Selain barang-barang dagang yang diatur menurut jenis sayuran, Sumatra menghasilkan banyak barang lainnya, utamanya adalah emas. Logam berharga tersebut banyak ditemukan di bagian tengan pulau tersebut; tak ada (atau dengan sedikit pengecualian) teramati pada bagian selatan Limun, anak Sungai Jambi, maupun bagian utara Nalabu, yang utamanya disediakan pada pelabuhan Achin. Menangkabau seringkali memperkirakan kedudukan terkaya darinya; dan penonjolan ini mungkin mempengaruhi Belanda untuk mendirikan pabrik utama mereka di Padang, di wilayah yang berdekatan dengan kerajaan tersebut. Koloni-koloni Me;ayu dari sana memukimkan diri mereka sendiri di nyaris seluruh distrik yang mengolah emas, dan nampaknya hanya orang-orang yang menggalinya dalam penambangan, atau mengumpulkannya di aliran-aliran sungai; para penduduk yang sebenarnya atau warga desa mengarahkan perhatian mereka pada peningkatan tujuan tersebut, dengan mereka suplai ke orang-orang yang mencari logam tersebut. Hal semacam itu setidaknya nampak pada kasus di Limun, Batang Asei, dan Pakalang jambu, tempat perdagangan emas dilakukan.

Emas umumnya diketahui di pemukiman Inggris diambil dari dasar sungai, atau dari bantaran terdekat, dan dicuci dengan alat-alat yang ditujukan untuk membuka tanah yang baru, mengolah sebagian besar emas yang ditemukan di pulau tersebut, dan penduduk asli tak terbiasa untuk menjalankan ekskavasi apapun yang dilakukan dalam penambangan; namun pendirian kami, pada perang saat ini, dari pemukiman yang dihuni Belanda, membolehkan kami untuk memberikan catatan yang lebih pasti tentang hal tersebut, dan catatan berikutnya, yang diambil dari orang-orang yang sangat mengetahui tempat tersebut, akan menunjukkan metode menjalankan dua pengolahannya, dan tingkat wirausaha dan keterampilan dilakukan oleh tukang kerja.

Di daerah-daerah yang terletak di pedalaman Padang, yang merupakan pasar utama untuk barang tersebut, sedikit mengumpulkan hal lain selain dari penambangan (tambang) oleh orang-orang yang profesinya mengerjakan hal tersebut, dan yang dikenal oleh penerapan orang gulla. Logam tersebut dibawa untuk dijual di sebagian besar wilayah dalam dua jenis, yang dibedakan dengan istilah amas supayang dan amas sungei-abu, berdasarkan pada nama tempat ketika logam tersebut diolah. Amas supayang adalah apa yang kami sering sebut emas batu, yang terdiri dari potongan quartz yang kurang lebih dicampur dengan endapan emas, umumnya berkualitas murni, yang terbentang di segala arah, dan menghasilkan bentukan yang indah, yang, dikatakan oleh orang-orang Eropa, terkadang dijual berdasarkan pada berat jika seluruhnya adalah logam padat. Pertambangan-pertambangan yang mengambil jenis ini umumnya berada di kaki gunung, dan poros digerakkan secara horizontal sejauh delapan sampai dua puluh depa. Sebaliknya, emas yang mengambil nama sungei-abu ditemukan dalam bentuk gumpalan padat lembut, berbentuk seperti kerikil, dan memiliki banyak ukuran, gumpalan terbesar yang pernahaku lihat memiliki berat sembilan ons lima belas butir, dan yang saya miliki (yang saya berikan kepada Charles Holloway) terdiri dari delapan butir dengan berat kurang lebih sembilan ons. Jenis tersebut juga disebut amas lichin atau emas lembut, dan nampaknya memiliki kualitas besar, dalam keadaan tanah sebelumnya atau bersinggungan dengan bumi, sampai tindakan mengalirkan air, dan diambil bagian tajam dan bundarnya dengan cara dipatahkan. Bentuk kerikil adalah bentuk emas paling umum yang ditemukan. Debu emas atau amas urei dikumpulkan dalam jaringan anak sungai yang mengalirkan tanah yang kaya akan logam tersebut, dalam kolam air yang terisi oleh hujan besar, atau dalam sejumlah lubang yang digali dalam keadaan dapat diarahkan ke aliran deras yang kecil.

