Sejarah Zionisme, 1600-1918/Volume 1/Bab 15

BAB XV.

SANHEDRIN-NYA NAPOLEON

“Sanhedrin”—R. David Sintzheim—M. S. Asser—Moses Leman—Juda Litvak—Michael Berr—Lipman Cerf-Berr—Keputusan dan Deklarasi—Napoleon I dan Yahudi.

Walau keadaan telah menjalankan perubahan material, dan delapan tahun usai kegagalan Kampanye Siria dan Ajuan kepada Yahudi dari Asia dan Afrika, Bonaparte, yang kini disebut Napoleon I, mengeluarkan perintah untuk menghimpun “Sanhedrin” Yahudi di Paris (1807).

Ini datang sebagai kejutan gembira kepada bangsa Yahudi. “Sanhedrin Besar,” sebuah unsur dari Pemerintahan Yahudi kuno yang telah dimusnahkan bersama dengan Bait Allah Kedua, dan yang dengan sendirinya dipersembahkan dengan otoritas keagamaan tak terbatas di Israel, untuk dibangkitkan pada zaman modern, di pusat peradaban Eropa, untuk keperluan membuat keputusan yang mengkomandoi pengakuan tak dipersengketakan pada pihak yahudi di seluruh negara dan sepanjang segala abad. “Sebuah peristiwa besar,” tutur salah satu Yahudi utama pada masa itu, “nyaris terjadi, yang melalui serangkaian panjang abad para bapa kami, dan bahkan kami pada zaman kami sendiri, tak pernah berpikir untuk melihat, dan kini nampak di hadapan mata dunia yang ada. 20 Oktober (1807) dipastikan sebagai tanggal Sanherdin Besar di ibukota salah satu negara Kristen paling kuat, dan di bawah perlindungan Pangeran besar yang memerintah atasnya. Paris kemudian akan menunjukkan kejadian menonjol kepada dunia, dan peristiwa mengenang tersebut akan membuka masa pembebasan dan kemakmuran untuk sisa-sisa keturunan Abraham.”

Pada 9 Februari 1807, Sanhedrin Besar berkumpul di Sinagoga Besar di Paris di bawah Kepresidenan Rabi David Sintzheim (1745‒1812) dari Strasburg. Acara tersebut dibacakan dalam bahasa Ibrani, Prancis dan Italia; sebuh penjelasan sempurna disampaikan oleh Presiden dalam bahasa pertama yang disebutkan. Usai penjelasannya, ia memajukan gulungan hukum dari Bahtera dan memberkati Majelis, dan kemudian mengutip doa untuk Kaisar, kejayaan persenjataannya, dan pengembalian perdamaian. Dari Sinagoga, Majelis tersebut bergerak ke Hôtel de Ville, tempat, usai pidato dari sebagain besar anggota menonjol, Komite dipilih oleh Konsul Pertama yang diterakan di hadapan Sanhedrin pada rencana organisasi umum untuk ibadah Mozaik, yang terdiri dari dua puluh tujuh pasal. Menurut rencana tersebut, Konsistori dan Sinagoga didirikan di setiap Departemen yang berisi 2000 Yahudi; orang-orang dari pendorongan tersebut yang ditujukan untuk bermukim di Prancis mengumumkan niat mereka kepada Konsistori dalam tiga bulan kedatangan mereka ke wilayah Prancis; terdapat Konsistori Pusat di Paris, yang terdiri dari lima orang, yang tiga diantaranya adalah Rabi; dan tak ada yang dilantik menjadi Rabi yang tak dinaturalisasi di Prancis atau Kerajaan Italia. Fungsi-fungsi Rabi meliputi:—

1. Memberikan instruksi dalam perkara agama.

2. Untuk memperhitungkan kandungan yang terkandung dalam keputusan Sanhedrin Besar.

3. untuk mengkotbahkan pernyataan lengkap terhadap hukum, dan terutama orang-orang yang tergabung dengan pertahanan negara, dan di atas semuanya, untuk menghimpun diri mereka sendiri setiap tahun pada masa wajib militer, dari pelatihan pertama sampai merampungkan pemberlakuan hukum, dalam mendorong para pengikut mereka untuk selaras dengan tindakan tersebut.

