Sejarah Zionisme, 1600-1918/Volume 1/Bab 4

BAB IV.

MANASSEH BEN-ISRAEL

Manasseh sebagai Rabi Yahudi dan penulis Ibrani—Kegiatannya selaku penerbit dan pengkoreksi kitab-kitab Ibrani—Edisi-edisi Alkitab, Mazmur dan Mishnah—Hubungan Manasseh dengan Safed di Palestina—Enseña a Pecadores—Pengaruh Rabbi Isaiah ben Abraham Horwitz—Solomon de Oliveyra—De Termino Vitae karya Manasseh—Pengaruh Don Isaac Abrabanel—Sepuluh Suku yang Hilang dan Marranos.

Sastra terkait Manasseh, yang utamanya berbahasa Inggris, selain sebagian juga berbahasa Belanda, Jerman, Ibrani dan Spanyol, memiliki penjelasan yang sangat kaya dan memberikan akurasi dan penglihatan pemikiran dalam hubungan intelektual Manasseh dengan cendekiawan dan negarawan Kristen sezaman, informasi besar terhadap penulisannya dalam pembelaan terhadap agama Yahudi, misinya, dll. Jewish Historical Society of England memainkan bagian penting dalam penelitian terhadap persoalan tersebut dengan menghimpun pidato dan menerbitkan surat-surat penting, dan landasan yang dihimpun pada seluruh pemikiran. Namun, terdapat satu petikan yang tak dijelaskan yakni sikap Manasseh selaku rabi Yahudi dan penulis Ibrani. Komunikasi sastranya dengan pihak Kristen, tulisan-tulisan apologetiknya dalam bahasa Spantol dan Latin, dan terjemahan Spanyol-nya dihadirkan hanya setelah seluruh pandangan individualitas dan aktivitasnya, pandangan yang dilirik oleh dunia luar. Namun, jika kita berharap untuk menjelaskan Manasseh dalam kehidupan mendalam pribadinya, dan untuk memahami pandangan dan metode khas, kami meninggalkan apologis dan penerjemah poliglot dan mendapati penulis kala ia menulis soal bangsanya dalam bahasa nasional. Disini, dan hanya disini, kami mendapati cendekiawan Yahudi dalam originalitasnya.

Dalam hubungan tersebut, kami mendapati Manasseh selaku penerbit dan korektor (pembaca tinjauan) tiga edisi Alkitab sebagian dan lengkap: (1) Chamisha Chumshé Thora, Amsterdam, 1631; (2) Sefer T’hillim (Psalterium Hebraicum ex recens. Manasseh, etc.), Amsterdam, 1634; (3) Esrim V’arba (Biblia Hebraica), Amsterdam, 1639.

Kitab-kitab tersebut disuntingkan oleh Manasseh dengan perawatan besar dan penbenaran sempurna. Heer J. M. Hillesum, pustakawan handal dari Bibliotheca Rosenthaliana (Universiteits—Bibliotheek, Amsterdam), menyatakan bahwa kitab Ibrani pertama yang diterbitkan di Amsterdam adalah “Doa-doa Harian” seturut ritus Spantol yang tertanggal Januari 1627, dan disunting oleh Manasseh. Apapun pandangan yang diambil dari anggapannya, pada seluruh kejadian, ini menentukan bahwa Manasseh merupakan salah satu pionir percetakan Ibrani Amsterdam, yang kehendaknya karena memiliki tempat khas dalam tawarikh penerbitan Ibranil. Ia tak hanya menyimpan rasa artistik yang menguntungkan dari teman Rembrandt dalam menciptakan spesimen pertama dari kitab-kitab Ibrani indah, selain lewat presisi koreksinya yang menunjang dirinya sendiri menjadi penata bahasa Ibrani sempurna. Ini harus disematkan dalam pikiran bahwa para penata bahasa Ibrani di kalangan Rabbi pada masanya ditemukan sendiri dengan, dan hanya didapati di kalangan cendekiawan dari beberapa jenis progresif.

Ia menunjukkan juga kompetensinya dalam Mishnah, tiga volume, Amsterdam, 5404, dikoreksi dengan perawatan besar oleh Manasseh Ben-Israel, Pengajar Hukum dan Pengkotbah, dan diterbitkan oleh Eliahu Aboab. Dalam edisi tersebut, kami melihat karya korektor yang sebenarnya. Seperti yang kami ketahui dari manuskrip prakata, Mishnah dibawa dari “kota yang penuh dengan cendekiawan dan penulis, Safed di Tanah Israel, maka Allah kemudian membangunnya kembali!”

