Lahilote: Cerita Rakyat Gorontalo

Ester Yuninger

Rona kemerahan mengiringi sang surya memasuki peraduannya. Berkas sinar itu menimpa gumpalan awan bagai salju emas yang tercurah dari langit, dan tetesannya memagari cakrawala di ufuk barat. Perlahan, rona itu menghilang, berganti dengan bola lampu raksasa yang menerangi alam semesta dari arah yang berlawanan. Disambut oleh riak gelombang yang dengan segera memantulkan cahaya itu. Sang alam begitu tenang tak ingin mengganggu keindahan yang sedang tercipta. Seluruh peristiwa alam itu tak luput dari perhatian tujuh putri dari atas kayangan. Mereka begitu gembira menyambut datangnya purnama. Saat seperti inilah yang sering dinanti oleh para putri itu.

Bila bulan bersinar penuh seperti malam ini, para Putri Lo'oabu akan turun ke bumi. Di bumi mereka memiliki suatu tempat yang sangat indah untuk bermain dan bersenda gurau. Sebuah danau besar di tengah hutan yang dikelilingi oleh bunga-bunga beraroma segar. Di tempat itu mereka akan mandi, memetik bunga, dan bercanda ria.

Dengan saling berpegangan tangan, mereka meluncur turun ke bumi. Sayap-sayap mereka yang putih bersih berkembang dan berkepak-kepak. Beberapa saat mereka mengitari Danau Lumuntu dari atas, menikmati keindahannya. Pada suatu tempat mereka turun dan bersiap untuk mandi.

Ketujuh Putri Lo'oabu itu melepaskan sayapnya. Mereka meletakkan satu per satu sayapnya sesuai dengan urutan dari yang sulung sampai ke yang bungsu. Si sulung bernama Mbui Didingga meletakkan sayapnya dan segera menceburkan diri ke dalam air. Perbuatan Mbui Didingga diikuti oleh adik-adiknya Mbui Wonduwo, Mbui Tombolu, Mbui Dayato, Mbui Lilingo, dan Mbui Talamo. Mereka seakan-akan tidak sabar ingin menikmati segarnya air Danau Lumutu. Si bungsu, Mbui Ti Nditu masih berdiri terpaku memandang kakak-kakaknya. Keenam kakaknya mandi dengan gembira. Mereka benar-benar menikmati suasana malam itu.

Para putri tidak menyadari bahwa ada seorang manusia mengintai kegiatan mereka. Manusia itu adalah seorang yang sangat perkasa. Tubuhnya tinggi dan kekar. Otot-ototnya keras. Manusia itu bernama lahilote. Pemuda itu tidak sengaja menyaksikan kejadian yang menakjubkan dan belum pernah dialaminya selama hidup.

Lahilote tinggal di tepi hutan. Ia menguasai isi hutan dan bersahabat dengan binatang, tumbuhan, dan seluruh isi hutan. Konon, Lahilote bisa berbicara dalam bahasa mereka. Lahilote hidup berdua bersama ibunya. Ia terkenal sangat rajin, dan taat kepada orang tua.

Malam itu Lahilote tidak bisa tidur. Ia keluar rumah. Suasana di luar rumah yang terang benderang membawa kakinya melangkah sampai ke tepi Danau Limutu. Di sebatang pohon yang rindang, di tepi danau itu ia naik dan duduk bertengger di salah satu dahan. Saat itu, ia sedang memikirkan dirinya. Sudah dewasa seperti ini, ia belum juga memliki seorang istri.

“Di hutan ini tak satu orang manusia pun yang kujumpai," pikirnya.

Lahilote pernah pergi ke desa seberang, tetapi penduduk di sana tidak mau berteman dengannya. Mereka menganggap Lahilote sebagai polahi. Seorang polahi tidak boleh bergaul dengan penduduk karena dianggap lari dari desa dan memiliki ilmu yang dapat mencelakakan rakyat. Sejak itu, Lahilote tinggal berdua bersama ibunya di hutan.

