Habis Gelap Terbitlah Terang/Semua


HABIS GELAP TERBITLAH TERANG.


BUAH PIKIRAN


Radèn Ajeng KARTINI.


Dimelayukan oléh


EMPAT SAUDARA


Dihiasi dengan 17 buah gambar.


DIKELUARKAN OLÉH


BALAI-PUSTAKA


1922.


DRUKKERIY VOLKSLECTUUR WELTEVREDEN.


Potret kartini 8 1.jpg
Kartini signature 8-2.png

Angka-angka Romawi yang dicétak di belakang angka-angka tahun, menunjukkan nama-nama orang tempat R. A. Kartini berkirim surat; orang-orang itu ialah:

  1. Nona E. H. Zeehandelaar, sekarang Nyonya Hartshalt.
  2. Nyonya M. C. E. Ovink-Sur.
  3. Tuan dan Nyonya Prof. Dr. G. K. Anton di Jena *)[1] (tanah jérman).
  4. Tuan Dr. N. Adriani.
  5. Nyonya H. G de Booiy-Boissevain.
  6. Tuan H. H. van Kol.
  7. Nyonya N. van Kol.
  8. Nyonya R. M. Abendanon-Mandri.
  9. Tuan Mr. J. H. Abendanon.
  10. Tuan E. C. Abendanon.



PRAKATA.

Penduduk tanah Hindia tentu banyak yang kenal akan S. P. tuan Mr. Abendanon, Direktur Pendidikan, Agama, dan Perindustrian, yang telah berhenti dan sekarang bertempat di kota den Haag di tanah Belanda. Tuan itu seorang Belanda yang tidak kenal lelah menolong memajukan tanah Hindia dan penduduknya. Sejak dahulu waktu beliau masih di Hindia, sampai sekarang di tanah Belanda selalu beliau berusaha dengan sekuat-kuatnya untuk kebaikan dan keselamatan Bumiputera tanah Hindia. Siapa yang dahulu membaca surat kabar Bintang Hindia, tentulah membaca pemikiran tuan Abendanon semasa beliau masih menjabat pangkat Direktur Pendidikan, Agama, dan Perindustrian di Hindia. Pemikiran tuan Abendanon itu diurai dan dipaparkan oléh Dr. Abdul Rivai yang déwasa itu menjadi kepala redaksi surat kabar Bintang Hindia.

Banyak jasa dan kebaikan tuan Abendanon kepada kita penduduk tanah Hindia; tetapi hal itu tidak usah dibicarakan lebih lanjut; hanyalah satu dari pada kebaikannya itu yang perlu dipaparkan dan yang berguna untuk kita ini. Tuan Abendanon sesuai sekali pikirannya dengan Radèn Ajeng Kartini tentang maksud hendak memajukan tanah Hindia. Pertimbangannya itu ialah:

"Jikalau sekiranya tanah Hindia betul-betul hendak dimajukan, bukan hanya laki-laki saja, tetapi perempuan-perempuan bangsa Bumiputera pun wajib dimajukan pula, karena dari perempuanlah keluar awal mula pendidikan akan anak-anak yang kelak akan menjadi besar. Oléh sebab itu haruslah pula perempuan beroléh pendidikan yang baik dan berbudi pekerti yang sempurna."

Pemikiran itulah yang membuat tuan Abendanon mengumpulkan surat-surat R. A. Kartini, dan dijadikan sebuah buku dan dicetak, supaya bangsa Belanda boléh tahu hal-hal apakah yang dapat memajukan penduduk tanah Hindia. Tetapi pekerjaan itu belumlah cukup, bila bangsa Belanda saja yang mengetahui hal itu; bangsa R. A. Kartini sendiri pun wajib pula mengetahui apa yang harus meréka lakukan untuk memajukan diri meréka sendiri. Oléh karena itulah, tuan Abendanon meminta kepada kami menerbitkan buku ini dengan bahasa Melayu.

Pekerjaan menerjemahkan itu suatu pekerjaan yang berat; sungguhpun demikian, kami tidak dapat menolak permintaan itu, karena hal itu kami pandang sebagai sebuah kewajiban dan harus segera kami lakukan.

Setelah pikiran kami bulat akan mengerjakan pekerjaan yang berat itu, maka kami mengajukan permintaan kepada Komisi Untuk Bacaan Rakyat di Betawi, kalau-kalau Komisi itu mau mencétak buku yang akan diterjemahkan itu. Pada bulan Februari 1917 kami mendapat surat dari Komisi yang tersebut, bahwa mereka dengan senang hati akan mencétak buku ini. Dengan besar hati kami dan tuan Abendanon mengucap terima kasih kepada Komisi Untuk Bacaan Rakyat atas kesudian itu.

Kepada bangsa kami, bangsa Hindia, kami berharap dan meminta, supaya Anda sudi mendapatkan buku ini dan membacanya sungguh-sungguh.

Akhirnya kami hadapkan péna kami kepada pembaca-pembaca buku ini serta kami minta pertolongan, mudah-mudahan tuan-tuan mau memberitahukan kepada kami kesalahan yang terdapat dalam buku ini, supaya pada cétakan yang kedua kesalahan itu dapat diubah.

PENERJEMAH.



PENDAHULUAN.

Pada 8 Augustus 1900 saya datang ke Jepara bersama-sama dengan isteri saya. Waktu itu saya menjabat pangkat Directeur van Onderwiys, Eeredienst en Niyverheid. Maksud saya pergi ke Jepara hendak membicarakan dengan marhum regén Jepara, Radèn Mas Adipati Ario Sosroningrat dan isterinya, radèn ayu serta anak-anaknya yang perempuan, bagaimana patutnya dan apa akal akan meluaskan pemandangan dan mempertinggi pikiran anak-anak perempuan Jawa yang bangsawan dan anak orang kebanyakan.

Hari itu ialah hari yang tidak mudah kami lupakan dalam hidup kami.

Adapun berkenalan dengan regén itu dan radèn ayunya menyenangkan hati kami sekali; akan tetapi yang terlebih-lebih meriangkan hati kami ialah anak-anak perempuan bupati yang peramah itu, apalagi pertemuan dengan ketiga orang anak perempuannya yang tertua yang seolah-olah tiga setangkai seperti daun laiknya, sangat menggirangkan hati kami. Akan anak-anak perempuannya yang lebih muda pada masa itu masih kecil-kecil.

Kira-kira sebulan kemudian dari pada itu datanglah regén itu dengan radèn ayu serta ketiga anak perempuannya yang molék itu ke Betawi menjelang kami dan tinggal beberapa hari di rumah kami. Waktu itulah persahabatan kami bertambah rapat, yang seorang lebih mengenal dan lebih menghargai akan seorang; maka yang jadi akibat perkenalan itu: sejak itu kami setia berkirim-kiriman surat; lebih-lebih dengan yang tertua dari ketiga anak perempuan itu, yaitu Radèn Ajeng Kartini, kami selalu berbalas-balasan surat.

Maka surat-suratnyalah pula yang terlebih menarik hati kami, karena dalam pikirannya, tinggi hématnya dan halus perasaannya serta keras kehendaknya akan memajukan bangsa Jawa, lebih-lebih akan memajukan perempuan bangsa Jawa.

Karena itu kamipun hati-hati sekali membalas suratnya itu, sebab kami merasa beratnya tanggungan yang terpikul atas kami dalam membalas surat-surat itu.

Bahwasanya mudah sekali turut menjaring angin bersama-sama dengan orang yang besar cita-citanya. Akan tetapi karena cita-cita itu tidak dapat dicapai dengan tidak merusakkah barang sesuatu yang telah berzaman-zaman lamanya, wajiblah atas tiap-tiap orang mengurangi cita-citanya itu.

Besarnya bahaya merusakkan barang yang telah berurat-berakar itu, tidak terkirakan. Dan kalau kejadiannya mendukacitakan, maka dukacita itu tiada selamanya dapat dihilangkan orang. Itulah sebabnya maka kerap kali kami terpaksa menahan hati kami, sungguhpun sebenarnya kami lebih suka sama-sama bergirang hati dengan R. A. Kartini dan saudara-saudaranya dalam hal memuliakan cita-cita meréka itu.

R. A. Kartini sendiri merasa berat tanggungannya dalam hal membiarkan saudara-saudaranya yang perempuan bersama-sama bekerja dengan dia akan menyampaikan maksudnya itu: "Saya tahu, jalan yang saya hendak jalani dan turuti ialah suatu jalan yang susah, yang penuh ditaburi dengan duri dan ranjau, dan banyak lekuk-lekaknya; jalan itu sangat berbatu-batu, turun naik dan licin; ya, jalan itu belum lagi ditebas."

Tetapi saudara-saudaranya menghiburkan dia dengan perkatakan ini: "Bukan kakanda, bukan orang lain yang dapat memberi kami cita-cita, jika benihnya tidak ada pada kami sendiri. Bagaimanapun juga kita pergi bersama-sama, baik ke surga ataupun ke neraka."

Adapun yang disukai R. A. Kartini pengetahuan, supaya mudah ia dapat menjalankan pekerjaannya yang telah dijanjikannya dalam hatinya sendiri, yaitu menambahi kepandaian dan budi perempuan Jawa, supaya ia cakap memeliharakan anak-anaknya. Lain dari pada itu melepaskan anak perempuan Jawa dari pada kawin terpaksa dan dari segala gangguan yang mengurangi kebébasan si anak itu. Dengan cara demikian R. A. Kartini hendak menyampaikan maksudnya, supaya perempuan-perempuan menjadi sahabat yang berharga untuk suaminya. Dalam pada itu berapapun keras hati R. A. Kartini hendak menyampaikan niatnya itu, iapun sekali-kali tidaklah mau mendukacitakan ayahanda yang dicintainya.

Adapun perbédaan Kartini dengan ayahandanya, hanyalah dalam perkara ini saja, yaitu karena R. A. Kartini hendak bébas sama sekali dari pada adat-adat yang lama. Datangnya perbédaan itu mudah dipikirkan, yaitu R. A. Kartini berdiri lebih jauh dari adat yang lama-lama itu dari pada ayahandanya. Adapun ayahandanya itu anak pengéran Demak yang tua; dari mudanya ia mendapat pelajaran bangsa Eropa seperti saudara-saudaranya juga; di antara saudara-saudaranya itu hanyalah regén Demak, Pengéran Ario Hadiningrat, yang masih hidup. Bagaimana sekalipun bébas pikiran ayahanda R.A. Kartini, si bapak tidak dapat juga menuruti kehendak si anak, sungguhpun si bapak telah banyak pula mengubahi adat-adat yang lama itu. Sepanjang pikiran R. A. Kartini, dinding yang membatasi zaman dulu dan zaman sekarang tidak ada lagi, pada hal dinding yang tersebut masih berdiri; kerap kali ia tertumbuk pada dinding itu, bila diketahuinya, banyak di antara orang-orang yang dicintainya tidak dapat diubahnya pikirannya menurut kemauannya.

Demikianlah hal itu selama-lamanya, bila si pembuka jalan memandang kepada meréka itu, yang belum dapat membebaskan dirinya dari pada pikiran yang lama-lama. Akan R.A. Kartini tiadalah sia-sia menggerakkan dinding yang di atas itu. Bukan saja ayahandanya dapat diputar oléh R. A. Kartini menurut pikiran yang baru itu, tetapi bundanyapun akhirya membenarkan pikiran R. A. Kartini. Akhirya radèn ayu menjadi sepakat dengan pikiran yang menuju kemajuan itu; karena pikiran itulah radèn ayu- menjadi lebih mencintai dan menyayangi anak-anaknya, dan jalan itulah selalu diturutnya sampai sekarang. Saudara perempuan Kartini yang tua yang lebih dulu bersuamipun akhirya membenarkan buah pikiran Kartini, sungguhpun pada permulaannya ia membantahi pikiran itu dengan keras. Demikian pula saudara-saudaranya yang laki-laki mengiakan pikiran yang mulia itu.

Lama-kelamaan buah pikiran Kartini itu tentu makin dimuliakan orang dan mendapat kemenangan, dan Kartinipun tidaklah sia-sia bekerja dan menanggungkan kesusahan karena buah pikirannya itu.

Dengan segera tanah Belanda telah menarik hati R. A. Kartini; ia berkehendak bertukar pikiran dengan anak-anak perempuan di Eropa; untuk menyampaikan kehendaknya itu dimasukkannya surat ajakan dalam sebuah surat-bulanan perempuan. Itulah sebabnya ia berkirim-kiriman surat dengan nona Estelle H. Zeehandelaar, sekarang nyonya Hartshalt. Dengan lekas kedua anak perempuan itu menjadi bersahabat dan yang seorang mempercayai yang lain, sungguhpun mereka itu belum pernah berjumpa. Lain dari pada itu banyak lagi orang tempat R. A. Kartini berkirim surat di Eropa. Beberapa orang dari pada meréka itu saya ketahui namanya. Dan meréka itulah dapat saya menyalin surat-surat Kartini yang berguna akan dicétak.

Isteri saya, anak saya E. C. dan saya sendiripun banyak pula menerima surat Kartini. Seberapa yang perlu surat-surat itupun disalin dan diaturkan. Mengaturkannya itu menurut hari bulan surat-surat itu. Lagi pula saya telah mendapat izin akan menyuruh cétak surat-surat itu dari pada Radèn Adipati Ariojoyo Adi Ningrat, regén Rembang, yaitu suami R. A. Kartini dan dari bundanya Radèn Ayu Adipati Ario Sosroningrat, janda bapaknya yang baru berpulang kerahmatu'llah.

Dan lagi pula saya tahu, bahasa saudara-saudaranya laki-laki dan perempuan tidak ada sangkutan baginya menyuruh cétak surat-surat itu.

Akhirya saya percaya sungguh, bahwa mengeluarkan segala buah pikirannya itu akan banyak menolong menyampaikan cita-citanya yang terdapat pada hati nuraninya itu.

Saya tidak akan memberi tahukan segala surat-suratnya yang dipercayakannya kepada saya dan tidak pula segala isi surat-surat itu, hanyalah sebagian saja saya suruh salin, karena menurut pikiran saya bagian itu akan diizinkan juga oléh R. A. Kartini mengeluarkanya. Hanyalah surat-suratnya yang kesudahan sekali saya suruh cétak semuanya, karena surat-surat itu adalah seolah-olah ucapan selamat tinggal kepada negeri yang fana ini.

Dari segala surat-suratnya yang tidak dicétak seluruhnya adalah beberapa pikirannya yang pandak yang dijadikan satu, dicétak di belakang surat-surat itu.

Lukisian-lukisan yang dalam kitab ini ialah rumah regén Jepara, rumah tempat R. A. Kartini berperang dalam kehidupan beberapa tahun lamanya dan ada lagi beberapa tempat lain-lain yang dinamainya "sudut yang dilupakan", yang terutama yaitu Laut Bulu ujung di Jepara atau "Scheveningen kecil" yang dicintainya, tempat ia duduk bersaat-saat menanggungkan kesedihan hatinya, dan di tempat itulah pula ia merasa kesukaan yang menyuruhnya meminta terima kasih.

Lukisan Kartini yang ditanda tangani sendiri itu dikirimkannya kepada kami pada tahun 1902, yaitu pada lukisannya bertiga bersaudara yang hampir sama besar itu.

Gambar-gambar yang lain diperbuat dengan pinsil oléh "bunda” (nyonya Abendanon). Bunda itu baru ini mencoba menggambar-gambar itu, karena kasih dan cintanya kepada Kartini juga.

Ke dalam kitab ini ditambahkan pula sebuah surat peringatan yang dikarangkan oléh R. A. Kartini dan dengan segala suka hati telah diberikan kepada saya oléh nyonya A. Buyn-Glaser yang dahulu menjadi guru perempuan di Jepara dan sahabat kepada Kartini serta kedua saudaranya.

Maksud kitab ini dicétak lain dari pada menerbitkan kesukaan hati, ialah akan meminta pertolongan orang banyak untuk mendirikan sekolah untuk anak-anak gadis bangsa priayi seperti yang dimaksud oléh R. A. Kartini, mula-mula berdikit-dikit dan lambat launnya dibesarkan dan diluaskan dengan kekuatan sendiri. Pada sekolah itu haruslah anak-anak sanggup membuat ujian guru pembantu untuk pengajaran Bumiputera.

Sekalian keuntungan yang akan saya terima dari tukang cetak, akan dipergunakan untuk mendirikan sekolah Raden Ajeng Kartini; sebagian dari pada uang untuk mendirikan itu sudahlah tersedia.

Tambahan lagi, bila kitab ini telah dicétak, maksud saya hendak meminta pertolongan kepada beberapa nyonya akan mendirikan sebuah komisi yang akan mengumpulkan uang untuk mendirikan sekolah itu pada sebuah negeri yang séhat di Jawa Tengah. Saya berharap wang yang diberikan oléh pihak partikulir akan ditambah dan ditolong oléh Pemerintah dengan wang bantuan.

Kabar kawat yang mewartakan wafat Kartini yang tidak disangka-sangka pada 17 September 1904, mendatangkan suatu Kedukaan yang amat sangat kepada kami. Adalah serasa kami kehilangan anak kandung sendiri. Bagaimana kedukaan sahabat kenalannya yang lain-lain dapatlah dibaca orang dalam surat bulanan Hollandsche Lelie pada 30 November; dalam surat kabar itu nyonya Ovink-Sur meratapi Kartini yang disayanginya itu, demikian bunyinya: "tidak lain yang saya lihat dari padamu hanyalah kesucian hatimu saja, Kartini. Engkau selalu mengurbankan dirimu untuk keselamatan orang lain, selalu engkau pandang kesejahteraan orang lain itu lebih perlu dan pada untung dan keselamatanmu sendiri. Saya berharap mudah-mudahan anak yang engkau tinggalkan itu bukan saja akan jadi seorang terpelajar dan budiman, tetapi menjadi seorang mulia seperti bundanya juga. Engkau akan selalu tinggal menjadi ingat-ingatan pada saya."

Demikian pula Augusta de Wit menguraikan hal keadaan hidup Kartini dalam surat kabar hari-hari dan nyonya Nellie van Kol menulis sepucuk surat kepada Regén Radèn Adi Pati Ariojoyo Adi Ningrat. Atas permintaan juru kabar Locomotief di Semarang telah disiarkan surat itu dalam surat kabar yang tersebut. Yang sebenarnya isi surat itu nyonya itu berharap, supaya Radèn Mas Sienggih berusia panjang dan menjadi seorang yang senilai dengan bundanya yang ternama itu.

Kepada sekalian yang dikatakan itu saya hendak menambahkan ini sedikit: "Buah pikiran pahlawan yang mulia itu tentu akan menghiasi namanya sendiri. Pada sekalian orang tentu akan terbit pikiran yang sama duka mengingat, betapa Kartini, orang yang mengurbankan hidupnya kepada kemajuan bangsanya itu hanya beberapa hari saja dapat memelihara anak kandungnya. Tetapi nama ibunya itu tentu akan mengingatkan si anak itu kepada kewajiban yang tertanggung di atas bahunya."

Bahwasanya nama Kartini itu tentulah akan tinggal memberi berkat kepada bangsa Jawa dan bangsa lain-lainpun di tanah Hindia. Kepada bangsa-bangsa itu adalah Kartini itu sebagai fajar yang sedang menyingsing yang menunjukkan jalan dari tempat kegelapan kepada cahaya kemajuan yang terang-benderang, yakni kemajuan yang hanya dapat diperoléh dengan meninggalkan pikiran dan memuliakan kalbu nurani.

Kepada bangsa kulit putihpun pastilah nama itu akan memberi berkat pula. Ialah yang telah mendekatkan bangsa itu dengan buah pikirannya kepada bangsanya sendiri.

Mr. J. H. ABENDANON.

's Gravenhage, April 1911.


jalan besar di antara Depok dan Bogor.

Jepara, 20 Mei 1899 (I)Sunting

Saya sangat beringin hendak berkenalan dengan seorang "gadis kaum muda”, anak gadis yang cakap dan sanggup tegak sendiri, yang cepat kaki ringan tangan serta berani menentang kehidupan dengan hati yang riang dan pikiran yang suka, lagi dengan gembira dan keras hatinya bekerja, bukan untuk keuntungan dan keselamatan dirinya sendiri saja, tetapi suka mengurbankan diri akan guna keperluan dan keselamatan orang banyak juga. Itulah anak gadis yang saya sukai. Saya beriang hati, bersuka raya, menyambut zaman yang baru, bahkan saya dapat katakan, kalau menilik pikiran dan perasaanku, tak hidup lagi bersama-sama dengan bangsa Hindia, melainkan adalah pikiran dan perasaanku itu sesuai betul dengan saudara-saudaraku bangsa kulit putih yang masuk kaum kemajuan di tanah Eropa yang jauh itu.

Jikalau kiranya adat lembaga tanah airku mengizinkan saya berbuat sedemikian, tak adalah yang lain yang lebih saya sukai, melainkan turut berusaha untuk kemajuan perempuan kaum muda di tanah Eropa. Tetapi adat lembaga yang telah berzaman-zaman usianya itu, yang tidak mudah dihilangkan dan ditinggalkan itu, mengikat dan merantai kaki kami dengan tangannya yang kukuh. Tentu pada suatu ketika kami akan terlepas dari pada belenggu itu, tetapi waktu itu masih jauh, ya, teramat jauh antaranya pada kami.

Yang ia akan datang, tahulah saya, tetapi datangnya itu tiga, empat keturunan kemudian dari pada kami. Saya kira, tak dapat Tuan mengirakan betapa sedihnya hati kami dalam hal serupa ini: hati kami cinta dan asyik sekali memandang za­man yang baru, yaitu zamanmu, zaman yang disukai hati jantungku, pada hal kaki dan tangan kami masih terikat terbelenggu oléh adat lembaga, adat pusaka tanah air kami, yang belum boleh lagi kami tinggalkan saja. Akan adat lem­baga, adat pusaka negeri kami itu berlainan benar dengan kemauan zaman baru, yang hendak saya masukkan ke dalam dunia bangsa kami. Siang dan malam saya pikir dan heningkan daya upaya, supaya saya dapat meluputkan diriku dari adat-adat lembaga tanah airku yang keras itu, tetapi pahamku tertumbuk juga.

Bukan karena adat-adat lembaga bangsa Timur yang lama itu kuat dan kukuh, kalau itu saja tentu akan dapat saya melebur, menghancurkannya akan melepaskan diriku. Tetapi ada lagi suatu ikatan yang lebih kuat dan teguh dari adat-adat yang telah berzaman-zaman itu, yang menambatkan saya pada duniaku. Adapun ikatan itu yaitu percintaan yang ada padaku akan meréka, yang melahir menghidupkan daku, yang memelihara dan membesarkan daku. Boléhkah saya memilukan hati meréka, yang selama hidupku selalu memberi dan menunjukkan kesayangan dan kebaikan padaku serta yang memeliharakan saya dengan bersusah payah itu? Adakah hak saya akan itu? Hati meréka itu akan saya rusakkan sekali, bila saya menurutkan kehendak hatiku itu, bila saya kerjakan perbuatan yang diingini seluruh tubuhku itu, tiap helai bulu, setiap saat, sepanjang waktu.

Bukan saja suara-suara, yang dari luar, dari Eropa, negeri yang beradat halus dan yang penduduknya sudah terpelajar itu masuk ke hatiku dan menyebabkan saya beringin akan perubahan tentang hal keadaan yang ada sekarang ini, tetapi waktu saya masih kanak-kanakpun, tatkala perkataan "kemerdékaan” belum saya dengar, belum saya ketahui artinya, serta surat-surat dan kitab-kitab tentang hal itu masih jauh dari padaku, sudah ada juga biji keinginan dalam hatiku yang makin lama makin besar itu, yaitu: ke­inginan akan kebébasan, kemerdékaan dan tegak sendiri. Adapun yang membangunkan keinginan itu ialah keadaan yang kulihat berkelilingku yang menyedihkan hatiku, dan mencucurkan air mataku, karena kedukaan yang tak berhingga.

Dan suara-suara, yang selalu datang dari luar, yang semakin lama semakin keras tibanya kepadaku, menyebabkan tumbuhnya bibit keinginan itu dan ditambah oléh perasaan turut berdukacita dengan orang lain yang saya sayangi amat sangat, sampai pada hati kecilku; akhirnya bibit itu telah berurat berakar dan tumbuh dengan suburnya.

 
SEKOLAH RENDAH DI JEPARA.

Tetapi hingga inilah perkara itu dulu, kemudian hari dihubung pula. Sekarang saya hendak menceriterakan tentang diriku sendiri kepada tuan, seolah-olah akan berkenalan. Adapun saya ini anak perempuan yang kedua oléh regén Jepara; saudara saya ada lima orang laki-laki dan lima orang perempuan. Kekayaan besar, bukan? Marhum nénékku, Pengéran Ario condronegoro, regén Demak, seorang yang suka akan kemajuan, ialah regén yang pertama-tama sekali di Jawa Tengah, yang membukakan pintu rumahnya untuk jamu yang jauh datang dari seberang lautan: yaitu kemajuan orang Eropa. Sekalian anak-anaknya yang pendidikannya cara Eropa semuanya, memusakai kemajuan bapa meréka itu setelah meréka itu menjadi bapa pula, memberi anak-anaknya pendidikan serupa pendidikan yang telah diterimanya sendiri dulu. Banyak anak-anak bapa mudaku dan kakak-kakakku telah menammatkan sekolah menengah (H.B.S.), sebuah sekolah yang setinggi-tingginya, yang ada di tanah air­ku, dan kakakku laki-laki yang muda sekali (dia ada tiga orang) telah lebih dari tiga tahun di tanah Belanda, belajar untuk melanjutkan kepandaiannya, dan dua orang yang lain itu telah menjabat pangkat pada Gubernemén. Kami anak-anak perempuan yang terikat kaki tangan kami oléh adat-adat kuno tadi, hanyalah sedikit-sedikit boléh merasai kelazatan kemajuan tentang pengajaran itu; sebenarnya kami anak-anak perempuan, keluar pergi belajar dan setiap hari meninggalkan rumah pergi kesekolah itu sudah suatu kesalahan yang besar pada adat lembaga yang kuno itu. Karena adat tanah air kami melarang anak-anak perempuan pergi keluar rumahnya. Pergi kenegeri lain kamipun tidak boléh, sedang sekolah yang ada dinegeri kami yang kecil ini hanya sekolah rendah yang biasa, sekolah Belanda Gubernemén. Waktu saya telah ber'umur dua belas tahun, maka saya dikeluarkan dari sekolah itu. Saya wajib masuk "kurungan", saya ditutup didalam rumah dan sekali-kali tidak boléh keluar lagi. Kami tidak boléh lebih dahulu keluar dari rumah, kalau tidak bersama-sama dengan seorang suami, seorang laki-laki yang tidak kami kenal, yang dipilih oléh orang tua kami untuk kami dan dengan si laki-laki itu kami dikawinkan dengan tidak setahu kami. Sahabat kenalan kami orang-orang Belanda — sepanjang pendengaran saya kemu­dian harinya — telah mencoba dengan bermacam-macam daya upaya akan mengubahkan pikiran orang tua saya, supaya diubahnya keputusan yang bengis, yang ditetapkan atas diriku itu, seorang anak yang masih kecil dan manja, tetapi usaha meréka itu sia-sia saja. Orang tuaku tidak mendengarkan pikiran meréka itu — saya terus dimasukkan ke dalam kurunganku. Empat tahun lamanya saya tinggal berchalwat di antara empat dinding yang tebal itu dengan tiada pernah keluar-keluar sekali juapun. Bagaimana saya menghabiskan waktu empat tahun itu di tempat itu, tidak tahulah saya lagi — hanya yang saya ketahui, bahasa waktu itu amat sengsara adanya.

Suatu keuntungan yang amat besar bagiku, hanyalah karena aku tidak dilarang membaca kitab-kitab bahasa Belanda dan berkirim-kiriman surat dengan sahabat-sahabatku bangsa Belanda. Itulah saja yang menyenangkan hatiku dalam waktu yang sial dan mendukacitakan itu dan itulah saja tempat aku bergantung; kalau tiada barang yang dua perkara itu, barangkali sampai ajalku atau lebih dari pada itu — yaitu pikiranku barangkali boléh hilang sama sekali karena itu. untunglah datang penolong dan pelindungiku, yaitu perubahan zaman membunyikan langkahnya yang keras dan dahsyat itu. Kedatangan waktu yang baru menggoyangkan gedung-gedung adat yang kukuh-kukuh dan tua-tua dari sendinya dan membuka pintu-pintu gedung itu, yang diKunci dan dijaga kuat-kuat itu. Setengahnya terbuka sendirinya dan ada pula yang dibuka dengan kekerasan, tetapi terbuka mesti, tidak boléh tidak. Dari pintu-pintu yang terbuka itulah masuk jamu yang tidak disukai itu ke dalam gedung-gedung itu. Pada sekalian tempat yang ditempuh si jamu itu kelihatanlah selalu bekas jejaknya. Adapun si jamu itu ialah 'ilmu kepandaian bangsa Eropa. Akhirya, ketika saya telah ber'umur 16 tahun, boléhlah pula saya keluar rumah. Syukur! beribu syukur! Seperti seorang bébas boléhlah meninggalkan penjaraku dan kaki tanganku tiadalah tertambat kepada seorang suami yang dipaksakan saja kepada saya.

Enam bulan kemudian dari pada itu baru saya boléh pergi keluar rumah pula; sudah itu terjadilah berturut turut beberapa kejadian, yang makin lama makin banyak memberi kebébasan kami kembali yang dulu telah lenyap itu, dan tahun yang lalu, waktu raja kita yang muda, raja Belanda, naik nobat, maka orang tua kami menganugerahkan kebébasan itu kembali dengan berterang-terang.

Waktu itulah yang pertama-tama kali selama kami hidup, kami boléh meninggalkan tempat tumpah darah kami dan bersama-sama pergi keibu negeri, akan menghadiri alat keramaian untuk memuliakan hari raja Belanda dinobatkan itu. Hal itu ialah suatu kemenangan lagi yang patut kami hargai dan kamipun tidak lupa menghargainya. Maka hendaklah tuan ketahui, bahwa anak-anak gadis orang patut-patut dinegeri kami bila berjalan keluar dimuka orang banyak, tontulah anak negeri tercengang-cengang melihat yang demikian. Orang2 yang panjang lidah tentulah akan ramai mempertuturkan kejadian yang aib itu, tetapi sahabat kenalan kami bangsa Eropa bersorak, beriang hati dan kami merasa beruntung sekali, ya, lebih beruntung dari pada machluk yang seberuntung-beruntungnya didunia ini.

Tetapi saya belum berpuas hati, sekali-kali belum. Lebih banyak, ya, lebih banyak lagi saya kehendaki kebébasan itu. Bukan, bukan keramaian, bukan kesukaan yang saya ingini dalam mencintai kebébasan itu. Maksud saya bébas ialah supaya boléh tegak sendiri dan tidak bergantung pada orang lain, serta........sekali-kali tidak akan kawin, karena terpaksa saja.

Tetapi kami wajib kawin, wajib, wajib. Tiada bersuami ialah suatu dosa yang sebesar-besarnya yang dapat dibuat oleh seorang perempuan yang beragama Islam dan suatu malu yang sebesar-besarnya bagi seorang anak gadis Bumiputera dan sanak saudaranya.

Kawin dinegeri kami ialah suatu kesengsaraan besar; sebenarnya kata kesengsaraan belum lagi sampai kerasnya. Bagaimana perkawinan tidak akan jadi kesengsaraan, kalau hukum dan adat semuanya memberi hak kepada laki-laki saja, perempuan sedikitpun tiada? Dan tidak héran hal yang demikian jika adat dan agama keduanya untuk si laki-laki; semuanya diberikan dan diizinkan kepadanya?

Cinta. Apakah yang kami ketahui tentang perkara cinta. Bagaimanakah kami dapat mencintai seorang laki-laki dan si laki-laki mencintai kami, jikalau kami tiada berkenalan seorang dengan yang lain, ya, sedangkan melihat si laki-laki kami tak boleh? Anak-anak gadis dan anak laki-laki diperceraikan benar-benar.

..................................................................................................................................................................

Ya dengan segala suka hati saya hendak mendengar sekalian hal keadaan pekerjaan tuan, pekerjaan itu rupanya amat bagus pada perasaan saya. Dan sukakah tuan menceriterakan kepadaku segala pengajaran dan sekolah, yang berguna untuk menjadi yang demikian? Lagi pula saya amat suka mendengarkan lebih lanjut ceritera Toynbee-avonjes, demikian pula ceritera tentang geheel-onthoudersbond = perserikatan orang yang tidak suka minuman keras; dalam perserikatan itu tuanpun menjadi anggota yang berusaha sekali rupanya. Sekalian hal yang macam itu tidak adalah pada kami di Hindia. Tetapi saya suka benar mengetahui hal itu.

Sukakah tuan nanti menceriterakan kissah Toynbee-avonjes itu kepada saya? Saya ingin benar hendak mendengar lebih banyak kebaikan kerja itu untuk kita sesama manusia, lebih banyak dari pada yang dikissahkan oléh surat-surat chabar hari-hari, dan surat mingguan dan bulanan dengan pandak saja.

Dalam dunia penduduk Bumiputera beruntunglah belum ada penyakit minuman keras itu akan diperangi — tetapi saya takut, saya takut, bila kemajuan bangsa Eropa telah berurat berakar pula dinegeri kami, kamipun nanti akan menanggungkan kejahatan minuman keras itu pula — maafkan saya karena hal ini — Kemajuan bangsa Eropa ialah suatu berkat bagi kami, tetapi dalam itu ada pula keburukannya, menurut pikiranku. Kesukaan hendak meniruniru sudah teradat pada manusia. Ra'jat yang kebanyakan biasanya suka meniru adat-adat orang baik, — orang baik-baik itu meneladan orang bangsawan yang lebih tinggi pula dan bangsawan itu akhirya mengambil dari pada orang yang beradat halus sekali, yaitu: orang Eropa.

Suatu peralatan tiadalah sejati, bila pada peralatan itu orang tidak minum minuman yang keras-keras. Sekarang orang selalu melihat pada peralatan bangsa Bumiputera, sebuah botol yang empat segi atau lebih dari sebuah, yang tiada dengan hémat dituangkan oléh meréka itu ke dalam mulutnya. Bumiputera yang demikian ialah meréka yang kurang kuat memegang agamanya — kebanyakan anak Bumiputera menjadi Islam, hanyalah sebab bapa dan nénék moyangnya beragama Islam; yang sebenamja meréka itu tidak berapalah lebih kurangnya dari pada orang yang tiada beragama.

Sebuah benda yang jahat, lebih jahat, teramat jahat lagi dari pada alcohol disini ialah candu. O, betapa besar kecelakaan yang dibawa oléh benda yang jahat itu kenegeriku, kepada bangsaku, tidak dapatlah dikatakan. candu penyakit pest yang seganas-ganasnya di tanah Jawa, ya, candu jauh lebih jahat lagi dari pada pest. Penyakit pest tidak selalu berjangkit, dan lambat launnya penyakit itu dapatlah dijauhkan, tetapi penyakit yang disebabkan oléh candu makin lama makin hébat dan semakin lama semakin berjangkit, dan tiada akan dapat, ya, sekali-kali tidak dapat dihilangkan. Sebabnya? Mudah saja; karena candu itu dibawah perlindungan Gubernemén. Makin banyak orang meminum candu, makin penuh kantung wang Gubernemén. Memajakkan candu ialah sebuah dari mata pencarian yang terutama di tanah Hindia untuk Pemerintah. Berpaédah tidak berpaédahnya perbuatan itu bagi anak negeri tidak peduli, asal Pemerintah mendapat keuntungan, habis perkara. La'nat yang jahanam itu mengisi kantung Pemerintah dengan beratusratus ribu, ya, berjuta-juta rupiah. Banyak orang mengatakan, minum candu itu bukanlah kejahatan dan kecelakaan pada anak negeri, tetapi orang yang berkata demikian, belum pcrnah melihat tanah Hindia, atau mata meréka itu buta akan memandang hal yang demikian.

Bukan kejahatan! Apakah dia itu pembunuhan, membakar rumah, kecurian, yang tidak terhingga banyaknya itu, yang sebabnya semata-mata dari karena meminum candu? Tidak, minum candu bukan kejahatan, selama orang sanggup mengerjakannya dan ada mempunyai wang akan membeli racun yang jahanam itu; tetapi bila orang tidak dapat minum itu lagi, wangpun tidak ada akan pembelinya dan orangpun telah menjadi hamba candu itu, maka orang itu menjadi berbahaya dan iapun celakalah. Perut yang lapar boléh menjadikan orang pencuri, tetapi menagih akan candu menjadikan seorang machluk pembunuh orang. Kata orang Jawa: "Mula-mbela engkau yang merasai lazat citarasa candu itu, akhirya dia yang menelan engkau". Sebenar-benarnyalah perkataan itu. Sedih, sungguh sedih hati kita melihat kejahatan yang berkeliling dan kita tidak berdaya akan menjauhkannya.

Kitab nyonya Gudkoop yang bagus itu telah saya baca beberapa kali. Tidak lelah saya membaca kitab itu, melainkan tiap-tiap saya ulang membacanya, selalu ia menambahi sayang saya kepadanya. Betapalah suka saya mengeluarkan wang, bila saya boléh dan dapat hidup dalam zaman Hilda itu. Alangkah baiknya jika kami di Hindia telah sampai sejauh orang dinegeri tuan itu, sehingga kitab Hilda van Suylenburg itu dapat mendatangkan gerakan yang besar, seperti gerakan yang telah disebabkan oléh kitab itu dinegeri tuan! Tiadalah diindahkan buruk atau baik, asal kitab itu dapat menggerakkan hati bangsaku, bahwa bangsaku tiada tidur lagi. Waktu sekarang tanah Jawa masih dalam tidur yang nyenyak. Tetapi betapakah dapat saya kehendaki bangsaku sadar dari tidurnya, kalau meréka yang harus menjadi contoh teladan untuk kami, masih menyayangi tidur yang nyenyak itu pula?

Tidak berbohong saya kalau saya katakan, bahwa kebanyakan perempuan bangsa Eropa (maksud saya bukan perempuan-perempuan bangsa Belanda, yang di tanah Belanda) yang diHindia sedikit atau tidak sekali-kali mengindahkan pekerjaan dan kemajuan saudara-saudara yang di tanah Belanda. Kejadian yang baru-baru ini dalam dunia perempuan bangsa Belanda telah menyatakan hal itu dengan seterang-terangnya. Tidakkah nyonya-nyonya bangsa Belanda di Hindia hati-hati (!) berusaha membantu Pertunjukan Perbuatan Perempuan Bangsa Belanda (Nationale Tentoonstelling van Vrouwenarbeid) di tanah Belanda? Kamipun dapat panggilan, akan bekerja bersama-sama untuk pekerjaan itu dan kamipun dengan segala suka hati menyambutnya. Pekerjaan perempuan yang besar itu menyukakan hati saya amat sangat. Kami setuju sekali dengan perkara yang baik itu, dengan usaha perempuan-perempuan yang gagah perkasa dinegeri tuan itu dan kami merasa beruntung, yang kami dapat dan boléh menolong sedikit mendirikan gunung yang besar itu, gunung yang akan dan harus memberi berkat kepada perempuan-perempuan bangsa kulit putih dan kepada perempuan bangsa kulit hitampun. Kamipun dapat surat ajakan pula. Tetapi pada bangsa kami surat ajakan itu tidak adalah gunanya, seorangpun tiada hendak menolong. Bagaimana sekalipun kami terangkan dan paparkan kepada meréka itu, meréka itu tidak mengerti juga dan tidak suka juga mendengarkan perkataan kami. Dengan putus asa larilah kami kesudahannya meminta tolong kepada orang Eropa. Kepada kenalan dan bukan kenalan, kami kirim kartu pos dan tulis surat akan memohon bantuan meréka itu.

Pekerjaan kami itu sebenarja mengada-adai sekali. Kami, orang Jawa, pergi kepada orang Eropa memperkatakan perkara bangsa Eropa sendiri, sombong, bukan? Orang boléh jadi marah karena hal itu kepada kami, tetapi akan kemarahan dan lain-lainnya itu tiadalah kami pikirkan; pikiran kami, maksud kami hanyalah sebuah saja waktu itu, yaitu: bekerja dengan sekuat-kuatnya untuk perkara yang kami muliakan sampai ke dalam hati itu. Akan orang Eropa itu menolong kami sekeras-kerasnya. Rupanya meréka itu bersuka hati, yang kami, anak-anak Jawa meminta pertolongannya dan barangkali ............. Padalah, orang telah menolong mengasut kami dengan baiknya; sedangkan meréka, yang telah bersumpah, tiada sedikit jua hendak mengindahkan pertunjukan itu, menjadi berlemah hati dan membuka tali kantung wangnya untuk pertunjukan itu.

Hanya seorang perempuan Belanda yang amarah kepada kami, karena kami berbuat yang demikian; tetapi hal itu tiadalah kami indahkan. Sungguhpun pertolongan kami untuk pertunjukan itu akhirya kurang menyenangkan hati kami, tetapi kami tiadalah menyesal barang sekejap mata juapun, yang kami telah .turut bersama-sama bekerja untuk pekerjaan itu. Tuan ceriterakanlah kepadaku banyak-banyak tentang kerja dan haluan, pikiran dan perasaan perempuan-perempuan zaman sekarang, yang di tanah Belanda. Kami sangat menyukai segala hal tentang gerakan perempuan-perempuan. Sayang, saya tidak tahu bahasa Perancis, Inggeris dan jérman. Adat kami tiada mengizinkan kami mempelajari bahasa-bahasa itu. Tahu berbahasa Belanda ini telah terlampau- lampau amat benar. Dengan hati jantungku saya beringin hendak mempelajari bahasa-bahasa itu, melainkan supaya boleh merasai kelazatan kital>kitab yang bagus dan banyak, yang tertulis oléh pengarang-pengarang bangsa Perancis, Inggeris dan jérman dalam bahasa meréka itu sendiri. Meskipun salinan kitab-kitab itu baik dan bagus, tetapi salinan itu selamanya tidak sebagus asalnya. Asalnya itu selamanya lebih baik dan lebih bagus.

Kami suka sekali membaca-baca; membaca kitab-kitab yang bagus kelazatan yang sebesar-besarnya pada kami. Kami ialah adik-adikku perempuan dan saya sendiri. Kami bertiga sama-sama dibesarkan dan selalu tinggal bersama-sama. 'umur kamipun berselisih satu tahun, satu tahun saja. Antara kami bertiga adalah suatu tali persahabatan yang kuat sekali. Tentu saja sekali-sekali berselisih juga pikiran kami, tetapi hal itu tiadalah sedikit juga menggoyangkan tali persaudaraan yang memperhubungkan kami bertiga. Menurut pikiranku perselisihan yang kecil-kecil itu énak sekali; maksudku, yang énak perdamaian yang terjadi sudah itu. Bukankah suatu justa yang besar adanya, jika ada orang yang berkata, bahwa ada dua orang yang selalu sepikiran dalam segala hal. Menurut pikiranku hal itu tidak boléh jadi, perkataan yang demikian itu justa. Kepada tuan saya belum ceriterakan, berapa 'umurku. Bulan yang telah lalu saya betul umur dua puluh tahun. Héran, waktu saya berumui enam belas tahun, saya rasa saya sudah seorang yang tua, dan kerap kali berdukacita; tetapi sekarang, saya ber'umur dua puluh tahun, saya rasa diri saya masih muda, semata-mata suka menentang kehidupan dan ......... dan juga suka berperang.

Namakan sajalah saya Kartini, karena demikianlah namaku. Kami, orang Jawa tiada memakai nama bapa atau keluarga yang lain. Kartini nama kecilku sambil namaku kalau telah besar. Radèn Ajeng ialah dua patah kata, yang menunjukkan gelarku. Waktu saya memberikan alamat surat untuk saya kepada nyonya van Wermeskerken, tidak dapatlah saya mengatakan kepadanya Kartini saja, hal itu tentulah menghérankan orang nanti di tanah Belanda, dan menyebutkan saya nona atau lain-lainnya dimuka namaku; akan memakai gelai nona itu ta ada hakku, bukan, karena saya hanya seorang Jawa saja.

Sekarang cukuplah sudah pengetahuan tuan peri hal saya, bukan? Kemudian hari saya ceriterakan kepada tuan tentang hal kehidupan kami di Hindia.

Jikalau tuan hendak mengetahui barang sesuatu hal keadaan Hindia, boléh tuan tanyakan saja kepada saya; dengan segala suka hati saya akan memberi tuan keterangan tentang tanah air dan bangsaku.

Yang hendak saya ketahui yakni: Kenal benarkah tuan pada nyonya Gudkoop? Kalau tuan kenal, sukakah tuan nanti menceriterakan kepadaku barang sesuatu tentang halnya? Saya sangat ingin mengetahui sesuatu tentang perempuan tinggi pikiran dan berani itu, yang sangat bersetuju dengan hati saya.

18 Augustus 1899. (I)Sunting

Banyak terima kasih atas suratmu yang panjang dan sedap itu, kata-katamu yang lemah lembut dan tulus ichlas itu, yang meriang dan menyukakan hatiku. Tidakkah engkau akan kecéwa nanti, bila engkau mengetahui berkenalan dengan saya sebetul-betulnya? Saya sudah katakan kepadamu, yang saya tidak tahu satu apapun. Kalau saya bandingkan saya dengan engkau, terasa oléhku bahwa aku ini seorang yang bebal sekali. Engkau rupanya sudah tahu benar akan gelar-gelar bangsa Jawa. Sebelum engkau menulis tentang itu kepadaku, tiadalah pernah saya pikirkan dengan sesungguhnya yang saya seperti menurut katamu anak bangsawan yang tinggi. Seorang puterikah saya? Bukan, melainkan orang biasa seperti kamu juga. Raja yang achir sekali dari pihak bapa saya, kalau saya tidak salah telah 25 turunan telah terdahulu. Akan bunda saya masih dekat perhubungannya lagi dengan raja raja Madura. Moyangnya yang laki-laki waktu hidupnya raja yang memerintah dan nénéknya yang perempuan demikian pula. Tetapi segala hal itu tidak lah berharga bagi kami. Pada saya hanya dua macam bangsawan, yaitu: "Bangsawan pikiran dan bangsawan hati". Pada pemandangan saya tiadalah orang lebih gila dan bodoh dari pada meréka yang sombong dan angkuh akan asalnya yang tinggi itu. jasa apakah yang terkandung oléh gelaran graaf atau baron? Saya seorang yang dungu ini tidak dapatlah memikirkan itu.

Bangsawan dan berbudi ialah dua buah perkataan, yang sekawan dan hampir searti betul. Kasihan pada kedua kata itu. Alangkah jahatnya hidup didunia ini, hai bangsawan dan berbudi yang tiada menaruh kasihan memperceraikan engkau kedua untuk selama-lamanya. Bila bangsawan selalu seperti ma'nanya, maka mémang suatu kehormatan kepada saya, karena berasal tinggi itu; tetapi sekarang? Saya masih ingat betapa marah kami, tatkala nyonya-nyonya den Haag pada tahun y.l. menamakan kami pada Pertunjukan usaha Perempuan "puteri-puteri Jepara."

Dinegeri Belanda rupanya, orang menyangka, siapa juga yang datang dari tanah Hindia, yang bukannya "babu" atau "spada", semuanya dikira orang puteri atau putera raja. Bangsa Eropa di Hindia tidak banyak menamakan kami "Raden Ajeng", tetapi kebanyakan menegur kami dengan "freule." Karena hal itu kerap kali saya putus asa. Telah beberapa kali saya katakan kepada meréka itu, yang kami bukan freule, apalagi bukan puteri, tetapi meréka itu tidak mau juga mendengarkan kata saya dan selalu menamakan kami "freule." Begitu pula, baru-baru ini datang kerumah kami seorang-orang Eropa; rupanya ia ada mendengar tentang hal kami; lalu di mintanya kepada orang tua kami, supaya ia diperkenalkan dengan "puteri-puteri." Permintaannya itu dikabulkan. O, alangkah besar hati kami. "Regén," katanya lambat-lambat kepada bapa, tetapi kamipun dapat juga mendengarnya dengan terang dan bunyi suaranya menunjukkan, yang ia kecéwa. "Puteri2, saya sangka berpakaikan pakaian yang indah-indah, seperti pakaian bangsa Timur yang penuh bertatahkan dengan ratna mutu manikam', tetapi anak-anak tuan berpakaian sederhana saja." Susah kami menahan gelak kami, tatkala kami mendengar itu. Dengan tiada disengajanya telah dipujinya kami dengan amat sangat. Belum pemah kami mendengar pujian orang demikian. tidak dapatlah engkau pikirkan, betapa besar hati kami, mendengar ia mengatakan kami berpakaian sederhana; kami takut sekali akan dikatakan orang sombong dan pesolék.

O, Stella, saya sangat berbesar hati, yang engkau menyamakan saya dengan sahabat-sahabatmu bangsa Belanda, dan memandang saya seperti saudara sepikiran dengan dikau. tidak lain kehendakku melainkan engkau harus menyebut namaku saja dan berengkau dan berkamu kepadaku. Lihatlah bagusnya saya telah meniru engkau.

Bila engkau bertemu dalam suratku sebutan "tuanhamba" atau "tuan", janganlah engkau pandang itu sebagai kekakuan, tetapi seperti kealpaan. Sayapun musuh kekakuan. Apakah gunanya bagiku adat-adat yang kaku itu? Saya girang, yang saya dapat membuangkan adat-adat Jawa yang susah itu sementara saya bercakap-cakap padamu dalam surat ini. Adat lembaga, peraturan, yang dibuat orang itu lain tidak perkara yang menyakitkan hati saja kepada saya. Engkau tidak dapat memikirkan, betapa kerasnya adat-adat kuno yang bersimaharajaléla dalam dunia bangsawan di Jawa. Bila engkau sedikit saja menggerakkan dirimu, maka si adat kuno itupun dengan marahnya menéngok kepadamu. di rumah kami adat-adat yang kaku-kaku itu tiadalah kami indahkan benar lagi. yang kami muliakan perkataan:

"Kebébasan itu kegirangan."

Pada kami, mulai dari saya, adat-adat yang kaku itu telah dihapuskan, hanya perasaan kami sendiri harus mengatakan kepada kami, sehingga mana kami boléh menuruti batas kemerdékaan itu.

Bahwasanya adat-adat kami bangsa Jawa itu terlalu amat sukarnya. Bangsa Eropa, yang bertahun-tahun di Hindia dan lama bercampur gaul dengan orang besar-besar bangsa jawapun tidak dapat mema'lumi adat-adat bangsa Jawa itu, bila meréka itu tidak dengan sungguh-sungguh mempelajari dia. Saya terpaksa menceriterakannya kepada sahabat kenalanku; tetapi bila telah sejam saya berbicara dan kerongkongankupun telah kering, pengetahuan meréka itu masih sebanyak kepandaian anak yang baru lahir tentang perkara adat-adat kami itu.

Akan menyatakan bagaimana susahnya adat-adat kami itu, marilah saya uraikan satu dua misalnya. Adik saya perempuan atau laki-laki wajib merangkak, bila ia lalu dimuka saya. Kalau adik saya duduk di atas kursi dan sayapun lalu dimukanya, harus ia menjatuhkan diri duduk kelantai dan menundukkan kepala sampai saya tidak kelihatan lagi. Kepada saya tidak boléh adik-adik saya itu berengkau dan berkamu, ia boléh bercakap dengan 'hanyalah memakai bahasa Jawa tinggi; dan sesudah tiap-tiap kalimat, yang keluar dari mulutnya, wajib ia menyembah saya, menyusun jari dan mengangkatnya kemuka. jikalau adik-adik saya membicarakan saya dengan orang lain, wajib ia selalu memakai bahasa Jawa tinggi, demikian pula jikalau ia mempercakapkan segala barang-barang kepunyaan saya ump: pakaian, tempat duduk, tangan, kaki, mata saya d.l.l.

Kepala saya yang mulia, tidak boléh sekali-kali dirabanya; jika ia lebih dahulu meminta izin dan menyembah beberapa kali, barulah boléh ia meraba kepala saya. Kalau ada barang yang énak-énak di atas méja, tidak boléh diambil oléh adik-adik saya, sebelum saya mengambil apa yang saya sukai. Wah, gementar kita, bila kita datang dalam lingkungan bangsawan yang mulia itu. Bercakap dengan orang yang lebih tinggi harus lambat-lambat, hanya orang yang dekat disitu saja yang dapat mendengarnya. jika anak gadis tertawa, tidak boléh ia membuka mulutnya. "ya, Allah", kudengar suaramu mengatakan, ya, banyak lagi barang yang ajaib-ajaib yang akan engkau dengar bila engkau hendak tahu semuanya tentang keadaan kami bangsa Jawa.

Kalau seorang gadis berjalan, patutlah ia perlahan-lahan berjalan itu dengan langkah yang pandak dan bagus, adalah seperti semut berjalan. Bila anak gadis melangkah agak cepat, dinamakan orang ia kuda liar. Padalah kita bicarakan hal itu; ceritera ini tentulah membosankan engkau bukan? Kepada kakak saya laki-laki dan perempuan selalu saya pakai adat-adat itu; karena saya tidak mau mengurangi kehormatannya. Tetapi mulai dengan saya tidak adalah kami memakai adat adat yang kaku itu; yang kami sukai dan pegang hanya "kebébasan, kesamaan dan persaudaraan." Adik-adik saya laki-laki dan perempuan selalu bébas dan sama dengan saya seperti bersahabat. Kekakuan tidak ada pada kami; hanyalah persahabatan dan keramahan yang akan engkau lihat pada pergaulan kami itu. Adik-adik saya perempuan berkamu dan berengkau kepada saya dan bercakap dalam bahasa yang saya pakai. Pergaulan yang bébas dan sama, antara beradik kakak itu sangat dicacat orang; oléh karena itu kami dinamakan orang anak yang tidak terpelajar, saya sendiri beroléh nama "kuda koré" artinya kuda liar, sebab saya jarang berjalan, tetapi selalu melompat-lompat. Dicela orang saya karena saya kerap kali tertawa gelak-gelak, sehingga gigi saya kelihatan oleh orang. Kelakuan seperti itu tiada senonoh. Sebab adat adat yang kaku itu telah kami buang, maka pergaulan kami selalu meriangkan kami dan persaudaraan kami menjadi erat serta kamipun selalu sepakat, lebih-lebih antara kami bertiga. Sekalian keadaan itu mendatangkan kedengkian pada orang lain.

Bila kaulihat, Stella, bagaimana hidup orang bersaudara dalam kabupatén yang lain-lain apalah nanti akan katamu. Meréka itu bersaudara hanyalah karena seibu sebapa. Sedarah itulah saja yang menjadi tali persaudaraan meréka itu. Perempuan beradik kakak yang hidup bersama-sama, hanya pada mukanya dapat kaulihat, yang ia bersaudara, tetapi lain dari pada itu tidak dapat engkau mengetahuinya.

Terima kasih, Stella, atas pujimu yang bagus itu; besar amat hatiku mendengarnya. Saya sangat cinta akan bahasamu; semenjak dari waktu saya masih pergi kesekolah, saya selalu beringin amat sangat hendak mengetahui dia dengan baik dan sungguh. Sampai sekarang saya masih jauh dari tempat yang kuingini itu ............ tetapi, saya telah dekat selangkah pada tempat itu; demikianlah kata pujianmu, yang sangat menggirangkan hati saya. Sebenarnya saya tidak perlu kaumanjakan lagi, karena di rumah dan oléh sahabat kenalan sayapun amat sangat saya dimanjakan.

O, Stella, saya ucapkan padamu terima kasih atas pikiranmu yang baik itu tentang bangsa kami, bangsa Jawa. Dari dulu saya telah ketahui, yang engkau tidak memperbédakan bangsa kulit putih dan kulit hitam; dari sekalian orang yang sebenar-benarnya berbudi dan terpelajar tidak pernah kami mendapat lain dari pada kebaikan. Sungguhpun bangsa Jawa bodoh, tidak berpengetahuan, tidak berbudi, bangsamu tentu akan memandang dia seperti sesama manusia juga, yang dijadikan Allah seperti bangsa yang berbudi bahasa itu. Bangsa jawapun ada juga berhati berjantung dalam tubuhnya dan berperasaan pula untuk kesakitan, meskipun mukanya tidak bergerak, dan matanya tidak mengejap, menunjukkan apa yang terasa dihatinya itu.

Keringkasan isi kitab "Hilda van Suylenburg" yang engkau berikan kepadaku, telah membesarkan hatiku dan suratmu yang pertama menambah kecintaanku padamu, tetapi suratmu yang achir itu merampas hati jantungku.

Di rumah kami berbahasa Jawa; bërcakap bahasa Belanda hanya dengan orang Belanda saja. Kadang-kadang kami memakai bahasa Belanda juga sama-sarna kami ump: suatu olokan, yang tidak dapat diterjemahkan, supaya ma'na olokan itu jangan hilang.

6 November 1899 (I)Sunting

O, Stella, tidak dapat saya katakan banyak terima kasih sayab pada ibu bapaku atas pemeliharaannya yang bébas yang diberikannya kepadaku. Lebih baik saya merasai peperangan dan kesusahan se'umur hidup, dari pada tidak mengecap pemeliharaan bangsa Eropa, yang telah kuterima dari kecilku. Saya tahu, bahwa banyak, ya, amat banyak kesukaran menunggu saya, tetapi saya tidak gentar dan tidak ngeri menantikannya. Saya tidak dapat kembali kepada adat-adat yang lama itu, maju memasuki dunia zaman sekarangpun tidak dapat pula, karena masih beribu-ribu belenggu yang mengikat aku dengan sekuat-kuatnya kepada dunia yang lama itu. "Apa yang patut diturut sekarang?" tanya handai tolanku bangsa Eropa pada dirinya sendiri. Bila saya sendiri tahu akan jawab pertanyaan itu, tentulah dengan suka hati saya katakan kepada meréka itu. Sekaliannya tahu dan mengerti, yang keadaan kami ini serba salah. Orang mengatakan, yang hal ini kesalahan bapa' saya, karena saya dipeliharatnya menurut cara pemeliharaan yang telah saya terima. Tetapi sekali-kali bukan bapa' saya yang bersalah; ia sekali-kali tidak bersalah dakum hal ini. Bapaku tidak dapat menolong, ia tidak dapat mengetahui lebih dulu, bahasa pemeliharaan yang diberikannya untuk anak-anaknya, akan menyusahkan seorang dari pada si anak itu. Banyak regén-regén yang lain telah memeliharakan atau tengah memeliharakan anak-anaknya seperti kami. Tetapi pemeliharaan itu tiadalah lain hakékatnya, melainkan anak-anak itu hanya pandai bercakap bahasa Belanda dan memakaikan adatadat Belanda sedikit. Lebih dalam tiadalah terpaham benar kehalusan adat Eropa itu oléh anak-anak perempuan bangsa Jawa, yang dipelihara seperti bangsa Eropa itu.

"Apa hendak dibuat sekarang?" tanya meréka, yang telah berkenalan dengan kami kepada nyonya Ovink-Sur. Meréka itu tahu dan mengerti, yang kami lambat laun wajib kembali kepada kehidupan yang lama dan disitulah kami nanti merasai diri kami menjadi celaka dan tiada berbahagia.

Tidak dapat sedikit juga diubah lagi. Bésok atau lusa tentulah saya dipersuamikan dengan seorang yang tidak saya ketahui. Percintaan pada bangsa Jawa hanyalah suatu ceritera dongéng saja. Bagaimana orang laki isteri dapat cinta mencintai, kalau meréka itu baru bertemu, waktu ia telah dikawinkan ?

Saya sekali-kali ta akan dapat mencintai suami yang demikian. Menurut pendapatan saya, haruslah kita mula-mula menghormati seseorang laki-laki, dan kemudian barulah dapat mencintai dia. Akan saya tidak dapatlah menghormati anak-anak muda bangsa Jawa. Bagaimana saya dapat menghormati seorang yang telah beristeri dan sudah menjadi bapa; kemudian si bapa itu mengambil perempuan yang lain pula jadi isterinya, karena ia telah puas beristerikan ibu anak-anaknya itu. Adat yang seperti itu tidak terlarang dalam agama Islam. Siapa yang ta akan membuat seperti itu? Mengapa orang tidak akan membuatnya Pekerjaan itu tidaklah mendatangkan dosa dan bukan suatu kecelaan; karena agama Islam mengizinkan orang laki-laki beristeri empat orang. Sungguhpun seribu kali orang berkata beristeri banyak bukannya dosa dalam agama Islam, tetapi saya dengan tetap mengatakan, yang beristeri banyak itu suatu dosa kadim adanya. yang saya katakan dosa, ialah barang sesuatu pekerjaan yang menyakiti badan atau hati sesamanya manusia dan binatang. Engkau tentulah dapat memikirkan, berapa dukacita yang wajib ditanggungkan oléh seorang perempuan, bila suaminya dengan perempuan yang lain datang kerumahnya dan ia wajib mengaku, bahwa perempuan yang baru datang itu isteri suaminya yang halal. Si suami tadi boléh menyiksa dan menyakiti perempuannya dengan sesukanya sampai matinya. Bila perempuan itu menangis sampai kelangit sekalipun hendak meminta kebébasan, tiadalah dapat diperoléhnya, kalau si suami tidak suka memberinya. Dalam segala hal si suami berkuasa, tetapi si perempuan tidak ada sedikit juga berhak dian berkuasa. Demikianlah adanya agama kami.

Dalam suratmu yang achir sekali tertulis: "Kebangsawanan itu membawa kewajiban." Alangkah bodohku dahulu mengira yang bangsawan pikiran itu selalu bersama-sama dengan bangsawan budi; bahwa ber'ilmu banyak itu sama artinya dengan berbudi pekerti yang mulia. Betapakah kecéwa saya tentang itu.

Mengertikah engkau sekarang apa sebabnya maka saya benci akan perkawinan? Kerja yang serendah-rendahnya lebih suka saya mengerjakannya, dari pada dikawinkan orang. Dengan besar hati dan terima kasih saya suka mengerjakan kerja yang lebih rendah itu, asal pekerjaan itu membébaskan saya. Tetapi karena pangkat dan darajat bapaku, tidak boléh saya mengerjakan barang sesuatu apapun.

Jikalau saya memilih sesuatu kerja, wajiblah kerja itu sesuai dengan kedudukan saya. Pekerjaan yang kami cintai yang tiada akan merendahkan bangsa saya dan kaum keluarga saya, yang berpangkat tinggi-tinggi (yaitu beberapa orang regén di Jawa Timur sampai ke Jawa Tengah) tidak akan tercapai oléh kami. Akan mendapat pekerjaan itu wajib kami lama tinggal di tanah Eropa dan untuk itu kami tidak ada beruang. Kami hendak terbang terlampau tinggi, sekarang kehendak itu tidak dapat disampaikan, karena itu kami sendirilah yang menanggung kesusahannya. Tetapi mengapakah Allah menerbitkan nafsu orang hendak belajar, kalau orang itu tidak diberi ichtiar untuk belajar itu. Kedua saudara saya yang perempuan dengan tiada sedikit juga berguru, telah pandai sekarang menggambar dan melukis. Menurut timbangan orang yang ahli tentang gambar menggambar, kedua adikku itu boléh dilanjutkan kepandaiannya. Tetapi di tanah Jawa tidak dapat dilanjutkan; pergi ke Eropa kamipun tidak sanggup. Akan menyampaikan maksud itu wajiblah dengan izin s.p.j.m.m. Minister van Financiën, tetapi s.p.j.m.m. itu tiada memberi izin kami. Kami wajib menolong diri sendiri, bila kami hendak maju.

O, Stella, tahukah engkau, berapa sakitnya itu, bila engkau bercinta sekali hendak mengerjakan sesuatu, tetapi kehendakmu itu tidak dapat kaulakukan oléh karena ketiadaan dan kekurangan ?

Jikalau bapaku dapat menolong kami, pastilah dan tidak dua hati ia mengirim kami ketanah airmu yang jauh dan dingin itu. Saya pandai juga menggambar dan melukis, tetapi karang-mengarang dan menulis lebih saya sukai dari pada menggambar. Mengertikah engkau sekarang apa sebabnya, maka saya ingin benar hendak mengetahui bahasamu yang bagus itu dengan sebaik-baiknya? janganlah engkau memperdayakan saya. Saya sendiripun telah merasa, bahwa kepandaian saya dalam bahasa Belanda belum sempuma. Bila pengetahuan saya dalam bahasa Belanda dengan secukup-cukupnya, maka bolehlah dikatakan nasibku untuk hari kemudian sudah tentu. Sebidang padang yang luaspun akan terbentanglah tempa" saya bekerja dan sayapun menjadi orang yang bébas. Sebab saya seorang perempuan Jawa sejati, saya tahu dan kenal akan segala hal keadaan dalam dunia bangsa Jawa. Meski seorang Eropa, yang bertahun-tahun telah tinggal di Jawa, dan tahu hal keadaan Bumiputera sekalipun, tiadalah seperti anak Bumiputera sendiri mengetahui adat-adat bumiputera itu. Banyak hal yang sekarang masih tersembunyi dan yang ta dima'lumi oléh bangsa Eropa sanggup saya menerangkannya dengan kata sepatah dua saja. Tempat-tempat yang tidak boléh dimasuki oléh bangsa Eropa, dapatlah didatangi oléh anak Bumiputera. Sekalian perkara yang pelik-pelik, yang terdapat dalam dunia bangsa Bumiputera, yang belum diketahui oléh ahli yang termasyhur-masyhur tentang tanah Hindia, dapatlah diuraikan oléh anak Bumiputera. Saya merasai sendiri yang saya tidak berpengetahuan yang cukup dalam bahasa Belanda, Stella. Tontulah orang akan tertawa gelak-gelak, bila ia dapat membaca kertas yang secarik kecil ini dari belakang saya. Betapakah gila pikiran saya, bukan? Saya, seorang yang tiada terpelajar dan tiada berpengetahuan sedikit juapun, hendak mencoba-coba pula mempelajari ilmu kitab bahasa Belanda. Sungguhpun engkau mentertawakan saya, saya tahu, yang engkau tidak suka mentertawakan saya—maka tidak lah akan saya buangkan maksud saya itu. Betul, pekerjaan itu suatu pekerjaan yang sia-sia. "Tetapi siapa yang tiada mencoba, tidaklah menang." Demikianlah asasku. Maju saja, tunggang hilang berani mati. Siapa yang berani, dapat mengalahkan tiga perempat dunia.

Bersama-sama ini saya kirimkan kepada engkau sebuah karangan dari Koninkliyk Instituut voor Land-, Taal- en Volkenkunde tanah Hindia. Karangan itu saya tulis telah empat tahun yang" lalu, telah lama saya tidak peduli lagi akan karangan itu; baru-baru ini, waktu saya membongkar kertas yang lama-lama, maka terlihat oléh saya akan dia. Karangan itu dikirimkan oléh bapaku kepada pengurus Koninkliyk Instituut yang kebetulan meminta bantu kepadanya. Tidak berapa lama sesudah karangan itu dikirimkan, saya terima cétakan karangan itu. Saya kirimkan karangan ini kepadamu, karenasaya pikir, engkau barangkali suka membacanya. Karangan tentang hal batik membatik, yang saya buat tahun yang lalu untuk "Pertunjukan perusahaan Perempuan" tidak pemah saya mendengar beritanya lagi. Karangan itu dimasukkan orang ke dalam sebuah kitab yang terutama tentang batik membatik. tidak lama lagi akan dikeluarkan cétakan kitab itu. Wah, betapa besar hatiku, waktu saya baru-baru ini mendengar chabar itu dengan tiba-tiba, karena hal itu telah lama hilang dari kenang-kenanganku. Engkau bertanya kepadaku, bagaimana, maka saya duduk di antara empat buah dinding batu yang tebal. Engkau tentu menyangka, yang saya duduk dalam penjara atau kurungan. Bukan, Stella, kurungan saya itu sebuah rumah besar dengan pekarangan yang luas kelilingnya dan dipagari dengan dinding batu yang tinggi. Disitulah kami dikurungkan, tempat itulah saya namakan penjara. Berapapun luasnya rumah dan pekarangan, jikalau kita selalu wajib tinggal didalamnya, tentulah ia menyesakkan dada kita. Sekarang teringat oléh saya, bagaimana saya menghempaskan badan saya dengan kebodohan dan putus asa kepada pintu yang selalu tertutup itu dan kepada dinding batu yang sejuk itu. Kemana juga haluan perjalananku saya tujukan, selalu saya tertumbuk kedinding batu dan pintu yang terkunci.

Pintu itu baru terbuka waktu Seri Baginda Maharaja Wilhelmina naik nobat. Sejak itulah pintu penjaraku selama-lamanya terbuka. Pembukaan pintu itu suatu kejadian yang besar yang telah lama diusahakan lebih dahulu. Sudah bertahun-tahun sahabat kenalan kami bangsa Eropa menolong meruntuhkan dinding batu yang kukuh itu, yang memagari kami. Mula-mulanya dinding batu itu teguh sekali. Lama kelamaan batu dinding itu terbongkarlah sebuah lepas sebuah; sehingga waktu Seri Baginda Maharaja Wilhelmina dinobatkan, maka dinding itu robohlah dan kami melompatlah kepadang yang bébas, ditarik oléh orang tua kami dengan sekali tarik.

Selang berapa lama ini nyonya Ovink kerap kali berkata kepadaku: "Hai anak-anakku, adakah baik perbuatan kami, membawa engkau sekalian keluar dari dinding kabupatén yang tinggi itu? Tidakkah lebih baik, bila tuan-tuan selamanya tinggal didalam kabupatén itu ? Sekarang apa hendak dibuat. Hendak kemana kamu pergi?" Apabila ia melihat lukisan dan gambaran kami, maka berteriaklah ia dengan putus asa: "Wahai anak-anakku; tidak adakah pekerjaan lagi bagimu?" Tidak ada jalan yang lain yang terlebih bagus, yang saya ketahui hanyalah kami bertiga melompat keudara, melupakan ibu bapa kami dan bahwa ia sudah membesarkan kami. Beruntung, yang saya seorang, yang tidak lekas bersusah hati dan tidak mudah menundukkan kepala. Sekarang, apabila saya tidak dapat menjadi sesuatu yang saya ingini, biarlah saya menjadi koki saja. Engkau harus tahu, bahasa saya "seorang yang pandai sekali" dalam perkara masak memasak. Kaum keluarga dan sahabat kenalan saya, tidak perlu takut lagi akan untung nasib saya pada hari kemudian, bukan? Seorang tukang masak-masak yang baik selalu dapat dipergunakan orang dan kemana-mana ia boléh pergi.

Alangkah sedikitnya gaji-gaji di tanah Belanda kalau dibandingkan dengan gaji-gaji amtenar-amtenar di Hindia. Sungguhpun demikian meréka itu mengeluh juga mengatakan bahwa gaji di Hindia sedikit. Bila orang 20 tahun telah bekerja di Hindia, (pendéta-pendéta 10 tahun) maka meréka itu telah berhak mendapat pensiun. Sungguhpun demikian kebanyakan orang Belanda memaki-maki tanah Hindia "tanah monyét yang celaka." jikalau saya dengar onang berkata "Hindia yang celaka" itu, maka sayapun boléh jadi marah amat sangat. Telah kerap kali orang melupakan, bahwa "tanah monyét yang celaka itu" mengisi kantung bangsa Belanda yang kosong dengan emas, bila ia pulang kembali ketanah Belanda sesudah bekerja tidak berapa lama di Hindia.

Tidak akan berapa gunanya kalau kitab Hilda van Suylenburg diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu. Siapakah yang membaca buku dalam bahasa itu, kecuali orang laki-laki? Lagi pula sedikit sekali perempuan-perempuan bangsa Jawa, yang pandai membaca bahasa Melayu. Supaya kitab Hilda dapat dibaca meréka itu, wajib ia berusaha mempelajari bahasa itu. Tentulah ia menyangkakan salinan H.v.S. hanyalah sebagai suatu ceritera yang bagus saja. Tidak akan terasa betul oléhnya maksud isinya.

Perubahan dalam dunia kami bangsa Bumiputera tidak dapat tiada akan datang, gerakan perubahan telah ditakdirkan Allah, tetapi bila ia akan datang? Itu suatu pertanyaan yang besar. Saat perubahan itu tidak sangguplah kami melekaskannya. Apakah sebabnya maka kami benar yang harus mempunyai pikiran huru hara dalam hutan rimba, yang jauh terletak ditengah-tengah tanah yang tidak bertanah lagi dibaliknya ini? Sahabat kenalan saya berkata, yang kami lebih baik tidur seratus tahun lagi lamanya. Bila kami nanti terbangun, tentulah waktu itu, suatu masa yang baik untuk kami. Tanah Jawa tentulah telah berubah; perubahan itu suatu perubahan yang kami kehendaki. Kitab "Maatschappeliyk werk in Indië" ada padaku. Saya dapat dari bapaku, kitab itu pemberian pula dari nyonya van Zuylen Tromp. nyonya itu mengirim kitab itu kepada bapak dan ia memohon permintaan, supaya bapa suka memperbaiki dan mengubahi apa yang salah dalamnya. nyonya itu hendak mengeluarkan suatu karangan tentang perempuanperempuan bangsa Bumiputera. Saya minta maaf karena tidak dapat menolongnya. Banyak saya dapat menceriterakan hal keadaan perempuan-perempuan bangsa Jawa, tetapi saya masih muda sekali, tidak cukup, ya, hampir tidak ada mempunyai pendapatan hidup. Perkara yang wajib saya uraikan itu perkara yang amat penting dan termulia, tidak boléh dipermudahmudah saja.

Sekarang saya dapat membuat karangan itu kalau kiranya saya suka, tetapi saya tahu betul, yang saya akan menyesal kemudian hari, jika saya buat karangan itu. Apa sebabnya? Sebab saya sekarang banyak dirintangi beberapa macam pikiran; sekalian itu meragukan saya, tetapi kalau tiga empat tahun lagi, boléhlah saya barangkali mempunyai pemandangan yang tajam dalam beberapa perkara itu. Tentang agama Isiam tidak dapatlah saya menceriterakan kepadamu, Stella. Agama Islam melarang orang Islam menceriterakan perkara agama kepada orang yang beragama lain. Dan lagi sebenarnya, saya seorang Islam, hanyalah karena nénék moyang saya orang Islam. Bagaimana saya dapat mencintai agama saya kalau saya tidak mengetahui dia, ya, tidak boléh mengetahuinya? Kuran tidak boléh diterjemahkan ke dalam bahasa apapun, karena ia suatu kitab yang tersuci. Ia harus tertulis dalam bahasa Arab. Dinegeri saya tidak seorang juga yang tahu bahasa Arab. Orang negeri saya diajar membaca kuran, tetapi apa yang dibacanya itu, tidaklah seorang yang mengerti. Menurut pendapatan saya pekerjaan yang seperti itu, suatu pekerjaan yang bodoh. Orang diajar membaca, tetapi apa yang dibacanya tidaklah diketahuinya. Samalah keadaannya, bila engkau mengajar saya membaca kitab Inggeris dan semua harus saya hafalkan diluar kepala saya, pada hal satu patah katapun tidaklah saya ketahui artinya. jikalau saya hendak mengetahui dan mengerti agama saya, maka patutlah saya pergi ketanah Arab mempelajari bahasa Arab itu. Biarpun, orang tidak saléh, tetapi berhati suci, tentulah orang itu seorang yang baik juga, bukan, Stella?

Hati yang suci itulah pokok kebaikan yang terutama. Agama yang sebenarnya suatu rahmat untuk segala orang, dan ialah yang memperhubungkan tali salatu'rrahim antara segala hamba Allah. Kita sekalian bersaudara, bukan karena kita seibu dan sebapa' saja, tetapi juga sebab kita hamba Tuhan yang esa, yang berkerajaan dilangit. Orang-orang yang bersaudara wajib cinta mencintai, tolong menolong dan bantu membantu. Orang-orang bersaudara, meskipun bersaudara laki-laki atau perempuan, wajib meréka sayang menyayangi, tolong menolong, kuat menguatkan, bantu membantu. ya Allah, kadang-kadang saya berkehendak, supaya tidak ada sebuah juga agama didunia ini. Karena agama yang sepatutnya menyatukan segala machluk didunia ini, ialah menjadi pokok peperangan dan menyebabkan manusia berbagai-bagai, serta ialah asal pembunuhan yang ngeri dan yang mencucurkan darah. Manusia yang seibu sebapa, bermusuh-musuhan, oléh karena jalan meréka menghormati Tuhan yang esa dan seru sekalian alam itu berlainan.

Orang-orang yang kalbunya diperhubungkan oléh kasih cinta yang amat sangat, menjadi berdendam kesumat hingga jatuh sengsara, karena agama itu. Mesjid dan geréja, tempat meréka itu menyembah Tuhan yang esa 'itu, menjadi dinding yang menceraikan hati meréka yang suka cinta mencintai dan sayang menyayangi itu.

"Adakah agama itu mendatangkan berkat kepada manusia? Tanya saya kerap kali pada diriku sendiri. Hai agama, engkaulah yang harus menjauhkan kami dari pada dosa, tetapi berapakah banyaknya dosa yang dilakukan orang atas namamu.

Saya ada menaruh kitab Max Havelaar. Tetapi pertanyaan: "Tunjukkanlah kepadaku tempat, yang telah engkau taburi bibit! tidaklah saya ketahui. Tetapi itu akan saya tanyakan kepada orang lain karena saya amat suka, ya, amat suka benar pada Multatuli.

Tentang keadaan orang kebanyakan dan kepala-kepala negeri boléhlah kemudian hari saya ceriterakan kepadamu. Sekarang telah sampai panjangnya saya menulis dan lagi perkara itu tidak akan sedikit menghabiskan kertas dan waktu.

Engkau bertanya bahasa apa yang kami pakai dalam rumah. yang kami pakai dalam rumah kami tentulah bahasa kami, yakni bahasa Jawa. Bahasa Melayu kami pakai, kalau kami bercakap dengan orang Melayu, orang Keling, orang Arab cina d.l.l. Bahasa Belanda hanyalah kami pakai, kalau kami bercakap dengan orang Belanda.

O, Stella, waktu saya membaca pertanyaanmu, saya sangat tertawa gelak-gelak, pertanyaanmu: "Boléhkah engkau memeluk cium orang tuamu dengan seizin meréka itu?" Dengarlah, Stella, saya belum pernah mencium orang tua dan saudara-saudara saya perempuan dan laki-laki. Bercium-ciuman bukannya suatu adat pada bangsa Jawa. Hanya anak-anak yang ber'umur dari satu sampai enam tahun boléh dicium-cium. Kami tidak pernah bercium-ciuman. ya, hal itu tentulah mendatangkan héran bagimu. Tetapi sesungguhnya begitu. Hanya sahabat-sahabat kami perempuan bangsa Belanda mencium kami, dan kamipun mencium dia pula. Bercium-cium itu belum lama kami lakukan, dahulu kami biarkan saja kami dicium orang. Kami belajar mencium, semenjak kami bersahabat dengan nyonya Ovink-Sur. jikalau ia mencium kami, dimintanya kami menciumnya pula. Mula-mulanya kami tidak biasa membuat itu, sebab itu kami mencium itu janggal sekali. Tetapi pekerjaan itu tidak lama kami pelajari, maka kamipun biasalah mengerjakannya. Bagaimana sekalipun saya mencintai seseorang, tidak adalah niatan saya dengan kehendak sendiri akan menciumnya. (Orang Belanda selalu bercium-ciuman, kami bangsa Jawa tidak pernah bercium-ciuman). Sebabnya, saya tidak mau mencium orang, karena saya tidak tahu, sukakah ia dicium atau tidak.

