Sejarah Kekaisaran/Romawi Timur

Kekaisaran Bizantium adalah Kekaisaran Romawi pada masa Antikuitas Akhir dan Abad Pertengahan. Bizantium beribukota di Konstantinopel. Negara ini disebut juga Kekaisaran Romawi Timur, terutama dalam konteks Antikuitas Akhir, dan khususnya ketika Kekaisaran Romawi Barat masih berdiri. Pada masanya, negara ini disebut "Kekaisaran Romawi" saja;[1] atau Romania dan merupakan keberlanjutan langsung dari negara Romawi, menjaga tradisi negara Romawi.[2][3][4][5][6][7][8][9] Setelah Kekaisaran Romawi Barat terpecah dan runtuh pada abad ke-5, Kekaisaran Romawi Timur terus berkembang, mampu terus berdiri hingga lebih dari seribu tahun lagi hingga 1453. Pada sebagian besar masa berdirinya, kekaisaran ini menjadi kekuatan ekonomi, politik, dan militer di Eropa.

Bendera Dinasti Palailogos, dinasti terakhir Kekaisaran Bizantium
Elang berkepala dua, lambang Dinasti Palailogos
Patung kepala Kaisar Constantinus I, yang memindahkan ibukota Kekaisaran Romawi Timur dari Nikomedia ke Konstantinopel

Karena pembedaan antara "Romawi" dan "Bizantium" baru ada pada masa modern, tidak mungkin menetapkan tanggal pasti untuk peralihannya. Akan tetapi, ada beberapa tanggal yagg penting. Pada 285, Kaisar Diocletianus (berkuasa. 284–305) membagi pemerintahan Kekaisaran Romawi menjadi paruh timur dan barat.[10] Pada 324, Kaisar Constantinus I (berkuasa 306–337) memindahkan ibukota kekaisaran timur dari Nikomedia di Asia Kecil ke Bizantium di Eropa di Bosporus, yang namanya diganti menjadi Konstantinopel, bermakna "Kota Constantinus" atau disebut juga "Roma Baru".[11] Periode akhir peralihan dimulai pada akhir pemerintahan Kaisar Heraclius (berkuasa 610–641) ketika dia sepenuhnya mengubah kekaisaran dnegan mereformasi pasukan dan pemerintahan dengan memperkenalkan theme dan mengganti bahasa resmi kekaisaran dari Latin menjadi Yunani.[12][13][14] Peralihan ini juga dipermudah oleh fakta bahwa pada masa Heraclius dan para penerus terdekatnya, banyak wilayah non-Yunani di Timur Tengah dan Afrika Utara yang telah direbut oleh Kekhalifahan Arab yang sedang berkembang, dan Kekaisaran Bizantium hanya meliputi wilayah yang sebagian besar dihuni oleh penutur bahasa Yunani. Maka dari itu pada masa kini Bizantium dibedakan dari Romawi kuno berdasarkan kebudayaannya yang lebih mengarah pada kebudayaan Yunani, ditandai oleh Kristen Ortodoks sebagai agama negara setelah tahun 380, dan bukannya Katolik, serta lebih banyak ditinggali oleh penutur bahasa Yunani alih-alih penutur bahasa Latin.[2]

Mosaik Kaisar Justinianus I, yang membawa Kekaisaran Romawi Timur mencapai wilayah terluasnya

Pada masa pemerintahan Justinianus I (berkuasa 527–565), Bizantium menaklukan kembali banyak wilayah di pesisir Mediterania barat, termasuk Afrika utara, Italia, dan Roma, yang kemudian dikuasai oleh Bizantium selama dua abad. Pada pertengahan abad ke-6, Wabah Justinianus menewaskan sepertiga penduduk kekaisaran, menciptakan permasalahan militer dan keuangan yang besar. Meskipun demikian, pada masa pemerintahan Kaisar Mauricius (berkuasa 582–602), perbatasan timur kekaisaran meluas dan perbatasan utaranya distabilkan. Akan tetapi, terbunuhnya Mauricius pada tahun 602 menyebabkan perang selama dua dekade dengan Persia Sasan yang, meskipun Bizantium memperoleh kemenangan besar di bawah Kaisar Heraclius, menghabiskan sumber daya dan tenaga manusia di Bizantium, berakibat pada kekalahan-kekalahan besar dan hilangnya banyak wilayah dalam Perang bizantium-Arab pada abad ke-7. Meskipun mengalami kemunduran, Bizantium pulih kembali pada abad ke-10 di bawah dinasti Makedonia, bangkit kembali dan menjadi negara terkuat di Eropa dan Mediterania.

Prajurit Bizantium

Akan tetapi, setelah tahun 1071, sebagian besar Asia Kecil, yang merupakan wilayah inti Bizantium, direbut oleh bangsa Turk Seljuk. Restorasi Komnenos berhasil memperoleh kembali beberapa wilayah dan sempat menetapkan kembali dominasi pada abad ke-12, tapi setelah meninggalnya Kaisar Manuel I Komnenos (berkuasa 1143–1180) dan berakhirnya dinasti Komnenos pada akhir abad ke-12, Bizantium mulai mengalami kemunduran lagi. Bizantium menderita hantaman berat pada tahun 1204 pada Perang Salib Keempat, kerika Komstantinopel dijarah dan kekaisaran ini dibagi-bagi menjadi beberapa negara Yunani dan Latin Bizantium yang saling bersaing.

Meskipun Konstantinopel berhasil pulih dan mendirikan ulang Kekaisaran pada tahun 1261, di bawah para kaisar Palailogos, Bizantium kemudian hanya menjadi satu dari banyak negara saingan di daerah tersebut selama dua abad terakhirnya keberlangsungannya. Akan tetapi, periode ini merupakan masa yang secara kebudayaan paling produktif di Bizantium.[15] Perang saudara yang berkelanjutan pada abad ke-14 semakin melemahkan Bizantium, dan sebagian besar wilayahnya yang tersisa mulai lepas pada Perang Bizantium-Utsmaniyah, yang memuncak pada Kejatuhan Konstantinopel pada 1453 dan penaklukan sisa-sisa wilayah Bizantium yang tersisa oleh Kesultanan Utsmaniyah pada abad ke-15.

Ibukota Bizantium, Konstantinopel, pada masa Bizantium
Wilayah terluas Bizantium di bawah Kaisar Justinianus I, pada tahun 555

Catatan kakiSunting

  1. Kazhdan & Epstein 1985, hal. 1.
  2. 2,0 2,1 Millar 2006
  3. James 2010, hal. 5
  4. Freeman 1999, hal. 431, 435–437, 459–462
  5. Baynes & Moss 1948, "Introduction", p. xx
  6. Ostrogorsky 1969, hal. 27
  7. Kaldellis 2007, hal. 2–3
  8. Kazhdan & Constable 1982, hal. 12
  9. Norwich 1998, hal. 383.
  10. Treadgold 1997, hal. 847.
  11. Benz 1963, hal. 176
  12. Ostrogorsky 1969, hal. 105–107, 109
  13. Norwich 1998, hal. 97
  14. Haywood 2001, hal. 2.17, 3.06, 3.15.
  15. Cameron 2009, hal. 221.

RujukanSunting