The Mikado's Empire/Buku 1/Bab 1

THE MIKADO'S EMPIRE.


i.

LATAR BELAKANG.

Ini dijelaskan untuk memahami bangsa dan kehidupan kebangsaan mereka. Kondisi fisik pada kehidupan mereka harus dipahami. Untuk menonjolkan gambarannya, kami harus mengkaji latar belakangnya.

Dai Nippon, sebutan yang dipakai penduduk asli untuk menyebut wilayah indah mereka, menduduki posisi signifikan pada bola dunia. Terbetang di Samudra Pasifik, di zona musiman, wilayah tersebut berbentuk bagai bulan sabit yang terpisah dari benua Asia. Di ujung utara, di pulau Saghalin, yang jauh dari daratan utama Asia sangat nampak selat yanh dapat dilintasi dengan mudah menggunakan perahu. Dari Kiushiu, dengan pulau Tsushima yang membentang di antaranya, jauh dari Korea namun suatu hari dapat dilabuhkan dengan sebuah kapal. Sepanjang 4000 mil dari timur pulau utama yang terbentang di Pasifik, berhadapan dengan benua Amerika. Dari Yezo sampai Kamtchatka, kepulauan Kuril terbentang bak reruntuhan jalan umum, membentang dari Kepulauan Aleutia sampai Alaska. Penghimpunan wilayah tersebut dihasilkan dari dampak terpadu dari kegiatan gunung berapi dan sering bergerak searah gelombang. Wilayah kekaisaran tersebut nyaris setara dengan Negara-negara Tengah dan Inggris Baru kami. Dari 150.000 mil persegi permukaan, dua per tiga terdiri dari wilayah gunung. Pulau Saghalin (yang dicaplok Rusia pada Mei 1875) adalah sebuah rantai gunung; dengan Yezo sebagai salah satu gunungnya. Di pulau utama,* tulang punggung padat dari ketinggian pegunungan terbentang dari Kikuoku sampai Shinano, wilayah tersebut bercabang menjadi rantai-rantai saling berdampingan yang terkadang mencapai Nagato dan Kiushiu dan Shikoku. Seperti yang umum dikatakan, puncak pegunungan tersebut secara bertahap meningkat dari puncak tengahnya. Di Saghalin, wilayah tersebut berketinggian rendah; di Yezo, wilayah tersebut lebih tinggi: secara bertahap meningkat pada utara pulau utama, mereka memuncak di bagian tengah dalam rangkaian pulau Shinano, dan puncak-puncak Nantaizan, Yatsugadake, Hakuzan (berketinggian sembilan ribu kali), dan Fuji, yang puncaknya berketinggian lebih dari dua belas ribu kaki di atas laut. Sehingga sampai selatan, wilayah tersebut secara bertahap memiliki ketinggian yang menurun. terdapat beberapa gunung tinggi di sepanjang pesisir laut. Selip-selip wilayah secara bertahap menjadi perbukitan, hingga pada puncak yang rendah, dan akhirnya menjadi pegunungan yang berjajar.

  • Dai Nippon, atau Ninon, yang artinya Jepang Raya, dan merupakan nama dari seluruh kekaisaran, bukan pulau utama. Para penulis asing tentang Jepang nyaris bersikap blunder dalam menyebut pulau terbesar tersebut sebagai "Niphon." Hondo adalah nama yang diberikan pada pulau utama dalam Geografi Militer Jepang (Heiyo Nippon Chiri Yoshi, Tokio, 1872) yang diterbitkan oleh Kementerian Perang, dan dipakai dalam seluruh karya tersebut.

Seperti Fuji, dengan satelit tingginya, timbul dari darat, sehingga Jepang sendiri meninggi, seperti puncak, dari laut. Dari pesisir, lahan dipenuhi dengan air dalam. Selain itu, Jepang berbentuk bulan sabit dari gunung bawah laut — mungkin ujung dari batu keras yang ditinggalkan oleh pergerakan kerak bumi yang kini terhimpun di Laut Jepang dan Teluk pTartary. Tedapat sedikit alasan untuk meragukan bahwa Saghalin, Yezo, Hondo, dan Kiushiu pada suatu masa geologi menyatu bersama, membentuk satu pulau. Dikelilingi pada setiap sisi oleh gelombang yang beragam dan bergantian, pulau-pulau tersebut di sisi manapun pada perbatasan laut menunjukkan dampak dari keberadaan mereka. Di sebagian besar titik, pergerakan berkelanjutan semacam itu benar-benar menentukan luas lahan, dan kepercayaan yang dipegang di kalangan pekerja pesisir laut asli, diperkuat oleh kisah-kisah tradisional pada masa lampaui, bahwa seiring berjalannya waktu, seluruh wilayah tersebut, didukung oleh pergerakan samudra berturut-turut, pada akhirnya akan menenggelamkannya ke kedalamannya.

