Sejarah Internet Indonesia/Jaringan Komputer di LAPAN

Jaringan Komputer di LAPAN

sunting

Pada awalnya LAPAN mengembangkan internet dengan Radio Link, walaupun dengan kecepatan akses yang cenderung lambat. Konsentrasi pada Radio Link ini karena biaya yang diperlukan lebih murah dibandingkan biaya link dengan line telepon, dan juga karena pada saat itu (tahun 1980-an) tidak semua orang memiliki line telepon, dan biaya sambungan melalui line telepon relative lebih mahal, berkisar antara Rp 20,000,- sampai Rp 29,000,- Radio link bisa dipergunakan beramai-ramai, dan biayanya lebih murah dibandingkan akses dengan line telephone. Selain itu, akses dengan radio link juga bisa dipergunakan di daerah-daerah yang terpencil, yang umumnya tidak menggunakan line telepon.

Proyek pengembangan sambungan internet dengan Packet Radio ini dikenal sebagai Proyek JASIPAKTA (Jaringan Komunikasi Paket Data), bekerja sama dengan BPPT, UI, dan ITB. Dalam pengerjaannya, Muhammad Ichsan dibimbing oleh Dr Rokistanki dan dengan bantuan pula dari Onno W. Purbo yang pada saat itu berkuliah di Canada untuk mendapatkan gelar PhD. Onno W. Purbo ketika itu memberi banyak informasi mengenai penggunaan jaringan komputer menggunakan radio paket.

Pada awalnya, LAPAN mengundang sejumlah akademisi dari UI dan ITB untuk Seminar Jaringan Komunikasi Data. Dalam seminar ini diketahui bahwa banyak perguruan tinggi yang belum terkoneksi dengan internet; baru sebagian yang memiliki jaringan/network local kampus seperti ITB dan UI, memang dengan menggunakan radio pada frekuensi VHF dan UHF kecepatan transfer data lambat dan banyak gangguan dalam transfer data.

Pertama kali LAPAN masih menggunakan modem dengan kecepatan 1200bps; selanjutnya speed modem meningkat ke 9600bps.