Pengantar aksara Jawa

Aksara Jawa dipakai dalam berbagai teks berbahasa Jawa dan beberapa bahasa lain di sekitar wilayah penuturannya. Aksara ini lebih dikenal sebagai Hanacaraka atau Carakan. Buku singkat ini mencoba memaparkan huruf-huruf serta tanda baca yang dipakai dalam aksara ini serta aturan penggunaannya.

Wikipedia memiliki artikel ensiklopedia mengenai:

Aksara dasar (Aksara Ngalegena)

sunting
  ꦲꦤꦕꦫꦏ     ꦢꦠꦱꦮꦭ
ha na ca ra ka    da ta sa wa la
ꦥꦝꦗꦪꦚ     ꦩꦒꦧꦛꦔ
pa dha ja ya nya    ma ga ba tha nga

Urutan dasar aksara Jawa banyak dikenal orang karena berisi suatu cerita legenda:

Hana Caraka (Terdapat Pengawal)
Data Sawala (Berbeda Pendapat)
Padha Jayanya (Sama kuat/hebatnya)
Maga Bathanga (Keduanya mati).

Bagi mereka yang kurang mengenal bahasa Jawa, diperlukan sedikit catatan.

  • /d/, /ɖ/, /j/, /b/, dan /g/ pada bahasa Jawa selalu dibunyikan meletup (ada hembusan h); ini memberikan kesan "berat" pada aksen Jawa.
  • ha, mewakili fonem /a/ dan /ha/. Bila aksara ini terletak di depan suatu kata, akan dibaca /a/. Aturan ini tidak berlaku untuk nama atau kata bahasa asing (selain bahasa Jawa).
  • da dalam penulisan latin dipakai untuk /d/ dental dan meletup (lidah di belakang pangkal gigi seri atas dan diletupkan). /d/ ini berbeda dari bahasa Indonesia/Melayu.
  • dha dalam penulisan Jawa latin dipakai untuk /ɖ/ (d-retrofleks). Posisi lidah sama dengan /d/ bahasa Melayu/Indonesia tetapi bunyinya diletupkan.
  • tha dalam penulisan Jawa latin dipakai untuk /ʈ/ (t-retrofleks). Posisi lidah sama seperti /d/ tetapi tidak diberatkan. Bunyi ini mirip dengan bila orang beraksen Bali menyuarakan 't'.


Makna Huruf

sunting

Ha Hana hurip wening suci - adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci

Na Nur candra, gaib candra, warsitaning candara - harapan manusia hanya selalu ke sinar Illahi

Ca Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi - arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal

Ra Rasaingsun handulusih - rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani

Ka Karsaningsun memayuhayuning bawana - hasrat diarahkan untuk kesajeteraan alam

Da Dumadining dzat kang tanpa winangenan - menerima hidup apa adanya

Ta Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa - mendasar, totalitas, satu visi, ketelitian dalam memandang hidup

Sa Suram ingsun handulu sifatullah - membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan

Wa Wujud hana tan kena kinira - ilmu manusia hanya terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas

La Lir handaya paseban jati - mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi

Pa Papan kang tanpa kiblat - Hakekat Allah yang ada tanpa arah

Dha Dhuwur wekasane endek wiwitane - Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar

Ja Jumbuhing kawula lan Gusti - Selalu berusaha menyatu memahami kehendak-Nya

Ya Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi - yakin atas titah/kodrat Illahi

Nya Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki - memahami kodrat kehidupan

Ma Madep mantep manembah mring Ilahi - yakin/mantap dalam menyembah Ilahi

Ga Guru sejati sing muruki - belajar pada guru nurani

Ba Bayu sejati kang andalani - menyelaraskan diri pada gerak alam

Tha Tukul saka niat - sesuatu harus dimulai dan tumbuh dari niatan

Nga Ngracut busananing manungso - melepaskan egoisme pribadi manusia.