Formasi geologi dari negara tersebut — fondasi-fondasi alami — tidaklah ditentukan secara akurat. Namun, ini didiberitahu untuk memberikan kami garis besar fakta tersebut, yang penelitian masa depan dan survei keseluruhan harus penuhi.* Dari tanah, yang lebih diketahui.


  • Baron Richthofen, dalam sebuah surat yang dibacakan di hadapan Perhimpunan Geologi Berlin, 4 Juni 1873, yang menggeneralisasikan geologi Jepang : Bagian barat dan timur wilayah kepulauan Jepang dalam setiap hal berada dalam pergerakan berkelanjutan dari rangkaian pegunungan yang menduduki bagian tenggara Tiongkok, jaringan yang terbentang dari garis depan Annam sampai pulau Chusan, di arah W. 30° S., E. 30° N. Ini disertai pada setiap sudut lewat sejumlah jaringan paralel. Himppunan kelompok rantai linear sepanjang pulau Kiushiu sampai rangkaian besar Jepang (Suruga dan Shinano). Melalui Kiushiu dan bagian selatan pulau utama tersebut, struktur perbukitan dan bebatuan yang terhimpun (utamanya strata Silur dan Devon, disertai oleh granit) dan bentang rangkaiannya sama dengan wilayah yang diamati di Tiongkok Tenggara. Sistem ini bertumpang tindih satu sama lain. Di barat, wilayah tersebut terbentang di Kiushiu, dan membentang di selatan ke arah Kepulauan Liu Kiu, sementara di timur, wilayah tersebut meliputi cabang utara dari pulau utama, dan dengan penglihatan sebenarnya, membentang sampai pulau-pulau Yezo dan Saghalin. Sistem ketiga, yang tak masuk Jepang, dikatakan membentang sepanjang Kepulauan Kuril.

Penjelasan di atas menunjukkan persebaran gunung berapi. Sistem pertama, yang menduduki bagian penting negara tersebut itu sendiri, bebas dari keberadaan gunung berapi, atau sejumlah bebatuan gunung berapi, karena wilayah tersebut berada di Tiongkok Tenggara. Sistem kedua disertai oleh gunung-gunung berapi. Namun sejumlah besar bebatuan vulkanik, serta gunung-gunung mati, ditemukan di tempat-tempat terjamah, atau wilayah-wilayah tempat garis dua sistem melintas satu sama lain, dan disamping itu, wilayah tempat sistem ketiga bercabang dari sistem kedua. Karena tiga wilayah yang sama, gunung-gunung berapi yang aktif pada masa lampau diketahui.

