Sejarah Sumatra (Marsden)/Bab 15


Kebiasaan Mengunyah Sirih


Whether to blunt the edge of painful reflection, or owing to an aversion our natures have to total inaction, most nations have been addicted to the practice of enjoying by mastication or otherwise the flavour of substances possessing an inebriating quality. The South Americans chew the cocoa and mambee, and the eastern people the betel and areca, or, as they are called in the Malay language, sirih and pinang. This custom has been accurately described by various writers, and therefore it is almost superfluous to say more on the subject than that the Sumatrans universally use it, carry the ingredients constantly about them, and serve it to their guests on all occasions--the prince in a gold stand, and the poor man in a brass box or mat bag. The betel-stands of the better rank of people are usually of silver embossed with rude figures. The Sultan of Moco-moco was presented with one by the India Company, with their arms on it; and he possesses beside another of gold filigree. The form of the stand is the frustum of a hexagonal pyramid reversed, about six or eight inches in diameter. It contains many smaller vessels fitted to the angles, for holding the nut, leaf, and chunam, which is quicklime made from calcined shells; with places for the instruments (kachip) employed in cutting the first, and spatulas for spreading the last.

When the first salutation is over, which consists in bending the body, and the inferior's putting his joined hands between those of the superior, and then lifting them to his forehead, the betel is presented as a token of hospitality and an act of politeness. To omit it on the one hand or to reject it on the other would be an affront; as it would be likewise in a person of subordinate rank to address a great man without the precaution of chewing it before he spoke. All the preparation consists in spreading on the sirih leaf a small quantity of the chunam and folding it up with a slice of the pinang nut. Some mix with these gambir, which is a substance prepared from the leaves of a tree of that name by boiling their juices to a consistence, and made up into little balls or squares, as before spoken of: tobacco is likewise added, which is shred fine for the purpose, and carried between the lip and upper row of teeth. From the mastication of the first three proceeds a juice which tinges the saliva of a bright red, and which the leaf and nut, without the chunam, will not yield. This hue being communicated to the mouth and lips is esteemed ornamental; and an agreeable flavour is imparted to the breath. The juice is usually (after the first fermentation produced by the lime) though not always swallowed by the chewers of betel. We might reasonably suppose that its active qualities would injure the coats of the stomach, but experience seems to disprove such a consequence. It is common to see the teeth of elderly persons stand loose in the gums, which is probably the effect of this custom, but I do not think that it affects the soundness of the teeth themselves. Children begin to chew betel very young, and yet their teeth are always beautifully white till pains are taken to disfigure them by filing and staining them black. To persons who are not habituated to the composition it causes a strong giddiness, astringes and excoriates the tongue and fauces, and deadens for a time the faculty of taste. During the puasa, or fast of ramadan, the Mahometans among them abstain from the use of betel whilst the sun continues above the horizon; but excepting at this season it is the constant luxury of both sexes from an early period of childhood, till, becoming toothless, they are reduced to the necessity of having the ingredients previously reduced to a paste for them, that without further effort the betel may dissolve in the mouth. Along with the betel, and generally in the chunam, is the mode of conveying philtres, or love charms. How far they prove effectual I cannot take upon me to say, but suppose that they are of the nature of our stimulant medicines, and that the direction of the passion is of course indiscriminate. The practice of administering poison in this manner is not followed in latter times; but that the idea is not so far eradicated as entirely to prevent suspicion appears from this circumstance, that the guest, though taking a leaf from the betel-service of his entertainer, not unfrequently applies to it his own chunam, and never omits to pass the former between his thumb and forefinger in order to wipe off any extraneous matter. This mistrustful procedure is so common as not to give offence.



Disamping cara sebelumnya-disebutkan menikmati rasa tembakau juga dihisap oleh penduduk asli dan untuk kegunaannya--setelah mematangkannya sempurna dalam keadaan hijau dan mengeringkannya sesambil memutarnya pada dedaunan tipis dari sebuah pohon, dan menciptakan bentuk yang disebut roko, sebuah kata yang nampaknya diambil dari bahasa Belanda. Roko dibawa dalam kotak sirih, atau lebih umum di bawah destar atau kerajinan tangan yang, dalam peniruan turband, mengelilingi kepala. Kebanyakan tembakau nampaknya diimpor dari Tiongkok dan dijual dengan harga tinggi. Ini nampak lebih menjual ketimbang tanaman Sumatra, yang orang-orang tanap untuk mereka pakai sendiri di bagian-bagian pedalaman pulau tersebut.



