Rei dan Hutan Primula

Rei dan hutan Primula

Rei mengulurkan tangan kanannya sejauh mungkin, berusaha meraih sebuah benda di depannya. Tangan kirinya yang kurus menggenggam erat batang pohon yang menjulur di atas kepalanya, punggungnya melengkung. Peluh mengalir di kening dan tengkuknya. Kakinya sesungguhnya pegal sekali bergelantungan dan bertaut pada batang pohon. Berulang kali ia nyaris merosot ke bawah. Anak berusia sebelas tahun dengan wajah oval dan berambut tipis itu mengulurkan tangan dengan sebisa mungkin tak membuat suara. Seekor monyet berjarak beberapa meter di depannya memerhatikannya dengan waspada dengan mata hitamnya. Di dekatnya, pada sebuah ranting, tergantung topi hijau milik Aru, kawannya.

Monyet kecil itu menyeringai pada Rei yang hanya menatap balik sambil tetap diam tak bereaksi, hingga akhirnya monyet tersebut menyingkir pergi meninggalkan Rei yang tangannya sudah kesemutan. Secepat kilat Rei menyambar topi hijau yang tergantung dan langsung berpegangan erat pada batang pohon kemudian merosot turun kembali ke tanah.

Di bawah pohon, dekat semak belukar, Aru menarik nafas lega. Ia mengusap keringat dinginnya tadi yang membasahi kening. Jantungnya hampir copot menanggapi adegan Rei berhadapan dengan monyet untuk mengambil topi miliknya.

“Aman, Ru!” Rei menyerahkan topi hijau yang lantas diambil Aru sambil kemudian menahan tangis.

“Terima kasih, Rei. Tapi kita sekarang nyasar hu..hu… Nggak tahu di mana, nggak bisa pulang. Huaaa…!!!” Tangis anak bertubuh kurus dengan wajah bulatnya itu memecah kesunyian hutan tersebut yang sejak tadi hanya terdengar suara desing sayap kumbang.

Rei tersenyum masam. “Tenang, Ru. Aku bawa peluit di tasku. Kita bisa meniupnya agar ada seseorang yang mendengar dan menolong kita. Menurutku, kita sebenarnya tak terlalu jauh dari rute air terjun. Hanya saja rutenya berputar-putar. Kalau kau lapar, aku juga masih punya biskuit. Kau mau?”

Aru mengangguk. Ia lapar sekali sekaligus merasa bersalah pada Rei karena tadi berlari-lari mengejar monyet. Rei mengajak Aru duduk di batu, di bawah pohon rasamala dekat dirinya tadi memanjat pohon rambutan untuk mengikuti monyet. Pohon di hadapannya itu berukuran sangat tinggi. Aru memandangi pucuk pohon tersebut yang nyaris tak terlihat karena terlampau tinggi.

“Tinggi sekali pohon ini!” seru Aru.

“Ini pohon rasamala.” Jawab Rei sambil membuka biskuit dan menyodorkannya pada Aru.

“Kau hebat bisa tahu semua jenis pohon!” Aru menerima biskuit dan menggigitnya.

“Belum, kok. Aku hanya tahu yang tinggi ini dan pohon rambutan saja. Kalau yang lain-lain aku belum tahu.”

Kedua anak itu terus mengobrol sambil duduk di bawah pohon selama bermenit-menit sambil menenggak air putih, membasahi kerongkongan yang sangat kering sehabis berlari. Sesungguhnya saat itu mereka sedang mengikuti acara pengenalan tumbuhan bersama kawan-kawan sekolah di kawasan wisata air terjun hutan Primula.

Sayang sekali saat mereka sedang menelusuri jalan setapak, Aru malah memisahkan diri dari rombongan karena ingin mengejar seekor monyet. Saat berhadapan dengan monyet itulah datang monyet lain yang diam-diam mengambil topinya. Rei kemudian mengejar Aru dan akhirnya mereka berdua berkejar-kejaran semakin menjauhi rombongan kelas yang langsung menyadari bahwa dua anak tersebut tak ada di tempatnya. Monyet tersebut membawa topi Aru ke atas pohon hingga akhirnya Rei memanjat dan mengambilnya seperti adegan yang diceritakan pada awal kisah ini.

