Permainan Tradisional Ogan Komering Ilir

Kabupaten Ogan Komering Ilir merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan. Wilayah ini berbatasan dengan Provinsi Lampung,. Sebagai salah satu kabupaten terluas di Sumatera Selatan, Kabupaten OKI menjadi daerah sasaran transmigrasi. Hal ini bertujuan untuk mempercepat kemajuan pembangunan. Karena itu budaya daerah termasuk permainan tradisional sangat heterogen dipengaruhi akulturasi budaya. Asal daerah transmigran dari Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Bali. Hal ini menyebabkan pembauran masyarakat termasuk karakteristik permainan tradisional.

Jenis-jenis permainan:

  1. Tresegan
  2. Benthik
  3. Jinobe
  4. Jipung
  5. Permainan ABC
  6. Sentot
  7. Siguk
  8. Patung Polisi
  9. Tenggoh Tenggohan
  10. Ganteng
  11. Seprentonan
  12. Siamang
  13. Singkong
  14. Bedengan
  15. Bekel
  16. Cing Keluing
  17. Engklek
  18. Mul-mulan

1.Tresegan

Permainan tradisional ini belum saya temukan referensi sumbernya. Namun permainan tresegan sering dimainkan anak-anak pada tahun 90-an. Permainan tresegan mengandalkan kemampuan melempar untuk mendapatkan sesuatu benda dari garis yang sudah ditentukan. Biasanya garis batasnya berbentuk lingkaran. Di wilayah kami, sebagian transmigran berasal dari Kota Kretek yaitu Kabupaten Kudus. Karena itu permainan tresegan kerap menggunakan bungkus bekas rokok sebagai benda yang harus dikeluarkan dari batas lingkaran.

Pemenang permainan ditentukan berdasarkan jumlah nilai keseluruhan bungkus rokok yang di dapat. Beberapa rokok mempunyai harga berbeda, sesuai nilai nominal yang ada dibungkus rokok, misal bungkus rokok Jarum harga 10 ribu, bungkus rokok Sukun harga 5 ribu, bungkus rokok Benthoel 7 ribu, dan bungkus rokok Gudang Garam 15 ribu. Jika kita berhasil mengeluarkan 3 bungkus rokok jarum dan 2 bungkus rokok benthoel. Maka nilai poin kita adalah 3 x 10 ribu + 2 x 7 ribu= 30.000 + 14.000 = 44.000

Alat dan Bahan:

Kapur (bisa diganting tali rapia) atau cukup kayu untuk menggambar batas permainan.

Bungkus rokok (bisa diganti botol plastik minuman ringan seperti sprite, teh gelas)

Sandal sebagai alat pelempar

Aturan main: Tiap pemain harus mencari bahan dahulu agar permainan bisa dilaksanakan

Pemain pertama ditentukan dengan cara tos tosan

Pemain yang tidak bisa mengeluarkan benda seperti botol dari wilayah, dianggap mati, permainan diteruskan ke pemain selanjutnya.

Pemain yang memperoleh poin tertinggi biasanya dapat hadiah, seperti digendong atau hadiah lain yang bersifat mendidik.

2. Benthik

Permainan ini berasal dari Yogyakarta, kerap dimainkan oleh anak-anak masyarakat transmigran dari Jawa Tengah. Permainan benthik mengandalkan kemampuan memukul tongkat dan menangkap tongkat.

Alat dan bahan:

Dua stik kayu ( sebaiknya dari kayu yang tidak tajam dan ringan seperti kayu ketela)

Lubang pelontar stik

Cara Bermain:

Tiap regu tos-tosan dengan cara pingsut untuk menentukan regu pemukul dan penjaga. Jarak antara lubang pukul dan regu penjaga sekitar 3 meter atau lebih menyesuaikan luas tempat bermain.

Pemukul meletakkan tongkat pendek di lubang, salah satu ujung tongkat dibiarkan memanjang ke luar.