Dalam struktur geologi Kinshiu, yang porosnya memanjang dari utara ke selatan, namun berhadapan dengan beberapa persegi padat yang terbuat dari bebatuan yang sangat kuno, dan memiliki ujung W. 80° S., E. 30° N. Keadaan tersebut membentu penghalang gunung yang tinggi, hal paling sentral yang, dari selatan provinsi Higo dan Bungo, timbul pada lebih dari tujuh ribu kaki, dan sangat liar dan kasar. Di Satsuma, berbagai kumpulan bebatuan gunung berapi muncul di permukaan secara berturut-turut seperti dalam kasus Hongaria, Meksiko, dan banyak wilayah gunung berapi lainnya, contohnya, pripilit, atau batu hijau trakitik; yang kedua, andesit; yang ketiga, trakit dan riolit; yang keempat, bebatuan basal. Kelompok ketiga tak didatangi olehnya. Thomas Antisell, M.D., dan Profesor Benjamin J. Lyman, M.E., dan Henry S. Munroe, M.E., para geolog Amerika di Yezo, juga menyelidiki masalah peminatan tersebut. Dari awal, aku kutip. Rangkaian gunung Yezo dan sampai jauh ke utara mirip dengan alam di bagian utara pulau utama. Itu berada di Yezo, dua rangkaian pegunungan berbeda. Yang satu, datang langsung dari utara, merupakan kelanjutan dari rangkaian di Karafto (Saghalin), yang, usai melewati selatan sepanjang pesisir barat Yezo, ditemukan di Rihuoku, Ugo, Uzen, dan sampai jauh ke selatan. Yang kedua memasuki Yezo dari kepulauan Kuril dan Kamtchatka, yang membentang N. 20-25° E. dan S. 20-25° W., dan melintasi tempat-tempat rangkaian pertama. Hal ini berasal dari keberadaan dan perlintasan jaringan yang memberikan bentuk segitiga pada Yezo. Dua rangkaian tersebut terdiri dari kandungan mineral yang sangat berbeda pada kedalaman mereka. Yang pertama memiliki granit esensial dan sumbu feldspatik, yang mungkin dihasilkan oleh penyusutan, dan penguraian lambat terhadap mineralnya yang membentuk tanah. Yang kedua memiliki poros, plutonik atau vulkanik, yang mengandung basalt, trap, dan diorit, yang mudah terurai, menghasilkan tanah yang kaya dan dalam. Sehingga, jenis vegetasi berbeda timbul di dua rangkaian tersebut. Kala dua rangkaian tersebut berpapasan, bentuk khas ditemukan di utara dan timur perbukitan, lembah terbuka di selatan dan barat. Jaringan gunung berapi tersebut bersifat sekunder di pulau utama Jepang; namun di Yezo dan di Kiushiu, ini menghasilkan pengaruh besar.

Profesor Benjamin S. Lyman, seorang geolog Amerika, juga mengadakan survei berharga dan penjelajahan di Yezo, hasilnya diberikan dalam "Laporan Horace Capron dan Para Asisten Asingnya," Tokio, 1875.

Bahkan dalam keadaan alami, tanpa penyuburan buatan, kebanyakan tanah garapan menghasilkan tumbuhan pokok atau sayuran yang baik. Pada ladang padi, yang memiliki tanah yang kaya selama berabad-aabd, kesuburannya dengan mudah ditunjang oleh irigasi dan penerapan penanaman biasa, para penduduk asli diuntungkan dalam dua cabang peternakan terapan.

Sungai-sungai di pulau-pulau sempit semacam itu, tempat pegunungan stepa dan lembah yang digali dalam, merupakan kebutuhan yang utamanya tak terpakai untuk navigasi. Biasanya, tempat tersebut sedikit melebihi aliran yang mengalir lambat di jaringan sempit dan dangkal menuju laut. Usai aingin ribu, pada cuaca hujan, atau pada musim dingin, tempat tersebut mengalami hujan deras, seringkali memiliki lebar bermil-mil, membasahi sebagian besar lahan terpencil yang mengandung bebatuan dan kerikil, tempat ladang-ladang buah ditanami. Luas lahan tetap bersifat permanen di Jepang pada catatan yang ada. Para penjelajah, yang kini melintas mulus di atas papan, mungkin esoknya takut akan banjir air lumpur yang menimpa manusia, hewan, maupun perahu yang dipakai kala itu. Namun, terdapat beberapa dataran besar, dan disana, kami nampaknya dapat menemukan sungai-sungai ternavigasi. Di pegunungan Shinano dan Kodzuke ditemukan sumber-sumber sebagian besar aliran yang berguna untuk navigasi di pulau utama. Di dataran Kuanto (dari Suruga sampai Iwaki), Oshiu (Rikuchiu dan Rikuzen), Mino, dan Echigo, merupakan beberapa sungai yang suatu kali dijelajahi dengan perahu sepanjang ratusan mil. Satu jalur air dapat mengantar dari Tokio ke Niigata dengan membuat beberapa pemberhentian, dan dari Ozaka sampai ujung Danau Biwa lewat perairan alami. Di bagian utara Hondo, terdapat beberapa sungai panjang, terutama Kitagami dan Sakata. Di Yezo, terdapat sungai Ishikari. Di Shikoku, terdapat sejumlah sungai jernih, yang melingkupi sebagian besar kepulauan tersebut. Kiushiu hanya memiliki satu atau dua tempat semacam itu. Nyaris setiap sungai berisi ikan, yang pada samudra sekitar, berlimpahan dan mudah ditangkap untuk dijadikan suplai pangan dengan kualitas terbaik. Sebelum sejarah mereka dimulai, para penduduk asli membuat makanan yang memperkaya otak pada hidangan utama mereka, dan sehingga sepanjang berabad-abad tercatat Jepang menjadikannya daging harian.