Kalau benar seperti katamu, yang saya tidak kalah kalau dibandingkan dengan beberapa anak-anak perempuan bangsa Belandia, kepandaian saya itu terutama pekerjaan nyonya Ovink, seorang yang suka bercampur gaul dengan kami, bangsa Jawa; dan ia bercampur gaul itu seperti orang bersaudara. Pergaulan dengan nyonya-nyonya bangsa Belanda yang sejati, terpelajar dan berbudi itu amat baik untuk bangsa kulit hitam. Ibu saya tahu, yang ibu bapaku dicintai dan disayangi oléh anak-anaknya yang perempuan. Bapa telah berjanji kepada kami (yang sebetulnya nyonya Ovink menyuruh bapa berjanji) akan membawa kami ke jombang kepada nyonya Ovink. Tuan Ovink dengan segera suka membawa kami. Kami sangat mencintai meréka itu hampir sebagai mencintai ibu bapa kami. Kalau meréka itu tidak ada lagi dekat kami, seperti kami kehilangan barang yang kami cintai. Saya tidak dapat memikirkan, yang meréka itu telah bercerai dengan kami. Kami bersama-sama telah banyak menanggung susah dan senang. Dengan santun menyantuni kami telah hidup bersama-sama seperti sekaum sekeluarga layaknya.

November 1899. (II)Sunting

O, nyonya yang tercinta, betapa riang kami hart Minggu kemarin dulu. Bapa dan adik saya yang kecil pergi berkeréta; tidak berapa lamanya, maka meréka itupun kembalilah kerumah. Setiba di rumah dengan girang hati berceritera adikku itu: "ya, kakanda, ada sebuah kapal perang dipelabuhan. Dipasar berkerumun kelasi kapal. Dua orang dari pada meréka itu menurut dengan kami. Pergilah lekas lihat; ia sekarang diserambi dengan bapa'."

 
PEMANDANGAN DI LAUT BULU UJUNG, JEPARA.
 
SERAMBI MUKA KABUPATÉN JEPARA.
 
PENDOPO KABUPATÉN JEPARA.

Mendengar kata kapal perang itu kamipun melompatlah seperti kami digigit lebah. Sebelum habis adikku itu berceritera, kami berlari dari bilik kami pergi kemuka. Dimuka tampak oléh kami dua orang tuan-tuan berpakaian putih; mulanya meréka itu malu masuk ke dalam pekarangan kami. Tiada berapa lama antaranya kami lihat meréka itu telah duduk dengan bapa' ditengah-tengah serambi muka. Kemudian dari pada itu datang seorang bujang mengatakan kepada ka­mi, yang kami harus datang kepada bapa'. Hal itu kami sukai benar-benar. Satu, dua, tiga......kami sarungkan kebaya yang bersih dan sebentar kemudian dari pada itu kamipun duduklah bergoyang-goyang dikursi goyang dan ramai berbincang-bincang dengan dua orang opsir kapal perang "Edie". Saya tidak tahu apa sebabnya, tetapi dengan segera kami senang hati bercakap-cakap dengan kedua tuan² itu, serupa kami telah bertahun-tahun berkenalan dengan dia. Apa sebabnya, maka kedua tuan itu sampai kekabupatén? Marilah saya ceriterakan kepada nyonya. Seperti saya sudah ceriterakan di­ atas ini, bapa' pergi berkeréta. Ditengah jalan bertemu ia empat, lima orang tuan-tuan. Tiga orang di antaranya menurut jalan yang lain, dan yang dua orang lagi mengikut keréta bapa kekabupatén. Tuan-tuan itu baru datang ketanah Jawa. Meréka itu menyangka, yang diyalan kekabupatén, yang diturut keréta bapa, jalan yang biasa. Rumah kami disangkanya sebuah gudang atau toko yang besar.

Bapa menyuruh orang kepada tuan-tuan itu meminta dia masuk ke dalam. Meréka itu tentu terkejut, tatkala dikètahuinya yang ia salah persangkaan dan telah menurut orang kerumahnya. Apa hendak dibuat sekarang? Meréka itu kemalu-maluan rupan ya, apalagi karena ia tiada mengetahui bahasa kami, melainkan ia bercakap bahasa Melayu sedikit. Bapa menghilangkan malu orang itu dengan bercakap bahasa Belanda kepadanya. Mendengar itu sangat héran dan sukalah meréka itu. Sekarang ia suka sekali masuk keka­bupatén. Rupanya yang seorang dari tuan-tuan itu kaum keluarga dari seorang, yang dikenal betul oléh bapa. Saya tidak ingat lagi, yang saya pernah merasa senang hati bercakap de­ ngan bangsa asing, seperti waktu itu. tidak sedikit juga saya pikirkan, bahwa saya se'umur hidupku belum pernah melihat orang itu dan sayapun tidak tahu, yang meréka itu lima menit lebih dahulu ada didunia. Héran,héran, selamanya ka­mi lekas sekali berketahuan dengan orang kapal.

Kami sangat mencintai laut; apa saja yang berhubung dengan laut senantiasa menarik hati kami. nyonya telah tahu, betapa besar kegirangan hati kami, orang memperbincangkan perkara bersampan-sampan atau berlayar-layaran. nyonya sendiripun tahu, yang kami suka sekali pada laut, Tatkala saya hampir setengah mati, waktu saya terbaring dalam perahu candu itu, saya merasa senang yang saya dilambung-lambungkan oleh gelombang itu. Semenjak dahulu laut yang indah itu menarik hati kami. Kalau saya seorang anak lakiyaki, tidaklah saya berpikir lagi dan dengan segera saya menjadi kelasi. Tahukah nyonya, apa yang dikatakan bapa' kepada opsir laut itu. Bapa' berkata: "Anak-anak saya yang perempuan suka sekali berlayar-layaran dan hendak pergi kekapal." Bapa' kami yang tercinta itu; bapa tahu sekalian barang yang kami ingini dan sukai itu. Sungguhpun hal itu tidak pernah diceriterakannya, tetapi saya tahu betul bahwa begitu keadaannya. Kadang-kadiang bapa menceriterakan hal kami kepada orang lain-lain; yang diceriterakannya itu bersamaan betul dengan perasaan kami, yang kami simpan saja dihati kami. yang sangat menghérankan kami, bagaimana dapat bapa' meng'etahui segala barang yang kami pikirkan sendiri dan yang tidak kami ceriterakan kepada orang lain-lain itu. Sebabnya tidak lain, melainkan karena bapa' menyayangi dan mengasihi kami dan kamipun begitu pula akan bapa'. Témpoh-témpoh bapa tiba-tiba menggirangkan hati kami dengan menceriterakan barang sesuatu, yang masih tersembunyi dihati nuraniku, dan yang saya sangka tidak seorang juga mengetahuinya lain dari pada saya sendiri. Itukah yang dinamakan persatuan pikiran ? jikalau seonang yang banyak kepercayaan, tentulah saya menyangka,:bahasa bapa pandai membaca buah pikiran dihati kami.

Tidak usahlah saya panjangkan lagi tali kawat yang ajaib itu, yang memperhubungkan hati kami dengan hati bapaku yang tercinta itu.

Marilah saya hubung menceriterakan kegirangan kami pada minggu yang lalu itu. Opsir-opsir itu merasa sayang benar yang kapal perang "Edie" tidak lama tinggal dipelabuhan kami; kalau tidak, meréka itu suka sekali menyambut kedatangan kami dikapal. Kapal itu harus pergi kepulau Karimun Jawa mencari gosong-gosong atau beting-beting. Seharusnya ia tidak perlu datang kenegeri kami, tetapi komandan kapal perang itu suka melihat-lihat Jepara. Kedua tuan-tuan itu nuau mencoba meminta kepada komandannya, supaya kapal "Edie" hari Sabtu dan Minggu datang kembali ke Jepara dan hari Senin baru berangkat ke Surabaya. Bila peiTnintaan meréka itu diperkenankan, supaya kapal Edie hari Sabtu datang ke Jepara, maka akan diletuskannyalah sepucuk meriam dari kapal memberi tahu kami. Saya kira permintaan meréka itu tidak akan dikabulkan. Tetapi akan suatu kesukaan yang besarlah bagi kami, bila kapal itu datang kembali. Saya katakan kepada tuan-tuan itu, bila ia melalui Jepara sekali lagi, haruslah ia mematahkan sumbu mesin kapal itu sebuah, supaya kapal itu terpaksa tinggal dipelabuhan kami.

Tatkala opsir-opsir itu tidak ada lagi dan kamipun kembali kebilik kami, kami sangkakan, segala yang terjadi pada hari itu suatu mimpi. ya, sebenarnya, seperti kami telah bermimpi. Dengan tiba-tiba datang orang kepada kami, dengan sekonyong-konyong iapun hilanglah. Tetapi hal itu suatu sukacita yang tidak disangka-sangka, bukan? Saya selalu mau tertawa, bila saya ingat akan hal itu. O, nyonya, ibu kami, alangkah besar hati saya jika nyonya sudah ada pula kami lihat. Kami, anak-anak nyonya, merasa kehilangan nyonya sekali. Kami ingin sekali kembali kepada waktu kita bersama-sama dulu. lebih lebih saat dan masa kami dalam bilik tempat duduk-duduk nyonya. Dibilik nyonya menyuruh kami merasai lazat citarasa kitab-kitab yang bagus dan berpaédah. Disitulah 'kita banyak memperkatakan barang sesuatu yang muskil-muskil. Percakapan yang demikian tidak dapatlah saya lakukan sekarang dengan nyonya. Buah pikiran, yang menerbitkan kacau-bilau pikiranku, dan perasaan, yang senantiasa tidak menyenangkan hatiku, waktu bercakap-cakap itulah dulu saya bukakan kepada nyonya, o! bundaku yang tercinta. Bila saya tidak bersenang, kalau saya lihat muka nyonya yang jernih dan suka itu, maka sayapun menjadi seorang anak yang beriang hati dan manja pula, serta sayapun dapatlah bernyanii menyanyikan: "Biarpun langit itu runtuh kebumi. saiapoan akan memikulnya dengan bahuku dengan perkasa." ya, nyonya, tuan telah terlampau memanjakan kami. Sekarang tidak lain, yang kami ingin dan cintai, hanyalah waktu kita bersama-sama seperti dulu, yaitu waktu yang lazat dan senang itu. Sungguhpun kami sangat beringin hendak berjumpa dengan nyonya, tetapi kami berharap amat sangat, supaya perjalanan hendak pergi ke jombang itu selambat-lambatnya dimundurkan. nyonya tentu bertanya: "Mengapa maka begitu?" ya, kami tahu dan kami rasa, yang di jombang akan terjadi perjumpaan yang achir sekali antara kita. Pertemuan itu boléh jadi perceraian yang selama-lamanya. Ke Jepara tentulah nyonya tidak akan datang lagi dan kamipun tentulah tidak mudah-mudah saja datang kepada nyonya. Oléh karena itu biarlah perjalanan itu dimundurkan seberapa boléh. Amat sedapnya bila sesuatu kegirangan hendak didapat. Kesedapan itu kami hendak merasai selama-lamanya boléh. Perjumpaan kembali boléh meriangkan hati. sudah itu habislah kegirangan itu. Tidak! kenang-kenangannya tentu akan tinggal juga pada kami.

Kami sesungguhnya tidak sebaik dan semanis seperti yang nyonya sangkakan. Tahukah tuan, hai bundaku, bahwa sekalian itu tidak lain dari pada kelobaan hati sendiri, jika kami sekali-kali berbuat baik dan berlaku manis itu? Karena tidak adalah yang lebih menyenangkan hatiku, lain dari pada menerbitkan tersenyum orang, apalagi pada orang yang kami cintai. Tiadalah yang terlebih meriangkan hati kami, hanyalah bila memandang paras yang riang dan kasih terhadap kepada kami, apalagi, jika kami ketahui, bahwa keriangan itu asalnya tersebab oléh kami.

Besar hati kami, yang koki masih teringat kepada kami.


12 Januari 1900 (I)Sunting

Pergi ke Eropa. Itulah suatu cita-cita saya, yang akan tinggal sampai hari mautku. Sekiranya saya dapat memperkecil tubuhku sampai saya dapat menyuruk dalam bungkusan surat ini, pergilah saya bersama-sama dengan surat ini mengunjungi engkau, Stella, dan kepada saudara saya laki-laki yang kucintai dan kepada......Diam, padalah hingga ini. Bukan kesalahan saya, Stella, jikalau saya disana sini menulis perkataan yang tidak berguna. Gamelan kaca dipendopo lebih tahu menceriterakan hal itu kepadamu dari pada saya. Ia menyanyikan lagu kami bertiga. Ia bukan nyanyian, bukan lagu, melainkan bunyi dan suara, amat lemah, amat lembut dan bertukar-tukar, mendengung-dengung tidak berketentuan, tetapi bagus, sehingga merawan dan membimbangkan hati orang. Bukannya bunyi gelas atau bunyi kuningan dan kayu, yang terdengar dipendopo itu; bunyi itu ialah suara nyawa manusia, yang berkata-kata kepada kita. Buah katanya sebentar keluh kesah, sebentar lagi ratap tangis dan sekali-sekali tertawa kegirangan. Maka semangat sayapun rasa terbanglah bersama-sama dengan bunyi yang lembut dan merdu itu keatas udara yang tinggi, biru dan renggang itu pergi keawan yang putih dan kebintang-bintang yang bercahaya-cahaya. Sementara itu suara yang lembabpun naiklah pula keudara; sayapun merasa diri saya dibawa pula oléh bunyi itu melalui lembah yang gelap, jurang yang dalam, melalui hutan rimba yang muram, semak belukar yang tidak dapat diarungi. Maka hati saya gementar dan lisut rasanya, karena ketakutan, kesakitan dan kedukaan. Sungguhpun demikian, héran sekali, meski telah beribu kali terdengar oléh saya "Ginonjing”, tetapi satu bunyi dan suara gamelanpun tidak dapatlah saya artikan. Apabila gamelan telah diam, tidak sebuah lagu yang saya ketahui lagi; semuanya hilang dari ingatanku. Saya tidak dapat mendengar Ginonjing lagi, dengan tiada merawankan hati. Bila saya mendengar bunyi yang pertama saja dari lagu yang bagus itu, maka melayanglah semangatku. Saya sebenarnya tidak suka mendengar lagu yang murung itu, tetapi tidak dapat saya tahan hati saya mendengarkan suara yang lemah lembut itu, yang menceriterakan kepada saya, hal keadaan dulu kala dan yang akan datang. Rupanya seperti bunyi-bunyian yang merdu itu bernapas mengembuskan kain selubung, yang menyelubungi barang sesuatu yang sulit-sulit yang akan datang. Terang seperti bulan, siang seperti hari rupanya dimata saya segala sesuatu yang akan datang itu. Gementar sekalian tulang sendiku, bila saya lihat seolah-olah orang-orangan yang muram dan gelap itu lalu dimuka saya. Saya tidak suka melihatnya, tetapi apa hendak dibuat, mataku tidak mau dipejamkan, ia selalu terbuka. Pada kaki saya terbentang sebuah jurang yang amat dalam, yang amat memusingkan kepala dalamnya. Bila saya melihat keatas, ter­bentang langit yang hijau di atas kepalaku. Sinar matahari yang sebagai emas itu memancar dengan manjanya seolah-olah bermain-main dengan awan yang putih dan bagus itu; dalam hati sayapun terbitlah pula suatu cahaya.

Nah, lihatlah betapa gila dan bodoh saya. Semata-mata perbuatan bodoh, bukan, yang saya suratkan di atas ini. Tetapi cukuplah tentang hal itu. Sekarang saya cobalah bercakap benar-benar seperti seorang yang séhat. Segala kegilaan dan kebodohan itu kita buangkan jauh-jauh, bukan, Stella?

Tanah airku yang panas, tanah yang engkau ingini melihat­nya itu, telah berapa hari lamanya sekali-kali tidak panas. Setiap hari turun hujan lebat; minggu yang terlampau sungai Jepara telah melimpah airnya. Banyak kampung-kampung dan kota Jepara sendiripun penuh diliputi oléh airnya yang mérah dan bercampur lumpur itu.

Pagi-pagi tadi badai kencang sekali disini. Dalam pekarangan kami dua tiga pohon licin tandas ditumbangkannya. Dahan-dahan kayu habis patah-patah seperti kayu api-api. Batang kubis Belanda kami yang bagus itu telah serupa pokok ka­ju yang putih dan bulus. Tentulah kampung-kampung binasa amat sangat. Dengan atap-atap rumah habis diterbangkan angin. Pada hari menulis surat ini bapaku pergi komisi. Banyak lagi kampung-kampung yang jauh-jauh yang dibawah perintah bapa' yang diliputi air sekali lagi. Bapa sangat banyak kerjanya dalam beberapa hari ini; hari ini datang ban­jir, bésok tanah yang runtuh dan lusa badai yang amat hébatnya. Sepohon randu yang besar baru-baru ini ditumbangkan pula oléh angin. Pohon itu berdiri ditepi jalan besar. Waktu ia tumbang itu dua orang perempuan yang lalu disitu ditimpanya. Keduanya luluh lantak dibawah po hon kayu itu. Sehari-harian dan semalam-malaman itu tidak lain yang kami dengar hanyalah bunyi laut yang menderuderu dan mengaum-aum. Di Klein-Scheveningen badai yang amat kencangnya. jalan pergi kerumah mandi ditepian itu habis dipukul oléh gelombang. Pantai dimuka tepian itu telah hilang lenyap ditelan oléh laut yang tidak pernah kenyang itu. jikalau hari petang nanti tidak hujan lebat, saya hen­dak meminta izin kepada bapa', akan pergi kesitu.

Beberapa pekan yang lalu kami di "Klein Scheveningen.” Ka­mi tegak bertiga di atas sebuah batu besar, yang terlantar ditepi pantai. Kami melihat pada permainan gelombanog yang bagus itu. Karena pemandangan itu sangat menarik hati kami, sehingga tidak tampak oléh kami, tempat kami berdiri itu telah didekati oléh gelombang yang bergulung-gulung itu. Kami baru tahu, tatkala anak-anak kecil ditepi pantai dengan ketakutan memanggil kami, sebab kami telah dilingkungi oléh air laut yang berbuih-buih. Dengan basah pakaian sehingga lutut kamipun sampailah kembali kepada tempat anak-anak kecil itu.

Belum beberapa lama dulu dari pada itu engkau bertanya kepadaku hal keadaan orang kecil pada masa sekarang. Tetapi oléh karena surat saya ketika itu sudah panjang sekali, saya lampaui saja pertaniaan itu dulu; sebab akan menjawab tidak cukuplah sepatah dua patah kata saja. Tetapi saya dulu berjanji kepadamu, yang saya kemudian hari akan kembali memperkatakan hal itu dan sekarang saya hendak menyampaikan janji itu. Tetapi sebelum saya menceriterakan perkara itu, saya hendak menjawab lebih dulu suratmu yang ke­mudian sekali. Terima kasih, Stella, atas penghiburanmu untukku. Saya harap bicaramu itu terjadi jualah hendaknya. Tahukah engkau pepatah yang saia pegang? "Saya mau. Dua patah kata yang pandak itu telah beberapa kali menolong saya melalcei gununyr kesusahan. "Saya tidak cakap." Ketiga patah kata itu menghilangkan keberanian. "Saya mau,” menggembirakan orang. Saya berani sungguh-sungguh dan selalu gembira. Stella, nyalakan selalu api keberanianku itu. jangan kaupadami ia. Gembirakan hatiku, gembirakan dia sampai bersinar-sinar, Stella, saya sembah engkau, jangan lepaskan saya.

Saya pohonkan terima kasih pada Allah, yang pertanyaanmu: "Betulkah keadaan anak negeri sekarang sangat buruk seperti yang dikatakan Multatuli?” dapat saya jawab dengan: "Bukan.” Menurut sepanjang pengetahuan saya, ceritera seperti Saijah dan Adinda sekarang tidak terjadi lagi. Betul kadang-kadanp ada kelaparan, yang ditanggungkan oléh anak negeri, tetapi hal itu bukannya kesalahan kepala-kepala negeri.

Kepala-kepala negeri tentulah tidak dapat menanggung, bila hari lama tidak hujan-hujan, yang sangat berguna untuk sawah-sawah "orang kecil.” Meréka itupun tidak sanggup menolakkan air yang amat banyak, yang diturunkan oléh langit kesawah-sawah orang kecil itu. Bila kehasilan padi dirusakkan oléh binatang-binatang yang kecil, atau oléh kekurangan air, atau karena musim panas terlalu lama, maka negeri yang ditimpa kecelakaan itu, dibébaskan oléh Pemerintah dari membayar uang kepala (pajak). Waktu musim kelaparan kepala-kepala negeri membagikan wang dan makanan untuk orang-orang yang dapat celaka itu. Kalau sawah-sawah itu dibinasakan oléh tikus, maka Pemerintah memberi hadiah ke­pada siapa yang membunuh binatang yang kecil-kecil. Kalau musim hujan seperti sekarang, maka air sungai menjadi banjir dan segala tambak-tambak sungai menjadi pecah. Ketika itulah kepala-kepala negeri mencari daya upaya, akan memperbaiki sekalian yang rusak-rusak itu.

Tahun yang lalu sepekan lamanya sebuah kampung yang banyak berkolam ikan diliputi oléh air, waktu itu siang dan malam bapa' tinggal di tempat yang kena sengsara itu. Dengan wang partikulir dibayar segala kerja akan memperbaiki kerusakan tambak-tambak sungai itu. Kemudian wang parti­kulir itu dibayar kembali oléh Pemerintah. Tetapi siapa yang akan membayar sekalian kerugian anak negeri yang disebabkan oléh air itu? Sebelum banjir 100.000 ékor ikan dalam kolam-kolam itu, sesudah banjir hanya tinggal 15 ékor saja lagi. Setelah beberapa lamanya sesudah kecelakaan yang besar itu, datang seorang dari Insinyur Waterstaat berceritera kepada bapa, bahwa ia yang salah maka kampung itu diliputi air. Ia salah menghilirkan air itu.

Kemudian afdeeling Demak, afdeeling yang dibawah perintah bapa' muda saya. Afdeeling itu tidak dapat dima'murkan, bagaimana sekalipun orang mengerjakannya. Kaiau tidak kesengsaraan ini kesengsaraan itu yang mengganggunya. Waktu musim panas sekalian sungai-sungai menjadi kering dan waktu musim hujan negeri itu digenangi oléh air bah. Telah beribu-ribu wang dikeluarkan oléh Pemerintah, supaya ia mendapat air waktu musim kemarau dan supaya jangan kedatangan banjir pada musim penghujan, tetapi semuanya tidak menolong. Banyak saluran dan sérokan yang bagus-bagus digali disitu, tetapi rupanya tidaklah sedikit jua berguna. Menggaii sérokan dan saluran itu mendatangkan suatu pencaharian pula kepada beribu-ribu manusia. Sungguhpun demikian, pada musim kemarau selalu negeri itu kehausan dan pada musim hujan semuanya terapung-apung di atas air. Bukan, Stella, Pemerintah ada menjaga baik-baik untuk keselamatan anak negeri Jawa. Tetapi, aduh, Pemerintah terlampau banyak menyuruh meréka itu membayar uang bia[...].

Bukan, Stella, anak negeri tiadalah lagi dengan sengaja dirampas oléh kepala-kepala negeri. Bila seperti itu sekali-sekali kejadian, maka kepala negeri yang bersalah itu diperhentikan, atau diturunkan pangkatnya. Tetapi yang masih terjadi, lebih baik dikatakan, yang masih bercabul ialah kejahatan ini: "Menerima persembahan dan pemberian, yang menurut pendapatan saya, sama keji dengan merampas harta benda orang kecil," sebagai tersebut dalam Max Havelaar. Tetapi saya tidak boléh menyalahi meréka itu, sungguhpun saya ketahui kejadian hal itu, tetapi saya patut pula menimbang peri keadaan orang yang bersalah itu. Pertama-tama sekali bangsa Bumiputera memandang pekerjaan mempersembahkan suatu pemberian kepada orang yang lebih tinggi,' seperti suatu kehormatan dan kemuliaan baginya. Menerima persembahan itu dilarang oléh Pemerintah pada orang-orang yang berpangkat. Tetapi kepala-kepala negeri yang lebih rendah mendapat gaji sedikit, sehingga kadang-kadang mendatangkan kehéranan, yang meréka itu dapat hidup dengan gaji yang kecil itu. umpamanya, seorang jurutulis kampung, yang menjadi bungkuk karena menulis setiap hari sepanjang waktu, bergaji tiada tepermanai banyaknya, yaitu ƒ 25 sebulan. Dengan wang itu ia wajib hidup dengan anak bininya, dengan wang itu ia membayar séwa rumah, membeli pakaian yang sederhana dan dengan wang itulah ia memperlihatkan kemegahannya, supaya kehormatannya dimata orang yang lebih rendah jangan kurang. (Saya harap, jangan engkau menyalahi meréka itu amat sangat, karena keadaan yang achir itu; lebih baik kasihanilah meréka itu, karena ia masih anak-anak yang besar, dan begitulah kebanyakan bangsaku itu). Bila kepada jurutulis kampung yang seperti itu dipersembahkan sesisir pisang atau yang sebagainya oléh seorang-orang kampung, maka pertama kali tiadalah diterimanya, kedua kalipun tiada diambilnya, tetapi ketiga kali dua hatinya menolak persembahan itu dan keempat kalinya diterimanyalah persembahan itu dengan tiada bimbang. Karena menurut pikirannya, tidaklah salah, bila ia berbuat yang sedemikian; barang itu bukan dimintanya, tetapi diberikan kepadanya; tentulah ia gila dikatakan orang, bila pemberian itu ditolaknya, apalagi pemberian itu boléh dipergunakannya. Memberi persembahan itu bukannya tanda kehormatan saja, tetapi juga seperti suatu pagar untuk si pemberi, bila ia bésok atau lusa dapat kesusahan dengan kepala negeri. umpamanya bila ia ditangkap oléh wedana, karena ia membuat kesalahan sedikit. Dalam hal itu diharapnya pertolongan sahabatnya, jurutulis kampung itu. Gaji pegawai-pegawai negeri sungguh tidak cukup. Seorang asistén wedana kelas dua bergaji delapan puluh lima rupiah sebulan. Dengan delapan puluh lima rupiah itu harus ia menggaji seorang jurutulis. Asistén-asistén wedana itu tidak diberi jurutulis oléh Pemerintah, sungguhpun ia banyak dapat kerja tulis menulis sama banyak dengan wedana-wedana, jaksa-jaksa dan lain-lain). Lain dari pada kuda tunggang, yang berguna untuk pergi memeriksa hutan-hutan, haruslah ia mempunyai sebuah béndi atau sado dengan kuda, rumah dan perkakasnya harus pula dibelinya; tambahan pula ia harus membelanjai rumah tangganya. Akhirya ia harus menerima kemendur-kemendur, regén dan kadang-kadang asistén residén, bila meréka itu datang ke dalam jajahannya untuk mengerjakan barang sesuatu hal. Dan kalau asistén wedana jauh tinggal dari kota, maka tuan-tuan yang tersebut tadi tinggal dipesenggerahan. Dengan hal yang demikian, asistén wedana merasa mendapat suatu kehormatan yang tinggi, karena ia boléh menyediakan makanan orang besar-besar itu. cerutu, air Belanda, bermacam-macam minuman keras dan makanan dalam kaléng. Saya dapat mensahkan kepadamu, yang semuanya itu berharga mahal dan sekalian itu suatu belanja yang banyak bagi asistén wedana yang begitu. Engkau mengerti, yang ia tidak mau menyediakan barang² yang ada padanya untuk jamunya yang tinggi itu. Segala sedap-sedapan itu haruslah semuanya dijemput ke kota. Yang sebenarnya hal itu tidak perlu begitu, tetapi si penjamu memandang suatu kewajiban akan menyediakan yang terbaik untuk tuan yang besar itu, biarpun barang itu tidak ada padanya. Dalam afdeeling bapa beruntung tidak kejadian seperti itu. jikalau bapa' pergi komisi dan iapun harus bermalam di tempat lain, maka selalu ia membawa makanan untuk dirinya sendiri. Kemendur dan asistén residénpun membuat pula begitu. Kalau sekadar semangkuk air téh yang diminum tuan-tuan itu pada asistén wedana, tiadalah menjadikan ia miskin. Kalau kejadian pembunuhan atau pencurian dalam jajahan asistén wedana itu, wajiblah ia mencari keterangan yang sesungguhnya dalam perkara itu, karena itu suatu kewajiban baginya. Akan menyelidiki orang yang bersalah haruslah ia banyak mengeluarkan wang dari kantungnya. Kerap kali telah kejadian yang kepala-kepala negeri menggadaikan perhiasan anak isterinya, akan mendapat uang yang wajib ada untuk mencari keterangan sesuatu perkara yang gelap. Dapatkah ia menerima uang itu kembali dari Pemerintah, untuk mencari keterangan kehendak Pemerintah itu? Mengucap syukurlah saya bila benar begitu.

Oléh sebab tiada demikian halnya maka banyak pegawai-pegawai itu menjadi orang minta-minta. Allah, apakah yang harus dibuat oléh pegawai-pegawai, yang tiada bergaji cukup dan tiada beribu bapa' dan bersanak saudara, yang boléh menolong mereka itu dengan wang? Anak negeri senantiasa membawa persembahan kepada meréka itu dan ia melihat yang anak istermja berjalan dengan pakaian robék-robék............ jangan disalahi amat, pegawai-pegawai itu, Stella.

Saya tahu kesusahan kepala-kepala negeri dan saya tahu akan kesukaan dan kedukaan anak negeri. Apa akan diperbuat Pemerintah sekarang? Pemerintah hendak mengadakan perubahan dalam hal pemerintahan negeri. Pegawai-pegawai Bumiputera hendak disusuti, untuk keuntungan.......... pegawai-pegawai bangsa Eropa. Oléh karena kesusutan itu adalah wang tersimpan setahun ƒ 164800. Wang itu akan diberikan untuk pegawai-pegawai bangsa Eropa, dalam pemerintahan negeri, karena pegawai-pegawai bangsa Eropa itu diberi gaji seperti anak tiri, pada hal pegawai-pegawai bangsa Eropa dalam golongan lain diberi gaji seperti anak kandung. Tetapi, mengapa Pemerintah merugikan pegawai-pegawai Bumiputera akan memperbaiki kesalahan-kesalahan itu? Betul akan pengganti kesusutan yang di atas itu, pegawai-pegawai Bumiputera yang bergaji sedikit ditambah gajinya dan asisten wedana mendapat jurutulis dari Pemerintah. Tetapi apakah artinya perubahan sedikit itu, jika diperbandingkan dengan penghapusan pangkat-pangkat yang tinggi itu? Dan lagi belum ada kenyataannya, yang pangkat-pangkat itu tiada berguna. Karena peraturan Pemerintah itu banyak orang bersungut. Peraturan untuk perubahan itu dikabulkan oléh majelis persidangan kedua di tanah Belanda dan bulan Juli j.a.d. dijalankan perubahan pemerintahan negeri itu. Hampir sekalian residén-residén melawani peraturan itu, tetapi Gubernur jenderal mengehendaki begitu. Meskipun kehendak itu dilawani oléh residén-residén, maka perubahan itu dimajukan juga. Saya berharap, yang Pemerintah nanti tidak akan memetik buah kelat dari perbuatannya itu.

Sekarang tengtang hal anak negeri, terutama keadaan penduduk tanah Jawa. Bangsa Jawa itu boléh disamakan dengan anak yang telah besar. Apa yang telah dibuat oléh Pemerintah untuk kemajuan anak negeri? untuk anak² orang berbangsa dalam negeri diadakan Sekolah Ménak, Sekolah Raja dan Sekolah Dokter Jawa. Dan sekolah Bumiputera untuk sekalian orang ada terdapat dalam tiap-tiap distrik sebuah saja. Sekolah Bumiputera dibagi atas dua jenis oléh Pemerintah; yaitu: Sekolah kelas satu, yang didapatinya hanya pada ibu-ibu negeri saja; disekolah itu diajarkan pengajaran, yang seperti pengajaran dalam sekolah Bumiputera sebelum ia terbagi dua, tetapi dalam sekolah kelas dua anak-anak diajari hanya menulis dan membaca bahasa Jawa dan berhitung sedikit. Bahasa Melayu tidak boléh diajarkan lagi seperti dahulu; apa sebabnya, tidak tahulah saya. Menurut pertimbangan saya Pemerintah menyangka, bila anak negeri mempelajari itu, maka ia tidak mau lagi mengerjakan tanah.

Tentang hal pengajaran bapa' telah mempersembahkan sepucuk surat nota kepada Pemerintah. O, Stella, saya suka engkau dapat membaca surat itu. Engkau harus tahu yang sebagian besar dari pada orang-orang berbangsa sangat berbesar hati karena perbuatan Pemerintah itu. Bangsawan bangsa Jawa makin lama makin mundur tenaganya. Pemerintah di Hindia dan di tanah Belanda dan beberapa orang Jawa yang berbangsa suka menolong bangsawan itu dan mau memajukan meréka itu. Dengan hati kurang senang dipandang oléh bangsawan itu anak-anak orang kebanyakan memajukan dirinya dan karena pengetahuan, kepandaian dan kerajinannya iapun disamakan duduknya oléh Pemerintah dengan anak-anak bangsawan. Anak-anak orang kebanyakan memasuki sekolah Belanda dan disitu ia menunjukkan, yang ia didalam segala hal dapat berlumba-lumba dengan anak-anak orang berbangsa tinggi. Sekalian orang bangsawan suka alam ini untuknya saja; pangkat yang tinggi-tinggi dalam negeri dalam tangannya saja dan ia sendiri hendak berkepandaian dan berbudi pekerti seperti bangsa Eropa. Pemerintah menolong dan membantu meréka itu, lebih-lebih karena Pemerintah sendiri mendapat untung dalam hal itu. Pada tahun 1895 ia telah memberi perintah, bunyinya: "Anak-anak Bumiputera (ber'umur dari 6 sampai 7 tahun) tidak boléh diterima masuk sekolah Belanda kalau anak itu belum tahu bercakap bahasa Belanda atau kalau tidak seizin Gubernur jenderal.” Bagaimana anak-anak Bumiputera yang ber'umur 6 atau 7 tahun akan belajar bahasa Belanda? Akan boléh begitu hanyalah bila anak itu mempunyai seorang pengasuh bangsa Belanda. Tambahan lagi, biarpun ada waktu untuk mempelajari bahasa Belanda itu, anak Bumiputera itu wajib mengetahui bahasanya lebih dulu, sebelum ia belajar bahasa Belanda; dan haruslah ia tahu menulis dan membaca dalam bahasa Jawa lebih dulu. Hanyalah regén-regén yang memohonkan permintaan, supaya anak cucunya boléh dimasukkan kesekolah Belanda. Kepala-kepala yang lebih rendah takut yang permintaannya tidak akan dikabulkan, oléh karena itu tiadalah dimintanya. Pongahkah bapaku sebab ia menunjukkan kepada Pemerintah hal yang sesungguh-sungguhnya terjadi, yaitu anak-anak orang Afrika dan Ambon segera dimasukkan kesekolah Belanda dengan tiada mengerti bahasa Belanda sepatah kata juapun? Stella, waktu saya masih sekolah, saya sendiri tahu betul, bahasa banyak anak-anak Belanda sendiri yang sama banyak kepandaiannya dalam bahasa Belanda dengan saya, waktu saya mula-mula sekolah.

Bapa mengatakan dalam notanya itu: "Pemerintah tidak cakap menyediakan nasi untuk segala orang Jawa akan dimakannya, tetapi Pemerintah sanggup memberi ra'jat upaya akan mencari suatu tempat dan di tempat itu didapati makanan, maka upaya itu ialah "pengajaran”. Memberi anak negeri pengajaran yang baik samalah keadaannya seperti Pemerintah memberikan sebuah suluh ketangannya. Dengan suluh itu cakaplah ia sendiri mencari jalan yang baik dan jalan itu membawa dia ketempat yang ada bernasi.

Tidak, Stella, tidak usahlah saya panjangkan perkara itu lagi, barangkali bésok atau lusa dapat saya mengirimkan nota bapaku itu kepadamu, dan disitu dapatlah kaulihat, bagaimana hal keadaan anak negeri pada masa sekarang. Bapa akan bekerja dengan keras, hendak memajukan anak negeri dan sayapun hendak bekerja bersama-sama dengan dia.

Bapa seorang yang setia sekali juga pada asal usulnya, tetapi hak tinggal hak, dan mana yang adil diadilkannya.

Dalam hal kepandaian dan budi pekerti, kami hendak sama tinggi dengan bangsa Eropa. Hak yang kami tagih untuk diri kami sendiri itu harus kami berikan pula kepada siapa yang memintanya. Mengalangi kemajuan anak negeri samalah keadaannya dengan perbuatan Czaar tanah Ruslan, yang mengucapkan perdamaian bagi seluruh dunia, pada hal ia menganiaya dan menginjak anak ra'jatnya sendiri. Itu namanya menyukat dengan dua buah gantang, bukan? Bangsa Eropa sakit hati melihat sipat-sipat bangsa Jawa, ump. sipat-sipat yang lalai dan malas dll. Hai orang Belanda, bila sekaliannya itu menyakitkan hati tuan, mengapakah tuan tidak sedikit juga mengichtiarkan diri tuan hendak memusnahkan segala kejahatan itu? Mengapa tidak tuan unjukkan tangan tuan akan memajukan saudara tuan yang hitam itu? Percayalah kepadaku, yang kejahatan itu dapat dihapuskan. Buangkanlah dari otaknya selimut kebodohan itu, bukakan matanya, nanti dapat tuan lihat, bahwa padanya ada sipat-sipat yang lain didapati lain dari pada kesukaan hendak berbuat jahat yang asalnya sebagian besar oléh karena kebodohan dan kekurangan pengetahuan.

Contohpun terlampau banyak, Stella, tidak usahlah kucari jauh-jauh contoh itu dan engkaupun demikian, Stella. Disini dimukamu sendiri kaudengar buah pikiran, yang masuk bilangan bangsa kulit hitam yang dihinakan itu. Apa yang dapat disalahkannya tentang hal kami dan tingkah laku kami? Kenalkah meréka itu kepada kami?

Meréka itu tidak mengenal kami, sebagai kami tidak mengenal mereka itu. jikalau engkau suka mengetahui hal itu, lihatlah surat bulanan Neerlandia nomor bulan October. Di situ ada sebuah pidato saudara saya pada suatu persidangan tentang bahasa dan 'ilmu kitab Belanda di kota Gent, di tanah Belgia. Professor Kern membawa dia kesitu dan memintanya bercakap disitu. Perasaan yang diuraikannya disitu samalah dengan perasaan saya dan kami semua.

Engkau bertanya kepadaku: "Banyakkah kekuasaan bapamu?” Apakah yang sebenarnya kekuasaan? Bapa betul ada mempunyai kehormatan yang besar; tetapi kekuasaan itu hanya ada pada bangsa yang memerintah. Saudara saya berkata didalam pidatonya itu, yang bahasa Belanda wajib dijadikan bahasa dalam pekerjaan. Bat ya, Stella, bacalah pidato itu, sungguhpun bukan untuk kesukaan hatimu, tentu akan kesukaan bagiku. Orang-orang Belandla mentertawakan dan mengéjékkan kebodohan kami, tetapi bila kami mencoba hendak memajukan diri sendiri, maka iapun memandang kami seperti musuhnya. Alangkah banyak dukacita saya dulu, waktu saya masih dalam sekolah. Guru-guru dan kawan-kawan saya sesekolahpun memandang kami seperti musuhnya. Tetapi, tetapi bukan sekalian guru-guru dan murid-murid yang membencii kami. Banyak pula yang mengenal kami dan yang menyayangi kami seperti menyayangi anak-anak yang lain. Banyak guru-guru yang kurang sudi memberikan nomor yang tertinggi kepada anak Jawa, sungguhpun anak itu berhak mendapat itu.

Saya hendak menceriterakan kepadamu ceritera seorang anak Bumiputera yang budiman dan terpelajar. Anak itu telah membuat ujian penghabisan H.B.S. di Jawa. Anak muda itu bersekolah di kota Semarang dan membuat ujian di Betawi. Waktu ia di Semarang ia diterima oléh segala orang yang ternama dan mulia di rumah meréka itu. Ia seorang anak muda yang beradab dan sopan, yang tahu akan adat sopan santun serta peramah. Tiap-tiap orang bercakap bahasa Belanda dengan dia, dalam bahasa itu iapun dengan mudah dan baik mengeluarkan pikirannya. Baru-baru keluar dari dunia yang tersebut di atas, datanglah ia kerumah orang tuanya. Disitu menurut pikirannya tidak lain yang lebih baik akan dibuatnya, lain dari pada pergi menghadap orang besar-besar dinegerinya.

Waktu ia berhadapan dengan residén, yang bercakap dengan dia, sahabat saya itu membuat suatu kesalahan. Bagaimanakah ia seorang-orang Jawa, berani mencoba, menjawab perkataan tuan besar itu dengan bahasa Belanda? Itulah kesalahannya itu. Bésoknya ia dapat surat angkatan untuk menjadi jurutulis kemendur digunung-gunung. Disitulah si anak muda itu tinggal memenungkan "dosanya itu” dan melupakan segala 'ilmu yang dahulu dikumpulkannya dalam sekolah. Beberapa tahun kemudian datang kesitu seorang kemendur baru, yang sebenarnya aspiran kemendur, yang akan mencukupkan sengsaranya sampai melimpah-limpah. Kepalanya yang baru itu seorang dari pada kawannya masa disekolah dulu dan si kepala itu bukanlah seorang ternama karena ketajaman otaknya. Si anak muda tadi, yang dahulu selalu nomor satu dalam segala hal, wajiblah jongkok di tanah kepada kawannya yang bodoh dulu itu dan iapun mesti bercakap bahasa Jawa tinggi dengan dia, sedang tuan itu dengan bahasa Melayu tangsi menjawabnya. Dapatlah engkau memikirkan penanggungan dan sengsara si muda remaja, yang sangat dihinakan itu? Betapalah banyak kekuatan hati yang tersembunyi dalam perbendaharaan si muda itu, akan menahan segala azab dan ancaman selama itu. Tetapi akhirnya tidak dapatlah ia menanggungkan lagi; ia berangkat ke Betawi dan mohon permintaan hendak menghadap Gubernur jenderal; permintaan itu dikabulkan. Keputusan permintaannya itu ia dikirim ketanah Priangan dengan perintah akan mempelajari hal perusahaan bertanam padi. Disitu ia berbuat suatu kebaktian, oléh karena ia menerjemahkan surat-surat tentang perusahaan tanam-tanaman dari bahasa Belanda ke dalam bahasa Jawa dan Sunda. Karena itu ia dapat anugerah dari Pemerintah dua tiga ratus rupiah. Pada Sekolah Kemendur di Betawi terbuka pangkat seorang guru untuk bahasa Jawa. Guru bahasa Jawa disekolah itu pulang kenegeri Belanda. Banyak sahabat-sahabatnya, bangsa Eropa yang suka kepada bangsa Jawa, mencari daya upaya, supaya ia diangkat kesekolah itu jadi guru bahasa Jawa, tetapi daya upaya itu tiadalah berhasil. Tidakkah pikiran yang amat gila, seorang Bumiputera mengajar bangsa Eropa, apalagi bangsa Eropa bakal jadi pegawai-pegawai Pemerintahan negeri? Buang saja permintaan yang gila itu. Saya mau bertanya: Siapa yang lebih pandai mengajarkan bahasa Jawa lain dari pada orang Jawa sejati? Si muda itupun kembali kenegerinya; dan sementara itu datang ketempatnya seorang residén yang lain, lalu si muda kulit hitam yang cerdik dan pandai itu diangkat kesudahannya menjadi asistén wedana. Bukannya sia-sia saja ia dibuang ketempat yang jauh tadi itu, karena disitulah ia menghimpunkan 'ilmu hidup, misalnya: bekerja pada bangsa Eropa, wajib berjongkok di tanah pada meréka itu dan dekat meréka itu tidak boléh sekali-kali orang bertutur bahasa Belanda. Sekarang orang lain yang memegang perintah. Tatkala pangkat juru-basa dalam bahasa Jawa terbuka, maka pangkat itu diserahkanlah bagi sementara kepada si muda itu.

Stella, saya kenal seorang asistén-residén yang bercakap bahasa Melayu dengan seorang regén, sungguhpun ia tahu bahasa regén itu tahu betul bertutur bahasa Belanda. Lagi pula tiap-tiap orang berbincang-bincang dengan kepala negeri itu dalam bahasa Belanda, hanyalah asistén-residén itu saja yang tidak suka. Saudara-saudara saya laki-laki ber­cakap bahasa Jawa tinggi kepada orang-orang di atasnya, meréka itu menyahut dalam bahasa Belanda atau Melayu. yang menyahut dalam bahasa Belanda itu, orang-orang yang bersahabat dengan kami dan beberapa orang di antaranya meminta kepada saudara-saudaraku, supaya ia memakai bahasa Belanda dengan meréka itu, tetapi saudara-saudaraku tidak mau dan bapapun tidaklah mengizinkan itu. Bapa dan anak-anaknya lebih tahu, apa yang lebih baik baginya tentang hal itu. Pegawai-pegawai bangsa Eropa pada pemerintahan negeri yang menyangkakan dirinya diawan tinggi itu, takut sekali rupan ya kehormatannya akan hilang, sebab itu sebentar-sebentar meréka itu mengingatkan kehormatan itu. Saya tidaklah mempedulikan ancaman meréka itu. Sebenarnya saya selalu suka tertawa melihat kelakuan meréka itu hendak memeliharakan kehormatannya itu terhadap kepada kami, bangsa Jawa. Dengan beberapa pegawai pemerintahan negeri bangsa Eropa yang bersahabat dengan saya selalu saya memperbincangkan perkara itu. Perkataan saya itu tidaklah dibantahinya dan tidak pula diiakannya, sungguhpun saya tahu betul, bahasa dalam hatinya ia membenarkan perkataanku itu. Menyembunyikan kebenaran itu tentulah untuk ke­ hormatannya pula. Mengertikah engkau sekarang, apa sebabnya saya kadang-kadang tidak dapat menahani gelak saya? Suatu keriangan melihat bagaimana tuan-tuan besar itu mencari daya upaya hendak meninggikan kehormatannya itu ke­ pada kami.

Saya gigit bibirku, akan menahani gelakku, waktu saya baru-baru ini didalam perjalanan, melihat seorang asisténresidén dari kantor pergi kerumahnya berpayung emas di atas kepalanya yang mulia itu yang dipegang oléh opasnya. Lucu sekali rupanya.

O, junjungan, tahukah tuan betapa orang banyak, yang sekarang menghindarkan payung bagus itu dengan hormatnya, mentertawakan engkau nanti dibelakangmu? Bagaimanakah timbanganmu, Stella, tentang kelakuan kepala2 negeri bangsa Eropa, yang banyak, ya, amat banyak suka menyuruh mencium kaki atau lututnya kepada kepala2 negeri bang­ sa Bumiputera? Mencium kaki suatu tanda kehormatan yang tertinggi padia bangsa Jawa kepada ibu bapa dan kaum keluarga yang lebih tua atau kepada kepala2 negeri kami sendiri. Kepada bangsa asing, hanya kami lakukan dia dengan hati yang enggan, bila ia wajib dilakukan. ya, bangsa Eropa yang demikian menjadikan tertawa sekali, jika meréka itu menagih kehormatan itu dari pada kami; karena yang berhak akan kehormatan itu, hanyalah kepala-kepala negeri Bumipu­tera saja. Kalau residén-residén dan ass.-ass. residén menamakan dirinya "kangjeng" sudahlah layaknya, tetapi jika mandur2 kebun dan jambatan dan bésok barangkali setasiun chef menyuruh bujangnya memanggilkan "kangjeng" kepadanya, bukankah pekerjaan yang sebodoh-bodohnya itu? Tahukah orang-orang itu arti kata "kangjeng?" Meréka itu menagih kepada orang-orang dibawahnya kehormatan, yang diberikan anak negeri kepada kepala-kepalanya sendiri saja.

O, o, saya sangka hanyalah si Jawa bodoh itu saja yang suka melihat orang mengambil muka. Tetapi sekarang saya lihat, bangsa Eropa yang beradab dan terpelajar itu tidak pula membencii dia, ya, lebih gila lagi akan itu.

tidak pernah saya izinkan, perempuan yang lebih tua dari saya, biar bangsanya kurang dari sayapun, bila ia hendak memberi hormat kepada saya, sungguhpun saya berhak menagih itu. Saya tahu, bahwa ia suka sekali mengerjakan itu. meskipun saya jauh lebih muda dari padanya, saya seorang keturunan dari orang bangsawan asal yang telah biasa disembah dijunjungnya, dan akan guna orang bangsawan itu maulah me­réka itu menyerahkan harta benda dan nyawanya. Sangat merawankan hati, melihatkan kesetiaan orang yang rendahrendah kepada orang-orang besarnya. Menyembur darah didada saya, bila orang-orang yang lebih tua dari saya jongkok di tanah bagi saya.

Dengan sedih hati banyak bangsa Eropa di Hindia melihat­kan, bangsa Jawa, orang yang diperintahinya, perlahan-lahan memajukan dirinya dan acap kali timbullah seorang kulit hitam, yang menerangkan, bahwa ia sama berotak baik dikepalanya dan sama berhati terang ditubuhnya seperti orang kulit putih.

Tetapi cobalah, hal bangsa kulit putih; akan menahani kemajuan zaman sekarang tentu tuan-tuan tidak akan sanggup. Saya amat sangat menyayangi orang Belanda dan banyaklah terima kasih saya kepada meréka itu atas sesuatu yang keér.akannya telah saya rasai. Banyak, ya, amat banyak di antara meréka itu boléh kami namakan sahabat karib kami, tetapi banyak, ya, sangat banyak pula orang Belanda, yang memandang kami seperti musuhnya. Hal itu tidak lain sebabnya melainkan karena kami mencoba berlumba-lumba kepadang kemajuan dan kebaikan budi pekerti dengan dia. Dengan jalan yang kasar diperlihatkannya kepada kami: "saya orang Eropa, kamu orang Jawa", maksudnya: "saya orang memerintah, kamu orang terperintah."

Bukan sekali saja, tetapi beberapa kali orang Eropa menegur kami dengan bahasa Melayu tangsi, sungguhpun ia tahu betul, bahasa kami tahu bercakap bahasa Belanda. Saya tidak peduli, dalam bahasa apapun orang menegur kami, asal ia memakai sebuah bahasa yang sejati. Baru-baru ini ada seorang raden ayu ditegur oléh seorang tuan; dengan cakap jawab raden ayu itu: "Tuan, beri maaf saya, yang saya meminta kepada tuan, supaya tuan memakai bahasa tuan sendiri, bila tuan hendak menegur saya. Saya mengerti dan ber­cakap bahasa Melayu, tetapi saya hanya tahu bahasa Melayu sejati, bukan bahasa Melayu tangsi."

Maka si tuan itupun menjadi malu saja. Mengapa ba­nyak orang Belanda tidak sudi bercakap-cakap dengan kami dalam bahasanya sendiri? O, ya, sekarang tahulah saya sebabnya itu; bahasa Belanda terlampau bagus akan dituturkan oléh mulut orang yang berkulit hitam. Beberapa hari yang lalu kami mengunjungi orang Belanda totok. Orang-orang yang bekerja padanya, sahabat-sahabat lama kami. Kami tahu bahasa meréka itu mengerti dan bercakap bahasa Belanda. Hal itu saya ceriterakan kepada orang baru itu dan apakah jawab tuan penjamu kami itu? "Tidak, ia tidak boléh ber­cakap bahasa Belanda." "Mengapa tidak?" tanyaku kepadanya. jawabnya: "Anak Bumiputera tidak boléh mengetahui bahasa Belanda." Tercengang saya memandang kepada orang yang berkata itu. Dengan segera kehéranan saya hilanglah, dan ujung mulut sayapun bergerak-geraklah oléh karena hendak tertawa. Muka tuan itu menjadi mérah seperti api, dan iapun bersungut-söengut dengan janggutnya serta ia merasa apa-apa yang ajaib pada sepatunya, yang gunanya barangkali akan menghilangkan tutur katanya yang telanjur tadi.

Sekarang ada sebuah ceritera lagi, yang kejadian di tanah Priangan. Pada suatu malam regén anu menerima jamu dikabupaténnya. jamu itu ialah seorang partikulir dan residén di tempat itu. Tiada berapa lamanya datang seorang aspiran kemendur ke dalam perkumpulan itu. Anak regén itu seorang murid H. B. S., yang sedang di rumah karena wak­tu témpoh. Anak itu berjalan dipendopo. Tatkala dilihatnya, bukan bapanya saja duduk, maka iapun hendak menjauhkan dirinya, tetapi residén melihat daa memanggil dia datang kepadanya. Tuan besar itu menyahuti tabik anak muda itu dengan suka hati, dan lama dan ramah bercakap-cakap dengan dia. Tatkala percakapan itu telah habis, maka anak muda itu datang kepada aspiran kemendur itu dan memberi tabik dengan hormat. Tuan kecil itu menimbang tidak perlu, akan menjawab tabik hormat itu, hanyalah dianggukkannya kepalanya sedikit dan matanya dengan pemandangan yang menghmakan mengamat-amati anak muda itu dari puncak kepala sampai kekakinya serta merungutkan kata ini dari mulutnya: "Tabee. Anak muda itu menjadi pucat, dan bibirnya bergerak-gerak dan tangannya ditinjukannya.

Beberapa lamanya kemudian dari pada itu diceriterakannya kepada orang partikulir, yang duduk bersama-sama pada waktu hal itu terjadi: "Saya suka sekali kepada orang Belanda, tuan, banyak sahabat kenalan saya orang Belanda, sahabat-sahabat karib, tebapi "tabee" aspiran itu sekali-kali tidakdapat saya lupakan, hal itu menggorés hati saya."

O, Stella, saya sudah kerap kali menujukan pemandangan saya pada segala hal keadaan dalam dunia kehidupan di tanah Hindia; dengan tiada sengaja terlihat oléh saya di belakang-belakang dunia pegawai-pegawai itu lubuk2 yang amat dalam. O, Stella, melihat sekalian itu saja telah boléh memusingkan kepalamu. O. Allah. Alangkah banyak perbuatan yang jahat dan ngeri didunia ini! Ada residén-residén dan asistén-asistén residén yang jauh kurang baik lagi dari pada tuan Slymering dalam Max Havelaar. Tidak, saya tidak suka menjadikan surat saya ini sepucuk surat kejahatan.

O, sekarang saya mengerti, mengapa orang Belandla tidak suka. kami bangsa Jawa menjadi maju. Apabila si Jawa telah berpengetahuan, tentulah ia tidak akan mengia dan mengaminkan saja lagi akan barang sesuatu yang dipikulkan orang yang lebih tinggi di atas bahunya.

Lihatlah, sekarang surat chabar Belanda "Locomotief", surat chabar yang terutama di Hindia, telah memasukkan karang-karangan, yang ditulis oléh anak Bumiputera dalamnya. Dalam karang-karangan itu dibukakannya buah pikirannya, yang telah bertahun-tahun bercabul didalam hati pegawai-pegawai anak negeri, sungguhpun bukan pada segala pegawai-pegawai, tetapi pada sebagian besar dari pegawai-pegawai anak negeri itu. Buah pikiran itu dulu selalu didiamkan saja. Bukannya pegawai-pegawai yang berpangkat tinggi saja didalam negeri, sedangkan pegawai-pegawai yang lebih rendahpun sekarang membukakan suaranya pula. Surat chabar hari-hari menamakan hal itu suatu tanda yang baik dan menyorakkan keadaan itu amat sangat. Bagaimana pikiran pegawai-pegawai Eropa tentang hal itu, tiadalah saya ketahui; hanyalah yang saya ketahui, bahwa seorang kemendur meminta perubahan dalam golongan pemerintahan negeri. Perubahan itu tiada sedikitpun mendatangkan kerugian kepada Pemerintah, tetapi mendatangkan keuntungan, bukan saja keuntungan untuk pegawai Belanda, tetapi memberi keuntungan pula kepada pegawai Bumiputera. Kemendur itu menegaki kegunaan pemerintahan anak negeri, ditangan kepala-kepalanya sendiri. Pikiran itu telah dihadapkan dimuka majelis kamer kedua di tanah Belanda. Iapun meminta, supaya didalam pekerjaan pegawai-pegawai Belandia diwajibkan memakai bahasa Pelanda dengan pegawai-pegawai Bumiputera. Bagus! kakakku tiada berdiri sendiri saja menegaki perkara itu.

Seperti dinegerimu bangsa perempuan bergerak meminta disamakan haknya dengan laki-laki, demikian pula bangsaku hendak memerdehékakan dirinya. Sebagai dinegerimu perempuan dan gadis-gadis selalu dirintangi oléh meréka, yang berzaman-zaman telah menjadi tuannya, demikian pula bangsa Jawa dalam pergerakannya diganggu oléh bangsa yang lebih tinggi.

Pergerakan bangsa Jawa itu baharu mulai. Beruntung benar orang-orang ternama dan terpandang memperhatikan pe'kara kami. Tentulah pergerakan itu akan menjadi peperangan yang hébat, orang yang memperperang-perangkannya bukannya akan berlawan dengan musuhnya saja, tetapi ia akan berjuang pula dengan kebodohan bangsanya sendiri, yaitu orang yang diperperangkannya itu. jikalau peperangan si laki-laki sangat hébatnya, maka perempuan-perempuanpun tentulah akan terbangun. Aduhai bangsaku laki-laki, betapakah banyak kerjamu nanti.

Beruntung sekali rasanya kami hidup pada zaman sekarang. Perubahan dari zaman kuno kepada zaman kaum muda. Belum selang berapa hari ini saya membaca: "janganlah engkau cela, hai orang tua-tua, barang sesuatu yang baru. Pikirkanlah bahasa barang yang tua sekarang, dulu muda juga." (Kata-kata itu saya sebutkan dari kepala saya saja). Alangkah panjang surat ini, Stella; kuharap, surat ini jangan terlampau memayahkan engkau, oléh karena membaca dia. Dan maafkan saya, bila ada dalam surat ini kata-kata saya yang menyedihkan hatimu, saya tulis sekalian itu oléh karena kegembiraan saya.

Stella, maafkan, yang semata-mata lupa, kepada siapa saya sekarang menulis surat. Pada dirimu saya dapati seorang yang sepikiran dengan saya. Kepadaku telah kaukatakan, yang saya tidak lain dari pada seorang saudara sepikiran bagimu. Dan begitu pula saya memandang engkau. Pada pemandanganmu saya bukan orang Jawa, bukan anak bangsa kulit hitam yang dihinakan itu; maka begitu pula engkau dalam pemandanganku bukan seorang bangsa kulit putih, yang membencii, mentertawakan dan menghinakan si Jawa. Padaku, engkau putih sebenar-benarnya putih, putih kulit dan putih hatimu. Engkau saya pandang tinggi; engkau saya cintai amat sangat. Tentulah banyak bangsaku membenarkan kataku itu, bila meréka itu mengenal engkau. O, kalau sekalian orang Belanda seperti engkau dan sahabat kenalanku bangsa kulit putih yang lain, yang saya hormati tinggi dan cintai amat sangat.........!

Kitab Carthold Meryan telah dijanjikan kepada saya, tetapi sampai sekarang belumlah juga datang, boléh jadi si penayual kitab-kitab itu harus memesan lebih dulu kenegeri Belanda.

Tetapi selang beberapa hari ini saya membaca kitab "Moderne Vrouwen", yang diterjemahkan dari bahasa Perancis ke dalam bahasa Belanda oléh Jeanette van Riemsdyk. Dengan kecéwa saya letakkan kitab itu kembali. Banyak surat-surat chabar mengatakan kitab itu suatu kitab yang bagus sekali dan ceriteranya didalam segala hal jauh lebih tinggi dari pada hikayat Hilda van Suylenburg, serta iapun sebuah hikayat yang sempurna yang tidak kecelaan dan kekurangannya.

Tetapi menurut pikiranku, kitab H. v. S. masih selalu ratee dan sekalian kitab-kitab yang telah tercétak tentang kemerdekaan perempuan. Biarlah saya nantikan dahulu mengeluarkan bandingan saya perihal kitab "Moderne Vrouwen," tetapi sepanjang pendapatan saya kitab itu tidak menghidupkan dan menggembirakan hati seperti kitab H. v. S.

Percayakah engkau bahasa saya tidak berhenti-henti membaca kitab H.v. S. sehingga tammat? Saya tutup diriku dalam bilik kami, saya lupakan sekalian pekerjaan saya, saya tidakdapat menjauhkan kitab itu dari tangan saya. Kitab itu menarik saya amat sangat.

Sayang, yang kitab peringatan saya telah hilang. Saya hendak menyuruh baca kepadamu, sebuah karangan yang baru-baru ini saya baca. Ia itu sebuah karangan dalam bahasa Inggeris, yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda dan bernama "Het dul der Vrouwenbeweging" = "Maksud gerakan perempuan-perempuan". Saya tidak tahu betul lagi karangan itu dimuatkan, entah dalam surat chabar de "Gids", entahkan dalam surat chabar "Wetenschappeliyke bladen". Dan lagi harus engkau baca, bila engkau belum membaca karangan "Wayang-Wong" dikarangkan oléh Martine Tonnet dalam surat chabar de "Gids" nomor bulan November. Karangan itu amat bagus tentang keadaan orang Jawa dan kepandaiannya dan hal keadaan dalam istana di jokjakarta. Engkau tentu akan merasa kesedapannya, bila engkau membaca itu. Baru-baru ini telah dua kali saya membaca "Minnebrieven" (surat cinta-cinta) yang dikarangkan oléh Multatuli. Alangkah pandainya Multatuli itu. untunglah, tidak lama lagi akan dikeluarkan, segala karangan-karangan dengan harga murah. untuk hendak mendapat buku-buku itu saya hendak membujuk-bujuk bapa. Bapa Asistén Residén kami seorang sahabat baik Multatuli dan dari padanya kami mendengar beberapa keajaiban hidup orang yang pandai itu. Couperus selalu masih di Hindia; bila ia kembali ke Belanda, tentu ia menurut pikiranku, akan mengeluarkan sebuah kitab, yang bagus perihal tanah airku. Alangkah bagus dan molék kalimat dan susunan kata-katanya.

 
Rimba bambu dengan kandang kerbau dekat Depok.

Permulaan 1900 (II)Sunting

nyonya tahu, bagaimana ingin kami hendak pergi ke Eropa. Karena tanah Eropa tidak dapat kami capai, maka kamipun bersenang hatilah, belajar disini saja. Tahun yang lalu kami telah berbesar hati akan pergi ke Betawi, meskipun kenang-kenangan kami tatkala itu telah terbang ke Eropa. Kami minta kepada Pemerintah Hindia, supaya kami dikirim ketanah Eropa atas tanggungan Pemerintah. Apabila permintaan itu diperkenankan, maka Rukmini akan belajar untuk perkara gambar menggambar dan membuat patung, supaya kemudian ia dapat mengajari bangsanya, akan menghidupkan kepandaian Bumiputera kembali tentang perkara itu; kepandaian itu salah suatu mata pencaharian untuk anak negeri. Kleince, adikku pergi kesekolah perkara rumah tangga; ia nanti akan mengajar segala perempuan yang menjadi ibu dan perempuan rumah, dan mengajarkan harga wang dan kehématan serta kebajikan, yang berguna untuk bangsa Jawa yang lalai, sia-sia dan yang suka kebagusan dan keindahan itu. Dan saya untuk jadi pengajar, akan menunjuki perempuan-perempuan yang akan menjadi ibu itu, pengertian kata cinta dan adil, serta 'ilmu yang lain-lain, yaitu kata-kata yang telah ditunjukkan bangsa Eropa kepada kami. Pemerintah suka mema'murkan tanah Jawa, hendak mengajar bangsa Jawa berhémat. Kalau hendak membuat itu wajiblah Pemerintah mulai mengajar pegawai-pegawainya berhémat. Apa guna Pemerintah memaksa si laki-laki menyimpan wang, kalau si perempuan yang memegang wang untuk rumah tangga, tidak tahu menghargakan wang itu?

Pemerintah hendak memajukan bangsa Jawa. Akan memulai pekerjaan itu dipaksa orang-orang bangsawan Jawa mempelajari bahasa Belanda dulu. Karena sekarang, bila Pemerintah hendak mengangkat seseorang, maka Pemerintah menilik kepandaian meréka itu. Tetapi kepandaian saja cukupkah untuk menjabat suatu pangkat?

Jika Pemerintah betul-betul hendak mengajar dan membaiki bangsa Jawa, haruslah ia jangan memajukan kepandaian saja, tetapi budi pekerti juga.

Siapakah yang terutama dapat mengerjakan perbuatan yang achir itu, ialah pula yang banyak menolong meninggikan kadar kelakuan manusia? Orang yang sanggup mengerjakannya ialah perempuan. Karena si ibulah, yang memberikan pendidikan yang pertama-tama sekali kepada manusia. di atas pangkuan si ibu, anaknya manusia yang kecil itu mulai belajar merasa, berpikir dan berkata. Pendidikan yang bermula-mula sekali adalah baktinya untuk se'umur hidup. Sebuah kelakuan yang tidak baik, yang wajib dihilangkan dari bangsa Jawa ialah kesombongan. Hal itu banyak akan menolong keselamatan bangsa Jawa. Akan menghapuskan itu hanyalah pendidikan budi pekerti yang baik.

Banyak kekuatan, yang boléh menjadi keuntungan dan keselamatan pada bangsa dan negeri, yang tiada dipergunakan, karena orang yang empunya dia tidak mau memakainya, karena kesombongannya. Orang-orang bangsawan lebih suka menanggung kemiskinan dan kesengsaraan, dari pada mempunyai harta benda, asal payung emas menudungi kepalanya yang bangsawan itu. Orang-orang bangsawan menghinakan segala barang yang tidak ditudungi oléh barang yang dicintainya, yaitu payung keemasan itu.......................

Bangsa kami tidak ada mempunyai keinginan yang banyak dan kenang-kenangan yang tinggi. Kami harus menghérankan dia dengan sebuah contoh, yang menarik hati dan memaksa meréka itu menirunya; kami hendak menyampaikan maksud kami untuk menjadi pembuka jalan dan suluh. Sebab itu kami hendak pergi kenegeri Belanda; untuk sekaliannya, untuk pengajaran dan bagi kami sendiri amat baik, jika kami pergi kesitu; nyonya, bantulah maksud kami ini.

Jikalau kami telah tammat belajar dan kembali ketanah Jawa, kami akan mendirikan sebuah sekolah untuk anak-anak perempuan orang bangsawan; kalau dapat, sekolah itu, sekolah Gubernemén. Kalau tidak dapat, kami coba mendirikan sekolah partikulir dengan wang loterai dan lain-lain.

Bila maksud kami telah sampai, dapatlah pula akal pendirikan sekolah itu. Sekarang yang amat mengalangi kami akan pergi ke Eropa itu, hal keadaan kami di rumah; izin yang akan diberi bapa, lebih besar dari izin yang dikabulkan raja. O, bila kami boléh mendapat izin itu?

Wah, nyonya, sakit, ya, sengsara yang amat besar yang dii asai, bila oiang seorang gadis Jawa dan mempunyai perasaan yang halus. Kasihan nasib ibu bapa yang mempunyai anak seperti kami. Kami berharap akan meminta pada Allah, supaya 'umur usia orang tua kami dipanjangkannya dan meréka itu nanti akan beriang hati karena kami, meskipun kami tiada berjalan dibawah payung keemasan.

Hai sahabat kami, tolonglah kami, supaya kami berangkat dari negeri Jawa, pergi bekerja untuk menyampaikan cita-cita dan kenang-kenangan kami. Déwasa inilah mula keadilan dan achir kelaliman, yang telah beribu-ribu melukai hati perempuan dan gadis-gadis. Akan pembéla itu saya akan mempelajari bahasa Belanda sebaik-baiknya dan sesempurna-sempuraanya, supaya saya dapat bekerja dengan bahasa itu, dan dapat saya pergunakan menurut kesukaan saya. Dengan pénaku boléh saya coba mengambil hati orang yang dapat membantu dan bersama-sama dengan dia akan memperbaiki untung nasib bangsa perempuan Jawa. Tentu nyonya akan berkata kepada kami bila membaca surat ini: "Hai anak-anak gila dan malang. Engkau dengan kedua adikmu hendak menggoyangkan gudang adat yang besar itukah, mau engkau merobohkannya?"

"Ya, nyonya," jawabku, "kami hendak menggoyang gudang adat itu dengan segala kekuatan kami; biarpun sebuah batu saja yang jatuh, kamipun berbesar hati. Karena dengan cara begitu, tiadalah kami hidup sia-sia didunia ini. Sebelum kami memulai pekerjaan itu, kami coba dulu mencari pertolongan seorang laki-laki Jawa yang terpelajar sekali. Kami hendak berhubung dengan bangsa kami laki-laki yang terpelajar dan suka akan kemajuan; dan dengan hal yang demikian hendak mencahari persahabatan dengan meréka itu dan kemudian meminta pertolongannya. Kami tidak hendak berlawan dengan laki-laki, tetapi hanya berhadapan dengan orang kaum kuno, yang berpikiran bodoh, beradat yang tidak baik lagi untuk tanah Jawa zaman sekarang dan yang akan datang. Sekarang telah ada orang yang lain, yang bersama-sama dengan kami menjadi si penebas jalan setiap hari sepanjang waktu, dan dimana-mana akan menanggung kesusahan dan kesengsaraan. Amat bagus, bila seseorang ada mempunyai cita-cita dan kemauan hati. Namakanlah kami gila, bodoh dan apapun juga nyonya suka menamakan kami; kamipun tiadalah akan berubah; karena kemauan itu telah masuk dalam darah daging kami.

Nénék sayapun seorang si penebas jalan pula dulu. Setengah abad yang lalu ia telah memberi anaknya laki-laki perempuan pendidikan cara Eropa. Kami tidak berhak akan menjadi bodoh dan akan menjadi orang tidak berharga sedikit jua. Orang bangsawan itu ada kewajibannya. Demikian pula bangsawan yang tertinggi harus maju kemuka.

Sekarang kami belum dapat berhubung dengan laki-laki bangsa Bumiputera yang berhaluan kemajuan. jika kami buat pekerjaan itu, dengan segera orang tentu membencanakan kami, karena persahabatan antara perempuan-perempuan yang tidak bersuami dengan laki-laki suatu pekerjaan yang tidak pernah kejadian; biarpun si laki-laki sudah atau belum kawin sekalipun.

Nanti, apabila kebébasan telah kami peroléh, niscayalah pekerjaan itu kami lakukan. Saudara saya laki-laki kenal kepada meréka itu oléh karena berkirim-kiriman surat atau sebab bertemu sendiri. Kami tahu bahwa ada laki2 yang menghargai perempuan yang pandai berpikir dan bersopan santun. Saya mendengar seorang Bumiputera berpangkat tinggi mengatakan, bahwa perempuan yang terpelajar dan tahu adat sopan santun suatu pertolongan dan bantuan yang besar bagi lakinya.

13 Augustus, 1900. (VIII)Sunting

Kami merasa diri kami celaka, sungguh celaka, karena kebenaran yang sesungguh-sungguhnya itu mengancam hendak menghapuskan cita-cita kami. Budi yang tawar itu menyuruh membuang dan menguburkan mimpi dan cita-cita itu, karena cita-cita yang seperti itu tidak berguna dalam dunia kami Bumiputera..........................................

Dan tiba-tiba bertemulah nyonya dengan kami............. tidak sanggup kami rasanya mengeluarkan dengan kata-kata, apa yang bercabul dalam hati kami. Perkataan yang semanis-manisnya dan setulus-tulusnya tidak dapat menggambarkan perasaan hati kami itu.

Ketahuilah, nyonya yang berbudi, bahasa selama hidup kami, kedua nama tuan itu selalu akan tinggal pada kenangkenangan kami dengan banyak terima kasih.

Tatkala bapa bulan yang lalu berceritera, bahwa tuan Direeteur v.O.E. en N. akan datang kemari, dan maksud kedatangan itu kami dengar, maka kamipun segera sangat menghormati dan memuliakan s.p.j.m. suami nyonya itu, sungguhpun yang mulia itu belum kami kenal. Kami telah tahu, bahwa y.m. menaruh kasih pada orang Jawa, laki-laki dan perempuan. Dengan keinginan yang tidak terkira, kami menantikan kedatangan beliau y.m. datang dan disisinya berjalan seorang nyonya yang lemah lembut pekertinya, tangannya yang pengasih menaburkan bunga-bungaan ditaman hati nurani kami. Tutur katanya yang manis dan baik itu keluar dari bibirnya seperti lagu yang merdu bunyinya pada telinga kami dan masuk ke dalam hati jantung kami. Kata-katanya itu adalah semisal sinar matahari, yang menerangi kalbu kami serta meriang dan menghiburkan hati kami.

Kami ucapkan terima kasih kepada' Allah, karena Allah telah menggerakkan nyonya pergi kepada kami dan kamipun mendapati nyonya seorang pengasih dan penyayang. Dua, tiga hari y.l. kami belum sedikit juga tahu kepadla nyonya dan sekarang kami mencintai nyonya sebagai kami telah se'umur hidup berkenalan dengan nyonya. Alangkah ganjil dan ajaibnya percintaan itu. Ia tidak mau dipaksa dan tidak mau terikat dimana juapun; ia datang tidak dipanggil dan tidak disangka-sangka. Dengan sepatah kata saja ia mengikat dua kalbu, yang permulaannya tidak berkenalan, dengan tali tambatan yang erat dan kuat dan ialah memandang dengan pemandangan yang terus pada hati kedua belah pihak meréka itu!

Alangkah amat lazat, amat berbahagia rasianya mengetahui, bahwa perasaan dan kenang-kenangan, yang terasa oléh kita dan yang kita cintai terdapat pula pada orang lain. Itulah suatu tali yang tidak kelihatan, tetapi yang kukuh, yang terentang dari suatu hati kehati yang lain dan itulah akhirya yang membawa kita berhampiran, yang menyebabkan pergaulan yang bertahun-tahun.

O! kami suka bersorak-sorak karena kegirangan dan mau bernyanyikan lagu-lagu pujian dan terima kasih bersama-sama dengan burung-burung di atas pokok kayu kepada Tuhan sarwa sekalian alam, dan dengan si penyanyi yang bersayap itu bersorak-sorak terbang kelangit kepada Tuhan yang esa mengucap terima kasih atas kehidupan yang bagus dan indah ini. Biarpun hidup itu banyak pula kecelaannya, tetapi iapun indah dan bagus dan dalam kecelaannya itu barulah terang kelihatan kebaikan dan kebagusannya itu. Allah selalu bermaksud yang baik kepada kita. Hidup diberikan kepada kita sebagai rahmat dan bukan seperti beban. Kita manusia sendiri membuat hidup itu menjadi tonggak gantungan.

Kebaikan dan rahmat Allah pada kita itu yang terbaik kita rasai dan ketahui, bila kita memandang kemuliaan alamnya. Di Klein Scheveningen kami acap kali tidak puas merasai bahagia kami. Sekalian yang kami pandang disitu bernapaskan rahmat Tuhan, kesentosaan dan keselamatan. Rasanya hidup kami seolah-olah bertukar, yaitu semakin lama, semakin bagus.

O! alangkah besar kekuasaan dan kebesaran bangsawan pikiran dan bangsawan, yang setiap masa dan ketika sanggup mendatangkan perubahan dalam hidup manusia.

Augustus 1900 (VIII)Sunting

"Tidak adalah didunia ini bahasa, bagaimana sekalipun pandai kita memakainya, yang dapat menceriterakan perasaan itu dengan baik. Bahasa seperti itu sungguh-sungguh tiadalah ada." Sayapun berpikir demikian pula seperti nyonya itu, bahasa yang sedemikian tidak ada didapat; yakni tidak ada dalam bahasa-bahasa yang ditutur dan dituliskan orang. Tetapi ada sebuah bahasa yang ganjil dan ajaib, yang tidak mempergunakan kata-kata dan huruf-huruf, tetapi dapat dikenal dan diketahui oléh masing-masing yang merasai dia. Dan bahasa itu boléh dipercaya amat sangat, karena perkataan "dusta" tiadalah didapat dalam kitab kamusnya.

Bahasa itu bahasa mata yang suci dan terpilih dan ialah cermin kalbu manusia! Dan jika nyonya dapat melihat saya pada petang, waktu kertas yang lima helai yang harum dan sedap baunya gementar ditanganku dan air mata yang panas jatuh berlinang-linang dipipiku, maka akan mengertilah nyonya, apa yang terasa dihatiku, sungguhpun tidak sepatah kata juapun nyonya dengar dari mulutku.

Apa yang tidak dapat oléh mulut mengatakan dan oléh péna menuliskan, dapatlah nyonya melihat pada mataku, yang basah oléh air mata menéngok keatas seperti mencari seorang di antara bidadari disitu, yang akan turun kebawah, akan membujuk hati kami yang pilu dan berdukacita oléh karena kesengsaraan, yang banyak didunia ini dan dialah yang akan membujuk kami sebagai didalam surga nanti.

Syukur, syukur, syukur, kata hatiku, setiap kali darah turun naik dan tiap-tiap napasku, itulah menjadi ucapan mohon terima kasih.

Kami hanya anak-anak manusia biasa saja, yakni orang berbudi buruk dan baik sebagai berjuta-juta orang yang lain. Boléh jadi pada masa ini lebih banyak yang baik dari yang buruk ada pada kami, tetapi sebabnya maka begitu tidak usahlah dicari lebih jauh. Bila orang hidup dalam lingkungan yang sederhana, tentulah tiada akan susah ia menjadi orang baik. Dengan tidak disangka ia akan baik juga yang sebenarnya bukan kepandaian, bukan jasa, akan membuat yang tidak jahat, kalau orang tidak sempat membuat kejahatan itu dan jika ia masih didalam penjagaan orang tuanya.

Nanti, jikalau kami keluar dari rumah orang tua kami yang baik dan sentosa itu, dan sudah berdiri sendiri dalam penghidupan yang luas ini, serta tidak kami rasai lagi lengan orang tua kami yang lemah lembut memangku kami akan melindungkan kami, kalau badai kehidupan datang menyerang menggoda kami. jika tangan yang pengasih tiada lagi membimbing dan memegang kami, supaya kaki kami jangan jatuh tergelincir dalam kehidupan....................Pada déwasa itulah baru kami akan menyatakan, siapa kami!

Saya minta pada Allah, supaya kami jangan akan mempertinggi pula gunung kecéwaan, yang telah menyusahkan kehidupan nyonya. Oléh sebab itu kami minta pada nyonya amat sangat, supaya nyonya jangan menyangkakan kami orang yang semanis dan semolék itu juga. Karena pekerjaan itu tidak dapat tidak akhirya mengecéwakan nyonya dan kalau demikian tentulah hal itu akan mendukacitakan kami.

Dengan perlahan-lahan saya hendak menceriterakan kepada nyonya berdikit-dikit peri hal keadaan kami yang sebenar-benarnya, supaya nyonya dapat mengetahui tingkah laku kami, supaya nyonya, karena baik hati nyonya, jangan memandang kami bersipat-sipat baik, karena sipat yang demikian tidak adalah pada kami.

Kami masih muda, kami lagi boléh hidup, 'biar nanti kita lihat, apa yang dapat kami perbuat. nyonya menulis kepada saya: "Saya menaruh kasihan kepada perempuan-perempuan, nasibnya menarik hati saya, ia masih dihina dan dianiaya didalam kebanyakan negeri-negeri dibumi ini dalam abad "kemajuan" seperti sekarang. Dengan suka dan setia saya menegaki dan melindungi meréka itu."

Saya mohon banyak terima kasih kepada nyonya atas tutur kata nyonya yang manis dan pengasih itu. Dalam kata-kata yang di atas itu nyata kepada kami, bahasa nyonya menyayangi sesama manusia dan dapat merasai penanggungan berjutayuta perempuan, yang telah berzaman-zaman 'dianiaya oléh sesamanya manusia, yaitu si laki-laki.