Pasangan

sunting

Jika Carakan / aksara Jawa lebih bersifat silabis (kesukukataan), bagaimana Carakan bisa menuliskan huruf mati? Hal ini bisa dijawab dengan adanya pasangan. Pasangan memiliki fungsi untuk menghubungkan suku kata yang tertutup (diakhiri konsonan) dengan suku kata berikutnya.

Sebagai contoh kata "aksara" yang bila dipisahkan menurut silabiknya adalah "ak", "sa", dan "ra". Suku kata yang pertama suku kata "ak". Untuk menuliskan "ak" ini pertama-tama adalah dengan menuliskan aksara "ha (ꦲ)" terlebih dahulu. Kemudian menuliskan aksara "ka (ꦏ)" karena aksara "ka". Untuk mematikan vokal "a" pada "ka", maka kita harus menuliskan bentuk pasangan "sa".

Bentuk pasangan disebutkan memiliki fungsi untuk menghubungkan suku kata yang tertutup dengan suku kata berikutnya. Artinya bahwa huruf yang diikuti pasangan akan dimatikan huruf vokalnya sehingga menjadi konsonan. Pada kasus di atas aksara "ka" diikuti pasangan "sa" yang berarti "ka" akan dibaca sebagai "k".

Semua aksara pokok yang ada di Carakan memiliki pasangannya masing-masing. Bentuk pasangan ini ada yang dituliskan di bawah dan ada juga yang di atas sejajar dengan aksara.

Bentuk-bentuk pasangan itu adalah:

ha na ca ra ka
         
◌꧀ꦲ  ◌꧀ꦤ  ◌꧀ꦕ  ◌꧀ꦫ  ◌꧀ꦏ
da ta sa wa la
         
◌꧀ꦢ  ◌꧀ꦠ  ◌꧀ꦱ  ◌꧀ꦮ  ◌꧀ꦭ
pa dha ja ya nya
         
◌꧀ꦥ  ◌꧀ꦝ  ◌꧀ꦗ  ◌꧀ꦪ  ◌꧀ꦚ
ma ga ba tha nga
         
◌꧀ꦩ  ◌꧀ꦒ  ◌꧀ꦧ  ◌꧀ꦛ  ◌꧀ꦔ

Aksara Murda

sunting

menunjukkan

  • Nama Diri
  • Nama Geografi
  • Nama Lembaga Pemerintah
  • Dan Nama Lembaga Berbadan

(Kata-kata dalam Bahasa Indonesia yang menunjukkan hal-hal diatas biasanya diawali dengan huruf besar atau kapital. Untuk itulah pada perangkat lunak ini kita gunakan huruf kapital untuk menuliskan aksara murda atau pasangannya)

Aksara Murda dan Pasangannya

sunting

Sebagai catatan mengenai aksara murda ini bahwa tidak semua aksara yang ada di Hanacaraka memiliki bentuk Murdanya. Aksara murda dalam Hanacaraka hanya berjumlah 8 buah. Bentuk Murda dalam hanacaraka juga memiliki bentuk pasangan yang memiliki fungsi sama dengan pasangan dalam aksara Jawa.

Bentuk Aksara Murda serta Pasangan Murda

Aturan Penggunaan

sunting

Untuk aturan penulisan Aksara murda ini hampir sama dengan penulisan aksara-aksara pokok di Hanacaraka, ditambah dengan beberapa aturan tambahan yakni :

  • Murda tidak dapat dipakai sebagai sigeg (konsonan penutup suku kata).
  • Bila ditemui aksara murda menjadi sigeg, maka dituliskan bentuk aksara pokoknya.
  • Bila dalam satu kata atau satu kalimat ditemui lebih dari satu aksara murda, maka ada dua aturan yang dapat dipergunakan yakni dengan menuliskan aksara murda terdepannya saja, atau dengan menuliskan keseluruhan dari bentuk aksara mudra yang ditemui.

Contoh Pemakaian Aksara Murda

sunting

Untuk melengkapi aturan penggunaan aksara murda ini, contoh berikut bisa digunakan sebagai acuan untuk menuliskan aksara murda .

