Cagak

Oka Rusmini

Minggu, 08 Maret 2015

MENYERUPUT kopi dengan lumuran madu membuat sensasi minum kopi menjadi tak biasa. Ditemani singkong goreng, pisang, ubi, dan kacang rebus, juga tahu goreng kering sambal kecap. Wi-fi bisa digunakan sampai semaput. Kafe Sumanasantaka di Kota Denpasar ini mengingatkan orang pada buku Kakawin Sumanasantaka, Mati karena Bunga Sumana, karya Mpu Monaguna. Puisi epik abad ke-13 itu seharusnya membuat para penyair Indonesia sedikit malu, bila khusyuk membacanya. Untung tak banyak yang membaca. Puisi tetap ditulis dengan keangkuhan.

Di sinilah Men Coblong bertemu kolega dan teman-teman dekat. Karena ia tidak besar di Bali, kafe ini memberi banyak wawasan, dari kuliner sampai kakawin. Kadang ada obrolan tentang perubahan Bali yang sudah tidak lagi menjadi milik orang Bali. Sesekali orang perlu masuk kotak intelektual. Bergaul dengan pemikir beken, yang namanya sering dikutip koran, wajahnya sering muncul di TV. Lumayan juga bergaul di sini. Bisa ketularan percaya diri.


“PEMIMPIN kini hanya petugas partai. Namanya juga petugas, harus taat perintah, tak boleh bandel. Lalu kita akan berharap pada petugas?” sahabat Men Coblong menatap mata Men Coblong serius, sambil menambahkan lipstik keluaran terbaru. Warna oranye. Warna yang sedang in.

“Bagus lipstik baruku? Ayo, kamu mau ngomong politik lagi? Berharap pada Sang Hyang Petugas? Yang menganggap kita tidak jelas? Aku tersinggung. Aku punya butik. Laku. Aku pemasok hampir seluruh barang ke butik-butik besar di kota ini. Aku bayar pajak tiap tahun. Aku tidak memanipulasi pajak. Usahaku maju. Kacau juga kalau aku dibilang rakyat tak jelas.”

“Itu namanya kamu ikut berpolitik.”

“Aku tidak berpolitik. Aku tidak suka politik. Manipulatif. Tak setia. Aku hanya prihatin pada negara ini. Minimal baca berita. Sarapan pagi ditemani media online. Aku menolak dibilang rakyat tak jelas. Yang tak jelas itu mereka yang maling duit rakyat!” Si Bibir Oranye memonyongkan bibirnya.

“Aku ingin jujur. Kenapa aku memilih bercerai. Kamu tahu masalahku?” bisiknya pada Men Coblong.

“Tidak.”

“Karena aku tak mau harga diriku dinjak-injak.”

“Harga diri?”

“Ya.”

Aslinya ia tidak cocok dengan warna oranye yang melaburi bibirnya. Tapi, Men Coblong maklum. Sahabatnya itu sudah berkali-kali bercerita dengan antusias. Lipstik itu jauh-jauh hari dipesan dari Singapura. Tanpa lipstik itu ia merasa kampungan. Sebagai pengusaha ia harus memuja tubuh, penampilan, juga barang-barang branded. Men Coblong menatapnya, lalu melepas kacamatanya. Agak terganggu kilau lipstik oranye itu.

Nona oranye itu bernama Ni Luh Putu Mahadewi. Kulitnya hitam. Rambutnya kriting, seperti sulur-sulur dalam ornamen batik. Kadang ia mengikatnya dengan pita besar, kadang tergerai memenuhi wajahnya. Modis dan trendi. Ia tidak cantik, tapi punya inner beauty yang memaksa orang untuk menatapnya, atau dipaksa meliriknya saat ia hadir di mana pun. Tata, begitu ia dipanggil teman-temannya. Sarjana ekonomi. Sejak kecil bercita-cita punya perusahaan sendiri. Emoh bekerja dengan orang lain. “Bekerja dengan orang lain membuatku menjadi orang lain. Tertindas seperti budak!” katanya. Banyak orang menganggilnya Maha. Kami memanggilnya Miss Tata. Karena hobinya mengatur dan protes. Tak ada yang sempurna di matanya. Ada saja yang ia kritik. Pekerja keras. Cerdas. Mandiri. Percaya diri. Awal bertemu Tata, Men Coblong merasa ia angkuh dan menyebalkan. Maunya didengar saja, tak mau mendengarkan orang lain. Bagi Men Coblong, Miss Tata perempuan aneh. Setelah lama berbaur, banyak hal tak terduga keluar dari kotak pandora kehidupannya.