Syukur! Mengucap syukur banyak-banyak kepada Allah, karena ada rupanya orang yang berhati dan pikiran yang mulia, yang menaruh kasih kepada nasib perempuan-perempuan Bumiputera yang duka itu. Orang-orang itulah hendak menerangi dunia perempuan yang gelap dan muram itu.

Perempuan-perempuan Bumiputera telah padalah disiksa dan si gadis-gadis muda remaja itu telah banyaklah penanggungannya. Hai saudara perempuan bangsa kulit putih, yang berhati pengasih dan penyayang, unjukkanlah tanganmu kepada kami, dengan pemandanganmu yang luas, otakmu yang tajam dan hélakanlah kami dari pada lumpur kesukaran dan kesakitan ini. Kelobaan si laki-lakilah yang memasukkan dan menahani kami kelumpur yang celaka itu. Tolong kami memerangi dajal kelobaan si laki-laki yang ganas, yang telah beratus-ratus tahun menyiksa dan menginjaki kami itu, dan yang menyangka perbuatannya itu perbuatan yang biasa dan tiadalah ia memikirkan bahasa perbuatannya itu lalim adanya. Serta ia dengan sabar memandang perbuatannya itu sebagai hak yang patut bagi si laki-laki, atau seperti suatu pusaka akan kedukaan si perempuan.

Sungguhpun saya masih muda, saya tidak pekak dan buta, sehingga saya telah banyak mendengar dan melihat, ya, barangkali telah terlampau banyak penglihatan dan pendengaran, yang menyakiti kalbuku, dan menyuruh saya melawan dengan gagah kepada adat-adat kuno yang buruk itu, yang menjadi suatu la'nat kepada perempuan-perempuan dan anak-anak!

Dengan putus asa dan berdukacita amat sangat, saya perpulaskan tangan saya memikirkan diri sendiri, seorang yang tidak berdaya akan berhadapan dengan suatu kejahatan yang amat besar itu. Kejahatan yang dilindungi oléh agama Islam dan dihidupi oléh kebodohan perempuan yang jadi kurban kejahatan itu!

Aduh, bila kukenangkan untung nasibku yang akan memaksa saya............menjalani aturan 'hidup yang bernama permaduan, kelaliman yang bengis itu: "Saya tidak mau!" teriak lidah saya dengan kerasnya, dan hati sayapun mengulang teriak itu beribu-ribu kali.............Kemauan! adakah kita manusia mempunyai kemauan?

Semenjak hari lahir kita sampai kepada hari maut, kita mesti............mesti, tidak boléh tidak.

Hai, hidup, alangkah banyak keajaiban dan masaalah yang sukar-sukar dalam dirimu!

Kami menyangka, yang kami telah mengenal engkau dan keadaanmu, tetapi sebenar-benarnya kami tidak tahu peri halmu sedikit juga! Kami menyangka mempunyai kemauan, 'suatu kemauan yang 'keras sebagai besi dan kami sangka diri kami kuat dan sanggup memindahkan gunung............Tetapi, bila kami melihat air mata orang yang berdukacita itu,maka lemahlah kekuatan kami.

Boléhkah saya menceriterakan kepada nyonya suatu ceritera, yang tidak menarik dan menyukakan hati, melainkan menjemukan, panjang dan berulang-ulang, dan memaksa nyonya berhati sabar? Lebih dulu saya minta kepada nyonya, supaya nyonya memberi maaf saya, bila ceritera itu nanti membosankan nyonya dan menghabiskan waktu. Saya berani menceriterakan itu kepada nyonya, karena nyonya telah menulis kepada saya: "Tulislah surat kepada saya sebanyak-banyak dan sepanjang-panjang engkau dapat membuatnya."

Ah, kalau nyonya ketahui lebih dulu, yang kebaikan nyonya itu akan dirusakkan, tentulah tutur kata yang merdu di atas itu tidak akan nyonya keluarkan.

ceritera itu suatu hikayat tiga orang perempuan bangsa kulit hitam; anak orang sebelah Timur, dinegeri yang amat panas. Ketiga anak itu lahir dengan bermata buta, kemudian, sesudah matanya diobati, dapatlah meréka itu melihat, sekarang dapat ia merasa dan mengucap kemolékan dan kemuliaan dunia. Setelah mata meréka itu telah biasa pada cuaca dan kebagusan dan mencintai matahari, yang menerangi seluruh alam dan tempat sekelilingnya yang bagus itu, maka datanglah perasaan pada dirinya, bahwa kain penutup matanya akan terikat kembali dan meréka itupun ditolakkan kembali ketempat yang gelap, tempat asal datangnya, yaitu tempat segala kaum keluarga dan nénék moyang meréka itu dipeliharakan!

Orang mempersalah kitab-kitab yang penuh dengan "perkataan sia-sia," yang datang dari tanah sebelah Barat, tanah yang jauh itu masuk ketengah-tengah negeri, tempat yang suci dan damai dipesisir tanah Jawa yang hijau itu. Disitulah tinggal ketiga anak perempuan yang tersebut tadi; ketiganya itu bersaudara. Ketiga saudara itu tidak suka dan tidak mau memikul dibahunya beban yang biasa dipikul oléh nénék moyangnya yang perempuan dengan sabar dan kesukaan: Sekarang beban itu tergantung dan terbanting diudara, setiap saat'ia boléh jatuh di atas bahu orang yang tidak menyukainya itu.

Perkataan orang yang mempersalah kitab-kitab itu tiadalah sekaliannya benar. Bukan kitab-kitab saja yang menyuruh dia melawan, dan menyuruh ketiga anak itu membencii hal keadaan dinegerinya, yang sejak dulu kala telah terdiri dan yang jadi suatu la'nat kepada segala manusia yang bernama perempuan atau gadis!

Kehendak kepada kebébasan, kemerdékaan, dan mau tegak sendiri, bukannya kehendak masa sekarang.

Tetapi kehendak itu telah ada waktu meréka itu masih kecil, sebelum ia mengetahui "kemerdékaan", dan waktu kitab-kitab dan surat-surat yang berisi tentang hal itu belum ada dalam capaian meréka itu, waktu itupun kehendak yang tersebut telah ada dalam kalbu seorang dari ketiga saudara itu; keadaan yang dilihatnya dan didengamja sehari-hari membangunkan kehendak itu padanya.

Kedatangan kehendak pada anak yang seorang itu, beginilah kissahnya.

Pada waktu bermain-main disekolah Belanda dinegeri kecil Jepara, dibawah pohon baru yang berdaun kuning, yang terdiri dalam pekarangan sekolah, duduklah bertumpuk-tumpuk anak-anak perempuan kecil dan besar di atas rumput yang sebagai pennadani hijau rupanya dan lembut rasanya. Waktu itu hari sangat panasnya dan seorangpun tidak suka hendak bermain-main.

Déwasa itu berkata anak perempuan bangsa kulit 'hitam yang di atas itu; bukan saja karena kulitnya hitam, tetapi pada pikirannyapun tampaklah, bahasa ia seorang anak Bumiputera, katanya: "coba, Letsy, berceritera sedikit atau bacakan apa-apa kepadaku!" Seorang anak perempuan bangsa kulit putih, yang besar dan duduk bersandar dipokok kayu membaca sebuah kitab kecil menéngok pada si anak tadi dan menyahut, katanya: "Ah, tidak, saya harus menghafalkan pengajaran bahasa Perancis."

"Di rumah dapat kamu menghafalkan itu, karena kita tidak ada kerja. Sekolah untuk bésok", kata anak kulit hitam tadi lagi.

"Betul, tetapi kalau saya tiada mempelajari bahasa Perancis baik-baik, tidak boléhlah saya dua tahun pergi kenegeri Belanda. Saya ingin hendak pergi belajar kesekolah guru perempuan, barangkali saya di tempatkan disini, jika demikian saya tidak duduk dibangku lagi, melainkan dikursi dimuka kelas.

Tetapi, Ni, coba ceriterakan kepadaku; mau jadi apa engkau nanti? Hal itu belum pernah kauceriterakan kepadaku," tanya anak Belanda itu. Kedua mata si kulit hitam yang besar itu memandang kepada yang bertanya dengan hérannya.

"Nah, ceriterakanlah", kata si Belanda lagi. Anak Jawa itu pun menggéléngkan kepalanya serta berkata dengan ringkas: "'ndak tahu". Ia betul-betul tidak tahu, ia belum pernah memikirkan hal itu, ia masih amat kecil masih melompat-lompat. Pertanyaan sahabatnya bangsa kulit putih itu termakan dalam hatinya. tidak dapat ia melupakannya dan selalu mendesus ditelinganya perkataan: "Mau menjadi apa engkau nanti?"

Dimenung-menungkannya sehingga kepalanya menjadi sakit. Pada hari itu ia beberapa kali mendapat hukuman menulis disekolah, ia menjadi bingung, dan memberi jawab yang bodoh bila orang bertanya barang sesuatu kepadanya dan membuat kesalahan yang bodoh sekali dalam kerjanya. Tentu sajalah begitu, karena pikiran dan otaknya tidak pada pengajaran; pikirannya selalu pada 'kata-kata yang didengarnya waktu bermain-main tadi. yang mula-mula dibuatnya, setiba ia di rumah, ialah pergi kepada bapanya, akan 'menceriterakan pertanyaan yang tergorés dihatinya itu: "Hendak menjadi apa saya nanti?"

Si bapa tiada berkata apa-apa, melainkan ia tertawa saja dan memijit pipi si anak itu. Tetapi dengan cara demikian tidaklah si anak itu bersenang hati dan selalu merengut menantikan jawab. Kakaknya laki-laki lalu disitu, mendengar pertanyaan si anak itu, telinga si anak yang tajam itu mendengar jawab ini: "Akan menjadi apa anak-anak perempuan? Tentulah menjadi raden ayu!" Si anak itu bersenang hati dan berlari dengan kesukaan. "Raden ayu," diulangnya kerap kali dalam hatinya. Apa itu "radèn ayu?" Pikiran yang baru itu tidak dapat pula dilupakannya, selalu pikirannya pada kedua patah kata "radèn ayu" itu saja.

Ia wajib menjadi itu pula. Ia menéngok kiri kanan, ia melihat dan beramah-ramahan dengan kebanyakan radèn ayu.

Sejak itu selalu diperhatikannya beberapa radèn ayu dan dipelajarinya kehidupan meréka itu.

Apa yang dapat diketahui si anak itu dari pada kehidupan perempuan-perempuan itu, menimbulkan kedurhakaan dalam hatinya kepada kata "radèn ayu", kepada adat yang telah berzaman-zaman dijunjung-junjung bangsanya itu: "Anak-anak perempuan wajib kawin, wajib menjadi milik seorang laki-laki dengan tiada boléh bertanyakan, apa, siapa dan bagaimana 'si laki-laki itu!"

Beberapa lama kemudian dari pada itu si anak perempuan tadi telah ber'umur dua belas setengah tahun dan waktupun datanglah, ia akan meninggalkan kehidupan anak-anak yang selalu manja itu; bangku sekolah, bangku yang sangat disukainya haruslah ditinggalkannya dan iapun harus bercerai dengan sahabat kenalannya bangsa Eropa, sungguhpun ia suka amat 'bermain-main dan bercampur gaul dengan meréka itu. 'umurnya telah cukuplah akan tinggal di rumah, akan menyerahkan dirinya kepada sekalian adat-adat tanah airnya; adat-adat yang menyuruh anak-anak gadis tinggal di rumah, menyuruh hidup berchalwat yang amat sangat dalam dunia yang sunyi sampai datang seorang laki-laki, yang dijadikan Allah untuk tiap-tiap anak gadis menagihnya akan membawanya kerumahnya.

Apakah yang tidak ada pada kepala si anak itu dan tidak timbul dalam hatinya, tatkala ia kesudahan sekali menempuh jalan dari sekolah pergi kerumah. Matanya yang hitam itu diliputi oléh air mata, dadanya yang ramping menjadi kembang kempis dengan hébatnya. Bibirnya yang kecil itu bergerak-gerak akan menahani sedan-sedannya. Ia tahu betul bahwa segala sesuatu yang dicintainya telah tertutup baginya, sebagai pintu sekolah. Perceraian dengan guru yang menyayanginya, yang berkata manis dan merdu padanya, waktu ia akan berangkat itu, perceraian dengan kawan-kawannya, yang berjabat tangan dengan dia dengan mencucurkan air mata, dan perceraian dengan tempat duduknya, tempat yang telah banyak memberi kesukaan kepadanya, semuanya mendukakan dia tiada berhingga; tetapi kedukaan itu tiadalah sebesar kesedihan hatinya karena hendak berhenti belajar. Ia sangat suka dan cinta akan belajar dan ia tahu, bahasa lain dari pada pelajaran disekolah rendah tiada tepermanai banyaknya lagi yang akan diketahui dan dipelajari orang. Ia agak loba akan kehormatan, tentang "kepandaian", ia tidak suka tertinggal di belakang kawan-kawannya bangsa Eropa, yang berangkat ke Eropa itu dan tidak mau tercécér pada kakak-kakaknya, yang memasuki sekolah menengah (H. B. S.).

Disembahnya bapanya, meminta, supaya ia dikirim ke Semarang bersama-sama dengan anak laki-laki memasuki sekolah menengah dan ia berjanji akan belajar dengan serajin-rajinnya, dan orang tuanya tidak lah akan bersusah hati padanya. Ia berlutut dimuka bapanya, tangannya yang tersimpul terletak di atas lulut bapa' itu, dan matanya yang besar dan seperti mata bonéka itu terbukalah menentang si bapa' dengan penuh keinginan dan pengharapan, serta dengan hati berdebardebar dinantinya jawab si bapa' itu. Dengan kasih sayang, si bapa mengurut-urut kepala si anak yang hitam itu, dan rambut yang kusut pada dahi si anak dihindarkan oléh si bapa' dengan jarinya dari dahi itu, semuanya itu kejadian dengan lemah lembut, tetapi dari mulut si bapa' berbunyilah perkataan "tidak!" Ia tidak boléh belajar ke Semarang. Ia melompat, ia tahu, arti kata "tidak," yang keluar dari mulut bapaknya. Ia berlari kebiliknya, menyuruk kebawah tempat tidur akan menyembunyikan dirinya, supaya jangan kelihatan oléh orang lain. Ia mau sendiri saja, dengan kedukaan, yang menjadikan ia tersedu-sedu keras, sedu yang tidak dapat disabarkan. Pada suatu ketika guru bertanya, kalau-kalau ia suka pergi kenegeri Belanda bersama-sama dengan Letsy, anak guru itu, sahabatnya akan meianjutkan pengajaran. Dengan gemar dan mata yang bercahaya-cahaya didengarnya perkataan guru itu: "Bagaimana, maukah engkau?"

"Jangan tanyakan pada saya, saya suka? Tanyakan saja: "saya boléh?" jawab si anak itu waktu itu dengan suara yang lembut, yang keluar dari bibir yang gementar itu.

Tatkala ia dibawah tempat tidur itu, ia berpikir, yang guru itu seorang baik, dan guru itu bermaksud baik dengan dia.

Sebentar lagi si anak itu berpikir lain pula: Orang asing seperti dia, yang tidak tahu adat-adat Bumiputera, tidak tahulah akan kekejaman, bertanyakan pertanyaan yang sedemikian kepada si anak itu.

Menghadapkan makanan yang énak dan lazat, yang melaparkan si anak itu melihatnya, tetapi si anak tadi tidak dapat dan tidak boléh mengecap makanan itu.

Si anak itu anak perempuan yang gila. Ia tidak tahu, bahasa maksud orang tuanya yang baik itu, menyuruh ia pergi kesekolah, bukannya hendak membuat pikirannya menjadi huru-hara. Ia pergi kesekolah lain tidak melainkan akan belajar bahasa Belanda dan adat-adat Belanda, tentulah ia kemudian akan terhinaar dari kesengsaraan yang banyak itu.

Tetapi anak 'kecil dan bodoh itu bukanlah membuat dirinya sendiri sengsara, ia tidak dapat menolong, yang Allah memberinya hati yang demikian, hati itu memandang segala pengajaran yang bagus dikatakan bahasa Belanda padanya.

Anak yang malang! Dalam kalbunya pikiran bangsa Barat berarak dengan tempik soraknya, tetapi kaki tangannya terikat pada adat-adat bangsa Timur. Kaki dan tangannya itu masih lemah dan lembut, untuk memutus mematahkan ikatan dan belenggu, yang mengikatnya itu. Dan kemudian bila ia merasa dirinya kuat akan memecahkan belenggu dan ikatan itu dengan sekali renggut, waktu itulah...........tetapi janganlah kita terlampau hendak lekas, karena hal itu belumlah kejadian.

Pintu sekolah dibelakangnya telah tertutup dan rumah orang tuanya suka dan riang menerima dia.........Rumah itu besar, pekarangannya luas sekali, tetapi dinding yang mengelilingi pekarangan itu tinggi dan tebal. Tempat yang empat segi dan tertutup itulah yang akan datang menjadi dunia dan alamnya.

Bagaimana 'sekalipun luas dan bagus serta penuh kesenangan sebuah sangkar, maka ia tinggal SANGKAR juga pada pemandangan burung yang dikurung dalamnya!

Telah lalu! hari mudanya yang manja itu telah lalu! sekalian keriangan yang dikecapnya pada masa kecilnya, telah lalu. Tetapi dirasanya dirinya masih anak-anak, sebenarnyapun ia masih anak-anak; tetapi adat negerin ya membilang dia dengan segera masuk bilangan seorang yang telah sampai 'umur. Padanya tidak ada sérokan yang lébar yang tidak dapat dilompatinya, dan tidak ada pohon tinggi yang tidak dipanjatnya dan iapun tidak pernah berjalan, melainkan selalu melompat-lompat sebagai anak kuda yang man ja ditengah padang; sekarang ia harus jadi pendiam dan sopan seperti layaknya pada anak-anak gadis orang bangsawan tinggi.

 
SEKOLAH RENDAH DI JEPARA.

Pada mata bangsa Jawa, anak gadis dinamakan sebuah permata dari 'segala gadis-gadis, bila ia pendiam dan tidak ber­gerak seperti bonéka, berkata ketika perlu saja dengan suara yang halus, sehingga semutpun tidak dapat mendengar, berjalan haruslah selangkah dua sebagai siput, tertawa jangan kedengaran dan bibirpun selalu tertutup, tidak senonoh lakunya bila giginya kelihatan sedang tertawa, jika kelihatan maka dikatakan rupanya seperti "luak" atau musang.

Ni, yaitu si anak tadi, setiap waktu melanggar adat sopan santun itu.

Hidup yang sunyi dan yang sama saja berkepanjangan hari itu mulailah. Dari sehari kesehari ia harus membuat pekerjaan yang tidak bertukar-tukar dalam lingkungan yang tidak berganti-ganti, serta bergaul dengan orang-orang yang selalu dilihat juga.

Dalam hidup yang sedemikian yang dapat membesarkan hatinya hanyalah kedatangan sahabatnya Letsy. Keriangan besar baginya, jika Letsy ada padanya, ia kembali menjadi seorang anak yang manja dan lupalah ia akan penjaranya, yaitu penjara yang akan membalas kelupaannya itu dengan kesedihan yang bertambah lebih lagi, bila Letsy pulang kerumahnya.

Keriangan itupun tidak lama, kemudian lenyaplah dari hidupnya yang sunyi itu, karena Letsy, sahabatnya itu, berangkat kenegeri sebelah utara yang jauh itu. jadi tidak adalah sa­habatnya lagi. Akan persahabatannya itu tidaklah putus, surat dapat juga memperhubungkan meréka itu, sungguhpun meréka itu berjauhan. Tetapi hidupnya karena itu makin bertambah-tambah sunyi dan tidak bercahaya...........

Dengan keinginan yang amat sangat Ni melihat kepada adik-adiknya perempuan, bila meréka itu lengkap dengan batu dan kitabnya, keluar dari rumah akan pergi kegudang 'ilmu hendak mengumpulkan pengetahuan disitu.

Ada beberapa lamanya ia sendiri memajukan pengajarannya dengan kitab-kitab; tetapi kemudian ia ma'lum, bahasa belajar dengan tiada guru, pekerjaan yang sia-sia adanya; maka disimpannyalah kitab-kitabnya dengan keluh yang amat sangat.

jikalau sekiranya ban tal dan guling tahu bertutur, pastilah ia akan dapat berceritera banyak; dan tentu ia akan menceriterakan kesengsaraan seorang anak kecil, yang dari semalam kesemalam mencucurkan air mata yang amat sedih!

Si anak itu tidak dapat menyabarkan dirinya! Dalam kepalanya yang gila dan hatinya yang rawan itu timbul silih berganti dengan tiada berhenti-hentinya beratus-ratus pikiran yang huru-hara. Ia merasa dirinya di tempat yang sunyi senyap, sungguhpun ia dikelilingi beberapa orang yang selalu hari bersama-sama diam dan hidup dengan dia. Betul ia bersaudara dengan meréka itu, dan setiap hari bersama-sama dengan dia, tetapi perasaannya dan pendapatannya berlainan sekali dengan perasaan dan pendapatan meréka itu dan rupanya keadaan itu akan tinggal demikian.'

Ia ada mempunyai seorang kakak perempuan, yang sama-sama dalam penjara itu dengan dia. Benar ia sayang pada kakaknya itu, tetapi tali persahabatan yang memperhubungkan si kakak dan si adik itu, tiadalah berapa teguhnya, karena perasaan dan buah pikiran kedua saudara itu berbéda amat sangat. Si kakak itu pendiam, penyabar, tenang dan suka sendiri-sendiri saja. Tetapi si adik, seorang anak yang semata-mata berhati manja dan riang. Buah pikiran, yang terdapat pada si adik semuanya pikiran yang salah pada pemandangan si kakak, yang suka dan keras pada adat-adat yang lama.

Telah kerap kali si adik itu datang kepada si kakak dengan mata yang bercahaya-cahaya dan berhati yang besar menceriterakan pendapatannya dan meminta pertimbangan dalam beberapa hal. Kalau si adik telah habis berceritera, betul si kakak tiada melarang si adik itu, tetapi si kakak selalu menjawab dengan tiada peduli: "Turutlah kehendakmu, aku ORANG Jawa!" Hati si Ni menjadi kecut, sebagai diraba oléh tangan yang kasar dan seluruh tubuhnya menjadi gementar. Adik-adiknya yang perempuanpun telah menjauhkan diri dari padanya. Kakaknya yang tua tidak suka melihatkan adikadiknya 'yang kecil kerap bercampur gaul dengan si Ni, ka­rena si Ni mempunyai buah pikiran yang gila-gila. Si kakak itu keras sekali. Adik-adiknya yang kecil amat takut kepadanya.

Hal itu merusakkan hati si Ni sekali, tetapi ibunya lebih lagi dari itu mendukacitakan hatinya.

Hati ibunya itu lebih-lebih lagi tertutup kepada si Ni, ka­rena pikiran si Ni berlainan sekali dengan pikiran ibunya itu.

Ni, anak yang malang benar, hati nuraninya mencintai kasih sayang, tetapi seorangpun tidak hendak memberikan kasihnya kepadanya, pada hal ia sendiri selalu menghamburkan kasih mesra kepada orang lain.

Itu sebenarnya bukan salah orang, mengapa si Ni selalu asing dan lain, ya, berlain benar dengan orang-orang lain?

Iapun sebenarnya telah kerap kali mencoba mengubah di­rinya, supaya ia menjadi serupa saudaranya yang lain-lain juga, tetapi tiap-tiap kali bila ia akan hampir berubah itu, 59

Maka tiba-tiba datanglah pikiran dalam hatinya yang dibangunkan oléh pengetahuan bahasa* Belandanya melarang dia memperturutkan yang baru itu, seolah-olah 'ia tidak setia pada pengetahuannya. Sesudah itu ia biasanya menyesal, lalu me­megang pikirannya yang lama itu lebih keras lagi dari sampai pada waktu itu.

Dalam pada itu hidupnyapun tiada terlampau sunyi senyap benar. Karena dalam antara keluarganya adalah juga dua orang yang menyayanginya, sebagai ia menyayangi meréka itu, yang mencintainya seperti yang dicita-citanya sendiri, yaitu dengan kesayangan dan percintaan yang sungguh dan suci.

Kedua orang itulah pula yang dicintainya dengan percinta­ an yang sampai ke dalam hati nuraninya. Kedua orang itu ialah bapanya dan seorang saudaranya yang laki-laki yaitu kakaknya yang ketiga, yakni yang bungsu dari kakaknya yang bertiga itu. Betul bapa'nya tidak dapat memenuhi kehendaknya yang sangat dicintainya itu, yaitu: memberi dia kebébasan! Betul bapanya itu tidak cakap mencukupi .keinginannya akan kepandaian; tetapi bapaknya itu sungguh baik kepadanya dan menyayangi dia, si gadis gila itu dengan sehabis-habis kasihnya. Bahwa bapanya mencintainya itu diketahui dan dirasai oléh si anak. Bapa itu pandai benar memandang dia dengan pemandangan kesayangan dan setiawan. jarinya yang lemah itu sungguh pandai meraba pipi anaknya itu dengan lembutnya serta menyelisik rambutnya, rambut yang hitam dan pand yang itu, serta tangannya yang kuat itupun pandai nian memeluk léhér dan bahu si anak itu.

Si adik itu tahu, bahwa kakaknya tadi sayang padanya, meskipun si kakak tidak pernah menampakkan sayangnya itu dengan tutur kata yang manis dan tidak sekali jua membujuk menghiburkan dia! Tetapi hiraunya akan adiknya itu menyatakan kepada si adik, bahwa kakaknya itu menaruh kasih sayang kepadanya. Kakaknya itu tidak mentertawakan dia bila ia mengeluarkan buah pikirannya padanya, melainkan selalu didengarkannya dengan sungguh-sungguh dan tidak pernah ia menggementarkan si adik itu dengan perkataan: "Turutlah kehendakmu, akan aku tinggal orang Jawa." Sungguhpun ia tidak mengatakan, yang ia menyetujui cita-cita adiknya itu, tetapi si adik tahu, bahwa kakaknya itu dalam hatinya membenarkan pikirannya. Si adik tahu, menilik kitab-kitab yang diunjukkan si kakak ketangannya. Ni, merasa dirinya kaya beroléh kasih sayang kedua orang itu dan karena pikirannya disetujui pikiran kakaknya itu.

Bapanya tidak selalu dekatnya, karena bapa' itu banyak kerjanya, ketempat ia bekerja itu tidak boléh si Ni datang, karena ia tidak boléh keluar dari dalam biliknya yang tertutup itu dan kakaknya yang dicmtainya itu hanya beberapa kali boléh datang kerumah, karena ia bersekolah di Semarang. yang tetap tinggal di rumah ialah kakaknya yang sulung, sebab sekolahnya telah tammat;,ia telah mendapat pangkat dinegerinya dan diam bersama-sama dengan orang tuanya. Kediamannya ber­sama-sama dengan orang tuanya itu tiadalah meriangkan hati si Ni melainkan kebalikannya yakni mendukacitakannya.

Dahulu sebelum kakaknya yang sulung itu datang, Ni telah banyak penanggungannya, sebab tidak diindahkan oléh hampir segala orang serumahnya, sebab ia dipenjarakan itu, sebab melihatkan adat-adat kuno, yang tidak dapat disetujuinya itu. Kini datang pula usikan dan gangguan kakaknya yang sulung itu menambahi penanggungan yang menyakiti hatinya itu.

Ni tidak suka dan tidak dapat menurut segala kehendak kakak­nya itu. Selalu dikatakan kepadanya: "yang lebih muda harus menurut perintah yang lebih tua; lebih-lebih anak-anak perempuan wajib menurut kehendak kakak-kakaknya yang laki-laki."

Tetapi Ni, seorang anak yang memakai pikiran sendiri, ia tidak mengelti mengapa hal itu wajib demikian. Ni berkata: "Bu­kan salah saya, yang sa ya kemudian dilahirkan dari kakakkakak saya itu." Sepanjang pikirannya bodoh sekali, yang ia karena itu wajib menurut kehendak kakak-kakaknya itu. Sepanjang pikirannya, tidak seorangpun mesti diturutnya, lain dan pada pikiran dan hatinya sendiri.

Dan ia tiada akan membenarkan perkataan kakaknya itu, kalau ia tak yakin, bahwa si kakak berkata benar dan bermaksud baik. Adapun kakaknya yang sulung itu seorang anak yang telah rusak, anak kesayangan ibunya. Tiap-tiap orang berlumba-lumba memujinya dan memperlakukan kehendaknya, karena orang malu akan pangkat bapanya yang tinggi itu. Sebab itu sepanjang pikirannya telah adatnya tiap-tiap orang, yang dipandangnya rendah dari padanya, wajib menu­rut kehendaknya.

Mula-mula ia héran, kemudian jadi marah ia, tatkala dilihatnya adiknya perempuan, yang setengah lusin tahun lebih muda dari padanya itu, berani menyanggah "kemauannya". Ia berjanji kepada dirinya, bahwa anak yang tidak beradat itu harus, ya, mesti ditidaklukkannya. Pada pemandangannya sekalian yang diperbuat si Ni salah. Bila Ni bersalah sedikit saja dimarahinyalah dengan keras. Hampir setiap hari si kakak dan si adik berselisih, si kakak dengan muka asam dan tutur kata yang kasar, menyakiti hati si adik sampai berlumur darah, dan si adik dengan bibir yang bergerak-gerak dan suara yang gementar membéla dengan perkasa hak miliknya, yang hendak diinjak oléh si kakak itu. Si adik tegak sendiri melawan kelaliman kakaknya itu, kakaknya yang nanti akan melindunginya, bila celaka datang atasnya, yakni bila orang tuanya tidak ada lagi, sebelum ia dibawa kerumahnya oléh seorang laki-laki yang dijadikan Allah untuknya!!!

Tetapi dekat bapanya tentulah si kakak tiada berani menggoda si adik tadi, karena bapa' sekali-kali tidakkan mau mengizinkan hal yang demikian, dan lagi si kakak itu tahu, yang si Ni tidak mau mengadukan dia, sebab Ni bukannya si pengumpat. Akan orang-orang lain yang serumah dengan dia dan melihat perselisihan itu setiap hari, membiarkan saja de­ngan berdiam diri, meskipun meréka itu tahu, yang 'si adik menurut jalan yang benar. Si adik perempuan itu menjadi kasar dengan tiada berhingga, karena si kakak selalu menerbitkan kekerasan itu padanya. Kekasaran si adik amat sangat, sehingga ia berani mengatakan "tidak", bila si kakak menyebutkan "ia" biarpun ia masih muda, dan si kakak jauh lebih tua. Seorang anak perempuan tidak boléh mempunyai hak yang akan merugikan seorang laki-laki dalam sebarang perkara. Hak seorang anak perempuan hanyalah barang sesuatu yang diizinkan baginya oléh kakak laki-lakinya yang tidak loba. Beberapa tahun kemudian, ketika Ni teringat akan perselisihan itu, mengertilah ia, mengapa laki-laki sangat loba. Mulai dari waktu kecilnya, si laki-laki telah diajar menjadi loba, mula-mula sekali oléh ibunya. Sejak kecilnya diajar ia memandang anak perempuan sebagai seorang machluk yang rendah kedudukannya dari padanya. Bukankah selalu didengar oléh si Ni, ibunya, atau saudara perempuan ibunya atau sahabat kenalannya peirempuan-perempuan mengatakan de­ngan suara yang menghinakan: "seorang gadis, hanya seorang anak perempuan saja?" jadi perempuan sendiri yang mengajar si laki-laki menghinakan perempuan. Darah Ni pun mendidih, bila ia mendengar seorang perempuan memperbincangkan seorang gadis dengan suara yang merendah dan menghinakan itu.

"Perempuan-perempuan tidak ada harganya."

"Perempuan-perempuan dijadikan untuk laki-laki, akan kesukaan meréka itu; si laki-laki boléh memperbuat perem­puan-perempuan menurut kesukaannya."

Bila Ni mendengar itu, matanya berapi-api, dengan marah ditinjukannya tangannya dan dikatupkannya bibirnya akan menahani kemarahannya yang tidak berhingga-hingga itu. "Sekali-kali bukan begitu," teriaknya dalam hatinya. "Tidak, tidak, kamipun manusia juga sebagai laki-laki itu. Berilah aku menunjukkan, bahwa kamipun orang juga. Bukalah belengguku! dan izinkan saya, tentu saya tunjukkan, yang sayapun seorang manusia, manusia yang sama dengan seorang laki-laki." lapun berpusing-pusing menarik dan merenggutkan.rantai itu amat sangat kuatnya, rantai itu mengikat kaki tangannya dengan seerat-eratnya. Rantai itu tidak dapat diputuskannya melainkan kaki dan tangannya yang luka karena itu!

Dapatkah ia menyabarkan dirinya? Dalam kepalanya yang muda bercabul beratus-ratus pikiran dengan tidak berhenti-hentinya. Dalam hatinya telah masaklah pikiran yang hendak melawan keadaan yang kuno-kuno itu; ia suka, ia wajib mengikut jalan yang baru. Bagaimana akan mencari jalan itu, belumlah diketahuinya; hal itu masih gelap, dan kusut dalam otaknya yang bodoh itu, tetapi ia tahu, yang ia mau menempuh jalan itu.

Itulah nasib anak yang lekas berakal! Anak-anak yang berumui sebagai dia itu, biasanya tidaklain dalam kenang-kenangan, melainkan bermain-main dan bermanja-manja, tetapi si anak ini selalu memikirkan hal yang pelik-pelik dalam kehidupanitu, yang selalu menyakitkan hatinya dan mendukacilaKan dia.

Hal itu tidak boleh tidak tentu terjadi begitu; ia tidak pekak dan tidak buta, dan ia hidup dalam dunia yang pincang dan timpang, yaitu didunia bangsa Bumiputera, yang tidak menaruh kasihan kepada anak-anak muda dan tidak mempuinyai perasaan yang halus. Dengan mendadak mata yang muda dan halus itu telah terbuka melihat kehidupan manusia yang sebenarnya, yaitu kehidupan yang penuh berisi kekasaran, kekotoran dan kebengisan yang ganas. Dari orang tuanya sendiri tidakpernah ia mendengarkan perkataan yang kasar, yang menghuru-harakan kalbunya yang suci dan melukakan hatinia yang berperasaan halus itu; tetapi ia hidup tidak hanya bersama-sama dengan orang tuanya; ia hidup didunia manusia; dunia yang ta menaruh kasih kepada anak-anak muda dan perasaannya yang halus itu.

O, maut! mengapakah engkau dinamakan orang musuh yang amat ditakuti? Bukankah engkau yang meiepaskan ma­nusia dan hidup yang bengis itu? Ni tentu akan memohonkan terima kasih padakau dan dengan sukacita mengikutmu!

Tidak seorang jua, yang menunjukkan kepada Ni, kemdahan dan kemuliaan hidup diluar kejahatan dan kekejiannya itu. Adat-adat Bumiputera mengharuskan, supaya anak dan orang tua jangan «terlalu beramah-ramahan. Mereka itu boléh dan dapat 'juga berjinak-jinakan dan bera­mah-ramahan, tetapi berjinak-jinakan yang sungguh-sungguh seperti pada kebanyakan bangsa Eropa antara anak dan orang tuanya, tidak boléh jadi. Ni mencinta dan menyayangi bapanya dan iapun tiadalah akan membuat barang sesuatunya dengan tiada sepengetahuan orang tuanya; sungguhpun tidak dapatlah ia membukakan sekalian yang tersembunyi dalam hati nuraninya kepada meréka itu. Keras dan kasar berdiri adat-adat kuno bangsa Jawa itu menceraikan si bapa dari si anak.

Ni melarikan dirinya sedapat-dapatnya dari pada meréka yang merendahkan dia dari pada kelakuan meréka itu. Karena adat lembaga negerinya tidak mengadakan dia mencari penghiburan hatinya pada pangkuan orang tuanya, terpaksalah ia mencari penghiburan «hatinya yang duka nestapa itu pada sahabat-sahabatnya yang tidak pandai berkata-kata, yaitu: "kitab-kitab." Dahulu juga ia suka membaca-baca, tetapi sekarang kesukaan itu menjadi keasyikan.

Kalau sekiranya ia tidak ada kerja, atau kerja yang disuruh buat kepadanya telah sudah, maka dengan segera ia mencapai sebuah kitab atau sehelai surat chabar. Semua dibacanya, apa saja yang terlihat oléh matanya, dibacanya, masak mentah kabar-kabar itu seolah-olah ditelannya kesemuanya. Kadangkadang ada pula terjadi, yang ia membuangkan sebuah kitab dari padanya karena bencinya. Bukankah ia membaca itu hendak melupakan barang yang hidup, barang-barang yang seperti itu tidak perlu dicarinya dalam kitab-kitab, sebab didalam hidup yang sebenar-benamja sudah sampai banyak benda keji-keji, dan yang men jemukan orang? Oléh karena hal itulah ia melarikan dirinya dari dunia yang keji itu, dan memasuki dunia kitab-kitab, dunia yang didirikan oléh akal dan budi manusia. Ada kitab-kitab yang bagus, yang tiada terkatakan lazatnya. Kebagusan dan kelazatan itulah yang menghilangkan kesusahan dan kemelaratan hidupnya. Budi pekerti yang baik, pikiran yang tinggi orang mulia dan budiman dalam kitab-kitab itu menggembirakan hatinya dan menglipurkan laranya. Ia hidup bersama-sama dengan sekalian apapun yang dibacanya dan iapun tiada kekurangan kitab-kitab yang akan dibacanya. Ia hanya perlu menjulurkan tangannya dan men­capai kitab-kitab dan surat chabar dalam teromol pembacaan yang tiap-tiap pekan selalu membawa perbekalan yang barubaru baginya. Bapanya yang selalu berusaha akan menyukakan hatinya dan yang bersukacita sendiri melihat anaknya su­ka baca membaca itu merusakkan dia dengan kitab-kitab yang dihadiahkannya kepadanya. Ia tidak mengerti semua, apa yang dibacanya, tetapi itu tidak menghilangkan gemar hatinya. Bila ia pada pertama kali tidak mengerti isi sebuah kitab, maka pada kedua kali mengertilah ia sedikit-sedikit, dan pada ketiga atau keempat kali membaca kitab itu mengertilah ia semuanya.

Tiap-tiap kata yang tidak diketahuinya, dituliskannya dalam kitab peringatannya, supaya nanti bila kakak kesayangannya ada di rumah, boléh ia bertanyakan arti kata-kata itu kepadanya. Si kakak itu setia sekali kepadanya dan dengan segala suka hati menolong adiknya.

O, betapakah besar hatinya, bila kemudian hari diketahuinya, yang membaca kitab-kitab itu bukan saja memberi ni'mat yang lazat citarasanya padanya, melainkan memberinya pengajaran yang tidak berhingga juga.

O, bila ia tidak mempunyai bapanya yang dicintainya itu dan kakak yang setia, dan kitab-kitab yang indah-indah, tentulah ia akan berhati duka setiap hari, sepanjang waktu. Ia ten­tulah akan merasa dalam kesengsaraan, yang merusakkan hidupnya yang muda remaja dan nyawanya yang lemah itu de­ngan kesedihan yang amat sangat. Bapa' dan kakaknya itulah yang memuaskan kelaparan hatinya kepada kecintaan dan ki­tab-kitab itulah yang memberi makanan untuk pikirannya yang lapar, pikiran yang telah dibangunkan olëh bahasa Belanda!

Kemudian ibunya melahirkan seorang anak laki-laki. Kejadian itulah yang menarik dia kembali dari jalan yang salah, membawanya kejalan yang baik, jalan yang telah lama tidak diturutnya lagi. Ia hampir-hampir menjadi anak yang durhaka kepada ibunya. Dulu hatinya sudah hampir tertutup kepada bundanya itu. Sekarang adiknya yang baru lahir itu membukakan pintu hatinya itu kembali. Adiknya yang kecil itu mengajar dia apa yang sebenarnya Ibu itu dan apakah kewajiban si anak pada ibunya.

Keliling pelupuk mata ibunya berwarna hijau.dan rupanya seperti orang tidak kuat dan lelah; adiknya yang kecil itu yang menyebabkan sekalian itu. Karena, adiknya itu selalu mengusik bunda dan yang semalam-malaman berteriak-teriak, sehingga ibu tidak dapat tidur. Sungguhpun adik sangat menyusahkannya, tetapi bundapun ta" pernahlah memasamkan mukanya barang sedikitpun karena usikan itu. Apabila adik berteriak dan ,menangis menjerit-jerit, maka dengan sekediyap mata iapun telah ada dekat adik dan dengan lemah lembut diambilnya adik, dipangkunya, dan sebelum adik tertidur nyenyak dipangkuannya, belumlah dilepaskannya dari tangannya.

Bukankah Ni seorang anak yang kecil dan tidak berdaya seper­ti adiknya itu dulu?

Tidakkah bundanya tatkala dulu bersusah payah pula karenanya? Awan yang meliputi hati Nipun hilang dan kalbunya gembira lagi akan mencinta menyayangi perempuan, yang me­lahirkan dia kedunia ini! Pada tahun yang pertama adikpun séhat dan walafiat dan kemudian dari pada itu ia menjadi sakit-sakit, dan tiga tahun lamanya ia tidak pernah senang, yang sebenar-benarnya seolah-olah ia berperang yang hébat hendak mempertahankan nyawanya.

Melihat adik-adiknya sakit itu, Ni belajar dengan sebaik-baiknya arti anak bagi si bunda.

Dengan cara demikian tahulah Ni, bahasa ia kurang pengetahuan tentang hal itu, sekaranglah ia mengenangkan dirinya sendiri dan barulah ia tahu, bahwa sampai waktu itu ia hanya selalu memikirkan kesusahan sendiri, dan tidak pernah memikirkan kesengsaraan orang lain.

Waktu itulah baharu ia insaf akan kesalahannya sendiri. Iapun dulu seperti adiknya itu pula, ia tidak akan datang kedunia ini kalau ia tidak ada berbunda. Lalu teringat pula oléhnya kelakuannya dengan kitab-kitab tadi, yang menjauhkan dia dari ibunya.

Ibunya itu tentulah banyak penanggungan waktu itu dan Darangkali sekarangpun masih ada penanggungannya itu. Nipun tentu tidak dapat menolong, yang mula-mulanya berselisih pikiran dengan bundanya, tetapi sungguhpun begitu, iapun sangat menyesali dirinya dulu berkelakuan yang sedemikian.

Adiknya yang kecil itu mengajar Ni, menyebabkan dia insaf akan dirinya dan mengajar dia berhati sabar serta mengucap terima kasih, lagi mengajar dia memberi orang lain dengan tiada mengharap pemberian orang yang lain itu kembali.

Empat tahun lamanya waktu telah lalu; orang yang tiada dalam pikirannya tentulah menyangka, bahwa waktu itu berjalan senang dan sentosa saja, tetapi meréka yang tajam penglihatannya tentu mema'lumi, bahwa waktu itu bagi Ni waktu peperangan adanya, lahir dan batin. Dalam tiga tahun itu banyaklah yang dipelajarinya, yakni: memerintah diri sen­diri, berhati sabar dan tidak lebih dulu memikirkan untuk diri sendiri saja, tetapi berserah diri belumlah dipelajarinyadan iapun tidak sanggup mempelajari itu. Dalam kepalanya selalu bercabul dan berkacau pikiran yang bimbang dan gundah gulana disertai oléh penglihatan yang berkelilingnia dan yang terjadi pada tempat yang lain-lain.

Sekalian itu menyedihkan hatinya dan menjadikan darahnya mendidih. Suara yang datang dari tanah Eropa yang jauh itu yang tertera dalam kitab-kitab, surat-surat bulanan dan surat-surat kabar serta warkah-warkah dari sahabat-sahabatnya bangsa Belanda menambahi bimbang pikirannya itu dan suara itu masuk ke dalam hati nubarinya.

Dalam empat tahun itu hanya beberapa kali ia keluar dari rumah orang tuanya.

Waktu bulan puasa jikalau orang tua pergi kekuburan maka saudara-saudaranya perempuan dan Nipun boléh pergi bersama-sama dan pada .suatu hari orang tuanya membawa saudaranya perempuan yang sulung dan Ni sendiri pergi kepada bapak mudanya yang tinggal dinegeri lain.

Setahun lamanya ia bersama-sama dengan saudara-saudaranya perempuan mendapat pengajaran dalam jahit-menjahit dari seorang perempuan Belanda, sejam lamanya pada tia-ptiap petang. untuk Ni jam itu suatu saat yang memberi kesenangan, karena ketika itu ia dapat bercakap-cakap bahasa Belanda, bahasa yang dicintainya itu.

Sementara itu kakaknya yang sulung dipindahkan ketempat lain. Kepindahan itu membesarkan hati Ni. yang sebenarnya Ni malu mengatakan yang ia berbesar hati karena itu, sebab yang pindah itu kakaknya, betul si kakak itu tidak sayang kepadanya.

Waktu dan perantaraan telah berbuat pekerjaan yang ajaib. Kedua hal itu menghapuskan dendam chasumat dari hati Ni. Ia telah sayang kepada kakaknya itu kembali dan menaruh kasihan pada kakaknya yang mulutnya manis dan berkata merdu itu. Betapa suka hati Ni, tatkala ia melihat ka­kaknya itu lama kelamaan insaf akan kesalahannya itu.

Sungguhpun hal itu tidak dikabakannya kepada Ni, tetapi laku dan perangainya menyatakan yang ia menyesali dirinya ber­buat yang tidak adil pada adiknya. Dengan air mata yang bercucuran Ni mengucapkan terima kasih dan syukur pada Allah, sebab kakaknya sekarang menyayanginya. Dahulu Ni dibenci dan digoda oléh ,kakaknya itu, sekarang Ni menjadi kesayangannya. Orang lain-lain, biarpun isterinya sekalipun, tidak dapat mengambil hati si kakak itu, tetapi Ni selalu dapat mengambil hatinya.

Telah setengah tahun datang adiknya, Bemi mengawani Ni dalam penjara itu. Bemi beruntung, karena ketika Ni ber'umur sebagai Bemi, ia telah lama dikurungkan di belakang dinding yang tebal dan tinggi itu, tetapi Bemi waktu ber'umur sedemikian masih bébas melompat kian kemari dan boléh berjalan-jalan membuat barang yang lain-lain yang dahulu tidak boléh dibuat Ni. Bemi telah ber'umur empat belas sete­ngah tahun, baru harus tinggal di rumah. Déwasa itu Ni telah ber'umur enam belas tahun, saudaranya perempuan yang tertua telah dipersuamikan. Perkawinan itu mendatangkan perubahan dalam hidup Ni. Ia mengajar kenal adik-adiknya yang sebelum dari waktu itu disangkakannya seperti orang asing saja. Dengan adik-adiknya itu ia hidup berjinakjinakan. Saudaranya perempuan yang tertua itu tidak ada lagi yang akan memperceraikan meréka itu. Ni menjadi saudara yang tertua dalam rumah, tetapi ia tidak suka dituakan seperti kedua kakaknya laki-laki dan pe,rempuan itu...ia mau disayangi, tidak ditakuti. Kebébasan dan kesamaan dimintanya pada dirinya sendiri. Tiadakah ia memberi kebébasan dan kesamaan kepada orang yang lain-lain? Pergaulan dengan adik-adiknya haruslah bébas dan tidak dipaksa, dibuangnya segala barang sesuatu yang menyangkuti dan menahani kebébasan dan kesamaan itu.

Dengan adik-adiknya, Bemi dan Wi, yang sudah wajib pula tinggal di rumah, ia mendapat bilik saudaranya yang tua itu......... Dibilik itu datang tiga orang machluk yang mula-mulanya tiada berkenalan satu dengan yang lain, disitulah meréka itu sama-sama bertemu dan berkumpul menjadi satu. Serta di tempat itulah permulaan ceritera anak tiga bersaudara itu.

Augustus 1900 (II)Sunting

Héran benar, kekasih kami yang jauh dari kami, apalah sebabnya maka tidak dapat kami mimpikan, sedang ia selalu dalam kenang-kenangan kami dan selalu kami perbincangkan!

Tetapi adalah pada suatu malam anak nyonya yang tertua ini bermimpikan nyonya. Tuan kedua rasanya datang kembali ke Jepara dan waktu itu kami pergilah menyongsong tuan dan nyonya sampai ke Semarang. Pertemuan kami dengan nyonya itoé sangat merawankan hati kami, dan dengan tiada menghamburkan kata sepatah juapun. Kami masing-masing berganti-ganti nyonya peluk dengan peluk yang sampai kehati nurani dan nyonya pegang kami dengan teguh seperti kami tidak akan dilepaskan lagi rasanya. Dan dalam pangkuan nyonya itu berderailah air mata kami, karena merasa beruntung yang tidak dapat dihinggakan.

Tatkala anak nyonya tersadar dari pada tidurnya, maka bantalnya dilihatnya telah basahlah oléh air matanya. Sehari-harian itu ia berhati sayu, karena mengenangkan perjumpaan di­ atas ini, hanyalah semata-mata suatu mimpi saja.

Kami takut, kami takut benar nyonya dan tuan tidak akan berjumpa lagi dengan kami, anak-anak nyonya, bila kelak nyonya telah meninggalkan kami. Sekarang kami rasa sukacita kami menjadi susut. Makin lama makin kami ketahui, bahwa kami sekarang tidaklah seperti dahulu lagi. Pengetahuan dan keinsafan itulah menjadi suatu benda yang mendukakan hati kami.

0, hidup! apakah yang telah engkau perbuat atas anak-anak perempuan mama Mies, dan apakah jadinya anak-anak gadis itu sekarang? Kemanakah perginya kegembiraan kami yang amat besar itu? Karena kegembiraan yang tidak dapat dinilai itulah maka kami dapat sampai keseberang lautan kesusahan, dan kegembiraan itu wajib kami taruh senantiasa untuk mengarungi rimba raya dalam dunia penghidupan yang akan kami tempuh tentulah dengan susah dan sukar. Kemanakah perginya kerajinan dan kegirangan kami yang menghiburkan hati selalu mau bekerja, dan yang ba­nyak menghasilkan berbagai-bagai percintaan? Kemanakah perginya si penglipur hati yang menghilangkan dan melupakan jemu dan bosan yang tertera dalam kitab kamus?

Tiap-tiapnya, yang selama mi kami indahkan dan menggirangkan hati kami, semuanya sekarang telah meninggalkan kami. Wahai, ma' Mies, dapatkah tuan memikirkan, bahasa tidak adalah orang yang lebih celaka dari pada orang yang tidak tentu tujuan maksud hidupnya?

Niscaya akan menjadi orang sia-sialah kami, kalau tidak ada sesuatu apa-apa terjadi, yang menggembirakan hati kami dalam keadaan tidak berhawa nafsu dan tidak berdaya ini. Begitulah keadaan kami sekarang.

Segala kesukaan kami yang dahulu, telah terlupa terletak, bercendawan di tempat yang sunyi. Gambar-menggambar, musik, jahit-menjahit, masak-memasak, berkirim-kiriman surat, ya, sedangkan baca-membaca yang dahulu menjadi bagian hidup kamipun sekarang telah kami abaikan. Kami boléh dikatakan telah menjadi orang yang semalas-malasnya semasa ini. Wajib kami memaksa diri sendiri akan menghabiskan membaca suatu kitab kecil. Suatu paksalah rasanya bagi kami sekarang baca-membaca itu, sedang dahulunya itulah suatu kesukaan yang amat sangat bagi kami, lebih dari yang lain. O, ma', demikianlah kemunduran kami sekarang. Kemanakah perginya kemauan dan kekuatan kami dahulu itu? Sungguh tidak dapatlah diceriterakan bagaimana penanggungan kami ini, yang disebabkan oléh kelalaian dan kesia-siaan yang menyerang kami.

Kami seolah-olah tidak bekerja sedikit juga. Dan jikalau ada apa-apa yang perlu kami perbuat, maka kami kerjakanlah keperluan itu seperti mesin saja. Apakah kiranya yang ku­rang bagi kami? Sakit kamipun tidak. Boléh jadikah agaknya sekalian itu disebabkan oléh kesengsaraan yang telah kami tanggungkan dahulu? O! Kesedihan hati! Kesakitan itu sungguh kadang-kadang tidak dapat ditahani! Akan penolak bahaya itu wajiblah kami hendaknya menaruh barang sesua­tu, terutama ialah suatu pekerjaan tetap, yang menarik hati kami semata-mata, yakni pekerjaan yang tidak sempat membiarkan diri untuk memikirkan kesengsaraan, meskipun barang sekejap mata sekalipun! Itulah suatu upaya yang baik, yang akan dapat membangunkan pikiran kami yang telah tertidur itu, dan yang sanggup mengembalikan kemauan hati kami yang telah melayang itu. Dalam bekerja, disitulah tersembunyi upaya itu. Kenang-kenangan kepada beringin sangat-sangat akan mendapat kerja yang kasihi, itulah yang mendukakan hati kami benar. Kami sangat beriba hati, bila kami merasa yang badan sendiri berhati mau dab kuat akan bekerja, tetapi oléh karena untung malang, kemauan dan kesukaan itu tidak dapat dilangsungkan !

Sekalian kesusahan dan kesengsaraan itu membawa kami kepadang kelalaian dan kemalasan. Anak nyonya yang tertua héranlah akan dirinya sendiri melihatkan surat yang sepanjang ini dapat ditulisnya........., tetapi mengapa tidak......... karena surat ini ialah untuk ma' Mies yang kucintai akan mengabarkan kesengsaraan, jadi tidak héranlah yang kata-kata itu sebagai mengalir saja dari pénaku ini.

Kami tidak dapat dan tidak suka mempercayai, bahwa hidup kami akhirya akan seperti hidup yang banyak saja; tetapi kamipun tidak mau pula percaya dan sekali-kali tidak dapat memikirkan, yang mimpi kami yang bagus itu akan terjadi. Walaupun demikian makin dekat kami berdiri pada perasaan kejadian cita-cita kami itu, makin sangatlah kami mencintainya! Demikianlah pikiran kami. Ringkasnya, kami menyangka sekarang, bahwa seakan-akan hanya beberapa hari sajalah antara kami tergenggang dari pada hidup yang baru, yang kami ingini benar itu!

Sangat sedihlah hati kami memikirkan hal itu kembali. tidak maulah kami menceriterakan dia lagi disini, sungguhpun demikian kami berdiam diri, bukanlah pula artinya mau membiarkan seja penanggungan kami atau mengizinkannya. Oléh karena kami sekarang dengan pelajaran kami telah sampai sejauh itu berjalan, tidak maulah kami membuangkan apa yang telah tertaruh bagi kami, dan sejak dari dahulu, sekali-kali tiadalah kami berhajat hendak membuangkannya.

Baik tidakja perbuatan kami tidak tahulah kami, tetapi kami tidak dapat dan tidak suka menurut kehendak suara yang lain, lain dari pada suara hati kami sendiri. Sesuatu cita-cita kami yang besar sekali, yakni hendak mengasihi orang dan dalam hal itu mencoba, supaya mendapat kasih sayang orang, yang dapat kami harapkan akan mempertinggi pikiran kami. Bulan Juni yang lalu, ketika kami di rumah tuan Sythoff, bertanyalah tuan residén itu kepada anak nyonya yang sulung ini, kalau-kalau si anak itu telah tahu, bahasa Directeur van Onderwiys ada mencari seorang guru kepala perempuan untuk sebuah sekolah gadis, yang bakal didirikan. Sebelum anak nyonya ini menjawab, tuan residén memutar tanya itu kepada bapa: "Sudahkah tuan ceriterakan hal itu kepada anak-anak tuan, regén?" Dan setelah mendapat jawab, ia bertanya lagi kepada anak nyonya ini: "Sukakah engkau menjadi guru kepala sekolah itu?" Si anak tiada berkata apa-apa melainkan dibuangnya mukanya ketempat lain, supaya bapa dan residén yang duduk berhadapan dekat kami, tidak dapat melihat mata si anak, yang telah siap dengan segala gambar cita-cita yang tersembunyi dihatinya itu. Ia tiada berjanji akan mendiamkan kehendak dan cita-citanya itu, tetapi ia tidak tahu, bahwa bapanya tidak suka, yang si anak memperbincangkan hal itu dengan orang lain. Dalam segala hal harus nama bapa' dipeliharakan, dan percakapan yang tersebut di atas ini ialah sebagai suatu mimpi, yang menakuti dan mengerikan bapa.......

"Kami sedianya wajib menjadi anak laki-laki, dan kalau demikian boléhlah kami menjadi laki-laki yang kukuh," itulah perkataan yang acap kali kami dengar, sehingga jemulah telinga kami mendengarnya. jikalau benar hal itu dan ada bagi kami sifat-sifat yang boléh menjadikan kami laki-laki yang kukuh, apakah sebabnya maka kami sebagai keadaan kami sekarang ini, tidak boléh menjadi perempuan yang kukuh dan perkasa? Atau mestikah hendaknya orang menaruh otak, yang asing zat-zat yang menjadikannya, untuk cétakan lakilaki yang kukuh dan perkasa itu? Atau barangkali tidak bergunakah perempuan yang berani dan kukuh didunia ini?" Tetapi mémanglah sudah jadi nasib kami perempuan yang sedemikian; yakni kami perempuan Jawa ini harus terutama bersifat patuh, penurut dan mesti berserah diri saja. Kami sebenarnya boléh disamakan dengan tanah liat, yang dapat diperbagai-bagaikan orang bangunnya, menurut seperti kehendak laki-laki sahaja. Tetapi apakah gunanya kita memperbincangkan keadaan itu? Kalau demikian tidak adalah ubahnya seperti orang menyayangi kapal yang tenggelam, dan mengatakan apakah sebabnya maka kapal itu tiada ditinggalkan saja dipelabuhan? Karena kalau demikian tentulah ia tidak akan tenggelam. Dan lagi dengan salah-menyalahi dan membongkar segala kesalahan dan menyelidiki siapa yang bersalah, sekali-kali tidak dapatlah kita menolong, supaya kapal itu jangan tenggelam. Tetapi bila kita membanting tulang, bekerja keras memberi pertolongan dan memompa air pada tempat yang bocor, niscaya boléhlah kecelakaan itu tertolak; kalau tidak demikian dilakukan terbaiklah orang membiarkan dirinya mati lemas saja......................................................................

Pada setahun yang baru lalu ini saja perasaan hidup kami lebih banyak dari pada perasaan pada tahun-tahun yang lain, sama sekali dikumpulkan.

Adalah anak sulung nyonya ini menaruh sangka, yang bapa' berniat hendak mengatakan barang sesuatunya padaku, tetapi bapa' enggan hatinya mengatakan itu, karena hal itu pastilah akan menyedihkan hati si anak. Dapatkah ma' memikirkan betapa beraitnya hal itu, sehingga dapat menyedihkan hati bapa serta anaknya itu?

Telah berapa lamanya kemudian dari padia itu, tatkala si anak menyesak bapa', meminta menyelesaikan ketetapan keduaukan kami, maka dapatlah si anak melihat pada mata bapa' dengan penglihatan yang pilu kepada si anak, seperti ia hendak berkata: "O, suka benarkah engkau dengan selekas-lekasnya hendak memnggalkan sa ya, hai anakku?" Si anak memalingkan mukanya.........hatinya menjadi pilu, pilu yang amat sangat!

O, Allah, benarlah cinta itu suatu benda yang amat ajaib, jalan surga dan naraka pada manusia. Mencintai dan menghormati bapak, itulah suatu keperluan dalam hidup bagi kami. [Jan cmtanya itulah pula bagian yang besar dari pada bahagia kami. Kalau hidup kami tiada dengan kecintaannya, tentulah hidup kami selalu gelap. Sebab itulah maka bahagia itu dengan sukacita kami menerima dari tangannya. bahagia yang tidak datang dari bapa sendiri, kami pandang tidaklan sebagai bahagia yang menyelamatkan kami. Lebih jauh kamipun percaya pula, bahwa hidup dengan tiada mempunyai kasih cinta bapa', tidak pennahlah kami akan hidup selamatcian hidup beserta dengan kasih cintanya, tidak pemahlah akan membawa kami sama sekali kepada hidup melarat.

23 Augustus 1900 (I)Sunting

Stella, percayalah engkau kepadaku, jikalau cita-cita saya atau cita-cita kami sampai, "sampai" seperti menurut maksudmu atau seperti maksud saya, maka keadiaan itu tentulah torayadi °léh karena pekerjaanmu. Saya menulis kata ini tidaklah dengan semena-mena saja, tetapi kata ini kukatakan, keluaniya dan hatiku. Telah banyak engkau mengajari saya, betul-betul amatlah banyaknya, dan ajakanmu itulah sua­ tu bantuan yang teguh dan suatu kekuatan bagiku. feaya suka sekali hendak menuntut kebébasanku. Kerja itu akan kukerjakan. Saya suka..........saya mesti......... terdengarkah oléhmu kataku itu? Bagaimanakah saya akan menang, jika saya tidak pergi berperang menuntutnya? Bagaimana saya akan mendapat, kalau saya tidak mencari? dengan tidak berperang tidak adalah kemenangan. Saya suka berperang Stella, sebab saya mau mendapat kebébasan. tidak gentar saya akan bertentangan dengan keberatan dan kesusalian. Menurut perasaanku diriku sama kukuh akan menurut kebébasan; tetapi adalah suatu hal yang amat kutakuti, yakni bapa' saya. O, Stella! telah kerap kali saya ceriterakan kepadamu yang saya cinta dan sayang kepada bapaku. tidak tahulah saya entah adalah kiranya keberanian dalam diriku hendak memajukan kemauanku itu, bilamana saya ketahui, yang saya kelak dengan keberanian itu akan merusakkan hatinya yang cinta dan sayang padaku itu.

Saya mencintai bapakku dengan cinta yang tiada berhingga. Bapaku telah tua, telah berambut putih, putih rambutnya itu ialah karena .memeliharakan kami, dan memeliharakan saya. Dan jika sekiranya adalah seorang di antara kami yang patut mendapat celaka, biarlah saya yang menanggung celaka itu. Demikianlah kerélaan yang tersembunyi dalam hatiku; karena mustahillah saya akan beruntung, meskipun saya men­dapat kebébasan, kemerdékaan dan tegak sendiri, kal au sekira­nya saya dalam hal itu mencelakakan dan merusakkan hati bapaku. "Adakah engkau maium benar bahwa hal itu ialah hal keadaan yang amat sukar?" katamu kepadaku. O ya, de­ngan sebenarnya! Saya sendiripun telah membayang-bayangkan kepadamu dahulu, betapa mudahnya berbuat demikian, dan dengan girang hatiku mangatakannya témpoh itu, tetapi sekarang

Maukah engkau mendengarkan kataku? Perjalanan hidup anak-anak perempuan Jawa telah ditentu dan dihinggakan, serta dengan kukuh lagi dibatasi oléh adat yang kuno. Kami tidak bolch mempunyai cita-cita hati. cita-cita yang boléh saya mimpikan ialah: bésok atau lusa saya akan menjadi isteri yang kesekian dari seorang laki-laki. Saya mau menentang keras meréka itu, yang dapat menidakkan bicara itu. jikalau dipikirkan dan dibandingkan hal keadaan Hindia dan Eropa, tentulah engkau akan membenarkan, bahwa tingkah laku lakilaki disitu tiadalah sedikit juga lebih baik dari pada lakilaki disini, dan perempuan-perempuan disitu sama menang­ gung nasib celaka seperti perempuan-perempuan disini. Hanyalah ini saja perbédaannya: kebanyakan perempuan-perempuan disana bersuami dengan seorang laki-laki, yang bekal diturutnya menumpang bersarpa-sama dikapal perkawinan, yang berhaluan bébas; tetapi perempuan-perempuan disini tiada menaruh kebébasan yang demikian, melainkan ia dikawinkan saja, karena menurut kemauan orang tuanya atau walinya. Meréka itu kawin dengan laki-laki yang disetujui oléh pikiran orang tua atau .wali itu, yang memandang bahwa si lakilaki itu orang baik dan patut. Dalam agama Islam mengawinkan orang tiadalah dengan izin si perempuan, ya, tidaklah dihadapannya kejadian hal itu. Boléh saja umpamanya: Bapa datang hari ini kerumah dan berkata kepadaku: "Ni, engkau telah dikawinkan dengan si Anu." Sekarang saya wajib menurutkan suamiku itu. Boléh juga tidak saya turutkan, tetapi hal itu memberi si laki- itu berhak boléh merantai saya se umur hidup, dengan tiada mengindahkan dan mempedulian saya sedikit juapun. Meskipun saya tidak menurutkannya, maka sayapun tinggal isterinya juga; sebab ia tidakmau menceraikan saya, dan sayapun dengan hal itu selama hidup selalulah terikat kepadanya, sedang ia sendiri boléh ting­gal bébas membuat barang sesuatunya. Ia boléh beristeri seberapa sukanya saja, dengan tiada mempedulikan saya sedikit juapun. jikalau sekiranya bapak mempersuamikan saya seperti itu, maka maulah rasanya saya membunuh diriku sendiri, tetapi bapakku tentulah tiada akan membuat seperti itu. Allah menjadikan perempuan untuk menjadi kawan si laki-laki dan untoéng nasibnya ialah akan dikawinkan. Betul pikiran itu tiadalah akan saya bantahi, dan dengan suka hati saya mengaku bahasa untung perempuanlah kelak, yang sebesar-besarnya, biarpun untung itu akan terjadi pada zaman-zaman yang akan datang, yakni bilamana si perempuan dengan suaminya hidup dengan berjinak-jinakan dan damai. Mustahillah akan dapat diperoléh hidup yang berjinak-jinak­ an dan damai itu, jikalau undang-undang untuk kami perempuan masih berlaku sebagai upaya, yang telah saya uraikan kepadamu di atas ini. tidak patutkah saya membencii dan menghinakan perkawinan yang sedemikian itu, sebab si perem­puan dengan hal yang sedemikian terang dianiayanya?

Syukurlah, tidak tiap-tiap orang Islam beristeri empat orang. Tetapi masing-masing perempuan. Islam yang bersuamipun tahulah, bahwa tiadalah ia seorang saja yang berhak menjadi isteii si laki-laki itu. Bésok atau lusa boléhlah lagi suaminya membawa isterinya, perempuan yang lain, kerumahnya itu. Perempuan yang baru itu sama banyak haknya dengan dia tentang kepada suaminya, karena menurut rukun Islam perempuan itupun isteri gahara juga. Dalam negei'i-negeri Gubernemén tiadalah begitu banyak kesengsaraan perempuanperempuan, seperti penanggungan saudara-saudaranya di tanah Solo dan jokja. Disitu banyak benar perempuan-perempuan yang celaka bersama-sama dengan satu, dua, tiga, empat perempuan yang lain yang bemama "selir" suaminya. Dinegerinegeri Solo dan jokja itulah perempuan-perempuan disebutkan permainan anak-anak!

Pada negeri-negeri itu tiada seorang juga laki-laki yang beristeri seorang. Dalam ling'kungan orang-orang bangsawan lebih-lebih dalam lingkungan Susuhunan, ada banyak lakilaki yang beristeri lebih dari pada dua puluh enam orang.

Boléhkah keadaan yang demikian itu dibiarkan saja, Stella?

Meréka itu telah biasa memakaikan keadaan yang demikian, sehingga rupanya tiadalah dirasainya kesengsaraan itu lagi, tetapi sungguhpun demikian, yang sebenaniya banyak juga perempuan-perempuan -yang menanggungkan kesakitan itu dengan diam-diam. Hampir sekalian perempuan yang saya kenal disini semuanya menyumpahi hak si laki-laki yang menganiaya itu. Tetapi dengan sumpah itu siaja tidaklah akan menolong melainkan sekalian itu wajiblah diperangi benar-benar.

Hai perempuan-perempuan dan gadis-gadis! Bangunlah engkau, marilah kita bersungguh-sungguh dan bekerja bersama-sama untuk mendatangkan perubahan dalam hal menolak bahaya yang telah menular selama itu.

Ya Stella, saya tahu bahasa dibenua Eropa budi pekerti si laki-lakipun keji pula. Saya bersama-sama dengan engkau menghormati anak .muda laki-laki yang •membelakangi adatadat kuno dan penggodaan itu. Dan saya hormati lagi akan gadis-gadis zaman sekarang, yang tidak mau menurutkan lakilaki yang tidak senonoh kelakuannya, dengan hidup cemar lagi tiada berpengetahuan. Tentulah ibu-ibu yang masih muda lebih pandai menjaga kejahatan itu. Kepada saudara-saudaraku telah acap kali saya beri tahukan hal itu.

Saya suka beranak laki-laki dan perempuan yang akan dipelihara dan diberi pendidikan seperti kehendak hatiku. Mulamula saya hendak menghapuskan adat-adat kuno, yang memandang anak.laki-laki lebih tinggi darajatnya dari pada anak perempuan. Saya tidak héran melihat kelobaan si laki2, bila saya ingat bagaimana si laki-laki itu masa kecilnya, dilebihi pemeliharaannya dari pada anak perempuan, saudaranya. Waktu kecil si laki-laki telah diajar menghinakan anak perempuan. Bukankah kerap sekali saya dengar si polan berkata kepada anaknya yang laki-laki, bila si anak itu terjatuh dan menangis: "cis, anak laki2 menangis sebagai anak perempuan!" Sa­ya akan mengajar anak-anak saya memandang anak laki-laki dan perempuan sama rata, dan memberi meréka itote pendidik­an yang sama benar, menurutkan kekuatan otaknya masingmasing. umpamanya, saya tidak akan menyuruh seorang anak perempuan belajar, jika ia tidak suka dan tidak mempunyai otak untuk belajar, biarpun maksud saya hendak menjadikan si anak itu seorang perempuan muda; tetapi haknya akan saya kurangkan dari pada hak saudaranya yang laki2 sekali-kali tidak! Dan sayapun akan berichtiar menyuruh meruntuhkan dinding yang membatasi si laki-laki dan si perem­puan itu. Saya mengaku bahasa, jika dinding itu telah runtuh, adalah kebaikannya, lebih2 kepada si laki2. Saya tidak dapat dan tidak akan percaya, bahasa laki2 yang berpengetahuan dan bersopan santun, dengan sengaja akan menyisihkan perkumpulan perempuan-perempuan, yang sama tinggi kedudukannya dalam hal pengetahuan dan sopan santun, atau akan pergi menyamarkan dirinya ke dalam tangan perempuan yang tidak ada kehormatannya. Apakah yang melarang si laki-laki bercampur gaul dengan perempuan perempuan yang berbudi pekerti, dan apakah yang menegahkan jika seorang laki-laki hendak bergurau .dengan seorang anak gadis yang tiada berhajat hendak kawin?

Sekalian itu boléhlah hilang lenyap, bila pergaulan laki-laki dan perempuan boléh bébas, yakni seperti pergaulan yang telah biasa bagi anak-anak yang telah ber'umur.

Engkau berkata: "Kita anak-anak perempuan sanggup membuat anak laki-laki selalu menurut jalan yang baik, tetapi sayang amat sedikit benar kita mengetahui jalan hidup meréka itu/' Pada waktunya tentulah sekaliannya akan berubah, tetapi dalam itu kami harus bekerja keras, dan kalau tiada demikian, waktu itupun tiadalah pula akan datang. Kami disini, di tanah Jawa, sekarang baru berdiri dimuka pintu perubahan itu. Harus pulakah kami menempuh sekalian jalan-jalan yang engkau sekalian telah arungi, supaya sampailah pula kami kepada waktu yang dipakai oléh bangsa Eropa dalam zaman ini?

Di antara kitab-kitab yang baru sa ya terima, terdapatlah oléhku kitab "Het Jongece", dikarangkan oléh tuan Borel. Benarlah katamu itu bahasa kitab itu yang bagus sekali. Kebanyakan orang disini .memikirkan yang isi kitab itu terlampau dilebih-lebihi dari pada keadaan yang sebenarnya.

Tetapi saya tidak sepakat dengan pikiran meréka itu. Isinya itu tiadalah berlebih-lebihan. Betul, banyak hal keadaan yang tiada sesuai dengan kitab "Het Jongece" itu, tetapi dinegeri saya ini adalah saya ketahui hal-hal yang seperti itu. Demikianlah halnya seorang anak tuan asistén-residén disini umpamanya telah menjelma menjadi "het jongece" dalam kitab tuan Borel itu. Pada suatu kali ia berkata kepada Kardinah: "Ma' muda, saya suka benar kepada anak perempuan-perempuan, karena anak-anak itu pandai tertawa gelak-gelak, .dan meréka berlainan betul dengan anak-anak laki-laki; anak-anak perempuan manis dan lemah lembut kelakuannya." yang mengatakan seperti itu ialah seorang anak yang ber'umur lima tahun. cobalah pikir oléhmu, dirabanya dan diamat-amatinya tangan Kardinah, kemudian ia berkata lagi: "Ma' muda, apakah sebabnya maka anak-anak perempuan lemah lembut?" Kemudian dirabanya tangannya sendiri dan sudah itu berkata pulala: "Sungguhpun saya masih kecil, tetapi saya laki-laki, sebab itulah saya kasar." O, anak itu seorang anak yang sangat manis tingkah lakunya dan bermata bulat dan besar, rambutnya hitam dan ikal. Sebelum ia datang kemari ia telah melihat gambar kami pada seorang sahabat kenalan kami di Surabaya. Ibunya menceriterakan kepadanya, bahasa dinegeri, kemana ia hendak pergi, adalah tinggal disana ma'-ma' yang penyayang. Anak itu berpikir, bahwa .ia harus kawin dan bertanya: "Bundaku! haruskah saya kawin dengan ketiganya, atau dlengan salah satu dari pada meréka itu?"

Tatkala ia datang kemari dan berkenalan dengan kami, maka ibunya bertanya: "Hai anakku, sudahkah engkau pilih siapa yang kausukai? Dengan ma' muda yang manakah engkau suka kawin?"

"O, ma', saya tidak dapat memilih, karena ketiganya sama-sama manis," jawab si anak kecil itu, dan katanya kepada masingmasing kami: "Saya suka kepadamu, kepadamu dan kepadamu, ya, saya suka kepada segala yang baik dan manis didunia ini!" Kalau orang lain menceriterakan hal itu kepada saya, tentulah saya tidak akan percaya, tetapi hal itu saya lihat dengan mata sendiri dan saya dengar dengan telinga sendiri....................................................................

Perkara yang diingini oléh nyonya van Zuylen-Tromp melihatnya, ialah tentang, "hidup anak2 Bumipuetera." Tentang hal itu lebih baik tidak usah saya tuliskan sekarang. Tentang perkara itu banyak yang akan saya ceriterakan dan sekarang mustahillah saya akan dapat membuat ceritera yang senonoh tentang hal itu. Barangkali dua tiga tahun lagi, jikalau saya telah berpikiran yang lebih sempurna dan menjadi agak sabar, barulah saya membuatnya. Sekarang pikiran saya terpusing-pusing, tiada berketentuan, adalah semisal daun-daun yang jatuh, yang dihambus oléh angin. Alangkah bagusnya perbandingan itu bukan? ....................................................................

Pagi-pagi hari disini sangat bagus, malampun demikian pula, dan waktu tengah-tengah hari maulah saya selalu berendam dalam air, jikalau sekiranya air waktu itu tiadalah ngilu-ngilu kuku seperti sekarang.

Alangkah énaknya perasaan disini waktu pagi-pagi; sebab hari masih sejuk dan pemandanganpun amat bagus. Kami pergilah berjalan-jalan keliling kebun, yang penuh berisi dengan bunga-bungaan yang harum dan sedap baunya. Ber­jalan-jalan pagi-pagi dikebun itu suatu kesedapan yang sebenar-benarnya. Kebun kami yang kami buat dan tanami sendiri, sekarang telah mulai berbunga. Betapa bagusnya, bila engkau dapat sama-sama berjalan-jalan dengan .kami dalam kebun itu; sukakah engkau pada bunga-bungaan dan pohon-pohonan? Ma' berkebun sayur-sayuran dan berkebun bunga ros. Kebun kami letaknya dimuka bilik kami. Bila malam purnama, maka pemandangan disana seperti pemandangan didusun-dusun, yang sangat menarik hati. Saudara-saudara saya yang perempuan membawa kecapinya keluar, dan duduk di antara pokok-pokok yang rendah, sambil memetik kecapinya dengan lagu yang merdu. Sesudah berlagu-lagu itu baharulah kami bersuka-suka, berbincang-bincang dan tertawa.

..........................................................................

Kemarahan hatimu kepada perbuatan bangsa Eropa yang telah ditanggung oléh dua bangsaku yang berpengatahuan dan bersopan-santun menyenangkan hatiku. Percayalah engkau bahwa bukannya orang yang bodoh saja, yang berhati tinggi kepada orang Jawa. Beberapa kali saya telah bertemu orang kulit putih, yang semata-mata tidak bodoh, ya, meréka itu sungguh terpelajar dan bangsawan pikiran, tetapi o, sangat tinggi hatinya dan sombong, sombong bukan kepalang. Hal itu menyakiti hatiku bukan buatan, dan acap kalo saya bertemu dengan kebanyakan bangsa kulit putih, jan memperlihatkan dan menyuruh kami merasa, yang kamo bangsa Jawa bukannya manusia. Bagaimanakah kami akan dapat mencintai orang Belanda, bila meréka itu selalu memperbuat kami sedemikian? cinta membangunkan cinta yang lain. Tetapi dengan kehinaan yang hina itu sekali-kali tidaklah akan dapat orang membangunkan cinta. Kami banyak mempunyai sahabat-sahabat di antara orang Belanda, yang kami cintai dan sayangi, ya, lebih dari pada sahabat kenalan bangsa kami sendiri. Meréka itu telah berusaha mengenal dan mengetahui kami, dan meréka itupun mengertilah maksud kami, serta mencintai dan menyayangi kami pula dengan setulus hatinya.

Kami suka sekali kepada bangsa Belanda yang demikian, dan kami ucapkan banyak-banyak terima kasih atas segala kebaikannya, karena kami telah diajarnya. Kami tidak akan melupakan meréka itu, yang telag membangunkan kami dari dunia kebodohan dan telah menolong memajukan kami. Orang Belanda mémang boleh membuat yang tidak adil pada kami, dan saya sendiri akan mencintai meréka itu juga serta mengucapkan terima kasih tentang perbuatan-perbuatan meréka itu yang baik untuk kami.

Orang Belanda mémang boléh mengatakan apa saja sukanya tentang bangsa Jawa, tetapi dalam hal itu tidak percaya saya, yang bangsa Jawa tidak berbudi. Bangsa Jawa sebenar-benarnya ada berbudi, dan meréka itu pandai mengucapkan terima kasih atas kebaikan tentang pemberian harta benda, ataupun pemberian 'ilmu kepadanya. Sungguhpun tanda terima kasih tidak kelihatan dimukanya, tetapi dalam hati meréka itu sangatlah ia sukur dan terima kasih. tidak usahlah hal itu sa ya terangkan kepadamu, Stella, karena engkau memandang sekalian manusia dibumi ini sama rata saja, biarpun ,hitam atau putih kulitnya seperti engkau.

O, saya bergirang hati, ya, bergirang hati amat sangat, sebab saya boléh menaruhmu. Saya tiadalah akan meiepaskan engkau, Stella. Saya sayang sangat akan engkau, sehingga tidak dapatlah saya memikirkan betapa nanti kesudahannya, bila hidup yang diberikan Allah datang menceraikan kita.

Kalau hidup masih dalam diri kita masing-masing, maka lautan yang besar dan luas itu tidak dapatlah menceraikan kita. Rupanya, pikiranlah yang menerbitkan persahabatan dan cinta mencintai, dengan tiada mengindahkan perantaraan yang jauh. Bersesuaian pikiran itulah titian antara laut-lautan yang besar dan tanah-tanah yang luas, itulah titian yang memperhubungkan kita. Berkirim-kiriman surat itulah pendapatan yang amat baik! Selamatlah hendaknya orang yang mula-mula mendapatnya! Pekan yang sudah, datang kepada kami Directeur van O. E. en Niyverheid bersama-sama dengan isteri yang mulia dari Betawi.....................