Aksara Swara

sunting

Kegunaan Aksara Swara

sunting

Aksara Swara sebagaimana aksara Murda memiliki fungsi dan kegunaan tertentu. Aksara Swara dalam penulisan Hanacaraka digunakan untuk menuliskan aksara vokal yang menjadi suku kata, terutama yang berasal dari bahasa asing, untuk mempertegas pelafalannya.

Bentuk Aksara Swara

sunting

Aksara Swara tidak seperti aksara-aksara yang lain. Aksara ini tidak dilengkapi dengan bentuk pasangan. adapun bentuk Aksara Swara ini adalah sebagai berikut :

Berkas:06AksaraSwara.JPG

Aturan Penulisan Aksara Swara

sunting

Dalam menuliskan Aksara Swara, diikuti aturan penulisan aksara swara sebagai berikut :

  • Aksara swara tidak dapat dijadikan sebagai aksara pasangan.
  • Bila aksara swara menemui sigegan (konsonan pada akhir suku kata sebelumnya), maka sigegan itu harus dimatikan dengan pangkon.
  • Aksara swara dapat diberikan sandangan wignyan, layar, cecak, suku, wulu dan lainnya.

Contoh Penggunaan Aksara Swara

sunting

Untuk melengkapi aturan penggunaan aksara murda ini, contoh berikut bisa digunakan sebagai acuan untuk menuliskan Aksara Murda.

Contoh:

 

Aksara Rekan

sunting

Kegunaan Aksara Rekan

sunting

Perlu diakui bahwa bentuk-bentuk huruf yang ada di dalam Hanacaraka tidak dapat memenuhi kebutuhan dalam penulisan kata-kata dari manca negara. Sebagai salah satu bentuk asimilasi budaya ini, maka dibentuklah aksara rekan yang pada perkembangannya lebih banyak dipengaruhi oleh bahasa arab.

Aksara rekan digunakan untuk menuliskan aksara konsonan pada kata-kata asing yang masih dipertahankan seperti aslinya.

Bentuk Aksara Rekan dan Pasangan Rekan

sunting

Aksara Rekan dalam Hanacaraka ada 5 buah, yang kesemuanya memiliki bentuk pasangan. Adapun bentuk aksara dan pasangan rekan itu digambarkan di bawah ini:

Berkas:08AksaraRekan.JPG

Aturan Penulisan Aksara Rekan

sunting

Untuk menggunaan Aksara Rekan beserta pasangannya diikuti aturan sebagai berikut

  • Tidak semua aksara rekan mempunyai pasangan,yang mempunyai pasangan hanyalah fa,yang lain tidak punya.
  • Aksara rekan dapat diberikan pasangan
  • Aksara rekan juga dapat diberikan sandangan sebagaimana aksara-aksara yang ada dalam Hanacaraka.

Contoh Penggunaan Aksara Rekan

sunting

Berikut ini adalah daftar aksara rekan dan aksara pasangannya yang dilengkapi dengan contoh penggunaan masing-masing aksara.

Berkas:09ContohAksaraRekan.JPG

Alasan dipakainya sandangan

sunting

Sandangan adalah tanda yang dipakai sebagai pengubah bunyi di dalam tulisan Jawa. Di dalam tulisan jawa, aksara yang tidak mendapat sandangan diucapkan sebagai gabungan anatara konsonan dan vokal a. Vokal a di dalam bahasa Jawa mempunya dua macam varian, yakni / / dan /a/.