Alat-alat yang dipakai dalam mengerjakan pertambangan adalah alat besi sepanjang tiga kaki, yang disebut tabah, changkul, dan pemukul besi berat atau palu, yang kepalanya sepanjang delapan belas inchi dan ketebalannya sama dengan kaki manusia, dengan pegangan di bagian tengah. Dengan alat-alat tersebut, kami memukul gumpalan-gumpalan batu sampai berbentuk bubuk, dan massa yang dikumpulkan ditempatkan pada timbangan atau wadah sepanjang lima atau enam kaki dan luas satu setengah kaki, dalam bentuk perahu, dan rakit yang disebut bidu. Dari kapal ini, sejumlah iju diambil, dimana kami mendapatkannya ketika diambil dari pertambangan horizontal ke tempat terdekat. Di tempat tersebut, kami dapat bertemu dengan suplai air, yang dengan sendirinya dipakai untuk memisahkan emas dari endapan bubuk.

Di pertambangan tegak lurus, emas kerikil atau lembut seringkali ditemukan di dekat permukaan, namun dalam jumlah kecil, dijadikan sebagai kemajuan pekerja, dan seringkali juga terjadi mendadak. Mereka berkata bahwa ini nampaknya merupakan kasus ketika usai lapisan rendah mereka mendadak menjadi gumpalan besar. Ketika mereka menggali sampai kedalaman empat, enam, atau terkadang delapan fathom (yang mereka lakukan di suatu tempat, permukaan tak memberikan isyarat apapun yang dapat menggantungkan mereka), mereka bekerja secara horizontal mendukung batang dengan kayu; namun orang-orang menopangnya dengan berg-werken dari Jerman dan Hongaria, lubang-lubang tersebut akan sangat nampak sesuai untuk pertambangan.* Namun, di Siberia, seperti halnya Sumatra, mereka mengambil emas di perbukitan. Pasir umumnya ditemui pada kedalaman tiga atau empat fathom, dan di dalam lapisan napal atau steatite, yang dipandang sebagai tanda bahwa logam tersebut nyaris dekat; namun tanda kurang lazim adalah batu merah, yang disebut batu kawi, yang tersebar dalam potongan-potongan terpisah. Unsur tersebut banyak ditemukan pada tanah liat merah dan putih, dan seringkali dikelilingi bebatuan kecil, serta gumpalan homogen. Emas dipisahkan dari tanah liat dengan cara menuangkan air ke lubangnya, dalam pengolahan yang dikerjakan oleh orang-orang yang menonjol.

(*Catatan kaki. saya amati bahwa tak terlalu banyak alat kerek atau mesin (alat-alat yang dibutuhkan oleh mereka) yang mencegah ekskavasi pada kedalaman besar karena kerentanana akan gempa bumi, dampak yang seringkali terpengaruh pada mereka bahkan sebelum mereka dapat lari dari pertambangan dangkal mereka.)

Di pertambangan menurun, air dibawa dengan tangan pada ember atau keranjang. Secara horizontal, mereka membawa dua poros atau entri dalam paralel yang mengarah satu sama lain, sejauh mereka pakai untuk memperlebar pekerjaan, dan menghubungkan mereka dengan parit silang. Salah satu di antaranya, dengan perbedaan pada tingkat mereka masing-masing, dijadikan sebagai pengeringan untuk menampung air, sementara yang lainnya tetap kering. Mereka bekerja sebagai berkelompok dalam jumlah dari empat atau lima orang sampai empat puluh atau lima puluh orang; pemilik tanah menerima setengah bagian yang dihasilkan dan bagian lainnya diterima oleh para pekerja; dan harga tersebut tak nampak memberikan royalitas. Orang-orang bukit menerapkan jenis kemerdekaan atau kesetaraan yang mereka sebut dengan istilah sama rata.