Pemain memukul ujung yang keluar. Ketika tongkat terangkat ke atas, pemain harus memukul lagi ke arah lawan

Apabila tongkat kecil tidak tertangkap regu jaga, permainan diteruskan sampai semua pemain bermain satu putaran. Tiap putaran mendapatkan nilai 1.

Jika tongkat tertangkap regu jaga, maka permainan selesai, ganti regu jaga yang bermain.

3. Jinobe

Permainan tradisional ini menjadi salah satu permainan yang paling digemari anak-anak di era 90-an, bahkan sampai sekarang. Penyebutan nama permainan berbeda-beda tergantung asal daerahnya. Permainan ini mengandalkan kecepatan dalam menyusun batu dan kegesitan bergerak.

Alat dan bahan:

Potongan batu/ keramik (biasanya jumlahnya 7).

Bila Tenis

Cara bermain: Pemain melakukan pingsut untuk menentukan siapa yang jaga dan yang melempar.

Regu pelempar mengarahkan bola ke tumpukan batu sampai roboh (biasanya jarak antara tumpukam batu dan pelempar minimal 2 meter.

Ketika batu roboh, pemain harus secepatnya menata kembali batu yang roboh sambil menghindari terkena lemparan bola. Anggota pemain yang terkena lemparan bola di badan dianggap mati. Poin diperoleh ketika regu pelempar berhasil menata kembali batu yang roboh.

Apabila semua pemain terkena lemparan bola, regu penjaga giliran bermain.

4. Jipung

Permainan ini hampir sama seperti petak umpet, hanya saja, pemain yang bertugas mencari kalah ketika ada temannya yang berhasil ketempat pemain berjaga sambil mengucapkan kata jipung.

Alat dan bahan: Tempat berjaga, tempat yang luas untuk sembunyi

Cara bermain: Pingsut untuk menentukan siapa pemain yang bertugas berjaga

Pemain jaga harus menutup mata dan menghitung 1-10, pemain lain sembunyi

Setelah hitungan ke 10, pemain jaga harus mencari pemain lain, pemain yang ketahuan pertama kali bertugas berjaga jika semua pemain tertangkap.

Pemain penjaga, berjaga lagi ketika ada pemain yang bersembunyi berhasil menuju ke tempat jaga awal.

5. Permainan ABC

Mungkin nama permainan ini berbeda untuk tiap daerah. Permainan ini sudah ada sejak tahun 90 an. Permainan ini mengandalkan kecepatan berpikir untuk menebak jawaban pertanyaan dengan kata yang awal hurufnya sudah disepakati.

Alat dan bahan:

Kertas nilai, alat tulis

Cara bermain : Permainan diawali pingsut untuk menentukan siapa yang bertugas mengucap ABC dan memberikan soal.

Semua pemain meletakkan tangan melingkar Salah satu pemain mengucap ABCDEFG dst sampai semua jari selesai ditunjuk.

Misal jari terakhir huruf P, pemberi soal memberi pertanyaan. Siapa yang bisa menyebutkan nama pahlawan yang berawalan huruf S? Jawaban: Soekarno, Soekarni, Sudirman.

Pemain yang tidak bisa menjawab tidak dapat nilai.

6. Sentot (Pukul batu)

Permaian ini menggunakan batu berukuran sedang untuk bermain. Permainan tradisional ini mengandalkan kelincahan kaki untuk merobohkan batu yang berdiri.

Alat dan bahan:

Batu berukuran sedang yang bisa diletakkan di punggung kaki.

Cara bermain:

Tiap pemain pingsut dulu untuk menentukan siapa yang berjaga.

Pemain yang berjaga meletakkan baru di garis jaga dengan posisi berdiri.

Pemain lain bergantian memukul batu pemain berjaga sampai roboh.

Ketika melontar, batu diletakkan di punggung kaki.

Tidak diperbolehkan menggunakan tangan

7. Siguk

Permainan tradisional siguk hampir sama dengan permainan tradisional sentot. Permainan ini sudah ada jauh sebelum tahun 90 an.