Stella, saya sangat bersukacita, sebab Directeur itu datang sendiri kemari dengan maksud akan mendengarkan pikiran bapak, tentang buah pikiran kami, hendak memintia kepada Pemerintah, supaya didirikan sekolah-sekolah untuk anak-anak perempuan! Saya ketika itu sakit, saya merasa diri saya sebagai sengsara, karena bukan saja badanku yang sakit, te­tapi hatikupun menjadi pilu. Stella, saya percaya yang mimpi saya untuk kebébasan segera akan hilang. Kepercayaan itu datangnya tatkala bapak memberikan surat dari tuan Direc­teur kepada saya. Dalam surat itu ia meminta kepada bapak memperbincangkan dan menguraikan hal itu. Surat itu sa­ngat membesarkan dan menghiburkan hati saya. Sekalian itu memberi tahu kepadaku bahasa adalah seorang dari pegawaipegawai Pemerintah yang berpangkat tinggi di Betawi kiranya, yang berhati kasih kepadia bangsa Jawa dan perempuan bangsa Jawa. Tatkala mama' datang kebilikku melihat saya sebentar, maka didapatinya saya sedang dengan air mata berlinanglinang dimata. O, saya amat beruntung dan mengucap banyak terima kasih waktu itu! Saya harus dan tentu akan sembuh bila .tuan Directeur itu datang, karena saya hendak berbicara dengan yang mulia itu.

Tuan Directeur datanglah........................tiada sendiri saja......,isterinyapun datang bersama-sama. O, Stella, belum pernah se'umur hidup kami berkenalan dengan orang yang meriangkan dan membesarkan hati kami seperti sekarang. Saya telah mencintai y.m. tatkala saya tahu maksud kedatangannya itu. Percitaanku jadi bertambah-tambah, tatkala saya melihat yang mulia masuk berkeréta ke dalam pekarangan kami, y.m. duduk dibangku dimuka dan isterinya dengan bapak saya duduk dibangku belakang. Bapak saya pergi menjemput kedua y.m. kesetasiun. Saya tahu yang bapak tidak mau duduk dekat isteri y.m. itu, kalau y.m. tidak meminta yang sedemikian dengan sesungguh-sungguhnya. Bagimu, Stella, tentulah hal itu tidak lain dari pada suatu kehormatan yang biasa saja, te­tapi, Stella, tertawakanlah saya oléhmu bila saya mengatakan bahwa itu membesarkan hati saya, dan itulah menyatakan pula kepada saya kerendahan hati y.m. itu. Ketinggian yang ditaruh oleh hampir sekalian pegawai-pegawai disini, tidaklah dapat dalam tubuh yang mulia itu. Saya biasa melihat bapak disini bertempat disebelah kiri dari residén, asistén-residén, biarpun tuan² itu lebih jauh muda dari bapak saya. Bukan saja saya, sedangkan bangsa Eropahpun sakit hatinya melihat keakuan orang berpangkat yang gila akan kehormatan. Diperumpulan kepala-kepala negeri, hanyalah pegawai-pegawai bangsa Eropa dan regén-regén saja yang boléh duduk dikursi, sedang wedana-wedana yang telah berambut putih, harus duduk dilantai yang dingin, beralas dengan tikar bam­bu saja, kadang-kadang tidak pula beralas. Bangsa Eropa biarpun berpangkat rendah sekali berhak duduk dikursi; tetapi pegawai-pegawai. Bumiputera yang tidak seberapa kurang pangkatnya dan pada pangkat regén, telah tua lagi bangsawan dan pandai, wajib duduk dilantai yang dingin itu. Aturan hina itu wajib diturut, bila pegawai bangsa Eropa ada hadir disitu. Sungguh naik benar darah dihati melihat, bagaimana seorang wedana yang telah tua berambut putih jongkok di tanah untuk kangjeng tuan aspiran, seorang anak kecil yang kemarin baru keluar dari sekolah. .Tetapi padalah hal ini............. Berbéda sungguh dengan kehormatan y.m. itu seorang yang berpangkat tinggi, itulah sebabnya maka ia meriangkan hatiku bukan buatan.

Kami dengar tuan Directeur itu berkata kepada bapak: "Saya. telah pergi kemana-mana di tanah Jawa dan telah bermusyawarat dengan kepala-kepala negeri, regén.

Tuan sendiri telah memberi contoh menyuruh anak-anak perempuan pergi belajar kesekolah. Saya bertanya kepada anak-anak perempuan yang masih bersekolah, ada sukakah meréka itu meneruskan pengajarannya. Sekalian meréka itu menjawab dengan bersukacita: "ya!" Tuan Directeur itu bertanya kepada bapak, bagaimana patutnya sekolah untuk anak-anak peiempuan itu akan diaturkan, dan dimana baik didirikan dahulu untuk percobaan, di Jawa Barat, Tengah atau Timurkah?

O, Stella, mataku menjadi bercahaya-cahaya, telingaku menjadi tajam dan kalbuku berdebar-debar, karena keriangan tatkala mendengar sekalian itu. Tentulah akan datang suatu cahaya, yang akan menerangi dunia perempuan lagi, yang gelap .gulita dan celaka itu. Waktu tuan Directeur itu bercakap-cakap dengan bapak, maka nyonyapun berbincang-bincang dengan kami. Alangkah besar hati kami mendengarkan tuturnya!

Nyonya menceriterakan kepadaku, apa-apa maksud suaminya dan bertanyakan bagaimana pikiranku dalam hal itu. "nyo­nya, pikiran kami bila disampaikan, tentulah akan menjadi berkat bagi dunia perempuan bangsa Bumiputera. Berkat itu bertambah besar bila anak² perempuan itu dapat pula mempelajari .suatu 'ilmu pekerjaan, yang kemudian hari kelak dapat menolong dirinya, untuk mencari penghidupan sendiri, kalau-kalau meréka itu nanti mendapat kesusahan, karena kemajuannya itu; jadi 'ilmu itu boléhlah menolongnya untuk mencari rezeki. Anak perempuan yang telah berpengetahuan dan luas pemandangan tiadalah lagi dapat hidup senang dalam dunia nénék moyangnya yang kuno itu. Setelah orang mengajarnya bébas sedikit, teruslah ia dimasukkan orang ke dalam penjara, dan seteliah ia diajar orang terbang, lalu ia dimasukkan orang dalam sangkar. Tidak mungkin perempuan yang sebenarnya terpelajar, mustahillah akan merasa senang dalam dunia bangsa Bumiputera, kalau sekiranya dunia ini masih tinggal seperti sekarang ini. Sampai sekarang hanyalah sebuah saja jalan yang terbuka yang boléh ditempuh oléh anak² perempuan Bumiputera un­tuk masuk ke dalam hidup bersama-sama yakni "kawin." Bagaimana caranya perkawinan dalam dunia Bumiputera, ten­tulah nyonya telah tahu. nyonya telah sekian lama di tanah Jawa. Kami merasa beruntung, yang suanyi nyonya akan memberi pendidikan dan pengetahuan untuk anak-anak pe­rempuan, tetapi dalam sekolah itu baiklah diajarkan pula barang sesuatu 'ilmu pekerjaan. Kalau demikian tentu bertambahlah kebajikan, yang diberikan oléh suami nyonya dalam dunia bangsa Bumiputera, ya, itulah suatu berkat yang sebenar-benarnya."

"Hai suamiku, adakah kaudengar katanya itu?" tanya nyonya itu kepada suaminya dengan bersukacita. "Si gadis ini meminta sekolah yang berpengajaran bermacam-macam 'ilmu pekerjaan untuk anak-anak perempuan bangsa Bumi­putera."

Dengan héran tuan Directeur itu bertanya kepadaku: "Betulkah Radèn Ajeng meminta sekolah yang demikian? Bagaimanakah kemauan tuan? cobalah ceritakan kepadaku, hendak jadi apakah tuan?, dokter?" Saya merasai ketika itu segala mata terhadap kepadaku, lebih-lebih mata orang tuaku serasa membakar mukaku, maka sayapun lalu menundukkan kepala. Dalam telingaku mendengung-dengung dan mendesir-desir sebagai suramu, Stella, yang mengatakan kepadaku: "Kartini, beranikan dirimu, jangan gentar!"

Cobalah tuan katakan, hendak menjadi apa yang tuan sukai? O, Saya tahu tuan hendak menjadi pengarang, tetapi untuk hal itu tidak lah usah diajari lagi. Sebab kalau tuan hendak menjadi pengarang, dapatlah tuan menolong diri sendiri!" kata tuan Directeur itu pula.

Untuk belajar, sayang waktunya itu bagiku telah lalu; walaupun demikian dalam hal itu saya tidak boleh mengejapkan mata, tetapi saya wajib berani memandang keatas dan menentang kemuka.

Stella, Stella, janganlah kiranya engkau lepaskan saya, genggamlah tanganku dalam tanganmu dan bimbinglah saya! Dari engkaulah datangnya kekuatan yang memberanikan hatiku, janganlah engkau biarkan saja saya seorang diri! Bila sampai kiranya maksudku, maka kejadian itu ialah oléh karena kerjamulah, wahai kekasihku! nyonya itu lama memperbicangkan ini dan itu dengan saya, yaitu memperbicangkan perkara yang telah acap kali kita berdua memperkatakannya, "perkara perempuan."

Tatkala kami malam itu hendak pergi tidur, nyonya itupun mengambil tangan saya dengan kedua belah tangannya, dan digenggamnya tanganku sampai panas, seraya berkata: "Sahabatku, tentang hal itu nanti kita hubung lagi percakapan kita. Saya suka menulis panjang dan kerap kali kepada tuan, maukah tuan berbuat sedemikian pula kepadaku? ceriterakanlah banyak-banyak kepadaku, ceritakan semua!"

Bésok paginya kami antarkan meréka itu berangkat. Tiga jam lamanya kami duduk bersama-sama dengan nyonya dan tuan itu dalam keréta dan dikeréta api, maka sementara itu nyonya dan sayapun senantiasa bercakap-cakap saja. Sungguhpun kemarin malam sudah pukul dua belas kami baru bercerai pergi tidur, tetapi nyonya rupanya malam itu juga telah menceritakan sekalian yang diketahuinya tentang hal kami kepada suaminya.

"O regén", berkata nyonya itu acap kali, "berikanlah anak-anak tuan ini kepadaku, suruh dia pergi ke Betawi. Lepaslah si gadis ini datang kepadaku, saya sendiri suka datang menjemputnya." Bapak berkata kepada nyonya, yang ia sungguh telah bermaksud, dalam tahun ini akan melepaskan dia pergi ke Betawi: "Tetapi tinggal disana tentulah di rumah ibunya, bukan, nyonya?" Maksud bapak mengatakan "dia" yaitu saya sendiri. tidak tahulah saya akan maksud perkataan itu, entah main-main saja, entah sebenar-benarnya?

Nyonya suka yang kami mestilah hendaknya pergi ke Betawi, ialah akan bercakap-cakap sendiri dengan orang-orang besar disitu, untuk membéla untung nasib perempuan bangsa Bumiputera. O, Stella, saya berharap yang saya dapat dan boléh membéla itu dengan baik. nyonya akain pergi ke Bogor, pergi bertanya kepada nyonya Roseboom, kalau-kalau nyonya besar itu ada sempat akan mendengarkan ceritera keadaan bangsa Jawa.

Ketika akan bercerai, nyonya itu berkata kepadaku: "jangan takut2, selalu berani dan percaya. Keadaan yang hina itu tidak boléh lebih lama dibiarkan begitu saja, sekalian itu wajib dan patut akan diperangai. jangan cemas." Stella, sedang bermimpikah atau sedang bangunkah saya? Adakah sungguh2 akan datang perubahan bagi kami? Boléhkah kami berharap, yang mimpi kami itu dapat disampaikan dengan sebenarnya? Banyak lagi yang saya dengar. Banyak lagi nyonya Directeur menceriterakan kepadaku; tetapi saya tidak berani menceriterakannya kepadamu. Karena sekalian hal itu masih jauh tempatnya, tetapi cahayanya dan sinarnya telah sampailah kemukaku. Nanti, nanti, Stella, kekasihku, kalau keadaan itu telah ada dalam tanganku dan telah kupegang teguh2, sehingga ia tidak dapat lari lagi, pada waktu itulah engkau dapat mengetahui, apa yang sebenarnya yang telah kurahsiakan itu. Saya telah bertanya kepada saudara-saudaraku, masih hidupkah saya karena hatiku sekarang merasa amat beruntung dan berbahagia yang tiada berhingga! Berdoalah engkau untukku, Stella, moga-moga sekalian itu jangan hendaknya tinggal cita-cita dan kenang-kenangan saja! Karena ma'lumlah, kalau sekiranya harapan itu putus, mémanglah sematamata ia akan mendukakan hati benar! Oléh sebab itu tidak usahlah saya sekarang terlalu bersukacita benar, karena hal itu belum ten tu, dan lagi dalam. hal itu boléh pula salah jalannya dan buruk kesudahannya.

Guru sekolah nomor dua akan segera pergi ke Eropa; tidak baikkah menurut pikiranmu, yang guru itu diganti dengan seorang guru perempuan? Tuan Directeur akan menyuruh seorang guru perempuan Belanda kemari, tua atau muda samalah saja bagi kami; tetapi ia wajib hendaknya seorang berpengetahuan dan bersopan santun, yang boléh tempat kami bertanya dan belajar. Itulah yang mula-mula dapat dibuat tuan Directeur itu untuk kami dan kemudian; o, Stella, fcatkala ia melihat-lihat di rumah hasil pekerjaan kami seperti: gambar-gambaran, patung-patung dan sebagainya, maka tiba-tiba bertanyalah ia: "Dapatkah dalam témpoh setahun lamanya menyediakan sekaliannya itu, untuk dipertunjukkan pada pasar malam?" Ia merasa sayang sekali yang kami tidak lagi mengirim barang-barang untuk pertunjukan besar di Perancis. Bésoknya ia berkata, yang ia akan memperbincangkan dengan meréka yang berkuasa di Betawi, supaya pada tahun yang akan datang dapat diadakan pertunjukan perusahaan anak Bumiputera di Betawi. "Raden Ajeng mesti mengirim sekalian barang-barang yang telah kami lihat disini."

O, Stella, tidak dapat saya berkata ketika itu, hanya saya pandang saja tuan dan nyonya dengan air mata yang berlinangé-linang dimataku, oléh karena kebesaran hati.

Apakah kiranya sebabnya maka kami mendapat sekian banyaknya kasih sayang dan bahagia? Dahulu dari pada itu belumlah kami mengetahui nyonya dan tuan Directeur itu. Kami hidup sekarang sebagai dalam mimpi. Bagi kami tidak adalah hari kemarin atau hari bésok, hanyalah yang kami ketahui ialah hari sekarang, yang bersinar-sinar dengan untung dan bahagia! Kebagusan yang banyak itu memeningkan kepala dan menakutkan hatiku. O, kebalikannya akan menyedihkan hati kami bila mimpi dan cita-cita, yang ada pada kami itu akan hilang lenyap seperti asap saja. Setiba saya di rumah, dengan segera saya ambillah kertas dan péna, lalu menulis sepucuk surat yang riang dan bersukacita kepada sahabat kami, nyonya Ovink, karena dua tiga hari yang lalu tentulah ratap tangisku telah sampai kepadanya, dan ma'lumlah yang nyonya itu, ialah seorang ma'ku yang baik budi, haruslah pula mengetahui bahwa saya, anaknya, telah tiba-tiba beruntung kembali. tidak sedikit juga saya berceritera kepadanya, sekalian apa yang telah saya ceriterakan ketika ini kepadamu; hanyalah saya kabarkan dengan ringkas, yang saya sekarang ada merasa diriku sangat beruntung, hidup bergirang hati dan penuh dengan kesukaan. Tetapi kepadamu semuanya saya ceriterakan, kecuali yang satu tadi. Engkau berhak mendengar dia, karena sekalian kerja itu yang sebenarnya ialah kerjamu, tetapi untuk kebaikanku. jikalau saya putus asa tentulah pertolonganmu yang 'umum itu akan memimpinku, ajakan dan bujukanmu itu akan menguatkan hatiku, sekiranya saya merasa yang saya tidak berdaya lagi. Stella bila saya pernah-pernah dapat membuat barang sesuatu untuk saudara-saudara saya dipulau Jawa, tentulah keadaan itu semata-mata oléh karena pertolonganmu.

Saya telah menceriterakan kepadamu, bahasa nyonya Ter Horst telah berjanji kepadaku, yang saya boléh mengarang dalam surat kabarnya, untuk pembéla untung nasib perempuan bangsa Bumiputera, dan ia berjanji pula akan menyembunyikan nama saya, dan akan memperbuat karang-karanganku nanti sebagai percakapan dua orang anak regén perempuan. nyonya itu suka membuat segala apa, yang dapat dikerjakannya untuk memajukan perkara-perkara yang baik, asal saya suka mengatakan bagaimana patut dibuat. O! Stella, Stella, alangkah banyaknya sekarang keriangan yang telah diberikan orang ketanganku. Bapakkupun telah mengizinkan saya pula membuat itu. Saya berharap yang Tuhan akan memberi saya kekuatan untuk mengerjakannya.

Bantu serta kuatkanlah saya ini, wahai sahabatku! Kirimlah surat panjang-panjang kepadaku, Stella! Saya belajar karang-mengarang itu dengan mengarangkan barang sesuatu, yang biasa kejadian pada hidup kami sendiri. Sebuah dari pada karanganku telah keluar dalam surat chabar "Echo." Nama samaran yang saya pilih, ialah "tiga saudara", karena kami bertiga menjadi satu. Tetapi dengan segera diketahui orang siapa "tiga saudara" itu. Dalam surat kabar Hindia "Locomotief" adalah suatu pujian tentang karangan itu. Hal itu menggaduh hatiku. Sedianya saya lebih suka yang orang merahsiakan sekalian yang saya karangkan. Kurang senang hatiku, bila saya diperkatakan orang seperti itu. Barangkali orang menyangka yang saya mempermain-mainkannya, tetapi betul-betul saya tidak suka kepada puji-pujian itu. Tetapi kabar yang didalam surat kabar itu ada kebaikannya, ya, adalah kebaikannya yang amatsangat. Lihatlah, bulan yang lalu dua helai surat bulanan yang baru, untuk bangsa Bumiputera dikirimkan orang kepada bapa, serta berikut dengan sepucuk surat, yang isinya meminta supaya "tiga saudara" sudi membantu surat bulanan itu. Itulah surat bulanan yang pertama-tama kali dalam bahasa Belanda, yang telah didirikan untuk bangsa Bumiputera. ucapkanlah selamat kepadaku, karena surat bulanan yang sedemikian te­lah terbit. Saya berharap, banyaklah hendaknya keselamatan "bahasa Belanda" untuk bangsaku, untuk kami bangsa Bu­miputera. Surat bulanan yang baharu itu haluannya seperti s.b. Lelie! Bunga Belanda, yang telah menébarkan baunya dan kebagusannya sampai ketanah Hindia, tanah yang sejauh itu! Sekarang surat kabar "Echo," bertukar dengan "Nederlandsche Taal"! Engkau tentu boléh ma'lum, bahasa saya sekarang telah menulis sepucuk surat, dengan bergirang hati, kepada juru kabar dan orang yang mendirikan surat kabar itu (Directeur sekolah Ménak di Probolinggo) dan mengabarkan yang saya mau mengarang dalam surat kabarnya. Baru sebentar ini orang datang membawa balasan surat itu kepadaku. Dalam surat itu ia memberi pokok-pokok yang disukainya, yang akan, saya karangkan. Stella, cobalah engkau ketahui apa yang mula-mula saya baca dalam surat bulanan itum yaitu: "Pengajaran Bumiputera untuk anak-anak perempuan,” kemudian "Adat² Bumiputera,” dan akhirya "Kepandaian bangsa Jawa.” Tentulah engkau akan berkata kepadaku: "Kartini, janganlah engkau mengatakan engkau tidak pandai dan tidak cakap, tetapi katakanlah: "saya suka.” Sayapun suka, Stella, saya suka dan mau sekali mencobanya. Saya berharap amat sangat yang engkau akan menghargai kekuatanku, biarlah jangan berlebih-lebihan. Kalau demikian tentulah saya akan bekerja dengan sebaik-baiknya. yang hendak saya ceriterakan sekarang lagi, ialah bahasa kami bertiga telah mulai mempelajari bahasa Perancis dengan memakai kitab-kitab pelajaran karangan Servaas de Bruiyn. Telah kami tammatkan tiga empat buah kitab itu, dan sekarang kami hendak meminta kepadamu, supaya engkau mengatakan kepada kami nama-nama kitab pembacaan dalam bahasa Perancis yang mudah-mudah yang akan kami baca-baca periangkan hati. Bapak telah memberi izin kami boléh belajar lagi bahasa jérman, tetapi bila pelajaran bahasa Perancis kami habiskan, kemudian kami berharap akan memulai pula mempelajari bahasa Inggeris. Tetapi pikiran kami bahasa jérman kemudian sekalilah. bila kami masih hidup juga. Sekarang kami mencoba membaca surat-surat kabar bergambar dalam bahasa Peran­cis, tetapi membaca dan mengerti itu dua macam, bukan? Mula-mula sekali kami telah membuat salinan yang segila-gilanya, tetapi sukurlah, makin lama adalah makin bertambah baik. Masih banyak harapan kami. Rukmini adalah berceritera pada suatu hari yang ia bermimpi dalam bahasa Perancis, ia bersama-sama dengan Chateaubriand di Louisiana, suatu tanah ajaib, yang diceriterakan oléh Chateubriand itu. Bahasa Perancis banyak bersamaan dengan bahasa kami, tentang susunan kata-kata dan hurufnya sama benar dengan bahasa kami. Sahabat baharu kami, nyonya Directeur, berkata kepada suaminya: "Saya suka belajar bahasa², wahai suamiku, betapalah suka hatiku kalau sekiranya saya sendiri dapat mengajarkan bahasa-bahasa itu kepada si gadis itu!” Kemarin saya telah mendapat sepucuk surat yang 20 halaman panjangnya. Alangkah manis isi surat itu. Ia berkata, bahasa menurut perkataannya, ia akan bercakap-cakap lagi dengan kami nanti sekali lagi, dan iapun percaya yang perasaan itu akan terjadi. Sayapun bersama-sama berharap demikian. "Bertanyalah pada waktu yang akan datang!" kata suratnya kepadaku. Dan sayapun percaya sungguh, sekiranya engkau dan nyonya itu ada selalu disisiku. Suratnya selalu membuat saya menjadi kemalu-maluan seperti suratmu juga, engkau dan nyonya itu selalu berpikir baik untuk hal keadaanku. O, moga² janganlah hendaknya saya akan mengecéwakan meréka itu, yang sekian mudahnya telah mempercayai saya! Perasaan itu datangnya dari hati kecilku, sebagai suatu doa dalam waktu yang sunyi dan baik. Sungguhpun begitu, Stella, mémanglah kita ini penuh dengan lingkungan teka-teki dan rahsia, apalagi manusia tiada berhati tetap. Hal itu bukanlah menunjukkan manusia berpekerti buruk. Bahwasanya amat banyak hal keadaan yang boléh mendatangi hidupnya itu. Adalah hal itu yang menjadikan seorang berani dan ada pula menjadikan seorang penakut. janganlah lekas disalahi seseorang yang rupanya telah membuat kelakuan yang hina, sebelum engkau ketahui sebab-sebabnya.

Saya amat banyak merasa dalam beberapa hari yang achir ini. Kebanyakan perasaan itu merawankan hatiku. Mula-mula saya hampir putus asa, karena saya menyangka bahasa mimpi kebébasanku rasanya dengan tiba-tiba telah dikuburkan de­ngan sedalam-dalamnya, dan saya wajib dengan sekuat-kuatnya mengangkat kembali keatas. Setelah itu datang sahabatsahabat dari Betawi, dan perasaan yang berbahagia meliputi segenap tubuhku, sehingga menjadikan saya pening dan pingsan karena sukacita. Waktu itu mémanglah saya dalam mabuk kesukaan yang amat sangat, hampir saya tidak dapat bernapas lagi. Terperanjat besarlah yang membangunkan saya dengan ganas dari mabuk kesukaan itu. Dalam hal itu diriku sendiri tidaklah kuingat lagi, karena ingatanku, tujuannya hanyalah kepada seseorang yang saya cintai amat sangat. Sayapun lalu mengeluh dan dipapah.

O, mengapa? Mengapakah suka dan duka itu wajib selekas itu berturut-turut? Saya tidak dapat memikirkannya, hanyalah merasa saja kesakitan yang amat sangat itu dalam hatiku. Sekarang darahku telah pulang kembali seperti semula dan boléhlah berpikir sebagai biasa.

Kasihan bapaku yang dicinta itu, ia telah banyak benar menanggung dukacita, sebab hidupnya selalu membawa kecéwa yang menyakitkan hatinya. Stella, bapaku tidak ada lain yang disayanginya lain dari pada anak-anaknya, kami semuanya buah hatinya dan penglipur dukanya. Saya dalam hal itu sa­ngat mencintai kebébasan. O, itulah yang berguna untuk hidupku dan untuk hidup saudara-saudaraku perempuan. Saya sungguh suka sekali menolong adik-adikku dan maulah saya menjadi kurban masing² meréka itu, bila kurban itu mendatangkan kebaikan untuknya. Saya pandang keadaan yang seperti itu sebagai suatu kewajiban yang berbahagia. Tetapi dari pada ketiga saudara itu, bapakkulah yang lebih saya cintai dan saya sayangi dan badankupun terserahlah kepadanya. Stella, engkau tentu mengatakan penakut, dan tidak berpikiran yang tetap, benarlah itu, tidak dapat saya ubah lagi. Sebab bila bapak tidak mau, yang saya akan mengurbankan diriku, betapa sekalipun ratap tangis dalam hatiku, mestilah saya akan menurut kata bapaku. Saya tidak berani lagi melukai hatinya yang setia, yang selalu mencintai dan menyayangi saya. Hatinya yang setia itu telah padalah hendaknya mengeluarkan darah. Sungguhpun hal itu terjadinya bukannya karena kesalahanku. Engkau berkata yang engkau tidak dapat mengerti apa sebabnya orang wajib kawin. Engkau selalu memperlawankan mesti dengan "mau". Itu benar, tetapi saya sendiri tidak dapat memperlawankan itu, karena cintaku kepada bapakku bukan sedikit. Apalagi tidak sanggup saya, karena saya tahu, perboaatan itu boléh mendatangkan sengsara yang amat berat kepadanya. Apa-apa saja yang hendak saya buat sekarang, bukanlah saya pandang seperti suatu "kewajiban", te­tapi hanyalah kerja itu mendatangkan suka "bapak." Saya menulis, menggambar, dan bekerja sekalian itu karena bapak berbesar hati sebab itu. Saya akan bekerja keras dan dengan sungguh hati akan membuat barang sesuatu yang baik, yang boléh meriangkan hatinya. Stella, engkau tentu akan mengatakan saya gila, berlebih-lebihan, tetapi itulah yang dapat saya perbuat, supaya bapakku tetap menyayangi dan mengasihi saya. Saya tentulah akan berdukacita amat sangat, bila bapak­ku melawani maksudku untuk mencari kebébasan, tetapi lebih-lebih lagi dukacitaku, bila sekiranya kehendakku sampai, dan dalam hal itu kasih sayang melayang dari tubuhku. Kasih sayang itu mémanglah tiada akan hilang, saya tidak percaya ia akan lenyap sama sekali, perbuatanku itu tentulah merusakkan hatinya. Dari perbuatan orang lain barangkali dapat ia menahan kecéwa itu, tetapi dari saya tentulah akan melukai hatinya, karena ia lebih menyayangi dan mengasihi saya dari pada orang yang lain. Kepada bapaku, cinta dan sayangku bukan buatan! Stella, alangkah ajaibnya halku ini? Seorangpun boléh dikatakan tidak pernah menggoda dan mendukacitakan saya, tetapi saya selalu ada berpenanggungan. O! perasaan yang dalam, itulah penanggunganku, tetapi tidak lain lagi kehendakku ialah penanggungan itu. Meskipun penanggungan itu melukai hatiku, tetapi iapun kadang-kadang memberi bahagia yang tidak ada hingganya kepadaku. Betapa besarnya bahagia itu tidak dapatlah pula dikira-kirakan oléh jauhari dan bijaksana.

Augustus 1900 (II)Sunting

Saya bertanya kepada bapak: "Sekarang kalau kami tidak boléh pergi kenegeri Belanda, boléhkah saya pergi ke Betawi belajar 'ilmu dokter?" Bapak menjawab dengan ringkas dan baik: "Anakku wajib, tidak boléh melupakan yang engkau anak Jawa dan sekarang belum boléh anak perempuan menurut jalan itu ............ boléh jadi 20 tahun lagi keadaan itu akan bertukar, ............ tetapi sekarang belumlah boléh ............atau kalau diturut juga tentulah engkau akan mendapat kesusahan, ............ karena dalam hal ini tentulah eng­kau anak perempuan pertama-tama sekali." Bapaku tentulah tidak dapat menentukan hal itu dengan sekejap mata. Bapakku tentulah lebih dahulu akan memikirkannya pand yang lébar dan bermusyawarat dengan orangorang lain. Itulah suatu tanda yang menyatakan, bahasa bapa semata-mata tidak menolak buah pikiranku? dan bapapun tahu juga yang saya setiap masa dan ketika selalu hendak jadi bébas, merdéka dengan tegak sendiri, ia pun tahu juga yang saya tidaklah akan beruntung dalam hidup perkawinan seperti adat yang lazim sekarang. Setelah itu saya bertanya lagi: "Tetapi apabila sekolah anak perempuan Bumiputera yang akan dibuat oléh tuan Mr. Abendanon itu sampai terdiri, boléhkah saya menjadi guru disitu?"

Dan lagi saya ceriterakan pula lebih panjang, apa-apa yang telah diminta oléh nyonya Abendanon kepadaku, dan apa-apa yang lain, yang dikenangkannya juga.

O, ma', sebagai mendapat gunung intanlah saya rasanya, dan seakan-akan terbanglah rasanya saya diawang-awangan, karena kegirangan hati, tatkala kudengar bapak menjawab: "Itu baik, itu bagus! Itu mémang boléh engkau kerjakan!"

Kalau demikian perlulah saya lebih dahulu pergi belajar untuk pekerjaan itu. Saya wajib tiga empat tahun belajar disekolah geréja, dan kemudian terus membuat ujian. Sebab kalau sekiranya tiada mempunyai surat tammat belajar, tidak maulah saya menjadi guru sekolah.

Bapapun membenarkan hal itu, dan meluluskan kehendakku. O, ma', alangkah beruntung saya sekarang ini, tidak pernahlah saya sangka-sangka hal itu dengan mudahnya saja dapat diperkenankan oléh bapa. Sepatah juapun tidak ada kata-kata yang keras, pedih dan tajam dari bapa, meskipun telah banyaklah yang terpikir diotakku karena hendak menyampaikan maksud ini ............. biarlah, saya terima sukurlah sekalian itu dengan hati yang ichlas. Tetapi bapa berlaku dalam hal itu nyatalah benar-benar dengan lemah lembut dan dengan kasih sayang.

O, sekali-kali tidak adalah sedikit jua salah sangka-sangkaku tentang kesayangan bapak kepadaku, ia merasa dan hidup betul-betul bersama-sama dengan anaknya. Sayapun ma'lum kalau saya menanggungkan suatu kesusahan, maka bapak sendiri lebihlah menanggungkan hal itu dari pada saya; dan harapannya sama-sama besar dengan pengharapanku, tentang menantikan suatu keputusan yang memberi kebajikan di­ atas diriku.

O, ta dapat saya rencanakan betapa hatiku bersuka raya, bersimaharajaléla, waktu saya mendapat ketentuan yang berbahagia itu, yakni ketika saya mengetahui, bahasa bapakku yang kucintai dan aku sayangi itu meluluskan buah pikiran, kehendak dan keinginanku dengan tidak mendukakan dirinya sendiri!

Oléh karena memikirkan bapaklah maka saya merasa diriku putus asa, dan berbulan-bulan lamanya pikinanku bimbang dan lemah, ya, takut-takutan, karena saya sekali-kali tidak sampai hati akan merawankan hatinya. Sekalian itu mestilah saya lakukan demikian, karena saya sekali-kali tidak mau, tidak suka merendahkan kehormatan hati dan darajat kemanusiaan pelempuan yang ada dalam diriku. Saya harus melawani segala maksud meréka itu yang akan menghinakan perempuan. Saya perlu sekali dalam hal itu, dan tidak boléh berdiam diri saja. Sebenar-benarnya mémanglah keras dan hébat peperangan dalam hatiku pada masa itu. O, bapak sekarang telah berkawanlah dengan saya, karena itulah kesusahan yang sebesar-besarnya sekarang telah terhapus pula, dan alangan yang sebesar-besarnyapun telah lenyaplah. Karena saya tahu bahasa bapa ada disisiku, sekarang saya tidak gentar dan tidak ngeri lagi, melamkan dengan suka dan riang, dengan langkah yang ringan dan tersenyum-senyum dapat pergi menentangi musuh.

Sekarang hanya tergantung kepada kemauan dan kesanggupanku sendiri saja lagi, untuk akan menyampaikan maksud-maksudku itu! Harapanku sangat besar dan keberanianku tidak kurang. Ma', tolonglah beranikan hatiku selalu! De­ngan segera telah saya minta kepada bapak, boléhkah saya kabarkan kabar baik ini kepada nyonya Abendanon, jawabnya: boléh. Pada malam itu juga saya tulislah sepucuk surat kepada nyonya Abendaaion dan sepucuk kepada ma' sendiri.

Sekarang tinggallah lagi suatu angan-anganku, dapatlah kelak didirikan sekolah anak perempuan itu, tetapi dalam hal itu saya putus asa. Beberapa tanda-tanda telah membayang, menyatakan bagaimana susah orang-orang' yang berpangkat tinggi, hendak mempertinggi kedudukan dunia bangsa Bumiputera dan hendak memancarkan cahaya ke dalam alam perempuan bangsa Bumiputera dan hendak mengeluarkan perempuan-perempuan itu dari keadaan yang penuh berlumur dengan kesengsaraan. Biarlah orang-orang yang berpangkat tinggi seperti itu sekarang masih belum banyak didapati.

Di jokja kami pergi mengunjungi nyonya Ter Horst sebagai yang telah saya kabarkan, kepadla nyonya. Ia amat baik dan peramah, dijemputnya kami dari setasiun, tetapi ia tidak bertemu dengan kami disetasiun itu, karena kami telah turun dari keréta disetasiun lain, dan dirumahnya disediakannyalah makan-makanan untuk kami. Kami datang kepadanya hanya hen­dak berjabat tangan saja, tetapi ia banyak hendak berbincang dengan saya. Ia berceritera kepadaku bahasa residén de B, yang belum lagi mendengar maksud tuan Mr. Abendanon, telah bermaksud dengan sungguh-sungguh, hendak mendirikan sebuah sekolah untuk anak-anak perempuan daii kepala-kepala bangsa Bumiputera. Maksud itu seboléh-boléhnya dilangsungkan dengan pertolongan Pemerintah, kalau tidak dapat, dengan pertolongan partikulir saja. Residén itu meminta kepadanya akan mengaturkan maksud itu, dan setelah itu boléhlah residén itu sendiri nanti meneruskan pekerjaan itu, lalu saya terangkan, bahwa barang sesuatu yang baik tentang pengajaran dan penge.tahuan untuk anak-anak perempuan hendaklah disama ratakan saja, meski untuk anak-anak kepala-kepala yang berpangkat tinggi, atau yang berpangkat rendah, sóepaya kema'muran dan budi pekerti anak negeri jadi bertambah-tambah dalam dan lébar.

Bahwasanya mémang adalah orang yang berhajat dengan sungguh-sungguh hendak memberi pengajaran untuk anak-anak perempuan bangsa Bumiputera. Bila usaha tuan Mr. Abendanon untuk mendirikan sekolah anak perempuan itu tidak sampai, tetapi saya harap Allah akan menolongnya akan menyampaikan jua maksudnya, dan tentulah saya tidak akan menjadi guru, saya minta kepada nyonya, yang nyonya tidak membiarkan saya sendiri saja, bukayn ma'? Dan sukakah nyonya pula menolongku memintakan saya izin kepada bapak, supaya saya boléh belajar menjadi dokter? Atau tidak sukakah tuan kedua saya menjadi dokter itu? Kalau tuan suka maka tuan kedualah yang dapat memintakan itu kepada bapak.

Semenjak petang yang tidak mudah dilupakan itu, kasih bapak dua kali lebih ganda kepadaku. Bicaranya sangat lemah lembut, dirabanya kepalaku dan dipeluknya dengan kedua tangannya, seolah-olah tangannya itu hendak melindungi saya dari kecelakaan yang akan datang.

Saya ketahui sekali itu, dan saya rasa kasih sayangnya yang tiada berhingga itu, sebab itulah saya menjadi manja dan berbahagia benar!

Sejak kami kembali dari Betawi, adalah perasaan kami sekarang, seolah-olah kami pulang kerumah, hanyalah akan melepaskan lelah dan pergi berjabat tangan saja, setelah itu hendak terbang kembali ............ Kemana????? Saya sekarang hendak merasai benar-benar kesedapan tinggal di rumah, karena dimana juapun dialam ini tiadalah sebaik tinggal di­rumah orang tua sendiri, dan hal itulah yang telah menimbulkan terima kasih dalam hatiku, apabila ésok atau lusa saya meninggalkan rumah orang tuaku; pergi itu tentulah dengan berkat doa bapaku. Saya harap sungguh-sungguh, demikianlah pula hendaknya dengan saudara-saudaraku yang lain.

Dahulu saya belajar adalah dengan mudah............. saya tidak pernah tercécér di belakang............. tetapi antara dahulu dengan sekarang telah amat lama. Sekalian yang telah saya pelayari disekolah perubel, saya telah lupa. Waktu 'umurku dua belas setengah tahun, tatkala itulah saya meninggalkan sekolah itu. Tetapi kalau mau, hampir semuanya boléh dapat, bukan, ma'? Dalam segala hal saya akan mengusahakan diri dan akan bekerja keras. Doakanlah saya oléh tuan kedua. Moga-moga hatiku tetap selalu, cukup dengan kemauan dan keberanian yang hidup, hai kekasihku! Sekarang semuanya dengan tulus dan ichlas telah saya ceriterakan kepada tuan, o, ma'ku! Bagaimana pikiran tuan ke­ dua tentang sekalian hal itu? Katakanlah dengan terang kepadaku buah pikiran tuan kedua, saya semata-mata anak tuan, dan tuan tahu, betapa besarnya saya hargai buah pikran tuan kedua.

Saya menulis surat dengan kepercayaan sesungguh-sungguhnya, bahasa tidak adalah orang yang lain, yang lebih mengindahkan hal keadaanku, hanyalah tuan kedua. Hal itu berhubung kuat dengan nasibku piada waktu yang akan datang. Lain dari itu sayapun tahu juga, bahasa saya setiap wak­tu boléh datang kepada tuan kedua, akan meminta nasihat, pertolongan dan pergi melipurkan hati. Oléh karena itulah kelak saya akan datang kerap kali kepada tuan.

7 October 1900 (VIII)Sunting

Saya menanti waktuku dengan sabar. Apabila waktu itu datang kelak, disitulah nanti orang akan melihat, yang saya bukanlah suatu benda yang tidak ada bernyawa, tetapi ialah sebenarnya seorang manusia, yang berotak dan berhati, ada berpikiran dan ada berperasaan. 92

Mémang menjadi suatu kelobaan yang terlampau kepadaku, karena saya akan menjadikan nyonya seorang kawan yang sama-sama bepercintaan. Percintaan itu kutaruh, kusembunyikan dalam kalbuku dan mendatangkan keriangan kepadaku, tetapi kepada nyonya, nyonya menjadi..........................kedukaan! jadi dukacita itulah yang saya berikan kepada sekalian meréka yang sayang kepadaku! O, sekarang maulah saya berteriak keras mengatakan kepada nyonya, karena saya sangat cinta kepada nyonya: "Lepaskanlah saya, dan tariklah diri serta kasih nyonya kembali dari saya! Buanglah saya dalam ingatan tuan! dan dari hati nyonya! Biarkanlah saya berperang sendiri! O, Allah Tuhan yang kaya, rupanya tiadalah nyonya tahu berapa dalamnya dan besarnya lubang, yang nyonya hamburi karena nyonya mengasihiku! Biarkanlah saya sendiri! Biarkanlah saya selalu sukur kepada Allah, karena saya telah menerima kasih sayang dan pertolongan dari nyonya; bahwa nyonyalah jua yang menyimpangkan jalan hidupku kejalan yang telah nyonya taburi dengan intan permata dan bunga-bungaan. Misalkanlah perjumpaan kita yang sudah² sebagai kapal-kapal yang bersabung dilautan luas, pada malam gelap gulita. Kita berjumpa dalam kelam, beri-memberi selamat dengan riang, kemudian tampaklah jediak kapal dimuka air, dan sesudah itu hilanglah sekaliannya! Tetapi saya takut, saya tahu bahasa nyonya tidak sanggup berbuat sedemikian, meskipun nyonya boléh berbuat laku begitu. Lebih baik tidak usahlah saya panjangkan kalam tentang itu. ..................................................................................

Belum berapa lamanya telah lalu ibu dengan siaya mempercakapkan hal ihwal perempuan, dan dalam percakapan itu saya nyatakanlah kepadanya, bahasa tidak adalah yang lebih menghiburkan serta menarik hatiku, dan tidak lain yang saya ingini, lain dari pada maksud hendak mencari penghidupan untuk diri.

Ibu berkata: "Tetapi sampai sekarang belum seorang juga di antara kita yang berbuat sedemikian."

"Kalau begitu mémang telah datang waktunya sekarang, yang kita akan berbuat sedemikian," jawabku pula.

"Tetapi engkau telah tahu, bahasa segala permulaan itu sukar adanya, tahukah engkau lagi bahwa tiap-tiap oiang yang bermula membuat sesuatu pekerjaan, amat susah untung nasibnya? Kecelaan, kecéwa, datang berganti-ganti dan banyaklah pula penggodaan yang akan menimpanya, tahukah engkau sekaliannya itu?" kata ibu.

"ya, tahu keadaan itu! Hal-hal yang sedemikian bu­kan kemarin dan sekarang saja telah terkandung dalam kalbuku, tetapi telah bertahun-tahun lamanya," jawabku pula.

 
ALUN-ALUN DI JEPARA.

Apakah kebaikannya kepadamu? Adakah ia mencukupi nafsumu? Dapatkah ia menjadikan engkau beruntung?" sahut ibu pula.

Saya tahu bahasa jalan yang akan tempuh itu banyak kesukarannya, penuh dengan batu, duri dan ranjau, banyak berlubang-lubang berisi dengan benda yang runcing dan tajam, lagi berkélok-kélok dan berlumpur, ya, sebab jalan itu ........... masih belum ditebas orang! Meskipun saya karena menempuh jalan itu tiada akan beruntung, ataupun karena itu saya akan meninggal dunia ditengah jalan, biarlah, senanglah hatiku berpulang kerahmatu'llah dengan cara sedemikian. Apabila jalan itu kelak terbuka dengan usahaku, meskipun dalam hal itu diriku sendiri akan menjadi kurbannya, sayapun akan bersukacita, karena saya ketahui, yang saya telah membukakan suatu jalan, yang boléh membawa perempuan-perempuan bangsa Bumiputera kepadang kebébasan dan pandai tegak sendiri dalam hidup bersama-sama. Alangkah syukurnya saya kepada Allah, jika orang-orang tua anak-anak perempuan yang lain, menggemari pula hendak tegak sendiri, tidak pernah akan berkata kepada anak perempuan: "Belum ada seorang juga di antara kaum keluarga kita yang telah berbuat seperti itu."

Sungguh ajaib sekali, karena waktu saya mengeluarkan kata-kata itu, saya tidak sedikit juga merasa takut atau ngeri dan gentar, melainkan hatiku ketika itu betul-betul berani dan sabar, sayang hatiku yang bodoh dan gila ini menyebabkan pula dalam hal itu kepiluan yang amat sangat.

October 1900 (II)Sunting

Saya suka belajar untuk menjadi guru, hendak mendapat dua buah diploma yaitu diploma guru bantu dan diploma guru kepala dan dalam itu hendak saya pelajari lagi perkara keséhatan tubuh, barut-membarut orang luka dan menjaga orang sakit.

Dan kemudian sekali baharulah kehendak saya belajar untuk memperoléh diploma yakni diploma bahasa, bahasaku sendiri. Dan setelah kami tammat belajar, maka kami berdua akan mendirikan sekolah untuk anak-anak perempuan kepala-kepala negeri. Saya terlalu suka belajar dinegeri Belanda, karena tanah Belandalah yang sanggup melengkapkan saya dalam segala hal, untuk pikulan yang' berat dan besar, yang hendak saya pikulkan kebahuku.

..............................................................

Telah kerap kali selama hidupku, saya merasai bahwa lalunya kehendak hati itu kebiasaan bersama-sama dengan kelukaan hati.

Rupa-rupa kejadian dalam waktu-waktu yang lalu telah menyatakan, yang kita manusia hanya memikirkan, dan Allah jualah yang menjadikan. Sekaliannya itu hendaknya menjadi kiasan bagi kita manusia, yang tidak luas pemandangan, yakni kiasan, supaya manusia itu jangan terlampau berbesar hati sekali mempercayai dirinya sendiri saja, mengirakan bahasa kita betul-betul mempunyai "kemauan" sendiri sambil melupakan Allah.

Mémang adalah suatu kekuasaan, yang lebih keras dan lebih kuasa dari pada kemauan sekalian manusia, dialam ini. Sungguh sia-sialah orang yang membesarkan dirinya dan menyombong mengatakan: kemauannya besar dan keras sekeras besi!

Hanyalah sesuatu saja kemauan yang wajib dan patut kita punyai yakni: kemauan memuliakan dia, Tuhan yang baik!

Tidak usahlah saya katakan kepada nyonya, karena nyonya sendiri telah tahu bahasa kami kedua sangat berharap dan beringin hendak bertemu lagi dengan tuan kedua di Semarang atau di tempat lain. Pertemuan itu sangat kami ingini, o, kekasih kami yang dicinta, tetapi keinginan kami tidak dapatlah kami mengharapkan sungguh-sungguh. Hanyalah kami berharap dan meminta, Allah akan mengabulkan cita-cita kami itu! Tentulah telah banyak perubahan dalam hati kami, maka kami berkata sedemikian.

Ya, amat banyaklah sudah, yang berubah dihati kami, bukan buatan banyaknya!

O, ma', kami tidak dapat mengatakan kepada tuan betapa girang dan terima kasih kami, karena kami telah berkenalan dengan nyonya van Kol.

"Orang yang sebaik-baiknya dan sebagus-bagusnya, ialah machluk yang lemah dan murah hatinya," kata nyonya itu...

Dan kami tambah lagi: "Manusia itu bersifat fana!" jangan harap kepada manusia!............ Bukantah tidak salah sekalian itu saya katakan kepada nyonya, karena tempat kami berharap ialah manusia?........... kami mencari kekuatanpun pada manusia juga............ Segala kejadian-kejadian yang kami rasai dalam hidup kami pada tahun-tahun yang achir ini, menyatakan kepada kami betapa kami telah menempuh jalan yang sesat.

Kami banyak mengucap terima kasih kepada Nellie van Kol, karena ia telah menunjukkan kepada kami jalan yang sebenar-benarnya kepadang kebébasan.

Tidak ada seorang manusia yang bébas apabila kasihnya telah tertumpah kepada seseorang yang lain. Berharap kepada seseorang artinya menyerahkan dirinya jadi tawanan kepada orang itu. jalan kepada Allah dan kepadang kebébasan yang sebenarnya hanyalah sebuah saja. Siapa yang memperhambakan dirinya kepada Allah, tidaklah ia menjadi tawanan orang, melainkan ialah sebenar-benarnya orang yang bébas.

Dalam beberapa hari ini adalah sesuatu yang tidak menyenangkan hatiku, yang menjadikan kami putus asa, sebelum perubahan Allah datang.

Tetapi sekarang kami pegang teguh-teguh tangan perubahan itu, dan kepadanya kami tentangkan benar-benar mata kami, dengan tiada menoléh-noléh kekiri dan kekanan. Ia tentulah akan mengemudikan kami pula......... menimbang hal keadaan kami dengan kasih sayang.......... Waktu itulah waktu yang gelap akan menjadi terang, dan angin ribut akan menjadi angin yang lemah lembut.

Sekalian yang mengelilingi kami tinggallah seperti sediakala, tetapi bagi kami tidaklah rasanya dia seperti dahulu lagi. Perubahan yang sebenarnya telah ada dihati kami, perubahan itu menyinari sekaliannya, dengan cahaya yang terang. Damai dan sentosa timbullah dihati kami.......... Ma', kami sekarang beruntung dan berbahagia.

Bahagia itu bukanlah dengan bergila-gila dan bersorak-sorai, tetapi ialah dengan damai, sabar dan insaf.

Bukan kepalang suka hati kami hendak memperbincangkan hal itu sekaliannya dengan nyonya. Tuan van Kol........telah mengirimkan kepada kami secarik kecil koyakan surat isterinya dan tersebutlah dalamnya "tetapi sekali-kali janganlah mau mengangkat diri! karena segala kemuliaan semata-mata ialah rahmat Allah!" Sesuailah dengan yang telah acap kali dikatakan ibu kepada kami. Peringatan itu amat berguna kepada kami, sebab semenjak kecil kami selalu hidup didunia dengan manja dan penuh pujian.

Kepada kami, terutama kepada kami berguna amat peringatan itu untuk menjauhkan kami dari penyakit mengangkat diri itu, karena ialah suatu gosong tempat kapal terdampar dan berbahaya, bila nyawa manusia berpulang; kerahmatu'llah!

Kami selalu mendoa meminta kodrat dan kekuatan, supaya dapatlah kami dengan sempurna menanggung suka dan duka. Lebih-lebih untuk kesukaan hati, karena dalam suka itu biasanya adalah penggodaan yang besar. Kebanyakan kapal-kapal yang bermuat dengan hidup anak-anak muda berubah haluannya, bila saja angin ribut kesukaan telah datang menghambusnya, dan pada waktu itulah pula ia kerap kali segera tenggelam! Alangkah sombongnya perkataanku, bukan. Bila nyonya bertemu dengan saya nanti, hélakanlah telingaku.

Betapalah gerangan perasaan kita kedua belah pihak, bila kita nanti dapat bertemu lagi! Saya tahu rasanya apa yang mula-mula akan nyonya katakan kepadaku: "Hai 'nak, alangkah gemuknya engkau sekarang!" Saya menjawab dengan berbisik kepada nyonya: "Dimukaku rupanya saya telah menjadi tua, tetapi dihatiku adalah tertulis dengan huruf emas, kata: cinta, yang senantiasa tinggal tetap, selalu muda."

1 November 1900 (VIII)Sunting

Kabar baik!

O, saya amat beruntung dan berbahagia! dan saya tahu untuk menjadi guru! ucapkanlah kepadaku selamat! Peluklah saya dalam kenang-kenangan nyonya, pandanglah bahagia yang bercahaya-cahaya yang keluar dari mataku! Saya telah bercakap dengan bapak dan berceritera kepadanya, apa yang telah nyonya minta kepadaku dahulu, ketika nyonya masih tinggal disini! Bapakpun suka memperkenankan hal itu! Suka sekali mengabulkannya! Sekarang boléhlah saya duduk dibangku sekolah, supaya nanti saya boléh lagi berdiri dimuka bangku itu, bila telah ada berhak memperbuat demikian.

Boléh dan mau! mau dan boléh! tidak ada yang sebagus susunan kedua kata itu! dan dengan kata "cakap" sempurnalah dia menjadi tiga sejoli!

Mau artinya cakap, bukan?

O, saya boléh! saya boléh, saya boléh pergi belajar yang tuan kedua akan beriang hati mendengarkan untung bahagiaku itu.

Sekarang betullah saya belum menjadi apa-apa, tetapi nanti boléh saya menjadi barang sesuatunya, sungguh senang sekali! "Berharaplah, percayalah dan hendaklah berani!"

Ketiga kata-kata itu, yakni kata-kata nyonya yang selalu saya kenang-kenangkan, dan selalu kata-kata itu setia mengiringkan saya, ketika saya tadi pergi menghadap bapak dan bercakap dengan dia.

Saya amat sabar dan riang sedikit waktu itu, sungguh pun lebih dahulu saya telah merasa, yang percakapan itu akan baik kesudahannya. Bapak menyukai benar pikiranku, hendak menjadi guru disekolah untuk anak-anak perempuan itu. Alangkah lemah lembut bapak berkata ketika itu dengan saya! O, tiadalah saya salah sangka akan dia, yang ia menyanyangi anaknya dan mengerti benar-benar akan kehendak si anak itu.

Dahulu saya telah berdiri ditepi tebing yang amat curam, dan telah menéngok kelurah yang dalam, dengan gelap gulitanya! Sekalian itu waktunya telah terlampau! cinta kasih sayang telah melompatkan saya keseberang lurah yang dalam itu.

Maulah rasanya saya memeluk dunia ini, karena kesukaan hati yang sebenar-benarnya itu.

Izin dan berkat dari bapak itu telah saya junjung tinggi, dan itulah sebabnya maka segala aral besar-besar yang melintang jalan hidupku yang akan datang, sekarang telah hilang dan hapus.

2 November 1900 (II)Sunting

Suatu rahsia yang penting sekali hendak kubisikkan kepada nyonya, kekasihku yang dicinta, saya berharap sangat dan percaya, yang rahsia ini sedikit hari lagi tidak akan menjadi rahasia lagi! O, saya sangat beruntung! Peluklah saya dengan kedua belah tangan, dan rengkuhlah mukaku kehati nyonya, ciumlah kepalaku dan ucapkan selamat kepadaku, o kekasihku! Bukanlah kenang-kenangan yang hampa dan tidaklah mimpi yang kosong yang saya kejar itu, dengarlah oléhmu, ma', saya telah membebaskan diriku dan boléh tegak sendiri! Saya boléh menjabat pekerjaan! Sejak kemarin saya merasa diriku seakan-akan tidak hidup lagi, tetap, rasanya tempatku jauh dari rumah yakni dalam surga bahagia dan rahmat!

Saya boléh! Saya boléh! Saya boléh! telah beribu-ribu kali saya ulangi kata itu dan selalu hendak saya ulangi lagi'

O sekalian anggotaku turut beriang hati, bersuka raya, hal itu tentu dapat nyonya ma'lumkan, bukan, ma'? nyonyalah yang mengenal saya sampai ke dalam hati kecilku, dan nyonyapun tahu pula bahasa belum lama antaranya angin ribut telah melanggar hatiku, ketika itu betullah dia menjadi suatu kesengsaraan bagiku yang telah saya perangi dengan hebat. Tetapi semuanya itu adalah mendatangkan kebaikan bagiku, peperangan yang hébat dalam hatiku itu telah menguatkan saya!

O, ma', jikalau perkara di Betawi dan di Mojowarno telah selesai, tentulah akan mulai peperangan yang hébat bagiku. Kedua tempat itu menghéla hatiku; pihak yang satu karena dekat pada nyonya, dan dapat bersama-sama dengan saudaraku, yang tentu akan datang ke Mojowarno, bila kabar yang kami terima nanti tentang halku, kabar baik.................. disana negeri kecil, jauh dari riuh rendah seperti di kota, dan jauh dari asung fitnah manusia dan diam ditengah-tengah meréka, yang berhati suci dan bersih, yang hidup dalam udara yang suci, sambil berkasih-kasihan sesamanya manusia........dan pihak yang satu lagi...........?

"Barang suatu dengan mudah dan kemalasan boléh didapat, tidak adalah yang lama boléh berharga dan lama boléh memberi sukacita untuk kita," kata nyonya Abendanon. Tetapi tidak usahlah saya pecahkan kepalaku untuk pemilihan itu. Perlahan-lahan dan dengan sabar boléhlah juga kita sampai ketempat yang kita tujui, apalagi pekerjaan yang gopoh-gapah biasanya melambatkan. Biarlah saya dengar saja suara, yang dibisikkan oléh kalbuku, dan apa-apa kata suara itu akan saya bandinglah dengan pikiran yang keluar dari otakku. Baikkah dilakukan sedemikian, ma'?

 
Pemandangan pada Sungai Ciliung (Depok).

9 Januari 1901 (I)Sunting

Adalah hal keadaan yang baru, yang akan datang ke dalam dunia bangsa Bumiputera, meskipun tidak terjadi karena perbuatan kami, tetapi boléh juga karena orang yang lain

Kemerdekaan telah membayang diudara, ia telah ditakdirkan Allah Dan barang siapa yang telah dinasibkan, yang akan menjadi kepala untuk yang baharu itu, mestilah berpenanggungan. Hal itu menjadi adat dunia telah berzaman-zaman lamanya: "Siapa yang hamil wajib merasai keberatan dan kesakitan bersalin! Tetapi anak yang dilahirkan oléh si ibu itu dengan segala kesusahan dan kesakitan yang tidak berhingga, selamanya dikasihi, dicintai dan disayanginya!"

O, tidak ada perasaan yang lebih celaka dari pada perasaan kekuatan mau bekerja, yang tiba-tiba bertukar menjadi kekoatan tidak mau bekerja. syukur, syukurlah perasaan itu telah terhindar dari badanku.

Belum berapa lama ini adalah seorang professor dari Jena datang kepada kami. Tuan itu namanya Professor Dr Anton, ia dengan isterinya, sedang tamasya untuk 'ilmu pengetahuan, datang kemari hendak berkenalan dengan kami.

Saya takut pemandangan orang terlampau tinggi kepadaku. Saya tahu betul lagi, bahasa orang memperdayakan dirinya dengan kebagusan yang baru dan barangkali oléh karena kasihannya ia berbuat sedemikian.

Bagi orang banyak kami sekarang berpendapatan baru, ya, bagi orang² disinipun baru. Segala yang baru kebiasaan disukai dan diajaibkan orang. Professor itu menyangka dalam hatinya, yang kami masih setengah biadab; sekarang dilihatnya sendiri, bahwa kami disini seperti manusia yang biasa sadlja. yang ajaib kepadanya, hanyalah warna kulit kami, pakaian dan sekalian yang ada dalam lingkungan kami, karena sekalian itu tidak biasa diilihatnya. Bukankah kita merasa amat senang hati, bila buah pikiran kita, kita dapati pula pada orang yang lain? Dan jika orang itu orang asing, orang bangsa lain, dari benua yang lain, berdarah, berkulit dan beradat lain pula, maka bertambahlah dalam hati kita kesukaan persaudaraan sepikiran itu. Saya percaya benar yang orang tidak sedikit juga akan mengindahkan kami bila sekiranya kami tidak memakai sarung dan kebaya, melainkan mengenakan pakaian nona-nona dan demikian juga jika sekiranya kami tiada memakai nama Jawa, melainkan memakai nama Belanda serta berdarah Eropa dan bukan berdiarah Jawa dalam tubuh kami.

Baru sebentar ini kami terima anugerah dua tiga buah kitab, di antara kitab itu, yang bagus sekali karangan B. van Suttner, bernama: "De wapens neer gelegd" (Senjata diletakkan).

Saya telah membaca bermacam-macam kitab, tetapi kitab yang bernama "Moderne Maagden" (Gadis-gadis kaum muda) itulah kitab yang amat bagus, sangat menarik dan merawankan hatiku, karena sekalian yang telah saya pikiri dan rasai dan yang hidup dihatiku sendiri itu, sekaliannya tersebutlah dalam kitab itu. Sesungguhnya Marcel Prévost telah memperhatikan sekalian hal itu baik-baik, dan ia tabu lagi menyuratkan penglihatan, pikiran dan perasaannya dengan benar. Menurut pendapatanku kitabnya itu amat bagus. Sampai sekarang kepadaku belum ada lagi keputusan tentang perkara yang besar itu, dan halku dalam itu tinggallah sebagai biasa, sebelum berkenalan dengan M. M., tetapi melihat orang yang pandai menerangkan maksud gerakan perempuan dengan kebenaran dan kekuatan, yang seterang dan sejelas itu, saya belum pernah. Si pengarang itu tidak berhenti-hentinya memaki akan juara² dalam gerakan perempuan itu, kecuali juara seperti Fedi dan Lea. juara-juara yang banyak itu dikatakannya keji, tiada sempurna, tidak beraturan. Sekalian itu tiadalah menjadikan saya marah. Amat bagus dan manis tutur kata Pirnet, seorang juara perempuan yang besar dan meskipun berbadan rusak, tetapi amat disayangi orang. Bacalah keadaan itu, lebih² pada penghabisan kitabnya. Tutur katanya, semuanya terang dan benar, dengan seterang-terangnya diuraikannya maksud gerakan perempuan. Berlipat ganda saya merasai betapa lazat rasanya kata-kata itu. Apalagi oléh karena seorang laki-laki yang memikirkan dan mengarangkannya. Sebelum saya membaca kitab itu, saya telah menulis dua pucuk surat yang panjang kepada dua orang sahabat karibku, tentang hal itu. Sekiranya saya mengirim surat itu sesudah saya membaca kitab M. M. itu, tentulah saya akan menyangka, bahwa saya menulis surat itu, ialah sebab telah membaca kitab M.M., oléh karena buah pikiran yang terlukis didalam kitab itu, bersesuaian benar dengan isi kedua suratku itu.

Saya suka sekali, bila adalah orang disini, tempat saya buh memperbincangkan isi kitab M.M. itu. Banyak perkara yang tersebut didalam kitab itu hendak saya perkatakan dengan orang yang telah banyak penanggungan dan pendapatannya.

Banyak pula yang hendak saya ceriterakan kepadamu tentang maksud hendak mendirikan sekolah-sekolah perempuan untuk bangsa Bumiputera. Sekarang maksud itu telah diketahui oleh sekalian orang. Adalah banyak lagi hal yang lain-lain hendak saya kabarkan, tetapi pada hari ini maksudku hendak berkirim surat yang ringkas saja. Hanya suatu hal yang saya ceriterakan kepadamu: maksud tuan Mr. Abendanon itu adalah disukai orang dimana-mana juapun. Banyak orang-orang Eropa yang berpangkat tinggi dengan suka hati mendengarkan buah pikiran tuan Mr. Abendanon itu dan kepada meréka itulah lagi bergantungnya maksud sahabat kami itu, boléh sampai atau tidaknya. Banyak sahabat kenalan kami di antara pegawai-pegawai bangsa Eropa, yang suka menolong menyampaikan hajat tuan Mr. Abendanon, yakni suka mempertinggi kedudukan dunia perempuan bangsa Bumiputera, yang sekarang sungguh-sungguh dalam kesengsaraan. Dan banyak pula orang-orang lain, yang belum kami kenal, menyukai juga maksud yang mulia itu.

Sedikit hari lagi maulah saya mengirimkan surat édaran tuan Mr. Abendanon itu, kepada kepala-kepala negeri bangsa Eropa dan Bumiputera tentang maksud hendak mendirikan sekolah-sekolah itu. "Dari dahulu sampai sekarang kemajuan untuk perempuan-perempuan senantiasa menjadi suatu perkara yang penting, untuk kehormatan bangsa."

"Kepandaian dan pengetahuan bangsa Bumiputera tanah Hindia ini, tiadalah akan maju dengan selekas-lekasnya, apabila keperluan perempuan-perempuan selalu ditinggalkan di belakang. Perempuan ialah manusia yang memikul kehormatan!". Demikian bunyi surat édaran tuan Mr. Abendanon itu, Stella, tiadakah buah pikiran tuan Mr. Abendanon itu menghiburkan hatimu?

Telah setengah tahun lamanya kelihatan, bahasa bangsa Bumiputera suka benar hendak mempelajari bahasamu yang bagus itu. Sayang kebanyakan orang Eropa tidak senang hatinya melihat keadaan itu, tetapi orang Belanda yang berpikiran mulia adalah menyukai, dan menggembirakan hati kami menyuruh menyampaikan maksud itu.

Di kota-kota besar, telah terdirilah sekolah-sekolah Belanda, sebagai cendawan tumbuh. Sekolah-sekolah itu dimasuki oléh anak-anak kecil, dan oléh orang-orang yang telah ber'umur, yang telah bertahun-tahun lamanya bekerja pada Gubernemén.

Banyak pegawai-pegawai besar Gubernemén, yang dikepalai oléh Gubernur jenderal menyukai benar, supaya bahasa Belanda diajarkan kepada anak Bumiputera, karena bahasa Belanda itu boléh menjadi perkakas, yang dapat memajukan bangsa Hindia dan mendekatkan bangsa Jawa kepada bangsa Belanda, dan supaya bangsa Belanda itu tiadalah lagi menjadi orang yang ditakuti, tetapi menjadi orang yang disayangi oléh bangsa Jawa, yang akan melindungi dan rnenolongnya. Kalau demikian tentulah mimpi kakakku dan beberapa orang Eropa yang berpikiran yang mulia, kelak akan menjadli barang yang sebenarnya. Bersoraklah engkau, Stella, bersama-sama dengan sa ya akan tanda bergirang hati!

21 Januari 1901 (VIII)Sunting

Petang tadi kami dengan nyonya Gonggriyp pergi ketepi laut dan mandi-mandi disana. Waktu itu lautan sedang hening dan warnanya bagus sama rata, saya ketika itu duduk di atas tebing dengan kakiku terjuntai ke dalam air, dan pemandanganku menuju arah ketepi langit yang jauh itu. O, alangkah bagusnya bumi ini! Keriangan serta terima kasih timbullah dihatiku. Alam ini selalu menghiburkan hati kami, bila kami datang kepadanya minta dihiburkan...........

Telah lama dan sudah banyak saya memikirkan tentang pendidikan, lebih-lebih baru-baru ini, dan menurut pendapatanku, pendapatan itu ialah suatu kewajiban yang mulia dan bertuah; dalam hal itu saya menyangka diriku berbuat suatu kejahatanlah, bila saya mengajarkan 'ilmu pendidikan itu dengan pengetahuan yang tidak sempurna. Apalagi harus nyata lebih dahulu, boléhkah saya menjadi guru pendidik. Bagi saya pendidikan artinya mengajar orang berpikir dan berperasaan. O, saya tidak pernah akan bersenang atas diriku' bila saya nanti telah menjadi guru, tetapi saya tidak sanggup melakukan kewajibanku sebaik-baiknya menurut pikiranku tentang pekerjaan guru pendidikan yang sepatutnya, meskipun dalam hal itu tidak adalah orang lain yang tidak bersenang hati melihatkan pekerjaanku yang tiada sempurna itu. Menurut timbanganku, bila si guru sekadar membukakan pikiran si anak itu saja, belumlah ia boléh dikatakan cukup melakukan kewajibannya, ya, demikian pula belum boléh dipandang cukup; karena si guru itu wajib pula membentuk budi si anak itu, sungguhpun tidak ada undang-undang yang memaksa dia berbuat sedemikian, tetapi hendaklah hatinya sendiri si guru itu wajib menyuruh mengerjakan hal itu. Kadang-kadang saya tanyai diriku sendiri, sanggupkah saya mengerjakan sekalian itu? Saya sendiri, yang masih wajib perlu lagi mempunyai pendidikan yang sedemikian? Kerap kali saya mendengar orang mengatakan, bahasa sekaliannya itu kelak akan datang sendirinya, karena dengan mempunyai 'ilmu pengetahuan, maka perasaan sopan santun yang halus dan muliapun datanglah; tetapi telah saya perhatikan, dan saya merasa sayang sekali, karena keadaan itu sekali-kali tiadalah selamanya sedemikian. Bermacam-macam pelajaran dan pengetahuan bukanlah dia menjadi suatu diploma dari budi pekerti yang halus dan mulia. Oléh sebab itu janganlah kita lekas salah tampa melihat beberapa banyak meréka itu yang telah tinggi pengetahuannya, tetapi kelakuannya tinggal biadab dan tiada senonoh, karena ketiadaan pekerti dan adat sopan santun yang baik itu bukanlah kesalahannya sendiri, melainkan sebab pendidikannya tidak sempurna. Amat banyak orang yang menjaga dan berusaha benar-benar supaya otak si anak menjadi tajam dan tangkas, tetapi meréka itu kerap kali lupa sama sekali mendidik si anak itu, supaya berkelakuan dan betertib sopan yang élok!

O, betapa sukacita hati saya membaca dan membenarkan buah pikiran tuan yang sejelas dan seterang itu dalam surat édaran tentang pengajaran untuk anak-anak perempuan bangsia Bumiput6ea itu: "Perempuan ialah yang memikul kehormatan! bukanlah karena perempuan yang dipandang memikul kemuliaan itu, tetapi ialah karena saya sendiripun percaya bahasa dari perempuanlah jua datangnya kekuasaan yang besar, yang boléh memperbaiki ataupun merusakkan manusia semasa hidupnya, sebab itulah pula saya percaya benar, bahasa perempuanlah yang' pandai mempertinggi tertib sopan dan budi pekerti manusia dalam bumi ini."

Bahwasanya mémang dari pada perempuanlah diterima orang yang mula² sekali pendidikan itu, dan di atas pangkuannyalah si anak belajar merasa, berpikir, dan bertutur; sekarang bertambah masuk dalam pikiranku, bahasa pendidikan yang pertama-tama itu tidaklah sedikit artinya dalam hidup manusia. Kalau demikian bagaimanakah kiranya perempuan bangsa Bumiputera dengan sempurna dapat memeliharakan anaknya, jikalau ia sendiri tidak dididik?

Oléh sebab itulah maka saya sangat gembira mendengarkan maksud hendak memberi anak-anak perempuan 'ilmu pendidikan dan pengetahuan. Telah lama saya ma'lum bahasa pendidikan dan pengajaran itulah, yang sanggup membawa perubahan dalam hal keadaan perempuan-perempuan bangsa Bumiputera yang keji itu.

Paédah pelajaran itu kelak bukanlah saja untuk dunia perempuan, tetapi sama ada untuk sekalian bangsa Bumiputera dalam hidup bersama-sama.

Dimana-mana saja sekarang kami dengar orang memperkatakan, hendak mendirikan sekolah-sekolah untuk anak-anak perempuan. Mata kami jadi bercahaya-cahaya, karena kegirangan hati, bila kami mendengar orang memperbincangkan hal itu dengan sungguh dan sukacita; dan kerap kali kami terpaksa menggigit lidah. Tangan kami, kami genggamkan teguh-teguh akan menahan kesukaan hati, yang hendak terhambur dari mulut kami.

Dalam dunia perempuan bangsa Bumiputerapun orang bersukacita mendengar kabar tentang maksud itu. Sekalian perempuan yang telah ber'umur tempat kami memperbincangkan maksud itu, semuanya berkehendak mau kembali menjadi anak-anak, supaya meréka dapat pula merasai lazatnya pengajaran itu. Sekolah-sekolah Bumiputera di Pati, Kudus dan Jepara dan di tempat yang lain-lain, dapatlah nanti menunjukkan kepada nyonya dengan nyata segala kebajikan yang pertama-tama, hasil dari pekerjaan yang mulia itu. Disekolah-sekolah itu telah diterima juga anak-anak perempuan orang kebanyakan yang banyaknya makin lama makin bertambah-tambah. Sungguhlah suatu kegirangan!

Bésok ibu akan menyerahkan seorang anak perempuan anak piatu, dari anak mas ibu, pergi kesekolah; dan pada bulan yang lalu orang-orang tua kami telah menyuruh pula seorang magang anak muda yang rajin dan baik kelakuannya pergi belajar bahasa Belanda.

31 Januari 1901 (VIII)Sunting

Dalam bermenung melihatlah saya keluar memandang kelangit yang hijau warnanya; seolah-olah saya menantikan jawab yang tergores-gores dalam hatiku itu.

Dengan tiada kuketahui maka matakupun menurutilah awan yang berarak dalam lapangan yang luas itu dan kemudian lenyaplah awan itu dibalik daun pohon nyiur yang sedang melambai-lambai dihambus angin. Waktu itu terpandanglah olehku daun² kayu yang bergoyang-goyang berkilat-kilat karena sinar cahaya matahari, dan tiba-tiba timbullah pertanyaan dalam hatiku: "Adakah pernah orang bertanya, apakah sebabnya matahari bercahaya? Apakah dan siapakah yang dikiriminya cahaya itu?" Wahai matahariku, matahariku emas semata saya mau hidup didunia ini, supaya kemanusiaanku berharga, akan tuan sinari, cahayai dan panasi dengan cahaya tuan yang mulia, yang menghidupi dan membaguskan dunia ini...........

Sebab itu tidak usahlah berdukacita, wahai kekasihku, bila surat permintaanku itu tidak baik balasannya, sebab hidupku tidaklah akan menjadi sia-sia karena itu, dan dengan hidup sebagai sekarang ada juga apa² yang baik, dapat dibuat. Saya mau, dan tentulah akan menjadi sedemikian! Siapa yang memperhambakan diri kepada maliku'rrahim tentulah hidupnya tiada akan sia-sia........dan.........siapa yang mencahari malikóe'rrahim, tentulah akan mendapat bahagia, yakni bahagia yang sebenar-benarnya: damai dan senang dalam hati........ dan itupun boléhlah juga didapat di Mojowarno........siapa tahu barangkali di Mojowarno lebih lekas kesenangan itu diperoléh dari pada di tempat-tempat lain. janganlah bersusah hati! Kamipun sekarang mémanglah banyak menerima kasih, karena pokok maksud kami yang te ruta ma telah kami peroléh, yakni: bébas, merdéka dan tegak sendiri........dan..........biarlah menjadi dukun beranak, dapatlah juga kami berbuat baik untuk hidup bersama-sama.


19 Maart 1901 (IV)Sunting

yang mulia tuan Doktor[2] Adriani,

Telah lama saya hendak menulis surat kepada tuan tetapi karena bermacam-macam alangan, lebih-lebih karena hampir sekalian ahli dalam rumah, sakit belaka; itulah yang telah melintangi saya benar menyampaikan maksudku hendak menulis surat kepada tuan. Sekarang untunglah sekalian kami dikabupatén, besar dan kecil, adalah dalam selamat wa'lafiat, jadi ta maulah saya menantikan lebih lama lagi hendak membuat surat, yang telah lama dalam kenang-kenanganku ini, dan barangkali tuanpun telah lama menunggu-nunggu kedatangannya. Maafkanlah saya, bila benar sangkaku ini. Saya sendiripun amat beringin hendak menulis isi surat ini, karena hendak mengucapkan banyak terima kasih kepada tuan atas surat tuan yang sedemikian ramahnya, yang dialamatkan kepada adikku Rukmini, dan atas penêrimaan kitab-kitab yang telah tuan kirimkan, yang sangat meriangkan hati kami ketiganya dari bermula sampai sekarang. Kami amat bersukacita mema'lumi, yang tuan telah mengenang kami dengan kenang-kenangan yang baik dan kasih sayang. Kami selalu memikirkan hal itu, dan acap kali pula kami memperbincangkan tuan dan kekasih tuan, Bumiputera Toraja, serta pekerjaan tuan disana; pandaknya sekalian yang telah kami dengar pada malam itu dari tuan dan nyonya Abendanon tentang tuan, semuanya kami perbincangkan. Malam kita duduk di Betawi itu bercengkerma bersama-sama, malam itu selaluLah menjadi tinggal kenang-kenangan yang menyenangkan hati kami.

Dengan hati yang tulus dan ichlas kami berharap, hendaknya janganlah sekali itu saja kita dapat berjumpa, tetapi hingga ini keatas acap kalilah hendaknya kami dapat bertemu dengan tuan. Semenjak perceraian kita di Betawi itu, selalulah menjadi cita-cita dalam hati kami hendak bertemu dan bercakap-cakap dengan tuan barang sekali lagi. Betapakah besar dan girang hati kami, bila sekiranya kami dapat menyambut kedatangan tuan di Jepara.

Persangkaan tuan betul tidak salah; kami betul-betul menghargai pekerjaan zendeling-zendeling di tanah Hindia Bélanda dan kami indahkan sungguh-sungguh akan kerja, usaha dan hidup meréka itu berhati suci, yang tinggal di tempat yang sejauh itu, sunyi dan dalam rimba, lagi jauh dari tanah air, jauh dari pada kaum keluarga dan kawan sepikiran meréka itu; péndéknya dljauh dari dunia yang didiami manusia yang bertertib sopan yaitu dengan maksud hendak memasukkan kepandaian, yang akan memperbagus dan mempertinggi hidup sesamanya manusia, bangsa, yang dinamakan oléh bangsa yang terpelajar, "bangsa yang biadab!"

Dengan segala suka hati saya telah membaca kedua karangan tuan itu, dan saya mengucapkan banyak terima kasih kepada tuan, karena tuan telah memberi kami kesempatan, supaya dapat mengetahui perkara yang penting-penting, yang dahulunya belum kami ketahui.

Baru-baru ini kami membaca karangan "Maatschappeliyk Werk in Indie" (Pekerjaan penduduk di Hindia) yakni rapor-rapor persidangan-persidangan pada Waktu Nationale Tentoonstelling van Vrouwenarbeid di den Haag 1898, dan seperti membaca karangan-karangan tuan yang tersebut tadi, lamalah pula kami memikirkan dan membaca kabar-kabar pekerjaan zendeling-zendeling Nasrani di tanah Hindia, yang tersebut dalam rapor-rapor itu. O, hati saya sangat bersukacita memandang pekerjaan yang bagus dan mulia itu, dan demikian juga melihat meréka itu laki-laki dan perempuan, sekaliannya bangsawan-bangsawan pikiran, yang telah mengerjakan pekerjaan yang semulia dan sebagus itu, tetapi beratnya bukan buatan, dengan hati kasih sayang lagi yakin dan sabar.

Pada tahun 1896 kami beruntung dan berbesar hati, karena kami dapat menghadiri peralatan menaiki geréja baru Kedung-Penjalin. Barangkali agaknya selama hidup kami sekali itulah kami akan dapat menghadiri peralatan yang seperti itu. Waktu itulah yang pertama-tama kali kami memasuki geréja Nasrani sambil menghadiri orang sembahjang; sekalian yang kami lihat dan yang kami dengar disana terasa benar dihati kami. Sungguhpun hal itu telah lama kejadian tetapi karena kebebasan peralatan itu amat menawan hati kami, serasa seperti kemarinlah saja terjadinya. Alangkah merdunya bunyi nyanyi yang keluar dari mulut meréka yang sekian banyaknya itu, dan nyanyi itu besar bahananya dalam geréja yang seluas itu, dan bunga² yang menghiasinya sedap sekali mata memandangnya. Bersama-sama dengan orang banyak yang duduk hening dengan tepekurnya itu, kamipun turutlah pula dengan hati-hati mendengarkan sekalian yang dipidatokan dari atas mimbar, dalam bahasa Jawa yang sejati. Lain dari pada tuan Hubert adalah lagi tiga orang guru-guru zendeling yang berganti-ganti membaca chotbah di atas mimbar itu. Dan yang menambah lagi mulianya peralatan itu ialah suatu saat, tatkala seorang tua bangsa Jawa lalu tegak berdiri dan berpidato kepada orang-orang Jawa, baik yang seagama dengan dia atau tidak. Hal itu sekaliannya menimbulkan kesukuran kepada Allah; dan banyaklah lagi hal yang lain, yang menyebabkan saya sekali-kali tidak dapat melupakan peralatan digeréja itu.