“AKU anak ke-13 dari 15 orang saudara. Kau bisa bayangkan bagaimana aku hidup? Semua anak Ni Made Tundjung (ibuku), mati. Hanya aku yang tersisa. Perempuan. Tak berguna karena tidak bisa melanjutkan silsilah keluarga bapakku, I Wayan Rubag. Tukang tajen. Hobi main perempuan. Pemabuk.”

Sejak kecil Maha bekerja keras. Menjual daun ubi jalar, kangkung, atau sawi ke Pasar Badung. Hasilnya cukup untuk biaya sekolah. Ia terlatih bangun pagi. Memasak nasi. Menjerang air untuk kopi bapaknya. Lelaki asing yang tak dikenalnya. Bahkan tak pernah bicara layaknya seorang bapak. Maha hanya tahu sosoknya, juga suaranya yang selalu dirubung amarah itu. Dari balik korden kamar ibunya, ia selalu melihat lelaki itu menampar ibunya. Kadang menyeret perempuan itu. Setiap kali ibunya diseret, dipukuli, dan dimaki-maki, ibunya pasti hamil kemudian.

Maha tak mengenal kakak-kakaknya, yang menurut orang-orang, semuanya perempuan. Semua lahir prematur dan mati. Tetangganya pernah bilang, ia pun hampir mati saat dilahirkan. Untung para tetangga sigap. Anak-anak berikutnya mati dibunuh ibunya. Ada yang dicekik, dibanting, atau dicincang.

Maha anak ke-13. Anak sial! Perempuan penuh amarah. Mungkin sedikit sakit jiwa. Dulu, ia menyesal dilahirkan sebagai manusia, juga menyesal lahir sebagai perempuan. Kadang ia ingin menggiling bapak-ibunya di mesin giling bakso di pasar. Untung mereka cepat mati. Kalau masih hidup ia akan meracuninya. Pikirannya tidak jernih bila mengingat orangtuanya. Geram. Juga rindu. Rindu punya ibu yang bisa dipeluk atau diajak bercerita. Tapi hidupnya kacau. Maka, kematian hampir seluruh keluarganya mungkin berkah. Entahlah.

Warga desa memasung Ni Made Tundjung dekat kuburan. Mereka membangun pondok bambu beratap ilalang. Tundjung dipasung karena membunuh anakanaknya secara sadis. Juga sering mengamuk sambil mengacungkan pisau. Ia hampir membunuh gadis desa yang sedang mandi di sungai. Tundjung melihatnya seperti ikan besar. Ia menjaring gadis itu, hendak memotong-motong dan memasak dagingnya.

Entah apa yang merasuki Tundjung. Warga meringkusnya. Menyeret dan memukuli Tundjung. Anehnya, Tundjung tidak menjerit saat dipukuli.Ia diam saja. Lima tahun Tundjung hidup dalam pasungan. Tubuhnya makin kurus, mirip memedi.Tahun ke-6 Tundjung ditemukan mati dengan leher tergorok. Konon para begal memperkosanya. Warga tidak membawa mayat Tundjung ke rumah, tapi langsung membakarnya dengan upacara sederhana. Kematian Tundjung dianggap kematian Salahpati. Kematian yang salah menurut adat.