Pada zaman geologi, kegiatan gunung berapi sangat keras, karena pada zaman dulu kejadian tersebut nyaris berkelanjutan. Setidaknya ratusan gunung, yang kini mati, sempat meletus. Kegijauan yang dialami mereka saat ini mengingatkan pada suatu keadaan yang melingkupi reruntuhan tersebut, dan bunga-bungaan banyak bertumbuhan bak meriam di medan tempur. tBahkan dalam ingatan orang yang kini tinggal memiliki pengalaman paling menonjol dan mematikan dari letusan gunung berapi yang disaksikan. Tawarikh-tawarikh Jepang mencamtumkan catatan soal pegunungan yang memuntahkan api dan lava, dan kisah-kisah paling menonjol dari kehidupan manusia dihancurkan dan industri manusia yang berlebihan benar-benar digambarkan lewat pensil seniman dan pena sejarawan dalam sastra penduduk asli. Bahkan kini Jepang menghitung ada dua puluh gunung berapi aktif dan ratusan gunung berapi mati. Pada akhir 1874, gunung berapi Taromai, di Yezo, yang kawahnya sejak lama menganga, hanya meninggalkan sejumlah kecil solfataras, yang meletus, menghujankan bebatuannya sampai jauh di udara, dan memicu hujan abu sampai sejauh pesisir lain, yang berjarak bermil-mil. Bahkan kerucut yang nyaris sempurna dari Shiribeshi, di Yezo, hanyalah salah satu dari banyak reruntuhan kolosal alam. Asama yama, tak pernah tertidur, sering meletuskan asap, dan pada saat menulis ini, gunung tersebut menggelegar dan bergetar, hingga menakuti orang-orang di sekitarnya. Bahkan gunung Fuji, yang berada di tempat utama dan menghadap ke puncak-puncak kecil di tiga belas provinsi, memiliki bentuk kegiatan gunung berapi yang tak tertandingi, diselimuti oleh serangkaian lava di atas puncak granit. Hakuzan, di pantai barat, yang puncaknya berada di atas awan, sembilan ribu kaki dari permukaan laut, dan memiliki danau air termurni di pangkalnya, sempat meletus dan asapnya mengeluarkan bebatuan dan memenuhi rahang kawahnya dengan banjir lava hitam dan putih. Tak seperti asap yang kini keluar dari penerangan pada malam hari di kapal. Disamping wilayah dan ladang yang setiap saat terdampak, bukti lain dari kerentanan masa lampau tercatat. Bantalan sulfur menggunung. Satsuma, Liu Kiu, dan Yezo dikenal karena sejumlah besar bahan tersebut mudah dihasilkan. Dari sisi puncak kristal sulfur sulfur digali. are dug. Solfataras timbul dalam kegiatan aktif di banyak tempat. Mata air sulfur ditemukan di nyaris setiap provinsi. Mata air panas dipuncak, kebanyakan dari mereka sangat mengandung garam mineral, dan dikenal karena suara pasang surutnya yang mirip geyser. Di Shinano dan Echigo, orang-orang memasak makanan mereka, dan petani bekerja di ladang pada malam hari, disinari oleh gas bakar yang dikeluarkan dari tanah dan ditempatkan pada tabung bambu.

Perhubungan dengan gunung berapi adalah fenomena seismik. Catatan Jepang dari zaman terawal seringkali menyebutkan kedatangan ketakutan dan kengerian akan ketegangan bawah tanah. Tak hanya memiliki desa-desa dan kota-kota yang diguncang atau terdampak, namun dalam banyak tradisi wilayah tersebut mengisahkan gunung yang mendadak hilang, atau naik ke bumi. Riwayat sejarah lokal, yang sangat banyak di Jepang, mengaitkan banyak contoh semacam itu, dan sejumlah aliran dan cekungan yang dihasilkan oleh pembukaan dan penutupan sebagian bibir bumi yang keluar. Di Provinsi Echizen, suatu aliran memiliki panjang lebih dari satu mil, dan mirip dengan parit besar.