4. Untuk menekan kebutuhan penugasan militer pada Yahudi selaku tugas suci, dan menjelaskan kepada mereka bahwa sepanjang mereka mencurahkan diri mereka sendiri pada penugasan tersebut, agama mereka akan memberikan mereka dispensasi dari hukum dan kebiasaan semacam itu yang tak selaras dengannya.

5. Untuk berkotbah di Sinagoga, dan mengutip doa-doa yang ditujukan kepada Kaisar dan Keluarga Kekaisaran.

6. Untuk mengadakan pernikahan dan mengurus perceraian.

Pada 12 Februari, Sanhedrin bertemu lagi secara formal dan mengadakan deliberasinya sebagai rencana organisasi. Dalam mewujudkan Pengumpulan Deputi dari Belanda, Moses Solomon Asser (1754‒1826), Moses Leman (1785‒1832), Yahudi Polandia handal, Juda Litvak (1760‒1836), dan para delegasi Frankfort-on-the-Main mendatangi Sanhedrin, dan mendeklarasikan, dalam nama konstituen mereka, bahwa mereka akan mengikuti keputusan doktrinal dari Sanhedrin besar dari Prancis dan Italia. Praisden menjawab delegasi dalam bahasa Ibrnai, menyambut mereka terhadap resolusi mereka, dan juga Majelis ditempatkan di tengah-tengahnya, dan ia sendiri menjawab korelijionis dari masyarakat berpangkat tinggi untuk ketaatannya, dan kini diatur oleh Pangeran adil dan liberal, dari para teman kemanusiaan yang memiliki segala hal untuk diharapkan dan diinginkan. Singkatnya, ia menganggap dirinya beruntung dalam menyambut para deputi negara dengan partisipasi setara dalam hak umum orang yang telah lama diberikan kepada seluruh penduduk, termasuk bani Israel, yang sangat maju sebagaimana warga terbaik. Setelah itu, Presiden memberikan pidato dalam bahasa Pranci, yang membuat pekanan yang lebih disukai terhadap Majelis, dan menawari mereka kessempatan menyatakan rasa syukur mereka kepada sosok besar yang dipilih oleh Providence menjadi instrumen pemberkatannya dan mukjizatnya. Ia mengekspresikan banyak harapan baik sebagai pengaruh yang dihormati agar Majelis dan para tenaga kerjanya terhadap takdir masa depan Yahudi. Mengekspresikan sentimen pencurahan berkelanjutan kepada seluruh koleganya, yang dipicu oleh suara sosok besar, dari Pyrenees sampai perbatasan Maine, dan dari pesisir Adriatik sampai the Zuyder Zee, untuk membentuk majelis keagamaan yang tak sebanding dalam sejarah modern, dan melakukan keadilan kepada bakat dua penilai, yang ia bayarkan, atas nama Sanhedrin, sebuah persembahan dalam negeri kepada para Komisaris Kaisar, MM. le Comte Louis Matthieu Molé (1781‒1855), Etienne Denis, Baron et Duc de Pasquier (1767‒1862), le Comte Joseph Marie Portalis (1778‒1858), dan lainnya, yang membantu, melindungi dan mengampuni sekuat mungkin yang dikontribusikan untuk kesuksesan kepentingan umum. Setelah itu, M. Abraham Furtado (1756‒1816), mencetuskan suara terima kasih kepada Kepala Sanhedrin besar, yang diadopsi dengan aklamasi. M. Michael Berr (1780‒1847) kemudian membacakan Procès Verbal, dan President diputuskan oleh pengumuman agar penempatan Sanhedrin ditutup.