“Bagaimana mereka bisa mendengar kita? Apa peluitnya berbunyi kencang?” Aru menelan potongan terakhir biskuit di tangannya. Ia tak mau banyak makan sekarang, khawatir perjalanan masih jauh.

Rei menyelipkan peluit di mulutnya lalu mulai meniup. PRIIIIITTT…. PRIIIIIT…. PRIIIIIT….!!!

Aru lantas menutup kuping dengan kedua tangannya. Suara peluit itu sangat memekakkan telinga, apalagi ia berada dekat dengan Rei.

“Gimana? Kencang, kan? Pak Iko pasti bisa mendengar suara ini.” Rei berusaha yakin meski jauh dalam hatinya ia ketar-ketir juga berada di tengah hutan hanya berdua dengan Aru.

Namun Rei tetap optimis jika Pak Iko, seorang peneliti yang hari ini menjadi pemandu rombongannya, bisa mendengar suara peluit tersebut. Rei sontak berdiri saat mendengar suara dari kejauhan.

PRIIITTTT…

“Dengar! Balasan suara peluit!” Rei sontak berdiri dan kembali meniup peluit.

Suara peluit yang ditiupkan dari kejauhan semakin lama semakin dekat. Aru sudah nyaris berlari ke arah suara namun Rei lekas menahan lajunya. “kita tetap di sini.” Katanya.

“REIIII… ARU..! JANGAN BERPINDAH YA. TETAP DI SITU!” suara Pak Iko berteriak semakin dekat.

Aru bersyukur tadi Rei menahannya, kalau tidak bisa-bisa mereka berselisih jalan dengan Pak Iko. Di antara hijau daun-daun yang bergoyang tertiup angin dan pepohonan di sekitar mereka, Rei menangkap warna kemeja Pak Iko dengan sudut matanya. Rei lantas berteriak senang, “PAAK, KAMI DI SINI.”

Pak Iko menyeruak dari celah pepohonan dan berlari menghampiri mereka. Peluit tergantung di lehernya. Wajahnya yang cemas berubah menjadi lega saat melihat Aru dan Rei yang langsung memeluknya. “Kalian nggak luka, kan?”

Rei dan Aru menggeleng bersamaan. Aru kemudian terisak hingga sesenggukan, “Maaf, Pak. Ini gara-gara Aru ngejar monyet. Aru ingin membawa monyet itu untuk dipelihara di rumah. Lalu monyet lain datang mengambil topi Aru. Harusnya tadi Aru dengarkan Rei yang bilang tidak usah mengejar. Kita jadi tersesat gara-gara Aru.” Aru menunduk malu, menyesali perbuatannya.

“Ya sudah, Ru. Lain kali dengarkan nasihat orang lain dan dengarkan kawanmu. Jangan berpisah sendirian di tengah hutan. Alam memang membuat kita penasaran tapi kita bisa terlena dan lupa akan sekitar hingga bisa merugikan diri sendiri dan orang lain. Lagipula hewan-hewan seperti monyet, burung, ular, dan sebagainya itu rumahnya ya di hutan sini. Mereka sudah hidup nyaman dan bisa mencari makan sendiri. Tak perlu kita mengganggunya karena justru saat ini kita lah yang sedang bertamu ke rumahnya di hutan ini. Lagipula kau tahu ada banyak penyakit yang bisa menular kalau kita asal-asalan memelihara hewan liar?”

Aru menggeleng. Rasa bersalah membuatnya sudah tak ingin lagi mengambil hewan liar untuk ia bawa pulang.

“Ya sudah. Sekarang kita kembali lagi ke rombongan. Mereka sudah menunggu di air terjun.”

Pak Iko mengeluarkan Handy Talky dari saku miliknya, memutar sebuah tombol lalu berbicara lewat speakernya, “Conifer satu di sini. Rei dan Aru sudah ketemu. Aman semua. Ganti.”

Seseorang di seberang sana yang diajak berbicara oleh Pak Iko menyahut melalui Handy Talky namun suaranya tak bisa ditangkap jelas oleh Rei dan Aru. Tapi sepertinya Pak Iko mengerti ucapan orang tersebut karena ia kemudian mematikan tombolnya dan kembali memasukan alat komunikasi tersebut ke dalam sakunya.

“Kita lewat jalur susur sungai di sebelah sini.” Pak Iko menunjuk sebuah jalur di sebelah kiri mereka. Rei pun berjalan di depan, Aru di tengah, sementara Pak Iko di belakang.