Alat dan bahan:

Batu ukuran kecil yang bisa dipukul pakai ibu jari kaki.

Cara bermain:

Permaian diawali dengan tos tosan untuk menentukan siapa yang bertugas jaga atau pelontar.

Pemain jaga harus meletakkan satu batu khusus untuk dirobohkan dengan posisi berdiri di garis jaga.

Pemain pelontar harus merobohkan batu pemain jaga dengan batu yang dimiliki.

Cara melontar dengan memukul batu dengan ibu jari kaki diarahkan ke batu penjaga

Apabila pemain pelontar tidak bisa mengenai batu jaga. Ia tetap berdiri di posisi terakhir batunya.

Pemain jaga ganti bermain dari garis lontar. Begitu seterusnya. Pemain menang jika berhasil merobohkan batu jaga.

8. Patung polisi

Sebutan permainan ini untuk beberapa daerah mungkin berbeda.

Alat dan bahan:

Pemain minimal 3 orang.

Cara bermain:

Permaian diawali tos tosan atau pinsut untuk menentukan siapa yang mengucap patung polisi.

Ketika pemain jaga sudah ditunjuk, ia mulai mengucap kata: Patung polisi yang gerak jadi. Saat ini semua pemain harus mematung. Pemain yang gerak gantian jaga. Kalimat bisa diubah patung polisi yang tidak gerak jadi, maka semua pemain harus bergerak.

9. Tenggoh Tenggohan

Permainan ini disetiap daerah penyebutannya bisa jadi berbeda. Permainan tradisional ini berasal dari Baturaja Sumatera Selatan.

Alat dan bahan:

Pemain berjumlah genap minimal 4 orang dibagi 2.

Batu atau kayu (bisa diganti yang lain)

Cara bermain:

Sebelum memulai permainan, semua peserta melakukan tos-tosan untuk menentukan regu menjadi dua.

Setiap regu memilih ketua regu

Ketua regu menentukan garis start dan garis10. finish

Kemudian ketua regu pingsut untuk menentukan regu yang membawa batu.

Setelah itu kedua regu duduk dibelakang garis start, regu yang bawa batu memposisikan tangan dibelakang badan, regu penembak memposisikan tangan di depan badan

Lalu regu pembawa batu menyembunyikan batu di salah satu pemain. Kalau sudah yakin, ketua regu berucap siap di tenggoh (tebak).

Ketua regu penebak mendatangi regu yang membawa batu dan menebak anggota regu yang membawa batu.

Kalau betul tebakkannya, batu beralih ke regu penebak. Kalau salah menebak, maka semua regu pembawa batu maju satu langkah.

Demikian seterusnya sampai ada regu yang sampai garis finish.

10. Gatheng

Di beberapa daerah permainan ini penyebutannya berbeda-beda. Permainan ini mengandaljan kecepatan tangan dalam menangkap batu yang dilempar keatas sambil mengambil batu lain sesuai urutan angka.

Alat dan bahan:

Tujuh batu kerikil

Alat tulis skor

Cara bermain:

Kita tos-tosan dulu untuk menentukan siapa yang pertama kali bermain.

Lalu batu dilempar ke depan, pemain ambil satu batu sebagai gaco, terus melempar gaco tadi ke atas sambil mengambil satu batu dibawah pakai satu tangan. Begitu terus sampai semua batu terambil semua.

Setelah itu cara sama tetapi ambil batu dibawah ganti dua, sampai habis, selanjutnya yang diambil dibawah tiga batu.

Kalau sudah mengambil 3, langkah selanjutnya engkol, yaitu semua batu digenggam lalu dilempar ke atas, terus ditangkap pangkat punggung tangan dilempar lagi ke atas baru ditangkap. Jumlah batu yang ditangkap merupakan jumlah poin yang di dapat. Ketika menangkap pakai punggung tangan ada satu batu jatuh, maka permainan dilanjutkan melempar gaco dan mengambil batu tadi.

