Liburan Pertama ke Pantai Jimbaran

Judul: Liburan Pertama ke Pantai Jimbaran


Tiga sahabat kecil, Faris, Nadia, dan Rafi, merasa sangat senang ketika orang tua mereka mengajak mereka berlibur ke Bali pada saat liburan kenaikan kelas. Orang tua mereka sudah saling bersahabat sejak masa muda mereka. Faris, Nadia dan Rafi belum pernah pergi ke Bali sebelumnya dan sangat bersemangat untuk berangkat liburan ke Bali.

Hari itu cuaca cerah di Jakarta, tiga keluarga itu terbang dari Jakarta ke Bali bersama-sama. Penerbangan sangat nyaman dan mereka dilayani dengan ramah oleh para pramugari dan pramugara selama penerbangan. Tidak terasa setelah dua jam penerbangan, mereka tiba di Bali dengan selamat. Tentu saja dengan suasana liburan, mereka senang sekali waktu pertama kali tiba di bandara I Gusti Ngurah Rai.

Kemudian, mereka bergegas memanggil tiga taksi untuk menuju ke hotel. Letak hotel itu persis di tepian Pantai Jimbaran yang indah dan berombak tenang. Mereka sangat senang dan tidak sabar untuk pergi ke pantai dan menikmati indahnya matahari terbenam sore nanti.


“Wah, pantainya sangat indah,” kata Nadia, sambil terpana melihat ke arah laut. “Aku ingin bermain air di sana.”

“Bagus sekali, ombaknya kecil, aku juga ingin mencoba bermain air,” kata Faris.

“Hotelnya juga bersih dan luas sekali,” kata Rafi seraya kagum.

Sekitar pukul empat sore, Tiga sahabat kecil itu segera berlari menuju pantai dan memasuki air yang jernih dan hangat. Mereka berenang, bermain bola dan menikmati suasana pantai.


Orang tua Nadia datang mendekat membawa bola dan sambil bermain di air dangkal bersama mereka.

Tiba-tiba Faris berteriak, “Aduh, kepala aku terkena bola.”

“Maafkan aku Faris, aku tidak sengaja,” kata Rafi sambil meminta maaf.

Tiga sahabat kecil itu tertawa bersama dan kemudian mereka melanjutkan permainan mereka.

Mereka bermain air sekitar satu jam. Setelah bermain air, mereka duduk di pinggir pantai dan menunggu momen matahari terbenam bersama orang tua mereka.


Ayah Nadia senang sekali memotret, tentu saja dia tidak lupa membawa kamera dan terus mengabadikan momen mereka bersama waktu bermain di pantai. Tidak perlu diragukan lagi, hasil foto dari Ayah Nadia keren semua.

Setelah berfoto-foto, mereka duduk di atas pasir dan melihat ke arah laut. Warna langit perlahan berubah menjadi jingga yang sangat indah. Ditambah pantulan cahaya matahari terbenam yang membuat air laut tampak berkilau-kilauan seperti perhiasan.


“Wow, indah sekali, tidak pernah ada pemandangan seperti ini di Jakarta” kata Nadia sambil terpana melihat matahari terbenam.

“Tidak ada yang lebih indah daripada ini,” kata Faris.

Tiba-tiba mereka melihat banyak burung-burung terbang dengan formasi yang panjang, menghiasi langit sore itu.

“Wah, ada banyak burung-burung yang terbang di atas kita, keren sekali!” kata Rafi.

Mereka mencoba bermain suara, meniru suara burung-burung itu, dan ketika mereka berbicara dengan suara burung, mereka menjadi tertawa bersama-sama.


Waktu terus berjalan dan matahari semakin redup. Mereka memegang tangan orang tua mereka masing-masing dan merasakan hangatnya hubungan mereka.

“Kalian sudah puas bermain air?” tanya ibu Faris.

“Iya, dan kami juga menikmati indahnya matahari terbenam,” jawab Nadia.

“Kalau begitu, ayo kita cari restoran yang kalian suka untuk makan malam,” Kata ayah Faris


Tiga sahabat itu berjalan menyusuri pantai Jimbaran, menikmati suasananya yang menyenangkan bersama orang tua mereka. Mereka berjalan-jalan di sepanjang pantai, mencari restoran yang menarik untuk makan malam . Setelah berjalan sekitar 10 menit, mereka menemukan sebuah restoran yang terlihat ramai dengan pengunjung

Mereka memasuki restoran itu dan segera merasa lapar karena aroma yang menggugah selera dari ikan bakar yang sedang dimasak di tepian pantai. Mereka merasa sangat tidak tahan setelah seharian bermain di pantai. Mereka duduk di meja yang nyaman, di pinggir pantai dan memesan makanan mereka.

"Mbak, kami ingin memesan Ikan Kerapu Bakar, Ikan Kakap goreng, Udang Bakar Jimbaran, Cumi-cumi goreng, Kerang Saus Padang, Nasi Putih, Plecing Kangkung, Sambal Matah, serta Es Jeruk dan Es Kelapa muda untuk kami semua" pesan ayah Faris setelah berdiskusi dengan ibu dan orang tua Nadia dan Rafi dengan penuh semangat.



Tak lama kemudian, makanan mereka datang, dan aroma yang menggugah selera membuat mereka semakin lapar. Mereka memulai makan malam mereka sambil menikmati pemandangan langit yang mulai redup di pantai Jimbaran, ditambah dengan nyala obor di sepanjang pinggir pantai yang dipasang oleh banyak restoran di sekitar mereka. Mereka tertawa dan bercanda, mengobrol tentang segala hal, dari kehidupan di Jakarta hingga serunya bermain di Pantai Jimbaran.

Makanan yang lezat dan suasana yang menyenangkan membuat waktu terasa sangat cepat berlalu. Saat mereka selesai makan, mereka merasa sangat bahagia dan bersyukur kepada Tuhan atas momen yang telah mereka alami bersama.


“Apakah kalian sudah kenyang?” Kata Ayah Rafi

“Sudah....” kata Rafi, Nadia dan Faris

“Baiklah, kalau begitu Om ke kasir dulu untuk membayar” Kata Ayah Rafi

Mereka semua tersenyum dan berterima kasih karena Ayah Rafi baik sekali.


Setelah Ayah Rafi selesai membayar di kasir, mereka bersama-sama berjalan pulang ke hotel melewati tepi pantai sambil membawa pasir. Udara pantai yang sejuk, suara deburan air ombak yang enak didengar dan angin yang sepoi-sepoi membuat mereka sangat bahagia. Mereka berbicara tentang momen indah yang mereka alami bersama di pantai Jimbaran.


“Ini adalah liburan terbaik yang pernah aku alami,” kata Faris.

“Iya, aku juga sangat menikmati hari ini, padahal ini baru hari pertama di Bali” kata Nadia.

“Sama, momen lucu ketika kita berbicara dengan suara burung adalah yang terbaik, aku tidak sabar untuk hari besok” kata Rafi.


Orang tua mereka sangat senang memperhatikan anak-anak mereka bahagia dan mereka juga tak sabar untuk menantikan kebahagiaan-kebahagiaan baru esok hari. Malam itu mereka beristirahat dengan nyaman di hotel dan semuanya tidak sabar untuk melanjutkan liburan mereka esok hari.