Asat dan Keraguan Terakhirnya

Asat dan Keraguan Terakhirnya

Geger Riyanto

Minggu, 10 Mei 2015

REVOLVER itu telah dingin menanti di sarungnya. Tangan pemuda itu tidak siap. Apalagi pikirannya, tak pernah siap. Tapi ia harus siap. Ia telah bersumpah kepada semua orang yang memberi kesempatan itu bahwa ia akan membunuh pria yang sedang berjalan tepat di depannya. Darah pria itu harus tertumpah di tangannya dan hanya di tangannya. Kalau bisa, pria itu tak boleh mati sebelum semua perasaan sakit di dunia ini menyelusupinya. Betapa manis pastinya, raungan kesengsaraannya. Namun, sang pemuda tak bisa terlalu muluk-muluk. Misi utamanya hanya satu, yakni memutus nyawa pria itu. Tak ada kata gagal.

Asat melepas genggamannya dari gagang pistol.

Tangannya keluar dari jas, entah untuk keberapa kalinya. Asat tak ragu menghabisi Talal, pria yang sedang menyusuri trotoar Berlin bersama istrinya itu. Tak ada dosa, ia yakin sekeras-kerasnya untuk menghabisi pria itu. Hanya satu hal yang menyebabkan Asat ragu, kerisauan gagal membunuhnya.

Dor.

Perhatian setiap pejalan kaki kontan terpanggil oleh letusan pistol. Selang sesaat, dua tembakan menyusul. Asat tak mau berpikir apa-apa lagi. Ia menarik pelatuk. Langkah Talal, pria terkutuk itu, terhenti. Namun aneh, pria itu tak tersungkur. Ia malah berbalik ke belakang, menatap sang pemuda.

Asat yang sudah membuang jauh-jauh perasaannya tercengang. Tembakannya tak mungkin meleset, pikirnya. Meski bukan penembak terlatih, Asat melesatkan timah panas dari jarak yang tak lebih dari selangkah.

Asat melepaskan dua tembakan lagi. Kali ini ke dada Talal. Asat berada pada jarak yang ia bisa memerhatikan secara detail tekstur jas pria di hadapannya. Dan ia tak percaya, tak ada lubang. Asat tak peduli apa-apa lagi. Ia menerjang Talal, menempelkan pistol di dadanya.

Yakin mulut senjata sudah tak berjarak lagi dengan tubuh orang yang sangat dibencinya itu, ia melesatkan amunisi terakhirnya.


ASAT terbangun di kamar apartemennya. Keringat dingin menggerayanginya. Hari masih gelap dan hanya ada jalanan yang dingin di luar jendela. Mimpi ini lagi, batin Asat. Dini hari ini, Asat telah lebih dari sebulan berada di Charlottenburg. Ia seharusnya berada di tempat itu tak lebih dari dua minggu. Namun atasannya berkata lakukan apa pun untuk memastikan Talal Pasha mati.

Asat menyewa kamar di seberang kediaman Talal. Bekas menteri utama sebuah rezim korup, Talal, kini hidup seadanya dari tunjangan pemerintah negaranya. Ia tak dikenal lagi dengan nama Talal dan tak pernah menetap lama di satu tempat. Tak ada yang lebih sadar dirinya sedang diburu selain dirinya sendiri.

Talal nyaris tak pernah keluar dari kediamannya. Demikian juga istrinya. Asat mencatat setiap aktivitas Talal yang bisa diamatinya. Kebutuhan memasak harian mereka diantar tiap hari oleh juru antar yang sama.

Jendela kamar mereka hanya pernah dua kali dibuka tirainya sepanjang pengawasan Asat dan itu tak lebih dari beberapa menit. Mereka tak mau membuka pintu untuk orang tak dikenal. Sekali waktu bahan makanan mereka diantar oleh orang yang berbeda dan pintu tak dibuka. Padahal, mereka ada di rumah.

Meski demikian, Talal sesekali bepergian. Ia pernah keluar rumah tiga kali dalam sebulan terakhir dan selalu didampingi istrinya. Istrinya, sementara itu, lebih sering bepergian. Termasuk bersama Talal, dalam catatan Asat ia lima kali keluar rumah. Tiap kali berpergian, mereka selalu mencari tempat yang ramai. Mereka tak pernah keluar untuk makan dan bahkan berdiam lama di satu tempat.

Namun serinci-rincinya Asat mencatat, ia tak pernah merasa cukup aman melangsungkan rencananya. Asat bisa saja menghampiri Talal di jalan dan langsung menembak. Namun, Ia tak takut ditangkap. Semua hidupnya, selepas kehilangan yang dialaminya ialah hanya untuk menghabisi Talal. Asat dapat merangsek masuk saat pintu dibuka untuk menerima bahan makanan. Lalu, tanpa ragu menghabiskan pelurunya untuk menembak Talal. Namun, bagaimana jika tembakannya meleset? Bagaimana jika Asat dilumpuhkan polisi sebelum sempat membunuhnya?


PAGI harinya, Asat duduk di tepi jendela sambil memainkan mandolinnya. Pikirannya, seperti biasa, jauh dari jemarinya yang cergas menggamit senar-senarnya. Ia punya dendam. Dendam yang sangat besar. Namun yang menjadi pergumulannya saat ini ialah dendam itu terasa jauh. Tak sedekat ketakutan-ketakutan tak berdasarnya.