Tiba-tiba Lahilote tersentak kaget. Dari langit tampak tujuh ekor burung mengepak-kepakkan sayapnya. Makin lama makin dekat dan ... makin besar. Suara mereka sangat riuh, bernyanyi seperti suara manusia. Belum hilang dari pandangan Lahilote, ketujuh burung tadi sudah mendarat di tepi danau, tepat di bawah pohon tempatnya bertengger. Mulutnya ternganga ketika dilihatnya burung-burung tadi melepaskan sayapnya dan sekarang tidak ubahnya seperti manusia. Dalam terangnya malam, Lahilote terkagum-kagum dengan kecantikan mereka. Ia tidak pernah bertemu dengan wanita-wanita secantik ini.

“Ck ... ck ... ck ... ck," suara Lahilote.

Segera ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia takut bila ada di antara mereka yang mengetahui keberadaannya.

"Inikah bidadari-bidadari yang sering diceritakan Ibu? Tidak disangka ternyata aku bisa melihat mereka.”

“Ayo, cepat kita mandi, kita harus kembali sebelum Bunda mengetahui kepergian kita," terdengar suara dari salah seorang putri.

“Ayo Mbui Ti Nditu jangan buang waktu, kita menikmati malam ini ," putri yang lain mengingatkan si bungsu yang masih enggan menyentuh air.

Mbui Ti Nditu masih berdiri di dekat sayapnya. Perlahan ia melangkahkan kakinya, bukan ke arah danau. Ia berjalan ke tepi danau yang lain. Di sana bunga-bunga sedang mekar, sangat menawan tertimpa cahaya bulan. Putri bungsu itu memilih beberapa bunga dan dipetiknya. Salah satu dari bunga itu ia selipkan di telinganya, menambah cantiknya rupa sang putri. Bunga-bunga itu ia letakkan di dekat sayapnya. Setelah itu, putri bungsu pun mengikuti kakaknya untuk mandi. Semua perbuatan si bungsu tidak luput dari perhatian Lahilote.

“Ternyata, dialah yang tercantik, dan yang paling lembut di antara putri-putri lainnya," pikir Lahilote.

Terbetik, suatu ide dalam benak Lahilote. Perlahan ia turun dari atas pohon. Lahilote mengendap-endap menuju ke arah sayap-sayap para putri. Dengan hati-hati ia mengambil salah satu sayap yang terletak di dekat tumpukan bunga. Ternyata sayap itu terbuat dari kain sutera yang sangat halus. Tanpa ada kesulitan Lahilote menyembunyikan sayap itu di balik bajunya. Kemudian ia bersembunyi di balik belukar. Putri-putri itu tak menyadari bahwa salah satu di antara mereka telah kehilangan sayap.

Purnama tepat di atas kepala, para putri harus segera kembali ke kayangan. Satu per satu mereka naik dan mengenakan sayapnya. Putri bungsu paling akhir mandi. Ia menemui kakakkakak yang sudah siap untuk terbang. Terburuburu ia mendatangi tempat di mana sayapnya dilepaskan. Namun, sayap itu tidak ditemuinya. Di tempat itu ia hanya menemukan tumpukan bunga yang tadi dipetiknya. Pucat pasi, paras si bungsu seketika. Firasatnya tidak enak.

Bulan mulai condong ke barat, tetapi sayap si bungsu belum ditemukan.

“Apa daya Mbui Ti Nditu, kita telah mencari sayapmu, tetapi kami tidak menemukannya. Maka dengan terpaksa kami meninggalkanmu di sini,” Si Sulung mengambil keputusan.

“Kita pasti kena marah Bunda karena kita tidak menjaga si bungsu," kata putri yang lain.

“Tapi kita harus pulang."

“Mbui Ti Nditu, mungkin ini sudah nasibmu. Untuk sementara kau harus tinggal di bumi. Suatu saat nanti, kalau kau telah menemukan sayapmu kembali, engkau boleh menyusul kami ke negeri O'abu. Selamat tinggal."

