Romawi Kuno/Filsafat/Neoplatonisme

Sekitaran waktu Yesus hidup, para filsuf (dan orang awam) di Aisa Barat dan Kekaisaran Romawi mulai berpikir tentang apa yang akan terjadi setelah kematian, dan hal ini penting bagi kaum Kristen dan orang Gonstik. Tidak lama setelah itu, para filsuf Romawi mengembangkan gagasan bahwa setelah seseorang mati, maka dia akan bergabung menjadi satu dengan Tuhah, dengan suatu kekuatan ilahi. Para Neoplatonis juga berpikir bahwa segala sesuatu berasal dari kekuatan ilahi ini, yang kadang-kadang merakea sebut yang Esa.

Plotinos.

Para filsuf memperoleh gagasan ini dari ide Plato dalam bentuk yang lebih sempurna, sehingga disebut pula Neoplatonisme (Ajaran Plato Baru). Filsuf penting dari aliran ini adalah Plotinos, yang lahir sekitar tahun 204 M. Plotinos berkata bahwa yang pertama muncul dari yang Esa adalah angka, yang merupakan hal terdekat pada kesempurnaan. Setelah angka, muncul bentuk, lalu benda mati, dan kemudian makhluk hidup.

Setelah Plotinos meninggal pada 270 M, murid-muridnya terus memperdalam gagasan Neoplatonisme. Tapi gagasan mereka tentang penggabungkan dengan kekuatan ilahi menjadi bercampur dengan gagasan orang Gnostik tentang sihir, dan dalam beberapa cara Neoplatonisme pada masa selanjutnya lebih tentang sihir daripada fislafat.