Kebiasaan mengirim persembahan simbolis dalam rangka memberitahukan, dalam cara diam-diam, skelahiran, perjuangan, atau bertukar pemikiran tertentu, dilakukan disini, seperti di beberapa belahan Timur lainnya; dan tak hanya bunga-bungaan dari berbagai jenis yang memiliki pengartian mereka, namun juga cabai cayenne, daun sirih, garam, dan bahan lain yang dipahami untuk melambangkan cinta, kecemburuan, pemberian, kebencian dan perasaan kuat lainnya.



Orang-orang Sumatra pada umumnya adalah jurubicara yang bagus. Karunia berpidato dipandang alamiah bagi mereka. Aku mengetahui beberapa dari mereka yang handal berpidato yang aku simak dengan kesenangan dan kekaguman. Ini mungkin dilakukan dari konstitusi pemerintah mereka, yang sangat jauh dari despotisme nampak membuat kagum, dalam beberapa tingkatan, setiap anggota masyarakat untuk berbagi deliberasi publik. Ketika dukungan pribadi, seperti yang teramati, akan sing timbul orang menonjol dalam pengaruh masyarakat, petinggi yang menjadi pemimpin simbolis, terdapat pembelajaran mutlak untuk pengasahan bakat-bakat bernilai tersebut. Bentuk semacam penindakan yudisial mereka, dimana tak ada advokat yang diangkat dan setiap orang bergantong pada kemampuan temannya untuk mengurusi kepentingan mereka, kebanyakan keraguan berkontribusi pada rangkaian kebiasaan mereka. Mereka menambahkan konjektur tersebut pada ranah perilaku domestik mereka, yang memperkenalkan putra-putra pada masa hidup awal dalam usaha keluarga, dan pengasuh lansia merekas. Sedikit dari mereka yang memiliki kegemaran untuk olahraga kekanak-kanakan yang menandai karakter pemuda-pemuda mereka dari usia tujuh sampai empat belas tahun. Di Sumatra, kamu dapat mengamati para bayi, yang tidak mencapai usia awal, dipakaikan busana penuh dan dipersenjatai dengan keris, duduk di lingkaran pria tua dari dusun, dan menghadiri debat mereka dengan pendampingan yang tak dilampaui oleh kakek-kakek mereka. Sehingga menginisiasikan mereka terkualifikasi untuk memberikan opini pada masyarakat pada masa hidup ketika seorang pelajar Inggris dapat kembali menjawab pertanyaan terhadap batas-batas tata bahasa atau sintaksnya, yang mereka pelajari berturut-turut . Tak sedikit yang tak tercatat bahwa masyarakat ini, yang melakukan seni berpidato dalam tingkat tinggi semacam itu, dan membuktikan diri mereka sendiri atas pencapaiannya, harus mengambil banyak luka untuk menghancurkan organ-organ pidato dalam mengisi dan lainnya mengotorkan gigi mereka; dan nampaknya mengadopsi praktek memenuhi mulut mereka dengan sihir ketika mereka bersiap untuk melakukannya. Kami harus menyimbulkan bahwa ini bukanlah karunia yang mereka nilai dari seorang orator, namun penanganan kesenian dan hukumnya dari bahan subyek tersebut; bersama dengan penyalinan frase, menunjang pemikiran, aransemen maju dan kesiapan, khususnya, pada kesulitan dan intrik dari gaya mereka.



The curse entailed on women in the article of child-bearing does not fall so heavy in this as in the northern countries. Their pregnancy scarcely at any period prevents their attendance on the ordinary domestic duties; and usually within a few hours after their delivery they walk to the bathing-place, at a small distance from the house. The presence of a sage femme is often esteemed superfluous. The facility of parturition may probably be owing to the relaxation of the frame from the warmth of the climate; to which cause also may be attributed the paucity of children borne by the Sumatran women and the early decay of their beauty and strength. They have the tokens of old age at a season of life when European women have not passed their prime. They are like the fruits of the country, soon ripe and soon decayed. They bear children before fifteen, are generally past it at thirty, and grey-headed and shrivelled at forty. I do not recollect hearing of any woman who had six children except the wife of Raddin of Madura, who had more; and she, contrary to the universal custom, did not give suck to hers.



