Romawi Kuno/Sastra/Tacitus

Karya Tacitus terkenal karena kemampuan menulis sejarahnya selain juga karena nilai fakta yang dia berikan. Penyusunan kata-kata yang efektif namun indah, kemampuannya untuk menghidupkan tokoh, kesediannya untuk memberikan informasi secara adil dan langsung, semua itu telah menginspirasi banyak sejarawan untuk menirunya.

Tacitus

Publius (atau Gaius) Cornelius Tacitus dilahirkan pada tahun 55 M. Ayahnya yang kaya, bernama Agricola, adalah komandan pasukan Romawi di Britania, tidak lama setelah Claudius menaklukan Britania dan menjadikannya provinsi Romawi. Kemungkinan Tacitus juga menghabiskan waktu di Britania, dan kemungkinan di pos terdepan lainnya. Namun dia lebih banyak tinggal di Roma. Dia adalah senator yang aktif, dengan karier politik yang sukses, dan merupakan seorang pembicara publik yang terkenal.

Buku pertamanya, ditulis pada tahun 98 M ketika Tacitus sedang berusia 40-an tahun, merupakan biografi ayahnya dan berjudul Agricola. Di dalamnya, Tacitus membahasa masalah dalam mengurus sebuah provinsi baru. Bagaimana cara menghormati hak-hak penduduk yang telah ditaklukan? Apakah mereka harus meninggalkan kebudayaan mereka dan mengikuti budaya Romawi? Apakah keuntungan menjadi orang Romawi - pendidikan, pakaian bagus, kesempatan kerja - sepadan dengan hilangnya kemerdekaan, dan rasa malu akibat ditaklukan?

Buku kedua Tacitus, ditulis pada tahun yang sama, adalah catatan (ethnografi) cara hidup orang Jerman, sebelum ditaklukan oleh Romawi. Buku itu berjudul Germania. Di dalamnya dia menunjukkan permasalahan dari sisi lainnya. Orang Jerman memiliki kemerdekaan dan kebanggaan, yang mereka junjung tinggi, dan mereka dapat menjaga kebudayaan mereka sendiri, tapi mereka tinggal di gubuk, mereka tidak dapat membaca, dan mereka harus bertani atau berburu untuk hidup. Apakah ini lebih baik atau lebih buruk daripada kondisi orang Britania?

Antara tahun 105 dan 109 M, Tacitus menulis Historia, yang berisi sejarah politik pada masanya, yakni antara tahun 69 hingga 96 M. Tacitus terlibat dalam politik untuk waktu yang lama, jadi dia tahu apa yang terjadi dan mengapa. Sayangnya sebagian besar dari Historia telah hilang, dan hanya bagian yang membahas tahun 69 serta tahun 70 yang tersisa.

Kemudian dimulai pada tahun 112 M dan terus berlanjut hingga dia meninggal, yaitu setelah tahun 117 M, Tacitus menulis sejarah politik sejak kematian Augustus hingag keamtian Nero (14-69 M). Ini adalah karyanya yang paling panjang dan ambisius, namun sebagiannya telah hancur. Meskipun demikian, bersama dengan karya Suetonius, karya Tacitus ini menjadi sumber terpenting mengenai sejarah dinasti Julius-Claudius.

Dalam kedua karya sejarahnya itu, Tacitus lagi-lagi menyampaikan bahwa kebebasan, bahkan dalam kemiskinan, adalah lebih berharga daripada kekayaan dalam penawanan. Dia benci ketika kaisar Romawi menguasai Senat. Dia berharap bahwa kelak Senat Romawi akan berkuasa tanpa seorang kaisar, Tacitus berpendapat bahwa kebebasan sepadan dengan perang saudara dan pertumpahan darah yang menyertainya. Namun sebagian besar orang Romawi lebih memilih menyerahkan kebebasan mereka demi rasa aman.