Mitologi Jepang/Yokai/Kōjin

Kōjin (こうじん) atau nama alternatif lainnya Samebito adalah salah satu yokai dalam cerita rakyat Jepang. Yokai ini dideskripsikan sebagai humanoid (makhluk yang menyerupai wujud manusia) yang hidup di air. Bentuk fisiknya digambarkan memiliki tubuh hitam bersisik seperti hiu, wajah dan lengan yang menyeramkan.

Perilaku

sunting

Kōjin hidup atau tinggal di Laut Tiongkok Selatan, tempat mereka menjalani kehidupan yang mirip dengan ikan duyung lainnya.Menurut legenda, mereka terkenal karena keahliannya dalam menenun, dan menghabiskan sebagian besar hidup mereka untuk mengerjakan alat tenunnya. Sutra laut yang mereka tenun memiliki kualitas terbaik dan tidak basah bahkan di dalam air. Mereka sangat emosional, dan sering menangis. Ketika kōjin menangis, mutiara (atau permata berharga) akan jatuh dari mata mereka, alih-alih air mata.

Kōjin lebih dikenal di wilayah bagian barat dengan pembacaan alternatif kanjinya—samebito. Pengucapan ini dipengaruhi oleh penulis buku cerita rakyat Jepang, Lafcadio Hearn, yang memasukkan istilah samabito ke dalam karyanya berjudul Shadowings.

Legenda

sunting

Dahulu kala, seorang pria bernama Tawaraya Tōtarō tinggal di tepi Danau Biwa. Suatu hari, ia menemukan makhluk aneh yang sedang berjongkok di dekat kolong jembatan. makhluk tersebut menyerupai manusia, tetapi tubuhnya hitam pekat, memiliki wajah iblis dan janggut naga, dan matanya seperti zamrud hijau. Dengan sedikit rasa takut, Tōtarō tetap mendekati makhluk tersebut. Makhluk itu memperkenalkan dirinya sebagai samebito. ia pernah menjabat sebagai perwira di bawah Delapan Raja Naga Agung di istana naga Ryūgū-jō, tetapi diasingkan dari istana dan diasingkan dari laut karena kesalahan kecil yang ia buat. Sejak saat itu ia tidak memiliki tempat tinggal dan menjadi pengembara, hingga bertemu dengan Tōtarō ingin memohon bantuan kepadanya.

Tōtarō mengasihani samebito. Ia membawa samebito kembali ke rumahnya yang tersedia taman kecil dengan kolam. Ia mengatakan bahwa samebito bisa tinggal di sana selama yang ia mau dan makan sebanyak yang ia mau. Selama enam bulan mereka hidup bersama, dan setiap hari Tōtarō membawakan makanan segar yang sama, yang cocok untuk makhluk laut.

Memasuki bulan ketujuh, Tōtarō pergi ke festival di Mii-dera. Di sana, ia bertemu dengan seorang wanita dengan kecantikan yang luar biasa, kulitnya putih seperti salju, dan suaranya seperti burung bulbul. Namanya adalah Tamana, dan Tōtarō jatuh cinta padanya pada pandangan pertama. Tōtarō mengikuti Tamana pulang, dan menemukan bahwa ia tinggal di kota yang sama di mana ia bertemu dengan samebito. Ia juga mengetahui bahwa Tamana belum menikah, dan bahwa keluarganya ingin ia menikah dengan pria berpangkat. Mereka menuntut sebagai hadiah pertunangan peti mati sepuluh ribu permata dari siapa pun yang ingin menikahi Tamana.

Tōtarō kemudian jatuh dalam keputusasaan mengetahui kenyataan tersebut. Tetapi ia tidak bisa berpaling dari khayalannya akan kecantikan Tamama, sehingga membuat ia tidak bisa makan atau tidur, sampai akhirnya jatuh sakit. Seolah-olah semesta menakdirkan Tōtarō untuk mati akibat patah hati. Di hari-hari terakhirnya, Tōtarō meminta maaf kepada samebito, takut bahwa setelah kematiannya, samebito akan kehilangan tempat tinggal dan susah bertahan hidup. Samebito sangat tersentuh oleh belas kasih Tōtarō sehingga ia pun mulai menangis. Air mata darah yang besar tumpah dari mata hijaunya dan turun ke pipinya yang hitam, tetapi pada saat mereka menyentuh lantai, air mata tersebut telah mengeras menjadi batu rubi yang indah.

Begitu Tōtarō melihat kejadian tersebut seketika ia seperti mendapat kekuatan baru, dan mulai mengumpulkan permata. Samebito yang kaget melihat kesembuhan Tōtarō, berhenti menangis, dan bersamaan dengan itu permata yang jatuh juga ikut berhenti. Tōtarō lantas memohon untuk terus menangis dan mengeluarkan permata hingga ia bisa mengumpulkan sepuluh ribu permata. Tetapi Samebito hanya dapat menangis dikala ia benar-benar sedih. Mengingat Tōtarō yang sudah sembuh, hatinya terasa lega sehingga tidak bisa menangis lagi. Samebito kemudian menyarankan untuk mengunjungi tempat pertama kali mereka bertemu yang memungkinkan ia dapat mengingat kembali ingatan-ingatan yang membuat ia menangis.

Keesokan harinya, Tōtarō dan samebito mengunjungi jembatan tua. Mereka tampak menikmati santapan ikan dan anggur, dan menyaksikan matahari terbenam. Melihat pemandangan di atas laut yang berkilauan tersebut, samebito memikirkan kehidupan sebelumnya di laut dan hari-hari bahagianya di istana naga. Ia diliputi kerinduan akan kampung halaman dan mulai menangis sejadi-jadinya permata yang berkilauan membanjiri jembatan. Tōtarō mulai mengumpulkannya, dan Ketika dirasa cukup sepuluh ribu permata, ia berteriak kegirangan. Pada saat yang sama, sebuah lagu yang menyenangkan terdengar jauh di laut. Seperti awan, istana megah yang terbuat dari karang warna matahari terbenam muncul dari air. Samebito melompat kegirangan. Ia menjelaskan kepada Tōtarō bahwa Delapan Raja Naga Besar pasti telah memberinya amnesti dan memanggilnya kembali ke rumah. Ia mengucapkan selamat tinggal pada Tōtarō, berterima kasih atas kebaikan dan persahabatan mereka, dan kemudian masuk ke dalam laut.

Tōtarō kemudian membawa peti berisi sepuluh ribu permata kepada keluarga Tamana dan memberikannya sebagai hadiah pertunangan. Tak lama setelah itu, Tōtarō dan Tamana akhirnya menikah.

Pranala luar

sunting

Kōjin