Para ibu tak membawa anak dengan tangan, seperti yang dilakukan perawat kami, namun menyandarkannya di panggul, dan biasanya didukung oleh kain yang diikat dengan ikatan pada pundak sebelahnya. Praktek tersebut dapat dikatakan umum di beberapa bagian Wales. Ini lebih anak ketimbang metode lain, mengurangi kelelahan bagi perawat, dan anak tersebut didudukan dalam gaya yang kurang melelahkan: namun zirah pertahanan dipakai, dan senjata tempur yang disebut jarum, menjadi beberapa pertentangan dengan pengenalan fesyen umum di Inggris. Anak-anak dirawat namun jarang, tidak dipakaikan bedong atau perban, dan, dibiarkan berguling di lantai, kemudian diajarkan berjalan dan menggerakkan diri mereka sendiri.Ketika keranjang bayi dipakai, mereka mengayunkannya dari langit-langit ruangan.



The country people can very seldom give an account of their age, being entirely without any species of chronology. Among those country people who profess themselves Mahometans to very few is the date of the Hejra known; and even of those who in their writings make use of it not one in ten can pronounce in what year of it he was born. After a few taun padi (harvests) are elapsed they are bewildered in regard to the date of an event, and only guess at it from some contemporary circumstance of notoriety, as the appointment of a particular dupati, the incursion of a certain enemy, or the like. As far as can be judged from observation it would seem that not a great proportion of the men attain to the age of fifty, and sixty years is accounted a long life.

Anak-anak Rejang umumnya memiliki nama yang diberikan kepada mereka oleh orangtua mereka tak lama setelah kelahiran mereka, yang disebut namo daging. Galar (cognomen), jenis nama lainnya, atau gelar, karena kami keliru menerjemahkannya, dipakai berkelanjutan, namun tak pada waktu tertentu: terkadang sebagai panggilan masa dewasa, saat penghiburan yang diberikan oleh orangtua, pada beberapa kesempatan tertentu; dan biasanya pada pernikahan mereka. Nama tersebut umumnya diberikan oleh tetua dari desa-desa tetangga, ketika berkumpul; namun contoh yang terjadi tak biasa dilakukan oleh orang-orang itu sendiri; dan beberapa orang tak pernah menerima galar apapun. Kebiasaan tersebut juga merupakan hal lazim, di sebuah pertemuan yang diadakan untuk bisnis pengaruh, untuk mengganti galar satu atau dua orang penting ke para petinggi lainnya; meskipun tidak muda menemukan hal tersebut lebih dini, penerapannya secara keseluruhan bersifat arbitrer, atas keinginan orang-orang yang menganugerahkannya: mungkin dengan suara sopan, atau alusi yang lebih tinggi dalam esensi tersebut, yang terkadang dilakukan pada nada bombastis yang luar biasa, seperti contohnya Pengunchang bumi, atau Pengguncang Dunia, gelar pangeran Manna. Namun, klimaksnya tak selalu terlihat dalam perubahan.



Ayah, di banyak belahan negara tersebut, terutama di Passummah, dibedakan berdasarkan pada nama anak sulungnya, seperti Pa-Ladin, atau Pa-Rindu (Pa untuk bapa, yang artinya ayah), dan kehilangan namanya sendiri yang sebenarnya. Ini adalah kebiasaan tunggal, dan kurang sesuai dengan tatanan alami alih-alih menamakan putra dari ayah. Disana, memberikan galar kepada mereka bukanlah hal lazim pernikahan mereka, seperti halnya orang-orang Rejang, yang memandang filionimik bukanlah hal yang sangat umum, meskipun terkadang dipaaki, dan terkadang digabungkan dengan galar; contohnya Radin-pa-Chirano. Wanita tak pernah mengubah nama yang diberikan kepada mereka pada masa kelahiran mereka; sehingga seringkali mereka disebut, secara terhormat, dari putra sulung mereka, Ma-si-ano, ibu dari orang semacam itu; namun lebih bersifat santun ketimbang sebuah nama. Kata atau panggilan Si diawali dengan nama-nama lahir orang, yang bahkan nyaris hanya terdiri dari sebuah kata tunggal, seperti Si Bintang, Si Tolong; dan mereka ditemukan dari perjalanan Kapten Forrest yang di Mindanao bayi putra Raja Muda dinamai Se Mama.



