Data diri umum penulis: Nimas Rassa, penulis kelahiran Garut, 15 September. Novel pertamanya berjudul Dimensi, diterbitkan oleh Elex Media Komputindo, novel keduanya terbit secara digital di Gramedia digital. Juara 2 lomba menulis cerpen berbahasa Palembang, juara 1 Flash Fiction Challenge, juara 1 sayembara menulis novel Islami, juara 2 menulis ide film pendek, mempunyai enam buku antologi (puisi dan cerpen) dan banyak novel, cerpen dan fiksi mini yang terbit di platform digital. Penulis bisa ditemui di IG @nimasrassa, FB. Nrs Rassa Shienta Azzahra, Twitter @nimasrassa09 dan akun GWP, Kwikku, Cabaca dan Rakata dengan nama akun yang sama @nimasrassa




KOIN-KOIN ARSHA


Oleh: Nimas Rassa


Apalah artinya uang koin? Apalagi koin seratus rupiah. Jangankan buat belanja, buat jajan saja tak cukup. Zaman sekarang, mana ada lagi harga jajanan seratus rupiah, makanya banyak orang yang tak peduli dengan keberadaan uang koin, meletakannya disembarang tempat, bahkan kalau hilang pun tak akan jadi persoalan. Berbeda dengan Arsha, anak berumur empat tahun sembilan bulan itu, gemar sekali mengumpulkan uang koin. Koin-koin tersebut ia simpan dalam sebuah dompet kain bekas bermotif polkadot, pemberian Ibunya. Setiap kali Ibu pulang dari pasar yang ditanya bukanlah makanan, melainkan uang koin sisa belanja. Setiap kali melihat koin-koin tergeletak di atas lemari es, atau dalam wadah bumbu Ibu di dapur, atau di meja televisi, Arsha dengan sigap mengumpulkannya dan menyimpannya dalam dompet. Kalau Arsha suka sekali mengumpulkan koin-koin, sementara Kakaknya, Aras, malah sangat membenci uang koin. Kalau mau jajan, Aras selalu meminta uang kertas saja, baginya uang koin itu tak berharga. “Aras nggak mau uang koin, nggak laku, nggak bisa dibeliin apa-apa. Apalagi koin seratus seperti ini! dapat apa?” Ujar Aras, melemparkan sepuluh keping uang koin bernilai seratus rupiah di lantai ruang tamu. Matanya memandang remeh pada koin-koin berwarna perak itu. “Loh, itu kan ada sepuluh, jadi jumlahnya seribu rupiah. Cukup buat beli jajan.” Kata Ibu, berusaha sabar. “Iya, tapi kan bawa uang koin tuh berisik, Bu. Malu Aras sama teman-teman.” Nada suara Aras mulai serak, seperti ingin menangis. “Astagfirullah.” Ibu mengusap-usap dada. Aras pergi ke luar rumah, membuka pintu ruang tamu dengan kasar serta menutupnya dengan cara membanting. Ibu kembali beristigfar, berteriak setengah marah. “Ya sudah kalau nggak mau, nggak usah jajan, Ibu nggak punya uang lagi.” Kata Ibu dengan mata melotot dan helaan napas yang mengandung kekesalan. “Buat Adek saja ya, Bu?” Arsha menatap Ibunya, menunggu jawaban Ibu. “Iya. Ambillah, buat Adek saja uangnya.” Jawab Ibu sambil berlalu ke dapur. Tanpa banyak cakap, Arsha langsung memunguti koin-koin yang berserakan di lantai, lalu bergegas masuk ke kamar untuk menyimpan koin-koin tersebut dalam dompetnya. “Ibu. Lihat koin Adek sudah banyak sekali, dompetnya sampai nggak bisa ditutup.” Katanya, memperlihatkan isi dompet motif polkadotnya pada Ibu. “Wow, banyak sekali. Berapa ya jumlahnya?” tanya Ibu. Arsha menggeleng seraya berkata. “Nggak tahu, Adek kan belum bisa berhitung?” “Sini, Ibu bantu menghitungnya ya.” Arsha mengeluarkan