Sejak saya keluar dari sekolah, baharu pagi itulah saya bermula sekali dapat pergi keluar rumah, melihat dunia yang luas ini. Tuan tentu telah mengetahui, bahwa telah menjadi suatu adatlah bagi kami, mengurung anak-anak gadis didalam rumah, dan mencegah meréka sekeras-kerasnya tidak boléh pergi keluar rumah, sampai pada waktu kedatangan seorang laki-laki meminta si gadis itu akan menjadi isterinya. Pada déwasa itulah kurungan itu boléh dibukakan, dan burung yang terpenjara dalamnya itu pun terbanglah keluar, beralih tempat dan "pertuanan" lain. "Keluar rumah" seperti yang dimaksud oléh dunia, tidak adalah sedikit juga gunanya bagi orang perempuan. Tetapi bagi kami, orang yang mencintai kebébasan, adalah kurungan seperti itu semata-mata menjadi suatu penanggungan yang amat besar. Kami selalu mengucap banyak terima kasih kepada orang tua kami, karena meréka itu telah meruntuhkan adat kuno itu. Kemudian dari perjalanan kami yang amat berkat, pergi ke Kedung-Penjalin itu, kerap kalilah kami pergi keluar rumah; mula-mula sekali-sekali, kemudian bertambah kerap dan jauh kami boléh pergi dari rumah; pada tahun yang lalu sampailah perjalanan kami ke Betawi.

Dihalaman surat kabar yang menerangkan nama-nama penumpang kapal, telah kami baca, yang nyonya isteri tuan telah balik kembali ketanah Hindia, dan tentulah ia segera akan datang kepada tuan; kamipun turut bergirang hati dalam hal itu! Dengan pos yang akan datang, kami akan mengirimkan gambar kami kepada tuan dan nyonya, akan memberi selamat kepada tuan keduanya atas kedatangan itu dan meskipun belum berkenalan, kami ucapkanlah kepada nyonya selamat sampai di Mapane. Tidakkah kiranya orangorang Toraja berbesar hati karena "bunda" meréka itu boléh dikelilinginya lagi bersama-sama?

20 Mei 1901 (I)Sunting

Meskipun saya masih muda, sesungguhnya telah banyaklah penanggungan yang telah saya rasai dalam hidupku, tetapi sekalian itu belumlah seberapa, kalau dibandingkan dengan dukacita hatiku, tatkala bapak dalam sakit. Waktu itulah saya tidak ada bernafsu, selalu gementar dan takut lahir dan batin, mulutku yang dahulunya dengan gagah mengatakan: "datanglah apa saja yang hendak datang!" sekarang mulutku itu menggigil dan berdoa mengatakan: "ya Allah kasihanilah hambamu ini!" Keramaian pada waktu hari lahirku menjadi kesukaan yang berlipat ganda, bertambah dari biasa karena kesembuhan bapakpun dirayakan pula waktu itu. Saya telah perlihatkan kepada bapak pemberianmu dan saya telah ceriterakan juga kepadanya kegirangan hatimu karena memperoleh poterétnya. Waktu itu bapak sedang tidur berbaring dikursi panjang, dan saya duduk dilantai disisinya, tangannya dirabakannya kekepalaku. Pada waktu itulah saya mempercakapkan engkau kepadanya. Bapak tersenyum-senyum tatkala saya menceriterakan pujianmu yang baik dan yang sebenarnya itu, yang terhadap kepadanya. Mulutnya tersenyum dan pikirannya tentulah kepada orang yang menghormatinya, yakni kekasih yang karib dari anaknya ini dan dalam itu maka si sakitpun tertidurlah. Begitulah dekatnya engkau kepadaku, dan kepada kami sekalian, Stella. Percayakah engkau sekarang, bahasa kami sekali-kali tidak bencilah kepadamu, maka kami berdiam diri selama ini dan dapatkah engkau memaafkan saya karena berdiam diri itu? Marilah saya ucapkan sekali lagi terima kasihku atas persahabatan dan kasihmu yang telah meninggikann hidup dan darajatku, dan marilah engkau dalam ingatanku kupeluk dan kupangku teguh-teguh akan menjadi tanda betapa cinta hatiku kepadamu. O! betapalah baiknya jika saya sanggup berbuat sedemikian dengan sebenar-benarnya, tiadalah dalam kenang-kenangan saya, yakni sebenar-benarnya kita duduk bertentangan, bermuka-muka, akan mengeluarkan buah pikiranku yang sedang penuh dengan kedukaan. Stella, saya sungguh-sungguhnya suka benar hendak melihat engkau berbahagia dan bersukacita karena menerima sepucuk suratku, yang bergirang hati dan bersorak-sorai meriangkan hatimu dengan kabar yang baik, yang dapat menyatakan yang bahasa kami beruntung dan maksud kami telah sampai! Aduh! kekasihku, surat ini bukanlah isinya perkataan yang meriangkan dan menghiburkan hati, melainkan ialah suatu ratap tangis. Saya sekali-kali tidak menyesal, tetapi hal yang benar itu harus saya katakan. Sekonyong-konyong hal keadaan kami dan haluannya telah berputar. Sekarang hal ini bertambah lebih sukar dan pada yang sudah², dan tidak boléh dibiarkan saja demikian. Hal itu bergantung kepada salah satu dari dua perkara, yakni hidup atau mati, menang atau kalah sama sekali, dan tangan kami dalam hal itu terikat dengan belenggu.

Adalah suatu kewajiban yang bernama "terima kasih" dan adalah lagi kewajiban yang tinggi dan mulia, yang bernama "kasih kepada anak", tetapi lain dari pada kedua kewajiban itu, adalah pula suatu kejahatan yang hina dan keji, yang bernama "kelobaan untuk diri sendiri". ya, kadang-kadang amatlah susahnya menunjukkan dimana ujung kebaikan dan dimana pula pangkal kejahatan. jikalau dipikirkan hal itu lebih lanjut, barulah sedikit sekali batas kejahatan dan kebaikan itu boléh kelihatan. Keséhatan tubuh bapaku sekarang demikian halnya, was-was hati kami yang sangat mendukakan hati, wajib dihindarkan. Tahukah engkau apa artinya ini? Kami tiada berdaya lagi, dan mestilah saja berserah kepada nasib yang belum kami ketahui.

Dahulu telah hampirlah kami sampai ketempat yang kami ingini, tetapi sekarang telah jauh pula kami terhindar' dari tempat itu, dan di atas kepala kami tergantunglah sekarang apa-apa yang hébat, yang akan menimpa kami. Sesudah kami bermimpi baik, yang menghapuskan sekalian kesusahan hati kami, kamipun terbangunlah dengan hati yang sedih. Kasihanlah hatiku yang sengsara, yang selalu berteriak-teriak dengan suara ketakut-takutan: apakah kewajibanku, dengan tidak ada jawabnya, sedang orang yang wajib menjawabnya itu masih meraba berputar-putar dalam gelap gulita. ya Allah, berilah kami cahaya, cahaya yang terang! dan bantulah kami! kami tidak tahu bagaimana hal itu dan dimana nanti kesudahannya!

Kami mendengar yang Pemerintah benar-benar bermaksud akan mendidik anak-anak gadis regén untuk jadi guru, ialah akan membujuk atau meriangkan hati kami saja. Sekarang maksud itu tidak dapat disampaikan, karena banyak regén yang mencegah maksud itu, karena ia berlawanan dengan adat, yakni bila anak-anak gadis itu menerima pengajaran diluar rumah. Itulah suatu keadaan sekarang bagi kami yang merusakkan hati, karena dahulu kedatangannya yang baik telah kami harapkan. Duka dan pilu benar hati kami, karena harapan kami telah menjadi suatu mimpi saja, dan terlampau bagus akan dijadikan hal yang sebenar-benarnya! O, coba sekiranya ada diketahui oléh meréka itu apa yang telah dicegah dan ditolaknya itu! Tetapi sudahlah, biarlah kami berdiam diri. Kami tidak boléh lekas salah sangka, dan tidak boléh menyalahi benar-benar meréka, yang mempunyai perasaan tumpul akan maksud Pemerintah yang menuju kemajuan dan kebaikan untuk anak-anak perempuan itu. Supaya dapat orang menghargai barang sesuatunya, maka wajiblah orang itu mula-mula mengerti akan paédahnya, dan sekarang bagaimanakah meréka itu dapat mengerti akan kehendak dan keinginan kami kaum muda ini, karena meréka itu tidak lain yang diketahuinya dan yang dirasainya hanyalah lazat cita adat kuno itu saja? Sedangkan dibenua Eropa, pusat jala pumpunan 'ilmu pengetahuan, benua yang telah terpelajar, dari sana terpancar segala cahaya kepandaian, dibenua itupun masih hébat perang untuk memperoléh hak si perempuan, apalagi di Hindia ini, yang telah berzaman-zaman selalu dan sekarang masih tidur nyenyak berselimut kebodohan; karena itu tentulah di Hindia ini meréka itu akan lama waktunya maka boléh dapat menyabarkan dirinya dan memperkenankan si perempuan, yang telah beratus-ratus tahun dipandang seperti machluk yang kurang harga kemanusiaannya itu, akan berubah menjadi manusia yang ada berhak akan berhati bébas.

O, Stella, kami merasa sangat beruntung dan berbahagia, lagi nonggong, tatkala kami mendengar Pemerintah bermaksud yang baik itu, yakni akan membuka sekolah-sekolah tempat memberi anak-anak gadis regén pengajaran bekal menjadi guru perempuan. Bagi anak-anak gadis yang tersebut, sekiranya hal itu terjadi, akan terbukalah jalan penghidupan boléh tegak sendiri, dan demikian lagi jalan yang menuju kepadang kebébasan dan kesenangan hati, tetapi apa hendak dikata, jalan yang sebaik itu sekarang telah dimusnahkan orang. Daholu duduklah saya berbesar hati dengan mataku bercahaya-cahaya dan bersinar-sinar mengenang-ngenangkan kabar yang sebaik itu, dan sekarang kabar baik itupun telah lenyaplah melayang keudara. Bagaimana halnya perkara itu sekarang tidak tahulah saya. Sahabat kami yang di Betawi sekarang dalam temasa. Tetapi sepanjang pikiran kami perkara itu telah rusak binasa. Apa boléh buat, sudahlah, asal maksud yang mulia untuk mengajar anak-anak perempuan sekalian tiadalah akan dihilangkan pula. Walaupun orang-orang tua dalam hal itu tidak suka, tiadalah rasanya akan menjadi alangan. Hal itu kalau kejadian pula, sungguh celaka! O, engkau tentu tidak tahu, betapa geli dan panas tanganku sekarang hendak menulis maksud tuan Directeur van Onderwiys tentang pengajaran anak-anak gadis regén, untuk menjadi guru perempuan itu, tetapi saya tidak berdaya lagi, saya wajib menutup mulutku dan meletakkan pénaku, saya tidak boléh mengeluarkan pertimbanganku lagi, tentang perkara-perkara yang penting-penting itu, dan tidak boleh sekali-kali pikiran itu dimasukkan ke dalam surat kabar. Tahukah engkau bahwa meréka yang dalam lingkungan kamipun tidak tahu sedikit juga apa yang bergerak, mendidih dan menyala dalam kalbu kami. Tertawa saya dalam hatiku, tatkala seorang kenalan, yang kerap kali datang kerumah kami, pada suatu hari membaca dalam surat kabat, tentang pengajaran untuk anak-anak gadis regén, berkata kepada adik-adikku, bahwa maksud yang sedemikian amat bagus untuk saya kerjakan. Kenalanku itu beserta suaminya memperbincangkan hal itu dengan saya. Seperti orang yang tidak tahu akan hal itu, maka saya biarkanlah saja ia berceritera dan berkata. Keduanya laki isteri menyokong cita-citaku, meréka itupun menyukai pula akan kemerdékaan dalam dunia perempuan bangsa Bumiputera. Ia seorang pegawai Pemerintah negeri dan sanggup pula menolong kami dalam perkara itu. Isterinya berjanji akan menolong saya pada hari yang akan datang. Besar hati kami melihat betapa gembira hatinya, dan ma'lumlah kami bahwa ia seorang yang amat suka membuat suatu kebaikan, tetapi ia tidak tahu bagaimana jalan membuatnya itu.

Tidak lama lagi suaminya akan naik pangkat, kalau ia telah naik pangkat, pada waktu itulah meréka itu dapat bekerja banyak untuk meninggikan darajat bangsa kami. Telah kami perundingkan tentang daya upaya meréka itu, supaya ia dapat membuat kebaikan, dan suaranya boléh didengar orang pula. jika suaminya telah menjadi asistén-residén, ia hen­dak menyuruh anak-anak gadis pegawai yang dibawah perintah suaminya, datang kerumahnya belajar merénda, memasak-masak, dan barangkali juga diajarnya meréka itu menulis dan membaca. Kalau demikian tentulah ia membuat suatu pekerjaan yang harus dihormati dan dimuliakan! Ia sangat berbesar hati mengenang-ngenang hal itu, marilah kita berharap yang maksud si nyonya itu akan disampaikan Allah. tidak baguskah maksud itu? Sayapun telah berceritera kepadanya tentang halmu. engkau dipandangnya serta dihormatinya tinggi dan dimuliakannya; keadaan itu sangat menyenangkan hatiku. lapun suka pula menjadi anggota perserikatan "Onderlinge Vrouwenbeweging" (Pergerakan sesama Perempuan). Ia ada mempunyai dua orang anak perem­puan dinegeri Belanda, yang seorang akan menjadi advocaat, dan yang seorang lagi akan belajar kepandaian yang lain. Pa­da suatu hari tatkala kataku telanjur mengatakan, bahwa sebelumnya saya pergi mengarungi dunia hidup bersama-sama, saya hendak bekerja dahulu di rumah sakit, biarpun barang setengah tahun saja lamanya, supaya dapatlah saya mengetahui dan mempelajari betapa menjagai orang sakit, dan kalau sekiranya nanti adalah seseorang yang sakit diru­mah .kami, jadi dapatlah saya menjaganya dengan tiada bersalah. Dengan segera nyonya itu berkata kepadaku, bahwa adalah iparnya yang berpangkat dokter, sudi menolong saya mengajarkan segala rahsia tentang jaga-menjaga orang sakit, dan itulah sebenarnya suatu pengetahuan yang amat berguna bagiku setiap masa untuk menolong orang yang berdekatan dengan saya.

Dokter itu orang baru, dan tidak tahu bercakap bahasa Jawa, hanyalah ia pandai sedikit bertutur bahasa Melayu, dalam hal itupun saya dapatlah pula menolongnya sebagai juru bahasanya, karena orang-orang sakit yang data kepadanya kebanyakan anak Bumiputera dan orang cina. Saya bermaksud benar hendak bekerja barang beberapa lamanya saja di rumah sakit. Pekerjaan itu harus menjadi suatu bagian dari pada pendidikanku. Hal itu telah lama saya pikirkan. Bagaimanakah pikiranmu tentang maksudku itu? O, adalah suatu hal yang mengecutkan hatiku, ya, sungguh mengecutkan hatiku benar, yakni melihat orang yang menanggung dan menjerit karena kesakitan, tetapi si penglihat tidak cakap meringankan kesakitannya itu, melainkan karena hal itu si penglihatpun merasa lebih menanggung kesakitan dari pada si sakit itu sendiri. Telah kerap kali saya duduk disisi orang sakit, maka timbullah pikiran dalam hatiku hendak mempelajari pengetahuan menjaga orang sakit; mula-mula pikiran itu terbayang-bayang saja, akhirya menjadi nyata dan terang, dan sekarang ia telah menjadi kuat dan kukuh dalam hatiku. jikalau saya nanti boléh bercakap, artinya boléh mengeluarkan segala yang terasa dihati saya tentang pendidikan anak perempuan, maka sayapun akan menguatkan paédah pengetahuan tentang keséhatan tubuh, demikianpun pengetahuan tentang tubuh manusia d.l.l. untuk keperluan perempuan.

Suka benar saya bila sekalian yang tersebut di atas ini dapat diajarkan juga dalam sekolah anak-anak perempuan yang akan didirikan itu. Kasihan bukan, karena murid-murid sekolah yang tersebut lain dari pada pelajaran yang biasa wajib pula menelan pengajaran itu. Sekolah anak² perempuan untuk bangsa Bumiputera yang demikian, niscaya akan menjadi sekolah yang tidak ternilai harganya, bukan? Lihatlah apa apa pengajaran yang akan diterimanya: kepandaian, pengetahuan, masak-masakan, perkara rumah tangga, jahit-menjahit, 'ilmu keséhatan tuhuh dan pengajaran tentang suatu kerja yang tentu perlu mestilah pula diajarkan. Bermimpilah, mimpikanlah sekaliannya itu, asal saja hatimu boleh senang. Bukantah tidak adalah orang yang akan melarangmu bermimpi itu?

..............................................................................................

Apa saja yang saya karangkan sampai sekarang untuk orang banyak, sekaliannya itu hanyalah perkataan yang sia-sia, dan pemandangan saja dalam beberapa hal yang telah kejadian. Perkara yang penting-penting belum boléh saya uraikan, sayang sekali, bukan? Nanti apabila kami telah terlepas dari belenggu besi adat-adat kuno itu, tentulah sekalian keadaan itu akan berubah. (Adat-adat itu masih kami turut ialah karena kasih dan cinta kami saja kepada orang-orang tua kami). Bapak tidak suka yang anaknya menjadi buah tutur orang lain. Bila saya nanti telah boléh tegak sendiri, bolehlah saya mengatakan buah pikiran saya. Sabarlah dahulu Stella, kepadamu bukanlah perkataan yang kosong saya katakan. jikalau saya mengarangkan apa-apa yang saya sukai itulah suatu bukti yang benar-benar terbit dan hatiku, dan tetulah karangan itu mesti saya kinmkan kepadamu.

10 Juni 1901 (III)Sunting

Karangan tuan Borel yang bagus itu tentang gamelan (musik nyawa dinamai oléh pengarang) teiah kami baca dan kitabnya adalah kami punyai. Tahukah tuan kitab-kitab yang lain, yang telah dikarangkannya? misalnya "Het Jongece" amat molék dan bagus isinya. Banyak orang mengatatam jong Borel katanya berlebih-lebihan dan ancak-ancak, tetapi kami telah merasa lazat isi kitab-kitabnya itu! Kitabnya yang bagus pula yang bernama "De laatste incarnatie", dan yang terlebih bagus kitabnya yang bernama "Droom uit Tosari". Dalam kitab itu ia memaparkan kebagusan alam digunung-gunung tanah Jawa yang senantiasa berwarna hijau itu, sungguh merdu benar tutur bahasanya!

Siapa juapun yang telah merasa kelazatan tutur katanya itu, tentulah akan percaya, bahwa si pengarang itu betul sebenar-benarnya ahli pengarang, ataupun setidak-tidaknya ia mesti ada mempunyai perasaan yang sejati untuk melihat dan merasai keindahan alam ini. Akan menceriterakan keindahannya itu haruslah si pengarang itu seorang machluk yang berbahagia, yang keningnya mémang telah dicium oleh déwa-déwa 'ilmu kepandaian.

Saya berharapa yang saya akan beruntung dapat mempelajari benar-benar bahasa tuan yang manis dan merdu itu. Sekarang juga dapatlah saya mensahkan kepada tuan, bahwa saya senantiasa tiada akan mengabaikan dia, bilamana saja saya sempat mempelajarinya. Itulah sutu maksud yang sungguh-sungguh dalam hatiku, yakni hendak mengetahui benar-benar akan bahasa tuan itu. Saya merasa diri saya sekarang telah beruntung, biarpun saya hanya sekadar pandai membaca dan menulis dalam bahasa tuan. Dan bila saya nanti beruntung pula dapat mengetahui bahasa jérman, maka datanglah saya nanti kepada tuan, boléhkah itu? Sementara itu tentulah orang telah pandai membuat kapal terbang dan pada suatu ketika yang baik, tentulah lagi tuan akan melihat sebuah kapal terbang, melayang-layang di atas udara dinegeri Jena, yang membawa penumpang dari jauh, datang mendapatkan tuan!!!

Seharusnya saya dilahirkan menjadi anak laki-laki. Kalau demikian barulah maksudku yang tinggi itu dapat disampaikan. Sekarang ini saya, ialah seorang peremnuan dalam dunia Bumiputera pada zaman sekarang, susahlah dapat menyampaikan maksud yang tersebut itu. Maksud itu suatu perkara mustahil, tidak boleh diubah lagi. Sedangkan dibenua Eropa pusat jala bagi sekalian 'ilmu pengetahuan dan kepandaian, masih hébat orang berperang, untuk memperoléh hak perempuan yang sejati. jangan kata lagi di tanah Hindia, tanah yang penduduknya masih biadab, dan tiada berpengetehuan, tanah yang perempuan-perempuannya telah berzaman, berabad-abad dipandang oléh laki-laki sebagai machluk yang hina...... ya, beranilah saya mengatakan lagi, bahwa perempuan disini dipandang oléh laki-laki seperti benda yang bernyawa saja. Tentulah orang akan lama menanti, yang di tanah Hindia ini laki-laki akan memandang anak-anak perempuan sebagai manusia sejati, manusia sejati kata saya ialah machluk yang berhak, berhati bébas, bébas dalam hal berpikir, belaas dalam hal perasaan dan bekerja?

Baru-baru ini saya membaca dalam soêrat kabar bahwa Pemerintah Hindia bermaksud akan mendirikan sebuah sekohh tempat anak-anak gadis regén belajar untuk menjadi guru. Siapa yang berusaha untuk meyampaikan maksud yang mulia itu, tidak usahlah saya kabarkan kepada tuan. Tatkala saya mendengar kabar itu, maka adalah semisal pintu surga terbuka dimukaku, dan matakupun memandanglah segala ni'mat yang tiada tepermanai banyaknya didalam surga itu dengan bersukacita. Mendengar bunyi surat kabar itu kami hampir setengah gila karena kegirangan hati; dan hal itu telah membawa kami selangkah lagi maju kemuka, seperti kata pepatah: "Pokoknya asal langkah yang pertama telah dilangkahkan. O, pandailah hendaknya sekalian meréka yang akan mendapat kebaikan itu menghargakan kebaikan itu! Supaya orang boléh dapat menghargakan barang sesuatunya, haruslah orang itu mengerti lebih dahulu, dan akan mengerti itulah suatu perkata yang amat sukar, tidak dapat dalam sehari, ya, tidak dapat setahunpun mempelajarinya. Oleh sebab itu mustahillah kebanyakan kepala-kepala anak-anak negeri akan dapat memuliakan maksud Pemerintah untuk keselamatan dan keuntungan anak-anaknya yang perempuan, bilamana keselamatan dan keuntungan itu, meskipun oleh kami bangsa kaum muda sangat tinggi harganya, tetapi dalam pemandangan meréka itu adalah maksud itu seperti teka-teki dan barang rahsia saja?

Aduh, ketakutan kami itu benar rupanya! Maksud Pemerintah yang bagus, yang boléh banyak menyampaikan pengharapan kami, tiadalah akan makbul, karena kebanyakan kepala-kepala negeri tempat Pemerintah bertanya untuk melangsungkan maksud itu, mencegah maksud itu, oléh sebab ia berlawanan dengan adat. Menurut sepanjang adat, anak-anak gadis tidak boléh belajar diluar rumahnya. Tinggallah engkau, wahai kenang-kenangku! Mimpiku sebagai emas disepuh untuk waktu yang akan datang, tinggallah engkau! Aduh, telah kerap kali benar saya ulang-ulangi dalam hati saya dan berteriak dengan suara yang keras, bahasa mimpi dan kenang-kenangan itu semata-mata beban, yang tidak berguna dalam dunia bangsa Bumiputera, dialah pula suatu benda yang sia-sia dan berbahaya!.............., tetapi sekalian itu hanyalah mulut saja, yang mengatakannya, sebab diembuskan oléh pikiran yang tawar dan dingin itu; dan hati kami yang bodoh dan gila ini tidak mau melepaskan kenang-kenangan dan mimpi itu. Mimpi kebébasan dan cita-cita yang lain-lain telah berurat dan berakar dalam hati kami, sehingga tidak mudahlah ia ditarik dan dihélakan, jikalau sekiranya pohon tempat ia melekat itu tidak dimusnahkan lebih dahulu.

Menurut pendapatanku hati tuan sangat baik sekali, karena tuan telah menyusahkan diri tuan untuk memikirkan untung nasibku pada waktu yang akan datang. Saya banyak meminta terima kasih kepada tuan atas hal itu. Tetapi janganlah kiranya tuan susahkan benar akan halku atau lebih baik saya katakan, bahwa kami telah tahu apa yang akan datang kepada kami. Kami bertiga akan pergi berpegang-pegang tangan menempuh jalan dunia, yang banyak akan mendatangkan peperangan, kecéwaan dan kedukaan kepada kami! Jalan yang telah kami pilih, tiadalah ditaburi dengan bunga ros, tetapi jalan itu mémanglah penuh dengan duri dan ranjau; kami pilih jalan itu ialah karena cinta hati kami akan dia. Dengan cinta hati dan suka kamilah akan menempuh jalan itu. jalan itulah pula yang akan kami tolong menebaskan bersama-sama, dan dialah nanti yang akan membawa beribu-ribu hamba Allah yang teraniaya, saudara-saudara kami, kepadang kebébasan dan keuntungan. jalan yang akan membawa berjuta-juta bangsa kami kepada budi pekerti yang lebih tinggi. Bersama-sama bekerja akan menyempumakan pekerjaan yang berzaman-zaman dikerjakan oléh orang yang ternama, supaya kedudukan budi pekerti dalam kemanusiaan boléh bertambah tinggi, ya, pendeknya akan membawa alam kami yang bagus ini kepadang kesempurnaan. Bukankah kesukaran pekerjaan itu ada berharga besar untuk menerangi kesusahan hidup?

Itulah mimpi si "Tiga saudara” yakni ketiganya anak perempuan Jawa di tanah panas yang jauh ini. O, dapatlah kiranya kami pergi ketanah yang musimnya berganti-ganti, ketanah panas dan dingin, tanah air sekalian “ilmu pengetahuan, supaya dapatlah kami disitu melengkapkan diri kami entuk peperangan besar, yang akan kami tempuh, untuk mencari keselamatan dan bahagia bangsa kami. Belajar! belajar di Eropa, mengumpulkan “ilmu pengetahuan, disana kalbu kami diisi dengan kesucian dan kebagusan, supaya bila kami kembali ketanah air sendiri dapatlah kami bekerja untuk mengembangkan cita-cita kami! Masing-masing harus mempunyai otak dan kepandaian, supaya dapat membuat barang sesuatunya; lebih-lebih akan membuat sesuatu pekerjaan dengan sebaik-baiknya; hal itu ta? dapat dibantahi lagi, sungguhpun masih ada juga orang membantahi keperluan itu, sebab berbuat pekerjaan dengan sebaik-baiknya dan berbuat pekerjaan dengan akal budi, itulah dua perkara yang berlawanan, yang tidak dapat disejalankan. Tetapi dalam hal itulah pula tersembunyi kebijaksanaan yang besar, jikalau sekiranya orang pandai menyatukan kedua kekuasaan yang berlawanan itu, yang tersembunyi dalam hati manusia. O, kerap kali telah saya lihat, bahwa membuat pekerjaan dengan sebaik-baiknya itu tidak dengan pikiran atau akal budi, lebih banyak mendatangkan kejahatan dari pada kebaikan.

Wahai Eropa! Eropa! selamanyakah kiranya engkau tidak dapat kami datangi? Kami yang senantiasa dengan hati dan nyawa kami mengingini tuan? tidak dapatlah dan tidak maulah kami mempercayai hal itu........., tetapi rupanya sungguhlah demikian halnya. Perjalanan pergi ke Eropa dan tinggal disana memanglah sangat mahal. Minister van Financiën kita tidak dapat mengurniai kami dengan ni'matnya.

Tetapi dalam hal itu tidak usahlah kami bersusah hati. Hidup itu amat senang dan bagus tempat meluluhkan hati dengan ratap tangis karena sesuatu hal yang tidak dapat diubahi lagi. Biarlah kami meminta sukur kepada Allah..........dan selalu tinggal sukur sudahlah menjadi kebiasaan kami.........atas segala berkat dan ni'mat yang dihadiahkan Allah kepada kami. Bukankah kami ini telah diberkati oleh Tuhan lebih baik da: pada beribu-ribu hambanya yang lain? Lihatlah apa yang ada pada kami siapa kami ini. Kami masih beribu-bapak yang kami cintai, dan keduanya adalah sehat wa'lafiat, ya, banyaklah lagi kebaikan yang lain, yang telah menghiasi hidup kami. O, hidup itu mémang penuhlah dengan kebagusan, bila kami suka memperhatikan sekaliannya itu, —betul adalah pula hal-hal yang menyusahkan kami, tetapi kami dalam hal itu mestilah selalu mempertinggi kebagusan dan meringankan kedukaan itu.

Banyaklah sungguh hal-hal yang menyuruh kami meminta terima kasih! Apabila kami merasa kelazatan nyanyi burung diudara, atau musik yang merdu yang meriangkan hati, maka kamipun mengucap terima kasih kepada Allah, karena Ia tiadalah menjadikan kami orang yang pekak! Bila kami duduk di Klein Scheveningen, tempat yang sederhana ditepi laut, tempat yang sunyi, damai lagi permai itu, sedang matahari hendak terbenam, kelihatanlah kekayaan Allah disana dengan moléknya. tidak cukuplah kiranya kami memohonkan terima kasih, sebab kami ada bermata yang séhat dan dengan mata kami itu dapatlah kami memandang sekalian yang bagus dan memperhatikan cahaya-cahaya yang manis dan berwarna-warna dipuncak gelombang, dan dilangit itu yang hening dengan sedapnya, karena itu timbullah doa yang meminta syukur kepada Tuhan yang mahakuasa, yang menjadikan serta memerintah seluruh alam ini. Terima kasih! syukur alhamduli'llah! demikianlah suara yang riang dan gembira dalam hatiku. syukur, karena saya dapat dan boléh melihat segala keindahan di atas dunia ini. Berapa banyak orang yang tidak dapat merasa kelazatan akan keindahan dan kebagusan itu? Tidak saja meréka yang memandang siang dan malam sama halnya, yakni selalu dalam gelap gulita, tetapi amat banyak pula meréka, yang mempunyai mata dengan secukupnya, tetapi meréka itupun tidak dapatlah juga melihat keindahan dan kebagusan itu. Itulah yang menyebabkan kami insaf bagaimana kelebihan kami dari pada sesama manusia yang lain, dan kamipun karena itu meminta terima kasih akan rahmat Tuhan yang rahim yang memenuhi ruang-rongga kalbu kami! Oléh karena memikirkan, bahwa banyaklah di antara kita manusia yang bersedih hati mengingatkan diri sendiri, wajiblah insaf kita akan kelebihan kita itu.

Amat banyak perempuan-perempuan bangsa Bumiputera yang lebih pandai dan lebih terpelajar dan lebih budiman dari pada kami, yang cukup mempunyai kekuatan dan kekuasaan, yang tidak bersifat kekurangan, yang berotak dan berpikiran sempurna, yang berpendidikan 'ilmu pengetahuan, sehingga tidak adalah alangan baginya akan melébarkan dan menguraikan kekuatan pikirannya, ya, betul-betul sungguh mendapat segala pekerjaan yang disukainya. Meréka itu semuanya tidak ada membuat apa-apa, dan tidak sanggup mencapaikan apa-apa, untuk menunjukkan jalan akan mempertinggi kedudukan bangsa dan adatnya. Setengah meréka itu telah surut kembali ke dalam dunia yang kuno, dan setengah lagi semata-mata telah menjadi dan terus beradat bangsa Eropa. Kedua jalan yang diturut oléh meréka itu sekali-kali tidak bergunalah untuk bangsanya, meréka itu boléh dikatakan telah hilang lenyap dari bangsanya. Tetapi kalau meréka itu suka dan mau, tentulah ia akan menjadi semarak untuk bangsanya, karena dapatlah ia membawa perempuan-perempuan sesamanya kedunia yang terang, yang memberi meréka itu pendidikan yang bébas. Bukankah sudah menjadi kewajiban bagi tiap-tiap orang, yang lebih berbudi dan lebih terpelajar dari pada sesamanya yang lain, akan membantu kawan-kawannya yang kurang pandai, dan menerangkan barang sesuatunya kepada meréka akan pengetahuannya itu? Sebenarnyalah tidak ada undang-undang yang memaksanya mesti mengerjakan pekerjaan yang sedemikian, tetapi budi pekertinya yang terpuji itulah yang memaksanya wajib melakukan hal yang sedemikian.

O, kata-kataku telah telanjur pula, maafkanlah saya, sekiranya kata-kataku itu membosankan dan merusakkan hati tuan. Apakah yang memberanikan saya sampai menulis sekalian itu kepada tuan, sambil merampas waktu tuan dengan percakapan yang kosong itu? Maafkanlah saya! tetapi tuan sendiripun bersalah pula dalam hal itu, karena surat-surat tuan kedua yang terletak dimukaku, kata-katanya sangat menarik hatiku. Waktu saya membaca tutur kata yang semanis itu, sayapun menyangka yang tuan kedua semisal hadir dihadapanku duduk bercengkerma. Dalam persangkaan itulah terus saya menulis apa-apa yang terasa dihatiku.

Sebuah dari gunung api dipulau Jawa Timur telah memperlihatkan kekuasaannya yang hébat dan telah mengurbankan nyawa beberapa hamba Allah, tentulah tuan telah mendengar. Tentang hal itu tidak usahlah saya uraikan lagi panjang lébar. Menurut sepanjang surat-surat chabar dua tiga buah gunung berapi yang lain, akan mulai pula memperlihatkan kegagahannya. O, gunung-gunung hijau yang bagus, yang berbahaya!

Waktu gerhana matahari pada 18 Mei, gerhana yang menarik hati segala orang pandai-pandai didunia ini datang ke Hindlia pada waktu itu, hanyalah sebentar saja melihat gerhana itu, karena kemalangan kami, langit pada waktu itu diliputi oléh awan yang hitam, dan hujanpun turunlah pula! Tetapi teriak kemalangan kami ini, bagi orang tani menjadi suatu berkat! Bapakpun merasa dirinya beruntung karena hujan itu, sebab ia mendatangkan kebaikan untuk sekalian tanah yang kering dan kurus. Kepada hujan itulah bergantung'nya sekalian itu. Alangkah besar berkatnya hujan yang lebat itu! Menjadi kema'muran dan kesentosaan untuk beratus-ratus, ya, untuk beribu-ribu manusia!

6 Juni 1901 (V)Sunting

Hilda yang tercinta!

Marilah saya mulai, pun di atas nama adik-adikku, memberi selamat kepada tuan atas kelahiran anak laki-laki tuan yang kedua itu, dan berharap kami, supaya ia akan menjadi seorang anak yang séhat sebagai kakaknya, dan berangsur-angsur akan menjadi seorang anak laki-laki yang tangkas, sehingga tuan kedua karena itu boléh berhak akan bersombong diri.

Bagaimanakah tingkah laku sahabat kami yang kecil yang sekarang telah berpangkat "kakak?" Tidak maukah ia bermain-main dengan ségera dengan adiknya si Alfred itu? Bukankah itu nama si kecil itu?

Si anak dalam bulan Mei! Tuan de Genestet telah membuat syair yang amat bagus tentang anak-anak yang lahir dalam bulan Mei. Achir syair itu amat masygul, tetapi untuk anak Mei tuan, kami harap yang doa permintaan si tukang syair itu dalam dua buah syairnya pada bagian yang pertama, akan dikabulkan oléh Tuhan yang esa. Sungguhpun syair itu tuan kenal, tetapi amat suka hatiku akan menuliskannya sekali lagi dibawah ini:

Wahai déwata musim yang segar,
Taburkan dikakinya si bunga mawar,
Wahai déwata si cinta hati,
Kurniakan padanya setia sejati!
Selamatlah tuan ditaman ayah,
Bunda membimbing tidak tahu payah,
Tuan sebagai bunga melati,
Anak bulan Mei Allah berkati!

Saya dengar tuan mentertawakan diriku sendiri bila tuan membaca yang di atas ini, alangkah gilanya? janganlah tuan menghérankan diri dalam hal itu, karena segala bibit-bibit yang telah ber'umur, mémanglah selalu lekas berhati rindu, dan yang bertanda tangan dibawah inipun telah masuk menjadi bibit yang telah tua.

1 Augustus 1901 (VIII)Sunting

Bunga-bungaan dan dupa perasapan tidak boléh tinggal bagi kami bangsa Jawa dalam segala hal.

O, bau bunga dan bau dupa bangsa Bumiputera yang sedap itu mudah benar menerbitkan susunan pikiran dan perasaan kepadaku, tiap-tiap kali apabila saya membauinya, timbullah susunan yang tersebut dalam diriku. Sepanjang hari ia membangunkan kenang-kenanganku dan meneguhkan perasaanku ada berdarah Jawa yang mengalir diseluruh tubuhku.

O, nyawa bangsaku, yang mula-mulanya amat suci, bagus, mulia dan bersifat chidmat, apakah kejadian tuan sekarang? Dijadikan apakah tuan oléh waktu yang berzaman-zaman lamanya, waktu yang sia-sia itu?

Kerap kali orang mengatakan yang kami dalam hati lebih menyukai cara Belanda dari pada cara Jawa. Alangkah sayunya pikiran itu! Biarlah kami dikatakan orang berpikir dan berperasaan sebagai cara Eropa, tetapi darah Jawa kami yang sejati, yang hidup dan panas mengalir diseluruh tubuh kami tidak dapatlah disembunyikan. Kami rasai hal itu senantiasa, bila kamii membaui bunga dan asap dupa, mendengar bunyi gamelan dan desir angin dipuncak pohon nyiur, mendengar bunyi burung tekukur, bunyi puput batang padi dan bunyi den tam lesung padi..........................

Sungguh tidak sia-sialah kami akan tinggal se'umur hidup dalam suatu lingkungan, yang telah menjadikan adat lembaga yang sejati, tetapi dalam hal itu telah kami pelajari dan selidiki pula kehampaan adat lembaga itu, sehingga kuketahui benar-benar yang ia tidak ada berisi. Sekarang itulah sebabnya maka selalu kami mendengar ratap tangis dan suara putus-putus asa, yang keluar dari hati nurani kami: "Apa gunanya lembaga yang tidak berisi itu?" Suatu lembaga patutlah buatannya sempurna, tetapi yang terutama sekali ialah isinya. Sungguhpun demikian adalah banyak yang lain yang baik pada bangsa Jawa. O, kami suka benar bila nyonya datang kepada kami, akan melihat kebagusan yang terdapat pada bangsa kami. jika saya melihat barang sesuatu kebagusan yang sebenar-benamja kepunyaan bangsa Jawa, selalu saya berpikir: "Alangkah baiknya, bila nyonya A. bersama-sama diam dengan kami. Tentulah ia amat suka melihat sekaliannya itu, apalagi karena adalah orang disisinya, yang dapat menerangkan kepadanya barang sesuatu yang tidak dikenalnya itu, yang dipandangnya barangkali hanya sebagai teka-teki dan benda yang gaib saja. Ia tentulah akan merasa kelazatan dan kamipun akan berbesar hati dan menghormatinya, sebab ialah orang yang mempunyai penglihatan benar untuk segala benda yang bagus dan molék."

Si Jawa ahli ukir, demikian namanya nyonya sebutkan, sekarang telah pula mengukir apa-apa yang bagus, yaitu sebuah peti, penuh diukimja dengan ceritera wayang, tutup peti itu diluar dan didalam serta keempat dindingnya diukir dengan gambar-gambar wayang; dan lagi adalah pula sebuah kotak yang berguna untuk menyimpan barang perhiasan, itupun telah dihiasinya pula dengan ukir-ukiran. Peti itu akan saya lapisi dengan sutera kuning sebelah ke dalamnya serta diberi bertepi pérak; yang akan membuat itu ialah anak Bumiputera juga. Peti itu mestilah bagus sekali hendaknya, karena akan digunakan untuk menyimpan porterét regén-regén tanah Jawa dan Madura, yang akan dipersembahkan kepada Seri Baginda Maharaja Wilhelmina. Pikiran yang bagus itu keluarnya dari si pemesan kotak itu, yaitu regén Garut. Akan menghiasi kedua barang itu dipulangkan orang kepadaku, sa ya boléb mengeluarkan uang seberapa saja untuk mengerjakannya, asal peti dan kotak itu boléh bagus rupanya.

8—9 Augustus 1901 (VIII)Sunting

Sekarang saya lihat lagi ditepi laut yang bagus itu, ya, bukan buatan moléknya disinari oléh cahaya bulan yang ku­ning seperti emas, sinar yang mana sekarang berjuta-juta kali pancar-memancar di atas ombak dan alun dalam lautan yang luas. itu, sehingga kelihatanlah rupanya sebagai ular yang bercahaya-cahaya, yang dipalut dengan emas dan pérak!

Dan saya dengar lagi desir daun nyiur yang sedang bergoyang-goyang, dan melambai-lambai sebagai bulu-bulu pérak yang amat besar, ditiup oléh angin malam yang amat sedap terasa dipipi, dan desir lemah lembut kedengaran ditelinga kami. Amat merdu lagi bunyi itu karena dicampuri oléh bunyi ombak dan gelombang yang gagah dan mand ya, memalukan dirinya di atas pantai yang putih dan berkilat-kilat itu. Hal itu sekaliannya ialah mimpi kebagusan dan bahagia! Kami duduk waktu itu adalah dikelilingi oléh lautan mas dan pérak, dan ditudungi oléh langit berwania kilau-kilauan dan ditaburi lagi oléh bintang yang sedang memancarkan cahayanya kian kemari, sungguh serasa kami duduk dalam surga dunia, dengan penghabisan kelazatan dan keriangan hati; bertambah-tambah lagi karena kami mendengarkan suara yang merdu yang menceriterakan kabar yang bagus-bagus dari negeri-negeri asing, yang jauh, jauh dibalik lautan, lautan yang lébar dan bersinar-sinar dimuka kami, yakni kabar tentang tempat tumpah darahnya sendiri.

 
MENGUKIR KAYU DIKABUPATÉN JEPARA.

........................................................................................................................................

Masakan saya dapat melupakan perjalanan yang menggirangkan hati, ketika kami mengantarkan nyonya pergi kesetasiun? Waktu itu sampai sekarang telah setahun lamanya, tahun yang penuh dengan hidup rahim dan ni'mat, tahun pada waktu saya sangat bersuka raya, terkadang meratap dan menangis, dan berhati sedih, tahun pada waktu saya hidup dalam saat yang lazat cita, tetapi juga berputus asa dan berbimbang hati, saat kecelakaan, kesiksaan dan berpenanggungan yang menganguskan hati. Saya telah hidup dalam setahun ini lebih berharga dari pada dua puluh satu tahun yang sudah sama sekali bersama-sama! Sungguhpun demikian tiap-tiap hari dalam tahun ini masih terang tergaris diotakku. Hanyalah menit-menitnya saja yang telah saya lupakan, tetapi tidak 365 kali 24 jam! Sekarang hatiku masih gembira, dan nyawaku masih bergoyang, karena mengenal dan mengingatkan keberatan yang besar, yang telah mendatangi saya dalam hidupku! Alangkah terangnya sekalian itu, masih tertulis rasanya dimentagiku. ya, sekalian yang saya lihat pada nyonya, waktu nyonya disini, masih teringat oléhku. nyonya memakai pakaian yang kehijau-hijauan dengan molék dan sederhananya ............. Kamipun berpakaian yang kehijau-hijauan juga. Adalah seolah-olah telah dimupakatkan lebih dahulu akan memakai pakaian yang berwarna hijau, warna kesetiaan itu!

Setia, ialah sepatah kata yang kecil saja, tetapi artinya bukan buatan besarnya! Setia lebih besar artinya dari pada cinta; setia kerap kali menagih kekuatan yang amat besar. O, hati anak-anak muda! hati yang berdebak-debur, dibalik warna yang hijau yang melindunginya, moga-moga boléhlah hendaknya engkau kuat dan perkasa akan meninggikan arti warna yang tuan pakai itu selalu waktu, yaitu: "setia!"

Lihatlah disana adalah lalu kurnia Allah sebagai sebuah kendaraan yang penuh berisi dengan kiasan Allah yang tiada ternilai harganya; kendaraan itu menempuh jalan yang panas dan bercahaya, melalui jalan yang dipagari dengan kayu yang rindang dan padang yang luas yang berselimutkan terang cuaca seperti mas. Kurnia itu ialah: "setia" namanya. Alam ini sama sekali ialah kegirangan dan cahaya, telah menjadi satu dengan nyawa kami, pun sedang hidup dalam udara keriangan dan sukacita!

Patutkah pertemuan yang sebaik itu dengan lekas saja diperceraikan? tidak dapatkah pergaulan itu dilamakan beberapa hari lagi?

Waktu nyonya berangkat dari rumah kami, nyonya berkata kepada kami: "Tuan tidak tahu betapa suka hati kami lebih la­ma tinggal disini, lebih-lebih karena suamiku banyak lagi hen­dak memperkatakan apa-apa yang lain dengan bapak tuan, tetapi suamiku sayang tidak dapat tinggal lebih lama, sebab waktunya telah dihinggakan amat sedikit. Bila kami pandai memanterakan waktu itu tentu boléhlah kami tinggal...............cobalah jika sekiranya kami dapat membawa tuan ke Betawi, itulah yang sebaik-baiknya!" Kami menyahut: "Kami mengucap terima kasih akan tuan kedua, karena tuan telah datang kemari." Dengan tiada berkata sepatahpun lagi nyonya berjabat tangan dengan saya, dan sayapun tidak meiepaskan tangannia itu.

"Hati yang sederhana lekas mengerti suatu dengan yang lain," kata nyonya kepada dirinya sendiri, tatkala dilihatnya mulutku tidak sanggup menyembunyikan rahsia diam-diam, yang pada halnya tidaklah menjadi rahasia lagi kepada nyonya. "Amat beruntunglah saya dapat berkenalan dengan meréka kedua, dan mendapat kasih sayang dari padanya."

Waktu itulah saat yang berni'mat kepadaku, saat ketika saya bersama-sama dengan meréka itu! Saya mabuk rasanya waktu itu karena kekayaan, mabuk karena berbahagia dan saya merasa diriku seringan kapas, mudahlah dapat diembuskan oléh angin lalu kelangit yang hijau, kepada cahaya yang gilang-gemilang!

Apakah artinya untung bahagia, lain dari pada saat-saat yang bergirang hati, bersuka raya, sehingga tidak sadarkan diri, girang hati, gundah gulana?..................saat-saat yang menyesakkan dada karena debar-debur hati yang amat sangat, sehingga serasa melayanglah kami kelangit membawa kegirangan dan kesukaan tiada berhingga-hingga itu .................. saat-saat yang seperti kilat itu cepatnya, tetapi amat lama dan banyak mengandung kedermawanan pada hari kemudian! Kasih sayang baru dapat menjadikan orang berbahagia, jikalau sekiranya si penerimanya sendiri adalah pula mempunyai kasih sayang itu! ........................................................................................................................................

Penumpangpun segeralah pula naik, karena keréta mesti berangkat. O, binatang buas yang berteriak dan berbunyi hiruk-pikuk, lambatkanlah dan kurangkanlah larimu! jangan engkau terlalu lekas membawa kami sampai ketempat perceraian kami, yakni di tempat yang kemarin tempat kami berjumpa. Aduh! Si tukang menyalakan api tidak mendengar kataku itu, keréta terus berlari seperti biasa, meskipun didengarnya benar kataku itu, tentulah tidak akan dipedulikannya kehendak, keinginan anak perempuan gila ini. Dengan sabar melancarlah keréta itu sebagai biasa di atas réi besi yang terbentang itu; dan pada waktu yang telah tertentu keréta itupun masuklah kesetasiun yang kami takuti itu. Dengan perkasa saya surutkan kembali gelembung, yang terbekang dikerongkonganku, tanda hendak mencucurkan air mata. Saya gigitlah bibirku supaya ia jangan menggigil. Dengan hal yang demikianlah saya berdiri dihadapan nyonya, dan berdiam diri menéngok kepadanya. Dengan hati yang amat sedih, nyonya me­megang tanganku teguh-teguh, dan berkata dengan lemah lembut. "Tuan nanti akan hébat berjuang dalam peperangan, tangkaskan dan beranikanlah hatimu dengan gembira, jangan putus asa, dan percayalah tuan!"

Sekali lagi bersalam dengan tangannya yang halus itu, se­kali lagi ia memandang kami dengan matanya yang penuh cinta kasih sayang, dan nyonyapun berdirilah diberanda setasiun. "Marilah kita bersalam sekali lagi," katanya kepada kami sekalian dengan manisnya. "Lekas-lekas loncéng telah berbunyi! Wah, bunyi loncéng celaka itu sangat menyakiti hati ketika itu!

Kerétapun bergeraklah, mula-mula lambat, kemudian bertambah-tambah cepat.

Dari atas keréta nyonya melambai-lambaikan saputangannya dan tuan topinya. Kerétapun dalam itu selalu mempercepat perjalanannya. Sekarang meréka itu telah lenyaplah, sudah hilanglah, amat jauh dari kami. Meréka itu yang kemarin dahulu sedikitpun belum kami kenal, tahu-tahu sekarang meréka itu telah menjadi sebagian dari hati jantungku, yang tidak dapat dipisahkan dari hidupku.

O, hidup, hidup yang penuh dengan teka-teki, bilakah engkau akan membukakan segala rahasiamu kepada kami?

Siapakah yang dapat mengangkat tirai yang tiada bernyawa dan berbadan itu dari kami ini? Siapakah yang dapat menerangkan kepada kami akan keajaiban yang besar dan bagus yang tersembunyi dalam manusia itu, yaitu keajaiban yang bernama nyawa itu? Siapa dapat menyuluhi benda yang gelap yang disebutkan persaudaraan nyawa yang amat ajaib itu, karena semata-mata hidup meréka masing-masing tidak pernah kenal-mengenal, dan kemudian tahu-tahu dengan sepatah kata dan sekejap mata saja boléh menjadi suatu persahabatan yang amat kukuh, yang mempertalikan meréka itu dengan sekuat-kuatnya?

10 Augustus 1901 (IV)Sunting

Maafkanlah saya dahulu karena baru sekaranglah saya menjawab tentang kiriman dua buah porterét tuan, akan jadi anugerah tuan untuk kami. Anugerah itu sangat membesarkan hati kami, dan amat tinggi harganya kepada kami. Atas pemberian itu kami pohonkan banyak terima kasih kepada tuan.

Apakah yang tidak timbul dalam kenang-kenanganku, tatkala saya melihat porterét tuan itu. Kerap kali jika saya bermuram durja dan bersusah hati dan putus asa, karena melihat bermacam-macam kecelakaan, kecelakaan yang tidak kuasa saya menentangnya, serta melihat sekian banyaknya kelaliman dan sekian banyaknya orang yang tidak menaruh iba-kasihan, maka hatiku segera menjadi senang, jika ingatanku melayang kepada sahabat kami yang jauh itu. Saya sekarang boléh me nam ai tuan sahabat kami, bukan? Sahabat yang bertani membuang dirinya dari dunia kesendirian, karena kasihnya yang sejati kepada sesamanya manusia, dan gagah menempatkan dirinya dihutan rimba, ditengah-tengah bangsa yang biadab, memberi dan mengajar meréka itu arti kata kasih. ka­sih yang dirasainya sungguh-sungguh dalam hati sanubarinya.

Oléh karena hal itu maka kami bersukacita mendapat kedua porterét tuan itu. Melihat porterét itu menarik ha­tiku mengenang-ngenangkan tuan, orang yang kami muliakan, hormati dan sukai benar.

Apa chabar tuan kedua sekarang? Saya harap sungguh-sungguh, yang tuan kedua seperti kamilah hendaknya, kami adalah didalam séhat wa'lafiat. Saya sangat meminta sukur atas hal itu kepada Allah, lebih-lebih lagi karena dimana-mana saja sekarang adalah penyakit. tidak adalah tempat sekarang, yang tiada digoda oléh sesuatu penyakit, kebanyakan penyakit demam.

Dekat negeri kami, di kota Semarang, telah berjangkit pula penyakit koléra, yakni penyakit yang amat ganas, yang telah banyak sekali memusnahkan nyawa penduduk kota Betawi dan Surabaya.

Beruntunglah yang di Semarang penyakit itu hanyalan saja satu² yang dihinggapinya; tetapi koléra itu rupanya suatu penyakit yang sebuas-buasnya, karena hampir ta adalah orang yang kena penyakit itu yang sembuh kembali. Lain dan pada penyakit koléra itu, ialah penyakit demam kepialu pe­nyakit yang jahanam sekali yang ditanggung oleh penduduk beberapa negeri di tanah Jawa; penyakit itu asalnya karena:."tidak cukup makan." Kami berharap supaya Allah akan menjauhkan dari tanah kami segala suatu bahaya yang sangat kesengsaraan dan kecelakaannya dan yang cakap memusnah kan sebuah negeri, yaitu yang bernama: bahaya kelaparan.

Hampir tidak dapat dipercayai, bahwa di tanah Jawa, tanah yang ma'mur dan subur, boléh ditanami dengan bermacam macam tumbuh-tumbuhan, disana boléh kejadian kekurangan makanan. Hal itu sesungguhnya amat menyedihkan hati, kasihan! Bahaya yang sedemikian dengan hébat telah kejadian di Purwodadi, dan belum selang berapa hari ini saya telah membaca dalam surat kabar, yang membesarkan hati, bahwa Pemerintah telah mengeluarkan wang tiga ratus lima puluh ribu rupiah banyaknya, untuk pembeli sapi-sapi pembajak akan dipakai di Purwodadi dan Demak. Demak ialah sebuah negeri yang dibawah pemerintahan pamanku, regén Demak. Tiap-tiap tahun anak negeri amat takut melihat kedatangan musim hujan disana, sebab musim itu selalu menenggelamkan negeri itu. tidak tahulah saya telah beberapa ribu mas, yang telah dikeluarkan oleh Pemerintah untuk belanja perkakas penahan air, tetapi sungguhpun demikian tiap-tiap musim hujan selalulah disana ada banjir besar. Bagaimana juga besarnya kecelakaan itu disini, tetapi orang disini masih beruntung, jikalau dibandingkan dengan saudarah-saudara kami yang miskin, laki-laki dan perempuan yang diam di tanah Eropa yang jauh itu, yang telah biasa menanggung kelaparan dan kedinginan dalam musim dingin. Padaku disini ada sebuah kitab tuan Fielding yang baru saya terima dari negeri Belanda. Kitab itu meriwayatkan hal ihwal agama Budha, dan menurut pemberi tahuan yang telah saya baca dalam beberapa surat-surat kabar, kitab itu amat bagus. Kitab itu diterjemahkan dari bahasa Inggeris ke dalam bahasa Belanda, oléh tuan Felix van Ort, juru kabar dari surat kabar "Waarheid en Vrede" (Kebenaran dan Damai). Tentu tuan telah mengenal pengarang itu. Ia seorang yang mempunyai banyak cita-cita yang hendak mengembangkan keyakinan pikirannya untuk"mengalahkan kejahatan dengan kesayangan." Hal itu amat bagus dalam kenang-kenangan, tetapi dalam hidup bersama-sama amat sukar melakukannya. Kami amat menyukai hal itu, dan kamipun telah membaca juga kitabnya yang bernama: "Naar het groote Licht" (Pergi kecahaya yang besar). Kitab itu isinya menguraikan berma cam-macam pertanyaan, yang biasa bertemu tiap-tiap hari dalam hidup hari-hari.

Telah hampir setahun lamanya, sesudah kita berjumpa di Dépok. Tatkala itu tidak adalah pikiran kami sedikit juga, yang perkenalan kita disana akan meriangkan hati sebagai sekarang ini. Hingga ini masih teringat kepadaku, tuan datang berdiri dekat keréta api, dan bertanyakan, kalau-kalau "regén Jepara datang pula bersama-sama." tidak dapat saya memikirkannya, bahwa hal itu telah kejadian pada tahun yang lalu. bagiku rasanya seakan-akan baru kemarin. Alangkah lekasnya terbang waktu itu!

Dari pada nyonya A. saya baru sebentar ini mendapat sepu cuk surat; nyonya dan tuan keduanya sekarang tidaklah begitu séhat..............................

Tiap-tiap hari, waktu kami tinggal di Betawi itu, sekaliannya hari suka raya bagi kami! Kami sahabat-sahabat tuan gadis-gadis Jawa ini, sangat tama' kepada persahabatan, kesayangan dan kesukaan itu. Ketiga perkara itu tidak pernah membosankan meréka itu. Sekaliannya itu didapatinya di rumah tuan amat banyak! Kemarin dulu cukuplah setahun lamanya, yang Tuhan rabbu'l'izati mendatangkan suka raya itu sehari-hari kepada kami, dan sejak itu tidak dapatlah kenang-kenangan kami, kami ceraikan dari hidup kami lagi. Pada hari tahun perkenalan kami itu, kami rayakanlah di Klein Scheveningen, ditepi pantai kami yang amat cantik; tempat itu amat kami kasihi, karena disitulah kami dapat memandang sekalian yang bagus-bagus dalam dunia hidup kami.

Lautpun waktu itu amat bagus, amat tenang, hening dan permai serta disinari oléh beberapa jenis warna yang di manterakan oléh matahari akan terbenam! Adalah rupanya seolah-olah orang melihat sebuah karang mutiara yang amat besar sekali. Disebelah barat langit warnanya amat menyala sebagai matahari sedang terbakar rupanya. Dipihak selatan tempat pertemuan langit dan laut warnanya keungu-unguan. Waktu itu betapalah pula énaknya melihat warna hijau tua yang bagus dan molék di atas kepala kami, sesudah memandangi segala yang bersinar-sinar yang merabunkan mata itu! Ditengah-tengah sekalian kebagusan itu duduklah kami di pantai putih yang suci itu dengan kaki kami terjuntai ke dalam air, dan hiduplah kami rasanya dengan hidup yang penuh dengan mimpi yang berbahagia!

Tuan tentulah berpikir, alangkah gilanya anak-anak itu! ya, muda dan kegila-gilaan, remaja dan asyik, selamanya di atas sejalan dan sepasang! Kami berharap sangat yang kami selalu boléh bergila-gila sebagai itu, dan tidak pernah menjadi arif dan bijaksana, yang akan menjadikan kami dan kaku! Kami gementar melihat si pendiam dan si kaku itu, tetapi lebih baik kaku dan pendiam dari pada ke palang kaku!

Sayang dan berdukacitalah kami yang kami sampai sekarang belum dapat mengunjungi sahabat kami, nyonya dan tuan Ovink di jombang. Kami sama-sama beringin hendak bertemu, tetapi acapkali jika kami hendak pergi kesitu selalu ada alangannya. jikalau kami datang kesitu, pestilah kami akan pergi ke Mojowarno, yaitu tempat yang telah banyak kami dengar ceriteranya. nyonya Ovink menceriterakan kepadi kami sekalian kebaikan nyonya dan tuan Bervuts, yang dimuliakannya tinggi. Pamanku regén dengan Demak dengan anak isterinya telah pergi pula ke Mojowarna, meréka sangat mengharumkan keadaan disitu. jika sekiranya tuan nanti hendak menggirangkanku dengan sepucuk surat, baiklah tuan banyak² menceriterakan hal keadaan tuan sendiri, kerja tuan dan meréka itu, yang hidup bersama-sama dengan tuan kedua disitu; karena sekalian itu suatu kelazatan yang amat sangat kepadaku hendak mendengarnya. Alangkah lamanya dijalan surat yang dikirim dari Gorontalo maka sampai ke Jawa! Hampir sama lama perjalanan surat itu dengan surat yang dikirim kenegeri Belanda. Dalam bulan Juli yang baru lalu berkumpullah kami sekalian sanak saudara, ipar bésan anak jucu, ya, segala kaum keluarga kami. O, sekaliannya kataku tidak benar, adalah lagi sebuah tempat, yang tinggal kosong dalam perkumpulan itu, yaitu tempat kakakku yang tercinta di tanah Belanda. Senang hati melihat wajah sekalian meréka itu bersama-sama, tetapi rawam pula hati kami mengenangkan, yang kakak yang dicinta itu tidak hadir déwasa itu. Kakandaku itu seorang yang baik hati, kami sekalian suka dan sayang kepadanya. Pastilah suatu kenang-kenangan yang merawankan hati bagi orang² tua, bahwa sekalian anak-anaknya, kasih sayangnya, darah dagingnya sendiri, pada suatu ketika nanti mestilah akan meninggalkannya dan tidaklah lagi menjadi hak miliknya, karena masing-masing perlu pergi menurut untung nasibnya sendiri-sendiri.

19 Augustus 1901 (V)Sunting

Tuan tentu akan berpikir bahasa laku tidak baik, karena berdiam diri sekian lama, dan tidak hendak membalas surat tuan yang merdu itu, apalagi tidak mau mengindahkan panggilan tuan serta tidak memberi kabar tentang kiriman porterét tuan yang bagus itu, yang amat menggirangkan hatiku. Berdiam diri itu bukanlah sekali-kali disebabkan oléh karena saya segan, tetapi karena Kartini yang mempunyai kesehatan sebaik itu, telah membuat dirinya pura² sakit untuk pertukaran hidup. Karena ia beringi hendak memanjakan sebagai orang sakit, sebab itula menurut pikiranku, tidak apalah sakit-sakit sedikit dilebih-lebihi menanggungkannya. Kalau sekiranya tidak ada mata dari belakang, yang saya takuti, yang melihat saya menulis dan membaca surat itu, sungguh amat banyak yang akan saya tuliskan. Wah betapalah marah adik-adikku kepadaku, bila maksud itu saya sampaikan! Adik-adikku mémang pandai pula memarahi orang, hal itu boléhlah saya sahkan kepada tuan! Tetapi apakah yang saya buat sekarang, hendak menceriterakan keburukan adik-adikku yang kucinta, itu tidak baik!

........................................................................................................................................

Tidak ada yang mustahil didunia ini! Apa-apa yang kita teriakkan mustahil pada hari ini, bésoknya telah kejadian. Dalam dunia bangsa Bumiputera telah ada gerakan, yang bermaksud hendak "maju.” Gerakan itu telah berurat dalam kenang-kenangan, dan mémanglah menggembirakan hati. Tetapi sayang gerakan itu mau bertumbuk dengan biji mata bangsa Jawa, ya‘ni ‘adatnya yang telah tua itu. Akan memperoléh kemajuan itu mestilah lebih dahulu banyak peperangan dengan diri sendiri, dan peperangan yang lain-lain, yang harus dilakukan untuk mengalahkan bermacam-macam buah pikiran dan ‘adat-‘adat lama yang tiada berpadanan dengan kemajuan, yang patut dikuburkan dengan sedalam-dalamnya, supaya tidak pernah lagi bangun kembali.

Augustus 1901 (VII)Sunting

Saya sangat yakin, bahwa dari perempuan boléhlah timbul kekuasaan besar yang berguna untuk hidup bersama-sama, karena itulah maka tidak ada keinginanku yang lain dari pada belajar untuk menjadi guru perempuan, supaya saya nanti sanggup mempergunakan diriku mendidik anak-anak perempuan kepala-kepala negeri. O, amat sangat keinginanku, supaya saya cakap membimbing hati anak-anak, memperbaiki tingkah laku, menajamkan otaknya yang masih muda itu, menjadikan meréka itu untuk perempuan yang akan diharap, perempuan yang kelak pandai menanam dan mengembangkan segala biji yang baik dalam hidup meréka itu.

Untuk perempuan-perempuan sendiri, kamipun sangat beringinkan pengajaran dan pendidikan itu, baginya tentulah suatu berkat dan rahmat yang tidak ternilai harganya.

Dalam dunia perempuan bangsa Jawa banyak benar hal-hal yang menyusahkan hati, dan amat banyak pula penanggungan yang sedih-sedih. jalan tunggal yang terbuka untuk anak-anak perempuan bangsa Jawa, lebih-lebih bagi anak-anak perempuan bangsawan ialah: "kawin”.

Adakah dibuat oléh kebisaan adat perkawinan itu sekarang, yang asalnya mula-mula perintah Allah, suatu rukun yang ujutnya akan meninggikan darajat perempuan? Kawin, yang seharusnya menjadi suatu darajat yang mulia, sekarang telah menjadi suatu kerja yang biasa saja! O, dengan perjanjian yang menghinakan dan merendahkan ke hormatan kemanusiaan, wajiblah perempuan Jawa mau tidak mau melakukan keja itu. Atas paksaan bapak, paman, atau kakak laki-laki, wajiblah si gadis buta tuli menurutkan seorang laki-laki asing yakni laki-laki, yang kerap kali telah mempunyai anak dan isteri di tempat lain. Pikiran si gadis itu tidaklah ditanya-tanya, kewajibannya hanyalah menurut perintah saja. Waktu perkawinan itu si gadis tidak perlu, demikian juga kabulnya tidak perlu diminta.

Jauh dan dekat kami ketahui penanggungan yang sengsara, yang disebabkan oléh rukun Islam, yang amat memudahkan kewajiban si laki-laki, tetapi sangat menyedihkan dan mencelakakan si perempuan! Perempuan-perempuan telah dibuat sedemikian dan hal itu tidak dirasanya, kata orang yang segala "tahu.” Kalau hal itu tiada setujoé dengan pikirannya, mengapa ia membiarkan hal yang sedemikian itu?

Biarlah saya ini seorang anak bangsa Jawa yang dibesarkan dalam pangkuan bangsa itu, dan selaMa hidupku tinggal didunia bangsa Jawa, berani menyatakan kepada tuan, bahasa perempuan-perempuan bangsa Bumiputera ada berhati manusia juga, hati yang dapat merasa dan menanggungkan, seperti hati perempuan yang berbudi pekerti dinegeri tuan. Tetapi disini hal itu tinggal ditanggungkan saja oléh perempuan-perempuan dengan diam-diam, berserah diri tidak kuasa dan tidak kuat sekali-kali, karena meréka itu tidak ada berkepandaian dan berpengetahuan.

Dalam hikayat nabi adalah diceriterakan begini: Suami Fatimah pergi kawin sekali lagi, waktu itu Fatimah ditanyai oléh nabi Muhammad, bagaimanakah perasaannya, karena suaminya beristeri seorang lagi. Fatimah menjawab: "Tidak ada apa-apa bapak, sekali-kali tidak adalah apa-apa perasaanku.” Waktu ia berkata itu Fatimah sedang bersandar pada sebatang pohon pisang yang mula-mulanya berdaun segar dan subur, tiba-tiba daun pisang itu menjadi layu dan pohonnya tempat ia bersandar itu menjadi angus.

Sekali lagi nabi bertanya akan perasaan Fatimah. Fatimah pun menjawab lagi: "tidak ada apa-apa, bapak, sekali-kali tidak apa-apa perasaanku!” Nabi lalu memberi Fatimah sebiji telur mentah, dan dimintanya meletakkan telur pada dada Fatimah. Kemudian nabi meminta telur itu kembali serta dipecahnya dan dilihatnya waktu itu telur itu telah masak!

Semenjak itu hati perempuan-perempuan sebelah timur tiadalah berubah-ubah. Hikayat yang di atas ini menerangkan juga kepada kita betapa pikiran kebanyakan perempuan, tentang hak si laki-laki yang amat bengis itu.

Banyak perempuan-perempuan memandang, bahwa menjadi suatu kehormatanlah kepadanya, pandai menyabarkan diri dengan tiada mengubah air muka, bila duduk berdekatan dengan isteri-isteri suaminya yang lain, tetapi janganlah ditanya apa yang tersembunyi dan terukir-ukir dalam dadanya yang terluput sama sekali dari pada mata orang banyak, ialah: hati perempuan yang sangat disakiti, dan nyawa sebagai nyawa kanak-kanak yang tidak patut berpenanggungan dan kena siksa hidup-hidup.

Sekali lagi saya berkata, bahwa amat banyak penanggungan yang ditanggung dengan kesedihan dan dahsyat dalam dunia perempuan bangsa Bumiputera yang membawa meréka melarat. Penanggungan meréka itu yang saya pandang ketika saya masih kecil itulah yang mula², yang menerbitkan dan membangunkan keinginanku hendak memerangi kebiasaan hina itu, yang rupanya terpandang adil, karena telah berurat berakar dari dulu kala. usaha kami adalah dua maksudnya, pertama akan bekerja bersama-sama untuk meninggikan darajat bangsa kami dan menebas jalan untuk saudara-saudara kami yang perempuan kepadang keadaan yang lebih bagus, keadaan hak kemanusiaan.

Kepada tuan sekalian yang menaruh kasih dan cinta bagi tanah Jawa dan kepada penduduknya, anak Jawa, kami pohonkan permintaan yang amat sangat: "Tolonglah kami menyampaikan cita-cita kami, kaum perempuan.”

Berilah perempuan-perempuan pendidikan, bukakan hati dan pikirannya; dan tuan sekalian yang menjadi sahabat tanah Jawa, tentulah tuan akan mendapat penolong-penolong yang tangkas dalam pekerjaan tuan yang berat, bagus dan mulia itu, yakni: kesopanan, pengetahuan dan darajat yang tinggi dari suatu bangsa!

Ajarlah meréka sesuatu kepandaian, supaya meréka itu tidak lama lagi tinggal menjadi barang rampasan, tidak ada berdaya, bila orang yang melindunginya, berkehendak akan mengawinkannya. Perkawinan itu kalau sekiranya ia beranak, akan menghamburkan dia dan anak-anaknya itu ke dalam lurah kecelakaan itu. Kami telah banyak melihat kemelaratan dalam dunia perkawinan bangsa Jawa, hal itu ialah disebabkan oléh kare­na hak laki-laki orang Islam yang sangat bengis itu. Duka hati perempuan dalam perkawinan yang demikian dan kemelaratan anak-anak yang tumbuh sebab perkawinan yang demikian, membakar hati kami, dan jalan itu mencambuk kami akan melawani hal keadaan itu!

Hanya sebuah saja jalan tempat kami lari akan melepaskan diri dari pada hidup yang sedemikian, yaitu si gadis itu wajib sanggup berperang mencari penghidupan sendiri.

Belum seorang juga perempuan yang membuat sedemikian, ataupun yang berani membuat sedemikian! Karena malu besar, bila anak gadis tidak dikawinkan, demikianpun jika seorang perempuan tinggal tidak bersuami.

Cita-cita kami ialah apabila kami ada berkepandaian yang cukup boléh mengadakan sebuah sekolah untuk anak-anak gadis kepala-kepala negeri, maka disekolah itu akan kami ajarkan lain dari pada pengetahuan biasa yang berguna untuk hidup setiap hari, ialah 'ilmu kesopanan, yang meninggikan pikiran dan menyucikan hati.

Dapatkah akan terdiri sebuah sekolah yang sedemikian? Kami berani mengatakan "boléh”. Meskipun kebanyakan kepala-kepala negeri yang telah mengirim anak-anak gadisnya sekarang pergi belajar kesekolah, hanyalah untuk pemujikan dirinya saja, karena meréka tidak mau kalah oléh kawan sejawatnya yang lain, dan sekali-kali bukanlah sebab ia insaf akan guna pelajaran perempuan-perempuan untuk si punya diri sendiri dan orang sekaliannya; tetapi hal itu tiadalah kiranya mendatangkan kerugian bagi dunia perempuan, karena makin lama makin banyak pula kepala-kepala negeri dan orang besar-besar yang betul-betul berkehendak akan pendidikan yang bébas untuk anak-anak gadisnya. Sekolah-sekolah Gubernemén dan partikulir dapat menyatakan kebenaran perkataan yang di atas ini. Sedangkan Susuhunan Solo telah mengi­rim anak-anak gadisnya kesekolah. di tanah Priangan yang suka maju itu, yaitu di tempat anak-anak perempuan sekarang sudah menjadi kebiasaan pergi bersekolah, telah dibuka orang lagi sebuah sekolah partikulir untuk anak-anak pe­rempuan bangsawan, yang dibantu oléh Pemerintah. Disitulah anak-anak gadis regén-regén bersekolah beramai-ramai, terpisah dari rumah orang tua meréka itu.

Banyak orang tua-tua yang suka sekali hendak menyuruh anak-anak gadisnya belajar kesekolah, tetapi tidak membiar menyampaikan maksud itu, karena meréka itu tidak senang hatinya mengirim anak-anak perempuannya kesekolah, yang dalamnya anak-anak perempuan belajar bersama-sama saja dengan anak-anak laki-laki.

Akan menggaji seorang guru perempuan Belanda datang kerumah terlampau mahal untuk orang kebanyakan, dan hanyalah satu-satu orang saja yang sanggup melakukan pekerjaan yang semahal itu; sungguhpun demikian adalah seorang wedana, tidak "terpelajar" dan tidak kaya, telah berani menggaji seorang guru perempuan Belanda untuk mengajar cucunya yang perempuan dalam rumahnya.

Dulu adalah seorang ibu yang muda yang telah menyuruh suaminya berjanji, waktu ia sedang sakit keras dan hendak meninggalkan dunia, bahwa bila si suami berpangkat yang lebih tinggi kelak, si suami akan menyampaikan cita-cita si isteri, yakni: "Akan menyerahkan anaknya perempuan pergi kesekolah Belanda."

Kami telah beberapa kali memperkatakan perkara itu dan cita-cita untuk perempuan-perempuan yang boléh tegak sendiri, dan yang sanggup mencari penghidupan sendiri, dengan isteri kepala-kepala negeri. Sekaliannya itu memperteguh pengharapan dan kepercayaan kami, bahwa akan menyampaikan cita-cita itu; pokoknya, hanyalah melangkahkan langkah yang pertama, artinya wajiblah ada hendaknya suatu contoh yang bermula sekali dahulu dan apabila hal itu rupanya betul-betul berguna entuk hidup bersama-sama dan dapat disesuaikan dengan hal yang lain-lain, pastilah keadaan itu akan dituruti oléh orang lain.

Tentu adalah anak-anak gadis lain yang berpikir dan merasa seperti kami, dan yang suita juga mematah dan memusnahkan rantai dan belenggu yang meneguhkan adat, yang mengikat perempuan-perempuan orang Islam. Meréka itupun sekaliannya sedang berhenti pula sekarang dimuka pintu: "Belum ada lagi perempuan yang membuat sedemikian?"

Sebab itu mestilah ada satu contoh yang pertama!

Sekarang adalah seorang kepala negeri yang telah memohonkan permintaan kepada Directeur v. O. E. en N., supaya anaknya yang perempuan boléh diterima disekolah dokter. Bapa dan anak yang berbahagia! Si anak itu tentulah akan menjadi suatu kebajikan besar nanti untuk tan ah airnya. Saya harap, yang si anak itu akan menyampaikan maksudnya dengan sungguh-sungguh!

Adikku Rukmini, suka benar gambar-menggambar; citacitanya yang besar, ialah hendak memasuki sekolah tinggi menggambar, supaya dapat ia mempergunakan dirinia kelak, buat menghidupkan kembali segala kepandaian anak Bumiputera. Bukankah kepandaian anak negeri itu suatu jalan pula pergi kepadang kemajuan dan keselamatan anak negeri?

Jikalau sekiranya disekoiah tinggi menggambar itu ia tidak duduk pada tempatnya, artinya tidak cukup kecakapannya untuk belajar disana, ia akan pergi belajar kesekolah mengurus rumah-tangga, supaya nanti ia dapat mengajarkan harga wang kepada anak-anak gadis yang akan menjadi perem­puan, yakni suatu pelajaran yang sangat berguna sekali untuk dunia bangsa Bumiputera. Sedangkan Pemerintah telah bermaksud hendak mengajar pegawai-pegawai Bumipu­tera berhémat. Tetapi apakah paédahnya Pemerintah memaksa si laki-laki menyimpan wang, kalau isterinya, orang yang meme­gang urusan rumah-tangga, tidak tahu akan harga wang itu?

Adikku dan saya akan bekerja bersama-sama.

Yang kami sukai lagi, supaya dalam sekolah yang kami kehendaki itu diajarkan pula: pengajaran keséhatan dan penyakit, dan kepandaian palut-memalut orang luka!

Pengetahuan itu suatu pengetahuan yang layak kepada kami dan sangat berguna dalam hidup bersama-sama. Tiaptiap orang lambat launnya mestilah akan melayani orang sakit, dan mémanglah menjadi suatu kesedihan kepada kita melihat kekasih kita menanggung kesakitan, sedang kita dalam hal itu tidak tahu bagaimana ichtiar akan meringankan kesakitan itu. Pengajaran tentang keséhatan, penyakit dan palut-mema­lut orang luka, itulah pengajaran yang wajib dimasukkan ke dalam bagian pendidikan. Berapa banyak kecelakaan yang tidak akan terjadi, atau banyak yang boléh dikurangi kesakitannya, jikalau sekiranya dari dahulu-dahulu orang telah mengajarkan pengetahuan yang berguna itu kepada laki-laki atau perempuan-perempuan yang mau mempelajarinya.

Kami sekali-kali tidak bermaksud akan menjadikan bangsa Jawa bangsa Jawa-Eropa oléh karena meréka diberi pen­didikan yang bébas; cita-cita kami hanyalah hendak memberi meréka itu barang yang bagus, yang asalnya dari bangsabangsa lain, akan penambah sipat-sipat yang bagus, yang ada pada meréka sendiri, dan bukanlah pula akan penghalau sipat-sipat meréka yang telah lazim, tetapi terutama akan memperbaiki sipat-sipat yang ada itu! ........................................................................................................................................

Alangkah besar sukacitaku membaca permulaan kata tuan dalam karangan tuan yang bernama "Land en Volk van Java" (Tanah dan bangsa Jawa).

Hal itu sangat meriang dlan membesarkan hatiku, tatkala saya membaca kata-kata yang gembira, yang menguraikan dan memaparkan kebagusan tanah airku dan............dan membukakan guci wasiat yang berisi dengan keburukannya. Perasaan yang berbahagia lagi berkuasa kerap kali baru dapat menghiburkan kami, apabila kami ada diluar, dipadang yang luas dan bébas, kurnia Allah.

Terjauh, jauh dari tutur kata orang banyak yang dungu dan bebal. Berhati dan berpikiran sendiri dalam udara yang sedap, dibawah langit yang hijau, dekat lautan yang lébar dihadapan kami, dan di belakang kami daun nyiur yang melambai-lambai. O, disitulah perasaan kami yang berbahagia berlipat ganda!

Kerap kali terbit dalam pikiranku yang sangat loba: "ya Allah, biarkanlah saya sendiri hidup dalam udara yang suci, jauh dari riuh dan rendah, jauh dari berjenis-jenis perkara, hanya sendiri saja dengan alam dan kalbuku! Itulah loba, sebenar-benarnya loba! Salah sekali, sebab kemauan yang demikian bukanlah maksud hidup kami, kami wajib hidup bersama-sama dan bertolong-tolongan dengan sesama manusia yang lain. Memperbagus hidup, itulah hajat kami sebenarnya.

Tetapi sekarang saya telah terlalu lama menggoda tuan, tuan tentu adalah bekerja yang lain, yang lebih berguna dari pada mendengarkan percakapan seorang gadis Jawa, yang bersedih hati berlebih-lebihan.

4 September 1901 (VIII)Sunting

O, kami tidak dapat, kami tidak mau percaya, bahwa hidup kami akan berpenghabisan yang biasa dan susah seperti hidup beribu-ribu orang yang lain yang dahulu dan yang kemudian dari pada kami. Tetapi kadang-kadang rupan ya sebagai barang yang mustahil! Kadang-kadang maksud yang kami cintai benar-benar itu rupan ya seakan-akan sampai, dan tiba-tiba bu­kan buatan jauh antaranya dari kami.

Sekali-sekali adalah hati manusia yang sedang diayun dan diempaskan kian kemari oléh syak dan waham, bertanya: "O, Allah, apakah artinya kewajiban?"

Mengurbankan diri bernama kewajiban, dan memenangkan diri bernama juga kewajiban. Bukankah mustahil dua perkara yang mémang berlawanan, keduanya sama-sama ber­nama dan berarti kewajiban?