A Sumatran ever scrupulously abstains from pronouncing his own name; not as I understand from any motive of superstition, but merely as a punctilio in manners. It occasions him infinite embarrassment when a stranger, unacquainted with their customs, requires it of him. As soon as he recovers from his confusion he solicits the interposition of his neighbour.



Ia tak pernah menyebutkan penyebutan orang kecuali, kecuali dalam kasus petinggi yang mendiktekan bawahannya, namun selalu pada orang ketiga; memakai nama atau gelarnya alih-alih panggilan; dan ketika tak diketahui, gelar kehormatan umum dijadikan gantinya, dan mereka berkata, contohnya, apa orang kaya punia suka, apa kesenangan kehormatannya untuk apa kesenanganmu, atau kesenangan kehormatanmu? Ketika penjahat atau orang-orang tercela lainnya diberi sebutan pribadi kau (sebuah kependekan dari kata angkau) terutama ekspresif perhatian. Gagasan ketidakhormatan ditujukan kepada pemakaian orang kedua dalam perbincangan, meskipun sulit untuk mencatatnya, yang nampak sangat umum di dunia. Untuk menghindari kesalahpahaman, orang-orang Eropa mengganti bilangan tunggal untuk jamak; namun aku pikir adalah kurangnya ketonjolan dampak ketimbang gaya Asiatik; jika diambil dari sebutan kasar yang ditujukan kepada suatu hal.

Anak laki-laki disunat, sesuai dengan kebiasaan Mahometanisme, antara usia enam dan sepuluh tahun. Upacara tersebut disebut krat kulop dan buang atau lepas malu, dan bimbang biasanya diberikan pada upacara tersebut; serta upacara melubangi telinga dan mengikir gigi anak-anak perempuan (sebelum dideskripsikan), yang dilakukan pada usia sekitar sepuluh atau dua belas tahun; dan sampai usia tersebut menunjukkan bahwa mereka tak dapat menikah.



At their funerals the corpse is carried to the place of interment on a broad plank, which is kept for the public service of the dusun, and lasts for many generations. It is constantly rubbed with lime, either to preserve it from decay or to keep it pure. No coffin is made use of; the body being simply wrapped in white cloth, particularly of the sort called hummums. In forming the grave (kubur), after digging to a convenient depth they make a cavity in the side, at bottom, of sufficient dimensions to contain the body, which is there deposited on its right side. By this mode the earth literally lies light upon it; and the cavity, after strewing flowers in it, they stop up by two boards fastened angularly to each other, so that the one is on the top of the corpse, whilst the other defends it on the open side, the edge resting on the bottom of the grave. The outer excavation is then filled up with earth, and little white flags or streamers are stuck in order around. They likewise plant a shrub, bearing a white flower, called kumbang­kamboja (Plumeria obtusa), and in some places wild marjoram. The women who attend the funeral make a hideous noise, not much unlike the Irish howl. On the third and seventh day the relations perform a ceremony at the grave, and at the end of twelve months that of tegga batu, or setting up a few long elliptical stones at the head and foot, which, being scarce in some parts of the country, bear a considerable price. On this occasion they kill and feast on a buffalo, and leave the head to decay on the spot as a token of the honour they have done to the deceased, in eating to his memory.* The ancient burying-places are called krammat, and are supposed to have been those of the holy men by whom their ancestors were converted to the faith. They are held in extraordinary reverence, and the least disturbance or violation of the ground, though all traces of the graves be obliterated, is regarded as an unpardonable sacrilege.

(*Footnote. The above ceremonies (with the exception of the last) are briefly described in the following lines, extracted from a Malayan poem. Setelah sudah de tangisi, nia Lalu de kubur de tanamkan 'nia De ambel koran de ajikan 'nia Sopaya lepas deri sangsara 'nia Mengaji de kubur tujuh ari Setelah de khatam tiga kali Sudah de tegga batu sakali Membayer utang pada si-mati.)