Para putri melepaskan pelukannya pada Mbui Ti Nditu. Suara tangis Mbui Ti Nditu mulai terdengar. Tangisan Mbui Ti Nditu makin keras ketika dilihatnya satu per satu saudaranya terbang meninggalkannya sendiri. Kini ia sendiri di tengah hutan dalam kebingungan. Ketika itu, Lahilote keluar dari persembunyiannya.

“Siapakah engkau? Mengapa malam-malam begini kau seorang diri di hutan?" Lahilote pura-pura tidak tahu. rat.”

Mbui Ti Nditu menceritakan keadaannya.

“Aku akan menolongmu dengan satu syarat.

“Apa syaratnya?" tanya Mbui Ti Nditu penuh harap.

“Syaratnya adalah engkau harus menikah denganku," kata Lahilote.

“Aku adalah orang o'abu. Tidak mungkin kami kawin dengan orang bumi. Kami tidak mengenal tua, kami akan abadi. Kalian orang bumi, pasti akan mengalami masa tua. Aku tidak bisa menerimamu untuk menjadi suamiku. Kalau engkau ikhlas menolongku, tolong bantu aku mencari sayapku," Mbui Ti Nditu menolak Lahilote secara halus.

Namun, Mbui Ti Nditu tidak berdaya menolak kemauan Lahilote. Akhirnya, ia menyerah dan setuju menjadi istri Lahilote. Lahilote memberi nama baru kepada istrinya yaitu, Mbui Bungale.

Mbui Bungale hidup bahagia bersama Lahilote. Mereka dikaruniai seorang anak laki-laki. Mbui Bungale membiasakan diri hidup seperti layaknya manusia. Mbui Bungale sangat rajin melayani suaminya, mengerjakan pekerjaan rumah tangga, dan mengurus anak mereka. Bahkan ia merawat ibu Lahilote yang sudah renta.

Suatu ketika musim kemarau melanda bumi. Simpanan padi di lumbung keluarga Lahilote semakin menipis.

“Suamiku, padi di lumbung sudah mulai habis. Minggu depan kita tidak mempunyai sediaan makan lagi. Pergilah ke hutan untuk mencari tambahan makanan," Mbui Bungale mengingatkan suaminya.

Lahilote pun pergi ke hutan. Hari itu, seperti biasa Mbui Bungale akan memasak. Mbui Bungale mengambil padi di lumbung. Ia mengumpulkan sisa-sisa padi yang berserakan di lantai lumbung, sampai di sudut-sudut ruangan. Ketika itu, tangannya menyentuh ujung kain yang ada dalam tumpukan padi. Di tariknya ujung kain itu perlahan-lahan. Alangkah terkejutnya ternyata kain itu adalah sayapnya yang hilang ketika mandi bersama kakak-kakaknya di Danau Lumutu. Tahulah Mbui Bungale kini bahwa yang mencuri sayapnya adalah Lahilote. Ia sangat kesal karena selama ini Lahilote telah membohonginya.

Teringatlah Mbui Bungale akan asal usulnya. Ia rindu kepada keluarganya yang ada di kayangan. Ia segera menambal sayapnya yang sudah koyak dan berlubang digigit rayap. Kemudian, dicobanya sayap itu untuk terbang. Ternyata masih bisa digunakan, tetapi keinginannya untuk pergi tiba-tiba terhenti. Ia teringat kepada anaknya yang masih berumur 7 bulan. Dengan tergesa-gesa ia menemui anaknya. Kerinduannya terbagi . dua. Di satu sisi ia ingin kembali ke keluaragnya, tetapi di sisi lain ia tidak ingin meninggalkan anaknya yang masih kecil.

Bulat sudah keputusan Mbui Bungale kini. Ia harus pergi dengan membawa anaknya. Uti, anaknya semata wayang itu segera digendongnya.