"Terus", teriak suatu suara yang nyaring dalam hatiku "Teruslah perangi kehendak dan keinginan tuan, karena menurut kemauan meréka yang tuan cinta dan sayangi, dan karena meréka yang mencinta dan menyayangi tuan, sebab peperangan tuan yang seperti itu memuliakan kemanusiaan. Teruslah!"

Kemudian berbunyi pula suatu suara yang lain, sama-sama kuat dan keras: "Pergilah bekerja untuk menyampaikan cita-cita tuan, bekerjalah untuk waktu yang akan datang, bekerjalah untuk keselamatan beribu-ribu hamba Allah, yang telah bungkuk dliimpit oléh bermacam-macam undang yang tidak adil dan oléh pengertian yang lancung tentang buruk dan baik, pergilah, pergilah, tanggungkan dan berperanglah, ya, bekerjalah sungguh-sungguh untuk keselamatan yang kekal!" Kewajiban manakah yang tertinggi? Kewajiban yang pertama atau yang achir?

Kelobaan selalu saya pandang sebagai kejahatan yang sekeji-kejinya, yang terdapat didunia ini, dan yang saya bencii benar, demikian pula bersipat tidak terima kasih. Dan hal yang lain yaitu cita-cita kami, telah menjadi satulah dengan hidup kami. Kami tidak dapat hidup dengan tidak ada bercita-cita, dan kamipun tidak dapat pula hidup dengan ketiadaan cinta kasih sayang dari meréka yang kami cinta dan sayangi itu.

Bilangan meréka tidaklah banyak, yang sebenar-benarnya mengerti dan ma'lum suatu dengan yang lain, sebagai bapaku mengerti dan ma'lum kepadaku, biarpun meréka itu berhubung sedekat-dekatnya, karena sedarah dan sedaging. Amat banyak kesesuaian dan kesamaan sipat-sipat dan kemauan ka­mi berdua, dalam segala hal kami suka-menyukai dan sayangmenyayangi, dan hanyalah dalam suatu hal saja kami tidak da­pat sesuai. O, mengapa maka sedemikian, dan apakah sebabnya itu? Agaknya benarkah seperti kata orang, bahasa didalam alam yang luas dan lébar ini tidak adalah didapat dua buah benda yang serupa benar², dan tidak adalah pula dua orang manusia yang semata-mata sama sipatnya? O, bapakku yang tercinta, kita kedua sama-sama mengetahui betapa kita timbal balik kasih-mengasihi, kami tahu benar-benar, bahasa jalan yang telah dipilih oléh anak-anak perempuan tuan banyak bertabur dengan duri, tetapi tuanpun tahu juga, o, kekasihku, bahwa dalam hal itu bukanlah kegilaan hati yang membimbing kami, dan yang kami pergantungi ialah cita² kami dengan tulus ichlas kami, seumpama kami mempergantungi tuan; mengapa, mengapakah kiranya maka jalan yang telah sukar dan susah itu, tuan persusah lagi dengan keizinan tuan, yang selalu tuan tahan untuk kami itu?

Bahwa hidup kami tiada akan beruntung, kalau sekiranya kami tiada mendapat berkat dari tuan, tuanpun telah tahu, demikianpun kalau cita-cita kami tidak dapat kami sampaikan.

Berkat rahmat tuan, tentulah dimuka kami selalu akan bercahaya, dan jalan yang sangat sukarnya niscaya akan tertempuhlah! Bapak, bapakku, mengapakah tuan tidak mau mengizinkan kami dalam hal yang satu itu? cinta itu mahakuasa, dan telah berzaman-zaman diingat dan dimasyhurkan. cinta antara kita kedua amat besar. O, cinta yang sangat mulia, dan yang telah acap kali menjatuhkan air mataku, berilah kami berkat kerjamu: hapuskanlah perselisihan sipat kami itu, padulah sipat itu menjadi satu!

Saya sangat mengasihi bapaku, nyonyapun tahu sendiri, tetapi kasih bapak kepada kami lebih besar lagi. Saya lekas kesal, tidak sabar, ya, pandaknya: "perajuk." Tetapi betapa sabar bapakku menahan tingkah ragamku! tidak pernah saya mendengar sepatah kata yang kasar atau pedih. Bapak selalu berkata manis dan lemah lembut! Oléh karena itulah dapat saya merasai kasihnya yang tiada berhingga itu! Betapa lamanya telah lalu, tatkala saya menyesakkan keputusan perkara kami, melihatlah bapak kepada ku dengan pemandangan yang amat berdukacita. Matanya yang bersusah hati itu adalah seolah-olah seperti hendak bertanya: "Hendak lekas benarkah engkau mau meninggalkan daku, o, anakku?"

Ketika itu segeralah saya palingkan mukaku, saya tidak mau menéngok mata yang setia dan yang kukasihi itu, saya hendak menegapkan dan tidak mau melemahkan diri.

Hati sayapun hampir hancurlah rasanya, tatkala kami berdua duduk berhadapan, sambil bapak memangkuku dengan kedua belah tangannya dan bertanya: "Wajibkah diperbuat benar-benar sedemikian? tidak dapatkah diubah lagi? Wajibkah meréka itu semua seperti engkau? tidak boléh diubah lagi?" Sekaliannya terasalah kepada kami masing-masing dengan air mata berlinang-linang dipipi, pada waktu kami bertentangan itu.

Tatkala itu sangatlah beratnya penanggunganku di atas dunia. Hal itu kejadian beberapa hari sebelum bapak sakit. Kemudian setelah bapak sembuh, berkatalah bunda kepadaku: "Wahai anakku, sabarkanlah dirimu!" "Saya tidak dapat menyabarkannya," jawabku dengan suara yang pilu.

Sejak itu bundapun tidak pernah lagi memperkatakan hal itu diengan saya. Asal saja bapak mengizinkan kami, maka bundapun turutlah pula memberikan berkat dan rahmatnya kepada kami. Meréka sekalian kasih dan sayang kepada kami, karena hal itulah pula maka peperangan kami menjadi lebih dahsyat.

Penanggungan............penanggungan............tidak lain dari pada penanggungan yang kami masukkan ke dalam segala hati meréka, yang amat setia dan kasih itu!

30 September 1901 (VIII)Sunting

Di tanah Priangan banyak perempuan-perempuan dan gadis-gadis yang telah bersekolah dan pandai bercakap bahasa Belanda. Kebanyakan meréka yang berkenalan dengan kami ber­cakap bahasa Belanda dengan kami. Senang sekali! Betul amat bersukacita kami disitu berkenalan dengan bangsa dan kaum kami sendiri. Pergaulan dengan meréka itu membesarkan hati, bébas dan tiada kaku. Meréka itu gemar bersuka-sukaan, bersenda gurau dan tersenyum-senyum!

Apa yang saya lihat dan saya dengar dalam perjalananku itu, senantiasa menguatkan pikiranku, bahwa kalau manusia itu hanya berpikiran tinggi saja, belum cukup untuk hidup bersama-sama, lain dari pada itu manusia wajiblah pula ada mempunyai suatu 'ilmu yang lebih dalam yang akan menolong dan membawa manusia ketempat yang harus diturutnya. Dekat ketajaman otak wajiblah hadir kesucian hati, kalau tidak demikian, tentulah adat kesopanan tidak dalam, melainkan tinggal dikulit saja.

..............................................................

O, janganlah dibangunkan juga cita-cita, sia-sia saja, karena pasti ia akan mati, dan demikian juga janganlah dikenangkan pula hendak bermimpi, karena mimpi itu telah kita ketahui boléh tiba-tiba menyadarkan orang dengan bengis. Itu suatu lial yang bengis dan ganas! O, alangkah besarnya niatku hendak mempunyai kepandaian yang sempurna hanya dalam suatu bahasa saja, yaitu bahasa sendiri atau bahasa Belanda, supaya dapat saya benar-benar menguraikan segala yang saya pikirkan dan rasai, tentang sekalian yang menyukakan menghérankan saya, atau tentang sekalian yang menyakiti hatiku, seperti kecelakaan yang dimuliakan dan dipergantungi oléh bangsaku yakni: kelobaan si laki-laki dalam hal memiliki dan memerintah perempuan, dan kelemahan si perempuan da­lam hidup bersama-sama, karena kurang pengetahuan meréka itu, dan supaya dalam segala hal itu dapat diberi keadilannya! Saya adalah mempunyai pikiran yang keras dan tajam tentang cita² itu. Kadang-kadang amat gatal jari saya héndak menulis segala buah pikiranku itu kepada orang tempat kepercayaanku, demikian pula hendak menampalkannya kemuka orang yang patut mengetahuinya. Tetapi apakah paédahnya sekalian itu? Tentulah orang akan mengangkat bahunya saja mendengarkan itu, yang lain lagi akan mentertawakan, dan yang kebanyakan tentulah tidak akan mengindahkan hal itu. Sebab dikiranya pekerjaan orang gila atau pusung!

Barangkali lebih baik saya tiada mengetahui bahasa itu dengan sepertinya, supaya tidak dapat saya membuat citacita, yang saya sukai dengan bahasa itu. Siapa tahu betapa kejahatan yang akan diterbitkan oléh péna orang yang keras kepala, yang belum banyak penanggungannya, dan dalam hal itu maksud yang baik boléh jadi buruk.

Mengetahui bahasa itu dengan sebenar-benamja tiadalah akan banyak gunanya bagiku déwasa ini, karena saya tidak boléh berseru keras-keras.

Setelah segala kesengsaraan yang tersebut di atas ini, hendak saya kabarkan pula, yang akan menyenangkan hati nyonya.

Belum berapa lamanya yang lalu datanglah bertandang nyonya dan tuan Quartero dengan seorang kemendur lain kerumah kami. Waktu itu tuan-tuan itu memperbincangkan seorang regén yang dikenal baik oléh kemendur lain itu. "Seorang yang sangat terpelajar,” katanya kedengaran oléh kami dan sebentar lagi ia berkata: "Tidak, ia tidak beristeri, tetapi ia ada beristeri seorang perempuan yang bukan jodohnya, tidak dapat dibawanya kemédan, sebab isterinya itu seorang perempuan anak orang kebanyakan saja, dan dengan perempuan itu ada beranak dua orang. Ia tidak bermaksud lagi akan beristeri, ia tidak suka mengawini radèn ayu, karena ia tidak mau menceraikan perempuan itu, atau tidak sudi menjadikan isterinya itu seorang perempuan yang tidak berhak dalam rumah.

Salah suatu dari perkara itu tentulah akan menyakiti hati perempuannya itu, dan ia tidak suka memperbuat pekerjaan yang sedemikian.”

Hatiku terbuka tatkala saya mendengar ceritera itu, sambil berpikir, kalau demikian adalah juga rupan ya laki-laki yang baik dalam dunia bangsa Jawa! Patut dipuji, bukan? nyonya Quartero menceriterakan kemudian dari itu kepada kami, bahwa ia dan suaminya tiba-tiba memandang kepada kami, tatkala meréka itu mendengar ceritera itu, dan keduanya sama-sama berpikir: "Adakah percakapan itu didengar oléh anak-anak gadis itu? Alangkah tingginya kehormatan regén yang tersebut dalam hati meréka itu!" ya, kamipun sangat menghormati regén yang seperti itu. Kami berharap sungguh-sungguh yang regén itu akan tinggal tetap seperti itu dan sedikitpun tidak akan suka mengubah keputusan pikirannya yang bagus itu.

Sekarang kami dengan girang hati hendak berkenalan dan bercampur gaul dengan regén itu, kami berharap yang maksud itu akan lekas sampai.

Kaum muda yang berpikir demikian, baik laki-laki atau perempuan wajib lekas memperhubungkan tali salatu'rrahim suatu dengan yang lain. Tiap-tiap orang mémang dapatlah membuat sesuatunya, untuk meninggikan nama dan kesopanan bangsa kami, tetapi apabila kami sepakat serta menyatukan kekuatan dan bekerja bersama-sama, tentulah akan mendapat hasil lebih banyak. Dalam kata sepakat itulah tersembunyi kekuatan dan kekuasaan.

11 October 1901 (I)Sunting

Hai sahabatku yang setia, sekaranglah akan saya ceriterakan kepadamu tentang hal ihwal maksud kami, memaparkan hal itu tentulah karena kepercayaanku penuh kepadamu.

Jalan-jalan yang terbuka bagi kami untuk mencari penghidupan sendiri sambil boléh mempergunakan diri kami untuk hidup bersama-sama, ialah menjadi dokter, dukun beranak, guru, pengarang, ahli dalam perkara membuat patung-patung. Mémang adalah lagi jalan-jalan lain, yang terbuka bagi kami untuk mencari penghidupan diri sendiri, tetapi jalan itu tiadalah kami mau turut dan ingini, karena ia tidak berguna untuk bangsa kami. Apalah gerangan paédahnya untuk bangsa kami, jika kami perempuan-perempuan jadi pembantu apotheker, tukang buku, tukang kawat, jurutulis pada bermacam-macam kantor dan lain-lain sebagainya?

Kerja-kerja dan hidup yang berhubung dengan kerja itu tiadalah menarik hati kami. Kami mau bekerja hendak mencari penghidupan sendiri sambil hendak mempertinggi kedudukan kemanusiaan bangsa kami, dan budi pekertinya. Kami ingin hidup yang cukup dan sempurna. Engkau telah tahu, bahwa pada Pemerintah ada bermaksud lagi, yang sedang diuraikan oléh Directeur van O. E. en N. yaitu maksud akan mendirikan sekolah-sekolah urusan rumah-tangga untuk anak-anak perempuan Bumiputera dan untuk percobaan akan didirikan saja dahulu sebuah sekolah bagi anak-anak gadis kepala-kepala Bumiputera. Pada tahun yang lalu, tatkala kami sendiri mendengar maksud yang baik itu, dari mulut paduka tuan itu sendiri, maka bertanyalah isterinya, kalau-kalau saya suka menjadi guru pada sekolah yang tersebut itu. Saya menjawab, bahasa saya menyukai benar pekerjaan itu, tetapi saya tidak sanggup menjabatnya, sebab saya belum belajar untuk menjabat pekerjaan itu, itulah saja alangannya. Waktu itu nyonya yang tersebut menjawab, yang suaminya suka mengangkat saya menjadi guru disekolah itu, terutama ialah akan membimbing hati anak-anak itu dan membangunkan tingkah laku meréka itu yang baik. Disekolah itu saya wajib bercampur gaul dengan anak-anak itu sebagai saudaranya yang tertua, dan akan menjadi contoh kepada meréka itu. Itu suatu pangkat yang mulia, tetapi saya tidak boléh disalahkan, sebab saya tidak mau menjabat pangkat itu; alangannya sebab saya tiada berkepandaian yang disahkan (menurut undang-undang). untuk menjalankan jabatan guru itu, nyonya itu berkata pula, kalau sekiranya saya suka benar hendak belajar untuk jadi guru itu, maka saya harus pergi belajar pada salah satu sekolah Normaal di Betawi atau di tempat yang lain, barang beberapa lamanya untuk mengambil diploma. Dan hal itu bukanlah menjadi suatu keberatan. Sekarang bergantunglah pekerjaan itu kepada kemauanku lagi.

Yang bapakku menyukai hal itu, engkaupun telah tahu. Tentu saya akan pergi ke Betawi, disitu segala bantuan dan pertolongan untuk menyampaikan hajatku itu, sudahlah pula dijanjikan oléh directie[3] sekolah menengah untuk anak-anak perempuan kepadaku. Dengan directie itu baru sekali saja kami bertemu dan bercakap-cakap. Kebaikan hatinya, seorang yang baru kami kenal, sangat meriangkan hati kami. yang ia lekas menyayangi pergerakan kami itu sangatlah pula menguatkanku. syukurlah! Dimanakah saya boléh dapat bantuan dan pimpinan, yang lebih baik lagi dari pada seorang nona, yang telah menjadi kepala pada sebuah sekolah menengah? Tiada dicari dan tidak disangka-sangka, telah jatuhlah suatu pertolongan yang amat besar di atas pangkuanku. Saya amat gembira, merasa diriku sebagai terbang diawan yang tinggi dan menyangka bahwa saya akan berangkat ke Betawi tidak lama lagi, boléh jadi dalam sepekan dua pekan ini atau selambat-lambatnya dalam sebulan dua lagi.....

Sayapun telah menceriterakan kepadamu, bahwa kami sekali-kali bukanlah orang berada, sungguhpun bapaku bergaji besar, tetapi ia wajib lagi banyak mengeluarkan belanja, sehingga gajinya yang besar itu hanya cukup untuk kami hidup sederhana, dan akan memberi saudara-saudaraku laki-laki pendidikan yang baik. Anak laki-laki dalam segala hal wajib ditolong lebih dahulu! Sayapun telah memikirkan juga tentang keberatan dalam perkara wang itu, karena itulah saya telah bermaksud hendak mengubah tujuan dan haluanku, yaitu hendak pergi ke Sekolah Dokter di Betawi, sebab keberatan untuk belajar menjadi guru itu terlalu besar; untuk menyampaikan maksud itu harus bapakku mengeluarkan wang dalam setahun kira-kira seribu dua ratus rupiah, yakni sebanyak gaji bapakku dalaam sebulan; hal itu bukanlah perkara kecil menilik keperluan untuk rumah tangga kami, yang sebesar itu. Akan belajar jadi dokter tidak guna orang mengeluarkan wang sedikit juapun, tetapi sayang murid-murid yang diterima disitu hanyalah anak laki-laki saja; murid-murid perempuan sampai sekarang belum pernah diterima. Sekalian keperluan pelajaran untuk jadi dokter, semua ditanggung oléh Pemerintah. Murid-murid mendapat rumah tempat tinggal, dan diberi uang tiap-tiap bulan untuk membayar makan, pembeli pakaian dan mendapat pertolongan dokter dengan tiada membayar.

Ketika saya di Betawi saya tanyakan kepada Directeur van O. E. en N., kalau-kalau anak-anak perempuan boléh diterima disekolah yang tersebut, karena sekolah itu masuk penjagaan Departeménnya. Tuan Mr. A. bukan tidak suka, melainkan suka benar, ia bergirang hati akan maksudku itu; keberatannya murid² perempuan wajiblah hendaknya tinggal diluar sekolah. cita-citaku meminta kepada Pemerintah, supaya saya diterima di Sekolah Dokter, dengan perjanjian yang saya akan mendapat hak, betul-betul seperti hak yang diperoléh murid-murid laki-laki dalam sekolah itu. Tiap-tiap orang mudahlah memikirkan, kegunaan dokter perempuan itu, apalagi untuk perempuan-perempuan anak negeri, karena bodohnya, lebih suka ia mati dari pada badannya diraba oléh seorang dokter. Kepala Departement van Onderwiys dengan segala suka hati akan menolong permintaanku itu, tentu besarlah harapanku, yang Pemerintah akan mengabulkan permintaanku itu.

Saya selalu menyukai kepandaian dokter itu, hanyalah saya takut, karena lamanya belajar disitu. untuk orang yang belum ber'umur dua puluh tahun, bila belajar lamanya tujuh tahun, menurut timbanganku, tidak adalah alangannya; tetapi bila 'umur orang itu telah léwat dari dua puluh tahun, menurut pikiranku adalah agak lama waktu itu. Dan lagi anak gadis yang telah sampai 'umur wajib setiap hari duduk di antara anak-anak laki-laki yang ber'umur 13-18 tahun, dan beberapa lamanya kemudian akan menjadi seorang perempuan tunggal dalam laki-laki yang sebanyak itu, kuranglah menarik hatiku. Tetapi sekalian hal itu, hanyalah perkara kecil saja, mudah dapat saya hapuskan. Tetapi adalah lagi alangan yang lain. Bapak dan sahabat kenalanku tidak menyukai hal itu; masing² adalah dengan sebabnya. Bapak mengatakan tidak mau, karena saya sajalah nanti seorang anak perempuan didalam kumpulan laki-laki dan bujang² yang banyak itu — hal yang seperti itu belum pernah terjadi disini; dan sahabat kenalankupun tidak suka, sebab meréka itu chawatir, bahwa perasaan yang kuat untuk pelajaran itu, barangkali tidak ada kepadaku. Menjadi dokter mémanglah satu kerja yang baik, tetapi kerja itu tidak dapatlah dikerjakan oléh tiap² orang. Meréka yang belajar menjadi dokter perlu ada kepadanya, kemauan yang kuat, kekerasan hati dan perasaan yang tetap. Itulah yang dikuatirkan oléh sahabat kenalanku, tetapi saya dalam hal itu tiadalah takut. Menurut pikiran bapak, pekerjaan gurulah yang sebagus-bagusnya untuk kami, demikian pula pikiran sahabat-sahabatku di Betawi. Menurut timbangan meréka itu lagi, kerja guru itulah yang amat bagus dan pantas sekali untukku, sepadan benar dengan cita-citaku. Dan dimanakah lagi saya boléh lebih baik, dapat memaparkan cita-citaku, lain dari pada menjadi seorang pendidik anak² gadis, yang kelak akan menjadi perempuan dan bunda dalam hidup bersama-sama. Dalam tangan si anak itulah terletak keadaan yang akan datang, dan ditangan si bunda tergenggam keadaan si anak itu. Bila saya menjadi pengarang tentulah banyak dapat saya bekerja untuk penjelmakan cita-citaku dan mempertinggi kedudukan kesopanan bangsaku; dan kalau saya menjadi guru hanyalah sedikit saja padang tempat saya bekerja, tetapi saya boléh dengan segera dapat mendidik meréka itu, dan padang yang sedikit itu tentulah lama-lama boléh menjadi luas dan kembang, dan diturut orang, asal saja contoh yang diberikan disitu contoh yang baik.

Engkau tahu yang kesukaanku ialah membaca kitab-kitab dan dalam itu kenang-kenanganku, supaya kesukaanku itu dapat menjadikan saya seorang yang berarti tentang usaha dalam 'ilmu bahasa. Tetapi orang tidak dapat mengerjakan dua kerja dalam suatu waktu, itulah sebabnya maka tidak ada harapanku akan menjadi guru, yakni guru yang saya kehendaki, yang sanggup menajamkan pikiran si anak, dan menimbulkan budi pekerti yang baik, guru yang sepanjang hari mestilah mengindahkan si anak itu, dan dalam itu hendak berusaha lagi untuk 'ilmu bahasa. Saya suka bekerja satu saja, tetapi saya' mau membuat kerja itu dengan sebaik-baiknya. Sekarang kedudukanku antara dua benda yang suci, Stella. Bila saya menjadi dokter atau yang lain, agaknya tidak usahlah saya meninggalkan kerja yang sangat saya sayangi itu yakni: "penjilat péna!”

Tetapi menurut pikiranku pengajaran dan pendidikan yang dipercayakan orang kepadaku, itulah kerja yang amat suci dan memberi berkat, sehingga karena itu saya tidak bersenang hati mengerjakannya, bila saya merasa, bahwa saya tidak cakap melakukan kewajiban itu........ yakni kewajiban yang saya sendiri tahu, mestilah dilakukan oléh seorang pendidik yang cakap. Sekiranya menjadi guru disekolah urusan rumah tangga, tentulah sepanjang hari saya mesti berjinak-jinakan dengan anak-anak, dan malam haripun, ya, sampai larut malam, tentulah saya belum akan bébas, karena anak-anak itu telah dipercayakan kepadaku. Kepercayaan mendatangkan kewajiban yang besar, dan menjadi guru disekolah itu artinya menerima penanggungan yang amat berat. Barangkali menurut pikiranmu ingatanku dalam hal itu terlampau panjang, tetapi tidak dapat saya ubah ingatan itu dan saya kira menjadi suatu kesalahanlah, bila saya berani memikul pendidikan anak-anak, yakni meréka yang menggenggam keadaan yang akan datang, sebab saya mengingatkan, bahwa saya tidak cakap berbuat kerja yang sebesar itu, mulia dan suci pada pemandanganku. Sayapun tiadalah pula akan bersenang hati akan mendapat pujian dari pada kepala-kepalaku, bila kerjaku itu tiada sesuai menurut kehendak hatiku.

Cita-cita bapakku dan sahabat kenalanku, ialah jika sekiranya saya benar-benar hendak menjabat sesuatu jabatan dan mau bekerja untuk keperluan orang banyak, maka wajiblah saya menjadi guru kepala pada sebuah sekolah perempuan. Dan engkau, Stella, untuk menjadi apakah saya, yang baik dalam pikiranmu? Dan jalan mana yang patut saya turut? Katakan kepadaku dengan hati yang tulus ichlas, keluarkanlah pertimbanganmu seterang-terangnya dalam hal ini, dan dari padamu tidak lain yang saya harapkan hanyalah sekalian yang baik saja. Engkau selalu menyatakan kepadaku yang engkau seorang sahabatku yang baik dan tulus hati, sekarang engkau buatlah juga sedemikian itu.

Adalah jalan lain lagi yang terbuka untuk kami. Adalah seorang dokter pendéta belum berkenalan benar dengan kami, yang ternama lagi amat mulia, telah kerap kali men­dengar hal kami dari sahabat kenalan kami. Pada suatu hari atas kemauannya sendiri, telah mengunjukkan dirinya kepada kami, menerangkan, bila mana kami suka hendak belajar kepadanya untuk menjadi dukun beranak, maulah ia mengajar kami dengan tiada membayar uang seko­lah. Pada pihak lainpun adalah datang pula pertolongan yang sedemikian kepada kami. Dalam hal itu sangatlah kami mengucapkan terima kasih! Engkau tentu telah mendengar atau membaca peri hal orang Bumiputera yang beragama Nasrani di Mojowarno dalam residénsi Surabaya? Dalam rapor "Maatschappeliyk Werk in Indië” (Pekerjaan bersama-sama di Hindüa), dari rapat-rapat Pertunjukan perusahaan. Perempuan, hanyalah tersebut nama dokter pendéta[4] itu, demikian pula di Mojowarno amat mashur namanya. Engkau tentu telah kerap kali mendengar, bahasa dukun beranak amat berguna sekali di tanah Hindia. Pada tiap-tiap tahun jika dipukul rata-rata, adalah kira-kira 20.000 perempuan di tanah Hindia yang mati beranak, dan adalah kira-kira 30.000 anak-anak mati waktu lahir, karena tiada mendapat pertolongan dari dukun beranak. Dalam hal itu masih banyaklah usaha yang boléh kami kerjakan, untuk berbuat jasa dan paédah bagi saudara-saudara kami dalam hidup bersama-sama.

Kami sungguh menyukai sekali kerja dukun beranak itu; tetapi tentulah kami akan berdusta bila kami berkata, bahwa menjadi dukun beranak itu telah suatu cita-cita kami. Sungguhpun demikian menjadi dukun beranak itu mémanglah seribu kali lebih baik dari pada tinggal bergantung saja kepada kaum keluarga, apalagi dari pada perkawinan yang terpaksa.

Dari bapak kami telah mendapat izin pergi ke Mojowarno, untuk belajar menjadi dukun beranak, kalau sekiranya jalan-jalan yang lain tidak dapat kami tempuh lagi. Kaum keluarga yang lain sekali-kali tidak menyukakan kerja itu, karena menurut pikiran meréka itu kerja dukun beranak itu amat hina bagi tangan kami, anak orang bangsawan!!! Sahabat kenalan kamipun tiada akan bersukacita, bila kami menurut jalan itu, tetapi meréka ada mempunyai sebab yang lebih mulia, ya, sebab yang lebih tinggi. Menurut timbangan meréka, sangat susah bagi kami bekerja seperti itu, karena kami ada menaruh cita-cita yang lain. Pada hal yang sebenarnya bukanlah meréka tidak suka yang kami pergi ke Mojowarno, sekali-kali tidak, menurut pemandangannya kerja dukun-dukun itu suatu kerja yang tinggi dan mulia, tetapi maksud kami hendak menjadi contoh dan menjadi suri teladan itu, boléhkah dapat kami sampaikan dengan cara demikian? Sedangkan di Eropa yang penduduknya telah terpelajar, disanapun orang masih menghinakan kerja dukun beranak itu, apalagi di tanah Hindia, yang penduduknya masih gila akan kehormatan dan kemuiiaan, tentulah meréka itu tidak dapat menghargakan kerja yang baik itu dengan sepatut-patutnya.

Tentulah meréka itu akan memandang pangkat itu hina; apa-apa yang tidak tinggi, tidak bercahaya dan tidak harum selalu dipandang oléh bangsaku kurang, tidak ada berharga. Engkau tentu mengerti yang kami sendiri tiada akan menghinakan kerja itu, tetapi untuk diri kami haruslah kami mengindahkan keadaan itu jangan menjadi sesalan kelak. Kami yang mau membukakan jalan untuk kebébasan dan hidup tegak sendiri untuk perempuan-perempuan bangsa Jawa! contoh yang akan kami berikan wajib sesuai dan sepadan dengan orang lain. Barang sesuatu yang dipandang orang hina tentulah tidak akan diturut orang. Bila kita berniat yang orang lain hendaknya menuruti jejak kita, haruslah contoh yang kita berikan itu suatu benda yang baik dan menghérankan orang, serta memberahikan orang akan menirunya. Dalam hal itu bukanlah kita mengingatkan kehendak kita sendiri saja, tetapi patutlah kita ingat benar akan keadaan bangsa, yang hendak kita ajari dan kita beri contoh itu.

 
JALAN KE JEPARA DENGAN POHON KENARI SEBELAH-MENYEBELAH.

Pada masa sekarang di tanah Belanda dan terutama di den Haag telah timbul suatu gerakan, yang hendak menghidupkan dan menerbitkan kembali kepandaian anak Hindia yang telah lenyap. Perserikatan "Oost en West”, ialah tunas dari "Pertunjukan perusahaan Perempuan.” Engkau tentu telah mendengar hal keadaan perserikatan itu, yang terutama kerjanya ialah hendak memperhatikan rupa² keadaan Hindia. Perserikatan itu ada mempunyai suaióe afdleeling untuk 'ilmu kepandaian dan afdeeling itu dipimpin oléh beberapa orang pandai-pandai, ahli dalam 'ilmu kepandaian.

Afdeeling 'ilmu kepandaian itu bermaksud hendak mengirim orang pandai-pandai (tentang perkara patung) pergi ketanah Hindia, akan membantu dan memperbaiki 'ilmu kepandaian anak Hindia, terutama kepandaian membatik, yang sekarang tidak sejati lagi, karena telah dicampuri oléh kepandaian bangsa asing, bangsa Eropa dan lain-lain, yang merusakkan dan meruntuhkan kepandaian asal bangsa Hindia itu. Kesukaan orang di tanah Belanda, supaya kepandaian bangsa Hindia diterbitkan oléh kemajuan pertunjukan kepandaian bangsa Timur dan Barat. di tanah-tanah yang lain kepandaian bangsa Hindia, lebih-lebih kepandaian batik-membatik, mulailah dikenali dan diketahui orang.

Saya menyangka, yang saya telah menceriterakan kepadamu, bahwa Rukmini ada berotak baik dan cakap untuk mempelajari perkara gambar-menggambar; cita-citanya senantiasa hendak menjadi pandai-gambar. untuk pekerjaan itu harus ia belajar di tanah Eropa, tetapi sayang hal itu tidak dapat dilakukannya.

Dengan wang kami sendiri tidak sangguplah kami menolong menyampaikan cita-cita adikku itu. Tahukah engkau kemana kami hendaknya meminta tolong? Kami bermaksud hendak memperhubungkan tali salatu'rrahim dengan perserikatan "Oost en West” dan meminta pertolongan perserikatan itu, supaya adikku dapat menyampaikan cita-citanya yang bagus itu, sehingga ia dengan pertolongan perserikatan "Oost en West”, atau perserikatan yang lain dapat memasuki sekolah tinggi gambar-menggambar, lukis-melukis di den Haag, dan nanti setelah tammat pelajarannya ia boléh mengusahakan dirinya untuk kepandaian bangsa kami. Siapakah yang boléh lebih baik mengusahakan dirinya untuk hal keadaan kepandaian bangsa Jawa, lain dari pada anak bangsa itu sendiri, yang mémang ada menaruh cinta sejak kecilnya, akan kepandaian bangsa Bumiputera?

Karena Rukmini seorang anak dari pada bangsa Jawa sendiri, maka dapatlah ia memasuki sekalian tempat, yang tidak dapat dimasuki oléh bangsa Eropa, biarpun orang itu berniat baik kepada bangsa Jawa. Kami adalah mengenal beberapa orang di antara pengurus-pengurus "Oost en West” dan afdeeling 'ilmu kepandaian itu. Bila percobaan kami ini tidak berhasil, maka Rukmini bermaksud hendak belajar menjadi dukun beranak. Ia mau menjadi pandai gambar atau dukun beranak, tetapi apa juapun yang akan dibuatnya, ia mau memperbuat kerja itu dengan sebaik-baiknya. Oléh sebab itu bila nasibnya telah menyuruhnya menjadi dukun beranak, untuk mencari penghidupannya, dan akan memberi paédah kepada orang banyak, ia amat suka berjerih payah mempeladcari 'ilmu itu di tanah Eropa. Dinegeri Belanda tentulah dapat 'ilmu itu dipelajarinya dengan secukup-cukupnya, dan apabila tammatlah pelajarannya, tentulah 'ilmunya itu besar sekali faédahnya bagi perempuan-perempuan disini.

Dokter-dokter disini dapat mengajarnya hanyalah untuk menjadi dukun beranak, yang selalu mesti bekerja dibawah pengajaran seorang dokter. Pada pemandangan bangsa kami, yang belum mempunyai cita-cita yang besar dan buah pikiran yang tinggi, yakni bangsa yang hanya pandai memuliakan keindahan dan kebagusan saja, besarlah perbédaannya bagi meréka, bila Rukmini belajar disini atau belajar di Eropa untuk menjadi dukun beranak itu. Bila ia berdiploma dari Eropa, orangpun tiadalah akan memandang rendah kerjanya, dan meréka itu tentulah suka menurut kerjanya itu. Dalam hal itu kami hendak meminta pertolongan kepada Professor Hector Treub di Amsterdam dan Dr. Stratz di den Haag, yaitu meréka yang kerap kali telah memperbincangkan tentang pertolongan yang patut diberikan kepada perempuan-perempuan yang sakit beranak di Hindia, supaya karena pertolongan itu beribu-ribu manusia tiap-tiap tahun akan terlepas dari pada bahaya maut. Dalam majelis persidangan Tweede Kamer, kalau saya tidak salah perkara itu telah diuraikan juga oléh tuan van Kol. Kabarnya tuan itu akan datang ketanah Hindia, saya berharap supaya saya diapat bertemu dan bercakap-cakap dengan dia. Kakakku tahu benar kepadanya.

Pemerintah di tanah Hindia telah berhajat akan mengadakan perubahan yang baik atas hal keadaan yang buruk itu. Segala dokter di tanah Jawa yang suka mengajar perempuan-perempuan yang mau belajar untuk menjadi dukun beranak akan mendapat uang bantuan tiap-tiap bulan dari Pemerintah. Dan perempuan-perempuan itu selama belajar itu, mendapat pula uang bantuan dari Pemerintah untuk pembayar séwa rumah dan lain-lain, dan setelah meréka itu membuat ujian, maka diberilah gaji oléh Gubernemén.

Maksud adikku Rukmini, jika telah tammat pelajarannya di Eropa untuk dukun beranak itu, akan mendirikan sebuah sekolah untuk mengajarkan kepandaian dukun itu. Akan kepandaian dokter-dokter yang memberi pelajaran tentang hal itu disini, tentulah tidak dapat dicacat, tetapi apakah gunanya dan artinya kepandaian itu, kalau dokter-dokter itu tidak dapat menerangkan pelajarannya kepada murid-muridnya dengan sempurna, karena si guru dan si murid masing-masing hanya mengerti dalam bahasanya sendiri-sendiri? Hampir sekalian dokter-dokter disini betul mengetahui bahasa anak negeri yakni bahasa Melayu, tetapi sedikit, ya, amat sedikit benar, bahasa itulah juga yang dipakai dokter-dokter itu bila ia bercakap-cakap dengan anak negeri. Bahasa Jawa hampir tidak ada seorangpun dokter yang mengerti. Di antara orang-orang Jawa yang sebanyak itu, hanyalah amat sedikit pula, yang mengerti bahasa dan bercakap Melayu. Tahukah engkau sekarang betapa kesusahan dokter-dokter itu bercakap bahasa Melayu, yakni bahasa yang amat sedikit diketahuinya, akan menerangkan apa-apa kepada murid-muridnya, perempuan-perempuan dan anak-anak gadis dari désa, yang sejak dari kecilnya tidak pernah mendapat pengajaran, dan tidak kenal serta tidak mengerti suatupun bahasa asing, kecuali bahasanya sendiri?

Sekalian kesusahan itu tentulah akan hilang lenyap, bila orang yang menjabat pangkat untuk mengajar perempuan-perempuan Jawa menjadi dukun beranak itu, mengerti benar-benar bahasa anak negeri.

Karena Rukmini sendiri anak Jawa, itupun boléh pula menolong menyampaikan maksud itu lebih lekas. Bangsa Bumiputera selalu setia kepada orang-orang bangsawan bangsanya, dan apa-apa yang dibuat oléh bangsawan, yang dihormati oléh anak negeri, mudah diterima dan dipercayai oléh meréka itu.

Pada 24 hari bulan October berhentilah saya menulis surat ini, sekarang saya mulai lagi menghubungnya. Kartupos yang saya kirimkan sementara itu kepadamu, telah mengabarkan betapa susah hal keadaan yang telah menggoda kami, dan sekarang beruntung kami karena kesusahan itu tidak ada lagi. yang Rukmini dahulu sakit keras, engkaupun telah tahu. Telah dua kali nyawanya seakan-akan bergantung pada sehelai rambut, tetapi sekarang dengan pertolongan Allah ia telah mulai sembuh, dan setiap hari adalah bertambah séhat, sehingga pada hari ini ia telah pergi keluar. Bagaimana kami bersukacita dan betapa kami meminta terima kasih karena kesembuhannya itu, tidak dapatlah saya katakan kepadamu. Adikku Kardinahpun telah berjalan-jalan pula sampai-sampai seperempat jam lamanya, dan mukanya yang pucat dan kurus dahulu itu, sekarang telah mulailah berwarna. Sungguh banyak benar kesusahan kami sekali ini.

Dimana-mana juapun sekarang hawa negeri kurang séhat, karena musim panas yang amat sangat. Wahai tanah yang malang, itulah yang tuan tanggungkan, lain dari pada bermacam-macam penyakit yang berbahaya? Oléh karena musim panas yang amat sangat itu hampir sekalian sawah diseluruh negeri kami menjadi rusak binasa. Di Grobogan tidak jauh dari sini dalam kesusahan yang besar sekali, sebab dilanggar bahaya kelaparan, dan anak negeri Demak sekarang takut bukan buatan menanti kedatangan musim penghujan, yang menenggelamkan negeri itu tiap-tiap tahun; dan disana sawah yang tidak menjadi, karena dilanggar panas, tidak kurang 26000 H.A.; dan dalam hal itu dinegeri itu sekarang berjangkit pula penyakit koléra amat sangat. O, tanah yang malang, dalam musim kemarau, engkau celaka karena kekurangan air, dan musim penghujan engkau melarat terbenam karena kebanyakan air! tidak usah saya panjangkan lagi tentang kesengsaraan itu, biarlah saya hubung terus ceriteraku pada empat belas hari yang lalu. Adikku Kardinahpun mau menjadi guru juga dan pengajaran yang disukainya, ialah kepandaian urusan rumah-tangga dan masak-memasak. Maksud kami selalu akan tinggal bersama-sama dan bekerja bersama-sama, supaya kami dapat sekutu menyampaikan hajat kami yaitu: hendak meninggikan kesopanan bangsa kami. Bila nasib kami baik, kami bersama-sama akan membuka sebuah sekolah, tempat mengajarkan segala pengajaran seperti disekolah rendah dan ditambah lagi dengan kepandaian: jahit-menjahit, urusan rumah-tangga dan lain-lain sebagainya; lagi pula akan diajarkan disitu kepandaian membatik, menggambar dl1. atau 'ilmu dukun beranak.

Untuk belajar menjadi guru dalam 'ilmu urusan rumah-tangga dan masak-memasak haruslah orang pergi kenegeri Belandla. Sekolah yang sedemikian tidak ada disini. Keinginan Kardinah yang terutama sekali ialah musik dan itulah cita-citanya yang dihati kecilnya benar dan itulah sebabnya maka ia selalu asyik mengusahakan dirinya mempelajari musik itu, tetapi maksud itu sekali-kali tidak dapatlah disampaikannya. Adikku yang bungsu itu telah membuangkan cita-citanya itu, dan mengambil maksud yang lain. Ia akan merasa beruntung, bila cita-citanya yang lain itu dapat menjelmakan dirinya. Ia berkehendak benar-benar akan menolong meninggikan kedudukan kehormatan bangsanya. jika ia menjadi guru dalam pelajaran urusan rumahtangga, banyaklah yang akan dapat dibuatnya. Makin lama makin banyak Pemerintah memperlihatkan kesukaannya, supaya anak negeri dan pegawai-pegawainya bersipat hémat.

Karena hal keadaan urusan rumah-tangga tergenggam dalam tangan perempuan, maka patutlah orang lebih dahulu mulai mengajar perempuan bersipat hémat, supaya sipat itu boléh kembang dalam bangsanya. Apakah paédahnya laki-laki diajar berhémat itu, kalau sekiranya perempuan yang menjaga rumah-tangga tidak mengenal harga wang? Itulah sebab yang akan kami hadapkan kepada Pemerintah, bila kami memohonkan permintaan supaya Kardinah diajar menjadi guru dalam urusan rumah-tangga, supaya nanti sangguplah ia memberi pengajaran tentang kepandaian itu di tanah Jawa. Adikku itu mau memikul beban yang berat itu dengan bahunya, akan mengajar perempuan-perempuan dan ibu-ibu pada waktu yang akan datang, di tanah Jawa, supaya meréka itu pandai berhémat dan tahu akan harga uang.

Untuk diriku sendiri saya boléhlah maju disini, artinya mengambil diploma disini saja; tetapi belajar di Eropa tentulah lebih baik dari pada di Hindia, karena di Eropa orang dapat lebih mudah mempertinggi pikiran dan memperluas pemandangan dan sebagainya.

Lebih-lebih masa sekarang Pemerintah telah memperlihatkan betapa ia mengindahkan kesopanan dan kepandaian pegawai-pegawainya, hal itu nyata sekali waktu mengangkat regén-regén baru-baru ini, yakni Pemerintah telah memilih dua orang muda, meskipun menurut sepanjang aturan yang biasa, meréka itu tidaklah masuk bilangan waris, karena meréka bukanlah kaum keluarga regén yang digantikan itu ...............menurut sepanjang aturan biasa bapak digantikan oléh anaknya, dan bila si bapak tidak beranak laki-laki atau tidak beranak yang cakap untuk menggantikannya, maka boléhlah diangkat seseorang dari kaum keluarga regén yang berhenti itu............ Tetapi regén-regén yang baru diangkat itu, karena terpelajar dan telah menerima pendidikan di tanah Eropa.

Sekalian itu menyatakan, bahwa pada Pemerintah adalah tersimpan maksud yang mulia hendak memajukan dan mempertinggi kedudukan kehormatan tanah Hindia, terutama untuk bangsa Jawa dan lebih-lebih bangsawan-bangsawan Bumiputera, yang kebanyakan akan menjadi pegawai negeri, diberi lebih dahulu 'ilmu kepandaian dan pengajaran yang harus ditaruhnya.

Tuan Abendanon telah berkata: "tidak usahlah diperkatakan lagi, bahwa dunia Bumiputera tidaklah akan lekas maju kemuka, kalau sekiranya perempuan-perempuan bangsa Bumiputera selalu tertinggal di belakang. Setiap hari sepanjang waktu telah nyata, bahwa kemajuan perempuan itu suatu perkara yang penting untuk kemajuan suatu bangsa.”

Kebanyakan bangsa Bumiputera masih enggan menyuruh anak-anaknya perempuan pergi kesekolah, karena disana laki-laki yang mengajar. Sebab itu guru-guru perempuanpun haruslah pula ada disitu.

Lima belas tahun yang telah lalu Pemerintah mengirim empat orang anak muda-muda bangsa Bumiputera dengan ongkos Pemerintah pergi belajar kenegeri Belanda, dengan penjagaan seorang guru kepala yang pandai; disana meréka itu diajar untuk menjadi guru. Meréka itu suka sekali pergi kenegeri Belanda untuk belajar menjadi guru itu, karena belajar disana lebih banyak mendatangkan faédah dari pada jika meréka belajar di tanah Hindia, dan supaya nanti sangguplah meréka bekerja untuk kesopanan dan kemajuan bangsanya, bukanlah kemauan meréka sendiri, hanyalah kemauan yang datangnya dari pada seseorang yang benar-benar suka hendak memajukan tanah Hindia.

Keadaan kami berlainan dengan hal meréka itu. Bagi kami ialah suatu kemauan, keinginan hendak mempunyai "cahaya” kemajuan, yang keluar dari hati yang yakin, yang diterbitkan oléh kedukaan hati sendiri, karena kasihan memikirkannya dan sama-sama merasa sedih dengan meréka yang sengsara dalam hidup bersama-sama.

..................................................................

Akan melakukan cita-cita kami itu hanyalah kami menantikan izin bapak saja lagi. Maafkanlah bapakku dalam hal itu, Stella, karena ia chawatir melepaskan anak-anaknya ke dalam suatu hal yang akan datang, yang belum nyata kepadanya. Orang yang menjadi pembuka jalan seperti kami ini, wajiblah memerangi dan mena'lukkan segala syak dan waham itu lebih dahulu; bahwa hal itu tidak mudah dan akan mendatangkan banyak kecéwa dan dukacita bagi kami, kamipun ma'lumlah pula. Dan orang-orang tua dimanakah yang tidak gemar melindungi anak-anaknya dari pada kedukaan? Orang-orang tua dimanakah pula yang tidak akan berhati kecut dan berat membiarkan anak-anaknya ke dalam dunia yang penuh dengan peperangan dan kecéwaan? Demikianlah nasibnya sekalian meréka yang menjadi orang pembuka jalan.

Saya tidak tahu yang saya nanti betul-betul mau pergi belajar ketanah Belanda. bila sekiranya adalah orang menyuruh saya kesana. Hal itu dahulu suatu cita-cita padaku, dan sekarang iapun masih demikian juga, hendak pergi belajar kenegeri Belanda itu. Tahun yang sudah tatkala kenang-kenangan itu diperkatakan, dan saya akan disuruh belajar di rumah, maka saya melawani maksud itu dengan sekuat-kuatnya. Bila saya belajar, saya mau belajar baik-baik, belajar baik-baik itu hanya dapat saya lakukan dinegeri Belanda atau di Betawi. Negeri Belanda tidak dapat saya capai, kalau saya wajib belajar disana dengan uang sendiri; akhirya negeri Betawilah yang tinggal dikepalaku.

Di rumah tentulah tidak dapat belajar sebaik-baiknya, artinya sekali-kali tidak dapatlah saya mengusahakan diriku benar-benar untuk pelajaranku; hal itu sangat, ya, sangat berguna sekali untuk meréka yang telah ber'umur seperti saya ini. Kewajiban dalam rumah dan kewajiban menerima jamu, tentulah banyak akan merintangku dalam pengajaranku. Apabila saya ada di rumah, tetapi tiada bekerja untuk keperluan rumah, itulah pula pekerjaan yang mustahil. jadi dengan hal yang demikian niscayalah amat susah. Hal itu terjadinya tahun yang lalu, tatkala bapakku séhat dan kuat; sekarang bapakku tidaklah seséhat dan sekuat itu lagi, sayang!

Maafkanlah seorang anak gadis, Stella, kalau-kalau ia melepaskan maksudnya, bilamana ia ditolong orang akan menyampaikan hajatnya itu, yang mémang bertali kemudian hari dengan keselamatan orang-orang lain, karena hati si gadis itu tidak melepaskan bapaknya yang se'umur hidupnya menjadi suatu kecintaan dan keberkatan kepadanya. Ia selalu mengucapkan terima kasih kepada si bapak, si jantung hatinya itu, sekarang didalam 'uzur dan kerap kali sakit-sakit, jadi yang wajib dijaga dan disayangi oléh si anak lipat ganda dari yang sudah-sudah.

Stella, saya ini seorang anak, saya ini seorang anak gadis dan bukanlah saja perempuan yang semata-mata amat beringin memberikan dan mengusahakan dirinya untuk kerja yang bagus dan mulia, yang berguna dan berkat bagi orang banyak; tetapi saya inipun seorang anak yang yakin dan sangat sayang kepada bapakku yang sekarang telah tua dan berambut putih, yang telah menjadi tua dan berambut putih karena memeliharakan anak-anaknya, dan di antara anak-anak itu, sayalah barangkali yang sangat menyayanginya, karena tingkah laku kami banyak yang bersamaan, sebab kami sepikiran dan seperasaan.

Stella, engkau yang telah mengetahui betapa kasih sayangku kepada bapakku dan lagi mengetahui pula, bahwa cinta itu saya pandang sebagai seruan Allah kepada kita, dan engkau tahu juga betapa persangkutanku dengan adik-adikku, yang sangat kuatnya, tentulah engkau akan mengerti pula betapa hébat peperangan dalam hatiku, bila saya mesti memilih salah suatu dari pada dua jalan yang hendak kuturut: pertama tinggal dengan bapakku, bercerai dengan adik-adikku dan mengabaikan sebagian besar dari seruan Allah itu atas diriku, atau saya tinggalkan bapakku dan pergi bersama-sama dengan adikku, serta menyerahkan diriku benar-benar kepada seruan itu!

Bapakku sekarang kurang kuat, ia harus selalu dijaga dan selalu dipelihara; menjaga dan memeliharanya itulah suatu kewajiban bagiku.

Katakanlah itu perkara kecil, tetapi o, Stella, saya sekali-kali tidaklah akan bersenang hati barang sekejap mata juapun dalam mengerjakan suruh Allah, jauh dari bapakku, sedang sayapun tahu, bahwa bapakku yang kutinggalkan itu dalam sakit-sakit dan selalu wajib ditolong!

Suci, mulia kerja yang ditakdirkan Allah kepada kami itu, sebab menyuruh kami mengusahakan diri untuk hal keadaan yang besar-besar, untuk meninggalkan kedudukan kemanusiaan bangsa perempuan Bumiputera yang senantiasa dalam teraniaya, ya, ringkasnya supaya dunia Bumiputera boléh berarti, dan arti itu akan tinggal selama-lamanya; tetapi saya sekali-kali tidak dapatlah menanggungkan kesedihan dalam hatiku, apabila saya bekerja dan berusaha untuk orang lain, dan dalam itu bapakku yang telah tua itu, yang terutama berhak akan diriku, akan kubiarkan saja menanggung kesakitan dan kesusahan.

Satu dari pada cita-citaku yang hendak saya kembangkan ialah: hormati segala yang bernyawa, hormati hak dan perasaannya. Takutilah menyakiti orang lain, biar sedikit sekalipun, dan takutilah pula menyakiti itu, meski dipaksa atau tidak dipaksa mengerjakannya. cita-cita itu semata-mata dapatlah melindungi sesama kita manusia, yakni dengan sedapat-dapatnya kita melindungi dia dari pada segala sengsara, dan dengan hal yang demikianlah kita boléh menolong memperbagus hidup meréka itu. Itulah suatu kewajiban yang suci dan mulia, yang bernama terima kasih. Maukah bangsaku mempercayai cita-citaku itu jikalau sekiranya saya sendiri orang yang menasihatkannya, tidak mengerjakan sebagai nasihat itu?

Kewajiban anak kepada bapaknya tidak boléh saya mungkirkan, tetapi saya tidak boléh pula menyangkal kewajiban yang wajib saya lakukan atas diri sendiri, lebih-lebih lagi jikalau kewajiban itu paédahnya bukanlah untuk saya sendiri, tetapi bertali pula dengan paédah untuk orang-orang lain. Adalah dua buah kewajiban besar yang berlain-lainan lagi wajib saya kerjakan; sekarang upayaku ialah akan menyatakan kedua kewajiban itu dengan seboléh-boléhnya. upaya itu untuk sementara ialah, yang saya akan tinggal disisi bapakku, dan sementara itu belajarpun tiadalah pula akan saya abaikan.

Di rumah dengan sedapat-dapatnya saya mau belajar sendiri untuk menjadi guru, yakni seberapa yang dapat dibantu oléh kemauan hati dan pikiran tetap. Akan mengambil diploma guru kepala wajib orang menaruh diploma guru bantu serta surat keterangan yang menyatakan, bahwa ia telah dua tahun mengajar disekolah. Saya sendiri telah lama memikirkan maksud itu, tetapi ketetapan maksud itu baru saya dapat tatkala nyonya Abendanon baru-baru ini telah menimbulkan pula maksud itu kepada kami. Sementara menanti keputusan nasib kami yang bimbang itu, maka kami bertigapun telah mulailah belajar sendiri. Bagaimana juapun nasib adik-adikku itu nanti, sekalian yang dipelajarinya adalah gunanya untuk hari kemudian.

Telah dua bulan lamanya kami mendapat seorang guru perempuan diinegeri ini, yang telah bersahabait baik dan cinta-mencintai dengan kami. Ia masih muda, seorang anak gadis yang cakap dan baik hati, yang telah meninggalkan kaum keluarganya, kampung halamannya dan pergi kemari mencari penghidupannya sendiri. Ia kerap kali datang kepada kami, dan tatkala saya menceriterakan maksud kami kepadanya, dengan segera ia sudi menolong kami dengan sedapat-dapatnya dalam segala hal. Lain dari pada diploma guru bantu, ia ada pula mempunyai diploma bahasa Perancis. Dengan segera ia pergi menanyakan kitab-kitab yang dipakai orang di Sekolah Normaal di Surabaya dan di Betawi untuk ujian guru bantu. Sekalian kitab-kitab yang ada padanya boléh kami pakai, dan kitab-kitab yang tidak ada padanya, akan kami terima dari nyonya dan tuan A.

Nanti saya mau pula membuat ujian dalam bahasa-bahasa Bumiputera, bahasa Jawa dan bahasa Melayu.

Tetapi sayang sementara itu datanglah penyakit menggoda kami, kalau tidak karena itu tentulah sekarang kami sedang asyik belajar, dan didalam sakit itu tidak dapatlah saya membuka kitab-kitab itu. Annie Glaser, itulah nama guru yang tersebut tadi, tidak berapa lama lagi akan pindah dari rumah makan kerumah lain disini. Kalau tempatnya nanti telah teratur, maka ia akan membantu kami atau saya sendiri bekerja. Adik-adikku yang malang itu tidak dapat dan tidak boléh lagi bekerja dengan tangan, apalagi bekerja dengan otak. Meréka itu tidak bersenang hati, bila ia tidak dapat mengerjakan barang sesuatunya; tetapi apa yang hendak dikata, tangan dan otaknya masih lemah. Apa pikiranmu mendengarkan sekalian maksud-maksud yang terbang tinggi itu?

Janganlah hendaknya engkau berkata: "Ni, Ni, pikiranmu terbang terlampau tinggi”, kalau demikian senanglah hatiku. Tahukah engkau apa yang telah saya perhatikan bagi kebanyakan sahabat-sahabat kami? Meréka itu mempunyai pengharapan terlalu banyak kepada kami. Meréka mengarangkan bermacam-macam kepandaian kami, tetapi meréka membenarkan pula yang kami tidak mempunyainya. Kadang-kadang kami harus tertawa, karena keriangan hati meréka itu. Pepatah Belanda yang mengatakan bahwa: cinta itu buta atau membutakan, sebenarnyalah. Sesungguhnyalah amat banyak pada sangka-sangka meréka itu sanggup boléh kami kerjakan! Kami merasa benar-benar kekecilan kami, apabila sahabat kenalan kami itu menganjungkan kami sampai kelangit. Kecil, tetapi, o, betapa terima kasih kami atas kesayangan meréka yang terbit dari hati kecilnya itu. Seorang sahabat kami suka sekali melihat saya bekerja dengan péna untuk meninggikan kedudukan kemanusiaan bangsa kami. Saya harus, katanya, mengeluarkan surat mingguan atau surat bulanan, yang isinya teruntuk bagi hal-ihwal anak negeri saja, dan pada surat kabar itu haruslah saya hendaknya yang menjadi juru-kabarnya; atau kalau tidak hendaklah saya menjadi pembantu surat-surat kabar atau surat-surat mingguan yang ternama di tanah Hindiia ini, dan dalam surat-surat kabar itu mestilah saya mengarangkan rupa-rupa hal, yang wajib membangunkan dan menyadarkan bangsaku yang masih tidur nyenyak itu!!! Tidak benarkah apa yang saya katakan tadi, yang cinta itu membutakan?

Jika saya telah mempunyai diploma guru bantu, tentulah saya wajib keluar rumah akan pergi belajar untuk mengambil diploma guru kepala dan pergi mengajar juga kesekolah. Akan menyampaikan maksud itu, saya telah mendapat izin dari sekolah-sekolah geréja di Betawi. Disitu nanti saya memberi pengajaran disekolah rendah, dan pembalas jasaku saya dapat pengajanan ujian guru kepala, dan lagi dapat rumah, makan, pertolongan dokter, serta pakaianpun dicucikan orang pula. Tetapi untuk itu belum ada waktunya. Mula-mula mesti diambil diploma guru bantu, dan kemudian............ datanglah waktu itu, datanglah pula akal!

Suatu kenang-kenangan yang amat merawankan hati akan bercerai dengan adik-adikku. Meréka itu tidak bersenang hati karena itu, dan sayapun demikian pula, lebih-lebih jika memikirkan kalau-kalau permintaannya itu diperkenankan. Tentulah ia akan jauh dari pada kami, jauh dinegeri orang. Beruntunglah karena ada kakak laki-lakinya disana, amat kasih kepada adik-adiknya, tidak ubahnya seperti saya. Kakak kami itu amat menyukai dan setuju dengan cita-cita kami, karena didalam cita-cita kami itulah didapatnya kembali cita-citanya sendiri. Kami telah membuat perjanjian yaitu, kalau ia telah tammat belajar, ia akan tinggal didekat kami, akan bekerja bersama-sama menyampaikan cita-cita kami itu!

Kami berbesar hati mendengar, yang ia bercita-cita juga seperti adik-adiknya perempuan. Hal itu tambah memberanikan hati dan meninggikan nafsu serta menolak kita kemuka, sungguh seperti kekuatan kegirangan dan kesayanganmu pula kepada kami. Adalah pula seorang anak muda, orang Eropa, yang kenal kepada kami karena bundanya sahabat kami. Ia bergirang hati dan bersukacita pula dengan maksud-maksud kami itu. Keriangan hati yang tulus dan kesukaan yang sungguh dari sahabat kenalan kami, jauh dan dekat, itulah yang menjadi suatu bantuan yang besar bagi kami. Bantuan kesucian hati itu amat berguna kepada kami! Berilah saya selalu bantuan itu, o, Stella!

18 October 1901 (VIII)Sunting

Kadang-kadang kejadianlah dalam hidup kami, seolah-olah sekaliannya berkumpul, akan mematahkan kekuatan hidup kami. Semuanya sama-sama tiba, guruh dan topan turunlah dengan hébat serta kencahgnya menimpa kami, seolah-olah ia berkata: "Sujud engkau, hai machluk yang hina, sujud sampai ketanah!” Hanyalah meréka yang keras hati dan tajam pikiran yang sanggup berdiri dalam angin topan yang sedemikian, dan yang dapat melawani kegalakan dan kekerasan kekuatan dunia itu.

Rupanya sekalian meréka yang keras hati dan tajam pikiranlah yang kerap kali didatangi oléh sesuatu hal yang dinamakan orang: "buruk nasib!” Bah, mengapakah saya berdukacita sekarang? Itu tentulah disebabkan karena saya dalam beberapa hari ini banyak melihat dan memandang kesengsaraan. O, diriku, orang yang hina ini, saya lekas menggigil dan gementar, jika saya seakan-akan merasa pukulan tongkat yang tiba dibadanku; bagaimanalah akalku akan meenyenangkan dan meriangkan diriku?

Nyonya tidak boléh meninggalkan tanah airku sebelum kami sekali lagi berjumpa dengan nyonya dan sebelum..........nyonya tahu, bahwa anak-anak nyonya ketiga ini.................beruntung, sebelum kami sebenar-benarnya mendapat kemenangan dari meréka, yang hendak merendahkan kami ketanah, dan mau menjadikan kami manusia yang bodoh dan tidak berharga. Tetapi kemauan meréka itu tiadalah akan lalu; meréka tentu dapatlah mematahkan hati anak-anak nyonya, tetapi membujuk kami sekali-kali tidak. Dengan pertolongan tu­an kedua, kami mesti sampai ketempat yang kami tujui!

Disini adalah tiga orang anak gadis, yang hatinya mencintai dan menyayangi tuan, serta setianya teguh kepada tuan, hati ketiganya sungguh-sungguh mempercayakan dirinya kepada tuan! Tentulah tuan tidak sekali-kali akan mening­galkan kami, bukan? Meskipun perantaraan yang menceraikan kita itu amat jauh, tetapi perantaraan itu mémanglah dapat diseberangi oléh kapal yang tangkas dalam beberapa pekan saja. Waktu ini, karena iapun akan datang jua, lebih baik tidaklah kami pikirkan.

Kami tidak dapat bersenang hati memikirkan, yang tuan akan sekian jauhnya dari kami, jauh yang tidak dapat kami capai lagi. Rukmini dan Kardinah telah bermaksud tidak akan memperhubungkan tali salatu'rrahim lagi; meréka tidak mau menyayangi orang lain lagi, lain dari pada tuan kedua. Adik-adikku yang gila, siapakah orang yang boléh mengatakannya lebih dahulu bagaimana hendaknya kemauan hatinya? cinta dan sayang datangnya tidak oléh sebab dipanggil; mau tidak mau cinta dan sayang itu mengikat hati kita dengan sekuat-kuatnya.

20 November 1901 (VIII)Sunting

Yang sebenarnya sekali-kali tidak boléh kita menjanjikan apa-apa, kecuali dengan dirinya sendiri, karena manusia itu tidak dapat mengetahui lebih dahulu, apa yang akan terjadi. Dengan hal yang demikian tidak adalah kita akan mengecéwakan hati orang lain. Bagaimana sekalipun tulus dan ichlas perjanjian itu, dan bagaimanapun kemauan hati kita hendak menepati janji itu, tetapi alangan yang tidak disangka-sangka, ump. sakit, boléhlah menghambat kita menepatinya. Bagi kami bangsa Jawa ada suatu kepercayaan yaitu sipat yang tiada menepati janjinya, ia nanti akan didatangi oléh ular weling namanya. ular itulah yang akan mengingatkan kepada meréka yang telah berjanji itu akan janjinya. Bila meréka tidak lekas menepati janjinya, maka datanglah pula kepadanya ular welang namanya, yaitu ular yang sangat bisa, yang gigitnya boléh membunuh. Bila hal itu terjadi, janganlah nanti menyesal, jika meréka masih enggan juga akan menepati janjinya, karena tentu adalah sesuatu kecelakaan yang akan menimpa meréka yang mungkir janji itu. Hal itu boléh kejadian bilamana orang berjanji di tempat-tempat keramat atau kepada orang keramat. Misalnya jika orang berjanjikan bunga, dupa, kenduri dll. kepada arwah orang-orang keramat. ular-ular itu ialah disuruh oléh arwah meréka akan mengingatkan orang, supaya menepati janjinya. Tetapi apalah gunanya saya menceriterakan kepercayaan orang Jawa kepada nyonya? Maaflah saya, sekalian itu teringat saja dalam hatiku sedang menulis.

Seharusnya saya kena marah, karena saya telah lama berdiam diri, hal itu terutama ialah karena kelalaianku. Saya tidak bersenang hati atas diriku sendiri! Apa sebabnya saya boléh menjadi semalas itu dan tidak ada bernafsu untuk bekerja, saya sendiripun tidak mengerti. Hanyalah yang saya ketahui, bahwa badanku ngeri-ngeri saja rasanya. Sakit benar-benarpun saya tidak, betul-betul séhatpun tidak pula, malas, segan, lelah dan jemu, kosong saja! — dukacita — itu dia!

Saya harus mengusahakan diriku dan bekerja banyak-banyak. Itulah yang sebenarnya; kerja yang berguna ada padaku, demikianpun kerja yang kucintai. Sekarang kebodohanku ialah: karena saya tidak boléh mendapat barang yang kukehendaki, maka merajuklah saya berpaling diri, dan duduk termenung-menung memikirkan sekalian hal itu. Semuanya itu mémanglah kelemahanku, kelemahan yang besar sekali. O, alang-alangan merusakkan diriku, yang setiap hari datang berulang-ulang, sangat melelahkan sendi anggota! Lebih baik saya dipukul dengan tongkat dari pada menanggungkan tusuk-tusukan jarum, yang tidak berhenti-hentinya itu. Dalam beberapa hari ini banyak benar penanggungan dan perasaanku. Urat-urat saraf saya menjadi tidak berketentuan jalannya, dokterpun mengatakan: "bekerja”. Sifatku yang manjapun meninggalkan saya, sekarang apa-apa yang telah timbul dikepalaku, tidak mudah saya hilangkan, mestilah saya pikirkan selalu.

29 November 1901 (VIII)Sunting

Kami tahu bahasa kabar yang diberitakan oléh suratku ini akan mendukacitakan hati tuan kedua. Tuan kedua tentu akan bersuka hati mendengar, yang kami sekarang telah menjadi sabar, meskipun kedudukan hal ihwal kami belum berubah. Sekarang dikalbu kami tidak gelap lagi, damai dan sentosa telah merayap disitu. Dalam gelap gulita itu kami melihat suatu badan yang amat bagus dan bercahaya-cahaya, sambil melambai-lambai kami dengan tangan yang ramah: hai cita-cita kami!

Sekarang tahulah kami benar-benar, bahwa hal itu tidak dapat kami jauhi lagi, ia telah menjadi satu dengan kami. Bercerai dengan dia menenggelamkan kami. Bukanlah hari ini, bukanlah pula kemarin saja kami telah memikirkan, merasai, menanggungkan dan hidup bersama-sama dengan hal keadaan kami itu.

Supaya kami boléh mengubah pikiran dan perasaan kami, hendaklah orang memberi kami hati yang baru, otak dan darah yang baru untuk tubuh kami. Siapa yang telah mengenal nyawanya yakni suatu benda yang hidup dalam tubuh manusia serta telah mendengar dan mengerti akan seruan nyawa itu meminta "cahaya” kemajuan, tidak dapatlah lagi melupakannya.

Apa yang telah nyonya tuliskan kepadaku, semuanya telah saya pikirkan, rasai dan cobai. Telah lama, lama dulu sebelum perjumpaan kita, telah beberapa kali saya katakan kepada adik-adikku, meminta dan memohon kepada mereka, melepaskan diriku, dan sedikitpun jangan hatinya bergantung kepadaku.

Apakah saya, siapakah saya, saya anak gila yang tinggi hati, apakah sebabnya maka saya sabarkan memandang dan membiarkan adik-adikku pergi bersama-sama dengan saya? Saya yang menjalani jalan-jalan yang ajaib dan belum dikenal, yang mulanya harus membawa saya kesurga, tetapi yang sebenarnya sekarang membawa saya kenaraka. Pergi kenaraka mémang lebih lekas dari pada kesurga, karena naraka itu lebih dekat dan mudah dicapai, tetapi surga amat jauh dan sukar didekati.

"Betul” kata adik-adikku: "Meski tuan sendiri, meskipun orang lain, tidak sangguplah memasukkan bermacam-macam perasaan dengan sempurna dan sampai tinggal diotak dan dikepala kami, jikalau sekiranya kami sendiri tidak telah ditakdirkan Allah akan mendapatnya. Biarlah kita sama-sama pergi kesurga ataupun kenaraka!”

Wahai, kekasihku yang setia, yang sebenarja tidaklah engkau yang belajar kepadaku hanya saya sejak dahulu sampai sekarang masih menjadi moëridmu. O, alangkah banyaknya yang telah engkau ajarkan kepadaku!

Dimanakah boléh jadi sekalian itu kalau sekiranya kami tiada sepikiran dan seperasaan? Sekaliannya, lahir dan batin bekerja bersama-sama menyatukan kami. Selama hidup kami selalu kami bersama-sama. Sebagian besar dari pada bilangan usia kami itu harus dibuangkan, karena waktu itu hidup percampuran kami, hanya rupanya saja yang baik; tetapi enam tahun yang kesudahannya amat besar harganya dan baik diperhatikan benar. Hati meréka yang telah sayang-menyayangi amat sangat, biarpun dalam sekejap mata, tidak dapat ia dilupakan; apalagi waktu yang lamanya enam tahun, selalu hidup dengan setia dan sepakat dan berkasih-kasihan. Keenam tahun itu sepuluh kali lebih harganya dari pada harga yang sebenarnya.

Setiap hari kami sama-sama melihat, dan sama-sama mendengar barang sesuatunya, dan sama-sama pula memperkatakannya. Dalam segala hal kami sepikiran, sekesukaan dan seperasaan. Kami membaca surat-surat kabar, surat-surat bulanan dan kitab-kitab yang sama dan serupa. Kami perkatakan, paparkan dan bertukar pikiran tentang segala hal yang telah kami baca. Orang-orang tua kami bergirang hati melihat kami sepakat, serta memberanikan hati kami benar-benar, supaya tiap-tiap buah pikiran itu, bukannya diperkatakan saja, tetapi lebih-lebih harus diperbuat dan dilakukan juga. Kesukaan hatinya atas sepakat kami itu amat besar, sehingga orang-orang tua itu kadang-kadang telah berlaku yang kurang adil kepada orang-orang lain, karena hendak melebihkan kami bertiga dari pada meréka itu.

Betul-betul suatu adat yang amat siallah, perkawinan pada bangsa kami terjadinya tidak dengan setahu si anak gadis. Kalau seorang perempuan akan kawin, yang berguna ialah izin dari bapa, paman atau saudara yang laki-laki perempuan itu. Apabila tunangannya akan menjabat kabul, sekali-kali tidak guna dihadirinya. Hanyalah diminta ia datang menghadiri itu, kalau ia tiada berbapak, berpaman atau bersaudara laki-laki.

Meréka yang melindungi kami boléhlah mengawinkan kami dengan siapa yang disukainya, dan hanyalah dalam suatu hal saja orang tua kami tidak boléh memaksa kami kawin, yaitu apabila si laki-laki itu bangsanya kurang dari pada kami. Ibu bapa tidak boléh memaksa anak-anaknya perempuan kawin dengan laki-laki yang kurang bangsanya dari pada bangsanya.

Itulah suatu senjata kami yang boléh melawani kehendak meréka yang melindungi kami itu.

Untuk sesuatu perkawinan, yang perlu hanyalah si laki-laki yang menjadi tunangan dengan bapak atau paman atau saudara laki-laki si gadis pergi kepada penghulu atau orang lain, disitu dikawinkanlah si laki-laki itu, biarpun hal itu sekali-kali tiada disukai oléh si gadis itu. Ia mesti kawin, bila orang tuanya telah menyukakan.

Mamak adalah mengenal seorang perempuan yang tidak mau dikawinkan. Lebih baik ia mati, dari pada dikawinkan dengan laki-laki yang telah diuntukkan orang tuanya baginya. Allah, Tuhan yang pengasih, tiga bulan lagi ia akan dikawinkan, maka nyawapun melayanglah, karena penyakit koléra. Bila ia masih hidup tentulah orang tiada akan mengindahkan bantahan si gadis itu; sungguhpun ia tidak suka, tentulah ia mesti dikawinkan juga. Hal itu bukannya keadaan baharu, dari dahulu adalah juga anak-anak gadis yang melawani perkawinan meréka itu.

Senantiasa orang mengatakan ketelinga kami, bahwa kami harus menurut saja segala yang dikatakan orang tua kami kepada kami. Dan demikianlah pula kata orang kepada seorang perempuan muda, mestilah menyerahkan diri kepada laki-laki yang jadi suaminya dan menurut segala perintahnya, sebab itu si perempuan merasa dirinya celaka dengan laki-laki itu: "Kosong, banyak tingkah, mengapakah maka perempuan itu mau kawin? Bila orang telah kawin, tandanya ia telah mendapat kesukaannya.” jika si perempuan menurutkan suaminya, mémanglah sebab kesukaannya; tentang apa-apa yang disukai, tidakboléh mengumpat.

Tatkala saya menerima surat dan dua buah karangan tuan kami telah siap akan pergi menghadiri suatu alat kawin. Bukanlah adatnya, anak-anak gadis pergi kealat yang seperti itu, dan duduk bersama-sama dalam perkumpulan yang demikian, tetapi meskipun demikian mama' telah mengizinkan kami pergi kesitu. Seorang perempuan sahabat lama kami bunda anak dara, meminta kami dengan seboleh-boléhnya menghadiri peralatan besar itu, karena kedatangan kami disitu, katanya menjadi suatu "kehormatan bagi meréka itu; kalau tidak demikian, kami dengan segala sukacita akan tinggal di rumah. Waktu kami hendak berangkat telah kami lihat perarakan mempelai pergi kemesjid. Hujan waktu itu sangat lebatnya; keréta tempat mempelai duduk bertutup, demikian pula keréta lain yang mengiringkannya Payung-payung keemasan yang beragi-ragi telah meléwati alun-alun. Perarakan itu rupanya amat muram, kamipun menaruh kasihan melihat hal itu. Karena perarakan pengantin itu rupanya seakan-akan perarakan orang mati.

 
MESJID DI JEPARA.

Waktu kami sampai kerumah anak dara itu, kami dapati si anak dara itu sedang duduk dengan sikapnya di atas suatu kedudukan yang bernama dalam bahasa Jawa "kwade", menantikan mempelai yang masih ada dimesjid. Bapaku pergi pula bersama-sama dengan kami dan rupanya amat pucat! Kasihan, bapaku yang malang itu!

Kami duduk di atas tikar dekat pintu, ma' di antara adikku kedua. Bau dupa dan bunga-bungaan memenuhi bilik anak dara tempat kami duduk itu. Bunyi gamelan dan suara yang lemah lembut datang dari luar masuk ketelinga kami. Dalam hal itu saya pandangkanlah mataku kepada anak-dara, kemudian kepada anak gadis yang duduk dekat saya, dan setelah itu kepada bapak yang sedang duduk diluar. Gamelan berbunyilah berlagu selamat datang, dan mempelaipun datanglah.

Dua orang perempuan memegang tangan anak-dara dan membawa serta membimbing dia pergi menyongsong mempelai itu, yang dibimbing pula oléh dua orang datang mendekati anak-dara. Beberapa langkah antaranya, maka anakdara dan mempelai masing-masing melémparkan sirih bergulung, beberapa langkah lagi meréka itupun berdekatanlah, dan keduanya duduklah berlutut bsrhadap-hadapan di atas tikar. Dengan lutut anak-dara itu pergilah mengingsutingsutkan dirinya mendekati mempelai itu dan menunjukkan kerendahannya kepada mempelai itu dimuka orang banyak. Setelah mempelai itu dekat benar, maka anak-dara itu menyembah dan kemudian mencium kaki mempelai itu dengan sabarnya. Sekali lagi menyembahkan sembah yang menyayukan hati itu, lalu berdiri keduanya berpegang-pegangan tangan pergi kekursi kayangan yang jahat itu, serta duduk lah disana.

"Yu, yu," bisik Kardinah ketelingaku dengan matanya yang bercahaya-cahaya dan gerakan yang jenaka dimulutnya: "Wah, alangkah sukaku kalau dapat melihat pengantin yang bertemu itu masing-masing tersenyum-senyum dan melémparkan sirih dengan mata yang gembira. Tentulah pengantin yang sedemikian itu, ialah meréka yang masuk kaum muda, yang telah berkenalan dengan isterinya itu lebih dahulu. Alangkah bagusnya jika begitu, bukan, yu? Boléhkah nanti terjadi sedemikian itu? Saya suka benar melihat keadaan yang serupa itu."

"Waktu yang sedemikian, tentulah akan datang juga," jawabku dengan lekas dan tersenyum-senyum, tetapi dalam hatiku, o, hatiku ketika itu seakan-akan ditikam dengan keris.

Dan disisiku yang sebelah lagi duduklah adikku Rukmini dengan mukanya berseri-seri dan matanya bercahaya-cahaya!

Sesudah saya memandang seorang muda yang bersikap halus, yang duduk disebelahku itu, maka pemandangankupun jatuhlah kepada seorang yang kukuh badannya lagi besar, yang sedang duduk dilingkungi oléh kepala kepala negeri. Kebetulan waktu itu orang itu menéngok kepihak kami. Saya lihat muka orang besar itu pucat dan muram. Penglihatan itu menyedihkan hatiku pula. O, apakah sebabnya maka demikian? Sebabnya? beginilah seruan dalam hatiku, dengan putus asa dan kecéwa.

Esok harinya saya ambillah sebuah kitab, sembarang saja hendak saya baca untuk merintang-rintang hatiku. Saya bukalah kitab itu, dan apalah kiranya yang terbaca oléhku? Ialah "Gebed van onwetende” (Doa orang yang tidak ber'ilmu), karangan Multatuli. Pada beberapa hari yang lalu terambil pula oléhku, sebuah kitab karangan Multatuli juga, dan saya buka pula kitab itu, maka terlihatlah oléhku bermula sekali "Thugater.” Sampai sekarang masih mendencing ditelingaku segala kata-katanya: "Bapak, katakan kepada si ga­dis, bahwa mengetahui, mengerti dan berkehendak semata-mata dosalah kepada anak perempuan.”

Penulis yang ternama itu tentulah tiada menyangka-nyangka, tatkala ia menuliskan kata-kata itu, bahwa kata-kata itu akan dirasai sungguh sungguh akan kebenarannya oléh anak-anak perempuan bangsa Bumiputera, bangsa yang disayanginya dan dikasihinya itu, dan lagi karena bangsa itulah maka pengarang itu berperang, ya, berperang dengan hébatnya.

Kamipun tahu juga seperti Barthold Meryan, apakah yang akan menantikan kami, apabila kami selalu tinggal sujud, dimuka mimbar cita-cita kami yang suci dan mulia, yakni mimbar yang hanyalah bersendikan onggok-onggok batu, yang asalnya rumah dari rumah tua yang terbuat dari pada segala benda yang sesuci-sucinya dan sebagus-bagusnya di atas dunia ini.

Adalah seorang perempuan bangsa orang kebanyakan menjadi isteri yang kedua dari seorang pegawai. Isterinya yang pertama kegila-gilaan lari meninggalkan suaminya dan beberapa orang anaknya pada suaminya itu. Isterinya yang kedua itulah yang menjadi isteri yang sebenarnya bagi pegawai itu, ia telah menjadi bunda yang pengasih, lagi hati-hati menjaga anak-anak tirinya itu; ia sangat rajin dan bekerja keras untuk menambah gaji suaminya, supaya dapat memberi anak-anak tadi pendidikan yang baik. Anak-anaknya yang laki-laki semuanya menjadi ,orang baik-baik, ialah karena usaha ibu tiri itu. Sekarang datanglah rahmat terima kasih dari suaminya kepadanya. Pada suatu hari pergilah suaminya kekota dan waktu larut malam barulah ia pulang. Pegawai itu lalu memanggil isterinya keluar, karena adalah seorang jamu datang bersama-sama, yang harus dijagainya, dan harus diberinya sebuah bilik untuk jamu itu dll. Tatkala isterinya itu tiba diluar, maka tampak oléhnya bahwa jamu itu ialah seorang perempuan muda. Dan tatkala itu............... tatkala itu suaminya menceriterakan kepadanya, yang jamu itu............... ialah isteri mudanya dan dia isterinya yang tua, haruslah hingga ini keatas hidup bersama-sama dengan perempuan itu.

