PUISI DAN SEKOCI (Sebuah Cerpen)

Penulis: Aji Sukman


Matahari hampir tenggelam di kaki cakrawala barat, membuat segala yang terlihat di sana seolah ada yang usil menumpahkan cat berwarna keemasan dengan pola berserakan. Saat itulah sebuah sekoci di leparkan ke laut, lalu seorang lelaki tambun brewok berambut klimis, menggendong bocah perempuan berusia tiga belas tahun menuruni tangga tali dan langsung mendarat di sekoci itu.

“Baron! Kau buang cepat anak itu dan bergegas naik ke kapal.” Yusuf, salah seorang lelaki yang juga memiliki postur tubuh yang sama, namun bedanya dia tak memiliki brewok, meneriakinya dengan sangat kasar.

Baron menoleh sebentar ke arah Yusuf namun tak mengatakan apa-apa. Ia lalu menatap bocah perempuan di hadapannya dengan penuh iba, bahkan air matanya sudah mendaras sejak ia menuruni tangga tali itu.

“Maafkan saya, Tuan Putri, saya terpaksa melakukan ini.” Baron berhenti sebentar mengelap air matanya yang ternyata ingusnya juga ikut terseret oleh lengan bajunya. “Saya sungguh-sungguh tak bisa membantah perintah Tuan Besar. Karena kalau saya membantah, leher saya pastilah dipenggal.” Baron akhirnya tak lagi menahan tangis yang sejak tadi membuat dadanya sesak.

Bocah perempuan yang dipanggilnya Tuan Putri hanya terdiam mengunyah kalimat-kalimat Baron. Namun karena lelaki sangar di depannya ini terlihat menyedihkan dengan isaknya itu, ia pun akhirnya ikut menangis.

“Maafkan saya, Tuan Putri. Sungguh maafkan saya yang tak bisa melawan Tuan Besar.” Tangis Baron seperti nada melankolis yang menyayat-nyayat luka tak berdarah di dalam dada. Apatah lagi Baron melanjutkan teatrikalnya dengan menampar-nampar pipinya sendiri sekuat tenaga. Sehingga bocah perempuan itu dengan cepat meraih tangan Baron dan memeluknya.

“Sudahlah, Paman. Aku baik-baik saja.” Bocah itu mengusap pipi Baron yang sebelumnya ia gunakan untuk mengusap ingusnya sendiri. “Tidak apa-apa jika Paman tak bisa melawan perintah Kakakku. Melihat Paman menangis seperti ini saja aku cukup paham kalau ini situasinya memang rumit bagi Paman.” Bocah itu kemudian memeluk Baron.

Apa yang terjadi setelahnya? Baron sungguh-sungguh menangis seperti perempuan yang sedang kehilangan kekasihnya. Ia memeluk Tuan Putrinya sambil menatap ke angkasa seolah tatapannya mampu menembus tujuh lapis langit sambil melantunkan puisi protesnya kepada semesta. “TUHAN! APAKAH HIDUP INI ADIL UNTUK ANAK SEPERTI DIA YANG SUNGGUH BAIK HATI!?” Baron mendesah berat. “INI SUNGGUH JAHAT SEKALI, TUHAN…” Baron melanjutkan tangisnya sampai salah seorang kawannya di atas kapal melemparinya dengan botol berisi air.

“HEI! BODOH! CEPAT NAIK KE SINI, ATAU KAU AKAN KAMI TINGGAL BERSAMA BOCAH INGUSAN ITU!” sergah Yusuf di atas kapal yang nampaknya sungguh tak punya belas kasih. “Dan kau, berhentilah menyebut-nyebut nama Tuhan. Bukankah selama ini kau tak percaya adanya Tuhan, hah? lalu kenapa kau baru memanggil nama-Nya sekarang?” Yusuf lanjut menggerutu.

Baron mengerti ini memang situasi yang buruk.

“Baiklah. Aku segera ke atas.” Ucap Baron dengan nada lemas.

Mereka lalu berpelukan dengan amat erat sebelum Baron meninggalkan sekoci itu bersama Tuan Putrinya.

***

Sementara itu, Jaiz seorang saudagar kaya masih berada di tengah laut, berlayar menuju negerinya sambil membawa pulang barang-barang dari negeri seberang yang akan dijualnya kembali selepas tiba di tanah kelahirannya.

Ombak kian ganas, lalu salah satu anak buah kapal berteriak dengan suara yang amat kencang.