Dalam pengerjaan deskriptif dari perilaku masuaralat sedikit yang diketahui dunia soal catatan agama mereka yang biasanya menjadi bagian dari pengaruh pertama. Kehendak berharga bekerja dalam kemajuan sebaliknya. Agama kuno dan asli Rejang, jika pada kenyataannya pernah ada, kini berakar; dan apa yang diutamakan ditambahkan pada ketidakjelasannya, dan kesulitan mendapatkan informasi tentang subyek tersebut, bahkan orang-orang di antara mereka yang tak diinisiasikan dalam prinsip-prinsip Mahometanisme sehingga selaras dengan orang-orang yang miliki sebagaimana halnyaorang-orang memajukan langkah dalam pengetahuan atas mereka, dan sehingga menimbulkan keadaan tersendiri bahwa mereka masih tak tercerahkan. Upacara-upacara tertuju pada umat manusia, dan tanpa memandang apa yang mereka pandang menghimpun profanum vulgus secara alami memberikan mereka peran untuk beberapa hal misterius dan di luar kemampuan mereka, dan dianggap membayarkan hadiah kehormatan kepada mereka. Dengan Mahometanisme, bidang pengetahuan yang lebih luas (aku katakan dalam perbandingan) terbuka pada orang-orang yang memeluknya, dan beberapa catatan ilmu tambahan disertakan. Ini membantu memberikannya pengaruh, namun harus diauki bahwa mereka tidaklah sangat murni dalam hal agama yang menemukan cara mereka sampai Sumatra; maupun bahwa bagian-bagian seremonial sangat melekat dalam mengikutinya. Kebanyakan orang yang memutuskan untuk mengikutinya memberikan diri mereka sendiri tak setidaknya perhatian terhadap persinggungannya, atau bahkan mengetahui apa yang mereka wajibkan. Seorang Melayu di Manna mendatangi orang daerah dengan penghirauan penuh terhadap agama yang tersebar pada bangsanya. "Kamu melakukan penyembahan terhadap pemakaman leluhurmu: apa dasar yang kau miliki untuk menjunjung leluhurmu yang meninggal dapat memberikanmu bantuan?" "Ini mungkin benar," jawab lainnya, "namun apa dasarmu untuk meminta bantuan dari Allah dan Mahomet?" "Apakah kau tak sadar, jawab Melayu, apa yang ditulis dalam Kitab? Apa kau tak mendengar al-Qur'an?" Orang-orang asli Passummah, yang sadar akan kerendahannya, mengajukan unsur dari argumen ini.

Jika agama artinya adalah bentuk pemujaan umum atau pribadi dari jenis apapun, dan jika doa, upacara, pertemuan, persembahan, gambar atau imam adalah hal yang mereka butuhkan untuk mengikutinya, aku dapat menyatakan bahwa orang-orang Rejang sepenuhnya tanpa agama dan tak dapat sepenuhnya dianggap sebagai pagan, seperti yang aku amati, jika mengikuti gagasan pemujaan keliru. Mereka memuja Tuhan, iblis maupun berhala. Namun, mereka bukannya tanpa kepercayaan tertinggi dari banyak jenis, dan memiliki pernyataan pengakuan iman, meskipun mungkin dibawa dari interaksi dengan orang lain, dari beberapa jenis hal paripurna yang memiliki kekuatan yang membuat diri mereka sendiri terlihat atau tak terlihat dalam kesenangan. Disana, mereka disebut orang alus, makhluk halus, atau samar, dan memandang mereka menghimpun pengetahuan soal perilaku yang baik atau buruk, meredakan kemarahan mereka dalam hal kesialan yang terjadi atau menunjukkan masa depan yang selaras dalam pemikiran mereka. Namun kapan mereka membicarakan yang mereka sebut dengan sebutan maleikat dan jin, yang merupakan para malaikat dan roh-roh jahat dalam bahasa Arab, dan gagasan yang mungkin diambil pada masa yang sama dengan nama-nama tersebut. Hal tersebut adalah kekuatan yang juga mereka sebut dalam sumpah. Aku mendengar seorang dupati berkata, "Kakekku memegang sumpah agar aku tak akan menuntut jujur dari wanita tersebut, dan menerima kutukan terhadap para keturunannya yang melakukannya: Aku tak pernah memiliki, maupun dapat benar-benar bersih dari salah kapada maleikat--sebuah tawaran melawan para malaikat." Sehingga mereka juga berkata, de talong nabi, maleikat, nabi dan para malaikat yang membantu. Ini adalah Mahometanisme murni.



