Rahasia Gula Lempeng Bapak

Rahasia Gula Lempeng Bapak

Oleh : Untung Sudrajad

Aku menggeliat meregangkan tubuh, Huaah aku menguap lebar – lebar, hari masih pagi baru jam enam, aku masih mengantuk sekali akan tetapi sudah terlanjur berjanji dengan teman - teman untuk bertanding sepak bola. Oh ya namaku Arman, aku kelas enam SD, aku anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakakku kak Joice sudah lulus kuliah dan bekerja menjadi Bidan di Puskesmas dan kak Ardian hampir lulus kuliah di Poltekes jurusan Analis Kesehatan. Kata ayah dan ibu aku lahir diluar rencana, tadinya kak Ardianlah yang dianggap bungsu karena aku lahir ketika kak Ardian sudah berumur 9 tahun.

Aku tinggal di daerah Lasiana Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur. Jarak rumahku dengan pantai Lasiana yang indah dan terkenal di kotaku itu hanya sekitar tujuh ratus meter. Rumahku tidak begitu besar dan juga tidak begitu mewah, tapi ini adalah istanaku. Walaupun cuma rumah setengah tembok yang menjadi tempat tinggal sekaligus tempat kerja bapak dan ibuku, tetapi cukup luas dan nyaman kami tempati. Halaman kami cukup luas dan banyak ditumbuhi pohon lontar atau ada yang menyebutnya pohon tuak. Pohon lontar inilah yang menjadi sumber nafkah bagi keluargaku sebagai pembuat gula lempeng. Pohon lontar dihalaman rumahku cukup banyak, mungkin sekitar empat puluh sampai lima puluh pohon, sebagian diantaranya sudah cukup tua setinggi dua puluh meter atau bahkan lebih. Tiap pagi jam 05.00 sampai jam 06.00 pagi dan sore hari jam 16.00 sampai 17.30, bapak naik menyadap pohon lontar, satu pohon bisa menghasilkan nira sekitar dua sampai lima liter, tergantung musim. Air nira warnanya putih rasanya manis dan segar, sangat enak untuk diminum disiang hari. Akan tetapi air nira ini tidak bisa disimpan lama, karena kalau kena udara dan kelamaan disimpan akan berubah rasa semakin asam menjadi seperti air cuka.

Sebagai anak seorang pengrajin gula lempeng, aku seringkali membantu bapak dan mamaku memasak air nira menjadi gula. Untuk mengentalkan air nira sangat lama, bisa sekitar 3 sampai 4 jam mengaduknya didalam periuk besar dari tanah liat diatas tungku yang panas. Setelah mengental gula cair tersebut kita cetak kedalam cetakan yang terbuat dari daun pohon lontar dalam bentuk lingkaran, setelah itu kita jemur diatas tikar, jadilah gula lempeng Ama Liu yang terkenal itu. Oh ya bapakku bernama Yulius, akan tetapi semua orang memnggilnya Ama  Liu, ama sebutan orang Sabu yang artinya bapak,  ibuku bernama Jara atau biasa dipanggil Ina Jara.

Gula lempeng bapaku sangat terkenal di pasar Oesapa, pasar Oeba dan pasar Inpres di Kotaku, bahkan sangat terkenal dikalangan para pembuat kue dan jajanan pasar. Warnanya coklat tua, dengan tampilan utuh, bersih dengan tektur padat. Harganya tergolong murah dan rasanya yang manis, gurih dan terasa lembut dileher waktu ditelan,  sama sekali tidak terasa pahit atau asam seperti yang biasa melekat di gula lempeng produksi orang lain. Gula lempeng ayah adalah jaminan mutu, bahkan anak - anak sering memakannya seperti makan permen coklat.

“Arman, bapak dengan mama akan pergi menengok orang mati di Pal Satu “ kata bapak sambil mengangkat jerigen biru ukuran lima puluh liter kedalam dapur, kelihatannya jerigen itu berat karena terisi penuh “ Kakakmu Joice bekerja dan Ardian harus kekampus untuk selesaikan tugas akhir, jadi hanya kamu yang bisa bantu bapak memasak air nira ini”

“Tapi pak, saya sudah janjian dengan teman - teman mau main sepak bola, kami SD Inpres akan bertanding dengan SD Komodo disebelah” kataku panik “aku kapten team pak, tidak mungkin tidak hadir”

Bapakku mengerutkan keningnya, kemudian ngomong pelan “ Aku sudah terlanjur menyadap nira ini sejak pagi tadi, dan berita duka ini baru kami dengar pagi ini” kata bapakku “Mereka keluarga dekat, kami harus hadir, dan nira ini kalau tidak dimasak akan asam menjadi cuka”

Aku terdiam dan merasa tidak bisa mengelak,5 akhirnya aku mohon ijin untuk menemui teman temanku di Lapangan Lasiana untuk sekedar ijin dan mencari gantiku dilapangan. Aku segera berlari menuju lapangan dan kulihat beberapa temanku sudah hadir dilapangan. Tanpa basa - basi kusampaikan permasalahan yang kuhadapi pada teman – temanku, mereka semua menyalahkanku karena tidak bisa ikut dan merasa tidak yakin untuk bisa menang.