“Ada orang yang meminta tolong...” ujarnya dengan maksud agar anak buah kapal lainnya bergegas menuju kabin di mana Jaiz, selaku pemimpin seluruh isi kapal yang sedang berlayar ini.

“Tuan... Tuan... di laut ada orang yang sedang meminta tolong.” Ujar anak buah kapal sambil mengetuk-ngetuk pintu kabin.

Jaiz tak perlu waktu lama untuk membuka pintu. Setelah mendengar penjelasan, ia kemudian bergegas menuju geladak untuk memastikan apa yang sedang membuat seisi kapal ini kian gaduh.

Benar, ada orang yang sedang meminta tolong di atas sekoci yang... “Astaga, bukankah yang di sana itu adalah seorang gadis kecil?” Jaiz kontan berseru empati sambil memicingkan matanya untuk memastikan sosok itu.

Gadis kecil di atas sekoci itu menjulurkan tangannya ke atas sambil menggenggam baju putihnya yang sudah berangsur pudar.

“Benar, Tuanku. Itu seorang anak kecil.” Balas Aziz yang merupakan anak buah kapal pertama melihat sekoci itu terombang-ambing oleh ganasnya laut lepas.

“Bergegaslah kau ke sana menolongnya.” Pintanya.

Anak malang yang terombang-ambing di dalam sekoci itu sudah berada di atas geladak yang langsung dikerumuni oleh anak buah kapal.

“Anak ini butuh pertolongan secepat mungkin.” Jaiz nampak sedih menatap wajah gadis kecil yang pucat itu. “PANGGIL TABIB. SEGERA!” Jaiz sedikit membentak. Anak buah kapal yang berdiri di dekatnya tanpa ba bi bu lagi ia kemudian berlari sekuat tenaga menjemput Sang Tabib.

Kurang dari dua menit, anak buah kapal itu telah datang bersama tabib yang nampak seperti setengah diseret olehnya. “Maaf Tuanku, izin menyampaikan. Tabibnya sudah berhasil hamba bawa ke sini.” Ujarnya seolah memanggil tabib itu adalah tugas yang amat sulit. Jaiz hanya mengangguk.

“Maaf, Tuanku. Mari saya periksa dulu anak ini.” Ujar sang Tabib yang sebenarnya ingin mendamprat anak buah kapal yang amat kurang ajar itu telah menyeret dirinya.

Sang Tabib bergegas melakukan pemeriksaan singkat kemudian memerintahkan agar anak itu dibawa ke ruang pengobatan yang tersedia di kapal ini.

***

Di tempat lain, kapal yang membawa Baron dan kawan-kawannya itu sudah merapat ke pelabuhan negerinya dan segera melaporkan hasil kerja.

“Apa aku sudah bisa tenang sekarang?” tanya seorang lelaki berumur dua puluh lima tahun yang duduk di balik kursi malasnya di balik meja kerja.

“Iya, Tuan Besar.” Jawab Baron dengan nada sigap yang dipaksakan.

“Kau benar-benar membunuhnya?” tanya lelaki di atas kursi malas itu.

Baron sedikit terdesak, namun secepat cahaya, Yusuf, yang pernah membentaknya di dalam sekoci seketika muncul sambil memberi jawaban yang nampak memuaskan.

“Benar Tuanku. Kami sudah membuangnya ke laut. Tapi dasar Baron, dia lelaki yang... aduh, entahlah hamba sendiri sulit memahaminya.” Ujarnya sambil memajang wajah seolah benar-benar kebingungan.

“Bicaralah dengan jelas. Jangan kau buat aku masuk dalam teka-tekimu.” Sergahnya.

“Baik, Tuanku. Maksud hamba, Baron ini tampangnya saja yang ganas, tapi begitu adik Tuan dibuang ke laut, dia malah menangis histeris seperti perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya.” Jawabnya dengan nada yang tenang. “Aku bahkan harus mengomelinya namun dia tetap tak mau berhenti menangis selama di perjalanan pulang.”

Lelaki di kursi malas itu kontan tertawa terbahak-bahak sambil berdiri menghampiri Baron. “Aku tahu kau itu memang orang yang baik, Baron. Maka gunakanlah kebaikanmu hanya untuk mengabdi kepadaku.”

“Tentu, Tuanku.” Ujarnya, lalu bergegas memohon pamit.

