bawah naungan deportasi
PEMANDANGAN HARPOOT
Tempat pembantaian pria terjadi pada skala besar

Pada setiap kali, aku memiliki pernyataan permohonan dalam bantahan. Pertentangan pertama Talaat sebetulnya adalah pernyataan bahwa orang-orang Armenia lebih industrial dan lebih mampu ketimbang orang-orang Turki yang malas dan bodoh. Pembantaian sebagai alat pemusnahan persaingan usaha tentunya menjadi landasan awal! Dakwaan umumnya bahwa orang-orang Armenia "bersekongkol" melawan Turki dan mereka terang-terangan bersimpati dengan para musuh Turki dalam arti sebenarnya, kala mengurangi unsur-unsur aslinya, bahwa orang-orang Armenia sebetulnya memohon kepada Kekuatan-kekuatan Eropa untuk melindungi mereka dari perampokan, pembunuhan dan penyerbuan. Seperti kebanyakan masalah ras, masalah Armenia merupakan dampak dari perlakuan buruk dan ketidakadilan selama berabad-abad. Hanya adalh satu solusi untuknya, pembentukan sistem pemerintahan tertata, kala seluruh warga diperlakukan setara, dan kala semua dakwaan diputuskan sebagai tindak perorangan dan bukan sebagai suku bangsa. Aku berpendapat dalam jangka panjang dengan pernyataan tersebut dan pernyataan serupa.

"Itu tak dapat kau pakai untuk berpendapat," jawab Talaat, "kami telah menyingkirkan tiga kampung Armenia. Semuanya lenyap di Bitlis, Van, dan Erzeroum. Kebencian antara Turki dan Armenia kini lebih mendalam agar kami dapat merampungkan mereka. Jika kami tak melakukannya, mereka akan merencanakan balas dendam mereka."

"Jika kau tak dipengaruh oleh hal-hal manusiawi," jawabku, "pikirkan kehilangan material. Orang-orang itu adalah orang-orang bisnismu. Mereka mengendalikan banyak industrimu. Mereka merupakan pembayar pajak yang sangat besar. Apa yang akan terjadi padamu secara komersial tanpa mereka?"

"Kami tak peduli soal kehilangan komersial," jawab Talaat. "Kami telah menghitung semuanya dan kami mengetahui bahwa ini tak akan mencapai lima juta pound. Kami tak mengkhawatirkan soal itu. Aku berujar kepadamu untuk kesini sehingga kau tau bahwa kebijakan Armenia kami benar-benar disahkan dan tak ada yang dapat mengubahnya. Kami tak akan mendapati Armenia di tempat manapun di Anatolia. Mereka dapat tinggal di gurun namun tidak di tempat lainnya."

Aku masih berusaha untuk membujuk Talaat bahwa perlakuan orang-orang Armenia menghancurkan Turki di mata dunia, dan bahwa negaranya tak pernah dapat pulih dari keburukan ini.

"Kau membuat kekeliruan yang mengerikan," ujarku, dan aku mengulangi pernyataan tersebut sebanyak tiga kali.

"Ya, kami membuat kekeliruan," jawabnya, "namun"—dan ia menutup bibirnya dan menganggukkan kepalanya—" kami tak pernah menyesal."

Aku banyak berbincang dengan Talaat soal orang-orang Armenia, namun aku tak pernah berhasil menggerakannya ke tingkat terhalus. Ia selalu kembali ke poin-poin yang ia buat dalam wawancara ini. Ia sangat berkehendak untuk mendapatkan permintaan yang aku buat atas perantaraan Amerika atau bahkan Prancis dan Inggris, namun aku tak dapat menerima pernyataan umum terhadap Armenia. Ia memandangku selalu memiliki perasaan pribadi terdalam dalam persoalan tersebut, dan perlawanannya terhadap Armenia nampak meningkat kala penderitaan mereka meningkat. Suatu hari, kala membahas Armenia, aku berujar kepada Talaat bahwa ia keliru dalam menganggap orang-orang tersebut sebagai musuh Turki; bahwa pada kenyataannya, ia adalah teman mereka.

"Tak ada orang Armenia," jawab Talaat, "yang dapat menjadi teman kami setelah apa yang mereka perbuat kepada kami."

Pada suatu hari, Talaat membuat apa yang mungkin merupakan permintaan terkejamnya yang pernah aku dengar. Perusahaan Asuransi Jiwa New York dan Equitable Life of New York telah selama bertahun-tahun mendampingi usaha di kalangan Armenia. Keberadaan orang-orang yang mengasuransikan jiwa mereka sebetulnya merupakan indikasi lain dari perilaku hemat mereka.

"Aku harap," ujar Talaat, "agar kau membujuk perusahaan-perusahaan asuransi jiwa Amerika untuk mengirimkan daftar lengkap pemegang polis Armenia mereka kepada kami. Mereka semua dianggap telah mati dan tak meninggalkan pewaris untuk mengumpulkan uang. Sehingga, semua itu diberikan kepada Negara. Pemerintah kini menjadi penerimanya. Akankah kau melakukannya?"

Ini nyaris keterlaluan, dan aku kehilangan kesabaranku.