Sepanjang penyelidikan kami, kami harus menunjukkan bahwa Manasseh sangat tersentuh dengan Tanah Suci; perhatian ini hanya disebutkan pada fakta bahwa dalam karya editorial tersebut, Manasseh terpacu oleh keinginan untuk membandingkan berbagai manuskrip. Mishnaioth tersebut merupakan edisi kantung yang menakjubkan, berisi teks tanpa tanggapan apapun, dan benar-benar ditujukan untuk repetisi. Para murid Talmud akan mendapati banyak ragam instruktif yang baik.

Buku lain yang disunting oleh Manasseh, walau sebetulnya merupakan terjemahan, menghimpun beberapa sorotan pada penekanan waktu dan tentang hubungan Yahudi dari Manasseh. Karya tersebut adalah Libro Yntitulado Enseña a Pecadores. (Appendix ix). Buku kecil tersebut, selain terjemaahn doa yang dikomposisikan oleh Rabbi Isaac (1534‒1572) ben Solomon [Ashkenazi] Luria, berisi terjemahan penjelasan Sepher Shné Luchot Ha’brith buatan Rabbi Isaiah (1555‒1630) ben Abraham Horwitz ... Amsterdam ... 5409. Nama penulisnya berasal dari posteritas lewat inisial karya besarnya “S. L. H.”² dengan atribut Hakadosh. Ia merupakan Rabbi di Frankfort-on-the-Main, Praha, Posen, dan Cracow, dan kemudian datang ke Tanah Suci, tempat ia menyebut מרא דארץ ישראל Shné Luchot Ha’brith buatannya merupakan karya penjelasan yang diterima dalam Agadah (Legend, Saga) dari Talmud, serta dalam homiletik dan Cabbalah. Rabbi Isaiah Horwitz adalah seorang Zionis yang terinspirasi secara agamis. Keantusiasannya dalam menjelaskan kejayaan Tanah Suci (Shné Luchot Ha’brith, p. 275, kotbah untuk Lech L’cha, and p. 389, kotbah untuk Va’etchanan) nyaris unik dalam sastra pada masa itu. Ia sangat memadukan kegairahan agama langka dan visi-visi Kabbalistik dengan gagasan progresif tentang pendidikan, yang merekomendasikan metode sistematis, berseberangan dengan kebiasaan pada masa itu—sebuah penekanan yang juga ditebitkan pada Manasseh. Rabbi Isaiah hidup pada masa maju, dan kegiatannya berakhir di Tanah Suci. Manuskripnya dibawa ke Amsterdam dan diterbiakn disana, dengan tambahan dari putranya David, yang juga menjadi cendekiawan menonjol. Buku tersebut nampak sangat menekankan Manasseh agar ia menerbitkan terjemahan pada sebuah bagian darinya, yang berisi doa-doa dan penjelasan untuk pengampunan pendosa, dibuktikan dari Marranos, yang memiliki banyak buku doa dan traktat keagamaan yang diterbitkan pada masa itu dalam bahasa Spanyol dan Portugis.

Buku tersebut, kala membeberkan fakta hubungan Manasseh dengan otoritas Palestina besar, juga menunjukkan bahwa ia berada dalam sentuhan dengan penyair dan penata bahasa Ibrani, Haham Ribi Solomon de David de Israel d’Oliveyra, penulis Sharshot Gabluth—Ayeleth Ahabim, yang keduanya sama-sama melakukan penerbitan di Amsterdam pada tahun 5425 [1665], dan banyak buku dan risalah lainnya soal syair Ibrani. Ia dianggap sebagai salah satu pelaku kebangkitan sastra Ibrani modern di Belanda, dan menulis puisi dankomposisi karakter didaktik. Sepanjang penyelidikan kami, kami mendapati bahwa Manasseh sendiri memiliki landasan besar pada puisi Ibrani. Penubuhan dalam Enseña a Pecadores merupakan “Pengakuan Iman Peniten” yang dikomposisikan oleh Haham d’Oliveyra dalam bahasa Ibrani וידוי כפרה dan Portugis [Viduy Penetencial], yang meliputi doa untuk pembangunan ulang “Kota Suci,” memakai frase Alkitab:—תבנה חומות ירושלים Fabricarás murallas de Yerusalaim.