Selain tanah yang bagus, Jepang umumnya dikaruniai oleh Sang Pencipta dengan kekayaan mineral. Kebanyakan ragam batu berharga ditemukan di sepanjang belahan kekaisaran. Granit dan bebatuan keras, dengan berbagai tingkat kelunakan, dengan mudah diukir atau menjepit bebatuan pasir dan formasi sekunder digunakan untuk perbentengan, bangunan, pemakaman, jalan raya, atau tembok, yang nyaris ada di setiap provinsi.

Nyaris semua metal bermanfaat yang lama diketahui manusia ditemukan di kekaisaran pulau tersebut. Emas dan perak dalam jumlah berlimpah ditemukan di banyak tempat. Pulau Sado adalah wilayah yang kaya akan emas. Tembaga sangat melimpah, dan berjenis termurni. Timbal, timah, antomoni dan mangan pun demikian. Namun, zink dan merkuri berjumlah sedikit. Besi utamanya berbentuk magnetik oksida. Unsur tersebut ditemukan di sungai dan sepanjang pesisir laut, yang membentang di permukaan, seringkali sangat tebal. Kualitas utama besi dihasilkan darinya. Batu besi dan banyak ragam bijih juga ditemukan. Lapisan minyak dari tanah di Echigo, Suruga, Echizen, Yezo, dan Saghalin ; samudra di beberapa wilayah di pesisir wilayah tersebut dikatakan terlihat pada segumpalan minyak mengambang sepanjang bermil-mil.

Kekayaan botani Jepang sangat besar. Sejumlah besar spesies sayuran tanpa ragu diperkenalkan oleh orang-orang Jepang dari benua Asia, selain tumbuhan asli dan diimpor secara alami yang juga berjumlah banyak.

Pohon di pulau utama, Kiushiu, dan Shikoku berpenampilan dan bertumbuh besar, kaya akan ragam, keindahan dan kemampuan adaptasi untuk pemanfaatan manusia. Yezo adalah sebuah lahan yang kaya akan pohon dan bunga. Tiga puluh enam ragam pohon kayu yang berguna, yang meliputi pohon oak, ditemukan disana. Kuril juga kaya akan suplai, dan dapat menjadi kekaisaran yang sebenarnya bak Norwegia yang lebih kaya akan hutan ketimbang Inggris. Yamato, di daratan utama, juga dikenal karena hutannya, yang kaya akan pohon-pohon hijau tinggi, bahan pokok, dan serat, sampai pinus-pinus yang lunak dan mudah diolah; namun kebutuhan perapian dan pertukangan kayu membuat pertumbuhan pohon menurun. Disamping kayu untuk memasak, dan arang untuk penghangatan, kebutuhan akan sumber daya hutan diperlukan untuk setiap pohon yang ditebang; dan perawatan pohon-pohon hutan muda seringkali dihiraukan, walaupun kebiasaan tersebut tidaklah universal. Kebanyakan pohon dan kebanyakan tumbuhan berwarna hijau, sehingga mempertahankan kepulauan tersebut terselumuti dengan baik, dan mengurangi perbedaan antara musim dingin dan musim panas, di paruh selatan Hondo, setidaknya, minimun sampai nyaris tropis.

Berbagai ragam bambu, yang berpenampilan menarik, dan dengan kekuatan, simetri, berrongga dan pemakaian lazimnya, diadaptasi pada nyaris berbagai pemakaian yang tiada akhir, nyaris selalu tersedia, dari perdu yang tumbuh di Yezo sampai tumbuhan yang ditanam untuk pembuatan barang mewah di Satsuma sehingga nyaris bersifat kolosal. Namun, hal ini berbanding dengan negara kami sendiri, dalam hal jumlah pohon buah dan sayuran pangan. Pemakaian pertama dari sebagain besar benih dan tanaman gandum bersifat historis. Pada zaman kuno, hal ini nyaris menentukan bahwa tanah yang menghasilkan sangat sedikit yang dapat dipakai untuk pangan, kecuali akar, kacang, dan beri. Ini ditunjukkan lewat tradisi dan sejarah, dan juga lewat fakta bahwa nama-nama sayuran di Jepang kebanyakan asing.