"Kau tak akan mendapatkan daftar semacam itu dariku," ujarku, dan aku pergi dan meninggalkannya.

Suatu peristiwa lain yang melibatkan Armenia menyetir Talaat pada salah satu perasaan paling ganasnya. Pada paruh akhir September, Nyonya Morgenthau pergi ke Amerika. Penderitaan Armenia benar-benar mendorong pemikirannya dan ia benar-benar pergi pulang karena ia tak dapat lama lagi menjalani hidup di negara semacam itu. Namun, ia memutuskan untuk membuat pernyataan terakhir untuk orang-orang malang tersebut pada catatannya sendiri. Perjalanan pulangnya melewati Bulgaria, dan ia menerima penekanan agar Ratu Eleanor dari negara tersebut akan mengundangnya. Mungkin ini adalah minat menonjol Nyonya Morgenthau dalam karya sosial yang didorong pada undangan tersebut. Ratu Eleanor adalah wanita berpemikiran tinggi, yang mengerti rasa sedih dan sendiri, dan menjalani sebagian besar masa hidupnya dalam upaya menunjang kondisi orang miskin di Bulgaria. Ia memahami semua karya sosial di kota-kota Amerika. Pada beberapa tahun sebelumnya, ia membuat semua rencananya untuk mengunjungi Amerika Serikat dalam mempelajari tindakan kami dari tangan pertama. Kala kunjungan Nyonya Morgenthau, ratu memiliki dua perawat Amerika dari Henry Street Settlement di New York memerintahkan sekelompok gadis Bulgaria untuk menerapkan metode Palang Merah Amerika.

Istriku sangat terpikat kala mengunjungi Ratu dalam rangka agar, sebagai seorang wanita dengan wanita lainnya, ia dapat membuat permohonan untuk orang-orang Armenia. Kala itu, pertanyaan keterpihakan Bulgaria dalam perang mencapai tahap kritis, dan Turki bersiap untuk menjalin kesepakatan untuk menjadikannya sekutu. Sehingga, ini adalah kesempatan menonhol untuk membuat penawaran semacam itu.

Ratu menerima Nyonya Morgenthau secara informal, dan istriku menjalani sekitar sejam berbincang dengannya tentang orang-orang Armenia. Banyak dari apa yang dikatakan sepenuhnya baru bagi sang Ratu. Sedikit yang muncul dalam pers Eropa soal masalah ini, dan Ratu Eleanor tentunya merupakan jenis wanita yang menerima kebenaran selama mungkin. Nyonya Morgenthau memberikannya seluruh fakta soal perlakuan wanita dan anak-anak Armenia dan membujuknya untuk ikut campur dalam perantaraan mereka. Ia bahkan datang jauh untuk menyatakan bahwa ini akan menjadi hal mengerikan jika Bulgaria, yang pada masa lampau sendiri mengalami kejahatan semacam itu di tangan Turki, kini harus menjadi sekutu mereka dalam perang. Ratu Eleanor sepenuhnya tergerak. Ia berterima kasih pada istriku karena mengabarinya kebenaran tersebut dan berujar bahwa ia akan menyelidiki langsung dan melihat jika suatu hal tak dapat dilakukan.

Tepat kala Nyonya Morgenthau bersiap untuk pergi, ia melihat Adipati Mecklenburg berdiri dekat pintu. Adipati tersebut berada di Sofia kala untuk berniat membujuk Bulgaria ikut perang. Ratu memberkenalkannya kepada Nyonya Morgenthau. Ia memiliki sikap yang sopan, namun napasnya lebih dingin dan menyakitkan. Seluruh tindak tanduknya, terutama kala ia melirik Nyonya Morgenthau, menunjukkan bahwa ia telah mendengari sebagian besar perbincangan tersebut. Kala ia menyatakan segala niatnya untuk menempatkan Bulgaria di pihak Jerman, tak heran bahwa ia tak menerima permohonan yang dibuat oleh Nyonya Morgenthau kepada Ratu agar Bulgaria tak harus menyekutukan dirinya dengan Turki.

Ratu Eleanor sendiri langsung terpikat pada persoalan Armenia, dan, akibatnya, Perwakilan Bulgaria untuk Turki diperintahkan untuk menentang kejahatan tersebut. Pertentangan tersebut tak menghasilkan apapun, namun makin meningkatkan murka Talaat terhadap Dubes Amerika. Beberapa hari setelahnya, kala bisnis rutin memanggilku ke Sublime Porte, aku mendapatinya sedang bercanda. Ia menjawab sebagian besar pertanyaanku dengan sangar dan bertingkah sendiri, dan aku kemudian diberitahu bahwa perbincangan Nyonya Morgenthau dengan Ratu telah membuatnya berperilaku demikian. Namun, selama beberapa hari, ia menjadi bertingkah baik, karena Bulgaria memutuskan berpihak pada Turki.

Sikap Talaat terhadap Armenia diwarnai dengan rasa bangga yang ia katakan pada teman-temannya: "Aku lebih beserta menuntaskan masalah Armenia dalam tiga bulan ketimbang Abdul Hamid beserta dalam tiga puluh tahun!"