Pertambangan deskripsi ini sangat banyak dibayangkan, dan dalam perkiraan umum penduduk asli, mereka berjumlah tak kurang dari dua belas ratus di wilayah kekuasaan Menangkabau. Sejumlah barang yang mereka hasilkan (mungkin setengahnya) tak pernah diberikan ke orang-orang Eropa namun dibawa ke sisi timur pulau, dan sehingga saya meminta bantuan pada otoritas baik yang setiap tahunnya meraih sepuluh sampai dua belas ribu ons, pada catatan umum dan pribadi, di Padang sendiri; di Nalabu sekitar dua ribu, Natal delapan ratus, dan Moco-moco enam ratus. Kualitas emas yang dikumpulkan di daerah-daerah Padang lebih rendah ketimbang yang dijual di Natal dan Moco-moco, akibat praktek mencampurkan hasil yang tak setara dari berbagai hasil tambang yang di sisi lain selaras untuk menjaga kekhasan. Emas dari Padang memiliki tingkat kemurnian dari sembilan belas sampai dua puluh satu, dan dari Natal dan Moco-moco umumnya dari dua puluh dua sampai dua puluh tiga karat. Emas paling murni yang sampai ke tangan saya bernilai dua puluh tiga karat, satu setengah butir, disimpan di Menara London. Emas berunsur rendah, yang disebut amas muda dari kepucatan warnanya, ditemukan di daerah yang sama dengan logam lain yang dihasilkan. saya memiliki beberapa anggapan bahwa dua karat dari tiga biji lebih buruk ketimbang standar, dan mengandung campuran perak, namun tak berdampak pada keasamannya. saya melihat mewas dibawa dari Mampawah ke Borneo yang berada dalam keadaan bubuk seragam murni, berwarna terang, dan tingkat kemurniannya tak mencapat lima belas atau enam belas karat. Penduduk asli memberikan perbedaan dari cara pengolahan kerendahan logam esensial asli, bukan memakai cara memisahkannya dari perak atau tembaga. Di pulau ini, tak pernah ditemukan dalam keadaan bijih, namun selalu sepenuhnya metalik. Emas pucat yang sangat kecil saat ini dan dulu ditemukan di daerah Lampong.

Dari orang-orang yang menggalinya untuk pengetahuan, berbeda dengan sudagar atau peniaga, yang diperintahkan oleh pihak lainnya untuk mengumpulkannya, yang membawa emas ke tempat-tempat dagang di sungai-sungai timur besar, atau ke pemukiman-pemukiman pantai barat. Di sana, mereka menukarnya dengan besi (yang sebagian besar dipakai dalam peralatan untuk pengerjaan tambang), candu, dan barang-barang antik dari Madras dan Bengal yang diberikan oleh mereka dalam jumlah yang sangat banyak ke daerah mereka. Di beberapa tempat perjalanan, mereka membangun pengisian air di danau-danau dan sungai-sungai. Namun, di sisi lain, mereka membawa kayu seberat delapan puluh pound di punggung mereka, di sepanjang aliran, dan melintasi pegunungan, dalam jumlah yang umumnya seratus atau lebih, yang seringkali berkesempatan untuk mempertahankan harta benda mereka menghindari penjarahan dan pemerasan yang dilakukan oleh orang-orang miskin di sepanjang daerah yang dilalui oleh mereka. Setelah merencanakan untuk melewati jalan yang baru, pertanyaan selalu ditanyai oleh orang-orang yang lewat, apa ontong kami, apa yang kami bawa?

Ketika dibawa ke pemukiman kami, ini awalnya dihargai delapan belas dolar Spanyol per ekor, atau sekitar tiga pound lima shilling per ons, namun pada masa berikutnya, harganya naik menjadi dua puluh satu dolar, atau tiga pound delapan belas shilling per ouns. Setelah pengeksporan ke Eropa yang menambah laba pada penjual asli, dan pihak lainnya yang terlibat sebagai perantara mengalami kemerosotan ketika keuntungan dan harga terkait lainnya merosot. Tugas lima persen telah menjadi kebiasaan dalam penukaran di rumah Hindia Timur, sekitar dua puluh tahun lalu, secara lebih liberal ditentukan oleh Perusahaan atas persembahan yang dilakukan olehku kepada para Direktur pekerjaan keras yang dilakukan untuk penghormatan oleh para perwira di Benteng Marlborough, dan masyarakat mendapatkan manfaat dari pertukaran dengan impor emas batangan. Perang berkelanjutan yang panjang dan resiko tak biasa dari navigasi India yang dihasilkan dari kemungkinan operasi perlawanan dampak-dampak baik tersebut.