Sambil berjalan Pak Iko kembali bercerita mengenai hutan yang mereka telusuri. Menurut cerita, hutan ini dulunya pernah mengalami kekeringan parah hingga tak ada yang tumbuh di atasnya. Sungai-sungai kering kerontang dan tak ada air sama sekali, hanya ada padang rumput gersang dan matahari bersinar garang karena tak ada tutupan pohon di atasnya. Hingga kemudian gunung Primula yang bisa mereka lihat puncaknya dari sini meletus setelah tertidur sekian ratus tahun. Banjir lahar panas tak terhindarkan, abu gunung meletus bertebaran ke mana-mana dan menutupi langit hingga menjadi sangat gelap. Puluhan tahun kemudian tanah yang terkena letusan gunung berapi tersebut menjadi subur dan tumbuhlah berbagai jenis tanaman yang sangat banyak jenisnya seperti yang ada di sekitar mereka saat ini.

Suara gemericik air semakin keras terdengar. Mereka tiba di ujung jalur setapak dan kini sungai berbatu dengan aliran air yang cukup deras terhampar di depan mereka. Sepatu boots milik Rei dan Aru membuat jejak yang dalam pada tanah yang lembab dan becek. Pak Iko berhenti di dekat sebuah pohon, mengajak Rei dan Aru berjongkok di dekatnya. Pak Iko menunjuk pada sesuatu di atas batu di tengah sungai.

“Ada burung!” Aru memekik senang melihat burung tersebut yang terlihat sangat cantik, berwarna biru. Karena bersuara cukup mengagetkan, burung itu rupanya langsung terbang secepat kilat namun tak lama kemudian kembali lagi ke batu yang sama. Paruh burung tersebut terlihat sangat panjang, lebih panjang bahkan daripada tubuhnya yang kecil.

“Itu namanya burung raja-udang. Kita tunggu sebentar. Dia sedang makan siang dan berburu ikan kecil.” Pak Iko berbisik-bisik pada Rei dan Aru yang mengangguk-angguk.

Rei nyaris tak berkedip menatap burung tersebut. Ia ingat pernah melihat burung yang sama di ensiklopedia yang pernah ia baca di perpustakaan sekolah beberapa tahun lalu.

Rei ingat betul karena baginya burung tersebut sangat cantik dan unik. Di buku tersebut disampaikan bahwa burung raja-udang biasanya membangun sarang di dekat sungai. Makanan burung tersebut adalah ikan-ikan kecil yang berada di sungai. Burung itu berburu dengan cara terjun secepat kilat ke dalam sungai untuk menyambar ikan dengan paruhnya yang panjang lalu kembali ke tepi sungai untuk menyantap makanannya. Rei tak menyangka pada akhirnya ia bisa berjumpa langsung dengan burung yang ia idam-idamkan selama ini dan bahkan menyaksikan langsung bagaimana burung tersebut berburu makanannya.

“Perhatikan. Ia akan terjun ke sungai untuk menangkap ikan.” Bisik Pak Iko.

Dan benar saja, burung raja-udang berukuran kecil itu terjun ke sungai dengan sangat cepat hingga Aru dan Rei bahkan tak bisa mengikuti pergerakannya dengan matanya. Tiba-tiba saja burung itu sudah kembali lagi ke batu semula dan ada sesuatu berwarna putih yang kini berada di antara paruhnya. Seekor ikan kecil!

Rei dan Aru berdecak kagum menyaksikan hal tersebut. Pak Iko berdiri, mengajak kedua anak itu kembali melanjutkan perjalanan. Rei dan Aru tampak enggan berdiri dan masih sesekali menoleh ke belakang ke arah burung raja-udang masih tetap berburu dan terjun ke sungai untuk beberapa kali lagi.

Pak Iko menunjuk ke arah kanan dengan ranting panjang yang tadi ia pungut. Rei dan Aru pun berbelok, membelah jalur berbatu-batu kecil yang licin berlumut.

“Hati-hati!” seru Pak Iko memegangi Aru yang hampir terpeleset karena berjalan terburu-buru.

Rei berhenti ketika mereka melewati sebuah hamparan semak-semak berisi beberapa tumbuhan berbunga warna kuning. “Apakah ini dandelion?” tanyanya penasaran sambil menggenggam tumbuhan tersebut tanpa mencabutnya.