Diam-diam Maha sering mengunjungi gubuk ibunya. Gubuk busuk, penuh sampah, dan sisa makanan. Maha tertatih-tatih mengangkut air dari sungai. Memandikan ibunya dengan perasaan aneh. Cinta, benci, atau kasihan? Maha menggosok tubuh yang mirip sebatang kayu itu dengan sabun. Menyikat kakinya. Menggunting kukunya. Mencuci rambutnya. Tundjung menikmati tetesan air yang membasuh tubuhnya. Hanya itu romantisme dalam ingatan Maha. Selebihnya menguap. Orang desa bilang; Jangan pernah menikahi Ni Luh Putu Mahadewi. Ada bibit ‘gila’ dalam benih darahnya.

Dini hari I Wayan Rubag dikepung komplotan lelaki berseragam hijau. Ia diseret ke hutan. Masa itu banyak orang desa, terutama lelaki, dijemput komplotan orang berseragam dan tak pernah kembali. Syukurlah, Rubag telah dibawa. Maha tidak harus melayani permintaan tak masuk akalnya. Lelaki yang datangpergi semaunya, yang memperlakukan Maha seperti budak. Melakukan hal-hal menjijikkan dan tak pantas bagi anak perempuan 9 tahun. Mungkin karena Rubag memperlakukannya tidak pantas, Maha pun tidak bergairah saat berdekatan dengan lelaki. Jijik. Kelak, ini sangat mempengaruhi perkawinannya.


SETEGUK kopi melonggarkan tenggorokan Men Coblong. Pagi itu hari libur. Ia tidak perlu bolak-balik mengurus anak lelakinya. Setiap hari libur, suaminya yang menjaga anak. Men Coblong bebas. Ini jadwal Men Coblong menemani Miss Tata. Selama sidang perceraian ia tak bisa hadir.

“Ia perempuan hebat. Tak ada drama selama di persidangan. Ia tidak menuntut harta gono-gini.”

“Hanya satu permintaan perempuan itu.”

“Apa?”

“Jangan menganggu hidupnya lagi.”

“Kau tahu? Lelaki yang diceraikan Tata itu seperti model. Terlalu ganteng. Cowok metroseksual. Lelaki impian.”

“Mungkin lelaki itu selingkuh?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Dalam persidangan hanya ada kalimat: tidak ada lagi kecocokan. Lelaki ganteng itu bahkan ingin berdamai. Menangis. Meminta maaf dengan memohon. Ia tak ingin bercerai. Bahkan ia tak akan marah bila Tata punya lelaki simpanan. Lelaki itu juga berteriak, sangat mencintai Miss Tata. Tata tak peduli.”

Men Coblong diam. Sepuluh tahun usia perkawinan Miss Tata. Apa yang terjadi? Ditatapnya Si Bibir Oranye.

“Kau pasti heran kenapa aku mengusir suamiku?”

“Apa? Kau yang mengusirnya?”

“Ya, aku mengusirnya baik-baik. Karena aku tidak ingin jadi petugas dalam perkawinan.”

“Maksudmu?”

“Sepuluh tahun aku hidup dalam dunia baru. Aku menghargainya karena awalnya ia sangat menghormatiku. Ia tak peduli masa laluku. Lima tahun aku hidup penuh cinta. Sejak awal aku tidak ingin punya anak. Aku ingin hidup sendiri dengan caraku sendiri. Butikku maju.”

“Kenapa kau bercerai? Saat ini susah sekali mencari suami yang setia.”

“Hidup harus berubah. Aku bukan petugas rumah tangga. Ia mulai mengatur ini-itu. Aku memilih sendiri karena tidak ingin jadi petugas.”

Men Coblong terbelalak. Ia memilih bercerai karena ia diminta di rumah saja. Mengurus dapur dan bersiap menjadi ibu. Tata tidak suka. Tak ada kompromi.

“Aku heran, bagaimana kita bisa berharap banyak dari seorang petugas partai? Aku tidak mau jadi petugas rumah tangga. Tak bisa mengambil keputusan sendiri. Mau makan di restoran saja harus minta izin. Kalau mau buang tai, apa harus minta izin juga?” Tata tertawa terpingkal-pingkal.

“Petugas partai, idolamu itu, harus belajar keberanian dariku, Si Pemilik Butik,” Tata terus tertawa. Matanya berkedip-kedip. Bibirnya berkilau...