Buku Saku Farmakoterapi/Demensia

Demensia adalah istilah umum yang digunakan untuk menunjukkan bahwa seseorang telah mengalami kesulitan dalam penalaran, penilaian, dan ingatan. Orang yang mengalami demensia biasanya memiliki beberapa kekurangan memori dan kesulitan dengan setidaknya satu area lainnya, seperti:

● Berbicara atau menulis secara masuk akal/jelas (atau memahami apa yang dikatakan atau ditulis)

● Mengenal lingkungan sehar-hari

● Merencanakan dan melaksanakan tugas banyak tahapan

Demensia bisa disebabkan oleh beberapa penyakit yang mempengaruhi otak. Penyebab paling umum adalah penyakit Alzheimer. Penyakit Alzheimer menyumbang 60 sampai 80 persen dari semua kasus demensia.

Menurut PNPK Jiwa/Psikiatri 2012, demensia merupakan sindrom akibat penyakit otak, bersifat kronik progresif, ditandai dengan kemunduran fungsi kognitif multipel, yaitu fungsi memori, aphasia, apraksia, agnosia, dan fungsi eksekutif. Kesadaran pada umumnya tidak terganggu. Adakalanya disertai gangguan psikologik dan perilaku.

Penyebab demensiaSunting

Demensia bisa disebabkan oleh beberapa kelainan otak yang berbeda. Ini termasuk:

Penyakit Alzheimer – Penyakit Alzheimer dikaitkan dengan kematian sel saraf (neuron) di bagian penting otak. Para ilmuwan belum menentukan secara pasti mengapa dan bagaimana penyakit Alzheimer berkembang, namun ilmuwan tahu bahwa otak penderita penyakit Alzheimer menghasilkan endapan protein yang disebut beta amyloid (endapan ini juga dikenal sebagai plak), dan orang-orang juga mengembangkan massa yang tidak terorganisir serat protein di dalam sel otak yang dikenal sebagai kekusutan (tangles) neurofibrillary.

Demensia vaskular – Orang dengan demensia vaskular telah kehilangan atau kerusakan area otak karena berkurangnya aliran darah. Hal ini bisa terjadi bila pembuluh darah di otak tersumbat gumpalan darah atau timbunan lemak. Bentuk demensia ini lebih sering terjadi pada orang-orang yang memiliki stroke atau berisiko terkena stroke, terutama yang memiliki tekanan darah tinggi dan diabetes yang sudah berlangsung lama. Hal itu bisa terjadi bersamaan dengan penyakit Alzheimer.

Demensia dengan badan Lewy – Demensia dengan badan Lewy adalah bentuk demensia yang disebabkan oleh struktur protein abnormal yang disebut badan Lewy yang terbentuk di dalam sel otak. Hal itu terjadi dengan gejala penyakit Parkinson, seperti gemetar, kaku, dan lamban. Kelainan ini sering menyebabkan halusinasi yang berlangsung lama.

Demensia dengan badan Lewy juga dapat menyebabkan orang untuk bertindak sesuai bayangan mereka. Hal ini bisa menjadi momok bagi pasangan tidur dan terkadang menyebabkan luka. Penting untuk melaporkan gejala ini ke penyedia layanan kesehatan karena dapat diobati dengan pengobatan.

Berdasarkan etiologinya demensia dibedakan menjadi:

  • Demensia pada penyakit Alzheimer
  • Demensia vaskular
  • Demensia pada penyakit Pick
  • Demensia pada penyakit Creutfeld-Jacob
  • Demensia pada penyakit Huntington
  • Demensia pada Penyakit Parkinson
  • Demensia pada Penyakit HIV/AIDS

Demensia tipe Alzheimer prevalensinya paling besar (50-60%), disusul demensia vaskular (20-30%).

Manifestasi KlinikSunting

Gejala dini dari demensia seringkali berupa kesulitan mempelajari informasi baru dan mudah lupa terhadap kejadian yang baru dialami. Pada keadaan lebih lanjut muncul gangguan fungsi kognitif kompleks disertai gangguan perilaku, yaitu;

• Disorientasi waktu dan tempat • Kesulitan melakukan pekerjaan sehari hari • Tidak mampu membuat keputusan • Kesulitan berbahasa • Kehilangan motivasi dan inisiatif • Gangguan pengendalian emosi • Daya nilai sosial terganggu • Dan berbagai perubahan perilaku dan psikologis lainnya (agresif-impulsif, halusinasi, waham)

Gejala-gejala klinis di atas pada demensia Alzheimer berkembang perlahan- lahan, semakin lama semakin parah, sampai pada tahap lanjut penderita menjadi tergantung penuh pada keluarga yang merawatnya. Sedang pada demensia vaskular gejala muncul akut, gambaran klinis sesuai kerusakan vaskuler di otak, kemunduran fungsi kognitif berjenjang sejalan dengan serangan kerusakan vaskular berikutnya.