seluruh koin di dalam dompetnya, dan mulai belajar menghitung bersama Ibu. Mula-mula Ibu memisahkan koin-koin seratus rupiah, dua ratus rupiah, lima ratus rupiah, lalu seribu rupiah. Ibu mengambil sepuluh keping koin seratus rupiah, lalu menyusunnya bertumpuk seperti menara kecil, sampai selesai. Kemudian Ibu melakukan hal yang sama pada koin-koin yang lainnya, kata Ibu cara ini memudahkan untuk menghitung. Arsha mengamati semua yang Ibu lakukan. Ia pun mengikuti cara Ibu menyusun koin yang bernilai sama. Setelah semua tersusun, Ibu baru menghitungnya. Ternyata jumlahnya sudah mencapai dua ratus ribu. Mata Arsha berbinar-binar mengetahui jumlah koinnya. Sudah banyak sekali koin-koin yang telah Arsha kumpulkan, mulai dari koin seratus rupiah, sampai seribu rupiah. Ibu sampai memberikan satu dompet lagi untuk menampung koin-koin tersebut. “Terus yang ini simpan di mana, Bu? Dompetnya nggak muat lagi.” Tanya Arsha, menunjuk tumpukan koin yang ada di lantai. Ibu diam sambil berpikir. “Tunggu sebentar ya, Dek, kalau nggak salah Ibu punya tas yang nggak terpakai.” Ibu masuk ke kamar, tak lama ke luar lagi membawa sebuah tas kecil rajutan berwarna hitam. Arsha menerimanya dengan senang hati dan langsung memindahkan koin-koin yang masih tergeletak di lantai ke dalam tas. Arsha mulai berkhayal, dengan koin-koin ini ia pasti akan bisa membeli mimpinya. Arsha jadi tambah bersemangat untuk terus mengumpulkan koin-koin. Sampai saat ini baik Ibu atau pun Ayah, tak tahu untuk apa Arsha mengumpulkan koin-koin tersebut. Mereka pikir Arsha melakukan itu hanya sekadar hobi saja, padahal Arsha punya impian yang sudah lama tersimpan dalam keinginannya. Satu setengah tahun yang lalu, Kakak sepupunya, Kak Shienta mengajak Arsha jalan-jalan ke toko buku tempat Kak Shienta bekerja sebagai supervisor, di toko tersebut Arsha melihat ada sebuah gitar kecil seperti yang suka dipakai oleh penyanyi Budi Doremi di televisi. Kata Kak Shienta, itu namanya Ukulele. Arsha juga pernah melihat Kak Ojan dan putranya yang bernama Atta, memainkan Ukulele dalam sebuah acara talkshow salah satu stasiun televisi swasta Indonesia. Semenjak itu Arsha jadi ingin punya Ukulele. “Kak. Ukulele itu mahal nggak?” tanyanya suatu hari pada Kak Shienta. “Ehm, nggak juga. Ada kok yang harganya dua ratus ribu.” Arsha merenung mendengar jawaban Kak Shienta. Dari mana ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Bisa saja sih, ia minta belikan Ukulele sama Ayah, atau sama Kak Shienta, tapi kan Arsha malu untuk mengatakannya. “Arsha ingin punya Ukulele?” tanya Kak Shienta tiba-tiba. Mata Arsha langsung mengerjap-ngerjap bahagia. Cepat-cepat ia mengangguk. Kak Shienta mengangguk-angguk sambil tersenyum. “Arsha menabung saja, menyisihkan uang jajan dan menyimpannya dalam celengan, nanti kalau kurang Kakak yang tambahin. Gimana?” kata Shienta. Arsha menatap mata coklat Kak Shienta yang tersenyum hangat padanya, kemudian mengangguk menyetujui saran yang diberikan Kak Shienta. Sejak itulah, Arsha jadi rajin mengumpulkan koin-koin sisa belanja Ibunya, ia juga menyisihkan sebagian uang jajannya demi terwujudnya impian untuk memiliki Ukulele. Sedikit lagi impian Arsha bakal terwujud.


