Sejarah Kekaisaran/Ayutthaya

Kerajaan Ayutthaya merupakan sebuah negara Siam di Asia Tenggara sejak tahun 1351 sampai 1767 yang berpusat di kota Ayutthaya di Thailand masa kini. Para pelancong Eropa pada awal aabd ke-16 M menyebut Kerajaan Ayutthaya sebagai salah satu dari tiga negara terbesar di Asia (bersama Vijayanagara dan Cina). Kerajaan Ayutthaya dianggap sebagai pendahulu negara Thailand modern, dan perkembangannya merupakan bagian penting dalam sejarah Thailand. Kerajaan Ayutthaya merupakan penyatuan dari tiga negara-kota maritim (Lopburi, Suphanburi dan Ayutthaya) di Lembah Chao Phraya Hilir pada akhir abad ke-13 dan 14 M. Awalnya Kerajaan Ayutthaya merupakan konfederasi maritim, yang berfokus pada Asia Tenggara Maritim pasca Sriwijaya, dan melakukan serbuan serta meminta upeti dari negara-negara maritim ini.

Lambang Kerajaan Ayutthaya (1657–1688)
Bendera Kerajaan Ayutthaya (1680–1767)

Setelah dua abad organisasi politik dari Kota-Kota Utara dan transisi dari negara pedalaman, Kerajaan Ayutthaya tersentralisasi dan menjadi salah satu negara kuat di Asia. Dari tahun 1569 sampai 1584, Kerajaan Ayutthaya menjadi negara vasal Taungoo Burma tapi dengan cepat memperoleh kembali kemerdekaan. Pada abad ke-17 dan 18 M, Kerajaan Ayutthaya bangkit sebagai tempat penting untuk perdagangan internasional, sehingga kebudayaannya berkembang. Masa pemerintahan Narai (berkuasa 1657–1688) bercirikan pengaruh dari Persia dan kemudian Eropa serta pengiriman perwakilan Siam ke istana Raja Louis XIV di Prancis pada tahun 1686. Periode akhir Kerajaan Ayutthaya ditandai berkurangnya pengaruh Perancis dan Inggris, serta meningkatnya pengaruh Cina. Masa ini digambarkan sebagai zaman kejayaan kebudayaan Siam dimana ada peningkatan dalam perdagangan dengan Cina, serta dipekenalkannya kapitalisme ke Siam. Perkembangan ini terus meluas bahkan selama berabad-abad setelah runtuhnya Kerajaan Ayutthaya.

Kerajaan Ayutthaya dan negara-negara di sekitarnya pada tahun 1540

Kegagalan Kerajaan Ayutthaya dalam menciptakan urutan pewarisan kekuasaan serta masuknya kapitalisme merusak struktur tradisional kaum elitnya dan ikatan kendali lama atas tenaga kerja yang membentuk militer dan lembaga pemerintah kerajaan. Pada pertengahan abad ke-18, dinasti Konbaung dari Burma menyerbu Ayutthaya pada 1759–1760 dan 1765–1767. Pada April 1767, setelah pengepungan selama 14 bulan, kota Ayutthaya ditaklukan oleh pasukan Burma dan sepenuhnya dihancurleburkan, sehingga berakhirlah Kerajaan Ayutthaya setelah 417 tahun. Namun Siam bangkit dengan cepat dari keruntuhan ini. Pusat pemerintahan Siam dipindahkan ke Thonburi-Bangkok selama lima belas tahun berikutnya.

Pagoda Wat Phra Si Sanphet yang menjadi tempat beberapa jenazah raja Ayutthaya

Di negara-negara asing, Kerajaan Ayutthaya disebut "Siam", tapi penduduk Kerajaan Ayutthaya sendiri menyebut diri mereka sebagai orang Tai, dan kerajaan mereka dengan nama Krung Tai ("negara Tai"). Sedangkan ibukota Kerajaan Ayutthaya secara resmi bernama Krung Thep Dvaravati Si Ayutthaya


[Kategori:Sejarah Kekaisaran]]