  • Vokal a dilafalkan seperti o pada kata bom, pokok, tolong, tokoh doi dalam bahasa Indonesia, misalnya :
  • Vokal a dilafalkan /a/, seperti a pada kata pas, ada, siapa, semua di dalam bahasa Indonesia, misalnya :

Sandangan di dalam aksara jawa dapat dibagi menjadi tiga golongan yakni sebagai berikut :

  1. Sandangan Bunyi Vokal (Sandhangan Swara)
  2. Sandangan Konsonan Penutup Suku Kata (Sandhangan Panyigeging Wanda)
  3. Sandangan Gugus Konsonan

Sandangan bunyi vokal

sunting

Sandangan bunyi vokal ada lima buah. Adapun bentuk dari sandangan bunyi vokal ini adalah :

Pemakaian Sandangan Wulu

sunting

Sandangan Wulu dipakai untuk melambangkan vokal ( i ) di dalam suatu suku kata. Sedangkan wulu ditulis di bagian atas akhir suatu aksara. Apabila selain wulu juga terdapat sandangan yang lain, maka sandangan wulu digeser sedikit ke kiri.

Pemakaian Sandangan Suku

sunting

Penulisan sandangan suku dapat dituliskan dalam dua keadaan yaitu :

  • Penulisan sandangan suku pada aksara. Sandangan suku dipakai untuk melambangkan bunyi vokal u yang bergabung dengan bunyi konsonan di dalam suatu suku kata, atau vokal U yang tidak dituliskan dengan aksara swara.Sandangan suku dituliskan serangkai di bagian bawah akhir aksara yang mendapatkan sandangan itu.
  • Penulisan sandangan suku pada pasangan. Sandangan suku pada pasangan dituliskan mengikuti letak penulisan pasangan itu. Letak sandangan sukunya sendiri tetap berada pada bagian bawah akhir dari pasangan. Apabila sandangan suku mengikuti pasangan aksara (ka), (ta), atau (la), maka pasangan ini harus dirubah dulu ke dalam bentuk aksara pokoknya dahulu, baru kemudian diberikan sandangan suku.

Pemakaian Sandangan Pepet

sunting

Kegunaannya untuk dipakai untuk melambangkan vokal e di dalam suatu suku kata.

Aturan penulisan sandangan pepet tertera sebagai berikut:

  • Sandangan pepet ditulis di bagian atas akhir aksara.
  • Apabila selain pepet juga terdapat sandangan layar, maka sandangan pepet digeser sedikit ke kiri dan sandangan layar ditulis di sebelah kanan pepet.
  • Apabila selain pepet juga terdapat sandangan cecak, maka sandangan pepet digeser sedikit ke kiri dan sandangan cecak ditulis di dalam pepet.
  • Penempatan sandangan pepet pada aksara yang mendapatkan pasangan dituliskan sesuai dengan aturan di atas, kecuali untuk aksara yang mendapatkan pasangan yang dituliskan di atas seperti sandangan (ha), (sa), dan (pa). Untuk aksara yang mendapatkan pasangan ini, maka penulisan pepet berada di atas pasangannya.

Pengecualian: Sandangan pepet tidak dipakai untuk menuliskan suku kata re dan le yang bukan sebagai pasangan. Sebab suku kata re dan le yang bukan pasangan dilambangkan dengan tanda pacerek (re) dan Nga lelet (le).

Pemakaian Sandangan Taling

sunting

Sandangan taling dipakai untuk melambangkan bunyi vokal e atau e yang tidak ditulis dengan aksara swara E yang bergabung dengan bunyi konsonan di dalam suatu suku kata. Sandangan taling ditulis di depan aksara yang dibubuhi sandangan itu.

Catatan: Untuk membedakan penggunaan sandangan pepet dengan taling, maka dalam perangkat lunak ini gunakan:

  • e (kecil) untuk penulisan sandangan pepet
  • E (besar) untuk penulisan sandangan taling

Pemaikaian Sandangan Taling Tarung

sunting

Sandangan taling tarung dipakai untuk melambangkan bunyi vokal O yang tidak dituliskan dengan aksara swara di dalam suatu suku kata. Untuk Sandangan taling tarung dituliskan mengapit aksara yang dibubuhi sandangan itu.

Sandangan taling tarung untuk aksara pasangan di tuliskan mengapit aksara yang dimatikan (yang menjadi sigeg). Untuk aksara pasangan yang ada di atas seperti pasangan (ha), (sa), dan (pa), maka taling ditaruh didepan aksara sigeg, sedangkan tarung ditaruh di belakang aksara pasangan.