Suatu hari, Arsha ke luar dari kamar sambil menjinjing satu buah dompet kain dan tas rajutan yang berisi penuh koin-koin. Ia berkata pada Ibunya, kalau dompetnya sudah penuh semua. Lalu ia memaksa Ibu untuk mengantarkannya pergi ke toko buku tempat Kak Shienta bekerja. Mau tak mau, Ibu terpaksa mengantar Arsha pergi ke toko buku. Tentu saja Aras juga ikut serta, Aras penasaran, apa yang akan dibeli oleh adiknya dengan koin-koin yang tak laku itu. “Memangnya Adek mau beli buku pakai koin yang nggak laku itu?” tanya Aras, ketika mereka sedang dalam perjalanan. Aras tak henti mentertawakan kebodohan adiknya. “Iya. Adek mau beli apa?” kali ini yang bertanya Ibu. Arsha tak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepala sambil senyum-senyum tipis. Melihat tingkah Arsha, Ibu dan Aras jadi makin penasaran melihatnya. Ya Allah, semoga tabungan Adek cukup untuk beli Ukulele. Doanya dalam hati. Sampai di toko buku, Arsha langsung berlari masuk ke dalam toko dengan dua tangan menjinjing dompet kain. Matanya jelalatan, mencari keberadaan Kak Shienta. Ibunya bilang, hari ini Kak Shienta masuk pagi, berarti Kak Shienta ada di toko buku. Tanpa Arsha sadari tas rajutannya robek, koin-koinnya berhamburan di lantai. Ia baru sadar setelah Aras berteriak. “Bu, lihat. Dompet Adek robek!” teriak Aras sambil tertawa terbahak-bahak, melihat koin-koin milik Arsha berhamburan. Arsha tergemap begitu mengangkat tas yang sudah robek dan ringan karena isinya telah berceceran di sepanjang lantai toko. Matanya langsung berkaca-kaca, impiannya retak, sebagian koinnya hilang dan pasti tak cukup untuk membeli mimpi. Dada Arsha kembang kempis, menahan tangis. Ibu langsung memeluk tubuh kurus dan jangkung putra bungsunya itu, berusaha menghibur. Saat itulah Kak Shienta muncul bersama teman kerjanya. “Arsha!” Kak Shienta buru-buru mendekati Arsha. “Kenapa menangis?” tanyanya. “Kakak.” Rengek Arsha, sambil menunjukan salah satu dompet kainnya yang tinggal sedikit. “Loh, kok bisa jebol dompetnya?” Kak Shienta mengambil dompet kain rajutan dari tangan Arsha dan memeriksanya, akhirnya ia mengerti apa yang membuat dompet kain Arsha robek. “Koinnya terlalu banyak, keberatan, jadi robek. Benang woll-nya juga sudah rapuh, jadi jalinannya sudah tak kuat lagi.” Kata Ibu. “Coba Kakak lihat yang satunya lagi?” kata temannya Kak Shienta. Arsha memperlihatkan dompet kain bercorak polkadot dengan mata berkaca-kaca. “Wah, koinnya banyak sekali.” Ujar teman Kak Shienta lagi. “Tapi … uang Adek jadi hilang.” Tangis Arsha pecah. “Nggak hilang kok, cuma tercecer saja.” Kata Kak Rijal, temannya Kak Shienta. “Sudah, nggak usah nangis. Kak Shienta sama Kak Rijal bantu memunguti koin-koin yang berhamburan. Iya kan, Kak?” Kak Shienta melirik rekan kerjanya. “Tentu saja. Ayo, kita kumpulkan lagi koinnya dan kita hitung sama-sama.” Ajak Kak Rizal. “Hahaha, capek-capek ngumpulin koin, malah hilang.” Ledek Aras, membuat tangis Arsha makin kencang. “Aras nggak boleh begitu!” hardik Ibu. Aras diam, menutup mulut. Arsha, Kak Shienta, Kak Rijal dan Ibu mulai bergerak memunguti koin-koin yang berserakan di lantai toko. Lama-lama Aras jadi tersentuh juga melihatnya, ia pun turut membantu mengumpulkan kembali koin-koin Arsha. Setelah semuanya terkumpul, Kak Shienta dan Kak Rijal