Landra dan Bunga Merah

Landra dan Bunga Merah

Yetti A. KA.

Minggu, 22 Maret 2015

SETELAH hari itu, malam-malam Landra, malam-malam bunga merah. Ia memilih bunga bunga paling nyala dan merangkainya untuk hiasan peti mati. Siapa yang akan mati? Ia tak pernah tahu. Namun, jika ia sudah mengumpulkan bunga merah dan berjam-jam meronce bunga-bunga itu, tak menunggu lama seseorang pasti mengetuk pintu rumahnya untuk mengabarkan sebuah kematian.


WAKTU itu, sore hari di awal Maret, telepon rumah Landra berdering saat ia baru saja meletakkan bungkusan bunga dalam jambangan. Ia bergerak ke meja telepon. Selama ini telepon itu seakan sudah mati. Sudah lama sekali tidak berbunyi. Landra lupa kapan persisnya benda itu menjadi tak lebih berguna dari kaleng-kaleng biskuit yang disusun di atas lemari dan dengan alasan tertentu—meski tanpa nilai guna sekalipun—tetap ia pertahankan keberadaannya. Paling tidak, telepon itu—seperti juga apapun yang ada di dalam rumahnya—pernah menjadi benda kesayangan salah seorang anggota keluarga. Seperti nenek yang suka kaleng biskuit, seperti kakek yang sangat sayang pada kursi goyang, maka yang paling suka bunyi telepon ialah ibunya. Ibu memang orang yang senang menanti kabar. Setiap mendengar telepon berdering, ia akan berlari ke meja telepon. Setelah kematian ibunya, telepon itu tetap di tempatnya. Landra percaya akan ada saja teman-teman ibunya yang menelepon—orangorang yang kesepian dan menganggap kenangan bisa mengobatinya.

“Kau tidak ingat padaku?” kata seseorang di telepon itu.

“Sebutkan saja namamu,” kata Landra.

“Kita pernah bertemu di kafe. Kau berikan nomor telepon ini setelah kita....”

“Aku pernah meninggalkan nomor telepon pada seseorang di kafe yang kukunjungi sebanyak dua atau tiga kali.”

Seseorang itu mendesah kecil—mungkin ia sedikit putus asa. Kemudian ia berkata, “Kau perangkai bunga satu-satunya yang kami kenal. Kekasihku telah merencanakan sebuah kematian dan ia ingin kau merangkai bunga merah yang ada dalam lukisanku untuk menghiasi peti matinya. Apa kau bersedia?”


BUNGKUSAN bunga masih tergeletak begitu saja dalam jambangan. Berjam-jam Landra hanya memandanginya tanpa membuka dan mulai meronce bunga-bunga di dalamnya. Ia ingat malam kematian ibunya. Malam itu, ibu berkata padanya kalau ia ingin mati dan meminta Landra pagi-pagi sekali membeli bunga merah segar di pasar dan merangkainya untuk mengantar kepergiannya. “Harus bunga merah,” kata ibunya. Landra benar-benar membeli bunga merah.Jelang siang, ibunya mati tertabrak truk. Kantong bunga itu masih di tangan Landra saat orang-orang mengantar ibunya ke depan pintu. seperti pesan ibunya, Landra merangkai bunga-bunga merah itu dengan air mata yang terus berjatuhan; bunga-bunga yang bertambah merah seolah mengisap warna dalam diri ibu hingga yang tertinggal sekujur tubuh seputih kapas yang terbujur di atas tikar.

Sejak itu pula Landra tidak terlalu menyukai bunga merah. Bunga merah selalu mengingatkan pada kematian yang direncanakan ibunya. Namun, baru saja pelukis itu mengatakan hal yang hampir sama. Ada seseorang yang telah merencanakan kematiannya-dan seseorang itu secara khusus meminta ia merangkaikan bunga merah untuknya.


SEPANJANG malam Landra tidak bisa tidur. Ia tak bisa tidak memikirkan sebuah pagi dan seorang pelukis yang akan datang ke rumahnya membawa sejumlah lukisan—lalu ia sedikit berimajinasi akan memetik bunga-bunga dalam lukisan itu. Mula-mula bayangan itu membuat Landra tersenyum-senyum senang. Seumur hidup, ia belum pernah memetik bunga dalam lukisan. Ia belajar memetik bunga sendiri saat ibunya sudah pergi ke surga (Landra memejamkan matanya sejenak untuk berdoa). Ia senang pergi ke kebun-kebun bunga dan bertemu langsung pemilik kebun yang murah hati. Bunganya juga lebih segar ketimbang di pasar. Namun, yang paling disukainya perjalanan mendapatkan bunga-bunga itu—yang kadang membuat ia singgah sebentar di kafe, sungai, halte, dan taman. Sejak kecil, ia tidak banyak mengenal dunia luar. Ia hanya bersama ibunya yang bekerja sebagai perangkai bunga kematian—yang sekarang juga menjadi pekerjaannya.

Ketika ibunya pergi membeli bunga atau dipanggil untuk merangkai bunga secara khusus, ia mengurung diri di kamar.

Menutup semua pintu dan jendela dan selalu ingat pesan ibunya: jangan pernah membuka pintu selama ibu pergi. Ia menuruti ibunya. Ia tidak membuka pintu sekalipun tetangganya sendiri yang mengetuknya. Di kamar ia sibuk menggambar; dari gambar gunung, sungai, laut, serangga, hingga gambar orang. Waktu itu, ia berusia lima tahun dan melewatkan sekolah taman kanak-kanak. Ketika masuk SD, ia mencoba berteman dengan beberapa anak perempuan yang tidak terlalu menerima kehadirannya.

