Slania

Sungging Raga

Minggu, 26 April 2015

Taman Ewood, Maret yang tua, setelah senja.


JADI, kapan kita mati, Slania?” tanya lelaki tua itu.

“Memangnya kenapa?”

“Kalau kita mati, mungkin saat itulah cinta kita berakhir.”

Begitulah, seorang lelaki dan perempuan tua yang tiba-tiba merasa jenuh dengan cinta, dengan perasaan rindu, dengan ciuman menjelang senja, dengan semua yang berhubungan dengan cinta.

“Kupikir kita sudah melewati semua yang bisa dilewati sepasang manusia yang saling jatuh cinta. Kita sudah menikah, anak kita ada delapan, cucu kita dua belas. Rumah sudah luas. Seharusnya aku sudah tidak perlu lagi jatuh cinta padamu, Slania.”

“Aku juga.”

“Tapi kenapa aku masih tergila-gila padamu? Sudah puluhan tahun kita hidup bersama, berbagi pagi bersama, berbagi selimut, handuk, sikat gigi, sabun mandi. Sudah ratusan kali aku mencicipi masakan buatanmu, yang asin dan yang manis, yang enak dan yang tak jelas rasanya. Sudah ratusan konflik, gelas pecah, teriakan yang terdengar tetangga, tapi kita tak sampai bercerai. Setiap selesai bertengkar, aku justru makin jatuh cinta padamu. Seharusnya cinta kita sudah pudar, sudah tidak masuk akal. Kebersamaan kita tinggal formalitas hari tua.”

“Memang seharusnya begitu.”

“Ya, memang. Namun apa kenyataannya? Cintaku padamu belum pudar sedikit pun. Padahal sekarang kau sudah tua begini. Kau tak lagi secantik ketika pertama kali kulihat di konser musik Ensiferum. Kau sudah renta dan jelek. Kita sama-sama sudah keriput. Sekarang semuanya sudah lewat. Masa-masa romantis harusnya sudah berakhir.”

Perempuan tua itu tak menjawab. Ia melihat seekor kupu-kupu hitam berdiam di pucuk bunga Lantana. Lalu, terbang ke pucuk yang lain. Terus saja berpindah. Hmn, seharusnya memang tidak ada kesetiaan.

“Tapi aku ternyata setia padamu,” lelaki itu menambahkan. “Aku terlalu setia sehingga cinta kita jadi mudah seperti air terjun. Aku tidak pernah selingkuh, tidak pernah tergoda perempuan lain. Kalau melirik memang sering, tapi itu tidak sengaja. Aku tetap teringat padamu. Dan, itu mengalahkan semuanya. Aku sampai berpikir, seharusnya cinta kita mendapat rekor dan dimuseumkan.”

“Mungkin cinta kita abadi.”

“Abadi? Hahaha. Tidak. Tidak boleh ada yang abadi. Itu mengerikan. Bahkan dunia ini akan hancur. Akan kiamat. Jadi debu beterbangan di angkasa. Ah, jangan-jangan kita akan tetap hidup meski dunia sudah kiamat, dan tinggal kita berdua. Tetap saling mencintai di atas gelimpang mayat-mayat manusia, di atas reruntuhan bumi.”

Namun, belum ada tanda-tanda kiamat. Tak ada mayat-mayat, tak ada bangunan runtuh. Segalanya masih tertata rapi. Lelaki itu kini berusia 68 tahun. Perempuan itu 64. Keduanya masih duduk di Taman Ewood, tempat mereka bertemu pertama kali puluhan tahun lalu. Dahulu mereka sepasang anak muda dengan cinta yang bergelora. Keduanya datang dengan sepatu converse dan kaus hitam bertuliskan kalimat yang sulit dibaca. Namun betapa waktu telah mengubah segalanya. Si lelaki tua kini membawa tongkat. Tongkat itu disandarkannya di sisi bangku. Sementara si perempuan mengenakan kacamata yang cukup tebal. Sebenarnya ia membawa buku. Di sampulnya tertulis Keluarga Pascual Duarte. Tapi, buku itu tak dibacanya.

“Bayangkan saja, Slania, kita masih datang kemari, duduk berdua seperti anak muda. Dan, dadaku masih bergetar saat melihat wajah tuamu itu. Mungkin aku sudah sinting. Dulu aku tertarik karena rambutmu yang hitam seperti gadis iklan. Sekarang kau sudah beruban, kusut. Kalau disisir banyak yang rontok. Apalagi yang menarik?”

Tiba-tiba perempuan itu tampak bersemangat untuk menjawab. “Aku pun begitu. Aku tidak tahu kenapa aku masih saja senang mendampingimu, membuatkanmu kopi, menghapal masakan-masakan kesukaanmu, menemanimu menulis novel hasil igauanmu sepanjang waktu. Lihat, kacamataku semakin tebal karena aku terus saja menjadi pembaca pertama novel-novelmu yang tak satu pun diterima penerbit itu. Aku juga selalu menciummu kalau kau tertidur di atas naskah-naskah.”

“Kau masih suka menciumku saat aku tidur?”

“Ya. Aku menciummu seperti yang pertama kali kau lakukan padaku diam-diam di taman ini.”