Posisi geografis dari jaringan Jepang akan memandu kami pada kekhasan sifat flora Amerika, Asiatik, dan semi-tropisnya. Banyak ragam suhu, hujan lebat dan berkelanjutan, disusul oleh kehangatan dan sorotan surya yang nyaris tropis, disertai dan ditunjang oleh angin yang kuat dan tetap. Sehingga, kami mendapati bentuk sayuran semi-tropis dalam kaitan dengan jenis musiman Utara. Secara umum, sebagian besar unsur flora Jepang lebih bersifat perdu alih-alih herbal.

Posisi geografi Jepang sulit menjelaskan kemiripan menonjol floranya dengan Amerika Atlantik, di satu sisi, dan dengan wilayah Himalaya di sisi lain. Namun, hal semacam itu merupakan fakta: flora Jepang mirip dengan Amerika Timur Laut ketimbang Amerika Barat Laut atau Eropa.*


  • Dalam "Enumeratio Plantarum," yang memperlakukan seluruh eksogen dan konifer yang diketahui di Jepang, 1699 spesies diperhitungkan, tersebar dalam 643 genera, yang tergabung dalam 122 ordo. Dalam kata lain, badan survei botani sepenuhnya di jaringan kepulauan Nippon menunjukkan bahwa di dalamnya mewakili nyaris separuh ordo alami, sepuluh persen genera, dan nyaris tiga persen spesies dikotiledon yang diketahui ada di muka bumi. Penelitian lebih lanjut harus makin meningkatkan jumlah spesies.

Karya-karya bergambar yang sangat besar dan bagus tentang botani ada dalam bahasa Jepang. Para botanis penduduk asli mengklasifikasikannya menurut sistem Linnaean system. Dalam "Enuraeratio Plantarum" (Paris, 1874), Drs. A. Franchet dan L. Savatier memberikan ringkasan dari seluruh tumbuhan dikotilendonus yang diketahui di Jepang. Ini merupakan karya penelitian besar dan akurat. Aku melihat karya-karya asli yang lengkap dan berisi, kaya akan gambar, tentang iktiologi, konkologi, zoologi, entomologi, reptilologi, dan mineralogi. Beberapa karya masing-masing berisi sembilan puluh volume. Sepuluh ribu dolar digelontorkan oleh cendekiawan kaya di Mino dalam penerbitan salah satu karyanya. Kami tak akan menyelaraskan kewajiban ilmu pasti pada masa ini, namun kami menentukan tesaurus berharga untuk penyelidik botani. Aku berhutang pada sebagian besar informasi tentang flora Jepang pada sebuah lembar dalam Japan Mail tanggal 25 September 1875, dari penulisan karya besar buatan pengulas kompeten Dr. Savatier.

Fauna pulau tersebut sangat sedikit, dan juga sangat mungkin bahwa banyak hewan domestik yang diimpor. Dari hewan liar, beruang, rusa, serigala, luwak, rubah, dan monyet, dan hewan-hewan darat kecil, kemungkinan besar asli. Namun, sepanjang dikaji, jenis yang disepakati dari wilayah Amerika terpencil lebih dekat pada benua Asiatik.

Ini sangat mungkin, dan nyaris tentunya, bahwa Jepang prasejarah tak memiliki sapi, kuda, domba, atau kambing. Bahkan di Jepang modern, kemiskinan fauna membuat penjelajah menjadi kaget. Burung-burung banyak mangsanya. Elang dan rajawali berjumlah langka. Gagak, dengan tanpa keberadaan kuno mereka, kini, selalu seperti masa lalu, tak terhitung. Suara sejumlah kecil burung pipit terkadang terdengar; namun nyanyian burung nampak dikatakan dari katalog alam kekaisaran pulau tersebut. Dua burung, bangau dan kuntul, kini, seperti zaman kuno, mendarat di lahan dalam keadaan cantik, atau melakukan serangan terhadap mangsa kala mereka mendarat dengan sangat anggun di tengah air. Bebek liar dan soang dalam gerombolan, dari sejak dulu, menjalani musim panas di Yezo dan menjalani musim dingin di Hondo.