“Maafkan aku suamiku, maafkan aku Lahilote. Aku pergi, anakmu ikut bersamaku. Aku khawatir kalau ia di dunia akan mengikuti jejak ayahnya yang suka berbohong. Biarlah ia bersamaku, ia akan aman di Negeri O'abu," bisik Mbui Bungale.

Ia naik ke atas loteng, terus ke bumbungan rumah. Sayap yang telah dikenakan dikepakkan. Dengan perlahan tubuh berat meningalkan rumah yang sudah sekian lama ditempati bersama suaminya, Lahilote. Di tempat itu Mbui Bungale merasakan suka duka sebagai manusia. Di tempat itu, ia melahirkan Uti, anaknya. Semua perasaan itu, dengan segera ditepisnya. Beberapa detik kemudian, Mbui Bungale telah melesat ke angkasa dan menghilang dari pandangan.

Betapa kaget para putri, melihat kedatangan Mbui Bungale. Mbui Bungale menceritakan pengalamannya selama ini. Mereka sangat bahagia bisa bertemu kembali. Uti, anak Mbui Bungale diasuh dan disayangi oleh putri-putri kayangan.

Sementara itu, Lahilote telah kembali dari hutan. Ia tidak menemui anak dan istrinya di rumah. Ia kebingungan mencari mereka. Ia mencari sampai ke lumbung padi. Lahilote masuk ke dalam lumbung. Ia melihat lumbung padi kini sudah kosong. Sisa-sisa padi berserakan di lantai lumbung. Ketika melihat keadaan itu, teringatlah Lahilote bahwa dua tahun yang lalu ia menyimpan sayap Mbui Bungale di dalam tumpukan padi.

“Tapi sekarang di mana sayap itu?”

Lahilote mencari ke sudut-sudut ruangan lumbung, tetapi ia tidak menemukan apa yang disimpannya. Ia tersentak kaget, seperti sadar akan sesuatu.

“Pasti .. . pasti Mbui Bungale telah menemukan sayapnya.”

Lahilote lemas, terduduk, dan meraungraung. Ia memanggil-manggil nama Mbui Bungale dan anaknya. Ia yakin bahwa Mbui Bungale telah pulang ke kayangan dan anaknya pasti dibawanya.

Tergesa-gesa Lahilote kembali ke hutan. Ia yakin teman-temannya di hutan akan menolongnya. Hanya satu yang ia inginkan. Ia harus bertemu dengan anak dan istrinya. Maka timbullah niat Lahilote untuk minta bantuan kepada sang rotan. Sang Rotan pasti akan menolongnya, badan Sang Rotan yang besar dan panjang pasti mengantarnya sampai ke kayangan.

“Aku akan menolongmu sahabat, tetapi sebelumnya aku mempunyai satu permintaan," kata Sang Rotan.

“Apa itu? Aku pasti akan memenuhi permintaanmu, asalkan engkau mau menolongku menemui istri dan anakku di kayangan."

“Engkau boleh melalui batangku ke kayangan, tetapi tolong kau siram dulu akarku dengan minyak kelapa agar akarku tidak dimakan tikus ketika engkau sedang naik," pinta Sang Rotan.

Lahilote segera menyiram akar rotan itu dengan minyak kelapa. Dengan cepat batang rotan itu membentuk seperti jembatan dan makin lama makin tinggi menjulang ke atas langit, mengantarkan Lahilote ke kayangan. Lahilote akhirnya ke pintu kayangan.

Di halaman kayangan, Lahilote melihat seorang anak lelaki kira-kira tujuh tahun sedang bermain dan dijaga oleh enam orang wanita yang cantik-cantik. Lahilote yakin bahwa itu bukan anaknya.

“Anakku masih berumur tujuh bulan," pikir Lahilote.

Keenam wanita itu ternyata adalah kakak-kakak Mbui Bungale. Namun, Lahilote tidak bisa mengenali salah satu dari keenam wanita itu karena rupa dan bentuk mereka sama. Kemudian, salah satu di antara wanita itu mengambil tempayan berisi air, wanita lainnya memeluk anak kecil dan masuk ke dalam istana. Mereka berjalan beriringan melewati Lahilote yang sedang berdiri.