Yusuf kemudian diperintahkan untuk menyusul Baron dan menghiburnya.

Di depan gerbang rumah megah itu, mereka masih berbincang. “Kenapa kau membuat laporan seperti itu kepada Tuan?” tanya Baron.

Yusuf menatap Kawannya. “Kita ini hanya tukang pukul di keluarga ini, Baron. Dan kita sudah disumpah untuk melindungi keluarga ini apapun yang terjadi oleh Tuan Besar sebelumnya. Maka menyelesaikan tugas dengan cara seperti ini, itulah yang paling tepat. Kita hanya bisa berharap kepada takdir baik milik Tuan Putri kecil. Semoga saja ada kapal yang melintas di sana dan menyelamatkannya.” Ujar Yusuf, kemudian disambung dengan anggukan setuju oleh Baron.

***

Laut nampak seperti cermin di bawah semburat bulan purnama. Gadis kecil yang malang itu sedang mengerjap-ngerjapkan matanya. Lalu bergegas meminta maaf karena sudah merepotkan.

“Tidak, Nak. Tidak sama sekali.” Jawab Jaiz langsung menyuguhkan bubur. “Karena kata Tabib kau sepertinya sudah tak makan selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu.” Jaiz kemudian mengambil nampan yang berisi bubur dan segelas air minum lalu menyuapinya.

Setelah piring buburnya licin tak bersisa, Jaiz lalu mulai bertanya sebab musabab dia bisa berada di dalam sekoci di tengah laut.

“Sebelum kau lanjut, Paman akan tanya dulu siapa namamu.” Ucap Jaiz.

“Ayyara.” Jawabnya singkat.

“Ayyara.” Jaiz kemudian manggut-manggut seperti menimang-nimang sesuatu di kepalanya. “Nama yang indah.” lanjutnya.

“Memangnya Paman tahu apa artinya?” gadis kecil ini sedikit terlonjak mendapat jawaban dari lelaki yang sejak awal ia memanggilnya Tuan, kemudian sekonyong-konyong menyebutnya, Paman.

“Iya, Paman tahu apa artinya. Paman curiga kalau salah satu dari orangtuamu adalah penyair.”

“Kenapa begitu, Paman?”

“Ayyara itu kan, artinya puisi.” Jawab Jaiz cepat. “Dan memberi nama kepada seorang anak itu biasanya yang punya sangkut paut dengan profesi orangtuanya.”

Ayyara dibuat terperangah oleh penjelasan Jaiz.

“Paman pasti orang yang pandai dan berpendidikan.” Ucap Ayyara. “Dan juga, Paman pasti orang yang sangat rajin membaca buku. Iya, kan Paman?” lanjutnya.

Jaiz kemudian tersenyum malu dan bahagia. Baru kali ini ada yang paham bagaimana sebenarnya Jaiz diajak ngobrol dan bahan obrolan seperti apa yang selalu ia rindukan selama ini. Sebab di rumahnya, tak ada satu orang pun yang bisa diajaknya berbicara senyaman itu.

Ingatan Jaiz kemudian terseret hampir ke seluruh bagian hidupnya di masa lalu sebelum dirinya sukses menjadi seorang saudagar. Ketika ia menyadari bahwa dirinya tak benar-benar dianggap sebagai keluarga. Ia hanya dianggap sebagai mesin uang semata. Tak lebih dan tak kurang.

Hingga satu waktu, Jaiz memutuskan untuk memanjakan dirinya sendiri setiap kali pergi berdagang dari satu negeri ke negeri lain. Ia selalu mencari perpustakaan begitu kapalnya merapat ke pelabuhan. Dagangannya selalu diurus oleh Azis dan beberapa orang kepercayaannya di bawah komando Aziz. Lalu ia akan berjalan menyusuri kota dan akan berhenti ketika menemukan toko buku atau perpustakaan. Ia akan menghabiskan waktunya di sana hingga dagangannya habis kemudian pulang.

Seperti itulah yang terus dilakukan Jaiz belakangan ini, meski di depannya mereka selalu memuji dirinya, akan tetapi, itu semua palsu saja. Karena belakangan Jaiz tak sengaja mendengar dari perbincangan keluarganya kalau Jaiz ternyata hanyalah anak pungut yang sengaja dibesarkan untuk menjadi mesin uang bagi keluarganya.