Pada umumnya, Perusahaan-perusahaan Eropa umumnya dianggap mengejutkan karena telah lama memiliki permukiman-permukiman di Sumatra yang seharusnya tidak dianggap sebagai tempat untuk mengerjakan pertambangan-pertambangan tersebut pada sistem reguler, dengan mesin yang sebenarnya dan di bawah pemeriksaan kompeten; namun upaya tersebut pada kenyataannya dibuat, dan pengalaman dan perhitungan diajarkan ke mereka agar hal tersebut tak menjadi skema yang nampaknya dilakukan dengan kesuksesan, melirik kepentingan lain pada kesepakatan buruh, dan kebutuhan yang akan menjadi kesempatan untuk menjaga unsur dalam bagian jauh dari daerah tersebut agar melindungi orang-orang yang mengambil dan mengumpulkan properti tersebut. Orang-orang Eropa tak dapat melakukan pekerjaan semacam itu dalam iklim tersebut, dan penduduk asli tak bergairah untuk (maupun akan mengajukan diri mereka kepada) pengerahan pekerjaan yang diwajibkan untuk mendapatkan laba yang diambil. Sebuah catatan pemahaman mendetil dan dalam banyak penghormatan dari pekerjaan pertambangan emas di Sileda, dengan plakat yang mewakili bagian tambang tersebut, yang diberikan oleh Elias Hesse,* yang pada tahun 1682 menyertai Bergh-Hoofdman, Benj. Olitzsch, dan sekelompok penambang dari Saxony, dikirim oleh Perusahaan Hindia Timur Belanda untuk keperluan tersebut. Pemimpin wilayah, dengan sebagian besar rakyatnya, kehilangan penghidupan mereka, dan penanganannya gagal. Di Padang, logam dikatakan berpengaruh pada kemiskinan yang tak umum. Beberapa tahun kemudian, percobaan membuat lapisan yang terbentang di dekat pemukiman tersebut; namun pengembaliannya yang tidak memadai untuk menghabiskannya, mereka beralih ke perkebunan. Dalam beberapa tahun, mereka jatuh dalam tingkat rendah semacam itu karena lama tersingkirkan oleh penawaran publik atas sewaan dua dolar Spanyol.** Perusahaan Inggris, yang juga melakukan pertambangan yang dikatakan ditemukan di dekat Benteng Marlborough, memberikan perintah untuk mengerjakannya; namun tidak ada tanpa-tanda yang kini masih ada.

(*Catatan kaki. Ost-Indische Reise-beschreibung oder Diarium. Leipzig 1690 octavo. Lihat pula J.W. Vogel's Ost-Indianische Reise-beschreibung. Altenburg 1704 octavo.)

(**Catatan kaki. Pernyataan ini diambil dari surat buatan Tuan James Moore, seorang pegawai Perusahaan, yang dibuat di Padang pada 1778. "Mereka membuka lapisan emas di perdalaman tempat daerah tersebut. Di sana, gubernur pada suatu kali menerima seratus lima puluh tial (dua ratus ons). Ia membuat peta yang memeritahukan soal bagian tertentu dari daerah emas tersebut, yang menekankan tempat berbeda dimana mereka mengerjakannya; dan juga keadaan dua puluh satu benteng Melayu, semuanya dihuni dan diperbaiki. Distrik-distrik tersebut paling berpenduduk dibandingkan dengan bagian paling selatan dari pulau tersebut. Mereka setiap tahun mengumpulkan dan mengekspornya sekitar dua ribu lima ratus tial emas dari tempat ini ke Batavia: jumlah tersebut tak pernah mencapai tiga ribu tial maupun jatuh harga menjadi dua ribu." Ini merujuk kepada ekspor publik pada catatan perusahaan tersebut, yang selaras dengan apa yang disampaikan dalam Transaksi Batavian. "In een goed Jaar geeven de Tigablas cottas omtrent 3000 Thail, zynde 6 Thail een Mark, dus omtrent 500 Mark Goud, van 't gchalte van 19 tot 20 carat.")