Héran serta tercengang, berdirilah ia mermandang suami­nya, karena tidak mengerti akan perbuatan si laki itu; tetapi sesudah kebenaran yang sangat pilu masuk kedaliam hatinya, maka iapun jatuh pingsanlah dan tiada berkata-kata. Setelah ia sadar akan dlirinya, sebentar itu juga ia meminta cerainya. Mula-mula suaminya itu tidak mau mendengarkan hal itu sedikit juapun, tetapi isterinya itu menyesakkan dan memaksanya, sehingga suaminya akhirya téwas, lalu memberi isterinya surat yang diminta itu. Malam itu juga ia keluar dari rumah itu berjalan kaki, melalui hutan rimba, semak belukar pergi kerumah orang tuanya di kota. cara bagaimana ia sampai kesana tiadalah diketahuinya. Ketika ia telah pandai berpikir lagi, maka iapun tahulah bahwa ia sekarang di rumah kaum keluarganya, dan meréka itu mengatakan kepadanya, bahwa ia telah lama sakit terbaring.

Kemudian ketika ia telah sembuh benar, maka dibacanyalah surat yang diterimanya dari suaminya pada tengah malam perbantahan dahulu; rupanya ia belum bercerai dengan suaminya. Karena isi surat itu hanyalah menerangkan yang ia lari dari suaminya itu.

Suaminya itu sekali-kali tiadalah bermaksud hendak mengembalikan kebébasan isterinya itu. Kemudian ia berbaik kembali dengan suaminya itu. Perempuan yang lain itu keluarlah dari rumahnya, dan pergi diam kerumah yang lain. Isterinya yang tua dalam hal itu mendapat kekuasaannya yang lama kembali. Pada tengah malam perbantahan itu ia bersumpah dengan nama Allah, sambil menelan pasir, yang ia sekali-kali tidak akan menolong meréka yang hendak merusakkan hak orang lain. Waktu kecilnya ia telah bersumpah demikian itu. Orang tuanya teiah mengawinkannya ketika ia ber'umur empat belas tahun. Ia dahulu tidak tahu apa yang akan dibuatnya, ia hanya menurut kata orang tuanya, dan.......... sebab itulah ia sekarang mendapat hukumannya. Sekarang ia tahu betapa kesakitan api naraka, bila seorang perempuan diusir oléh seorang perempuan yang lain, isteri suaminya yang baru. Ia selalu setia akan sumpahnya itu. Belum berapa lama ini suaminya mengawinkan adiknya perempuan dengan seorang laki-laki yang teah beristeri. Ia sekali-kali tidak suka mengunjukkan tangannya menolong perkawinan itu dan ditahannyalah kemarahan suaminya. Peralatan itu tiadalah dirumahnya dikerjakan orang. Kami tahu benar kepada perempuan itu dan sangat menghormatinya. Hidupnya seperti sekarang, sekaliannya ialah karena usahanya sendiri. Ia telah bekerja sendiri meninggikan kedudukan kemanusiaannya. Dari kecilnya tidak ada yang dipelajarinya, hanyalah ia belajar membaca saja dan lapun telah membaca bermacam-macam kitab dengan berhasil. Kerap kali kami héran mendengarkan bicaranya yang menyaksikan kepada kami, bahwa ia menaruh pikiran yang dalam dan berotak yang tajam. Ia betul-betul seorang perempuan yang ajaib (tentulah ada lagi perempuan-perempuan yang lain, yang seperti itu) yang tidak sedikit juga belajar dan tidak jauh pemandangannya, tetapi pandai berpikir dan merasa seperti kami. Sahabat kami itu telah banyak penanggungannya yang amat dahsyat. Sebagai penanggungannya itu bukanlah ia seorang sahaja yang menanggungkan itu, tetapi banyak lagi perempuan-perempuan yang lain, yang telah menanggung seperti dia itu. Dimanakah saya dapat berhenti menulis, jikalau saya selalu menceriterakan kepada tuan sekalian penanggungan dalam dunia perempuan Bumiputera? Siapa yang tidak buta matanya tidak pekak telinganya, tahulah ia betapa penanggungan itu didalam alam kami. Hélakan hati kami dari dalam tubuh, dan otak dari kepala kami, jikalau sekiranya sungguh-sungguh orang hendak mengubahi nasib kami.

Beberapa antaranya sebelum nyonya mengirimkan kepadaku buah pikiran Sangwill yang keluar dari kitabnya: "Droomen van het Ghetto” (Mimpi-mimpi dari tanah Ghetto), maka Rukminipun telah mengeluarkan juga pikiran. yang hampir serupa dengan itu, sungguhpun kata-katanya itu tidak sebagus itu benar. Pada suatu hari kami sedang memakan kué bolu dan kué yang lain-lain, adikku itu datang dan mau pula sedikit. Ketika itu tidak ada tersedia piring yang bersih, dan Kardinahpun berkata: "Makanlah dalam piring yu, yu, dan boléhlah engkau nanti pandai seperti dia pula.” Rukmini menjawab dengan tangkasnya: "Tidak, saya tidak suka, biarlah saya tinggal bodoh. Pandai itu bukanlah untung bahagia bagi tiap-tiap orang. Pandai ialah celaka bagi seorang yang tajam pikiran, tetapi ia tidak sanggup melakukannya. Dan lebih celaka lagi, apabila kita dapat merasa bahwa kita cakap dan mau; tetapi tidak boléh mengerjakannya. Biarlah saya tinggal bodoh." Dalam kata-kata itu tersembunyilah seruan yang memutuskan pengharapan.

........................................................................................................................................

Pada suatu hari saya bersandar didindling dengan tiada bergerak-gerak, karena kesedihan hati: waktu itu mata saya membelalak, tetapi tidak dapat melihat, memandang terus keudara, dan pada telingaku terdengar suara yang menyedihkan hati, suara yang membawa hatiku ketempat kebenaran. Bapakpun melindungi saya dengan tangannya memangku saya, dlan iapun menghiburkan hatiku, tetapi mukanya dipalingkannya melihatku. Hal itulah suatu seruan yang sedih dari hati yang luka, yang berkata dengan gementar: "Ah, bukan, bukannya begitu, Ni, bapak bermaksud akan mempercakapkan hal ini dengan orang lain, sabarlah dahulu!"

"Sétan iblis," teriak dalam hatiku, "mengapakah engkau suruh bapakku menanggung seperti itu, jahanam?"

Dengan tangannya memeluk saya, pergilah saya dengan bapak keserambi belakang mendapatkan orang lain-lain yang ada disana.

Suatu perasaan yang amat pilu terasalah diseluruh tubuhku!

O, bapakku, mengapa tuan tidak mendengarkan suara hati tuan sendiri dan tidak mau mengikutnya? Mengapa tuan mau mendengarkan suara orang lain? Mengapa orang lain, orang yang tidak sedikit juga berhati baik kepada kami, yang tiada mengindahkan kami dipanggil memperkatakan perkara ini, perkara yang wajib diputus d!an diselesaikan oléh tuan sendiri, sedang orang yang bersangkutan dalam perkara ini hanyalah ia meminta suara tuan saja!

O, cukuplah suatu perbuatan, cukuplah suatu perbuatan yang berani saja, dan tanah yang ternganga yang hendak menelan kami itu, tentulah tadi boléh tertimbun!

Bapak mengatakan cita-cita kami bagus dan mengiakan, yang kami senantiasa beringin akan 'ilmu dan keadilan. Hal itu bukanlah main-main, tahun yang lalu bapak telah mengizinkan kami, boléh bekerja mencari penghidlupan untuk tegak sendiri. Sekalian itu mengasut pikiran kami menjadi huru hara, bila kami pikiri mengapakah maka kami selalu dianiaya dan mengapakah maka kami harus surut kembali? Mengapakah maka kami direndahkan serta dihinakan sedemikian? Lain tidak karena bicara meréka, yang cemburulah maka kami dibuat demikian.

Oléh karena itulah maka karni harus meninggalkan cita-cita kami, supaya dapatlah kami menyenangkan hati orang banyak yang cemburu itu. jika hal itu perlu, ya, sungguh amat perlu, yang kami mesti meninggalkan cita-cita kami itu, ya, tentulah wajib kami buangkan; tetapi hal itu sebenarnya bukan begitu, sekaliannya berputar pada suatu sumbu, dan sumbu itu ialah pikiran orang banyak. Oléh sebab itulah maka hal itu semuanya menjadi rusak! Sekalian hal itu harus kami kurbankan.

Orang banyak itu tentulah akan berkata ini dan itu, kalau kami membuat sesuatu yang kami sukai. Siapakah orang banyak itu? Bah, oléh karena orang banyak itu, haruslah rupanya kesukaan kami dihambat dan dimatikan, dan kami wajiblah kembali kedunia yang gelap gulita?

Bila kami memikirkan sekalian hal itu, maka darah kamipun mendidihlah.

Kesayangan meréka yang memakai pikiran alam yang luas, mémanglah banyak harganya, ya, hal itu benar sekali. Kami tahu benar betapa besar hati meréka itu, bila kami dipuji dan dikasihi oléh meréka yang terpelajar dan pandai-pandai, tetapi gelak senyum meréka yang bodoh, manusia yang ba­nyak di atas dunia ini, rupanya amat banyak dihargai orang, lebih dari pada pikiran yang tersisip dihati. Dapatkah kiranya kami menyabarkan hati kami dalam hal itu?

Telah banyak diperkatakan dan dikarangkan orang tentang kemajuan kaum keluarga kami, yakni kemajuan keturunan conderonegoro. Nénékanda telah lama meninggal dunia, tetapi namanya masih hidup, betapa hormat dan kasih orang yang tahu akan dia menyebut nama marhum itu, atau yang mendengar ceriteranya. Nénékandalah yang pertamatama sekali membei'i anak-anaknya laki-laki dan perempuan pendidikan bangsa Eropa. Nénékanda ialah seorang yang menebas jalan, ia seorang yang tinggi pikiran.

Sebab itulah maka tidak adalah hak bagi kami akan menjadi bodoh.

Bapakku seorang yang dimalui dian dihormati bangsa Eropa dan oléh bangsanya sendiri, apakah sebabnya? Seorang regénpun tidak adalah yang diambil oléh bapak menjadi menantu, tetapi bapak menjadikan anak-anaknya laki-laki dan perempuan orang yang berpikiran. Itulah kebaikan, yakni kebaikan yang menyebabkan bapak dipandang dan dihormati oléh orang banyak. Kehormatan dan kesayangan meréka yang berpikiran tiadalah akan berkurang-kurangan, tetapi selalu akan bertambah, apabila bapaku menghiasi pekerjaannya dengan memberi kami izin meinyampaikan cita-cita hati kami yang dibangunkan oléh bapakku sendiri. Tetapi sayang tertawa orang banyak, yang tidak mengerti itu, itulah yang lebih berharga, o, Allah!

Pendiidikan kami samalah dengan suatu komidi, karena maksudnya hanyalah keindahan saja. Kami wajib senantiasa tinggal bercahaya-cahaya, biarpun karena mengenakan intan permata, ataupun mengenakan intan lancung rupa-rupanya. Hal yang seperti itu tidak boléh menjadikan kami berkecil hati; demikian juga dalam dunia yang telah kami kenal, yang memandang tinggi sekalian yang pura-pura. Malang, malang, karena kami anak-anak yang menyayangi kebenaran, lebih kami sayangi dari pada raja yang berkuasa, yang bernama: "Pura-pura itu." Kamipun terpaksa akan bermain komidi pula, komidi, yang mewajibkan kami mempermainkannya, ialah untuk meninggikan hati kami ka­rena kami tidak mau memperlihatkan luka dan kesedihan hati kami kepada orang banyak.

31 December 1901 (VIII)Sunting

Kami tidak suka lama berlayar dengan kapal yang telah rusak binasa itu. Patut benar dikerjakan sungguh-sungguh akan pengubah perkara yang buruk itu. Alangkah besar hati kami, kalau orang pandai-pandai memikirkan hal itu. Kerap kali saya berbicara dengan isteri-isteri kepala negeri dan perempuan-perempuan dikampung tentang hal kemerdékaan, membanting tulang sendiri serta dengan jerih, peluh, mencahari penghidupan bagi anak gadis Bumiputera, dan putuslah pikirannya begini: "Haruslah ada seorang, yang akan memberi contoh." Kami percaya sungguh, sekiranya ada seorang yang berani memulai pekerjaan itu, banyaklah orang yang akan menurutnya. Sebenarnyalah pekerjaan itu bukan pekerjaan yang sia-sia. Pokoknya asal: seorang maju kemuka, dan yang menurutinya orang-orang baik dan sejati. Sekarang yang seorang menanti yang lain: tidak seorang juga yang berani mula-mula, yang pertama membuatnya: orang-orang tua nanti-menantikan. Siapa yang berani sungguh-sungguh akan mengasuh anaknya perempuan, supaya menjadi perempuan yang merdéka, tahu berdiri sendirinya? Kami kenal se­orang gadis anak regén, yang se'umur dengan kami, yang juga berhati gembira untuk kemerdékaan. Ia suka benar hen­dak menambah pengajarannya, lagi pandai berbahasa Belanda dan telah banyak kitab-kitab yang dibacanya. Ia seorang ga­dis, anak regén Kutoarjo: ada dua orang anaknya perem­puan, yang amat baik budi bahasanya. Kami amat sayang kepadanya. Saya tahu dari seorang sahabatku, seorang guru perempuan, bahwa anak gadis regén itu yang tua, suka benar hendak belajar lebih lanjut. Dari guru perempuan itu sendiri saya dengar, bahasa anak gadis itu suka benar hendak melihat tanah Eropa. Anak gadis yang kedua, seorang anak, yang bagus dan cantik. Beberapa tahun yang lalu, ia menumpang di rumah kami. Ketika ia kembali kerumahnya, segeralah ia belajar menggambar dan sekarang amat pandai ia. Ayahnya berkata, bahwa pertolongan besar bagi laki-laki, sekiranya perempuan terpelajar. Dihargainya benar perem­puan yang beradat baik dan terpelajar. Kamipun telah bercakap-cakap dengan anaknya yang telah kawin. Sungguhpun ia tiada pandai berbahasa Belanda, tetapi pandai berbincang dalam segala hal, dan ia juga suka akan kemerdékaan sebagai perempuan Eropa. Itulah niat dan kenang-kenangannya, supaya Bumiputera Hindia merdéka sebagai bangsa Eropa.

Ada pula anak regén kemari dahulu, anak gadis dari tanah Sunda, yang tidak tahu berbahasa Jawa, tetapi bercakap-cakap dengan kami dalam bahasa Belanda.

Pertanyaannya yang pertama kepadaku: "Berapa orang ibumu?" sayapun melihatnya dengan sedih hati. (Ia dipeliharakan di rumah orang Belanda). Sudah itu ia menyambung perkataannya (janganlah pembaca terkejut): "Ibuku 53 orang banyaknya dan anak bapak kami 83 orang. (Bacalah sekali lagi delapan puluh tiga). Saya tidak kenal akan saudara-saudaraku yang laki-laki dan perempuan semuanya. Saya anak yang bungsu, ayahku tiada pula kukenal, karena ia telah meninggal dunia sebelum saya lahir. Tidaklah hal itu menyedihkan hati yang amat sangat?"

Pada beberapa tempat diresidénsi Priangan, anak-anak gadis bangsawan dapat memilih, dan kebanyakan meréka itu kenal akan jodohnya. Anak-anak muda disana kenal seorang dengan yang lain, dan bertunangan sebagai adat Eropa. Itulah tanah yang berbahagia, tetapi, tetapi............! Disana adalah seorang anak gadis, cucu tunggal dari seorang regén (orang tuanya telah mati). Ia telah menerima pemeliharaan dan pendidikan yang baik. Menurut pengajaran yang diterimanya, ten tu ia anak yang berkepandaian yang tiada tepermanai: ia berpidato, dll. Ia bertunangan sebagai adat-adat Belanda dan kawin dengan seorang — yang beristeri banyak dan telah mempunyai anak satu pasukan. di antara anaknya itu; ada yang telah balig. Saya telah berkenalan dengan menantunya, seorang perempuan yang pandai berbahasa Belanda, ibu oléh seorang anak yang ber'umur dua tahun; ketika itu perempuan itu ber'umur 17 tahun — setahun dua lebih muda dari pada isteri mentuanya yang laki-laki. Ia sendiri telah memilih suaminya itu, katanya kepadaku bahwa hidupnya amat beruntung.

........................................................................................................................................

Buah pikiran dalam segala hal yang telah kupikirkan dan kurasai tentang perkara yang buruk-buruk, yang harus dihapuskan dari alam perempuan Islam, telah lama hendak kusiarkan. Pikiranku hendak mengeluarkan sebuah kitab, yang menceriterakan dua orang anak regén, seorang perem­puan Sunda dan seorang Jawa, berkirim-kiriman surat. Telah beberapa pucuk surat sudah kutulis akan jadi pendahuluan kitab itu, dan lagi banyaklah pula kubuat peringatannya. Kenang-kenangan itu tiadalah akan saya buangkan, meskipun pekerjaan itu baru beberapa tahun lagi dapat kusudahkan. Maksud itu tiada akan saya hilangkan, apalagi karena saya tahu, bahasa tuan bermaksud begitu pula. Kesusahan yang besar ialah karena bapak tidak mengizinkan saya menyiarkan karang-karangan itu. "Saya pandai berbahasa Belanda itu bagus," kata bapak; "tetapi kepandaian itu tidak boléh saya pergunakan akan menyatakan pikiranku."

Kami anak perempuan tidak boléh mengeluarkan pikiran, kami harus mengatakan, ya dan amin saja, kami harus membenarkan apa yang dikatakan orang baik bagi kami. Beberapa tahun yang telah sudah, adalah seorang penulis bangsa Be­landa, yang kukasihi, juru kabar dari sebuah surat kabar untuk perempuan, tempat saya berkirim-kiriman surat, meminta kepadaku akan menyiarkan surat-suratku dalam su­rat kabarnya. Dalam surat itu saya ceriterakan seperti hal yang tersebut di atas. Boléh jadi, kalau hal yang begitu disiarkannya, akan mengajak ahli pikiran mengeluarkan pikirannya, dan dengan hal itu boléh pula akan memperbaiki pikiran itu. juru kabar itu akan merahsiakan benar-benar: nama saya, tempat tinggal, dll. Sekalian hal tentang dirikupun akan disembunyikannya, dan hanyalah fasal adat istiadat yang akan diwartakannya. Surat karangan itu dikirimnya ke Jawa, supaya bapak dapat memikirkannya. Bapak tidak sudi memperkenankan — nantilah............??............Saya tahu apa artinya kata nanti itu, nantikan kalau saya tiada berbahaya lagi, kalau namaku Radèn Ajeng berganti dengan Radèn Ayu. Encik sitti si pengarang itu meminta beberapa kali lagi, tetapi (selalu) tidak boléh.

Baru-baru ini ia merundingkan pula perkara itu sekali lagi. nyonya Ter Horst, pengarang dan yang mengeluarkan surat kabar untuk perempuan Hindia "de Echo", menyediakan tempat disurat kabarnya untukku. nyonya itu tahu benar dan melihat dengan mata sendiri bagaimana kehidupan perempuan Bumiputera, dan ia merasa kasihan akan gadis-gadis bangsawan di jokja dan di Solo. Surat kabar itu disiarkannya kemana-mana, menjadi anugerah kepada yang suka. Diajarnya saya mengarang percakapan antara dua orang perempuan anak-anak regén. Apa yang patut dirahsiakan, akan ditanggungnya. juga ceritera yang boléh mempeibaiki kehidupan bangsa baik juga dikarangkan. Saya bacakan surat itu kepada bapak, lalu dapatlah izin: tetapi sebelum saya sempat mengarang apa-apa, izin itu ditarik kembali. Belum boléh saya mengeluarkan buah pikiranku ............sekali lagi bapak berkata............nantilah.

Tuan Bus di Probolinggo berkirim surat kepada bapak, dan meminta pertolonganku untuk surat kabamja yang bernama_: "de Nederlandsche Taal" yaitu surat kabar untuk Bumiputera. Permintaan itu adalah dikabulkan. Tuan Bus meminta karanganku tentang: "Pengajaran untuk anak perempuan Bumiputera", "Apa-apa tentang kepandaian Bumi­putera" dan "Suatu peraturan anak negeri yang berpaédah."

Ketika itu kami pergi ke Betawi. Lagi pula banyak perkara yang mengganggu saya mengarang, hari ini saya mau menulis karangan itu, tetapi bésok tiada lagi, sehingga akhirya putuslah harapanku, dan kertas-kertas itupun kucabi'klah. Alangkah bodohnya pekerjaanku itu. Sekali-sekali saya keras kepala dan marah sebagai ini, karena itu putuslah harapanku. Saya hanya boléh menulis karangan yang tiada berarti saja, perkara yang sukar-sukar tidak boléh saya ganggu.

Ketika itu saya bei'pikir: jikalau saya mengarang perkara yang penting-penting, tentulah sekalian Bumiputera akan jadi musuhku, dan sekiranya saya jadi guru, siapakah yang akan menyerahkan anaknya kepadaku? Tentulah saya dikatakan orang gila. Sungguhpun demikian ingin benar hatiku akan memperkatakan segala hal itu didalam surat-surat kabar. cobalah pikirkan, sekolah jiug tidak ada bermurid-— guru-guru yang tiada bermurid— tetapi harapanku masih teguh. Kami harus mencari akal dahulu, bagaimana akan dapat terus belajar. Baiklah bapak kami bujuk akan membantu permintaan kami kepada tuan besar Gubernur-jenderal.

Tidak baiklah kami lekas bergirang hati mengatakan, bahwa permintaan kami itu akan dikabulkan. ya Allah, kalau tiada diperkenankan, bagaimanakah nanti? Hanyalah sebuah jalan untuk kami yang terbuka, yakni: baik menjadi dukun beranak. Tentulah kami harus menghapuskan peringatan, yang maksud kami hendak menjadi contoh dan pedoman itu: tentoalah kami hanya sanggup menolong manusia kadar beberapa orang saja, tetapi itupun baik juga, lebih baik dari bekerja ditoko atau di rumah obat umpamanya, karena dalam pekerjaan itu tentulah kehidupan kami kosong, tiada berharga. Tentulah hidup sedemikian untuk diri sendiri, tetapi kami suka hidup untuk tanah air, dan mauyah kami mengurbankan diri untuk keselamatan kemanusiaan yang seperti kami cintai itu.

Telah banyak saya dapat keterangan tentang sekolah dukun beranak di Amsterdam. Disana orang boléh belajar dengan tiada membayar. jikalau kami hendak pergi kesana, tentulah harus meminta pertolongan tuan Prof. Hector Treub. Anak negeri bangsa kami kelak dapat membédakan, dimana kami telah belajar menjadi dukun beranak itu. Tiadalah meréka itu akan menghinakan kami, jikalau sekiranya kami belajar di Eropa.

Belajar disana dua tahun lamanya. Bagaimanakah akal kami akan dapat pergi ke Eropa? tidak tahulah kami, tetapi kami harus mencari akal dahulu. tidaksuka kami membuang maksud itu, sebelum sekalian ichtiar, yang boléh kami harap akan menyampaikan maksud kami, kami coba menjalankannya. ............................................................................................................................................

Wahai, alangkah baiknya, kalau dapat kami berkenalan dengan anak-anak muda bangsa kami yang telah terpelajar, dan yang mencintai kemajuan, seperti Abdul Rivai dll. Alangkah baiknya kalau dapat kami mengambil hati meréka itu akan menolong memajukan maksud kami yang mulia itu. Adóeh, apabila gerangan waktunya anak-anak muda, laki-laki dan perempuan, dapat bercampur gaul seperti bersaudara yang sama haknya?

Seperti sekarang didalam dunia bangsa Bumiputera, bah! bukan buatan rasanya kami perempuan-perempuan dihinakan, selalu, setiap hari!

 
Désa ciputri dekat Pacet (Priangan).


3 Januari 1902 (VIII)Sunting

Tetapi tuan residén akan melihat kami dan akan bercakap-cakap dengan kami. Tuan besar itulah yang membawa kami mula-mula keluar rumah 6 tahun yang lalu. Oléh permintaannya, dapatlah kami berjalan keluar. Dahulu dari waktu itu tidak pernah kami pergi keperjamuan, sehingga pendopopun belum pernah kami jejak, dan sekalian orang yang hendak melihat atau bercakap dengan kami, harus pergi masuk ke dalam atau pergi keserambi di belakang. Senang hati kami mengingatkan bagaimana kami selangkah-selangkah menempuh jalan kemerdékaan. Tuan Siythoff itulah pula yang mula-mula menolong kami melangkahkan langkah yang pertama menempuh jalan itu. Sekarang kami telah bersiap akan menempuh zaman yang baru. Enam tahun sudah lamanya yang boléh kami namakan tahun beruntung............betul didalam tahun-tahun itu kami banyak menangis, tetapi banyak pula bersukacita.

Ketika kami tiba di Semarang, datanglah saudara perempuan kami yang sulung yang tinggal di Kendal, melihat kami. tidak senanglah hatinya sebelum berjumpa dengan kami bertiga: "Adik, adikku,” itulah saja katanya ketika melihat kami. Tangannya yang memeluk kami gementar dan air matanyapun berlinang-linang dipipinya.

Ketika kami berhadap-hadapan dan bertentangan dengan saudara itu, tidak dapatlah kami mengeluarkan kata sepatah juapun, mengertilah kami apa yang' terasa dihati pada waktu itu. Sekaranglah baru kami dapat bertemu dengan hati yang sesuai. Kasih dan iba hati kami melihat saudara kami itu. Dimukanya tampak oléh kami, bahwa ia suka benar hendak menurut kepada kami, dan tahu pula ia akan kelemahannya. Barulah sekarang, setelah beberapa tahun, baru dapat ia menghargai kami dan menyukai maksud kami. Sekalian itu menguatkan dan meneguhkan cita-cita hati kami serta menambah keberanian hati. Saudara kami itu mulamulanya sungguh-sungguh benci kepada sekalian adat yang baru, ia sungguh kaum kuno, tetapi sekarang............?

Alangkah tidakajubnya ia melihat keadaan kedua adik-adikku yang masih kecil itu. Besar hatinya bukan buatan melihat perubahan itu. janganlah kiranya tuan terkejut melihatkan kami, berani memuji diri dan berhati gaduk sebagai ini! Sebenarnyalah besar hati kami, melihatkan bagaimana ia dengan tidakajub mengaku, bahwa kami tiada jahat seperti perasaan hatinya dahulu; tetapi iba pula hati mengingatkan bagaimana ia berdukacita melihatkan kami berkelakuan yang demikian.

Suaminya seorang laki-laki yang baik hati. Baru inilah saya tahu, bagaimana dan siapa ia. Dahulu kami bertemu sekali-sekali dengan dia, dan bercakap sepatah dua saja. Sekaliannya tidak tahu saya bagaimana dia. Baru-baru ini ketika kami bertemu dengan dia, lama kami bercakap-cakap............pada pikiranku saudaraku perempuan beruntung mendapat suami yang demikian. Suaminya itu dahulu bersekolah di H.B.S. dan belajar disana hanyalah pada beberapa kelas, kemudian pergilah ia menjadi pegawai. Iparku itu tidak berbapak lagi. Sekalian adiknya perempuan dan laki-laki bersekolah Belanda. Seorang adiknya laki- masih bersekolah di H.B.S. Ia sekarang dikelas 4 dan akan naik kekelas 5. Anak itu tajam otaknya. Paman iparku itu, seorang regén, menyuruh adiknya yang di H.B.S. itu dikeluarkan dari sekolah. Regén itu akan menolong supaya ia mendapat kerja. Selalu iparku diasutnya, tetapi ia tidak mau mengeluarkan adiknya dari se­kolah itu. "Apa, menyuruh adikku keluar dari H. B. S. itu? Dan akan menjadi jurutulis asistén-wedana yang bergaji ƒ 15 atau ƒ 20? tidak mau saya," katanya, "Ia harus meinyampaikan pelajarannya di H. B. S. Nanti ia boléh bekerja per­kara dagang atau dikeréta api."

Iparku itu mémang gagah, ia tidak suka memimpikan payung emas atau buah baju leter W. Dan ibunyapun juga bermaksud demikian, yakni mau menyuruh anaknya belajar sampai tammat, sungguhpun ia tahu, bahasa anaknya di rumah adalah 4 orang lagi. Baik benar maksud ibunya itu, bukan?

Alangkah senangnya orang yang beruang banyak. Dengan uang itu banyak orang dapat ditolongnya supaya berbahagia. Besar kemauanku hendak beruang beribu-ribu rupiah, dan kalau ada uang itu dapatlah saya mengirim anak itu pergi belajar ke Eropa.

Ada pula seorang anak gadis kenalan saya, yang telah belajar disekolah geréja di Semarang, tetapi kasihan si gadis itu sekarang telah kurus, karena angan-angan saja. Kehidupannya sekarang berlainan dari dahulu. Ia sekarang telah tinggal di rumah seperti anak wedana biasa, tidakboléh bercampur gaul atau bercakap-cakap dengan orang asing. Seperti diracun oranglah rasa hatinya. jikalau sekiranya adalah kepandaiannya, yang memudahkannya mencahari penghidupan sendiri tentulah tidak begitu halnya? Kepada anak yang seperti itu harus diberi contoh, supaya tahu, bahwa "bekerja itu meninggikan diri" dan anak gadis bangsa Bumiputera tidak perlu selalu bergantung hidupnya kepada kaum keluarganya, kalau ia tidak suka.

Apakah kehinaan yang lebih besar lagi lain dari pada selalu bergantung saja kepada Orang lain? jikalau adalah ia belajar sesuatu kepandaian, yang boléh menghasilkan uang, tentulah ia akan bébas dan pandai tegak sendiri. Sekarang apa­kah nasib yang akan ditanggungkannya, kalau 'umumja dipanjangkan Tuhan? Tentulah ia akan kawin.

Baru-baru ini datang bermain kemari suatu wayang orang. di antara perempuan-peirmpuan anak wayang itu adalah se­orang cucu perempuan dari seorang regén. Apakah asalnya terjadi kehinaan yang sedemikian itu?

Dahulu bukanlah menjadi adat menyuruh anak-anak pergi belajar: tetapi sekarang telah menjadi keperluan biasa. Kalau ada seorang yang beranak 25 orang banyaknya, tentulah ia tidak diapat memberi sekalian anaknya itu pendidikan yang sempurna.

Orang ada bertanya sekarang, apakah sebabnya bangsawan Bumiputera kehormatannya menjadi kurang? Adakah orang yang bertanya itu. memikirkan lebih jauh, bahwa manusia itu tidak berhak menyebabkan hamba Allah lahir kedunia, jikalau sekiranya tidak akan dihidupkan dengan sempurna? Sungguhlah amat bodoh saya ini!

Kalau kupikirkan segala hal itu, timbullah dihatiku, suatu keinginan yang amat sangat: "Beri apalah kiranya orang Jawa pendidikan yang baik." Pendidikan itu bukanlah sahaja hendaknya penambah pikiran, tetapi juga berguna untuk penyucikan hati. Tiap-tiap saya mendengar atau melihat perkara yang menyedihkan hati itu, timbullah dihatiku permintaan "Beri apalah kiranya orang Jawa pendidikan yang baik!

Besar cita-citaku hendak berkenalan dan berunding de­ngan segala orang pandai-pandai dan orang yang berkehendak kemajuan di tanah Hindia ini.

Seorang diri saja ta adalah kekuasaanku; tetapi jikalau sekalian anak-anak muda yang berkehendak kemajuan itu menjadikan sebuah perserikatan, tentulah dapat kami bersama-sama berbuat baik. Tiadalah tepermanai besarnya hati kami, kalau kami membaca karangan bangsa kami yang berisi. Bagaimanakah daya kami dapat berkenalan dengan meréka itu' Kupanya itulah suatu hal yang mustahil. Tentulah orang mengatakan kami nanti hendak bermaksud jahat. Persahabatan antara anak-anak muda laki-laki dan perempuan belumlah masuk dalam pikiran orang masa sekarang. Kalau saudara kami yang laki-laki pulang dari negeri Belanda, barulah dapat kami mulai berbuat seperti kemauan kami itu ......... Kupikir sendiri-sendiri dihatiku, jikalau sekiranya saya berbuat kesalahan yang sebenar-benarnya, tentulah mereka itu akan memisahkan dirinya dari saya, dan tentulah saya akan diusir dan dihmakannya; tetapi maukah bapak dan ibuku berbuat juga sedemikian akan daku? O, tidak, tentu tidak maulah ia berbuat demikian. Saya ini tinggal anaknya jua, tempat hatinya, meskipun saya berdosa besar. Dan ketika itu timbullah dihatiku, kasih sayang yang tidak berhingga akan orang tuaku. Ketika kami sedang duduk merenda pakaian adikku Rukmini (kamilah saja yang diizinan membuatnya) selalu pintu bilik terbuka, dan bapak masuklah ke dalam hanya akan meraba kepala anaknya ini, yang penuh berisi pikiran berlawan-lawanan.

Empat pekan lagi antaranya saudaraku itu tidaklah akan tinggal lagi bersama-sama dengan kami. "Saya tahu yang engkau keduanya akan tercanggung bila kutinggalkan", kaanya. lelah biasa kami hanya bercampur gaul bertiga saja, selalu berkumpul bertiga, tetapi sekarang?..........................

Tiadalah sekali-kali kami dapat melupakan hal itu.

15 Februari 1902 (I)Sunting

Kalau ada orang berbuat apa-apa yang tidak patut kepadaku, maka darahkupun naiklah, marahku terbitlah, tetapi sesudah itu datanglah kesukaan dalam hatiku: Saya girang karena meréka itulah yang berbuat salah kepadaku dan tiadalah saya berbuat jahat kepadanya, dan pekerjaan yang sedemikian tidak patutlah saya membuatnya. Kalau saya berdukacita, tidaklain sebabnya, ialah karena meréka itu telah berkelakuan yang tiada patut dan tidak adil kepadaku. Maafkanlah saya, sebab saya baru sekarang berkirim surat kepadamu; setelah adikku biji mataku itu berangkat, tiadalah dapat saya mengenangkan hendak berkirim surat. Sungguhpun demikian tiadalah hilang wajah tuan dari dalam pemandanganku. Adikku berangkat tanggal 31 Januari dari sini kerumahnya yang baru itu. Moga-moga Tuhan memberin jauntung dan rahmat seperti untuk seorang anak yang suci hati dan yang tiada berdosa.

Engkau tahu bahasa kami bertiga sangat berkasih-kasihan, dan Rukmini ialah biji mata, dan tangkai hati kami, karena ia seorang anak yang lemah, dan harus banyak mendapat pertolongan dari saudara-saudaranya. Sebelum ia kawin, banyak perasaan-perasaan yang kami tanggungkan, karena mengingatkan kami akan bercerai itu, sehingga tatkala waktu itu datanglah, kamipun seakan-akan tidakmerasa lagi, adalah sebagai manusia yang tiada berhati. Ketika itu kami sungguh amat sabar, tiadalah kami berpikir dan tiadalah merasai apaapa juapun. Waktu berangkat kami lihat dengan mata yang kering. Kami takut akan diri kami sendiri, kami biarkan saja ia berangkat dengan hati yang dingin, tidakada perasaan apaapa yang menarik hati kami. Hal yang seperti itu tidakpernah kami tanggungkan, dan tabiat berhati dingin itu tiadalah tabiat kami. Kami takut, kalau-kalau ada bahaya yang akan datang, atau celaka yang tersembunyi seperti sakit dsb. Kepalaku rasanya seperti tiada berisi, dan badanku lemah seperti tiada bertulang. Annie Glasser, sahabat kami, acap kali datang kerumah, ialah sebab permintaan adik kami itu. Pada suatu malam ketika ia datang bertandang, ia bermain lagu-lagu yang amat disukai oléh adik kami, dan juga lagut-lagu yang lain yang kami sukai dipiano. Lama-lama hilanglah dukacita kami, karena merdunya bunyi lagu-lagu itu. Dan sekejap itu juga pilu pula rasanya hati kami mengenangkan hal yang telah lalu. syukurlah yang perasaan kami telah kembali semula dibadan diri kami! syukurlah kata kami, karena barang siapa yang tiada merasai kepiluan hati, tiadalah pula ada perasaannya untuk kesukaan hatinya. Dan siapa yang belum pernah berdukacita, belumlah pula dapat bersukacita.

Adikku telah jauh dari mata kami, yang tidakdapat kami memikirkan yang tidakada bercampur lagi dengan kami, adik kami yang kami kasihi itu. Selalu wajahnya terbayang-bayang dimata kami, ia seperti selalu ada disisi kami. Bédanya hanya kami sekarang tidak dapat lagi bercakap-cakap seperti dahulu, hanya berkata-kata dalam kenangan saja. Alangkah ajaibnya bagi kami, bahwa kami harus mengambil kertas dan da wat, kalau kami hendak bercakap-cakap dengan dia. Biji mataku, tangkai hatiku, betulkah tuan telah bercearai dengan kami? Wahai adikku yang dicinta, beruntunglah hendaknya tuan dalam hidupmu yang sekarang ini, dan tabuikanlah disana untung dan bahagia, seperti yang telah engkau perbuat disini. Mudah-mudahan dapatlah tuan menghubungkan hati meréka itu kepada dirimu.

Stella, sabarlah engkau dahulu akan saya, suka benar saya sekarang hendak mengirim surat yang meriangkan hati, tetapi belum dapatlah rasanya saya menulis surat yang se­perti kehendakku itu. Meskipun demikian janganlah kiranya tuan berkecil hati, karena sampai sekarang belumlah pernah kami berniat hendak membuangkan cita-cita kami. Kami selalu bekerja untuk penambah darajat kami. syukurlah bertambah banyak juga sekarang orang yang mencintai maksud kami.

Adalah seorang anak muda, yang amat pandai, lagi budiman, yang kami kenal, tetapi juga bercintakan maksud kami, dan selalu ia bertanyakan hal kemajuan kami, seolah-olah ia sebagai saudara kami lakunya. Kami selalu berkirim-kinman surat dengan dia, dan nanti ia akan datang kemari dengan adik-adiknya perempuan hendak berkenalan dengan kami. Alangkah besar bédanya anak muda itu dengan laki-laki yang lain yang kami kenal. Pada suatu kali adalah saya membaca, bahwa harta yang mahal sekali didunia ini, ialah hati laki-laki yang mulia. Kamipun percaya akan kebenaran kata itu, hati laki-laki yang mulia itu mémanglah harta yang mahal sekali, tetapi amat sukar mencarinya. Sungguh beruntung perempuan-perempuan yang dapat mestika itu. Kamipun ber­untung, karena adalah kami mengenal beberapa orang yang ada mempunyai benda yang mahal didapat, sukar dicari itu. Lihatlah sekalian yang baik, selalu memberi kami bantuandan menambah kekuatan dan keberanian hati akan bekerja dan memerangi kesusahan hidup.

..........................................................................

Adikku Rukmini, sangat sayang kepadamu dan tinggi kehormatan tuan dimatanya. Ia itu anak yang baik lagi setia. Engkau tentu dapatbercampur beramah-ramahan dengan dia, apabila engkau telah berkenalan dengan dia. Tetapi tuan sendiripun tahu kepadanya karena saya, bukan?

Ketika saya sakit, kuminta dia mengirim surat kepadamu, tetapi ia tidak mau, sebab takut kamu nanti berdukacita.

Rendah gunung, tinggi harapanku, supaya cita-citanya lekas akan sampai.

Tahukah engkau apa yang tergorés dihatiku dan yang melemahkan pengharapanku?

Ketika adikku itu sakit, dan kemudian saya pula dalam sakit, tepekurlah saya: "Lihatlah disini adia terbaring seorang hamba Allah yang senantiasa dalam gembira hendak mencapai maksudnya yang mulia, dan berkehendak sungguhsungguh, selalu hendak berbuat baik, seperti terkata dalam hatinya. Menurut dugaannya ia sampai kuat akan- mengangkat sebuah gunung, tetapi lihatlah ia sekarang terbaring dengan tiada berdaya dan tiada berkuasa!

Kalau sekiranya adalah seorang mengangkatnya dan melémpaikannya ke dalam sumur, tentulah dibiarkannya saja, karena ia sekali-kali tiada berdaya dan tiada berkuasa.

Sekarang baru kami mengerti benar-benar apa yang dikatakan oléh de Genestet dalam syairnya yang bernama "Terug­blik (Melihat kebelakang) :

Wat wiy wenschen, willen, streven,

..........................................................

..........................................................

Pengarang itulah yang menghiburkan hati kami dalam waktu kesusahan dan kesakitan itu.

18 Februari 1902 (VIII)Sunting

Kami pandai pula bermanja-manja dan beriang hati, seperti orang muda-muda — o, betapalah besar hati kami, kalau sekiranya tuan dtengan sekejap mata boléh kami terbangkan kemari. Hari Ahad yang lalu sesudah menerima surat nyonya, dan hari Ahad ini juga kami dengan Anneke pergi ketepi laut. Kami terkenang akan .nyonya dan selalu memperkatakan tuan. Wah, betapa baiknya kalau nyonya sekarang ada disini, melihat ombak yang berkejar-kejar itu, dan warna langit sedang bagus dan ajaib, disinari oléh cahaya matahari yang hendak terbenam. Anginpun memperlihatkan kesukaannya pula dan dengan sebentar sajapun rambut kami kusut-kusut ditiupnya dan pakaian kami, kami peganglah erat-erat supaya jangan diembusnya. Keriangan rupanya terbebar dimana-mana, dipohon-pohon kayu, dimuka laut ditepi 'langit, demikian pula dihati kami sedang bermainmain dan membiarkan diri dikejar-kejar ombak. Alangkah sukacitanya hati kami! di antara bunyi ombak yang mendayu-dayu itu kedengaranlah suara dan gelak kami. Itulah perbuatan "guru perempuan" dan "puteri-puteri" yang betertib sopan, gila berlari-lari dan berkejar-kejaran, sehingga rambutnya menjadi kusut dan pakaiannya berkibaran diterbangkan angin. Kami sekarang bersukasuKaan seperti anak muda-muda yang manja! Kusir kami dan orang yang lalu disana ternganga mulutnya héran melihat pekerti kami. Bésoknyapun kami pergilah pula kepantai, laut waktu itu sudah tenang, telah berhenti memperlihatkan kegagahannya. Lautan yang tiada tepermanai luasnya itupun telah teduh, hening tiada bergerak terkembang dimuka kami; hanyalah disana-sini tampak ombak² kecil, bersinar-sinar seperti intan oléh cahaya matahari, dan dalam laut yang seperti cermin itu kelihatanlah pula wama langit yang hijau bagus itu. Kamipun pergilah berenang kelaut; tanahnya datar tidak berbatu, tiada berlumut dan tiada berlumpur. jauh kami berenang ketengah laut, sehingga air sampai kedagu kami. Babu kami yang duduk ditepi pantaipun takutlah melihat dan suara kami masing-masing kedengaran oléh kami berkacau bilau saja. Seperti orang gila si babu ditepi laut melambaikan tangannya memanggil kami. Tetapi ia kami tertawakan dari jauh, karena ketakutannya itu. Dari jauh dilihatnya ditengah laut adalah 5 buah kepala orang terapung-apung, dan dalam itu kamipun gila meloncat-loncat dan menari-nari didalam laut. Dan yang kede­ngaran waktu itu hanyalah suara kami saja sediang bernyanyi dengan gembira.

Dengan perasaan yang segar dan bertambah muda, keluarlah kami dari dalam laut dan terus pulang kerumah de­ngan lapar yang amat sangat. Setelah kami kenyang makan, maka Annie pergilah kepiano. Oléh kegirangan hati dimainkannyalah dengan asyiknya lagu yang meminta terima kasih kepada Tuhan dan kamipun turutlah bernyanyi bersama-sama. Sementara itu haripun telah pukul setengah sebelas. Se­karang haruslah kami pergi bekerja. Diserambi di belakang telah sedia kotak gambar. Berlima-lima duduklah kami mengelilingi méja dan sebentar lagi kamipun asyiklah pula menggambar; tiadalah jari tangan saja yang bekerja, mulut kamipun turut pula bergerak, tidak sekejap jua dapat tertutup. Selalu kami bercakap-cakap dan tertawa-tawa serta bernyanyi-nyanyi. Beberapa antaranya pukul satu berbunyilah, dan kamipun pergilah pula makan. Petang-petang kami pergi bersiar-siar dengan keréta, sudah itu berjalan-jalan ditepi laut. Sesudah berjalan-jalan itu kalau sekiranya hari belum kelam, kami minumlah téh dalam kebun, dibawah pohon² kayu yang amat rindang daunnya, dan di atas kepala kami kelihatanlah langit dengan bagus warnanya, serta ditaburi oléh bintang-bintang yang cemerlang, dan bulanpun terbitah pula menambah kebagusan malam. Sudah itu kami pergiyah membat ya kitab atau pergi bennain musik. Kalau Annie bermain piano, kamipun duduklah menjahit atau menulis senang hati bekerja, jika waktu itu musik berbunyi. Kercapun lekas habis. Tiap hari kamipun belajar bertanak dan menggulai dan pekerjaan itu kami lakukan petang, sesudah makan tengah hari.

Datanglah tuan kedua kemari akan meiepaskan lelah sesudah bekerja di Betawi itu. Ayuhlah, cobalah tuan kedua datang, supaya boléh kami meriangkan hati tuan. Boléh kami melipurkan hati tuan, hidup dikampung dengan senang sentosa damai dan ma'mur; kami nanti menyambut tuan dengan gembira, kami akan gembira bersama-sama dengan pohon-pohonan, angin, lautan dan burung-burung, semua itu akan memberi selamat datang akan tuan kedua dan bernyanyi mengeluarkan suaranya yang merdu itu setiap pagi.

Datanglah, wahai sahabat kami kedua, datanglah kerumah kami yang sunyi dan sederhana ini, supaya dapatlah tuan kedua mengambil kekuatan yang baru dengan segeranya!

........................................................................................................................................

Sekarang kuceriterakan lagi tentang peralatan kawin adikku, anak-dara yang cantik rupanya. Ia kawin dengan berpakaian seperti wayang, amat élok rupanya. Malamnya ketika dalam alat besar itu, rupanya seperti seorang puteri yang tersebut dalam hikayat seribu satu malam. Ia memakai mahkota emas dikepalanya. tidak ubahnya kami sebagai bermimpi melihatnya, tentulah keadaan itu akan d'itiru orang nanti.

Residén Siythoff yang suka melihat adikku menjadi anakdara itu. turut menghadiri peralatan itu sampai penghabisannya. Meréka itu bemiat benar hendak menjabat tangan adik kami, akan memberi selamat, tetapi tiadalah dapat; hanyalah dengan mata saja meréka itu dapat memberi selamat, karena anak-dara itu seperti patung yang hidup tetap duduk di atas "kwadé", yakni singgasana keemasan, yang cemer­lang cahayanya: adikku itu selalu disana duduk lurus sebagai mercu, kepalanya tegak dengan sikapnya, dan matanya terus melihat kemuka, memenungkan nasib yang akan datang, yang dalam sedikit hari lagi mulai ditanggungkannya. Sebagai adatnya air matapun bercucuranlah waktu itu; tetapi adikku dan kami berdua tinggal berdiam diri, hening sebagai mayat. Gamelan, musik, kemenyan dan bunga-bungaanpun tidak dapatlah menyedihkan kami dalam hal itu.

Kami tiada berperasaan lagi. Sekalian orang bersangka, bahwa perceraian kami tentulah akan menghancurkan hati kami benar-benar. Sekarang sungguh tercenganglah meréka itu melihat kami.

Banyak orang datang melihat kami, meréka itu makin lama makin bertambah banyak. Sekalian meréka itu ingin hendak melihat, bagaimana kami .akan menanggung kesukaran, pada waktu perceraian kami itu.

Malam itu juga kami mengabarkan cita-cita hati kami kepada tuan residén. cobalah tuan pikirkan: ditengah peralatan yang sebagai itu, kami hendak memperkatakan juga perkara yang penting dan sulit sebagai itu. Tetapi pada waktu itulah saja kami dapat menghadapnya, dan pekerjaan itu harus dilekaskan. Ditengah bunga-bungaan dan cahaya emas dan intan itu serta di antara orang beramai-ramaian itu, pada waktu itulah kami dengan memegang gelas yang berisi anggur, memperkatakan perkara yang penting. Ketika itu hari telah larut malam. Sejak bermula kami telah ketahui, bahasa ia akan/mentertawakan kami, dan tentulah akan mengatakan kami "gila". Tetapi tiadalah kami indahkan. Mula-mula ia berkata dengan saya, kemudian dengan Rukmini akan mengetahui kalau-kalau kami ada bersedih hati dalam hal perkawinan adik kami itu.

Sedang ia bercakap-cakap dengan kami itu, acap kali ia pergi dari tempat kami, dengan tiada berbesar hati, tetapi ke­mudian datang lagi kembali menyambung perkataannya tadi.

........................................................................................................................................

Kalau sekiranya kami dapat pergi belajar kenegeri Belanda, manakah yang baik bagi kami dalam pikiran tuan, kami pergi kesana atau kami tinggal disini? Maukah tuan menjawab pertanyaan ini? Karena tuan tidak dapat melihat mataku ketika menulis surat ini, baiklah kukatakan kepada nyonya, bahasa saya bertanya dengan muka yang manis dan mata yang cemerlang!

Sebuah lagi permintaanku. Maukah nyonya dengan hati yang baik pergi menanyakan kepada sahabat tuan, Dr. Snouck Hurgronye, adakah dalam undang-undang agama Islam tersebut, bahwa kalau seorang anak telah ber'umur sekian tahun, ia boléh berdiri sendiri, tidak usah lagi bergantung juga kepada orang tuanya?

Atau baikkah saya sendiri bertanyakan kepada tuan itu? Suka benar saya hendak mengetahui tentang hak dan kewajiban, menurut undang-undang agama Islam, lebih-lebih tentang hak gadis dan perempuan. Tentulah amat bagus ceriteranya; tetapi malulah kami menanyakan, karena kami sendiri orang Islam tidak tahu akan hal itu. Alangkah sedikitnya pengetahuan kami!

Saya sangat bersedih hati mendengar kabar, yang sekolah H. B. S. perempuan akan ditutup, sayang!

28 Februari 1902 (VIII)Sunting

Darah asal itu tiadalah akan mendustakan dirinya. Besar harganya kepadaku 'mengetahui dari mana asalnya barangbarang yang mengelilingi aku. Dalam perasaanku barangbarang, yang asalnya dari meréka yang kukasihi dan hormati, akan memberi untung akan daku! Kitab yang datang dari nyonya tentulah dengan berahi, gembira dan mudah saya pelajari! Perasaan gila, perasaan hatiku itu, bukan? Saya ini tidak ubahnya seperti anak-anak yang telah ber'umur, yang berkehendak selalu akan dikasihi, dan suka hendak mengetahui sekaliannya, supaya dapat ia memperhatikan keadaan benda itu. Itulah niat kami yang sebenarnya!

Mengetahui itu ialah suatu kepandaian yang sukar bu­kan, kekasihku? — susah mempelajarinya, kalau Tuhan belum mentakdirkan kepadanya.

Mengetahui dalam suatu perkara, menyuruh kita berhati adil dan suka mengampuni kesalahan orang. Itulah yang membuat kita berhati yang sempurna baik. Berapa banyaknya tuan kedua telah berbuat baik kepada kami, sebab itu kamipun banyak meminta terima kasih, karena tuan kedualah yang mengajar kami mengetahui keadaan bermacam-macam hal.

Malam jumat, yaitu malam kami bermain gamelan, bermacam-macam lagu yang kami sukai, kami lagukanlah!

Hati yang sebagai batu waktu itu menjadi lemah dan cahayanya bercemerlang menyinari tubuh yang dingin. Sekarang barulah perasaan kami hidup kembali! Sedang angin mencjayu-dayu dipendopo, mengandung lagu yang manis dan suara yang merdu itu, rasa terbanglah nyawa kami kesurga kenang-kenangan!

Bermimpilah wahai diriku, teruslah tuan bermimpi sedapat-dapatnya! Kalau sekiranya tidak adia mimpi didunia ini, dimanakah hidup akan senang. Hidup yang sebenarnya bukan main beratnya. Barangkali benarlah seperti kata orang, bahwa kami haruslah tinggal dipulau yang tiada didiami orang! Tetapi itulah kelobaan manusia yang sebenar-benarnya, bukan? Pikiranku, kita harus hidup bersama-sama dan bertolongtolongan, itulah gunanya kita dilahirkan kedunia akan membaguskan "hidup bersama-sama!" Sengsara itu menyucikan hati, kalau orang yang ditimpanya itu berhati baik. Sekiranya jahat hatinya, maka iapun masuklah ke dalam naraka dunia. Kamipun sekarang telah berubah pula, tetapi bagaimana perubahan itu pada hari yang akan datanglah dapat menentukannya, hanya yang kami ketahui sekarang, bahwa kami tiadalah lagi anak-anak manja seperti dahulu.

Sekalian barang-barang yang tidak berguna dibilik kami, ka­mi buang, kami hadiahkan kepada anak-anak akan pembesarkan hatinya. Bilik anak gadis yang indah dahulu, tempat ia bermimpi, bemiat dan berpikir, mengeluarkan kepiluan hati dan tempat tertawa karena kebesaran hati, tempat ia bekerja memerangi kesengsaraan hidup dlan tempat menanggung azab sengsara, sekarang telah berubah sama sekali. Hanyalah tempat lemari kitab kami yang tidak berubah dan sahabat-siahabat lama kami masih selalu bermuka manis melihat kami, selalu mendidik kami, dan menambah karib persahabatan kami!

Seorang dari sahabat kami, yaitu seorang tua yang tiada dipandang orang lagi, karena ia masuk kaum kuno, sehingga kalau dilihat rumahnya sampai ke dalam, tampaklah oléh kita, bahasa ia masuk bagian manusia zaman dahulu. Banyak orang yang mengéjékkan orang tua itu, tetapi kami kasih akan dia dan dialah yang belum pernah suka meninggalkan kami dan ialah yang selalu turut bersukacita dalam kesenangan kami, dan memberi kami bujukan dalam hari kedukaan. Orang tua itu............de Genestet. Ialah yang membujuk kami pada waktu yang lalu, yang belum lama terlampau!

5 Maart 1902 (VIII)Sunting

Tahukah nyonia siapa yang selalu menggambarkan wayang untuk kami? tidak dapatlah tuan terka. Ialah tukang ga­melan kami. Ajaib kita melihatkan bagaimana pandainya membuat itu dengan bagusnya. Rupan ya pandai menggambar di Jepara, sudahlah menjadi kebiasaan orang disana. Budak-budak kecil tukang gembala kerbau, bagus-bagus wayang digambarnya, baikpun di tanah, didinding, dijambatan atau dipagar-pagar. Dinding di belakang rumah kami penuh diukir orang dengan gambaran wayang. Kalau pagar jambatan hari ini diputihkan dengan kapur, bésoknya jambatan itu penuhlah pula dengan gambaran wayang, yang digambar dengan arang atau batu témbok oléh budak-budak, yang bertelanjang bulat, yang penuh badannya berlumur dengan lumpur. Sungguh amat mudah bagi kami disini akan menaruh tukang gambar. Kami hanya perlu mengatakan dan menerangkan saja kepadanya apa yang akan dibuatnya.

Sekarang tukang ukir itu sedang membuat barang yang indah, yakni sebuah lemari kitab, terbuat dari kayu jati dan tepinya terbuat dari kayu sena. Pintunya diberi berkaca besar dan berbingkai dua lapis yang terbuat dari kayu sena juga dan pada beberapa tempat berukir dengan gambar wayang. di antara bingkai dibawah dengan bingkai di atas, terukir ular-ular yang membelit-belit diri sedang berkelahi, seperti akar cina. Pada bingkai di atas terukir gambar wa­yang dan kahmat pujian. Kepala lemari itu berdiri antara dua buah tiang yang berukir, terbuat dari kayu sena. ukiran-ukiran itu kami lihat di Muntingan, dikuburan Sultan Muntingan yang jauhnya lebih kurang setengah jam dari sini. Gambar itu disana tidaklah terukir pada kayu melainkan terukir pada batu. ukiran itu asalnya dari tanah cina, dan sultan itu dahulu telah pergi kesana.

Panjang ceriteranya kubur itu. Kubur itu keramat; kami acap kali pergi kesana. Seorang cina yang menurutkan sultan itu kemari, telah meninggal dunia disini. Dekat kuburnya adalah pohon pace'. Pohon itu kera­mat pula kata orang. Perempuan yang tiada beranak pergilah kesana bernazar, supaya boléh mendapat anak. Dikubur sultan itu dibakarnya kemenyan dan ditaburkannya bunga. Kalau buah pace' itu gugur keatas kubur cina itu, maka dipungutlah oléh perempuan yang bernazar itu, dan dibuatnyalah rujak lalu dimakannya. Itulah tanda maksudnya akan sampai. Banyak orang mengatakan kepada kami, bahwa barang siapa yang berniat di tempat itu, kebanyakan maksudnya sampai. Benarlah kata si Edi, bahwa bangsa Jawa ialah suatu bangsa yang banyak berceritera yang ajaib-ajaib. Kata orang sekalian perempuan yang bernazar dikubur Sultan Muntingan beranak perempuan belaka! Kasihan perempuan-perempuan yang bernazar itu! Kami hanyalah mau bernazar kekubur keramat yang memberi anak laki-laki saja, karena sudah terlampau banyak anak perempuan didunia ini!

Ya Allah, betapa maka saya tersesat sampai kemari." Saya tadi menuliskan perkara lemari, tetapi sekarang itu telah lupa. Lemari itu dibuat untuk Kardinah, pemberian tuan dan nyonya Ovink. Adikku sungguh beruntung mendapat lemari itu!

Bulan yang lalu sudah dua buah sekeram dibuatnya untuk seorang kemendur, yang hendak pergi kenegeri Belanda. Bagus benar sekeram itu, berukir-ukir dengan gam­bar wayang, yang sebuah berlipat tiga, terbuat dari kayu jati, dan yang sebuah lagi hanya terbuat dari sebilah papan kayu jati saja dan bertepikan kayu sena. Betul bagus!

Besar hatiku, melihat banyak orang meminta barang-barang ukiran Jepara. cobalah nyonya pikirkan, apa yang terjadi baru-baru ini. Didalam sebuah surat kabar tersebut, bahwa perkara ukir-mengukir di Jepara telah mundur, karena dirusakkan oléh beberapa orang perempuan, anak-anak dari seorang yang berpangkat tinggi disana, yang selalu menyuruh mengukir menurut lukisan Eropa. Tercengang kami membaca kabar itu, karena dalam pikiran kami, bahwa lukisan wayang itu ialah lukisan Hindia, tetapi rupanya sekarang ka­mi salah sangka, karena kata orang ukiran itu, ukiran Ero­pah, karena lukisannya datang dari kabupatén. Tetapi bersalah sangka itu sudahlah menjadi adat manusia, bukan? Apalagi kami ini hanya manusia seperti manusia yang banyak juga, lagi pula kami ini hanyalah seorang Jawa saja. Amat susah kami dahulu menyuruh tukang-tukang itu, supaya meréka mau membuat bonéka-bonéka wayang itu. Me­réka itu takut kalau-kalau semangat wayang itu marah kepadanya. Setelah bapak mengaku bahasa bapak yang akan menanggung sekalian hal, baik kemarahan, atau ancaman semangat wayang-wayang itu, dan tiadalah akan menggoda meréka itu, melainkan bapak yang akan digodanya, karena ialah yang menyuruh memperbuatnya, baharulah meréka itu bekerja seperti sekarang. Tertawa kita melihat keadaan itu, begitu jua dalam hal yang lain-lain!

Dahulu amat susah membuat gambar porterét dikampung-kampung. Menurut kepercayaan orang disini, singkat 'umur, kalau dibuat gambar diri sendiri, dan tukang gambamja itu berdosa besar. Sekalian gambar porterét itu nanti akan meminta nyawanya pada hari kemudian. Ketika kami dengan seorang tukang gambar pergi kekampung, menangislah beberapa orang perempuan, karena takut akan digambar. Kesudahannya adalah seorang yang berani, dan karena itu yang lainpun mengeringkan air matanya. Ke­tika kami datang sekali lagi, datanglah meréka itu sendiri meminta digambar. Begitulah pergerakan dalam dunia ini, satu orang mestilah berani dahulu, untuk memberi contoh! Adikku Rukmini sedang bekerja membuat gambar adikku Kardinah sebagai anak-dara. Ia menggambar tiada bercontoh, tetapi diluar kepala saja. Bibir di atas dan hidung belum serupa benar, dan yang selebihnya boléhlah: apa­ lagi pakaian anak dara itu bagus benar digambarnya. Ia nanti hendek mencoba lagi menggambarkan gambar itu dipapan seperti yang nyonya katakan kepadanya. Didalam kitab gambarnya adalah digambarkannya adikku Kardinah. Sungguh pintar anak itu, karena sekalian itu diperbuatnya tiada dengan belajar, tetapi tidak heranlah karena ia anak Jepara. Disini anak gembala kerbaupun pandai menggambar. Beruntunglah negeri Jepara itu! tidak tahulah tuan betapa besarnya hati kami, karena kami anak Jepara. Banyak pula orang yang tinggal disini menyumpahi kemalangan, karena meréka berumah dinegeri yang buruk ini. Perasaan berlain-lainan!

Sekarang sedikit perkara kegadukan hati. Baru-baru ini saya bertanya kepada seorang perempuan pengarang Belanda bagaimanakah menurut pikirannya............bahasa Belandaku. Pekan yang lalu saya dapat surat dari padanya dan dalam surat itu ada tertumpang lagi sebuah surat dari seorang nyonya tempat ia meminta pertimbangan, sesudah ia telah membaca suratku! Besar hatiku mendengamja! Pekan yang terlampau itu pula, saya diminta oléh seorang nyonya pengarang sebuah surat kabar pemajukan perempuan, kalau² suka saya menjadi pembantu disurat kabar itu, supaya saya sekali 14 hari menulis disana. yang menyampaikan permmtaan itu, ialah seorang nyonya sahabatku dan saya harus mengirim surat tiap-tiap surat kabar itu dikeluarkan. Sahabatku itu menceriterakan peri hal kami kepada nyonya itu dan nyonya itu menyukai sekali maksud kami dan sudi memberi tempat disurat kabarnya untuk kami, akan pendidik perempuan Jawa. Dan dalam pertimbangannya patut benar anak perempuan bangsa Jawa sendiri mengeluarkan suaranya, akan menunjukkan kepada bangsa Belanda, bagaimana benar keadaan bangsa Jawa itu dan menyuruh bangsa Belanda itu mengasihi bangsa itu. Saya suka benar memperkenankan maksudnya itu, tetapi kami harus lebih dahulu mendapat izin dari bapak. Sekarang adalah harapanku, yang permintaanku akan dikabulkannya.

14 Maart 1902 (I)Sunting

Pada suratmu kulihat engkau berhati masgul. Buangkanlah kesusahan hatimu itu, karena belumlah ada seorang juapun yang berbuat jahat kepadaku. Tetapi kesukaanku mémang suka menggunting hati sendiri. Sipat itu ialah suatu kebodohanku, bukan? Banyak orang berkata: "Penanggungan itu boléh mendatangkan kegirangan hati," teta­pi tahukah meréka itu betapa ganasnya penanggungan itu?

Tentang adikku telah kuceriterakan dalam surat yang dahulu. Sunyi benar kami sekarang, karena biji mata, tangkai hati kami tidak ada lagi. Seperti kehilangan saudaralah kami rasanya; tetapi untunglah selalu kami menerima surat yang meriangkan hati dari padanya. O, itulah anak yang baik budi dan berhati mulia. Ia lebih berharga dari pada kami berdua. Ia adalah dalam selamat dirumahnya yang baru itu dan banyaklah pula orang kasih akan dia disana. Kaum keluarga suaminya menyayangi dia, seperti menating minyak yang penuh, dan kemana saja ia pergi selalu ia diterima orang dan disambut dengan baik dan hati yang suci, baik oléh bangsa Bumiputera ataupun oléh bangsa Eropa. Orang Eropa berharap yang ia akan memajukan isteri pegawai-pegawai Bumiputera disana.

Adikku itu sekarang banyak dapat membuat apa-apa yang kami maksudi.

Apa pangkat suaminya, tentulah engkau telah tahu, ketika kami mengirim karcis perkawinannya dahulu. Ia patih yaitu pangkat yang kedua yang tertinggi dalam dunia pegawai Bu­miputera, tetapi ia bakal menjadi regén juga, kalau ayahnya nanti berhenti dari pekerjaannya. Kalau ia telah menjadi isteri regén, tentulah banyak ia dapat memajukan perempuan bangsa Bumiputera, lebih banyak dari pada kami. Ka­mi berharap yang suaminya itu akan menolong membantunya, apalagi kabarnya ia suka benar menyokong cita-cita tuan Abendanon. Ia amat kasih akan isterinya, selalu berhati besar dan ramah, dan kepada orang lain pengasih dan penyayang. Itulah sebabnya maka banyak sekali kaum keluarganya yang dipeliharakannya, baik hati ia, bukan?

Banyaklah anak Bumiputera yang berbuat yang sedemikian dan siapa yang berada selalu mengenal akan sanak saudaranya yang miskin. tidak adalah kepala anak negeri yang tiada memeliharakan kaum keluarganya di rumah. Tiadalah sia-sia orang mengatakan, bahasa orang Hindia peramah dan pemurah. Tentu engkau berbesar hati, karena engkau telah mendengar sekalian hal ihwal adikku itu.

Hanyalah sekarang ia didalam kecemasan saja, mengingatkan kekecilannya, sebab banyak orang yang berharap akan kebaikannya, dan saudaranya yang tertua merasa juga sedemikian, apalagi ketika seorang Belanda memujinya di Am­sterdam, dalam surat kabar.

Sebenarnya, Stella, janganlah engkau berbuat begitu pula. Tentu engkau saya umpat dengan sejadi-jadinya, kalau saya tiba-tiba diterbangkan oléh Tuhan keribaanmu. Engkau menyangka bahwa saya sungguh baik hati dan arif bijaksana. Sekalian itu belumlah berharga seduit juapun untuk badanku, sungguh kataku itu. Tetapi betul ada­lah sebuah benda dalam hatiku yang tidak akan mengecéwakan tuan, yaitu kesayanganku kepadamu!

Baru-baru ini sa ya mendapat sepucuk surat dari seorang tuan yang telah tua, mengatakan yang saya berhati lemah-lembut, beradat bagus dan pandai berbahasa Belanda. Sayapun tersenyum ketika membaca surat itu dan timbullah pikiran dalam hatiku, tahu benarkah tuan itu akan daku. Pada penghabisan tahun yang lalu maksudnya akan datang kemari, hendak mengunjungi kami; tetapi adalah alangan yang merintangi maksudnya itu; karena penyakitnya haruslah ia dengan selekas-lekasnya pergi kembali keEropah. Dan isterinyapun turutlah pula bersama-sama, memnggalKan negeri yang panas ini, yang selalu disinari oléh matahari.

Sayang sekali ia tidak datang; kami beringin benar hendak bertemu dengan dia akan memperkatakan maksud kami. Baru-baru ini ketika kami menyangka, yang kami akan terus pergi belajar kenegeri Belanda, berharaplah kami akan pergi bersama-sama dengan tuan dan nyonya itu dalam musim panas. Sayang pengharapan itu telah menjadi angin. Kemarin kami mendapat surat dari negeri Belanda, dan saya berkata dalam hatiku: "Hai diriku, tegakkan kepalamu, karena bukanlah saja kecéwa yang akan menggodamu semasa hidupmu, percayalah engkau, bahwa waktu yang akan datang, banyak lagi mengandung kesengsaraan yang akan engkau tanggungkan!" Sayapun tidak memikirkan hal itu lagi. Hidup kita nanti akan mengajar kita berhati berani.

Sekarang kuperkatakan lagi permintaan nona Van der Mey. Marilah kuminta dahulu terima kasih atas segala kesusah.mmu telah menolongku, dan lagi kuucapkan terima kasih atas karanganmu tentang "hak dan keuntungan". Surat yang berisi permintaan itu kubacakan kepada bapak. Bapak mau dahulu menantikan kedatangan tuan van Kol, barulah ia memutuskan perkara itu. Besar harapanku yang bapak akan mengabulkannya. Perlu juakah siaya mengata­kan bahwa "saya mau?" Engkau tahu bahwa saya suka benar menulis dan kerja karang-mengarang selalu menarik ha­tiku, dan engkaupun telah beberapa kali pula mengatakan bahasa saya pandai mengarang.

Ya Stella, saya mau menulis dan mengarang, tetapi saya tidak suka memberi tahukan namaku yang sejati, ia harus dirahsiakan, katakan hal itu kepada nona Van der Mey. Adakah itu akan memberi paédah!!! Kalau orang Hindia membaca karangan seorang perempuan Jawa, tentulah ia lekas boléh menunjukkan, siapakah yang berbuat salah itu. Hal yang demikian menjemukan hatiku. Saya tidak suka bila orang memperkatakan buah pénaku (yang tiada sempurna), apalagi kalau orang selalu memujikui, bah! Kalau perempuan Jawa mengarang dalam bahasa Belanda, rupanya hati orang jadi tertarik membacanya, itulah rahsianya akan mendapat untung dengan mudah. Sungguhlah membesarkan hatiku! Tetapi marilah dahulu kukatakan apa benar gunanya "penarikan hati?" Itulah sekali-kali tidak dapat kulupakan.

Betul besar paédahnya. Engkau dan sayapun mengaku, bahasa anak negeri sendiri harus mengeluarkan suaranya. Banyak paédahnya kalau bangsa Jawa sendiri menceriterakan sakit senang kehidupan bangsanya.

Pun amat banyak perempuan bangsa kami, yang menanggung sengsara dalam hidupnya. Tapi sebelumnya saya mengeluarkan suaraku, mengabarkan perkara yang lalimlalim, yang ditanggóengkan perempuan bangsa kami, haruslah saya berpikir benar-benar lebih dahulu; saya mesti tahu betul-betul apa yang akan kuperbuat. Kalau kubukakan suaraku, niscaya sekalian orang yang memperoléh keuntungan karena kelalimannya akan benci kepadaku, tetapi saya ialah hendak melawan kelazimannya itu.

Untuk diri saya sendiri tiadalah saya indahkan permusuhan ini, tetapi ia dapat merusakkan cita-cita kami. Sekiranya saya menjadi guru, tentulah meréka itu tidak sudi menyerahkan anaknya kepadaku, karena saya telah bersalah, melawan adat-adat yang telah berurat berakar itu. Akan menulis karangan yang demikian tidak mau bapa memberi izin saya, apalagi pada waktu ini. Kerap kali orang meminta kepa­daku mengarangkan sekalian hal ihwal itu. Tetapi saya tidak boléh melakukannya.

Tetapi apa yang diminta oléh nona Van der Mey, ialah fasal yang lain pula. Saya harap permintaannya itu dapat dikabulkan. Tetapi seperti yang telah kukatakan tadi, engkau mesti berjanji akan merahsiakan namaku.

Seorang sahabatku telah menyuruh saya juga mengarang, betul seperti itu, untuk orang banyak. yang baik saya karangkan ialah perkara-perkara yang dapat diperbincangkan dimana-mana, ya, boléh hendaknya diperbincangkan dalam persidangan Tweede Kamer, sehingga dengan perintah persidangan itu disuruh periksa lebih terang dan lanjut tentang segala perkara itu.

Saya selalu berniat juga hendak mengeluarkan karangan tentang segala hal keadaan itu, tetapi saya sendiri merasa, bahwa masa sekarang belumlah ada waktunya untuk menyampaikan maksudku itu, banyak rahsia yang belum kuselidiki, dan lagi belumlah cukup kekuatanku mengerjakannya. Saya harus lebih banyak melihat dan mendengar segala yang terjadi disini, sekalian itu harus kutimbang dan kupikiri baik-baik.

Buah pikiranku belumlah masak, Stella, kalau sekiranya telah masak tiadalah saya akan enggan mengabarkan hal keadaan itu kepada orang banyak. Kalau kami menghadapkan permintaan kami itu kepada Koningin Wilhelmina, itu artinya bukaniah kami meminta pertolongan kepada kerajaan, supaya berkat daulat Seri Baginda dapatlah kami pertolongan Pemerintah, lain tidak, melainkan dalam hal itu kami meminta kepada Seri Baginda, supaya Seri Baginda sendiri menolong kami. jikalau engkau sekiranya mengetahui akan ketinggian hati kami, tentu mengertilah pula engkau, bagaimana beratnya hati kami memutuskan hendak meminta pertolongan.

Tetapi seperti katamu juga: kalau ada keperluan yang besar, maka keperluan yang kecil haruslah didiamkan dahuloé.

Dan ketinggian hati kami itu, kami hilangkanlah, supaya kami dapat bekerja untuk kebajikan orang banyak. Selalu kami benci kepada minta-minta, sungguhpun kami telah mengetahui, bahwa permintaan itu akan diperkenankan. Dan dalam hal yang demikian, meminta itulah jalan yang tunggal akan memperoléh maksud itu.

Adalah seorang yang telah pergi menghadap kedua Seri Ba­ginda Maharaja dinegeri Belanda, mengatakan dengan sungguh kepadaku, bahwa Seri Baginda Ibu Suripun banyak pula mengetahui dan amat mengindahkan tentang hal keadaan tanah Hindia.

Kami mau benar mempercayai kabar itu. Tatkala kami menyembahkan beberapa persembahan kepada Seri Baginda Maha­raja Wilhelmina, waktu Pertunjukan perusahaan Perempuan, maka Seri Baginda Ibu Suripun menitahkan kepada sekertarisnya, menanyakan kepada presidente perserikatan itu, yang menguruskan kirim-kiriman dari Hindia, apakah isinya persembahan kami dahulu itu. Bagindalah yang meminta kepada presidente pertunjukan itu, yang selalu mengiringkan Seri Baginda dalam pertunjukan itu, membacakan isi suratku sedikit kepada Seri Baginda. Kepada Pemerintah atau kepada Seri Baginda Maharajalah tempatku menyembahkan permintaanku itu. Kalau permintaanku tiada diperkenankan oléh Seri Baginda atau oléh Pemermtah, maka pergilah saya ke Mojowarno, meskipun disana tiadalah se­perti yang dimaksudi benar. Tahukah engkau, kalau saya keputusan asa, kemana saya hendak pergi? Kenegeri lain diluar tanah Jawa, kepada seorang sahabat kami[5] yang tinggal jauh ditengah suatu pulau yang Bumiputeranya masih biadab, dan disanalah ia berbuat baik akan meréka itu dan menolong meréka itu memberi obat-obat.

Sebagai ayam kena kepala saya hendak pergi kepadanya, tentulah ia akan meraba-raba kepalaku, sampai keluhku hilang' dan napasku yang sesak jadi berhenti, dan dari tangannya yang dingin akan mengalirlah perdamaian yang meliputi segenap tubuhnya, masuk ke dalam diriku! Sungguhpun demikian iapun seorang manusia juga, yang selalu menanggung sakit dan senang, dan kesusahan hati, yang mesti dilawannya.

Stella, Stella, kalau sekiranya saya dapat memeluk léhérmu sekarang dan menyandarkan kepalaku kedadamu, alangkah senangnya.

Barangkali jadi juga saya pergi ke Selébés kepada sahabatku itu dan meréka yang biadab, pemotong kepala itu. Dengan jalan apa sekalipun kita berbuat baik, tidak gunalah diindahkan benar, asal saja perbuatan itu baik. Wah, janganlah engkau terkejut dan jangan barpikir panjang lagi, Stella, barangkali tidak perlu lagi saya pergi kesana, dan teka-teki yang sukar itu barangkali dapat diterka dengan jalan yang menyenangkan hati. Dalam badanku masih ada kemauan dan kekuatan, syukurlah!

Perbanyak doa, ingatlah saja kepada yang baik, dan janganlah engkau lupa kepadaku, Stella, kekasihku.

21 Maart 1902 (V)Sunting

Benarlah kata nyonya itu. Adikku berangkat itu, sebagai kami kehilangan besar. Kami telah lama dan selalu hidup damai dan riang bersama-sama dengan dia. Tiadalah salah jika orang mengatakan bahasa kami bertiga telah menjadi satu, satu dalam pikiran, satu dalam perasaan. Rasanya belum percaya benar kami, bahwa si adik itu meninggalkan kami untuk selama-lamanya; sangatlah menggundahkan hati kami mengenangkan, yang ia telah berangkat dan tidak akan kembali lagi. Kami bersangka bahasa ia hanya pergi menumpang untuk beberapa hari saja dan sedikit hari lagi akan pulang kembali. Kami sungguh tercanggung karena kehi­langan si cantik kecil itu. Tetapi lebih baiklah kami tidak memikirkan hal itu, karena perceraian yang meremukkan hati itu, bukanlah sebuah saja. Tentu ada pula nanti perce­raian yang lain, yang akan menuruti pada hari yang akan datang. Lambat launnya manusia didunia ini akan bercerai jua, "bercerai”, itulah kata yang selalu kita dengar selama hidup!

Sekali-sekali baik tali persahabatan yang kuat dan suci itu diputuskan, kata de Genestet, tetapi nasihat itu mudah disebutkan, tetapi amat sukar akan dilakukan, betulkah atau tidak?

Kami selalu menerima surat yang berisi kabar baik dan kegirangan hati dari pada adik kami itu. Ia adalah dalam selamat wa'lafiat saja. syukur, alhamduli'llah! Rahmat yang diperoléhnyapun menjadi rahmiat kami pula.

Sekarang marilah saya perkenankan kehendak tuan, menceriterakan ini dan itu tentang alat perkawinan adikku itu.

Alat perkawinan anak negeri selalu amat banyak huru-haranya. Beberapa hari dan beberapa pekan dimuka sebelum alat itu dilangsungkan, maka disediakanlah sekalian alat keramaian itu. Ketika itu tiadalah kami bersuka-sukaan benar, karena adalah seorang keluarga kami yang meninggalkan dunia, yaitu seorang saudara perempuan, adik oléh mempelai itu, telah berpulang kerahmatu'llah sebelum peralatan itu menjadi. Kasihan sekali, ia masih muda dan meninggalkan anak beberapa orang. Ketahuilah oléh nyonya, bahwa adik­ku kawin ialah dengan anak saudara perempuan bapak, jadi kawin bersaudara namanya. Dahulu adalah ia datang sekali kemari, tetapi ketika itu ia masih kecil sedang bersekolah dan seorang juapun tiadalah yang mengenang akan perkawinan itu.

Acap kali didapati adalah anak-anak yang dipertunangkan ketika kecil dan nanti kalau meréka telah besar lalu dikawinkan saja.

Adikku mengulangi persahabatannya dengan suaminya itu, ketika tuan besar Gubernur jenderal ada di Semarang. Menurut sepanjang adat tidak boléh sekali-kali anak-anak gadis pergi keluar rumah, kecuali kalau ia pergi menuruti suaminya, biarpun belum peraah dikenalnya. Tetapi seperti yang telah saya katakan, banyaklah dari pada adat-adat itu yang tiada kami turut lagi, karena tiada sepadan dengan pendidikan kami yang bébas itu. Kami bermaksud sekarang banyak lagi hendak menghapuskan adat-adat kuno dan buruk itu! Lebih-lebih beberapa lamanya menjelang anak gadis yang akan dikawinkan, ia sekali-kali tidak boléh ke­luar dari rumah. Ia harus tinggal di rumah atau kalau ia ada berbilik, dikurung didalam biliknya.

Bulan December yang lalu kami ada di Semarang, dan sekalian toko-toko disana semua kami masuki, pergi membeli apa-apa yang kami sukai.

Kepada anak gadis Jawa yang baru bertunangan, tiadalah diucapkan orang selamat, demikianpun hal itu tiadalah diperkataan orang dengan dia, dan ia sendiripun lebih-lebih tidak suka memperkatakan pertunangannya itu, dan berlaku seperti ia tidak tahu saja. jikalau sekiranya boléh, maulah saya masuk ke dalam hati bangsaku hendak membaca, apa yang tergorés didalamnya, ketika adikku dengan mudahnya memperkatakan perkawinannya dengan meréka itu. "Terlalu sekali” kami ini. Oh, ya, sedangkan bagi orang yang beradat sopanpun bukankah begitu pula? Meréka itupun suka sekali menyalahkan barang sesuatu pekerjaan yang tiada dapat dima'luminya.