Sandangan penutup suku kata

sunting

Sandangan penutup suku kata ada 4 buah.

Pemakaian Sandangan Wignyan

sunting

Sandangan wignyan adalah pengganti sigegan ha (konsonan ha di akhir suku). Penulisan wignyan diletakkan di belakang aksara yang dibubuhi sandangan itu.

Pemakaian Sandangan Layar

sunting

Hampir sama dengan sandangan wignyan, sandangan layar digunakan untuk pengganti sigegan ra (konsonan ra di akhir suku). Penulisan layar ditulis dibagian atas akhir aksara yang mengikuti.

Pemakaian Sandangan Cecak

sunting

Sandangan cecak digunakan untuk menuliskan sigegan ng (sepasang konsonan nga di akhir suku kata). ada tiga buah kondisi dalam menuliskan sandangan cecak, yakni :

  • Sandangan cecak ditulis di atas aksara. Sandangan cecak dituliskan menurut aturan ini bila menemui keadaan aksara yang diikuti tidak memiliki sandangan di atas aksara selain dirinya.
  • Sandangan cecak ditulis di atas aksara belakang sandangan wulu. Apa bila sandangan cecak mengikuti sandangan wulu, maka sandangan cecak dituliskan di belakang sandangan wulu.
  • Sandangan cecak ditulis di atas aksara di dalam pepet. Sandangan cecak ( ) apabila mengikuti sandangan pepet (), maka penulisan cecak di taruh di dalam sandangan pepet. Dalam keadaan ini kedua sandangan penulisannya adalah sebagai berikut : ().

Pemakaian Sandangan Pangkon

sunting

Tidak seperti ketiga sandangan sebelumnya, sandangan pangkong memiliki beberapa fungsi. Fungsi-fungsi itu adalah :

  • Sandangan pangkong dipakai sebagai penanda bahwa aksara yang dibubuhi sandangan pangkon itu merupakan aksara mati, aksara penutup suku kata, atau aksara penyigeging wanda. Sandangan pangkong ditulis di belakang aksara yang di bubuhi sandangan itu.
  • Sandangan pangkon dapat juga dipakai sebagai pembatas bagian kalimat atau rincian yang belum selesai, senilai dengan pada lingsa, atau tanda koma (,) di dalam ejaan latin, di samping untuk mematikan aksara. Pada kasus ini pangkong berfungsi ganda.
    • Contoh:
bapak macul, aku angon sapi, adhiku dolanan ijen.
  • Sandangan pangkon dapat ditulis untuk menghindarkan penulisan aksara yang bersusun lebih dari dua tingkat.
    • Contoh :
benik klambi

Sandangan gugus konsonan/wyanjana

sunting

Gugus konsonan adalah kumpulan dari dua konsonan dalam Hanacaraka yang akan membentuk suatu suku kata. sebagai contoh kraton yang dapat dipisah menjadi kra-ton. suku kata kra memiliki gugus konsonan kr. Di dalam Hanacaraka ada lima buah gugus konsonan yang digunakan dalam bentuk sandangan.

Sandangan Cakra

sunting

Sandangan cakra merupakan penanda gugus konsonan yang unsur terakhirnya berwujud konsonan r. Tanda cakra ditulis serangkai di bawah bagian akhir aksara yang diberi tanda cakra itu.

Aksara yang sudah diberikan cakra dapat diberikan sandangan lagi selain sandangan cakra, cecak, cakra la, cakra wa. Dan apa bila sandangan itu adalah pepet, maka sandangan cakra dan pepet ditulis menjadi cakra keret.

Sandangan Cakra Keret

sunting

Sandangan Cakra Keret dipakai untuk melambangkan gugus konsonan yang berunsur akhir konsonan r dengan diikuti vokal e pepet. Dengan kata lain cakra keret digunakan sebagai ganti tanda cakra yang mendapatkan penambahan sandangan pepet. Tanda cakra keret ditulis serangkai di bawah bagian akhir aksara yang diberikan tanda keret itu.