Sebelum debu emas ditimbang untuk dijual, dalam rangka membersihkannya dari segala campuran kemurnian dan heterogen, entah alami atau pemalsuan, (seperti diisi tembaga atau besi), orang yang handal dipekerjakan yang, dengan ketajaman matanya dan telah berpraktek lama, mmampu memeriksa tingkat kebagusannya. Debut ersebut tersebar pada sebuah jenis tumbuhan berkayu, dan partikel-partikel dasar (lanchong) disentuh dari massa dan menempatkannya satu per satu dengan sebuah alat, yang jika diistilahkan, terbuat dari pakaian kapas yang dirajut meruncing. Jika kejujuran pembersih emas tersebut dapat bergantung pada ketangkasan mereka yang nyaris sempurna; dan seperti beberapa pengecekan terhadap logam tersebut biasanya menuangkan isi setiap wadah ketika dibersihkan pada tempat aqua-fortis, yang menempatkan akurasi mereka pada uji coba. Wadah atau tempayan yang mengemas emas dibentuk menyerupai jantung kerbau. Wadah tersebut memiliki penampilan melengkung, namun sama-sama keras dan lentur. Di belahan daerah tersebut, lalu lintas barang tersebut dianggap umum dipakai sebagai mata uang alih-alih koin; setiap orang membawa sejumlah kecil terhadapnya, dan ditukar dengan setidaknya biji-bijian atau dua padi. Berbagai benih dipakai sebagai berat emas, namun secara lebih khusus terdiri dari dua jenis: yang satu disebut rakat atau saga-timbangan (Glycine abrus L. atau Abrus maculatus dari Transaksi Batavia) merupakan potongan biji kizmir terkenal dengan wadah hitam, dua puluh empat di antaranya bernilai satu mas, dan enam belas mas senilai satu ekor: yang lainnya disebut sagapuhn dan kondori batang (Adenanthera pavonia, L.), sebuah kizmir atau batubara, yang lebih besar ketimbang kizmir dan tanpa wadah hitam. Ini merupakan berat candarin di kalangan Tionghoa, yang seratusnya membuat ekor, dan setara, menurut tabel yang diterbitkan oleh Stevens, dengan 5.7984 gr. troy; namun rata-rata berat dari barang tersebut dalam perkiraanku adalah 10.50 biji. Namun, ekor berbeda di bagian utara dan selatan pualu tersebut. Di Natal, dua puluh empat berat penny seharga sembilan biji. Di Padang, Bengkulu, dan tempat lainnya, dua puluh enam berat penny seharga dua belas biji. Di Achin, bangkal tiga puluh berat penny seharga dua puluh satu biji, adalah standar Dolar Spanyol merupakan mata uang di setiap tempat, dan catatan disimpan dalam dollars, sukus (seperempat dolar imajiner) dan kepping atau mata uang tembaga, yang bernilai empat ratus sampai satu dolar. Di samping itu, ada fanam perak, tunggal, ganda dan jamak (disebut tali) dibawa ke Madras, dua puluh empat fanam atau delapan tali setara satu dolar Spanyol, yang selalu dihargai lima shilling sterling di pemukiman Inggris. Rupee perak terkadang dibawa di Bengal untuk dipakai di pemukiman-pemukiman di pantai Sumatra, namun tidak dalah jumlah layak untuk dijadikan mata uang umum; dan pada tahun 1786, Perusahaan berkontrak dengan Tuan Boulton dari Soho untuk pencetakan koin tembaga, for a copper coinage, proporsi yang saya ingin sesuaikan, serta untuk melengkapi inskripsi-inskripsi; dan sistem yang sama, dengan banyak penunjangan yang disarankan oleh Tuan Charles Wilkins, setelah itu telah berkembang menjadi tiga Kepresidenan India. Di Achin, koin-koin emas dan perak tipis kecildulunya berharga dan masih menjadi mata uang: namun saya tak melihat potongan tersebut yang memiliki penampilan koin modern; maupun saya sadar bahwa hak kedaulatan ditentukan oleh kekuatan lain di pulau tersebut.

Timah, yang disebut timar, adalah bahan dagang yang sangat menonjol, dan banyak kargo memuatnya yang setiap tahun dibawa ke Tiongkok, dimana logam tersebut biasanya dipakai untuk keperluan keagamaan. Tambang-tambangnya berada di pulau Bangka, dekat Palembang, dan dikatakan tak sengaja ditemukan di sana pada 1710, lewat pembakaran rumah. Mereka dipekerjakan oleh koloni Tionghoa (dikatakan dalam Transaksi Batavia terdiri dari dua puluh lima ribu orang) di bawah pengarahan simbolis raja Palembang, namun untuk pencatatan dan pemanfaatan Perusahaan Belanda, yang mendorongnya untuk memonopolisasi dagang, dan sebetulnya merap dua juta pound setahun; namun menghibur jiwa para peniaga swasta, terutama Inggris dan Amerika, menemukan arti untuk melabuhkan kapal pesiarnya, dan sebagian besar perdagangan mengikutsertakan mereka. Logam tersebut diekspor untuk jumlah besar dalam potongan atau belahan kecil yang disebut tampang, dan terkadang dalam bentuk lempeng. M. Sonnerat melaporkan bahwa timah ini (disebut calin oleh para penulis Prancis), dianalisis oleh M. Daubenton, yang menemukan bahwa logam tersebut merupakan logam yang sama seperti yang dihasilkan di Inggris; namun terkadang dijual lebih tinggi ketimbang timah bijih kami. Di belahan Sumatra yang berbeda, terdapat indikasi timah bumi, atau lebih kepada pasir, dan diambil di gunung Sungei-pagu, namun tidak dalam jumlah besar. Dari pasir ini, di Bangka, satu pikul, atau 133 pound dikatakan bernilai sekitar 75 pound logam.