“Maaf, bolehkah saya minta seteguk air?” Lahilote memberanikan diri.

Pada saat wanita itu menumpahkan air dari tempayan buat Lahilote, Lahilote menyempatkan memasukkan cincin ke dalam tempayan. Wanita-wanita itu pun masuk dan memberikan air itu kepada ibunya. Saat itu Mbui Bungale sedang berbincang-bincang dengan ibunya. Ketika akan minum, terkejutlah Mbui Bungale karena dilihatnya ada seberkas cahaya dari dalam tempayan. Diambilnya benda itu, ternyata adalah sebentuk cincin dan dia cepat mengenali bahwa itu adalah cincin Lahilote.

“Kak, apakah tadi ada orang asing yang datang ke sini1" .tanya Mbui Bungale.

“Ada, seorang lelaki dan sekarang sedang berasa di depan istana."

"Ibu, Kakak, tamu yang di depan itu adalah Lahilote, suamiku. Bu, izinkan dia masuk," Mbui Bungale memohon.

Ibu Mbui Bungale mengizinkan Lahilote masuk ke istana. Lahilote menjelaskan maksudnya datang ke kayangan. Lahilote memohon agar dipertemukan dengan anak dan istrinya karena ia sudah tidak mengenal anak dan istrinya di antara orang-orang yang ada di ruangan itu. Permintaan itu diterima oleh Ibunda Mbui Bungale, tetapi dengan beberapa syarat. Bila syarat itu dapat dipenuhi, Lahilote dapat kawin lagi dengan Mbui Bungale dan boleh tinggal di kayangan bersama anak dan istrinya.

Syarat pertama yang harus dipenuhi adalah menjemur padi. Padi tersebut harus dibawa dari lumbung ke tempat penjemuran sebutir demi sebutir, demikian pula memasukkannya kembali ke dalam lumbung. Padi itu akan dimasak pada hari perkawinan nanti. Lahilote menyanggupi pekerjaan itu. Satu per satu butir-butir padi itu dibawa ke tempat jemuran. Bagi Lahilote yang berilmu tingi, pekerjaan itu sangat mudah.

Belum hilang kepenatan Lahilote, tiba-tiba ia mendengar suara guntur. Angin bertiup dengan kencangnya. Langit mendung. Rintik-rintik hujan mulai membasahi negeri kayangan. Lahilote berpikir keras, bagaimana cara mengembalikan beras sebanyak ini sebutir demi sebutir ke dalam lumbung. Betapa pun tinggi ilmu Lahilote, tetapi ia tidak bisa menghentikan hujan. Pada saat itu, datanglah raja semut, sahabat Lahilote. Raja semut mengerahkan rakyatnya untuk membantu Lahilote. Lahilote lulus pada ujian pertama.

Syarat kedua, Lahilote harus mengambil kayu. Lahilote tidak boleh memotong pohon tersebut dan pohon itu harus dibawa bersama akar dan rantingnya. Pohon kayu yang diambil harus berdiamater kurang lebih satu meter. Kayu ini akan digunakan untuk memasak pada saat pesta perkawinan. Untuk pekerjaan ini, Lahilote dibantu oleh raja ular, sahabatnya.

Karena semua persyaratan yang diajukan dapat diselesaikan oleh Lahilote, acara perkawinan Lahilote bersama Mbui Bungale segera dilaksanakan. Pada malam perkawinan, ada satu syarat berat yang harus dilalaui oleh Lahilote. Tujuh orang bidadari dengan rupa yang sama, pakaian yang sama didudukkan. Lahilote harus menentukan salah satu dari wanita-wanita tersebut sebagai Mbui Bungale.

Pada saat itu Lahilote menangis. Sangat sulit baginya untuk menentukan Mbui Bungale dari tujuh wanita tersebut. Kalau Lahilote salah memilih, perkawinan akan dibatalkan. Oalam kebingungan itu, Lahilote mendapat bantuan seekor kunang-kunang yang pernah ditolongnya.