Unggas domestik nyaris secara keseluruhan terdiri dari bebek dan ayam. Yang lainnya, tanpa ragu, diimpor. Burung-burung laut berkerumun di pantai yang tak dihuni, dan dari bebatuan tempat para pelayan mengumpulkan telur-telurnya.

Di sekitaran daratan mereka adalah persediaan besar makanan, samudra. Laut Jepang mungkin tak diragukan di dunia karena kelimpahannya dan beragam spesies ikan pangan terpilihnya. Kebanyakan teluk kecil dan besar terdapat di kepulauan tersebut sepanjang berabad-abad atas dasar perburuan nelayan. Sungai-sungai juga diisi dengan banyak ragam ikan air tawar. Di Yezo, salmon terbaik berjumlah melimpah, sementara setiap spesies ikan kerang pangan, moluska dan Krustasea, hidup di pesisir kepulauan, atau menyuburkan tanah dalam kelompoknya. Seringkali kelangkaan ikan merupakan persoalan pengolahan, penjualan, dan pemakaian standar. Ragam dan kelimpahan rumput laut pangan tertonjolkan.

Hasil dari penyelidikan herbarium Dr. Asa Gray yang dibawa ke Amerika Serikat lewat penjelajahan Perry dijelaskan sebagai berikut :

43 persen berkaitan dengan perwakilan Eropa

37 persen berkaitan dengan perwakilan Amerika Barat Laut

61 persen berkaitan dengan perwakilan Amerika Timur Laut

sementara itu

27 persen identik dengan spesies Eropa

20 persen identik dengan spesies Amerika Barat Laut

23 persen identik dengan spesies Amerika Timur Laut

"Laporan Dr. Gray dibuat pada tahun 1858, kala botani Jepang sedikit diketahui, dan penjelasan tersebut dibuat dalam angka-angkanya, namun dapat sedikit diragukan bahwa hasil umumnya akan sama ."


Aspek-aspek alam di Jepang, seperti di benyakan negara gunung berapi, terdiri dari sejumlah hal tersembunyi, merusak, dan nyaris sangat cantik. Dari pegunungan, letusan gunung berapi terjadi; dari darat datanglah getaran; dari samudra timbul gelombang ombak; di atasnya timbul angin ribut. Banjir bandang pada musim panas dan musim gugur menimbulkan pengikisan dan longsor. pada tiga bulan dalam setahun, topan mematikan timbul, dan gelombang yang sangat beragam. Di sepanjang pesisir, angin dan gelombang sangat beragam. Bebatuan yang timbul dan tenggelam terbaris di pesisir. Semuanya membuat sisi gelap alam pada awan khayalan manusia, dan menciptakan mimpi buruk takhayul. Namun, kehayaan alam membentangkan pemekaran temporernya, dalam dalam keberadaan kegembiraannya memberikan senyum pada teror masa lalu yang kemudian terlupakan. Sekumpulan vegetasi, bentangan lanskap, dan gelombang besar udara dan iklim datang kemudian dan membentuk jiwa manusia. Musim-musim datang dan pergi seperti biasa; iklim dari masa ke masa mencapai kesempurnaan dalam zona musiman — tak terlalu panas pada musim panas, maupun mentah pada musim dingin. Kebanyakan penduduk jarang melihat es dengan ketebalan lebih dari satu inchi, atau salju lebih dari dua puluh empat jam. Rata-rata titik terrendah dalam cuaca dingin terukur sekitar 20° Fahrenheit.

Samudra di sekitarnya dan angin yang beragam menghangatkan iklim pada musim panas ; Euro Shiwo, Aliran Teluk Pasifik, menghimpun rasa dingin pada musim dingin. Langit bak permukaan Laut Tengah di atas Jepang, tembok samudra di dalamnya, dan lahan yang hijau nan subur. Dengan udara sehat, tanah subur, iklim musiman, wilayah pegunungan dan lembah, dengan garis pesisir yang ditunjang dengan teluk dan pelabuhan, serangkaian makanan, sebuah wilayah yang ditopang dengan kecantikan alam, namun selaras pada kesempatan apapun untuk keterpencilan dan reruntuhan tersembunyi, apa pengaruh alam dalam membentuk fisik dan karakter warga yang menghuni Jepang ?