Tembaga

sunting

Sejumlah besar tembaga dihasilkan di Mukki dekat Labuan-haji, oleh orang-orang Achin. Jenis logam tersebut menghasilkan separuh berat aslinya dalam bentuk logam murni, dan dijual dengan harga dua puluh dolar sepikul. Gumpalan yang saya berike Museum Perusahaan Hindia Timur dikatakan merupakan tembaga asli. Orang-orang Melayu mencampur logam tersebut dengan emas dengan kadar yang setara, dan menggunakan komposisi tersebut, yang mereka sebuah swasa, dalam pembuatan kancing, kotak sirih dan kepala keris. saya tak pernah dengar perak dikatakan sebagai produksi bagian ini di dunia Timur.

Bijih besari digali di sebuah tempat bernama Turawang, di bagian timur Menangkabau, dan di sana dilelehkan, namun tidak, saya lihat, dalam jumlah besar, konsumsi penduduk asli disuplai dengan besi batang Inggris dan Swedia, yang mereka jual berdasarkan ukuran alih-alih berat.

Sulfur

sunting

Sulfur (balerang), seperti yang telah disebutkan, biasanya diambil dari sejumlah gunung berapi, dan khususnya dari tempat yang sangat besar yang terletak di sekitaran pedalaman perjalanan sehari dari Priaman. Arsenik Kuninh (barangan) juga merupakan barang dagang.

Saltpetre

sunting

Di daerah Kattaun, dekat kepala Sungai Urei, terdapat banyak gua (goha) dari tanah yang mengandung saltpetre (mesiyu mantah). M. Whalfeldt, yang bekerja sebagai surveyor, mengunjunginya pada Maret 1773. Pada kesempatan pertama, ia melangkah tujuh ratus empat puluh tiga kaki, ketika penerangannya didapatkan dari damp vapour. Pada kesempatan kedua, ia menjangkau enam ratus kaki, ketika, usai melewati perlintasan sekitar lebar tiga kaki dan tinggi lima kaki, pembukaan dalam batu berujung pada tempat setinggi empat puluh kaki. Gua yang sama dikunjungi oleh Tuan Christopher Terry dan Tuan Charles Miller. Tempat tersebut dihuni oleh burung-burung yang tak terhitung jumlahnya, yang dianggap lebih jauh ketimbang yang kamu lewati. Sarang-sarang mereka terbentuk di sekitaran bagian atas gua, dan isinya dianggap membentuk tanah (di banyak tempat dari kedalaman empat sampai enam kaki, dan dari luas lima belas sampai dua puluh kaki) yang mengandung nitre. Sebuah kaki kubik dari bumi ini, yang berukuran tujuh galon, menghasilkan tujuh pound empat belas ons saltpetre, dan percobaan kedua memberikan bagian kesembilan lainnya. Setelah itu, saya menyaksikan pemurnian tingkat tinggi; namun saya sadar bahwa nilainya tak akan menutupi pengeluaran pengolahan tersebut.