DiagnosisSunting

Kriteria Diagnosis Dimensia Berdasarkan ICD-10 dan PPDGJ-III

Demensia (F00-F03) adalah sindroma disebabkan oleh gangguan di otak, umumnya berlangsung kronis atau progresif, ditandai oleh beragam gangguan fungsi luhur, termasuk memori, orientasi, pemahaman, kalkulasi dan kapasitas belajar, bahasa dan pertimbangan. Kesadaran tidak berkabut. Gangguan fungsi kognitif biasanya disertai oleh deteriorasi kontrol emosi, perilaku sosial atau motivasi. Sindrom ini terjadi pada penyakit Alzheimer, penyakit serebrovaskuler, dan kondisi lain yang mempengaruhi otal secara primer atau sekunder.

Syarat utama untuk penegakan diagnosis ialah bukti adanya penurunan kemampuan, baik dalam daya ingat maupun daya pikir seseorang sehingga mengganggu kegiatan sehari-hari. Hendaya daya ingat secara khas mempengaruhi proses registrasi, penyimpanan dan memperoleh kembali informasi baru, tetapi ingatan yang biasa dan sudah dipelajari sebelumnya dapat juga hilang, khususnya dalam stadium akhir.

Gejala dan hendaya di atas harus sudah nyata untuk setidak-tidaknya 6 bulan bila ingin membuat diagnosis klinis demensia yang mantap.

Diagnosis BandingSunting

  • Delirium
  • Depresi
  • Gangguan Buatan
  • Skizofrenia

PenatalaksanaanSunting

Tata laksana psikososial ditujukan untuk mempertahankan kemampuan penderita yang masih tersisa, menghambat progresivitas kemunduran fungsi kognitif, mengelola gangguan psikologik dan perilaku yang timbul. Latihan memori sederhana, latihan orientasi realitas, dan senam otak, dapat membanu menghambat kemunduran fungsi kognitif. Psikoedukasi terhadap keluarga/caregiver menjadi bagian yang sangat penting dalam tatalaksana pasien.

Pemberian obat anti demensia seperti donepezil dan rivastigmin bermanfaat untuk menghambat kemunduran fungsi kognitif pada demensia ringan sampai sedang, tapi tidak dianjurkan untuk demensia berat. Untuk mengendalikan perilaku agresif dapat diberikan obat antipsikotik dosis rendah (haloperidol 0,5-1 mg/hari atau risperidon 0,5-1 mg/hari). Untuk mengatasi gejala depresi dapat diberikan antidepresan (sertralin 25 mg/hari).

PenyulitSunting

Kecemasan dan depresi mungkin memperkuat dan memperburuk gejala

PrognosisSunting

Perjalanan klasik dari demensia adalah perburukan bertahap selama 5 sampai 10 tahun yang akhirnya menyebabkan kematian. Pasien dengan onset demensia yang dini kemungkinan memiliki perjalanan penyakit yang cepat.


ReferensiSunting

Alexander M dan Larson EB, 2017,  Patient education: Dementia (including Alzheimer disease) (Beyond the Basics), UpToDate, diakses tanggal 7 Juni 2017.

Qaseem A, Snow V, Cross JT Jr, et al. Current pharmacologic treatment of dementia: a clinical practice guideline from the American College of Physicians and the American Academy of Family Physicians. Ann Intern Med 2008; 148:370.

Tom SE, Hubbard RA, Crane PK, et al. Characterization of dementia and Alzheimer’s disease in an older population: updated incidence and life expectancy with and without dementia. Am J Public Health2015; 105:408.

Iverson DJ, Gronseth GS, Reger MA, et al. Practice parameter update: evaluation and management of driving risk in dementia: report of the Quality Standards Subcommittee of the American Academy of Neurology. Neurology 2010; 74:1316.

Gitlin LN, Kales HC, Lyketsos CG. Nonpharmacologic management of behavioral symptoms in dementia. JAMA 2012; 308:2020.

Departemen Kesehatan RI Direktorat Jenderal Pelayanan Medik. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia (PPDGJ) III, 1993.

Samuels SC, Neugroschl JA. Dementia. Kaplan & Sadock’s Comprehensive Textbook of Psychiatry, Sadock BJ, Sadock VA, edit, seventh ed. Lippincott Williams & Wilkins, A Wolter Kluwer Company, 2000, hal.1069-1093. Andreasen, Black, Introductory Texbook of Psychiatry, 3th ed, 2001.