Maka begitu Ayyara memuji Jaiz sebagai orang yang pandai dan berpendidikan, serta rajin membaca buku, dirinya seketika tersipu malu dan jauh di relung hatinya sungguh-sungguh merasa bahagia. Karena Jaiz juga tahu bahwa pujian Ayyara itu amatlah tulus dan bukan karena ada udang di balik batu.

“Benar sekali, Nak.” Itu suara sang Tabib. Sementara Jaiz masih sibuk dengan tersipu-sipunya itu. “Tuan Jaiz ini memang sangatlah pandai dan sungguh-sungguh mencintai buku.” Lanjut sang Tabib.

Wajah Ayyara nampak seperti terkesima, “benarkah, Paman?” ujar Ayyara kepada sang Tabib kemudian bergeser menatap wajah Tuan Jaiz yang... aduh, ternyata dia masih sibuk tersipu-sipu sendirian.

Karena Jaiz masih dalam posisi statis dan tak merespons ekspresi Ayyara, maka sang Tabib lalu maju satu langkah sambil duduk di bibir ranjang. “Apa kau juga suka baca buku, Nak?” tanyanya.

“Iya, Paman Tabib, aku suka sekali baca buku.” Jawabnya antusias.

Sang Tabib tersenyum tulus, “kalau begitu kau sangat cocok, Nak berada di atas kapal ini.” Ujarnya.

“Benarkah, Paman?”

“Iya.”

“Tunggu dulu.” Jaiz akhirnya kembali bersuara.

Ayyara dan sang Tabib menggeser pandangannya.

“Sebenarnya, kenapa bisa Ayyara berada di tengah lautan begini dan sendirian di dalam sekoci?”

“Aku dibuang oleh Kakak tertuaku sendiri, Paman.” Jawab Ayyara dengan polos.

“Apa?” Jaiz hampir terjengkang dari duduknya. “Bagaimana bisa?”

Meski dibuang dan telah melewati kejamnya waktu berminggu-minggu tanpa makanan dan minuman di tengah laut termasuk setelah pulih dari koma singkatnya, saat ini tak ada sedikit pun ekspresi marah di wajah Ayyara.

Ayyara mulai bercerita dari saat Ayahnya meninggal satu tahun lalu, kemudian Ibunya menyusul satu hari sebelum dirinya ditinggalkan sendirian di atas sekoci karena saudara tertua laki-lakinya ingin menguasai seluruh harta warisan keluarganya.

“Aku sudah tahu semuanya sejak dulu. Tapi aku tahu kekuatanku. Aku hanya seorang bocah tak berdaya. Maka aku hanya pasrah menunggu waktu mengenaskan itu.”

“Tapi kenapa kau tak terlihat marah atau sedih sedikit pun, Nak?”

“Aku tidak punya alasan untuk bersedih Paman, sebab aku masih bisa hidup sampai sekarang pun sama sekali itu di luar dugaanku.” Jawab Ayyara.

“Memangnya apa yang kamu pikirkan?”

“Aku kira kakakku akan menggantungku begitu saja di dalam kamar, atau membuangku ke dalam hutan dan dimangsa oleh binatang buas. Atau hal-hal mengerikan lainnya. Yang jelas aku bisa hidup hingga sekarang ini benar-benar di luar dugaanku. Maka selama satu tahun sejak Ayah meninggal, aku hanya sibuk menyiapkan diri untuk mati dalam keadaan mengenaskan. Tetapi ternyata Tuhan berkehendak lain, aku justru diselamatkan lewat Paman-Paman yang sungguh baik hati.” Sekeras apapun Ayyara menahan, kelenjar matanya tak mampu membendung mutiara bening nan panas itu untuk mengalir.

Tuan Jaiz bergegas memeluk bocah kecil yang malang itu. Sejurus dengannya jauh di dalam dada Tuan Jaiz seperti ada yang mengamuk di sana.

“Tenanglah, Nak, kau sudah aman bersama Paman. Kami sudah mengerti semuanya. Dan kau tak perlu melanjutkan penjelasanmu yang berat itu.”

“Aku berharap semoga semesta memberimu jalan hidup yang lebih baik setelah ini anakku.” Sang Tabib mendeklamasikan sebait puisi elegi.

***

Setelah keadaan membaik. Sebelum beranjak tidur, Tuan Jaiz benar-benar berpikir keras, kemudian ia memutuskan untuk mengadopsi Ayyara sebagai anaknya, dan akan memberinya Pendidikan yang paling layak.