menghitungnya. Ternyata jumlahnya sekitar lima ratus ribu rupiah, cukup buat membeli Ukulele. “Arsha hebat, bisa mengumpulkan koin-koin bernilai kecil ini sampai lima ratus ribuan!” puji Kak Rijal. Arsha tersenyum malu-malu. “Arsha mau beli apa? mau beli buku?” tanya Kak Rijal. Arsha mengangguk ragu-ragu, menatap Ibu, lalu berpindah menatap Kak Shienta. “Adek mau beli Ukulele, kalau ada lebihnya baru beli buku dongeng.” Jawabnya. “Oh.” Seru Kak Shienta dan Kak Rijal bersamaan. “Oke, anak pintar. Ayo, kita ke belakang sana, Ukulele terletak di belakang. Silakan Arsha pilih sendiri yang Arsha suka.” Ajak Kak Shienta dan Kak Rijal. Ibu terharu melihatnya, ternyata sekecil ini Arsha sudah pandai menabung, dari hasil tabungannya ia bisa membeli barang impiannya. Sementara Aras terpaku kaku melihat adiknya yang berjalan dengan ceria menuju tempat di letakannya Ukulele, kemudian memilih beberapa buku cerita dan Kak Rijal memberikan hadiah celengan untuk Arsha. Aras jadi iri melihatnya. “Aras kenapa diam saja?” tanya Ibu, mendekati putra sulungnya yang hanya berdiri bersandar pada salah satu rak buku. Aras menggeleng, membuang wajah dari tatapan Ibu, penyesalan menyeruak hati. Ia menyesal kenapa dulu selalu membuang uang koin, menganggapnya remeh dan tak laku. “Itulah makanya, jangan suka menganggap remeh hal yang kecil. Lihatlah, koin yang bernilai kecil dan kamu anggap nggak laku itu, bisa bernilai besar ketika seorang tahu bagaimana cara menyimpannya, menghargainya.” Nasihat Ibu semakin membuat Aras sedih. Selama ini kalau ingin membeli suatu barang, atau mengisi kuota untuk bermain game, Aras selalu minta uang pada Ibu atau Ayah, kalau tak diberi, ia bakal ngambek. Selama ini Aras selalu menghabiskan uang jajannya, tak pernah menyisihkan untuk menabung. Sekarang ia tak bisa membeli apa-apa, cuma diam, memandang iri pada Arsha yang telah berhasil memeluk Ukulele impiannya. “Kak. Ini buat Kakak.” Kata Arsha membuyarkan lamunan Aras. Arsha menyerahkan sekotak krayon untuk Kakaknya. “Ini buat Kakak?” tanya Aras tak percaya. “Iya. Kan Adek pernah menghilangkan dan merusak krayon Kakak. Ini gantinya.” Arsha tersenyum senang bisa mengganti krayon Kakaknya dari hasil tabungan. “Terima kasih ya, Dek.” Aras menerima krayon dengan mata berkaca-kaca. “Sama-sama, Kak. Pulangnya nanti kita beli es krim ya, Kak. Adek masih punya sisa uang nih. Kata Kak Shienta ini cukup buat belie s krim.” “Wah, Adek banyak sekali beli bukunya?” kata Ibu. “Adek cuma beli satu, Bu. Yang tiga ini dibelikan Kak Shienta, celengan ini Kak Rijal yang belikan.” “Alhamdulillah. Bilang apa sama Kak Shienta dan Kak Rijal?” kata Ibu lagi. Arsha memutar tubuh, berhadapan dengan Kak Shienta dan Kak Rijal. “Kak Shienta, Kak Rijal, terima kasih ya, sudah bantuin Arsha mengumpulkan koin yang berhamburan, membelikan buku dan celengan.” Katanya dengan tatapan mata yang berbinar-binar bahagia. “Kembali kasih, Arsha.” “Semoga dengan celengan itu Arsha jadi rajin menabung ya.” Kata Kak Rijal sambil mengusap kepala Arsha. Anak bertubuh kurus dan jangkung itu mengangguk tegas. “Siap. Kak Shienta, nanti ajarin Adek main Ukulele ya?” “Siap.” “Adek pulang dulu, Kakak-Kakak. Assalamualaikum.” “Alaikumsalam.” Kemudian Arsha, Ibu dan Aras pulang dengan membawa isi perasaan masing-masing. TAMAT