“Wah... Ini gawat, Slania. Cinta kita harus dibendung.”

“Dengan apa? Cinta kita terlalu kuat. Tak ada ujian yang bisa mengikisnya.”

“Ujian? Benar! Kita selalu memikirkan ujian apa yang bisa menghancurkan cinta kita. Cinta yang telah melahirkan banyak anak-anak yang telah berkeluarga. Bahkan Fazio, anak kita yang bungsu itu, katanya sudah mau cerai. Baru menikah setahun sudah bosan.”

“Apa kau ingin kita bercerai juga?”

“Tidak, Slania. Perceraian itu masalah hukum, bukan masalah perasaan. Perceraian tidak membunuh cintaku padamu, justru akan membuat repot cucu-cucu kita saja. Nanti mereka akan bilang, `kakek dan nenek bercerai karena terlalu cinta’. Pasti aneh. Lagipula kita sudah terlalu tua untuk ke mendaftarkan gugatan. Bisa-bisa ditertawakan pegawai di sana. Buang-buang uang juga.”

“Kalau begitu. Kau tidak coba berselingkuh?”

“Sudah, Slania. Sudah. Semasa aku masih segar, beberapa kali aku coba berkenalan dengan perempuan lain. Aku pergi ke stasiun, ke kafe, ke klab malam, ke tempat karaoke. Tapi bayanganmu selalu muncul di kepalaku. Aroma tubuhmu selalu tercium. Membuatku ingin segera pulang dan memelukmu.”

Maka sore itu, mereka kembali berpelukan. Lampu-lampu mulai menyala. Beberapa pengunjung lain melihat mereka.

“Ih, sudah tua begitu masih saja berpelukan di tempat umum.”

“Benar-benar tidak sadar umur.”

“Apa itu selingkuhannya?”

“Ha? Setua itu...”

Setiap orang memang boleh berpikir apa saja. Namun ada juga yang memuji.

“Coba lihat, Sayang, apa yang membuat mereka masih mau berpelukan begitu rupa kalau bukan karena cinta yang terus membara?” kata seorang gadis pada kekasihnya. Sang kekasih tak menjawab, tapi kemudian memeluk gadis itu juga.

Memangnya seperti apakah cinta yang terus membara? Ah, lelaki dan perempuan tua itu masih saja berpelukan. Malam pun tiba bersama udara dingin yang dihirup pucuk-pucuk bunga.


BEBERAPA bulan kemudian, si lelaki meninggal dunia. Tak banyak yang bersedih. Semuanya seperti sesuatu yang biasa dan telah dijadwalkan.

Dua bulan setelah pemakaman, tepatnya pada suatu senja yang cerah, perempuan tua itu—seperti biasa—berziarah dengan sekeranjang bunga. Ditaburkannya bunga-bunga itu di atas tanah makam, seperti menabur seluruh kenangan tentang suaminya. Ketika ia hendak menaburkan genggaman terakhir, tiba-tiba sebuah suara mengejutkannya.

“Akhirnya suamimu mati juga. Aku terlambat mendengar kabarnya.”

Perempuan tua itu menoleh, seorang laki-laki berdiri dengan jas hitam, wajah tirus, dengan kerutan-kerutan di dahi.

“Ya.” jawab perempuan itu singkat.

“Hebat sekali. Puluhan tahun kau hanya berpura-pura mencintainya, dan sampai mati suamimu tidak tahu bahwa kau hanya bersandiwara.”

Perempuan itu menghela napasnya yang berat. “Sudahlah. Jadi bagaimana? Apa sekarang kita sudah bisa bersama? Aku masih mencintaimu. Kenapa kau baru muncul?”

Laki-laki itu terkejut. “Bersama? Apa kau gila, Slania. Kau sudah keriput. Perasaanku padamu sudah habis. Aku hanya merasa lega bisa melihat kematian suamimu yang keras kepala itu. Dialah yang membuat kita tidak bisa bersama. Dia dan orangtuamu yang menyingkirkanku,” kata lelaki itu. “Sayang sekali aku tak sempat melihat proses kematiannya,” katanya lagi. Lantas ia berbalik pergi, melangkah di antara ilalang panjang.

Perempuan tua sepertinya tahu akan mendapat jawaban semacam itu. Ia hanya tersenyum, tapi memang sudah tak indah lagi, pipinya cekung, lipatan kulitnya tak bisa dihitung. Ia juga beranjak. Dengan tongkatnya, ia berjalan perlahan menuju mobil di mana seorang sopir telah menunggunya.

“Kita mampir ke Taman Ewood,” katanya pada sopir.Mobil lantas melaju seiring dinyalakannya lampulampu kota. Menjelang gelap, ia tiba di Taman Ewood, menuju sebuah bangku yang menyimpan banyak kenangan.

Perempuan itu lantas duduk sendirian di bangku itu. Ia memang tampak hanya sendiri. Namun dalam dunia makhluk halus, baru saja seorang lelaki datang dan ikut duduk di sebelahnya. Di antara batas kenyataan dan alam keabadian, lelaki itu membelai rambut perempuan itu.

“Aku tahu, Slania. Tapi, tidak apa-apa. Sungguh tidak apa-apa...”