Membaca Kembali Murakami Lewat Norwegian Wood

Beberapa tahun yang lalu, jika tidak salah ingat, saya pernah dititipi seorang teman beberapa buku karya Haruki Murakami, salah satunya adalah Norwegian Wood ini. Saat itu, saya tidak benar-benar berusaha mencarinya hingga saya lupa bahwa masih ada tanggungan titipan itu sampai saat ini. Maafkan saya!

Awal bulan ini, saya mendapat voucher Gramedia ketika mengikuti Workshop Cerpen Kompas yang merupakan salah satu rangkaian Borobudur Writers and Cultural Festival. Nah, setelah memilah-milih, akhirnya saya memutuskan untuk membeli Norwegian Wood ini tanpa membaca review-review terdahulu.

Buku ini bercerita tentang Watanabe, seorang laki-laki yang keras kepala dan cenderung tidak senang bergaul. Perjalanan hidup Watanabe diceritakan Murakami dengan pelik. Ia jatuh cinta kepada dua orang perempuan. Perempuan pertama bernama Naoko. Naoko merupakan mantan kekasih temannya yang telah meninggal, Kizuki. Kizuki mati karena bunuh diri dan tidak ada seorang pun yang mengetahui alasan bunuh dirinya. Setelah kematian Kizuki, Naoko dan Watanabe sering pergi berdua, berjalan keliling kota, dan melakukan berbagai hal bersama-sama. Akan tetapi, ternyata Naoko memiliki masalah kejiwaan sehingga ia memilih untuk tinggal di sebuah pedesaan untuk menyembuhkan dirinya. Di sana, ia tinggal bersama dokter-dokter dan pasien lainnya. Mereka saling menolong dan berbagi. Antara pasien dan dokter bahkan sulit dibedakan karena mereka merasa saling membutuhkan satu dengan lainnya.

Selama masa penyembuhan Naoko, Watanabe menjalankan aktivitasnya seperti biasa di universitas, kemudian pulang ke asrama, dan beberapa hari sekali bekerja paruh waktu di sebuah toko piringan hitam. Di kampusnya, ia bertemu dengan seorang perempuan bernama Midori yang ternyata juga memiliki pengalaman hidup yang pahit sehingga sikapnya pun sering tidak normal. Watanabe sering kebingungan dengan perasaannya. Di satu sisi, ia merasa sangat mencintai Naoko, ada satu bagian dalam hatinya yang dikhususkan untuk Naoko dan tidak dapat dijamah oleh siapa pun juga. Di sisi lain, Midori juga membuatnya jatuh cinta karena ia cantik dan menyenangkan. Perasaan-perasaan seperti ini membuatnya sangat merasa bersalah ketika mengetahui Naoko bunuh diri. Ia menyesal tidak menepati janjinya untuk menunggu Naoko sembuh.

Di bagian tengah cerita, juga disisipkan kisah-kisah mengenai seorang gadis belia yang lesbi dan kejam. Meskipun berumur tiga belas tahun, ia berhasil menjebak guru les pianonya yang sudah berumur 31 tahun untuk menuntaskan gairah seksualnya. Ketika guru tersebut menolak, ia menyebar cerita-cerita bohong kepada orang tua dan tetangga-tetangganya sehingga ‘penyakit lama’ gurunya itu kambuh kembali. Dengan terpaksa, gurunya itu—Reiko-san, harus berpisah dengan suami dan anaknya, kemudian memilih untuk menyembuhkan diri di pedesaan yang sama dengan Naoko. Di sana, ia tinggal kurang lebih tujuh tahun. Setelah sembuh, ia memutuskan untuk menjadi dokter dan menyembuhkan pasien-pasien lain dengan mengajarkan mereka bermain musik.

Tokoh-tokoh yang dibangun Murakami dalam novel ini sangat hidup. Saya terkagum-kagum bagaimana ia membentuk tokoh Midori dengan segala keanehan tingkah lakunya, Nagasawa-san dengan kepercayaan dirinya yang tinggi, Kopasgat dengan kepolosan dan kekonyolannya, dan tokoh-tokoh lainnya yang membuat novel ini seru sekali dan membuat saya ingin segera menamatkannya.

Setelah ini, saya akan melanjutkan membaca karya Murakami yang lain, dan barangkali tidak berapa lama lagi saya akan turut mengidolakannya. Selamat membaca!