Sarang Burung

sunting

Sarang burung pangan, yang banyak disajikan sebagai makanan mewah di meja, khususnya di kalangan orang-orang Tionghoa, ditemukan di gua-gua serupa di bagian-bagian berbeda dari pulau tersebut, namun utamanya di dekat pantai, dan dalam jumlah terbesar di ujung selatannya. Dari jarak empat mil dari sungai Kroi, terdapat salah satunya yang ukurannya memadai. Burung-burung tersebut disebut layang-layang, dan mirip dengan burung pipit pada umumnya, atau mungkin lebih mirip martin. saya memiliki kesempatan memberikan beberapa sarang tersebut ke British Museum dengan telur-telur di dalamnya. Sarang-sarang tersebut terdiri dari warna putih dan hitam, yang hitam lebih langka dan mahal, hanya ditemukan dalam jumlah satu banding dua puluh lima. Jenis yang putih dijual ke Tiongkok dengan harga seribu sampai lima belas ratus dolar per pikul (menurut Badan Transaksi Batavia karena nyaris seharga perak), yang hitam biasanya dijual ke Batavia dengan harga sekitar dua puluh sampai tiga puluh dolar dengan berat yang sama, ketika saya memahami bahwa barang tersebut biasanya diolah menjadi sejenis lem. Perbedaan antara dua jenis tersebut oleh beberapa orang bergantung pada percampuran bulu burung dengan bahan yang dipakai untuk membuat sarang; dan ini merupakan kesimpulan mereka dari uji coba pengamatan sarang-sarang hitam selama jangka pendek di air panas, ketika sarang tersebut dikatakan menjadi putih pada tahap tertentu. Di kalangan penduduk asli, saya mendengar bahwa beberapa orang menganggap bahwa itu adalah hasil kerja dari jenis burung yang berbeda. Ini juga membuatku menyimpulkan bahwa sarang putih mungkin merupakan sarang musim ketika mereka diambil, dan sarang hitam semacam itu dipakai selama beberapa tahun secara berturut-turut. Opini ini nampak masuk akan, dalam penyelidikanku pada titik tersebut, dan memahami apa yang nampak banyak keterkaitannya. Ketika para penduduk asli bersiap untuk mengambil sarang-sarang tersebut, mereka memasuki gua dengan obor, dan, membentuk tangga bambu berdasarkan pada bentuk lazim, mereka meniakinnya dan menurunkan sarang-sarang tersebut, yang dikumpulkan dalam ukuran yang beragam, dari sisi ke sisi dan atas batu. saya diberitahu bahwa biasanya gua tersebut berisi sejumlah besar sarang putih yang mereka temukan, dan bahwa pada pengalaman tersebut, mereka seringkali melakukan praktek pukul jatuh dan menghancurkan sarang-sarang lama dalam jumlah besar ketimbang mereka berurusan dengan diri mereka untuk membawanya pergi, dalam rangka agar mereka menemukan sarang-sarang putih pada musim berikutnya di tempat tersebut. Butung-butung tersebut, saya anggap, nampaknya, pada musim pembuatan, dalam jumlah besar menghampiri pantai, mengumpulkan rajutan memakai paruh mereka yang dijatuhkan dengan cara selancar, yang nampak sedikit keraguan dari pembuatan sarang gelatin mereka, stelah pembuatan tersebut berlanjut, mungkin, beberapa persiapan dari pencampuran dengan liur mereka atau kotoran lainnya pada paruh atau sayap, dan bahwa ini memberikan opisi penduduk asli yang nampak dari burung yang umumnya disebut layang-buhi, pipit rajutw. Namun, Linnaeus menyangkalnya, dan dengan banyak penyangkalan, bahwa ini merupakan bahan hewan yang sering ditemukan pada pantai yang para nelayan sebut buihan atau agar-agar, dan bukannya rajutan laut, bahwa burung-burung tersebut mengumpulkannya; dan bahwa ini sebenarnya menyebutkan bahwa, dalam deskripsi menganai sarang-sarang tersebut buatan M. Hooyman, dicetak dalam Volume 3 dari Transaksi Batavia, ia memberikan wacana bahwa bahannya tak dilakukan dengan rajutan laut namun digabungkan dari makanan burung. Mr. John Crisp memberitahu saya bahwa ia telah melihat sarang pipit umum di Padang, dibangun di bawah atap rumah, yang terbuat dari lumpur dan bahan yang layak untuk sarang pangan. Burung-burung muda mereka sendiri dikatakan menjadi makanan yang sangat lezat, dan tak kalah kaya rasa dengan beccafico.

Tripan

sunting

Swala, tripan, atau sea-slug (holothurion), nampaknya adalah barang dagang untuk Batavia dan Tiongkok, diperjualkan, seperti halnya sarang burung atau vermicelli, untuk tambahan sup atau kuah, oleh orang-orang kaya. Barang tersebut dijual di Batavia seharga empat puluh lima dolar per pikul, menurut tingkat keputihan dan kualitas lainnya.

Malam lebah adalah komoditas berpengaruh besar di seluruh kepulauan timur, dari sana , barang tersebut diekspor dalam kue oblong besar ke Tiongkok, Bengal, dan belahan benua lainnya. Tidak ada luka yang dialami dari lebah, yang ditinggalkan untuk dimukimkan dimana mereka didaftarkan (umumnya pada pepohonan) dan tak pernah dikumpulkan. Madu mereka bermutu sangat rendah ketimbang madu Eropa, karena pengaruh dari alam vegetasi.

