Jermanik Kuno/Sastra/Niebelungenlied

Niebelungenlied, atau Kisah Niebelungs, ditulis sekitar tahun 1200 M di Kekaisaran Romawi Suci. Tidak diketahui siapa penulisnya, namun diduga bahwa cerita ini sudah dituturkan secara lisan ratusan tahun sebelum dituliskan. Kemungkinan besar penulisnya adalah orang terdidik yang bekerja untuk Uskup di Passau, Jerman selatan. Kisah ini berlatar pada masa keruntuhan Kekaisaran Romawi dan invasi suku Hun, pada tahun 400-an M. Beginilah ceritanya.

Bagian I: Siegfried dan KriemhildSunting

Dahulu kala, di Kerajaan Burgundy (kini Prancis selatan) ada seorang putri bernama Kriemhild. Putri Kriemhild tidak mau menikah dengan siapapun, karena dia pernah bermimpi bahwa suaminya akan dibunuh, dan dia tidak mau ada yang mati karena dirinya.

Di kerajaan lain di dekat situ, yaitu Kerajaan Xanten, ada seorang pangeran bernama Siegfried. Dia adalah ksatria yang tagguh. Dia terkenal karena berhasil mengalahkan seekor naga buas bernama Fafnir dan merebut harta karun Fafnir, sehingga Siegfried menjadi kaya. Setelah dia membunuh sang naga, dia mandi menggunakan darah naga itu, sehingga tubuhnya menjadi kebal. Namun ketika sedang mandi, ada sehelai daun yang jatuh di punggungnya sehingga bagian punggung tersebut tidak terkena darah naga dan tidak ikut menjadi kebal. Unsur kisah ini mirip dengan kisah Akhilles dari Yunani.

 
Hagen bersiap melemparkan tombak ke arah punggung Siegfried.

Pangeran Siegfried mendengar tentang Putri Kriemhild, dan dia pun menunggangi kudanya menuju Burgundy untuk menikahinya, namun Raja Gunther, saudara Kriemhild, tidak mengizinkannya. Meskipun demikian, Siegfried tetap berkawan dengan Gunther dan membantunya memerangi kaum Saxon, dan kemudian mengalahkan dan menikahi BrUnhild, ratu Islandia. Setelah Raja Gunther menikahi Brynhild, dia memperbolehkan Siegfried menikahi Putri Kriemhild. Karena Siegfried memiliki tubuh yang kebal, dia tidak merasa khawatir terbunuh.

Pasangan tersebut tidak hidup bahagia selamanya. Brunhild mulai berdebat dengan Kriemhild mengenai suami siapa yang lebih penting dan harus pergi ke medan perang ketika mereka sedang pergi ke gereja untuk mngikuti misa. Hagen, yang bekerja untuk Gunther, memutuskan untuk membunuh Siegfried demi menjaga supaya Siegfried tidak berseteru dengan Gunther mengenai hal ini, dan Gunther tidak melakukan apapun untuk menghentikan Hagen. Namun bagaimana Hagen mau membunuh seorang ksatria hebat seperti Siegfried, yang memiliki tubuh kebal?

Hagen mengetahui dari Kriemhild tentang satu bagian di punggung Siegfried yang tidak kebal, dan dia meminta Kriemhild untuk menandai bagian tersebut dengan salib. Hagen memberitahunya bahwa tanda salib itu akan melindungi bagian punggung Siegfried yang tak kebal itu. Kemudian Hagen menusuk bagian yang bertanda salib di punggung Siegfried dengan menggunakan tombak. Akibatnya Siegfried pun tewas. Tidak hanya itu, Hagen juga mencuri emas Siegfried dari Kriemhild dan membuangnya ke sungai Rhine, supaya tidak digunakan oleh Kriemhild untuk membalas dendam.

Bagian II: Pembalasan KriemhildSunting

 
Gunther dan Hagen seusai pertempuran di aula istana Raja Etzel.

Kriemhild tidak diam saja melihat suaminya dibunuh dan hartanya dirampas. Dia pun menyusun rencana untuk membalas kejahatan Hagen/ Suatu hari, Raja Etzel Sang Hun (Attila Sang Hun) datang dan melaamrnya. Kriemhild pun menikahinya dan mereka dikaruniai seorang putra.

Kriemhild mengundang seluruh keluarganya, termasuk pelayan mereka, untuk datang dari Burgundy ke negara Hun untuk pembaptisan putranya. Hagen merasa bahwa ini adalah perangkap, dan bahwa Kriemhild akan membunuh mereka semua begitu mereka tiba di negara Hun, namun tak ada yang menghiraukan peringatan Hagen, maka Raja Gunther, Ratu Brunhild, dan banyak orang lainnya berangkat menuju pembaptisan putra Kriemhild, dan mereka juga membawa serta Hagen.

Begitu mereka tiba di istana Raja Etzel, mereka ingin tetap membawa senjata mereka. Raja Etzel menyebut itu tidak sopan namun tetap mengizinkan mereka membawa senjata mereka. Setelah Raja Gunther, Ratu Brunhild, dan semua tamu telah berada di dalam aula, Kriemhild menuntut Hagen mengembalikan emas yang telah dia ambil. Hagen menolak dan malah memenggal putra Kriemhild.

Pertempuran pun terjadi di aula istana. Pihak Burgundy berhasil menguasai istana, namun di luar sudah berkumpul pasukan Hun yang mengepung mereka. Krimhile mengatakan bahwa mereka boleh pergi asalkan menyerahkan Hagen, namun mereka menolak. Setelah terjadi pertumpahan darah, semua orang Burgundy terbunuh kecuali Raja Gunther dan Hagen, mereka berdua kemudian dijadikan tahanan.

Seusai bentrokan itu, Kriemhild mendatangi penjara Gunther dan Hagen. Dia lalu memenggal keduanya. Semua orang merasa jijik atas tindakan ini, dan seorang pria bernama Hildebrand pun membunuh Kriemhild. Pada akhirnya semua orang meratapi kematian banyak pahlawan dalam peristiwa tersebut.