Pintu kamar Asat mendadak diketuk. “Nak? Ada telegram untukmu.”

Asat menghampiri panggilan ibu pemilik apartemen itu, membuka pintu, dan mengambil telegram. Melihat pengirimnya, Asat terkesiap.

“Terima kasih, Frau.” Nadanya hambar. Perhatiannya kini terisap ke secarik kertas yang sudah di tangannya tersebut.

“Kamu bermain... Apa nama alat musikmu itu?”

“Oh,” Asat tak siap dengan pertanyaan mendadak itu. Ia sempat menengok kembali ke mandolinnya, salah tingkah. “Mandolin, Frau. Ada apa? Apakah saya mengganggu penghuni lainnya?”

“Sama sekali tidak. Aku yakin suaranya tak terdengar di kamar lain. Kalaupun terdengar, kukira tak masalah. Merdu.”

“Oh. Terima kasih.” Asat membalas dengan senyuman. Namun, apa boleh buat, ia tak bisa menutupi kegugupannya.

Lagi pula Frau Nadja tak akan terlalu mempermasalahkannya. Asat tahu Frau Nadja peduli padanya. Asat tak pernah banyak bercerita latar belakangnya. Namun, penasaran dengan wajah Asat yang jelas bukan dari negara ini, Frau Nadja kerap mengorek-ngorek dan kini ia tahu sang pemuda punya masa lalu yang menyakitkan.

“Frau, saya boleh tanya sesuatu?” Asat sebelumnya sudah ingin menutup pintu, tapi tibatiba saja sesuatu terlintas.

“Tentu saja, Anakku. Apa pun yang bisa kubantu.”

“Kalau ada satu mimpi yang begitu Anda kejarkejar, tapi kegagalan mencapainya akan membuat hidup Anda berantakan, apakah Anda akan tetap mengejarnya?”

“Kamu sedang mengejar seorang wanita?” Asat tertegun dengan pertanyaan balik yang spontan itu.

“Ahh... ya. Kamu sedang mengejar wanita,” Frau Nadja semringah. Asat hanya tersenyum.

“Ayolah, Nak. Lakukan saja. Tak usah banyak berpikir. Sakitnya ditolak hanya sebentar. Namun, penyesalan tak melakukannya akan kamu bawa seumur hidup.”


ASAT membulatkan tekadnya. Dinas rahasia tak kunjung mendengar kabar kematian Talal dan mulai kehilangan kesabaran. Talal keluar rumah hari ini bersama istrinya dan Asat akan membuntutinya. Beberapa kali Asat menguntitnya, Talal selalu berjalan melewati rute yang sama. Asat merasa perlu tahu tempat yang paling tepat untuk mengeksekusi pria itu pada perjalanan selanjutnya. Di manakah tempat Asat tak akan dihalau siapa pun dan apa pun untuk menyarangkan proyektil-proyektil fatal ke tubuh Talal? Sayangnya, ini hari yang sial bagi Asat.

Berselang 20 menit sejak Asat mengikutinya, istri Talal menyadari pria mencurigakan terus membuntuti mereka. Mereka mempercepat langkah, nyaris berlari. Hidup Asat rasanya berakhir di detik itu. Mimpi buruk? Tidak. Jauh lebih buruk dari itu: ini kenyataan. Asat tak akan terbangun dari situasi keruh ini untuk mendapati keadaan baik-baik saja. Talal akan memanggil polisi atau siapa pun yang bisa menyelamatkan nyawanya. Keesokannya, ia akan pindah. Entah ke mana, tak akan terlacak. Hemat kata, semua hancur.

Asat memacu langkahnya.

Kesadarannya kosong dan hanya tersisa satu niat: ia harus membunuhnya sekarang ketika sasarannya berada di jarak tembak. Talal dan istrinya kini berlari dan mulai menarik perhatian banyak orang. Asat mempertaruhkan segalanya. Ia tak punya pilihan selain berlari sekencangnya. Sayangnya, ini hari yang sangat sial bagi Asat—hari yang tak akan bisa lebih buruk lagi. Setelah beberapa belokan, Talal menemukan polisi dan berlindung ke belakangnya. Asat tak bisa berpikir apaapa. Ia menodongkan senjata dan dengan sendirinya mengundang polisi itu menodongkan senjata balik.

“Turunkan senjatamu!” Sepanjang hidupnya, Asat acap menyesali sifatnya yang peragu. Ia insaf, dirinya tak pernah benar-benar menyusun rencana cerdas. Dirinya hanya membutuhkan dalih untuk ragu.

Betapa bangganya dirinya, Asat ingat, ketika ia spontan dapat merelakan diri tanpa ragu untuk misi yang akan membalaskan dendam bangsanya.

“Saya bilang, turunkan senjatamu!” Asat ingin sekali berpikir, pasti ada jalan yang lebih baik dari ini.

Bagaimana kalau tembakannya tak mengenai Talal? Bagaimana bila berikutnya polisi itu yang justru menembaknya? Namun, kini ia tengah membayar mahal atas keraguannya dan yang kemudian disadarinya.

Asat tak bisa membayarnya dengan keraguan lagi.

“Peringatan terakhir.” Asat menghela napas.

Dor.