Beberapa sejarawan menganggap Sanhedrin Paris sebagai penyangkalan kebangsaan Yahudi. Pandangan tersebut keliru, dan tak ada pembentukan sejarah yang dapat lebih berseberangan dengan fakta tersebut. Kajian hati-hati dari sastra pada masa itu akan menunjukkan bahwa Sanhedrin terinspirasi oleh gagasan Yahudi tradisional. Salah satu Yahudi Prancis paling berpengaurh, yang menjadi Yahudi pertama yang berpraktek di Prancis sebagai barrister, M. Michael Berr, telah mengirim permintaan kepada seluruh pangeran dan bangsa “untuk membebaskan Yahudi dari belenggu.” Anggota Sanhedrin lainnya, M. Lipman Cerf-Berr (1760‒1831), berujar dalam pidato publiknya: “Mari kita lupakah asal-usul kita! Mari kita tak lagi menyebut Yahudi dari Alsace, dari Portugal, atau dari Jerman! Walau terpencar di sepanjang muka bumi, kita masih satu bangsa, menyembah Allah yang sama, dan sebagaimana perintah hukum kita, kita taat akan hukum negara tempat kita tinggal.” Ini bukanlah bahasa orang yang mentujukan asimilasi dan disintegrasi kebangsaan mereka. Gagasan orang tersebut tak sama dengan ceramah asimilasi Yahudi modern. Asimilasi Yahudi modern menyangkal dan menolak seluruh “separatisme” Yahudi kecuali pada sisi keagamaan. Akibatnya, ini takkan memperkenankan Yahudi untuk memiliki hak untuk melupakan bahwa ia berada di Alsace, di Portugal, dan sebagainya. Menurut doktrin asimilasi, Yahudi haruslah benar-benar menjadi orang Alsatia, atau orang Portugis, “dari penekanan Yahudi.” Tujuan Sanhedrin sangatlah berbeda. Sanhedrin ditujukan untuk merekonstruksi Yahudi Eropa pada garis kekaisaran Prancis, dengan pusat keagamaan di Paris. Sehingga, ini menguji, dengan perhatian dan ketekunan besar, pasal-pasal dalam Alkitab dan Talmud yang menunjukkan bahwa hukum-hukum umum Kekaisaran terikat pada Yahudi. Karena itu, keputusan berdasarkan pada deklarasi kesetiaan yang diberikan oleh persatuan Yahudi, dan ditunjang oleh kebangkitan Sanhedrin, sebuah lembaga nasional kuno.

Namun bagi Napoleon, Sanhedrin memiliki tujuan lain, berkaitan dengan ambisi kekaisarannya. Ia mengharapkan agar Yahudi, yang tinggal terpencar di seluruh belahan dunia, akan berkontribusi untuk memperkuat kekaisaran dunianya. Dua tahun sebelum edik 1806‒7, ia mencetuskan gagasan memanfaatkan kemampuan khusus warga Ibraninya sampai akhir. Ia mungkin mendapati bahwa kemampuan keuangan mereka tak tertandingi, bahwa hubungan dan kemampuan perdagangan mereka di seluruh Eropa lebih cepat dan selaras ketimbang yang lain, dan bahwa ramifikasi bisnis mereka di berbagai negara memberikan mereka pergerakan besar melampaui seluruh pesaing mereka. Ia memutuskan untuk membuat mereka menjadi rekan kerja setia mereka dalam menghimpun rencana politik universalnya, dan pada pandangan akhirnya, ia mempertimbangkan untuk memberikan banyak kelonggaran pada mereka. Namun, karena posisi politik dan hukum Yahudi di Prancis, serta di negara lain, masih belum layak, dan dugaan tak terhitung melawan prinsip keagamaan dan hukum Talmud mereka, ia menganggap dibutuhkannya fondasi status yang lebih pasti. Langkah dini dalam pengarahan tersebut ia curahkan pada pertemuan Sanhedrin besar, yang terdiri dari sebagain besar Rabi handal dan unggulan dari setiap belahan Prancis, serta dari daerah sekitar yang meluaskan pengaruhnya. Tujuan untuk konvensi tersebut dikatakan adalah untuk “mengalihkan doktrin agama dalam jawaban yang diberikan oleh majelis, dan lainnya dihasilkan dari kelanjutan penempatan tersebut.” Namun pernyataan tersebut memicu berbagai tafsiran: mereka dapat mengartikan konfirmasi serta reformasi dari hukum tradisional lama. Dan walau konfirmasi oleh Sanhedrin tak diperluka, reformasi akan nampak tak memungkinkan. Sanhedrin tak memiliki otoritas apapun untuk mereformasi agama Yahudi, dan tak ada niat untuk melakukannya. Tak ada Yahudi konservatif akan menerima wacana Sanhedrin dalam rangka tradisi keagamaan, dan, di sisi lain, Yahudi “reformed” takkan selaras dengan keputusannya, atau, tidak terikat oleh tradisi manapun, takkan mengharuskan keputusan Rabinikal secara keseluruhan.