Sandangan Pengkal

sunting

Sandangan Pengkal dipakai untuk melambangkan konsonan yang bergabung dengan konsonan lain di dalam suatu suku kata. Tanda pengkal ditulis serangkai di belakang aksara yang diberi tanda pengkal.

Singkatan atau akronim

sunting

Singkatan adalah kependekan bentuk (kata atau kelompok kata) yang berupa huruf atau gabungan huruf, baik yang dilafalkan huruf demi huruf ataupun yang tidak. Sedangkan Akronim adalah kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang wajar.

Singkatan dan akronim itu lazimnya dibuat berdasarkan atas tulisan beraksara latin. Untuk singkatan yang tidak dapat diucapkan sebagai mana layaknya sebuah kata, maka penulisannya adalah seperti apa yang terucap dari singkatan itu. Sedangkan akronim yang bisa diucapkan sebagai kata, maka dituliskan sebagai mana layaknya sebuah kata.

Untuk menuliskan singkatan pada perangkat lunak ini, gunakan huruf besar semua. contoh : PPKI, PPPK, MPR, DPR dan lain sebagainya

Angka dan lambang bilangan

sunting
  • Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Angka jawa adalah sebagai berikut
  • Angka dipakai untuk menyatakan angka dipakai untuk menyatakan (i) Ukuran panjang, berat, luas, dan isi, (ii) satuan waktu, (iii) nilai uang, dan (iv) kuantitas. Penulisan angka untuk kasus ini dilakukan dengan mengapitkan tanda pada pangkat di awal dan di akhir penulisan angka.

Contoh :

Dawane 35 cm.
Bobotku 65 kilogram.

Untuk menuliskan satuan dari suatu bilangan, maka satuan itu bisa dituliskan dalam bentuk kata lengkapnya. sebagai contoh kilogram, meter, kilometer, dan sebagainya.

Pada Perangkat lunak ini juga mendukung perubahan bentuk huruf dari bentuk satuan (tidak normal) ke bentuk pengucapannya. Adapun dukungan satuan/besaran yang ditangani yakni :

Tabel tak normal dan kata normal.

Tanda baca

sunting

Dalam Hanacaraka terdapat pula tanda-tanda baca yang digunakan dalam penulisan kalimat, paragraf dan lainnya. Bentuk tanda baca yang ditangani dalam perangkat lunak ini ada 4 buah yakni :

  • Pada Adeg-adeg

Pada adeg-adeg dipakai di depan kalimat pada tiap-tiap awal alinea.

  • Pada Adeg

Pada adeg dipakai untuk menandakan bagian tertentu dari suatu teks yang perlu diperhatikan, hampir setara dengan tanda kurung.

  • Pada Lingsa

Pada lingsa dipakai pada akhir bagian kalimat sebagai tanda intonasi setengah selesai. Tanda ini hampir setara dengan penggunaan koma(,).

Contoh: wong gedhe, dhuwur, lan pakulitane ireng.

  • Pada Lungsi

Pada lungsi dipakai pada akhir suatu kalimat. Tanda ini hampir setara dengan titik.

Contoh: wis meh jam telu esuk, sumini durung bisa turu. pikirane goreh. goreh amarga mikirna bojone kang wis telung dina iki durung mulih.

  • Pada Pangkat

Pada pangkat mempunyai beberapa fungsi tertentu, yang pada contoh berikut diperagakan sebagai titik dua (:)

    • Pada pangkat dipakai pada akhir pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian. Contoh; aku arep tuku bala pecah : mangkok, piring, lan gelas.
    • Karena kebanyakan dari angka Jawa memiliki bentuk yang sama dengan aksara huruf, Pada pangkat dipakai untuk menandakan suatu simbol sebagai angka dengan mengapitnya. Contoh; Ibu mundhut emas :75: gram.
    • Pada pangkat dipakai untuk mengapit petikan langsung. Contoh; Ibu ngendika, :sapa kancamu:

Sumber

sunting