Herman salah seorang temanku menyeret lenganku menjauh dari teman teman sambil berbisik “Kamu harus tetap ikut main Arman” katanya “Nanti kuajari caranya agar niramu awet tidak asam dan kamu tetap bisa main sepak bola”

“Bagaimana caranya “

“Gampang, campurkan deterjen bubuk sebanyak seperempat sendok untuk nira sejerigen ukuran lima liter, ditanggung awet dan hasil gulanya akan lebih bagus, warnanyapun bagus dan lebih padat” kata Herman “bahkan waktu memasaknya menjadi lebih pendek, kamu harus percaya, bapakku juga pembuat gula lempeng ”

Aku segera lari pulang, rumahku sudah kosong, semuanya sudah berangkat, aku segera mencari detergen bubuk didapur dan mengukurnya sebanyak dua setengah sendok makan dan menuangkan kedalam nira yang tersimpan di jerigen ukuran lima puluh  liter itu. Untuk memastikan semua tercampur baik, kugoncang – goncangkan jerigen dengan keras selama hampir lima menit.

Pertandingan sepak bola dimulai jam tujuh tepat, tim kami sangat kompak, kami sepakat untuk menyerang secara fontal. Akan tetapi lawan kami dari SD Komodo bukanlah lawan yang lemah, mereka ambil posisi bertahan dengan rapat dan hanya sekali – sekali mereka balas menyerang.

Pada empat puluh lima menit babak pertama posisi kita tetap kosong – kosong. Babak kedua tenaga kami dari kesebelasan SD Inpres mulai melemah dan giliran SD Komodo yang menyerang habis – habisan, kami keteteran dan kehabisan tenaga akan tetapi tetap bertahan.

Pada detik terakhir menjelang berakhirnya babak terakhir, Herman berhasil menendang bola ke pojok gawang lawan dan gool. Kami berteriak seperti kesetanan karena gembira, ajaib sekali justru didetik terakhir dan dalam kondisi kepayahan, kami berhasil menyarangkan goal di gawang lawan.  

Setelah bersalaman dengan anak – anak SD Komodo yang kelihatan lesu, kami segera berpelukan. Pak Haris guruku olah raga yang kebetulan hadir mentraktir kami nasi kuning dengan lauk istimewa, telur dan ikan goreng, sedap sekali rasanya.

Setelah bubar dan pulang kerumah kami masing – masing, aku cepat berlari masuk dapur dan menuang sedikit nira di jerigen kecangkir kecil dan mencicipinya dengan penuh rasa was was. Herman benar, nira ini tetap manis dan tidak asam,  hatiku lega. Segera kunyalakan tungku dengan kayu kosambi dan mulai memasak gula air. Sekitar jam dua siang, gula air mulai kucetak dan kujemur di para - para yang dilapisi tikar dihalaman, aku merasa capek sekali hari ini, perut terasa lapar akan tetapi hatiku terasa lega. Jam lima sore ketika semua orang pulang kulihat gula lempengku mulai mengeras dan warnanya indah, kuning keemasan serta kelihatan padat. Dalam hati kupuji Herman yang telah menyelamatkanku dengan trik detergennya.

Malamnya aku tidur nyenyak seperti orang mati, badan capek dan perut kenyang membuatku pulas, mungkin aku bisa bangun kesiangan apabila tidak mendengar Ama Daud tetanggaku teriak – teriak marah pada bapakku. Aku segera lari kehalaman dan melihat Ama Daud menunjuk nunjuk gelasnya dengan muka merah.

“Ama Liu kau mau meracuniku” katanya “ Aku sudah bertahun - tahun sakit maag dan biasanya reda jika pagi – pagi aku minum air panas dengan dicampur gula lempengmu, tapi lihatlah, kenapa gulamu berbusa dan cobalah agak sedikit pahit getir, orang lain mungkin tidak begitu merasa, tetapi aku langgananmu bertahun - tahun, gulamu warnanya juga beda pagi ini”

Bapak terdiam kebingungan sambil menggaruk kepalanya, Kak Joice dan kak Ardian menatap ku penuh tanda tanya.

Aku menangis dan minta maaf kepada ama Daud dan Bapakku, lalu kuceritakan masalahku kemarin dan bagaimana aku mencampuri nira itu dengan detergen agar tidak asam dan rusak.

Bapak tertunduk dan segera minta maaf kepada om Daud.