Pada kenyataannya, Deklarasi Sanhedrin patriotik ditujukan untuk mengacuhkan dan meniadakan tuduhan berbahaya melawan orang Yahudi dan melawan ajaran-ajaran agama Yahudi. Ini adalah kekeliruan terkait hal tersebut, sebagaimana beberapa penulis melakukannya, sebagai indikasi keinginan untuk reformasi agaam Yahudi atau untuk asimilasi. Pernyataan-pernyataan Sanhedrin seturut dengan hukum Yahudi tradisional . Deklarasi sepihaknya terhadap kesetiaan dan patriotisme bukanlah sebuah inovasi. Para ayah dan kakek Rabi yang membuat deklarasi tersebut tak kurang percaya dan setiap kepada Pemerintah mereka dan negara tempat mereka tinggal ketimbang para Rabi dari Sanhedrin. Deklarasi tersebut secara terapan merupakan edisi baru dari Modaa Rabba yang dicetak sebagai prakata untuk setiap risalah dari Talmud. Modaa tersebut mendeklarasikan solidaritas manusia, komunitas kepentingan dengan bangsa lain dan kesetiaan pada Pemerintah dalam cara tradisional lama; Sanhedrin mengeskpresikan pandangan indetik dalam bahasa modern, selaras dengan jiwa zaman baru dan lingkungan. Tujuan keduanya secara tak terbantahkan bersifat sama.

Jauh dari produk lama perkembangan Yahudi internal, Sanhedrin adalah urusan pemerintah yang ditujukan untuk menghimpun Yahudi di kekaisaran dunia baru tersebut. Namun, ini masih merupakan sebuah petikan peristiwa, karena sikap Napoleon terhadap Yahudi, yang dituturkan secara umum, jauh dari konsisten. Pada suatu waktu, ia menawari merek Yerusalem; pada kesempatan lain, ia memutuskan untuk memindahkan Yerusalem ke Paris. Beberapa waktu sebelum Sanhedrin berkumpul, ia nampak kesal dengan Yahudi—sebuah perasaan karakter temporer, yang mungkin wujud penolakannya dalam rencana jangka panjangnya. Pada kesempatan lain, ia menunjukkan kemurahan hati kepada para prajurit Yahudi dan Yahudi lain.

Seluruh fakta terpadu tersebut berujung pada anggapan bahwa masalah Yahudi setingkali menarik perhatiannya. Seperti para pengikutnya, ia nampak terpikat untuk menerima gagasan Pemulihan Israel atau Asimilasi, namun pada akhirnya menghimpun doktrin-doktrin Sanhedrin, yang dapat diterapkan dengan mudah terhadap penduduk Yahudi kecil di Prancis. Penyingkirannay tak hanya terhadap Yahudi dari Asia dan Afrika, namun juga Yahudi di negara-negara Eropa lain, dari masalah Yahudi di Prancis, yang disebabkan oleh kegagalan skema penaklukan besar, yang menyempitkan cangkupan masalah Yahudi dan mengirimkannya pada penindakan lamanya.