Landra membalik-balik tubuhnya. Ia tidak suka mengingat masa kecilnya dalam dunia yang sempit itu. Ia bayang-bayangkan lagi bunga-bunga dalam lukisan untuk menghibur dirinya; barangkali bunga krisan, mawar, begonia, melati, bakung, atau anggrek. Ia akan memilih bunga berwarna merah saja di antara bungabunga itu. Namun, mendadak ia tersadar, bunga dalam lukisan itu pasti sangat berbeda dari bungabunga yang selama ini ia rangkai untuk menghiasi peti mati seseorang. Yang bisa ia lakukan ialah menggunting bunga-bunga dalam lukisan itu dan merangkainya dengan benang dan ia sulit memikirkan kemungkinankemungkinan lain.

Jelang pagi, ia tertidur dan bangun pada pukul 09.00 karena mimpi buruk. Tepat saat itu, pintu rumahnya diketuk seseorang.


DI depan pintu, pelukis itu—ia kira-kira berusia 50 tahun dengan mata sedikit ia sipitkan—berdiri sambil mengepit sebuah bungkusan berukuran cukup besar. Bungkusan itu dibalut kertas warna cokelat. Lelaki itu mengenakan topi model Harris Tweed Ivy Cap abu-abu, setelan celana kain, dan sweter warna gelap. Ia terlihat rapi dan tampan. Landra mengingat-ingat di kafe mana ia pernah bertemu pelukis itu, apakah mereka sempat berciuman, mengingat beberapa kali Landra terlibat hubungan kilat dengan lelaki yang ditemuinya dan melupakan begitu saja begitu ia keluar dari kafe. Jika itu terjadi, ia mesti menyesalinya sebab lelaki itu lebih pantas menjadi seorang ayah baginya.

“Kau boleh masuk,” ujar Landra.

“Ini pasti salah paham.” Pelukis itu berkata.

“Kau sudah datang ke pintu yang benar. Aku perangkai bunga kematian,” “Kau bukan perempuan itu. Ah, entahlah, kejadiannya sudah lama. Aku tidak cukup yakin.”

“Kau mungkin teman ibuku.”

“Siapa namamu?”

“Landra.”

“Landra.” Lelaki itu kembali menggelengkan kepalanya. Ia seolah sedang menyesali ingatannya yang buruk. “Kau boleh masuk,” kata Landra.

“Tidak,” kata lelaki itu. “Aku datang hanya untuk menyerahkan lukisan-lukisan ini.” Suaranya terdengar murung dan menyeret Landra pada perasaan sedih. Cepat-cepat lelaki itu menyerahkan lukisan-lukisannya pada Landra. Setelah itu ia berbalik dan segera pergi dengan menyeret kakinya yang ternyata sedikit pincang.

Landra tidak beranjak juga dari pintu saat punggung pelukis itu sudah tak tampak lagi. Ia membeku dan tidak bisa keluar dari suasana sedih yang ditularkan si pelukis padanya. Ia mengingat-ingat suara pelukis yang amat murung, seolah-olah itu kemurungan yang juga ada dalam dirinya. Barangkali karena pelukis itu segera akan kehilangan orang yang ia cintai. Landra tentu sudah pernah mengalaminya saat kehilangan ibunya.


BUNGKUSAN lukisan belum dibuka, seakan Landra ingin menunda kematian seseorang yang mungkin saja sedang menanti-nanti waktu yang tepat untuk pergi. Ia ingin menunda kesedihan pelukis, menunda kesendirian yang akan ia lewati dengan cara menyakitkan; ia pergi ke tempat-tempat yang pernah mereka singgahi, tapi tetap tak mampu merasakan apaapa selain perasaan kehilangan. Landra kembali ingat ibunya. Kepergian ibunya membuat ia lama sekali ikut mati. Saat terbangun dari kebekuan yang panjang, dari kegelapan yang melingkarinya, ia memilih menjadi perangkai bunga kematian; ia mulai hidup lagi dengan cara mencintai bunga-bunga. Lalu, dengan cara apa pelukis itu bisa kembali menemukan hidupnya? Pikir Landra.

Jelang sore, Landra mulai membuka lukisan yang diberikan si pelukis tampan yang entah kenapa wajah itu tak mau pergi dari ingatannya.

Ia membuka lukisan pertama, diikuti lukisan kedua, ketiga, dan seterusnya. Saat itulah ia baru menyadari kalau bunga-bunga dalam lukisan itu semuanya berwarna merah dan itu sungguh mengingatkan pada bunga yang ia rangkai untuk ibunya. Bunga-bunga merah dalam lukisan itu dalam sekejap seolah hidup dan keluar dari kanvas, kelopak-kelopaknya segar dan basah.

Landra terpana. Ia berharap sekali pelukis itu meneleponnya, menenangkannya, dan memberitahunya kalau lukisan bunga yang hidup itu hanya halusinasinya dan ia akan segera baik-baik saja. Namun, mendadak ia telah berada di antara bunga-bunga dalam lukisan itu. Ia berjalan mulai memetik bunga-bunga. Di matanya, hujan turun dengan deras; tiap memetik satu bunga, ia merasa sedang memungut satu kesedihan milik ibunya. Ia sedang memilih-milih bunga yang paling sempurna saat ia ingat dan meyakini kalau tepat pada hari ini, 17 tahun lalu, ia memilih bunga yang persis sama untuk kematian ibunya.

Di ruang depan telepon berdering. Pasti pelukis itu, pikir Landra makin menangis. Kakinya terlalu gemetar untuk bisa keluar dan berlari menuju meja telepon itu.