“Betul sekali, Rei. Yang berwarna kuning ini adalah bunga dandelion. Ia hanya tumbuh di sekitaran dataran yang cukup tinggi seperti di kaki gunung. Bijinya berwarna putih dan biasanya menyebar tertiup angin.”

“Bukannya ini banyak di dekat rumah kita di kota?” tanya Aru.

“Bukan. Itu jenis yang berbeda lagi di dataran rendah.” Jawab Pak Iko.

Aru mengangguk-angguk, menerima roti yang disodorkan kembali oleh Rei.

“Venafah tan ni namanya pwimua?” Aru bertanya dengan mulut penuh roti.

“Telan dulu makananmu. Keselek nanti!” Rei melotot.

Aru menelan roti yang ia kunyah, lalu membuka mulut kembali untuk bertanya, “Kenapa hutan ini namanya Primula?”

Rei menggeleng, memandang Pak Iko, menanti jawaban yang pasti.

Pak Iko menjawab dengan tenang sambil menunjuk puncak gunung yang terlihat lancip dari kejauhan dengan ranting di tangannya. “Karena di atas sana banyak terdapat tumbuhan berbunga bernama Primula. Peneliti jaman dahulu yang datang dan meneliti gunung tersebut lah yang pertama kali menemukan banyak sekali tumbuhan Primula setelah menempuh jalur mendaki yang sangat panjang dan akhirnya kembali ke desa dengan selamat. Kabut tebal sekali dan saat itu cuaca sangat buruk membuat mereka nyaris terperosok ke dalam jurang.”

Aru bergidik. “Berbahaya sekali naik gunung itu.” Ia menggeleng membayangkan dirinya tak akan mau mendaki gunung.

“Tentu saja berbahaya, jika tanpa persiapan yang matang. Jika kita sudah punya banyak persiapan dan perbekalan cukup, kita tinggal berdoa, dan tidak boleh sombong selama berada di alam ini. Maka semuanya diharapkan akan lancar dan selamat kembali ke rumah. Pemandangan dari atas sana bagus sekali, seperti berada di negeri di atas awan. Kita bahkan bisa melihat matahari terbit yang sangat indah.”

“Benarkah? Apakah sekolah kita akan ada kegiatan mendaki gunung?” mata Aru terbelalak kagum. Ia lupa kalau tadi ia berkata tidak mau mendaki gunung.

Pak Iko tertawa melihat Aru. “Bisa saja. Tapi butuh banyak persiapan yang panjang pastinya dan mungkin jika beramai-ramai bersama murid seperti ini, Bapak akan menimbang-nimbang lagi. Khawatir ada murid yang tiba-tiba memisahkan diri lagi untuk mengejar monyet hehe.” Ledek Pak Iko.

Pipi Aru langsung bersemu merah, menyadari kesalahannya lagi. Tapi kali ini ia nyengir. “Tak akan terjadi lagi.” Sahutnya.

“Kenapa diam saja, Rei? Biasanya kau banyak bertanya.” Pak Iko menyibak rerumputan tinggi di hadapannya dengan ranting dan menahannya, memastikan Rei dan Aru bisa melewati rumput tersebut tanpa mengenai kulit mereka karena rerumputan tersebut sangat gatal sekali jika terkena kulit.

Aru melewati rerumputan gatal dengan hati-hati. Rei membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Pak Iko sambil menyempatkan diri menoleh kembali ke arah puncak gunung Primula, “Aku… akan mendakinya suatu hari nanti. Aku… ingin menjadi peneliti tumbuhan.”

Pak Iko terpana menatap Rei. Menatap mata anak berusia sebelas tahun itu yang terlihat sangat sungguh-sungguh. Pertemuan dengan Rei beberapa tahun silam hingga hari ini selalu membuatnya tersadar bahwa cita-cita seorang anak sangat mulia dengan segala yang ada di pikirannya.

Pak Iko merangkul Rei dan berdua mereka melangkah melewati rerumputan gatal dan menuju tempat Aru sudah berlari ke arah rombongan kelasnya yang sedang tertawa dan berfoto bersama di dekat air terjun.

Pak Iko berkata, “Kau pasti bisa, Rei. Kau pasti bisa.”