Bukti paling jelas menyatakan bahwa mereka tak pernah memegang gagasan Teisme atau keyakinan akan satu kekuatan terbesar yang tidak ada istilahnya dalam bahasa mereka untuk menyebut sosok Tuhan, kecuali Allah tala oleh Melayu, yang disalahsebutkan oleh mereka menjadi Ulah tallo. Sehingga ketika ditanyakan tentang hal tersebut mereka menganggap pengetahuan mereka soal tuhan berasal dari leluhur mereka, meskipun pemikiran-pemikiran mereka tak pernah menyinggung tentangnya; namun ini tak menandakan bahwa para leluhur mereka serta mereka sendiri telah mendengar Allah Mahometan (Allah orang islam).



They use, both in Rejang and Passummah, the word dewa to express a superior invisible class of beings; but each country acknowledges it to be of foreign derivation, and they suppose it Javanese. Radin, of Madura, an island close to Java, who was well conversant with the religious opinions of most nations, asserted to me that dewa was an original word of that country for a superior being, which the Javans of the interior believed in, but with regard to whom they used no ceremonies or forms of worship:* that they had some idea of a future life, but not as a state of retribution, conceiving immortality to be the lot of rich rather than of good men. I recollect that an inhabitant of one of the islands farther eastward observed to me, with great simplicity, that only great men went to the skies; how should poor men find admittance there? The Sumatrans, where untinctured with Mahometanism, do not appear to have any notion of a future state. Their conception of virtue or vice extends no farther than to the immediate effect of actions to the benefit or prejudice of society, and all such as tend not to either of these ends are in their estimation perfectly indifferent.

(*Footnote. In the Transactions of the Batavian Society Volumes 1 and 3 is to be found a History of these Dewas of the Javans, translated from an original manuscript. The mythology is childish and incoherent. The Dutch commentator supposes them to have been a race of men held sacred, forming a species of Hierarchy, like the government of the Lamas in Tartary.)

Notwithstanding what is asserted of the originality of the word dewa, I cannot help remarking its extreme affinity to the Persian word div or diw, which signifies an evil spirit or bad genius. Perhaps, long antecedent to the introduction of the faith of the khalifs among the eastern people, this word might have found its way and been naturalized in the islands; or perhaps its progress was in a contrary direction. It has likewise a connexion in sound with the names used to express a deity or some degree of superior being by many other people of this region of the earth. The Battas, inhabitants of the northern end of Sumatra, whom I shall describe hereafter, use the word daibattah or daivattah; the Chingalese of Ceylon dewiju, the Telingas of India dai-wundu, the Biajus of Borneo dewattah, the Papuas of New Guinea 'wat, and the Pampangos of the Philippines diuata. It bears likewise an affinity (perhaps accidental) to the deus and deitas of the Romans.*

(*Footnote. At the period when the above was written I was little aware of the intimate connexion now well understood to have anciently subsisted between the Hindus and the various nations beyond the Ganges. The most evident proofs appear of the extensive dissemination both of their language and mythology throughout Sumatra, Java, Balli (where at this day they are best preserved), and the other eastern islands. To the Sanskrit words dewa and dewata, signifying divinities in that great mother-tongue, we are therefore to look for the source of the terms, more or less corrupted, that have been mentioned in the text. See Asiatic Researches Volume 4 page 223.)



Penjunjungan tang memiliki pengaruh terkuat pada pikiran orang-orang Sumatra, dan yang paling mendekati unsur agama, adalah dorongan mereka untuk memuliakan, nyaris pada titik pemujaan, terhadap makam-makam dan jiwa-jiwa almarhum leluhur mereka (nenek puyang). Hal tersebut dilakukan oleh mereka secara kuat seperti kehidupannya sendiri, dan mendorong mereka untuk menghilangkan krammat dari wilayah mereka seperti menumbangkan pohon sampai ke akar-akarnya; ini dianggap utama oleh orang-orang daerah yang paling asli, ketika mereka memegang sumpah tunggal, dan sampai sini mereka melakukannya dalam contoh-contoh bencana mendadak. Mereka memiliki kesenian membuat gambar atau perwakilan lain dari mereka yang akan mereka jadikan para dewa besar, pengampun atau rumah tangga. Hal ini membuatku menganggap bahwa para penduduk asli (selaras dengan apa yang mereka katakan oleh beberapa penjelajah awal) bahwa pada masa yang sangat kuno, orang-orang Sumatra melakukan praktek pembakaran jasad terhadap orang-orang mati, namun aku tak pernah dapat menemukan jejak kebiasaan apapun, atau keadaan apapun yang menyiratkannya.