“Tenang sahabatku, Lahilote. lkuti petunjuk. Aku akan mencari Mbui Bungale. Siapa yang akan kuhinggapi kepalanya, maka dia adalah Mbui Bungale," Bisik sang kunang-kunang.

Kunang-kunang itu terbang dan hinggap dari kepala satu putri ke kepala putri yang lain. Dan berhenti tepat di atas kepala Putri Mbui Bungale. Pertanda itu cepat tertangkap oleh Lahilote, dan ia tidak salah menentukan Mbui Bungale di antara putri-putri itu.

Akhirnya, Lahilote dinikahkan dengan Mbui Bungale di kayangan. Mereka hidup bersama dan bahagia dengan anaknya. Ternyata anak yang dilihat Lahilote di pintu istana itu adalah anaknya. Di negeri kayangan, usia anak Mubi Bungale cepat bertambah sehingga dalam waktu tujuh hari sudah bertambah menjadi tujuh tahun.

Salah satu keajaiban itu yang tidak dimengerti oleh Lahilote. Ia sering bertanya ini dan itu tentang segala rahasia negeri kayangan. Perbedaan watak dan kepribadian inilah yang menyebabkan Lahilote berbeda dengan orang-orang kayangan. Oleh karena itu, walaupun Lahilote tinggal di negeri kayangan, ia tetap masih berperangai sebagai manusia bumi.

Kebahagiaan hidup bersama anak dan istri dinikmati oleh Lahilote. Nainun, kebahagiaan Lahilote akhirnya harus berakhir. Pada suatu hari, Mbui Bungale menemukan uban di kepala Lahilote. Dengan sangat menyesal Mbui Bungale harus melepaskan Lahilote kembali ke bumi. Karena, di negeri kayangan semua orang tidak akan mengalami masa tua. Uban adalah tanda-tanda ketuaan seorang manusia. Lahilote dikembalikan ke bumi. Lahilote diluncurkan dari langit melalui sebuah papan.

Di bumi, Lahilote mengabdikan dirinya kepada masyarakat. Ia dikenal sebagai orang yang arif dalam memutuskan perkara dalam masyarakat. Dia diangkat menjadi pemimpin manusia di bumi. llmu yang didapatkan dari negeri kayangan digunakan untuk kemaslahatan manusia di bumi. Lahilote menjadi panutan hingga akhir hayatnya.

Konon, menurut penuturan orang-orang tua dan tokoh-tokoh masyarakat Gorontalo bahwa ketika diluncurkan dari negeri kayangan, Lahilote jatuh dalam posisi jongkok. Lahilote jatuh di sekitar pelabuhan Gorontalo, yaitu di daerah Baya Milate. Telapak kaki Lahilote sebelah kiri jatuh menghadap ke laut di desa Pohe Kota Gorontalo. Sekarang dikenal sebagai tempat wisata "Tangga Dua Ribu". Di sana ada sebuah batu besar yang berbentuk telapak kaki raksasa. Dan orang Gorontalo yakin bahwa itu adalah "telapak kaki Lahilote". Sementara, telapak kaki kanan Lahilote berada di Pantai Tilamuta Kabupaten Boalemo.

Jauhnya letak kedua telapak kaki Lahilote, bagi sebagian masyarakat Gorontalo merupakan pertanda bahwa Lahilote adalah orang yang besar, gagah perkasa, dan berilmu sehingga bisa menembus negeri antah berantah yaitu "negeri kayangan". Nama Lahilote diabadikan pada salah satu tempat pemandian, yaitu Kolam Renang Lahilote yang berada di pusat kota Gorontalo.

  • O'abu: Negeri Kayangan
  • Putri Lo O'abu: putri kayangan
  • Polahi: orang hutan
  • Danau Limutu: Danau Limboto
  • Uti: panggilan sayang untuk laki-laki