Getah Karet

sunting

Getah karet, yang disebut sebagai ampalu atau ambalu oleh penduduk asli, meskipun ditemukan pada pepohonan dan paling sering ditemukan pada dahan-dahannya, diketahui merupakan hasil kerja serangga, seperti malam yang berasal dari lebah. Barang tersebut diolah dalam jumlah kecil dari pedalaman desa Bengkulu; namun di Padang merupakan barang dagang menonjol. Namun, pasar-pasar asli mensuplai dari daerah-daerah Siam dan Camboja. Barang tersebut sangat dihargai di Sumatra karena merupakan bagian dari hewan, ditemukan di nidus serangga, yang tahan air, dan menyediakan pewarga ungu murni, yang dipakai untuk mewarnai sutra mereka dan jaringan pengolahan domestik lainnya. Seperti cochineal, barang tersebut kemungkinan, dengan tambahan tinta, menjadi barang yang bagus. saya menemukan dalam kamus Bisayan bahwa bahan tersebut dipakai oleh penduduk Kepulauan Filipina untuk mewarnai gigi mereka menjadi merah. Untuk catatan serangga karet lihat di Philosophical Transactions Volume 71 halaman 374 sebuah makalah karya Mr. James Kerr.

Gading

sunting

Hutan-hutan dihuni oleh para gajah, gading seringkali nampak melimbah, dan dibawa ke pasar Tiongkok dan Eropa. Hewan itu sendiri dulunya menjadi obyek lalu lintas dari Achin sampai pesisir Coromandel, atau daerah kling, dan kapal-kapal yang dibangun untuk transportasi mereka; namun menurutn, atau mungkin bergenti serentak, dari pertukaran ketika perang terjadi, seperti halnya taktik Eropa yang ditiru oleh para pangeran India.

Telur Ikan

sunting

Telur-telur besar dari spesies ikan (dikatakan seperti shad, namun lebih mungkin jenis mullet) diambil dalam jumlah besar di mulut Sungai Siak, digarami dan diekspor dari situ ke seluruh wilayah Malaya, dimana bahan tersebut disantap dengan nasi tanak, dan nampak lezat. Ini adalah botarga dari orang-orang Italia, dan di sini disebut trobo dan telur-trobo.

Perdagangan Impor

sunting

Barang-barang perdagangan impor paling umum adalah sebagai berikut:

Dari pantai Coromandel berbagai barang kapas, seperti baju panjang, biru putih, chintz, dan sarung tangan berwarna, yang diolah di Pulicat sangat bernilai; dan garam.

Dari Muslim Bengal, bergaris dan polos, dan beberapa jenis barang kapas lainnya, seperti cossae, baftae, hummum, dll, taffeta dan beberapa sutra lainnya; dan candu dalam jumlah yang banyak.

Dari pantai Malabar, berbagai barang kapas, kebanyakan kain mentah koarse.

Dari Tiongkok, porselen koarse, kuali atau panci besi, dalam beragam ukuran, tembakau yang bernilai sangat sempurna, lapis emas, kipas, dan sejumlah barang kecil.

Dari Sulawesi (dikenal di sini dengan berbagai nama provinsi utamanya, Mangkasar, Bugis, dan Mandar), Jawa, Balli, Ceram, dan kepulauan timur lainnya, busana kapas bergaris kasar yang disebut kain-sarong, atau busana bugis yang lebih vulgar, menjadikannya busanatubuh universal dari penduduk asli; keris dan senjata lain, bungkus keris bersutra, tudung atau topi, sejumlah kecil hiasan, umumnya bras, yang disebut rantaka, rempah-rempah, dan juga garam dalam jumlah besar, dan terkadang beras, umumnya dari Balli.

Dari Eropa perak, besi, baja, timah, alat makan, berbagai barang perangkat keras, jaring brass, dan kain papan, khususnya scarlet.

Ini bukan rencanaku untuk memperluas subyek ini dengan memasukan penjelasan pasar, atau harga beberapa barang, yang sangat berfluktuasi, sesuai dengan suplai kurang-lebih. Kebanyakan jenis barang di atas disebutkan di bagian pekerjaan lainnya, karena barang-barang tersebut berhubungan dengan jumlah penduduk asli yang menjualnya.