They have an imperfect notion of a metempsychosis, but not in any degree systematic, nor considered as an article of religious faith. Popular stories prevail amongst them of such a particular man being changed into a tiger or other beast. They seem to think indeed that tigers in general are actuated with the spirits of departed men, and no consideration will prevail on a countryman to catch or to wound one but in self-defence, or immediately after the act of destroying a friend or relation. They speak of them with a degree of awe, and hesitate to call them by their common name (rimau or machang), terming them respectfully satwa (the wild animals), or even nenek (ancestors), as really believing them such, or by way of soothing and coaxing them; as our ignorant country folk call the fairies the good people. When a European procures traps to be set, by the means of persons less superstitious, the inhabitants of the neighbourhood have been known to go at night to the place and practise some forms in order to persuade the animal, when caught, or when he shall perceive the bait, that it was not laid by them, or with their consent. They talk of a place in the country where the tigers have a court and maintain a regular form of government, in towns, the houses of which are thatched with women's hair. It happened that in one month seven or eight people were killed by these prowling beasts in Manna district; upon which a report became current that fifteen hundred of them were come down from Passummah, of which number four were without understanding (gila), and having separated from the rest ran about the country occasioning all the mischief that was felt. The alligators also are highly destructive, owing to the constant practice of bathing in the rivers, and are regarded with nearly the same degree of religious terror. Fear is the parent of superstition, by ignorance. Those two animals prove the Sumatran's greatest scourge. The mischief the former commit is incredible, whole villages being often depopulated by them, and the suffering people learn to reverence as supernatural effects the furious ravages of an enemy they have not resolution to oppose.

The Sumatrans are firmly persuaded that various particular persons are what they term betuah (sacred, impassive, invulnerable, not liable to accident), and this quality they sometimes extend to things inanimate, as ships and boats. Such an opinion, which we should suppose every man might have an opportunity of bringing to the test of truth, affords a humiliating proof of the weakness and credulity of human nature, and the fallibility of testimony, when a film of prejudice obscures the light of the understanding. I have known two men, whose honesty, good faith, and reasonableness in the general concerns of life were well established, and whose assertions would have weight in transactions of consequence: these men I have heard maintain, with the most deliberate confidence and an appearance of inward conviction of their own sincerity, that they had more than once in the course of their wars attempted to run their weapons into the naked body of their adversary, which they found impenetrable, their points being continually and miraculously turned without any effort on the part of the orang betuah: and that hundreds of instances of the like nature, where the invulnerable man did not possess the smallest natural means of opposition, had come within their observation. An English officer, with more courage and humour than discretion, exposed one imposture of this kind. A man having boasted in his presence that he was endowed with this supernatural privilege, the officer took an opportunity of applying to his arm the point of a sword and drew the blood, to the no little diversion of the spectators, and mortification of the pretender to superior gifts, who vowed revenge, and would have taken it had not means been used to keep him at a distance. But a single detection of charlatanerie is not effectual to destroy a prevalent superstition. These impostors are usually found among the Malays and not the more simple country people.



Sepanjang yang aku pikirkan, tak ada upaya yang dibuat oleh misionaris atau pihak lainnya untuk memasukkan para penduduk pulau tersebut ke agama Kristen, dan aku sangat ragu apakah bisa dan dapat menuai kesuksesan dalam pewartaan tersebut. Dari sekitar ribuan orang yang dibaptis di kepulauan timur oleh Fransiskus Xaverius pada abad keenam belas bukanlah salah satu keturunan mereka yang kini ditemukan menetap di serangkaian wilayah yang kami lalui; dan mungkin, karena hanya dan bukan keputusan yang memasukkan orang-orang percaya awal untuk memeluh keyakinan baru, penekanan tersebut tak lebih dari sentimen yang direkomendasikannya, dan menghilang dengan cepat karena pewarta itu mengembara. Namun di bawah pengaruh pemerintahan Spanyol di Manila dan Belanda di Batavia, terdapat banyak umat Kristen asli, yang terdidik semenjak kanak-kanak. Dalam bahasa Melayu, Portugis dan Kristen disebut dengan nama umum yang sama; Portugis disebut orang Zerani, yang merupakan kesalahan penyebutan dari kata Nazerani. Ini menandakan misi-misi ke Sumatra adalah satu sebab bahwa bagian dalam negara tersebut sangat sedikit yang diketahui pada dunia berperadaban.