“Joice dan Ardian, bungkus semua gula itu dan buang” kata ayahku tegas

“Jangan dibuang, mungkin bisa dijual, toh tidak ada orang yang tahu kecuali aku” kata Ama Daud.

“Tidak, aku tidak mau meracuni pelangganku”

“Untuk campuran makanan ternak mungkin” bantah Ama Daud

“Tidak, buang saja” kata Bapakku bersikukuh.

“Aku minta maaf ayah, aku yang salah” kataku yang sangat ketakutan dimarahi bapak “Aku lebih mementingkan sepakbola daripada masak gula air”

Bapakku ku tersenyum teduh sambil mengelus kepalaku

“Tidak apa - apa, ini pembelajaran yang sangat penting untukmu” bapak kemudian mengambil kemasan gula lempeng yang sisa kemarin “Bacalah dengan keras dan pahami baik – baik”

Aku membacanya keras keras “Gula Lempeng Ama Liu Lasiana, Asli Tanpa Campuran dan Tanpa Bahan Kimia”

“Anakku, aku sudah membuat gula lempeng sejak muda. Sebelum menikah dengan mamamu, langgananku cukup banyak dan mereka setia” katanya “Kenapa? Karena aku menjaga keaslian gula lempeng kita, tanpa campuran, tanpa bahan kimia”

Lalu bapak menerangkan bagaimana bapak menyadap nira dengan jerigen yang tertutup untuk mengurangi kotoran yang masuk, kemudian upayanya menyaring nira dengan kain penyaring yang bersih, sehingga terjaga kebersihannya. Beberapa tahun terakhir bapak mulai membungkus gula lempengnya dengan plastik kemasan yang hiegenis,  agar pada waktu dijajakan tetap bersih dan tidak dihinggapi, tawon, lalat atau bakteri.

Bapak juga tahu bahwa teman – temannya yang lain sesama pengrajin gula lempeng, banyak yang nakal dengan menggunakan campuran sabun detergen supaya proses memasaknya lebih cepat, lebih hemat kayu bakar dan hasil gulanya lebih padat dan cemerlang warnanya. Tapi bapak tidak tergiur dengan itu.

Bapak ingin semua langganannya sehat, berumur panjang dan terus menjadi langganannya sampai tua. Bapak tidak tergiur untuk mendapat keuntungan lebih banyak dengan cara yang tidak sehat.

“Bapak ingin membesarkan kalian dengan uang yang diperoleh secara benar, orang lain mungkin tidak melihat, tetapi Tuhan akan melihat segala niat jahat kita” katanya “Bapak percaya bahwa dengan bekerja dan mencari nafkah secara jujur, hidup kita akan lancar, sekolah kalian lancar dan gampang cari kerja seperti  Joice”

“Benar bapak “ kata kak Joice “Percuma anak bapak sekolah dan bekerja di kesehatan kalau gula lempeng bapak tidak sehat”

Ayah tertawa, Mama tertawa, kak Ardian tertawa dan aku menjadi lega.

Dalam hatiku aku berjanji tidak akan berbuat kesalahan lagi.


TAMAT

Bionarasi:

Untung Sudrajad adalah pria kelahiran Magelang pada 22 Juli 1962.

Menamatkan SD sampai SMA di Kota Pati Jawa Tengah, Tamat Sarjana di UNS Surakarta dan Magister Manajemen di UWP Surabaya.

Membaca novel dan cerpen adalah hobinya dan sejak pensiun sebagai ASN di Pemerintah Provinsi  NTT pada tahun 2020, mulai belajar membuat cerpen dan novel.

Kamu bisa simak kegiatannya di instagram @sudrajaduntung, Nomor WA 08123772427, Email: usdrajad@gmail.com

Catatan Penulis:

Gula lempeng adalah gula merah yang dibuat dari nira pohon lontar dan dicetak kedalam Daun Lontar yang dibentuk melingkar.

Poltekes adalah Politeknik Kesehatan, Perguruan Tinggi dibawah Kementerian Kesehatan.

Ama adalah panggilan untuk bapak dalam komunitas suku Sabu di NTT

Ina adalah panggilan untuk Ibu dalam komunitas suku Sabu di NTT

Detergen biasa digunakan penyadap nira yang nakal agar nira yang bersifat asam PH nya menjadi normal dan tidak cepat basi, selain itu gula yang dihasilkan lebih padat, warnyanya lebih cerah dan tidak mudah mencair. Pengrajin tradisional biasa menggunakan cara yang lebih alamiah yaitu dengan menaruh air kapur yang telah diendapkan dicampur sayatan kulit pohon nangka atau kulit manggis untuk mengawetkan niranya. Akan tetapi dengan semakin langkanya pohon nangka dan kulit manggis, banyak pengrajin gula yang ambil cara praktis dengan menambahkan detergen ataupun natrium metabisulfit yang mereka beli di toko kimia.