Karya lain Manasseh dalam bahasa Latin, De Termino Vitae, Amsterdam, 1639 (Appendix x), ditulis dengan tujuan menjawab pertanyaan yang dialamatkan oleh temannya cendekiawan Kristen Jan van Beverwijck [Johannes Beverovicius] (1594‒1647) untuk berbagai firasat dan cendekiawan, dan, akibatnya, berkarakter apologetik. Namun, dua pasal disoroti pada pandangan Manasseh soal Tanah Israel dan Mesianisme. Dalam salah satu darinya, ia membeberkan fakta bahwa Yahudi giat mengumpulkan sedekah untuk orang-orang yang tinggal di Tanah Suci; dan dalam hal lain, ia berujar bahwa “jika siapapun ingin mengetahui seluruh kontroversi Yahudi terkait penjelasan Nubuat-nubuat Daniel (fl. 3389 a.m.), ia dapat membaca Risalah Abrabanel, yang cendekiawan Johannes Buxtorf II. (1599‒1664) telah menerjemahkannya ke bahasa Latin.” Dalam cara tersebut, ia mengidentifikasikan dirinya dengan gagasan yang dijelaskan oleh Abrabanel dalam karyanya Mayy’neh Hayeshuah, yang menunjukkan bahwa Abrabanel tak hanya Mesianistik dalam esensi biasa, namun mendorong agar akhir Pembuangan dapat diakhiri pada masa mendatang.

Manasseh adalah seorang penata bahasa Ibrani yang berkaitan dengan pembetulan naskah-naskah suci kuno, dan penyunting diskriminasi besar. Dalam karya pembelajarannya, ia sangat tersentuh dengan para cendekiawan Safed; ia sangat dipengaruhi oleh keantusiasan Zionistik relijius dari Rabbi Isaiah Horwitz. Dalam harapan Mesianiknya, ia merupakan murid Abrabanel, dan ia sangat mengapresiasi puisi Ibrani relijius berpemikiran modern pada masa itu, yang diperkenalkan dalam buku devosionalnya sebagai Viduy, terkait dengan apotheosis Zion dan Yerusalem.

Berkaitan dari sudut pandang gagasan tersebut, Manasseh dari “Conciliador” nampak pada kami dalam sorotan sebenarnya. Berpikiran luas, sangat menyertai, mengerti akan seluruh penemuan dari masanya—sebuah masa penting untuk penemuan—ia meyakini laporan Montezinos terkait persaudaraan jauh, sementara, di sisi lain, devosi besarnya untuk Palestina dan keyakinannya dalam prediksi Abrabanel membuat pertanyaan soal Sepuluh Suku yang Hilang untuknya selain salah satu pengaruh penting untuk keselamatan bangsa. Yudea dan Israel kembali—dimana tempat beradanya Israel? Apakah pemikiran pemulangan terhadap Israel telah lenyap? Seluruh legenda terkait Sambatyon dan berbagai laporan Eldad ben Mahli Ha’dani (sekitar abad ke-9) terkait suku Dan dan “Putra-putra Musa” yang hidup di suatu tempat sebagai bangsa kuat nan independen, secara khusus merefleksikan aspirasi nasional yang kuat. Keturunan Yudea, Benyamin, dan separuh suku Manasseh merasa diri mereka sendiri terlalu lemah, terlalu rendah dan terlalu sedikit jumlahnya untuk mencapai pengerjaan Restorasi besar, selain meyakini bahwa mereka melakukan ketidakmungkinan penghilangan bangsa kuno, mereka bersepakat bahwa para keturunan Israel, disatukan dengan dan diacuhkan oleh bangsa lain walau mereka ada pada saat itu,suatu hari akan membangkitkan hati nurani sebagaimana cikal bakal mereka dan bergabung dengan Yudea dalam menduduki kembali Tanah Suci. Ini merupakan alasan kenapa mereka sangat terasuki oleh laporan terkait Sepuluh Suku yang Hilang. Apakah mengejutkan bahwa Marranos benar-benar siap untuk meyakini mukjizat tersebut? Apakah mereka sendiri tak seperti Sepuluh Suku Hilang didalamnya, setelah seluruh penyiksaan Inkuisisi, dan setelah nampak terdenasionalisasi, terkonversi dan teracuhkan, mereka menganggap diri mereka sendiri dan sekarang bangkit untuk kebangkitan Yahudi baru? Menganggap bahwa aspirasi tersebut bterjadi bersamaan dengan harapan untuk resotrasi dan penemuan kembali Sepuluh Suku yang Hilang, yang merreformasi Kekristenan, dan secara khusus Puritan, meyakini bahwa mereka dapat sepenuhnya merealisasikan popularitas dengan gagasan Manasseh yang diberikan dalam lingkup tersebut, dan kami dapat sangat memahami bagaiaman mereka memimpin pemasukan ulang Yahudi ke Inggris.