Permainan berganti kalau ketua melempar gaconya jatuh atau setelah lemparan pakai punggung tangan atau engkol ada batu yang jatuh.

11. Siamang

Penyebutan nama permainan yang hampir mirip berbeda tiap daerah.

Alat dan bahan :

dibutuhkan tempat yang luas, ada tempat untuk berlindung misal pegang tembok

Cara bermain:

Sebelum bermain didahului tos tosan untuk menentukan siapa yang jadi harimau. Cara bermain harimau hitung satu dua tiga. Semua pemain ke tempat berlindung bisa juga memegang tembok, atau pohon, bergelantungan.

Ketika harimau mendekati siamang(pemain lain) usahakan ada pemain yang pindah tempat berlindung. Siamang yang pindah dan tertangkap akan mati dan bertugas sebagai harimau.

12. Seprentonan

Dibeberapa daerah penyebutan permainan ini berbeda-beda. Permainan ini menggunakan karet gelang yang dibuat panjang atau di gelung.

Alat dan bahan:

Karet gelung panjang kurang lebih 1,5 meter. Jumlah pemain minimal 3 orang.

Cara bermain:

Permainan diawali tos tosan untuk menentukan pemegang karet. Karet gelung di pegang dua orang kemudian digerakkan berputar. Tiap pemain harus bisa melewati tali karet yang diputar. Pemain yang nyangkut di tali akan mati dan menjadi pemutar tali.

13. Singkong

Di beberapa daerah penyebutannya berbeda. Di Sumatera permainsn ini disebut serampangan. Alat dan bahan:

kayu atau sandal.

Cara bermain:

Sebelum bermain dimulai tos tosan untuk menentukan siapa yang jaga.

Sandal atau kayu ditata berdiri. Tiap pemain diberi kesempatan merombohkannya dengan cara melempar pakai sandal sebelahnya atau kayu lainnya.

Ketika sandal roboh semua pemain harus sembunyi kecuali yang jaga. Yang jaga harus menutup mata ketika pemain lain sembunyi.

Kemudian salah satu pemain bilang sudah, artinya pemain jaga harus mencari pemain yang sembunyi.

Ketika mencari, pemain jaga harus menghalangi pemain lain mwnata kembali sandal.

Ketika sandal tertata kembali, permainan dimulai dari awal dengan penjaga yng sama.

Pemain jaga berganti ketika semua pemain yang sembunyi tertangkap dan tidak berhasil menata sandal atau kayu.

14. Bedengan

Permainan ini hampir sama seperti gobag sodor atau bentengan. Permainan ini mengutamakan strategi untuk merebut markas lawan tanpa tertawan

Alat dan bahan:

Markas yang dibatasi garis perbatasan wilayah tiap regu.

Regu beranggotakan minimal 4-8 orang dalam dua kelompok.

Cara bermain:

Tiap anggota regu harus menjaga markas. Ketika ada regu lawan mencoba masuk ke markas, harus dihalangi dengan cara mengejar dan menyentuhnya.

Kelompok lain yang tersentuh menjadi tawanan, ia bisa diselamatkan dengan cara disentug temannya.

Regu dinyatakan menang jika salah satu anggotanya berhasil masuk ke markas lawan tanpa tersentuh.


15. Bekel

Didaerah lain penyebutsnnya bisa berbeda. Permainan ini mirip dengan teknik akrobat permainan sulap yaitu jugling.

Alat dan bahan:

tiga bola bekel, kertas skor.

Cara bermain :

seperti jugling, yaitu melempar bola ke atas bergantian berulang -ulang dan menangkapnya dengan tangan lain.

Perbedaannya ketika berhasil menangkap bola bekel yang jatuh sambil berhitung ji ro lu pat mo nem tu wolu sangat siji, ji ro lu Patmi nem tu wolu songo loro, dst.

Pemain yang menang ditentukan berdasarkan skor tertinggi saat melemoar sebelum pemain mati.

Pemain mati jika bolanya jatuh ke lantai.Alatl

16. Cing Keluing

Permainan ini berasal dari daerah Lahat yang hampir sama seperti jipung maupun petak umpet.

Alat dan bahan:

tidak ada

Cara bermain:

Permainan diawali pingsut dan hom pim pa untuk menentukan siapa yang berjaga.

Kemudian pemain jaga menutup mata dan menghitung sampai 20, pemain lain bersembunyi.

Bedanya dengan petak umpet dan jipung adalah ketika ada satu pemain ketahuan, permainan berakhir. Pemain jaga berganti ke pemain yang telihat pertama kali.

17. Engklek

Permainan ini dibeberapa daerah sebutan berbeda. Permainan ini mengandalkan kekuatan kaki dan kelenturan tubuh.

Alat dan bahan:

kapur dan alat tulus lain untuk menggambar bidang permainan.

Bidang permainan terdiri dari delapan kotak dan satu gunungan.

Batu gacoan

Cara bermain:

Diawali tos tosan untuk menentukan siapa yang main duluan

Pemain melempar gaco ke bidang permainan. Lalu ia melompat lompat ke tiap bidang sambil mengangkat satu kaki, pemain bisa beristirahat dengan meletakkan kedua kaki saat berada di bidang yang memanjang berjejer dia ke samping.

Pemain harus membalik badan ketika berasa dibidang akhir sebelum gunungan.

Lalu pemain kembali ke tempat awal lompat sambil mengambil gaco. Selanjutnya ia melenpar kembali ke bidang selanjutnya, begitu sampai ke gunungan, pemain harus memutar tubuh untuk mengambilnta dengan membungkukkan badan. Pemain ganti ketika pemain yang sedang bermain kakinya yang diangkat terjatuh sebelum beristirahat atau terjatuh.

18. Mul-mulan

Mul-mulan merupakan permainan sejenis dam-daman. Bedanya nya budak yang digunakan berjumlah 9 dan papan bidaknya harus kosong ketika awal permainan.

Alat dan bahan:

Budak berjumlah sembilan berwarna sama untu satu pemain, dan 9 bidak lawan dengan warna lain yang harus sama. Misal pemain pertama 9 baru hitam, maka pemain kedua menggunakan 9 baru warna putih.

Alat untuk menggambar papan permainan

Cara bermain:


Pemain harus menyusun 3 bidak sewarna dalam satu baris baik horizontal, vertikal, maupun diagonal.

Ketika kita berhasil membuat 3 bidak sebaris, kita membuat mul, dan berhak mengambil 1 budak lawan.

Pemain kalah jika bidaknya habis dimakan lawan.

Kesimpulan:

Semua jenis permainan tradisional pada dasarnya hampir mirip semua, yaitu ada yang jaga dan ada yang main. Proses akulturasi budaya Jawa, Sumatera, dan daerah-daerah lain menyebabkan bentuk permainan hampir sama namun berbeda tergantung karakteristik daerah dan perubahan permainan. Permainan tradisional terkikis bahkan hampir hilang karena tidak dikenaljan.

Teknik permainan tradisional mengandalkan kekuatan, kecepatan, ketelitian, dan keberanian. Dalam bermain perlu diajarkan semangat sportifitas dan saling menghargai. Permainan tradisional perlu dilestatikan agar generasi penerus memahami budaya leluhur dan semangat kebersamaan. Permainan tradisional juga diharapkan bisa mengurangi kecanduan terhadap game online. Bahaya permainan online adalah kesehatan mata menurun, konsentrasi berkurang, cenderung agresif, dan kurang sosialisasi dengan lingkungan.

Tugas kita sebagai generasi muda untuk melestarikan budaya daerah dalam bentu permainan tradisional melalui kegiatan-kegiatan tahunan seperti lomba tujuh belasan, lomba menyambut ramdhan, dan kegiatan-kegiatan lain.