Tidak boléhlah kami marah kepada bangsa kami yang belum berpengetahuan itu dan karena tidak tahulah maka meréka seperti itu.

Sehari dua sebelum perkawinan itu akan dilangsungkan, kamipun kenduri dan mendoa, menyeru arwah-arwah kaum keluarga yang telah miati. Lihatlah itu, betapa bagusnya adat kami. Dengan segala sukacita selalu kami mengenang kepada keluarga kami yang telah meninggalkan dunia. Kenduri artinya makan-makan bersama-sama, sesudah itu bersama-sama pula dengan 'ulama menadahkan tangan arah kelangit meminta kepada Allah dan rasul, rahmat dan ni'mat untuk se­gala arwah-arwah orang tua-tua dan ahli lain yang telah meninggal itu, dan berkat meréka itu mudah-mudahan perkawinan itu akan diselamatkan Tuhan. Mendoa itu dilakukan di rumah anak-dara. Iparkupun datang dengan kaum keluarganya, waktu bésoknya akan kawin. Mempelai Belanda setibanya dinegeri kekasihnya itu, tentulah ia yang pertama-tama sekali akan pergi kerumah anak-dara itu, tetapi menurut adat kami tidak boléh diperbuat yang demikian. Mempelai tidak boléh melihat isterinya, sebelum ia menjawat kabul, demikianpun kaum keluarganya tidak boléh juga me­lihat anak-dara itu.

Bésoknya alat akan dilangsungkan, dimandikanlah anak-dara hari ini dengan air bunga-bungaan; setelah itu barulah ia diserahkan ketangan tukang paés atau tukang sanggul namanya, yaitu seorang perempuan yang digaji, yang faham dalam menghiasi dan pakai-memakaii anak-dara dan mempelai.

Anak-dara itu didudukkan di atas tikar yang berlapis dengan kain sekelat dan sutera yang telah dilengkapkan un­tuk hari yang mulia itu. Tikar itu kelak menjadi kepunyaan tukang sanggul. Berkeliling anak-dara itu terletak makan-makanan, sirih dan pinang, pisang, air sekendi, beras, ayam panggang dan lagi seékor.......... ayam hidup dan pelita kecil yang menyala.

Kemenyanpun dibakar oranglah dan tukang sanggul mulailah mencukur bulu roma dipipi dan dikodok anak-dara itu. Rambut yang dikening diguntingnya sama panjang, demikian juga rambut yang dekat telinga, alis mata diperbaiki dan dicukur ditepi-tepinya. Melihat rambut ke­ning dan rambut dekat telinga yang telah digcenting dan alis mata yang telah dicukur itu, maka tahulah kita, bahasa perempuan Jawa baharu kawin.

Pukul empat petang mulailah orang mengenakan pakaian si anak-dara tadi. Keningnya dihiasi dengan lukisan yang berwarna hitam sampai ketelinganya dan mukanya dibedaki putih-putih, serta rambutnya disanggul seperti bangun kepala capung, yang dihiasi dengan bunga-bungaan.

Pada sanggul anak-dara itu dicocokkanlah tujuh buah tusuk sanggul permata, yang beranting-anting dan selalu memancarkan cahayanya. Kain yang bertaburi emas dan kebaya yang dihiasi, dikenakanlah kepadanya. Dan banyaklah lagi perhiasan yang dipakainya, seperti: pending, dokoh, gelang, subang, buah baju lengan dan lain-lain, cukuplah semuanya. Anak gadis Jawa tidak boléh memakai bunga dirambut, hanyalah perempuan yang telah kawin saja boléh memakainya. Itulah sebabnya maka perempuan yang telah ber'umur banyak kelihatan memakai bunga dirambut.

Malam bésok akan kawin, malam itu bernama "widodaréni”. "Widodari” artinya "bidadari” dalam bahasa Melayu, yang bertempat disurga. Pada malam itu anak gadis, yang bésoknya akan dipersuamikan, dipandang seperti bidadari dan iapun dimuliakanlah pula seperti itu.

Nyonya barangkali telah melihat porterét-porterét ukiran-ukiran buatan jepun di rumah nyonya Rooseboom. Bukankah di antaranya adalah sebuah porterét sebagai singgasana yang mempunyai tiga buah pintu gerbang? Singgasana itu namanya dalam bahasa Jawa "kwadé”, yaitu suatu perkakas rumah yang dipakai ketika beralat kawin. Kwadé berukir-ukir itu, iang berwarna mérah tua dan berlukis dengan air emas, terletak dikabupatén dalam bilik besar di belakang. Sekalian méja, kursi dan bangku dipindahkan dari bilik itu ketempat lain, setelah itu dikembangkanlah disana sehelai permadani besar.

Sebelah menyebelah kwadé yang dihiasi dengan tabir dan bunga-bungaan itu terletak dua buah jambangan tembaga, yang dihiasi dengan pucuk pohon kelapa dan bunga-bu­ngaan. jambangan itu namanya "kembang mayang” dan pada tiap-tiap peralatan kawin tidak boléh ditinggalkan. Kira-kira pukul setengah delapan malam, tatkala jamu perempuan telah berkumpul dibilik "kwadé” itu, duduk berléret di atas permadani sebelah menyebelah kwadé itu, maka adikkupun masuklah ke dalam bilik itu dibimbing oléh saudara perempuan yang telah kawin dan oléh ipar perempuan kami serta diikuti oléh seorang perempuan yang membawa cerana dan tempat ludah. Adikku duduklah dipintu gerbang kwadé yang tengah-tengah, diapit oléh kaum keluarganya dan orang patut-patut. cerana tempat sirih itu diletakkan dimukanya, asal menurut adat saja, sebab adikku si gadis kecil itu tiada biasa memakan sirih. Dibelakangnya adalah seorang anak gadis tukang mengipas-ngipasnya.

Dimuka kwadé yang cemerlang cahayanya itu serta diapit oléh jamu perempuan-perempuan isteri kepala-kepala negeri, yang duduk teratur menurut pangkatnya serta berpakaian yang indah-indah, disanalah adikku duduk bersila berdiam diri seperti patung Budha. Orangpun segera menghidangkan makan-makanan, yang disertai dengan air téh. Masing-masing meréka itu mendapat semangkuk téh dan dua piring kué-kué, dan si anak-dara dengan jamu-jamu yang ternama masing-masing mendapat sebuah dulang yang penuh berisi makan-makanan. Waktu itu rupanya bilik itu adalah seperti sehelai permadani yang penuh ditaburi dengan sedap-sedapan dan disana-sini disela dengan cerana dan tempat ludah yang terbuat dari pada emas, pérak, tembaga dan kulit penyu. Sekalian jamu itu perempuan yang telah bersuami; dan kami yang belum bersuami tidak boléh duduk bersama-sama dengan meréka itu.

Nyonya barangkali telah mendengar juga, bahwa tiadalah kemalangan dan malu yang lebih besar bagi seorang perem­puan, kalau ia tiada bersuami. di tanah Eropa, yang telah berkesopanan terang cuaca, belum berapa lama yang lalupun orang masih berpikir demikian itu juga, bukan? Sebab itu tidak patutlah kita marah atas kepercayaan bangsaku, bangsa Hindia yang masih dungu dan bodoh itu.

Kalau sekiranya ibu mempelai masih hidup, turutlah ia juga duduk pada malam itu meramaikan alat menantunya.

jamu yang laki-laki duduk dengan bapak dipendopo, dan mempelai tinggallah saja berdiam diri di rumah tempatnya menumpang. Betapa besar hati adikku, ketika hari telah pukul setengah sepuluh, tidak dapat dikatakan, karena ia telah boléh berorak sila. Dengan segala adat tertib sopan, berjalanlah ia perlahan-lahan dari majelis radèn-radèn ayu itu, dan setiba diluar pintu, berlarilah ia kebiliknya akan menanggalkan sekalian pakaiannya itu. Sekarang ia telah menjadi adik kami kembali, si gadis yang suka berbesar hati itu, tidaklah lagi duduk sebagai patung Budha. Malam itu malam Maulud. Kami kenduri dan bersedekah tidaklah di rumah, hanya sekali itu dimesjid, dan waktu itu orangpun memintakan doa selamat kepada Tuhan, supaya perkawinan itu akan berbahagia. di tempat kenduri itu hanyalah laki-laki saja, kami perempuan-perempuan makan di rumah, demikian juga regén-regén yang datang menghadiri alat kami.

Pada 24 Januari, sebelum pajar terbit, telah ramailah orang dikabupatén, yang telah dihiasi dengan gaba-gaba dan bendéra-bendéra. Ditengah jalanpun riang dan ramai pula. Bendéra si tiga warna, yang berpancangan pada gaba-gaba, yang menuju rumah anak-dara itu, selalu berkibar-kibar membesarkan hati. Dipeséban yang dihiasi dengan bunga-bungaan dan daun-daunan dan dipanggung-panggung di tanah lapang, dimuka kabupatén, berbunyilah gamelan sambut-menyambut dengan gembiranya.

Diserambi belakang tersedialah beberapa keranjang bunga kenanga, bunga melati dan bunga cempaka; disanalah pula duduk perempuan-perempuan mengatur bunga-bungaan itu atau menderai-deraikan akan ditaburkan nanti di tempat anak-dara dan mempelai akan berjalan. Kabupatén waktu itu penuh dengan manusia, bunyi gamelan dan bau bunga-bungaan yang harum itu. Dibilik kami anak-dara mula-mula sekali dihiasi orang. Keningnya dilukisi dengan warna hitam dan lukisan itu dihiasi dengan emas.

Adikku duduklah seperti orang yang akan dibedah. di belakang lukisan itu ditaruh orang rénda lilin pada kedua belah pihak, yang berwarna hitam. Pada lubang-luhangnya itu dihiasi dengan intan permata. Kebiasaannya rénda lilin itu terbuat dari pada rambut anak-dara sendiri yang diberi berlilin. Tetapi adikku, kami beri rénda lancung, karena membuat rénda itu dengan rambut benar, si gadis nanti banyak menanggung kesakitan, lebih-lebih adik­ ku itu baru sembuh dari sakitnya; tentulah tidak dapat ia menanggungkan. di belakang rénda itu disisipkan tusuk kundai emas bepermata mutu manikam. Dalam hal itu ram­but disanggul seperti bulan sebelah dan dihiasi dengan bunga-bungaan. Berkeliling kepalanya tergantung bunga me­lati bersusun terumbai-umbai sampai kebahu. Pada sanggul itu disisipkan lagi tujuh buah bunga intan beranting-anting dan di belakang telinganya sebelah-menyebelah tergantung enam buah rantai bunga, terjurai-jurai sampai kedada dan kepinggangnya. Rantai bunga itu besarnya sebesar jari, diatur dari bunga putih disela dengan gelung-gelung dan diujungnya tergantung sebuah bunga kenanga kuning, yang diapit dengan bunga-bunga melati.

 
KABUPATÉN JEPARA.

Kalau berpakaian seperti wayang haruslah léhér, bahu dan lengan di atas ditampakkan. Sekalian itu digosok dengan minyak kuning yang harum baunya, melainkan muka sajalah yang dibedaki. Adikku memakai kain yang bertaburkan emas dan dipalut lagi dengan kain sutera, itupun bertabur pula dengan emas dan berikat pinggang yang terbuat dari pada sutera kuning, yang ujungnya berumbai-umbai, terbuat dari pada sutera mérah bertatahkan emas. Sehelai kain pand yang berwarna hijau daun tua, amat bagus rupanya, bertekat dengan benang emas, yang ditengah-tengahnya berwarna hijau muda dan dipalutkanlah kebadannya, sedang lengan dan bahu sama sekali kelihatan. Ikat pinggangnya sutera kuning yang bernama "mendologiri" dipalut dengan emban, tiga jari lébarja, bertatah pula dengan mutu manikam. Diikat pinggang itu dengan ujung pangkalnya terjumbai-jumbai, dililitkan lagi rantai bunga dari sebuah paha kepaha yang lain. Pada léhérnya tergantung dokoh intan berjila-jila sampai kepinggangnya.

Pada lengannya dibawah dipakainya gelang tangan, dan pada lengan di atas gelang ular-ular. Kepala dan ékor ular itu menengadah keatas, dan disana tergantunglah uang tali emas terjumbai-jumbai.

Dalam pada itu haripun telah sampai kira-kira pukul lima petang. Dibilik kwadé itu telah berkumpul sekalian isteri kepala-kepala negeri, yang berpakaikan pakaian kehormatan. Dari kwadé sampai kependopo jalannya penuh ditaburi dengan bunga-bungaan, seakan-akan permadani panjang layaknya. Disanalah nanti pengantin itu berjalan.

Adikku dibimbinglah oléh saudara-saudaranya keluar dan berdirilah dimuka kwadé itu. Lampu-lampupun telah dipasanglah dan dipendopo penuhlah berdiri regén-regén berpakaian kebesaran. Beberapa orang kenalan kami bangsa Belanda ada juga disana hendak melihat adikku untuk penghabisan. di tanah lapang dan dipekarangan kabupatén penuh manusia seperti semut banyaknya, hanyalah dijalan-jalan yang dihiasi dengan gaba-gaba dan bendéra tinggal lapang.

Dari jauh kelihatan menguning payung-payung emas angkatan. Bertambah lama bertambah dekat, kiranya itulah kedatangan kepala-kepala anak negeri Bumiputera, yang berpakaian kebesaran dan berjalan masing-masing dibawah payung keemasannya. Dan di belakang meréka itu kelihatanlah upacara mempelai. Mempelai duduk dengan regén-regén didalam keréta yang terbuka dan berpayung emas. Dari peséban dan kabupatén kedengaranlah bunyi gamelan tanda memberi selamat datang kepada meréka itu. upacara itu setiba dikabupatén berhentilah dimuka pendopo; sekalian kepala-kepala negeri duduklah berjongkok; dan mempelaipun turunlah dari kerétanya diiringkan oléh regén-regén lalu naik ketangga terus pergi ketengah-tengah pendopo dan duduklah ketiganya disana di atas parmadani, memberi hormat kepada bapak dan regén-regén yang lain-lain. Regén-regén yang mengiringkan mempelai itu berlutut mundur kebelakang serta meninggalkan mempelai yang berpakaian wayang itu ditengah-tengah pendopo; sebentar antaranya datanglah kepala-kepala negeri itu mengelilinginya dan di belakang meréka itu duduklah 'ulama-'ulama. Diujung pendopo itu, disitulah duduk regén-regén bersila di atas permadani. Bapak dan penghulu duduk dekat mempelai. Bapak lalu mengatakan kepada meréka yang hadir, apa maksudnya memanggil meréka itu beramai-ramai datang pada hari itu dan kemudian dimintakannyalah penghulu mengawinkan anaknya dengan mempelai itu, Sementara penghulu itu mendoa, kedengaranlah dipendopo itu bunyi suara manusia yang sebanyak itu berulang-ulang menderu-deru, sayup-sayup sampai seakan-akan diawang-awangan rasanya menyebutkan: amin, amin!

Sayang sekali kami tidak dapat mendekati benar majelis itu. Seorang guru perempuan, sahabat kami, Rukmini dan saya, kami bertiga sajalah perempuan dipendopo itu yang hadir. untunglah ada diizinkan orang kami berdiri disana, dengan sesuka hati kami. Tetapi akan duduk dekat laki-laki yang banyak itu, mendengarkan perkawinan itu sekali-kali kami tidak boléh. Sungguh sayang sekali: kami suka benar hendak mendengar syahadat nikah dan melihat keadaan penghulu mengawinkan orang dari bermula sampai kesudahannya. Hanya yang kami ketahui, bahwa ketika ia membaca syahadat nikah dipegangnyalah tangan mempelai dan mempelai wajib menyebut syahadat itu sekali lagi.

Selama-lamanya keadaan itu dilakukan dalam seperempat jam saja, tetapi bagi kami serasa berjam-jam lamanya. Waktu itu orang duduk tepekur dan berdiam diri, melainkan yang kedengaran ialah suara 'ulama yang sayup-sayup sampai membaca doa selamat.

Setelah itu mulailah kerapatan itu bergerak, karena 'ulama-'ulama itu menganjur dirinya beringsut-ingsut kebelakang. Itulah tanda perkawinan itu telah selesai.

Regén-regénpun berdirilah, dua orang di antaranya pergilah membimbing mempelai dan berjalanlah meréka itu bersama-sama di atas permadani bunga-bungkan itu diiringkan oléh regén-regén yang lain. Dibilik kwadé adikkupun dibimbinglah pula oléh saudara-saudaranya dan pergilah pula berjalan dijalan yang berbunga-bungaan itu, diiringkan oléh ibuku dan sekalian jamu perempuan. Ketika mempelai dan anakdara beberapa langkah lagi akan bertemu, dilepaskan oranglah meréka itu dan kedua pengantin itu teruslah lémpar-melémparkan sirih bergulung, yang berisi dengan bunga-bungaan. Böberapa langkah lagi meréka itu akan berhadapan, keduanya lalu berjongkok, demikian pula sekalian pengiring meréka itu.

Sementara mempelai duduk, datanglah anak-dara beringsut-ingsut dengan lututnya, pergi menghampiri mempelai; setelah berdekatan benar, lalu menyembah dan mencium lutut mempelai yang sebelah kanan. Setelah sekali lagi ia menyembah, maka mempelaipun berdirilah, lalu mengangkat isterinya dan berbimbing-bimbinglah meréka itu, pergi kekwadé diiringkan oléh pesemandan. Regén-regén itu baliklah kembali kependopo.

Kedua pengantin itu duduklah dimuka kwadé itu, kedua-duanya seperti patung Budha rupanya. Pada sebelah menyebelahnya duduklah keluarga dan sekalian jamu perempuan. Di belakang pengantin itu duduklah dua orang anak gadis mengipas-ngipas pengantin itu. Menurut adat yang biasa disitulah pertemuan yang pertama kali antara laki dan isteri, yang baru-baru kawin. Kira-kira pukul setengah tujuh, masuklah regén-regén itu ke dalam dan duduklah seperti bulan sebelah dimuka pengantin itu. di belakang pengantin itu duduklah pula kaum keluarga perempuan. Sesudah itu pergilah kedua pengantin itu mencium kaki keluarganya yang tua-tua. Anak-daralah yang lebih dahulu berdiri, dan pergilah berlutut kepada ibuku, lalu menyembah dan mencium lutut ibu; demikianlah jalannya ia menerima rahmat dari pada ibu atas perkawinannya. Dari ibu itu pergilah adikku kepada mamak-mamak muda. Saudara-saudara yang tua akan meminta rahmat seperti tadi. Kemudian pergilah ia lagi kepada bapak mencium lututnya meminta rahmat, sesudah itu pergilah ia kepada mentuanya yang laki-laki dan bapak-bapak muda dan saudara-saudara laki-laki sekalian. Sesudah itu duduklah ia kembali ketempatnya dan mempelaipun mulailah pergi mencium lutut sekalian meréka itu, seperti yang telah diperbuat oléh anak-dara tadi. Setelah sudah berbuat yang demikian itu, maka berdirilah regén-regén itu pergi minum téh dan makan makan-makanan yang telah dihidangkan orang, seperti tadi malam. Pukul tengah delapan barulah diizinkan pengantin berdiri dari tempatnya.

Berbimbing-bimbingan berjalanlah meréka itu keluar. Sepatutnya meréka itu berjalan berlutut, tetapi karena meréka itu keduanya baru sembuh dari pada sakitnya, di­izinkan ia berjalan berdiri.

Pada kaum regén yang lain: mempelai itu setiba dirumah mentuanya, haruslah merangkak menaiki tangga, sekali-kali tidak boleh berdiri, sebelum ia bertemu dengan isterinya. Itulah adat orang besar-besar namanya.

Mempelai pergilah kebilik anak-dara dan adikku pergilah kebilik kami mengganti pakaiannya akan menyambut kedatangan jamu bangsa Eropa.

Mengenakan sekalian pakaian anak-dara itu sehari lamanya, tetapi menanggalkan hanyalah dalam lima menit saja. Sanggul dan perhiasan dikeningnya tidaklah kami tanggalkan. Kami anak-anak gadis sebenarnya tidak boleh mengenakan pakaian anak-dara, tetapi hal itu tiadalah kami pedulikan, kami buatlah saja pekerjaan itu. Pikiran yang seperti itu, pada sangka kami pikiran gila. Masakan kami tidak boleh memakaii adik kami dengan pakaian anak-dara! Kami beri adikku berkain sutera bertekat emas dan kebaya beledu bersuji perak. Kami kenakan dilehernya dokoh intan yang lain. Bunga-bunga emas yang dirambutnya dan tusuk kundainya kami tanggalkan dan kami lekatkan dikepalanya mahkota emas dan dengan layahnya[6]. Dikepalanya kami tusukkan intan permata yang bertangkai berpilin-pilin. Demikianlah. adikku kami pakaii, bermahkota berlayah, tidak ubahnya. seperti puteri dalam ceritera seribu satu malam.

Bagus sekali rupanya ia memakai pakaian itu, demikianpun berpakaian seperti wayang. Sayanglah tidak dapat kami menyuruh membuat porteretnya.

Mempelai waktu itu memakai baju angkatannya. Sekali lagi pergilah pengantin itu duduk kemuka kwade, dan tatkala hampir pukul delapan, pergilah mereka itu berkepit tangan keserambi muka, duduk dikursi keemasan yang tersedia untuk mereka itu, yang dilingkungi dengan pohon pinang. Disana berdirilah mereka itu menerima ucapan selamat dari nyonya-nyonya dan tuan-tuan bangsa Eropa. Itulah namanya receptie, dalam bahasa Belanda; dalam pada itu dipendopo berbunyilah musik, amat merdu-merdu sekali lagunya, dan tari-menari menjadilah pula; kedua pengantinpun dengan berkepit tangan berjalan-jalanlah pula berkeliling pendopo beberapa kali.

Pun menurut adat yang biasa, anak-anak gadis tidak boleh pergi kealat kawin. Itupun tidaklah kami indahkan. Masakan kami akan tinggal di belakang saja, waktu memperalatkan perkawinan adik kami itu!

Hampir pukul dua belas, tuan residen yang datang juga menghadiri peralatan itu berpidatolah, mengucapkan selamat kepada pengantin, Pidato itu dijawab bapak. Setelah itu maka jamu bangsa Eropa memberi selamat tinggal lalu pulang kerumahnya masing-masing, tetapi tuan residén dan beberapa orang tuan-tuan yang lain dan seorang nona sahabat kami, tinggal disana menghadiri keramaian Bumiputera. Setelah jamu bangsa Belanda berjalan, maka datanglah kepala-kepala negeri Bumiputera yang tadinya duduk disisi pendopo, lalu masuk ketengah dan duduk seperti bulan sebelah mengelilingi mempelai, yang waktu itu akan memperlihatkan kepandaiannya tentang menari.

Regén-regén dan kepala-kepala negeri yang lain masingmasing sekarang berpakaian angkatan yang biasa. Gamelanpun berbunyilah dan tukang tari seorang gadis jogét mulailah menari.

Patih Jepara menyembahkan kepada mempelai sehelai kain sutera di atas sebuah dulang pérak. Setelah diterimanya seléndang sutera itu, maka Patih itupun balik ketempatnya. Gamelan teruslah dibunyikan dengan lemah lembut, tanda meminta datang juara alat, akan membuka peralatan itu. Mempelaipun berdirilah dari tempatnya lalu pergilah ketengah-tengah pendopo. Seléndang sutera itu diikatkannya pada kerisnya dan dimintanya orang membunyikan lagu yang disukainya. Permintaan itu segeralah dikabulkan.

Tidak maulah saya mencoba menceriterakan keadaan tari itu, karena tidak cakap rasanya pénaku merencanakannya. Hanyalah yang dapat saya katakan, bahwa amat senang mata memandang jogét yang lemah gemalai itu menarikan dirinya. Pergerakan badannya amat sesuai dipandang dengan bunyi lagu gamelan itu, dan dibelakangnya itu menarilah gadis jogét itu sei'ta menyanyi sekali. Kepala-kepala anak negeri yang duduk berkeliling itu bertempik dan bersoraklah beramai-ramai dan menyanyi bersama-sama.

Ketika mempelai hampir habis menari, maka tuan residénpun tiba-tiba datang membawa dua gelas berisi minuman kepada si pandai tari itu, yaitu pada waktu gung berbunyi penghabisan, akan penutup lagu itu, dan ketika kedua pandai tari itu sedang duduk berlutut. Dengan mengangkat sembah diterimanya oléh si pandai tari yang laki-laki segelas minuman itu dari tuan residén, dan kedua orang besar-besar itu meminum habislah isi gelas masing-masing, dan orangpun bersorak-sorak dan gamelan berbunyilah pula melagukan lagu yang bersukacita. Seorang bujang pergilah mengambil kedua gelas yang kosong itu, dan tuan residénpun mohonlah berangkat pulang. Setelah mempelai berdiri sekali lagi, lalu menari. Sekarang bapakku minumlah memberi selamat menantunya. Sambil menari itu datanglah keduanya dekat mendekati dan ketika gung penghabisan akan berbunyi berlututlah si pandai tari yang muda menyembah menerima minuman dari pada mentuanya, tanda ucapan terima kasih.

Setelah sekalian regén-regén yang hadir, mengucapkan selamat, barulah ia boléh berhenti menari dan pergi duduk kembali dekat istennya. Sebentar lagi pengantinpun berangkatlah. Dan jamu bangsa Eropa yang masih ada lagi pulanglah kerumahnya masing-masing; tetapi kepala-kepala negeri Bumiputera teruslah beramai-ramai sampai pagi. Tuan-tuan itu sekaliannya turutlah juga menari, apalagi tuan asisten-residen kami sangat pandai benar menari cara Jawa.

Ibuku, serta sahabatku yang perempuan dan saya bersama-sama Rukmini duduklah juga melihat keramaian itu sampai waktu jamu bangsa Eropa habis pulang semuanya.

Besoknya tinggallah kedua pengantin itu di rumah menyenangkan diri Dan pada malamnya itu haruslah meréka itu mencukupi lagi adat perkawinannya, yakni kedua pengantin itu perlu pergi menjelang rumah orang tua mempelai. Orang Jawa mengatakan adat itu "ngunduh mantu" artinya kalau dibahasa Melayukan: "memetik menantu perempuan." Menantu perempuan dimisalkan oléh orang-orang tua mempelai seperti bunga yang dipetik oléh meréka itu untuk anaknya yang laki-laki.

Yang sebenarnya kedua pengantin haruslah hendaknya berpakaian pengantin seperti pergi berarak, tetapi karena banyak mendatangkan kesusahan kepada pengantin, sebab itulah tiada dipakaikan. Mempelai berpakaian seperti biasa, adikku bersarung kain keemasan dan memakai kebaya sutera. Rambutnya disanggul seperti kepala capung. Pada tempat yang kuberi bertanda ini, diberi berbunga-bunga. ya, sama sekali di atas kepalanya penuhlah dengan bunga melati yang bagus susunannya. Pada sanggulnya itu disisipkanlah iagi bunga-bunga intan yang gilang-gemilang cahayanya.

Kedua pengantin itu duduklah' dikeréta, dimuka dan di belakang keréta itu berjalanlah sekalian kepala-kepala negeri, yang turut berarak pergi menjelang rumah tempat bapak mempelai menumpang.

Berhari-hari, berpekan-pekan sesudah pêrkawinan itu, kedua meréka itupun dikatakan orang juga anak-dara dan mempelai. Dan anak-dara dikatakan orang sampai ia beranak. Adalah juga perempuan-perempuan dan ibu-ibu, yang' selama hidupnya dikatakan orang "ngantén", yakni kepéndékan dan pada "pengantin".

Bebarapa hari sesudah beralat, pergilah meréka itu mengunjungi sahabat-sahabatnya bangsa Eropa dan handai tolannya.

Lima hari sesudah kawin, beralatlah sekali lagi dikabupatén; karena hari pekan yang pertama sesudah kawin menurut adat Jawa harus dimuliakan.

Sepekan sesudah beralat besar itu, maka kedua pengantinpun berangkatlah meninggalkan rumah orang tuanya. Dimana-mana meréka berhenti, selalu disambut dengan segala kehormatan dan sukacita oléh sanak saudara.

Di Tegal peralatan itu diulang sekali lagi; "disana meréka itu tinggal sepekan, kemudian barulah pergi ketempatnya sendiri di Pemalang.

Demikianlah ceritera peralatan kawin orang Jawa yang besar-besar. Adikku kawin dikatakan dengan peralatan kecil, sebab kami tiadalah memakai sekalian adat upacara. Walaupun demikian bukan buatan susah kami mengerjakannya; dan betapakah susahnya lagi kalau beralat dengan adat yang selengkapnya?

Kami sesudah beralat hampir tiada berdaya lagi. Pemberian yang dibawa orang ketika beralat kawin, yakni: kain sarung, kain pinggang, kain kepala, dan sutera untuk kebaya, laken bakal baju jas dan ada juga makan-makanan seperti: beras, telur, ayam dan kerbau; sekalian itu terutama dipergunakan selama dalam beralat.

Kardinahpun ada mendapat seékor sapi jantan yang bagus dari bapak muda. Dan pemberian itu patutnya diperlihatkan pula bersama-sama dengan barang-barang anugerah yang lain!!!

O ya, ada lagi yang hendak saya ceriterakan, kalau orang menyembelih kerbau ketika beralat kawin itu — biasanya menyembelih lebih dari pada seékor — maka pada beberapa jorong digali orang lubang dan dimasukkan ke dalam lubang itu sebuah ketiding yang berisi sirih, kué², pinang, daging sesayat, darah kerbau yang disembelih itu sedikit dan bunga-bungaan, atau diletakkan ketiding yang berisi itu disimpang-simpang jalan, jambatan dan disumur; sekalian itu gunanya untuk sedekah kepada jin dan sétan yang tinggal disana. Kalau tiada dibuat demikian, maka jin dan sétan yang tinggal dijorong, disimpang, dijambatan dan disumur itu marah nanti kepada meréka yang beralat itu, dan merékapun tentulah akan dicelakakannya. Demikianlah kepercayaan Bumiputera! Dari mana asal kepercayaan itu tidak tahulah saya.

Bagaimana pikiranmu tentang hal itu sekaliannya, Hilda? Seorang sahabat kami mengatakan bahwa bangsa Jawa itu, yaitu satu bangsa yang penuh dengan ceritera dan kabar yang ajaib-ajaib. Siapakah yang akan membawa bangsa kami yang penuh dengan ceritera wayang dan ceritera yang ajaib-ajaib itu kepadang kemudian, hidup yang sebenarnya? Kesanalah kami harus pergi. Kalau kepercayaan yang sia-sia itu telah hilang lenyap, niscaya tidak gunalah kami menginjak-injak kehéranan dan kebagusan dalam ceritera-ceritera itu.

Apa pulakah yang kukatakan itu? Dari pada membicarakan itu lebih baik saya bertanya kepadamu, besarkah hatimu membaca karangan yang panjang ini, dan sukakah engkau memaafkan kesalahanku, karena telah menyuruh engkau menunggu sekian lama? Sesungguhnya banyaklah hal yang bagus dan ajaib-ajaib dihati dan alam bangsa kami, terutama banyak kehéranan dalam kepercayaan hatinya yang masih seperti anak-anak itu.

Tentu engkau tercengang mendengarkan sekalian hal itu, tetapi benarlah kataku itu, bahwa engkau bangsa Eropa telah mengajar saya mengasihi dan mencintai bangsa dan tanah airku sendiri. Pendidikan kami yang seperti adat Belanda, tiada akan menjauhkan kami dari pada bangsa kami, melainkan ialah yang membawa kami bertambah dekat kepadanya. Pendidikan itulah yang membuka mata dan hati kami akan mengetahui kebagusan yang tersimpan pada tanah dan bangsa kami, dan ialah pula yang membukakan mata kami akan mengetahui kesusahan dan kesengsaraan meréka itu. Bukan buatan cinta kami kepada tanah dan bangsa kami! O! dapatlah kiranya kami hendaknya menolong nasib meréka yang malang itu. Kalau dapat berapalah sukacita kami!

Tetapi tidak gunalah saya lebih lama lagi menggaduh engkau, dengan cakar ayam seorang anak gadis Jawa yang "gila" ini. cukuplah sehingga ini dahulu.

Hubungan surat:

Pada beberapa tempat, adatnya ketika kedua pengantin itu baru bertemu, maka sebelum anak-dara mencium lutut suaminya, haruslah lebih dahulu membasuh kaki mempelai akan tanda si perempuan memperhambakan dirinya.

Jikalau seorang janda laki-laki kawin dengan anak gadis, atau janda perempuan kawin dengan seorang anak bujang, maka sesudah melémparkan sirih, maka janda itupun menunjukkan sekerat kayu yang masih berapi kepada si gadis atau si bujang yang belum kawin; dan dalam hal itu si janda menerima pula sebuah kendi yang berisi air akan pemadamkan api itu. Setelah api itu padam dan air dalam kendi kosong, maka kayu itupun dibuangkan dan kendi itu dipecahkanlah. Apa maksud atau arti perbuatan itu, tidak guna saya terangkan, karena mudahlah dima'lumi.

Engkau hendaknya patut sekali melihat adikku tatkala ia duduk bersama seperti patung Budha dimuka kwade itu, betul-betul bagus. Baik benarlah sedianya disuruh porterét atau yang lebih baik lagi disuruh gambar dengan tangan, sehingga sekalian warna yang dipakainya itu dapat dilihat dengan seterang-terangn ya.

Betapa halus tertib dan sopannya waktu berjalan di atas permadani dengan bunga-bungaan sebanyak itu serta harumnya ditambah lagi dengan bau dupa, tidak dapat saya perikan. Tetapi rupanya hampir seperti Budhisatwa.

Kalau saya sekarang mendengar bunyi gamelan dan mencium bau bunga-bungaan yang bercampur dengan bau dupa, maka terkenanglah oléhku keadaan adikku yang telah lalu.

Banyaklah meréka itu yang memungut bunga-bungaan yang tertabur di atas permadani tempat adikku berjalan itu, karena menurut kepercayaannya, bunga itu membawa untung baik kalau disimpan; dan kalau anak-anak gadis yang menyimpannya, akan berutung mendapat suami!!!

Padaku sekarang adalah sebuah kitab agama Budha, yang bernama "De ziel van een volk" (nyawa suatu bangsa); isinya amat bagus!

27 Maart 1902 (VIII)Sunting

Celaan dan penghinaan orang banyak tiadalah kami indahkan; tetapi kesayangan meréka itu yang berbudi, yang seribu kali lebih tinggi darajatnya dari pada meréka itu, amat besar harganya kepada kami, karena ialah yang membesarkan hati bekerja, memberi kekuatan, pertolongan dan penghiburan hati. Bagaimana juga kesudahannya, janganlah tuan jemu berbuat baik; itulah kalimat yang saya baca tadi, dan menurut pikiran kami sekalian cita-cita kami mémanglah baik.

Sekalian orang tahu, bahwa biasanya anak gadis bangsa Jawa dikawinkan oléh orang yang mengasuhnya dengan tiada setahu si anak. Betul di tanah Sunda anak-anak perempuan kenal akan jodohnya, pernah melihat dan bertemu dengan dia, tetapi cobalah tanyakan, di tempat manakah yang lain di tanah Jawa diperbuat orang demikian?

Wahai, cobalah lihat di rumah orang yang "baik-baik dan berada!" misalnya dikabupatén. Tiadalah saya tanyakan, bagaimana pikiran perempuan-perempuan dan perasaannya tentang hal itu, tetapi saya tahu betapa anak-anak gadis yang mendapat pendidikan cara Eropa memikirkan hal itu. Sekiranya hal itu tidak dapat dipikirkan oléh meréka itu, tetapi tentulah sekurang-kurangnya ia merasa, betapa ia dihinakan orang.

"Meréka itu hidup bersenang-senang!"

Kesenangan melipurkan kedukaan dan perasaan perempuan. Meréka itu tidak boléh mengadukan halnya, karena ia telah membuat hal itu menurut kehendak hatinya sendiri! Tetapi bagaimana anak-anaknya? Apakah yang lebih lagi menghancurkan hati lain dari pada kalau melihat kehidupan anak-anak yang celaka dalam kesengsaraan, karena anak-anak yang semuda itu telah merasai selekas itu akan kesusahan dan kekejian hidup? Apalagi anak-anak gadislah yang teraniaya benar, karena setiap hari meréka dipaksa membunuh perasaan hatinya. Tiadakah namanya itu meruntuhkan kemauan alam, jika seorang laki-laki tiada berbudi, memaksa isteri-isterinya wajib berjinak-jinakan seorang dengan yang lain?

Patut benarlah sekarang anak perempuan bangsa Bumiputera sendiri berani mengeluarkan suaranya!

Dan maukah juga nanti orang mengatakan dengan hati yang tetap: "Meréka itu hidup bersenang-senang, kalau sekira dilihatnya pula apa-apa yang telah kami lihat, dan diketahuinya pula apa-apa yang telah kami ketahui?"

Saya telah menyalin buah pikiran tuan Prof. Max Müller, seorang jérman yang pandai dalam bahasa-bahasa tanah Timur, babad, tambo d.l.l. Beginilah bunyinya: "Beristeri banyak seperti adat bangsa-bangsa disebelah timur, itulah suatu "kebaikan" bagi perermpuan-perempuan dan gadis-gadis, yang tidak dapat hidup di tanah airnya kalau tiada bersuami, atau kalau tidak ada seorangpun yang akan menjaganya."

Max Müller telah meninggal, tidak dapat lagi kami memanggilnya kemari akan menyuruh memperlihatkan kepada kami, dimana benar "kebaikan" beristeri banyak itu terdapatnya. Acap kali orang mengajar kami serta mengatakan, bahasa kalau perempuan tidak kawin, itulah yang sebesar-besar malu, lagi berdosa besar. ya, kerap kali benar orang mengatakan sedemikian kepada kami.

O, dihinakan dan dicela orang benar perempuan yang tiada bersuami itu. Kami ingin benar hendak pergi ketanah Belanda, karena tanah Belanda itulah yang akan membébaskan kami.

Tanah Eropahlah yang akan memberi kami berdinding besi, yang akan menangkis dan mengalangi segala asutan dan penghinaan orang banyak di Hindia ini!

Akan menjadi bébas harus kawin dahulu, sesudah itu bercerai lagi! Tetapi bercerai tidak mudah pula. Kalau suami tidak suka, kelangitpun perempuan berteriak tidak akan dapat kebébasan itu; tetapi kalau si laki hendak bercerai, tidak usah ia menanya kemauan isterinya, setiap waktu boléh perempuan itu diusirnya. O, Allah! dimanakah letaknya rahmat dan keadilan untuk dunia perempuan dalam hal itu? Boléh juga perempuan membébaskan dirinya yaitu dengan uang, ia wajib membayar uang sekian banyaknya. Itulah pula suatu keadaan yang buruk benar, yang dilakukan oléh laki-laki kepada ikan dalam belanganya! Tetapi bagaimanakah kami akan dapat meminta keadilan, kalau di tanah Barat, tanah yang telah tinggi kesopanannya, masih juga menyamakan perempuan dengan anak-anak atau orang-orang gila? tidak guna saya memperkatakan hal itu lagi, nantilah pula saya hubung.

8 April 1902 (VIII)Sunting

Tambo tanah Belanda yang dahulunya, ketika saya masih bersekolah, tidak pernah menarik hatiku untuk mempelajarinya karena menjemukan hati, sekarang barulah membesarkan hatiku. Girang hati membacanya, apalagi banyak kabar yang indah-indah didalamnya. Kitab yang kubaca sekarang jauh berlainan dengan kitab yang kubaca disekolah.

Belajar ketika telah ber'umur ada pula kebaikannya; sekaranglah baru kami mengerti dan dapat memahamkan perkara-perkara yang diajarkan dengan mudah. Banyak perkara yang dahulu seperti benda yang "mati" saja, tidak dapat menarik hati kami, sekarang telah bersemangat dan bernyawa, suka benar kami hendak mengêtahui sekarang keadaan benda-benda itu. Dahulu tidak mau kami mengindahkannya, karena kami tidak dapat mema'luminya. Alangkah beruntung kami, kalau sekiranya ada kami menaruh sekarang guru yang pandai menguraikan perkara-perkara yang hendak kami ketahui! Guru-guru yang berdiam diri dirumahlah yang wajib memberi kami jawaban akan sekalian pertanyaan kami. Hari ini saya mengajarkan 'ilmu "bahasa". Anak-anak kecil itu tercengang-cengang saja melihat apa-apa yang saya perbuat, sebab meréka tiada mengerti, tetapi mestilah diajarkan juga. Apabilakah akan tiba masanya kami dapat memeluk kepandaian dimuka bumi ini, seperti seorang laki-laki yang mengasihi isterinya?

......................................................................................

Kita harus mencahari dalam ingatan kita sekalian pikiran yang baik-baik; kalau tiada kedapatan biarlah yang ada dalamnya meski yang tidak baikpun digosok bersih², supaya boléh bercahaya; itulah suatu akal, supaya hidup boléh mendapat kesukaan, bukan? Telah banyak kupikirkan tentang hal yang dikatakan orang "hidup senang". Dalam beberapa hal yang kulihat dalam beberapa hari yang baru lalu ini acap kali terkenang oléhku akan kalimat itu, dan pahitlah senyumku memikirkannya. O, nyonya yang kucintai! Rupanya tidaklah akan sekali ini saja orang merahsiakan dan menidakkan sesuatu hal yang kejadian! Dunia ini masih penuh berisi manusia yang mengatakan dirinya mempunyai kesopanan tinggi. Karena itulah maka meréka itu tidak mau melihat keadaan dan kebenaran yang sesungguhnya, sebab sekalian itu diumpamakannya seperti seorang perempuan yang bertelanjang bulat, dan dipalingkannyalah mukanya, sambil mencela dan menghinakan perempuan itu.

..........................................................................................................................................

Petang ini runtuhlah rasanya hati kami melihat suatu contoh kesengsaraan hidup. Adalah kami bertemu dengan seorang anak yang ber'umur 6 tahun sedang menjual rumput. Anak itu kira-kira sebesar anak bapak muda. Waktu memikul rumput itu tiadalah tampak badannya, hilang di antara kedua rajut rumput yang dipikulnya itu, hanyalah seperti dua buah rajut rumput yang tampak oléh kami berjalan. Bapak menyuruh memanggil anak itu, dan disanalah kami dengar kabar penanggungannya, perasaan yang ditanggung oléh beratus-ratus, ya, beribu-ribu kawannya yang lain didésa-désa. Anak itu tiada berbapak lagi, ibunya pergi bekerja dan di rumah tinggallah dua orang adiknya laki-laki. Ialah anak yang tua. Kami tanyakan kepadanya: sudahkah ia makan? "Belum," jawabnya. Meréka itu makan nasi sekali sehari, yaitu malam hari, kalau ibunya telah pulang; tengah hari dimakannya kué sagu sebuah yang berharga setengah sén.

Saya pandanglah anak yang sengsara itu, kemudian saya pandang lagi anak muda yang sama besar dengan dia itu, dan teringatlah oléhku, bahwa makan kami 3 kali sehari; itulah yang menghancurkan hati kami.

Kami beri ia makan, tetapi ia tidak mau memakan makanan itu disana, makanan itu dibawanya pulang.

Sayapun memandang anak kecil itu sampai hilang dari mataku; perkakasnya hanyalah sebuah pemikul dan sebuah sabit. Banyaklah pikiran yang timbul dikepalaku dan perasaan dihatiku ketika memandang anak itu dari jauh.

Malulah saya memikirkan kelobaan diriku sendiri. Saya hanya memikirkan dan mengenangkan halku sendiri; tetapi lihatlah diluar rumahku, amat banyak orang yang lebih celaka dan sengsara! Sebentar itu juga seperti kedengaranlah oléhku orang dikelilingku mengeluh dan memekik meminta tolong sampai keudara karena kesengsaraan. Lebih kuat lagi dari pada keluh dan pekik yang terdengar ditelingaku, suara yang mengatakan: "Bekerja, bekerja! bekerja! Berperanglah engkau merebut kebébasanmu itu! Kalau engkau telah bébas oléh karena bekerja itu, barulah dapat engkau menolong orarig lain! Bekerja! Terang sekali kedengaran oléhku suara itu sedemikian terangnya, sehingga seperti tampak oléhku tertulis dipemandanganku, menyuruh saya menuliskannya kepada tuan, karena tuanlah yang mau menurut bersama-sama menanggung perasaan kami. Tuan kedua saya taruh dihatiku, dan kaum keluargaku sekalipun tiadalah kukasihi demikian. Dalam pikiranku bersama-sama dengan tuanlah hati dan nyawaku, tuan kedua telah menjadi hati jantungku sejak kita berkenalan! Alangkah ajaibnya hidup didunia ini, belum berapa lamanya yang lalu, saya tidak tahu, bahasa tuan kedua adalah hidup didunia ini dan tuanpun tidak tahu pula kepadaku, tetapi sekarang tuan tidak dapat diperceraikan lagi dengan saya!

27 April 1902 (VII)Sunting

Dari sejak kecil saya suka belajar dan selalu niat dan maksud saya yang terutama sekali hendak mengetahui sekalian hal, supaya saya boléh memberi paédah dalam hidup bersama-sama. Berapa sukanya hatiku hendak turut belajar bersama-sama dengan anak laki-laki bangsa kami disekolah menengah (H.B.S.), tetapi sayang tiada dikabulkan! Telah beruntunglah kami, karena kami telah dapat mengunjungi sekolah Belanda itu, sebab bukanlah adatnya anak-anak gadis pergi kesekolah; dalam hal itu kami meminta terima kasih kepada bapak kami, karena keberaniannya telah merusakkan adat, menyuruh kami bersekolah. Pengetahuan dalam bahasa Belanda mernberi kami kesukaan yang tiada tepermanai banyaknya. Ialah yang membukakan kazanah ni'mat bagi kami, yang dahulunya tidak tahu kami akan keadaannya.

Apa-apa yang bagus pada bangsa asing, suka kami memberikannya kepada bangsa sendiri, tetapi tidak adalah maksud bagi kami hendak membuang apa-apa yang bagus pada bangsa kami dan menggantinya dengan benda-benda bangsa asing; melainkan itu berguna kepada kami akan menambah kebagusan kepunyaan kami. yakni akan mengangkat darajat bangsa dan membawanya kepada kelakuan dan kesopanan yang lebih tinggi, sehingga keadaan kemanusiaannya menjadi baik dan beruntung; itulah cita-cita kami. Sekalian peperangan hidup kami berguna untuk mencapai cita-cita itu. Tetapi bagaimanakah kami akan mencapainya? dan apakah mulamula akan dikerjakan? Kita harus mulai bekerja pada permulaannya. Dan permulaan itu bernama: pendidikan!

O! acap kali timbul dihati kecil kami, tiap-tiap kali apabila kami mengenangkan kesusahan dan ratap-tangis meréka itu, karena kesengsaraan badan dan hati, suatu pengharapan yang amat sedih: "Berilah orang Jawa pendidikan yang baik." Sama sekali, sekalian anak negeri sekarang akan diberi pendidikan yang baik, tentulah tidak dapat, hanya boléh jadi kalau dimulai dahulu dengan orang yang patut-patut dan kemudian berangsur-angsur dilébarkan sampai kepada bangsa yang dibawahnya!

17 Mei 1902 (I)Sunting

Tidak dapat kukatakan kepadamu betapa besar hatiku, karena barulah sekarang saya boléh lagi terus belajar. Sekarang saya mengulang pengetahuan yang telah kuketahui dahulu. Telah lebih dari 10 tahun saya keluar dari sekolah; dan héranlah saya karena tiada sekaliannya telah saya lupakan. Adalah pula keélokan dan keuntunganku lambat belajar itu, yaitu saya sekarang lebih mudah mengerti dan memahamkan pengajaran dari pada témpoh masih kecil. Sayang sekali 'umurku sekarang telah 23 tahun, tidak lagi tiga belas tahun seperti dahulu. Waktu itu tentulah saya dapat banyak menambah pengajaranku, tetapi saya sekarang terikat oléh 'umurku. Mula-mula saya hendak mengambil diploma guru Belanda dan kemudian saya toèrut dalam ujian mengambil diploma satóe atau dua bahasa anak negeri.

Sebentar ini saya harus berhenti bekerja, karena tangkai pénaku patah, belum pernah kejadian hal sebagai itu padaku! Kasihan, pada pénaku itu! Saya sayang kepadanya, karena telah lama kami bekerja bersama-sama dengan hati yang girang.

Saya ini seperti orang gila, karena siapakah yang mengeluh demikian, sebab tangkai pénanya yang patah?

Pada bulan April yang baru lalu, kami pergi berjalan jauh, karena kami hendak pergi melihat adik kami. Ketika kami berangkat dari rumah, tiadalah kami berhajat pergi kepadanya, melainkan kami hendak pergi melihat saudara perempuan kami yang tua, yang déwasa itu sedang sakit. Disana kami terima surat dari pada adik kami, yang bersungguhsungguh meminta, supaya perjalanan kami itu mestilah diteruskan sampai ke Pemalang. Bésok harinya kami berkerétaapilah pergi kesitu. tidak dapatlah saya menceriterakan pertemuan kami itu! Betul-betul sangat menggirangkan hati kami! Mula-mula tiadalah lain, yang kami perbuat hanyalah seorang melihat yang lain, lalu tertawa tersenyum-senyum dengan berpegang-pegangan. Meminta syukurlah saya melihat adikku itu dalam séhat wa'lafiat. Lebih-lebih dari dahulu rupa badannya sekarang, adalah semisal bunga yang baharu kembang. Pipinya mérah sebagai pauh dilayang. Bertambah-tambah banyak saya meminta syukur melihatkan betapa suaminya menghormati dan menghargainya.

Betul girang sungguh hatiku memperhubungkan tali salatu'rrahim dengan saudaraku yang baharu itu. Ia seorang yang baik hati dan banyak sipat yang baik-baik terdapat padanya. Ia selalu berkata benar, adil dan setia serta berhati yang pengasih dan penyayang. Adikku itu tidak saja isterinya, tetapi juga menjadi kawannya, sahabatnya yang perempuan dan ibu dari pada anak-anaknya, yang tiga orang itu, yang mengasihi adikku sebagai ibu kandungnya sendiri.

Anak-anak itu selalu menurutkannya kemana-mana, seperti kucing mau. Anaknya yang sulung ber'umur tujuh tahun, tinggal di rumah nénéknya. Adikku itu suka benar hendak membawa si anak itu kerumahnya, dan anak itupun amat sayang kepadanya dan mau pula datang kesitu, tetapi nénéknya tidak mau melepaskannya. Anaknya yang dua orang lagi anak perempuan baru ber'umur 4 dan 6 tahun; sekarang adikku mengajar meréka itu di rumah, dan anak-anak itulah nanti bakal jadi murid-muridku, Stella! Suaminya menyerahkan pendidikan anaknya sama sekali kepada adikku, tentulah adikku akan mengasuh anak-anaknya itu seperti cita-cita kami. Adikku tatkala masih gadis tidak dapat menyampaikan kenang-kenangan kami, tetapi kerja yang ditanggungnya' sekarang kurang baguskah itu? Ia selalu boléh menaburkan kebajikan kesana sini.

Jalan yang kami turut sungguhlah berlain-lainan, tetapi kami kedua dalam itu sama-sama bermaksud akan menghasilkan cita-cita kami itu. Kalau jalan yang diturut itu berlainan sekalipun tiadalah ia akan menjadi alangan, bukan? asal saja jalan itu baik dan kitapun sampai ketempat yang ditujui itu.

.................................................................................

Saya berniat sungguh-sungguh hendak pergi kenegeri Belanda, adalah beberapa sebabnya. Pertama karena disana lebih baik dari pada disini melengkapkan sekalian keperluan untuk kerjaku nanti, yang akan kutanggung; kedua saya hendak bernapas dalam udara di tanah Eropa akan membuangkan kecelaan yang masih ada pada diriku; sungguhpun tidak banyak, tetapi ia mengganggu usahaku. Negeri Belanda wajib dan akan menjadikan saya seorang perempuan yang bébas sebenar-benarnya. udaramu, kedinginan tanah airmu wajib menarik dan membuangkan sekalian kecelaan yang ada pada diriku; sesudah itu barulah saya bébas!

Dengarlah umpamanya ini: Saya tiadalah akan berhati gentar dan malu-malu akan menempuh sebuah bilik besar, yang penuh dengan tuan-tuan bangsa Eropa; tetapi amat bingung saya rasanya akan menerima seorang laki-laki bangsaku yang tidak kukenal, dan yang belum beristeri menjadi jamuku. Engkau tentu mengatakan kelakuanku yang sedemikian bodoh, tidak patut dan gila, tetapi sekalian itu benar; saya tidak berani umpamanya, lalu dimuka orang laki-laki asing, kalau tidak ada pengiringku. Sekiranya ada pengiringku tiadalah senang hatiku menempuhnya, karena malu!

Sekarang ma'lumlah engkau, sungguhpun besar kehendakku akan bébas, tidak dapatlah juga saya menjauhkan diriku dari pada kekerasan pendidikan bangsaku, yang memperceraikan sungguh-sungguh dunia anak-anak perempuan dengan dunia anak-anak laki-laki. Selalu dipertaruhkan orang kepadamu, bahasa tidak patut anak gadis menampakkan dirinya kepada mata laki-laki asing dan harus senantiasa menjauhi tempat laki-laki; dan dengan hal yang demikian tidak héranlah lagi, yang anak gadis itu sangat sekali takut akan bertemu dengan machluk itu. Hal yang seperti itu mestilah berubah; dan kecelaan itu wajiblah hilang. Kalau tiada hilang bagaimanakah kami boléh bekerja bersama-sama dengan laki-laki nanti? Itulah cita-cita kami yang amat besar!

Udara di tanah Eropa sajalah yang dapat membersihkan kekerasan pendidikan bangsaku yang ada pada diriku ini; tanah airmu, Stella, yang akan membuangkan celaan yang merintangi kemajuan itu.

Tertawakanlah saya sesuka hatimu atas perkataanku yang tidak sempuma itu. Tetapi pastilah tanahmu yang akan membébaskan diriku, betul-betul bébas!

Pada 19 April baliklah kami dari perjalanan itu. Bapakku menjemput kami dari setasiun, yang tiada berapa jauhnya dari rumah, dan diceriterakannyalah kepada kami dengan riang, bahwa ia dapat surat kawat yang panjang isinya, dari pada tuan residén, mengatakan kabar baik, yakni tuan van Kol akan datang bésok ke Jepara. Itulah suatu surat selamat datang yang amat menggirangkan hatiku, apalagi di rumah telah menanti pula suratmu. Sekalian pegawai yang berkedudukan disepanjang jalan yang akan dilalui oléh tuan van Kol dapat perintah dari pada tuan residén akan menunggu kedatangan tuan itu. Dalam perjalanannya dari Semarang ke Jepara sekaliannya diperhatikannya dengan sungguh-sungguh.

Alangkah rajin dan tajam otaknya! tidak ada yang tiada diselidikinya. Melihat, mendengar, memasukkan kepikiran, memahamkan, sekalian itu telah 'menjadi satu padanya. Hari Ahad kira-kira pukul 3 petang sampailah tuan van Kol ke Jepara dengan seorang juru kabar, yang menjadi penunjuk jalan serta juru bahasanya, bersama-sama dengan bapak yang pergi menyongsong meréka itu kebatas. Ditengah jalan meréka itu mendapat kecelakaan, yaitu sumbu roda keréta meréka itu patah, dan perjalanan itu diteruskanlah dengan sado yang amat lambat larinya. Beruntung benar tuan itu! karena dimana-mana saja, kalau perlu, dapatlah ia melepaskan lelahnya; di atas sado yang terbanting-banting itu dapatlah ia tidur nyenyak seperti di tempat petiduran yang berkasur.

Tuan itu tidak mau menumpang di tempat-tempat lain, lain dari pada di rumah makan, sebab itulah selalu ditolaknya permintaan orang yang hendak menjamunya menumpang di rumah meréka itu. Ketika ia baru datang, ia bermaksud ójuga hendak menumpang di rumah makan; tetapi setelah ia berkenalan dengan kami, maka diterimanyalah permintaan kami, supaya sekali itu ia menumpang di rumah kami. Kemudian kami dengarlah, bahasa karena kamilah maka tuan van Kol memutuskan maksudnya itu. Dilihatnya disini banyaklah hal-hal yang hendak dijadikannya pengetahuan dan pemeriksaan. Ia hendak menyelidiki, bagaimanakah kebaikan pendidikan bangsa Eropa untuk anak-anak perempuan bangsawan dan itulah sebabnya maka ia tidak mau melepaskan saat yang baik itu.

Untung benarlah kemudian baru kami tahu akan maksudnya itu; jika sekiranya waktu itu kami tahu, bahwa kami akan jadi benda yang akan diselidikinya, tentulah kami akan bergusar hati dan tiadalah akan berlaku seperti yang biasa saja.

Ketika makan tengah hari selalu kami memperbincangkan anak isterinya. Besar hati kami mendengarkan bagaimana ia menghormati isterinya. Karena berkirim-kiriman suratlah ia kenal akan isterinya. Itulah yang memperhubungkan meréka itu, Stella. la berkirim-kiriman surat dengan isterinya itu dahulu, ialah tentang karangan nyonya itu. Dengan tiada disangka-sangkanya diketahuinyalah sekarang, bahwa ia adalah menaruh rahmat Tuhan yang amat baik itu, yakni pandai mengarang. Ia dahulu jadi pendidik, dan pada suatu hari ia pergi dengan kawan-kawannya tamasya kepada sebuah gedung dikaki gunung Penanggungan. (Menurut nama gedung itulah nanti rumahnya di Prinsenhage dinamainya pula sedemikian: "Lali jiwa"). Seorang di antara meréka itu harus mengarangkan perjalanan itu. Ketika diundi, nyonya itulah yang kena. Iapun mengirimkan karangannya tentang perjalanan itu, dan sesudah itu juru kabar kerap kali meminta karangannya lagi.

Tuan van Kol mengunjungi sekalian negeri tempat ia diam dahulu dan tempatnya bekerja. Anak-anak yang dahulu bermain-main dengan anak perempuannya, sekarang dilihatnya telah menjadi ibu. Ia masih tahu akan nama meréka itu. Di Jawa Tengah ia hendak tinggal 4 hari lamanya, dan dalam hari yang empat itu ia hendak tinggal sehari bersama-sama dengan kami. Stella, kesukaan hati kami seperti pada, hari'itu dan malamnya bersama-sama dengan tuan van Kol, telah lama tidak kami rasai. O, alangkah baiknya kalau adikku ada di rumah ketika itu, betapakah ia akan bergirang hati dan jikalau engkau ada disini, Stella, tentulah engkau akan turut berbesar hati bersuka raya; tetapi engkau pada masa itu ada bersama-sama, karena engkau ada selalu dalam kenang-kenanganku, ketika saya duduk dekat tuan van Kol. Hatiku berdebar-debar mengatakan: Stella, Stella. Sekalian itu perbuatan engkau, hai kekasihku, karena engkaulah yang sebenarnya tuan van Kol duduk bersama-sama dengan kami, bercakap, bercengkerma, mengeluarkan pikiran yang menggirangkan hati benar-benar, ialah akan menjadi penebas jalan untuk kami! Saya selalu banyak meminta terima kasih kepadamu, tidak terbalas jasamu oléhku, Stella. Kami semuanya duduk dimuka dipendopo yaitu jamu kami, orang tua kami, Annie Glaser, Rukmini dan saya sendiri. Kami perlihatkan kepadanya sekalian barang-barang hasil kepandaian bangsa kami. Tuan van Kolpun tercengang tersenyum-senyum melihatnya, sambil dituliskannyalah nama barang-barang itu dalam sebuah kitab peringatannya. Beberapa orang dalam majelis itu, berdirilah meninggalkan tempatnya, maka sayapun beralihlah dulu kepada sebuah kursi yang kosong, dekat tuan van Kol itu.

Iapun mulailah bertanya: "Betul Radèn Ajeng hendak pergi kenegeri Belanda? Melchers, yang mengatakan kepadaku." Sayapun membenarkan katanya itu, dan ia lalu terus berkata: "Tetapi susah bagi tuan balik kemari nanti. Dan akan balik kemari itulah suatu kesusahan yang amat besar."

"Apakah maksud tuan berkata demikian?"

Iapun lalu meminta hendak berkata terus terang dan me­ngeluarkan pertimbangannya. jawabku: "Itulah yang saya kehendaki kepada tuan." Iapun berkata pula: "Bagi Radèn Ajeng nanti susah, kalau kawin. Kalau Radèn Ajeng telah pergi kenegeri Belanda, tentulah tuan tidak akan bersenang hati lagi, kalau tuan menjadi isteri seorang kepala negeri."

Diberinya bermacam-macam umpama, bahwa banyak sahabatnya nona-nona Hindia yang terpelajar, yang telah kawin dengan Belanda totok. Meréka itu betul amat cinta-mencintai, tetapi nona Hindia itu tidak dapat hidup cara Belanda dan suaminya tidak dapat hidup cara Hindia; itulah sebabnya banyak perselisihan di antara meréka itu."

Mula-mula saya berdiam diri saja membiarkan dia mengeluarkan buah pikirannya. Sesudah itu barulah saya menerangkan pertimbanganku: "Tuan van Kol, maksudku pergi kenegeri Belanda hendak belajar mencari kepandaian untuk menjadi guru, dan kalau balik nanti ke Hindia, saya hendak membuka sekolah untuk anak-anak kepala-kepala negeri yang perempuan. Saya hendak memberi pendidikan kepada meréka itu."

Ia tercengang melihatlcu, matanya yang hijau itu bersinarsinarlah bergirang hati serta memandang saya, seakan-akan ia berkata dalam hatinya: "Itu bagus, hagus kehendakmu itu, berbahagia maksudmu itu," dan katanya kepadaku: "Tiadakah besar hati Radèn Ajeng menaruh sesuatu maksud hidup?"

Ia bertanya itu dengan beriang hati. keriangan itu kelihatan pada matanya yang bercahaya-cahaya itu Hatikupun besar mendengarkannya; dengan tiada setahuku, keluarlah sepatah kata dari mulutku mengatakan: "Stella". Stella, jikalau sekiranya saya dapat menjelmakan engkau kemari, dekatku barang sebentar, biarpun sekejap mata, maka bumi ini rasanya kecillah bagiku, karana pada saat itu saya mengerti sungguh-sunggosh akan maksudku sendiri; dan hal inilah. menjadi suatu untung dan bahagia serta rahmat bagiku, apalagi cita-citaku itu dihargai oléh orang besar seperti tuan van Kol itu; perasaan hati yang demikian mestilah pula dirasai hendaknya oléh ibu-ibu, kalau dilihatnya pikiran anaknya dima'lumi dan dihargai orang.

Tuan itu sangat memudahkan kerjaku; saya tidak guna banyak berkata, ia mengerti lekas akan maksudku dengan sebsnar-benarnya.

Ia bertanya kepadaku; sudahkah saya memperbincangkan hal itu dengan nyonya Rcoseboom? Tidak, saya tidak sempat mengabarkan hal itu, karena dua kali kami telah bertemu dengan nyonya itu, selalu pertemuan itu dalam majelis besar, sekali dalam keramaian menari dan sekali lagi dalam perjamoaan yang besar. Rupan ya meréka itu diistana di Bogor, menceriterakan hal kami, karena tuan van Kol setiba di rumah kami, tiba-tiba berceritera kepada kami, bahwa tuan besar Gubernur jenderal kenal akan kami ketiganya.

Sayang saya tidak dapat pergi ke Bogor akan bercakap-cakap dengan nyonya Rooseboom. Dalam perbincangan lebih mudah kita mengatakan apa-apa, yang kita pikirkan dan yang kita maksud. Baru-baru ini saya dijamu oléh seorang nyonya, ia meminta saya datang ke Bogor menumpang dirumahnya. nyonya itu kerap kali datang kepada nyonya Rooseboom. Annie Glaser kalau ia telah témpoh pada bulan yang akan datang, akan pergi ke Betawi dan ke Bogor; ia akan pergi juga menyampaikan pesan kami kepada tuan dan nyonya A.. dan akan memperkatakan apa-apa yang terasa dihati kami, dan juga akan pergi kepada nyonya yang kusebutkan di atas tadi. Ah, kalau sekiranya saya dapat pergi bersama-sama dengan dia, alangkah baiknya. Tuan van Kol akan mengirim kabar nanti dari Betawi, apa yang patut kami perbuat, misalnya, menulis surat permintaan dll. dan sebuah lagi, kalau ia telah kembali ke Betawi, haruslah kami mengirim seposcuk surat kepadanya, menga­takan nama dan 'umur kami, ringkasnya sekalian apa-apa yang kami kehendaki. Dan supaya dinegeri Belanda dapat ia miengenangkan kami, haruslah saya mengirim surat kepada isterinya. Permintaan itu telah kerap kali dimintanya dan sayapun suka benar mengabulkannya.

Maksud Rukminipun hendak pergi kesekolah tinggi; itulah suatu maksud yang disukai tuan itu dan juga maksudnya hendak pergi kesekolah urusan rumah tangga untuk perempuan, yang akan dimasukinya, jikalau diketahuinya nanti bahwa ia tidak akan cakap belajar tentang hal kepandaian yang dimaksudnya itu. Ia lebih suka, kalau Rukmini pergi dahulu belajar kesekolah tinggi beberapa bulan lamanya, sebelum ia menetapkan pikirannya untuk pergi belajar tentang perkara urusan rumah tangga itu. Baik benar menurut pendapatannya; kami berdua akan bekerja ber­sama-sama, yang seorang akan memenuhi dan menolong yang lain. Ia selalu berkata: "Pada pendapatanku, bagus benar kedua Radèn Ajeng bermaksud yang demikian dan berani akan mengerjakannya."

Dan juga saya perkatakan tentang hal pengajaran pada segala sekolah 'ilmu keséhatan tubuh dan segala ke­pandaian yang bersangkootan dengan 'ilmu itu; saya katakan kepadanya yang saya nanti hendak bersekolah dalam 'ilmu ke­séhatan tubuh dan kepandaian palut-memalut orang luka, membela orang yang sakit, dan segala pengetahuan itu nanti akan saya ajarkan disekolah kami. Menurut pertimbangannya bagus benar maksud kami itu.

"Di Hindia tidak dapat Radèn Ajeng akan menyampaikan maksud itu, atau boléh juga disampaikan disini, tetapi de­ngan kesusahan yang amat besar. di tanah Éropah mudah be­nar menyampaikannya, karona disitu semuanya boléh didapat, dan dalam beberapa tahun saja, tentulah tuan akan tammat belajar. Radèn Ajengpun telah pandai bercakap, menulis, membaca dalam bahasa Belanda." Akhirya ia berkata: "Kita harus pergi kenegeri Belanda. Kalau maksud Radèn Ajeng demikian haruslah tuan pergi ke Eropa, karena disini tuan tidak dapat menyampaikan maksud yang mulia itu. Sayang sungguh saya kalau tuan tidak dapat menyampaikan cita-cita hati tuan itu." Saya ceriterakan joaga kepadanya, apa sebabnya maka kami hendak tinggal beberapa lamanya di tanah Eropa. Iapun membenarkan perasaan kami itu. Ia membenarkan pula kata kami, yakni kami akan memberi contoh teladan kepada orang banyak, tentu sukalah orang akan menurut buah pikiran kami; tetapi tentulah akan bertambah-tambah kesukaan itu, kalau kami dididik dan dibawah perlindungan Pemerintah bekerja. Bangsa Jawa yang boléh dimisalkan seperti seorang anak yang besar, amat suka akan keindahan dan keemasan. jadi dimana saja Pemerintah yang berkuasa itu mencampurkan dirinya, niscayalah pekerjaan itu akan dihormati oléh orang banyak.

Ketika saya katakan kepada tuan van Kol sekalian citacita dan buah pikiranku itu, maka bertanyalah ia kepadaku menanyakan, dari manakah saya mendapat pikiran yang sedemikian. Dengan sungguh-sungguh hati ia mendengarkan sekalian yang saya ceriterakan itu. Sebentar-sebentar ia bertanya kepadaku: "Maukah tuan menulis surat kepada isteriku ?"

Kamipun memperkatakan tentang hal pendidikan (kalau boléh disebutkan) untuk anak-anak perempuan bangsawan. Tuan van Kol tahu akan isteri regén-regén dan tahu pula, bahwa meréka itu hidup sunyi dan senyap.

Telah adalah waktunya sekarang akan memberi dengan sedapat-dapatnya pendidikan untuk anak-anak perempuan bangsa Jawa. Tuan itulah orang yang penghabisan sekali, tempat saya memperkatakan apa arti perempuan-perempuan dimuka bumi ini. Betapa cinta, hormat dan baktinya bila ia memperkatakan isterinya, dan besar pula ia menghargakan, bahwa isterinya itu seorang perempuan yang tinggi darajatnya, lagi budiman yang menjadi pedoman dan yang memberi petua kepadanya!

Orang besar itu sangat mengecilkan dirinya untuk isterinya...................hanyalah badannya yang kecil itu, tetapi hatinya dan pikirannya sangat besarnya. Itulah yang merawankan hatiku! Saya tatkala dihadapan tuan yang tersebut berhati lemah lembut. Betapakah baiknya bagiku kalau Tuhan yang pengasih penyayang menjelmakan saya nanti ke "Lali jiwa", sehingga saya berpekan-pekan boléh bercampur dengan manusia yang berhati suci dan berpikiran mulia itu.

Bolehkah hal itu terjadi, Stella? Saya tahu benar, bahasa sekalian itu bagus sekali kalau kejadian. Telah beberapa kali, pada waktu yang baru inipun, kusangka yang cita-citaku itu hampir-hampir akan terjadi, tetapi yang sebenainya sekahan itu ialah angan-angan saja. Dan kalau ada apa-apa yang akan merusakkan hati, barulah ia datang dengan sebenarnya.

Sudah banyaklah yang telah kami tanggungkan untuk cita-cita kami itu, Stella; sekalian itu kami ketahui, demikian juga banyak, ya, lebih banyak lagi yang akan datang, yang akan kami tanggungkan. Mudah-mudahan Allah memberi berkat dan paédah bagi sekalian penanggungan dan peperangan hati kami itu, dan timbullah hendaknya karena itu bunga-bungaan yang harum untuk sesama kami perempuan. Kamipun akan meminta syukur juga, kalau sekiranya peperangan kesedihan hati dan ratap tangis kami itu hanya menghasilkan sebuah bunga saja untuk meréka itu! Kalau kami tidak dapat pergi ketanah Belanda, biarlah kami pergi ke Mojowarno. Banyaklah cita-cita kami nanti yang akan hilang lenyap, tetapi tuan turutlah bersama-sama dengan kami mengucap syukur kepada Allah, karena kami telah pandai menjaga budi pekerti kami selalu tinggal tinggi. Pergi ke Mojowarno artinya kepada kami, bahwa telah berpulang kerahmatu'llah dari dunia cita-cita kami untuk hidup bersama-sama, tempat kami tinggal selama ini, dan sekarang kami hidup lagi untuk beberapa orang yang sungguh kasih kepada kami, dan yang pikirannya kami hargai benar-benar, ya, untuk meréka itulah saja keperluan hidup kami. Kami tidak dapat lagi berbuat barang sesuatu untuk kemanusiaan perempuan-perempuan bangsawan, yang hidup dalam sengsara (kebanyakan di antaranya bernasib yang demikian) dan itulah pula yang amat mengibakan hati kami. Kami dapat memberi pertolongan kepada meréka itu, hanyalah dengan péna dan dawat saja. Tetapi bukti sebuah contoh yang nyata, lebih baik dari pada seruan seribu kata-kata yang bernyawa. contoh itulah yang dapat menguatkan arti kata-kata itu. Bagi kami pergi ke Mojowarno suatu pekerjaan yang mudah, disana tiadalah kami akan mendapat kesusahan, dan tiadalah pula celaan akan kami tanggung. Anak negeri disana suka benar menerima kami. Peperangan yang akan ditanggungkan disana, ialah peperangan dengan diri sendiri, dengan bermacam-macam keadaan yang ganjil dalam pendidikan kami.

Adalah orang yang memberi saya pikiran menyuruh menuliskan sekalian yang telah kupikirkan dan kurasai, tentang kelaliman laki-laki dalam dunia perempuan bangsa Bumiputera, sehingga banyaklah di antaranya yang menanggung hidup celaka dan sengsara itu. Sekalian ini baik kutuliskan dalam sepucuk surat atau sebuah kitab, dan surat atau kitab itu dipersembahkan kepada Seri Baginda Maharaja Belanda. Niscaya banyaklah kebaikannya perbuatan itu untuk cita-cita kami, sebab perempuan bangsa Jawa sendiri yang menunjukkan kelaliman itu. Tetapi saya harus benar tahu, apa yang akan saya perbuat itu. Kalau saya mengeluarkan suara tentang hal itu, maka sekalian laki-laki bangsa Jawa tentulah akan marah dan benci kepadaku. Saya tahu betul hal itu, dan bagi diriku sendiri tiadalah saya takut akan kemarahan dan kebencian meréka itu, tetapi kalau saya nanti menjadi guru, boléh jadi saya berdiri dimuka kelas yang tiada bermurid. Kepada orang yang demikian halnya, tentulah meréka itu tidak kan mau menyerahkan anaknya. Kalau saya berbuat yang demikian itu, tidak ubahnyalah seperti saya memukul kelobaan hati laki-laki. jagalah hati-hati meréka yang berani mengusik dunia kesenangan laki-laki yang telah berurat berakar itu!

Jawab tentang pertanyaanku, apabilakah anak gadis Islam berhak mendapat kemerdékaan, telah kuterima. Bunyinya: "Anak gadis bangsa Islam tidak pernah mendapat kemerdékaan; kalau ia hendak bébas haruslah ia kawin dahulu, sudah itu boléhlah ia bercerai dengan suaminya itu."

Kami anak-anak gadis harus mensahkan sendiri hak kemerdékaannya, dan memaksa dunia ini menyuruh mengaku akan kebébasan itu; hal itu mesti kami lakukan! Engkau telah tahu bahwa tuan van Kol datang kemari dengan seorang juru kabar, tuan itu mengarangkan perjalanannya bersama-sama dengan tuan van Kol. Kedatangan meréka itu kekabupatén japarapun diceriterakannya pula. cobalah engkau pikir, dalam karangannya itu diceriterakaimja pula sedikit perbincangan kami dengan tuan van Kol. Sekarang tahulah orang kemana tujuan kami. Saya harap benar yang pemberi tahuan itu janganlah hendaknya merusakkan cita-cita kami, melainkan akan memberi paédahnya. Baru sekali itulah namaku disebut orang dalam hidup bersama-sama yang bertali dengan bangsaku, mémang disanalah nanti tempat namaku itu!

Keadaan itu amat membesarkan hatiku, Stella, karena namaku disebut setali dengan bangsaku, bangsa Jawa!

..............................................................................................

Simpanlah oléhmu porterét itu akan jadi suatu tanda mata dari perserikatan kami bertiga. Sayang si tiga sejoli waktunya telah lalu, telah habis dan amat bagus keadaannya; itulah sebabnya maka sekarang kami harus bercerai-berai. Porterét itu ialah porterét yang sebaik-baiknya, gambar kami bertiga, dan serupa benar masing-masing kami didalamnya. Porterét itu dibuat pada hari Maulud nabi Isa. yakni porterét kami yang kesudahan, ketika kami bertiga masih menjadi anak-anak gadis. Porterét itu menimbulkan dukacitaku melihat perkumpulan kami bertiga itu. Sungguh bagus benar keadaan kami dahulu itu, hati tiga bertangkai satu, dan sekarang yang sebuah telah gugur dari tangkainya. Boléhkah luka yang sedemikian akan menjadi sembuh? Saya tidak tahu, dan kalau ia tersinggung sedikit saja, maka darahpun keluarlah.

O, Stella, engkau tidak tahu betapa kesusahan hati kami kehilangan adikku itu. Sekaliannya menimbulkan ingatan mengenangkannya, dan sekaliannya membisikkan adik kekasih kami itu. Pada perasaan kami sekarang kami telah terlalu tua, percampuran kami seperti telah berzaman-zaman lamanya telah lalu. Tetapi yang sebenarnya belumlah cukup setengah tahun adikku itu meninggalkan kami!

26 Mei 1902 (V)Sunting

Surat nyonya yang kemudian sekali yang didalamnya menerangkan kesukaan dan kesayangan nyonya tiada berhingga kepada bangsa Jawa, kerap kali kuulang-ulang membacanya. Besar sungguh-sungguh hatiku melihat tuan berhati penyayang dan peramah untuk memikirkan bangsaku bangsa kulit hitam itu. O, kalau sekiranya saya boléh berdekatan dengan tuan sekalian disini, suka benarlah saya hendak memperlihatkan berbagai-bagai keadaan bangsa kami kepada tuan. Dimanakah dapat orang memperhatikan dan mema'lumi akan hal keadaan sesuatu bangsa dengan sebaik-baiknya, kalau tiada pada tempat meréka itu sendiri, dan disini kami betul-betul dalam kampung Jawa? nyonya telah tahu, bahasa tuan sekalian selalu boléh datang kepada kami, dan kamipun dengan suci hati menerima kedatangan tuan itu. Pada perasaanku baik sungguh hati nyonya suka menerima saya di rumah tuan, tetapi apa boléh buat, karena saya sekarang hanyalah boléh menerima sekadar kesukaan tuan itu saja. Sedangkan pergi berjalan ke Bogor waktu ini masih banyak alangannya. Tetapi siapa tahu kalau-kalau perubahan dalam hal itu akan lekas datang! Siapa tahu, sebab banyak kali apaapa yang sekarang mustahil, ésok harinya telah kejadian. Bangsa Jawa yaitu bangsa yang penuh dengan kenang-kenangan dan ceritera yang ajaib-ajaib, dalam bermimpi dan kenang-kenangan, banyaklah kejadian hal-hal yang ajaibajaib. Dan hatiku, hati Jawa itu memegang kenang-kenangan itu sangat teguh-teguh; kalau sekiranya pada zaman purbakala boléh terjadi hal yang ganjil-ganjil, tentulah sekarang boléh juga terjadi hal yang sedemikian!

O, sekiranya nyonya tahu apa yang dimimpikan anak-anak Jawa sahabat nyonya itu! Kalau saya ceriterakan, boléh jadi tuan akan tercengang mendengarnya, tentulah ganjil pada pikiran tuan. Tetapi saya berharap, janganlah tuan beriba hati dan akan mengangkat bahu mendengarkannya. nyonya tahu, bahwa saya suka sungguh hendak pergi ketanah air tuan, bukan? Tetapi tuan tidak tahu apa sebabnya dan apa perlunya kami pergi kesana. Sekalian orang tentu akan mengatakan, bahasa kami akan pergi melihat tanah dan keadaan bangsa asing dan akan tamasya dan berbesar hati saja disana. Kami sungguh merasa sayang akan bangsa kami, sekalian kesukaan dan kedukaannya, menyukakan dan menyedihkan hati kami. Hérankah nyonya mendengarkan kami telah berniat sungguh-sungguh akan memperbuat apa-apa yang baik, asal boléh memberi rahmat kepada bangsa kami? Apakah pertalian kataku itu dengan niat hendak pergi ketanah air tuan? Kami benar-benar disana hendak mengumpulkan kepandaian untuk bangsa kami. Apa-apa yang bagus pada bangsa lain, pada bangsa tuanlah yang terutama benar, hendak kami berikan kepada bangsa kami, dan dalam hal itu tiadalah pula kami akan membuang dan mengganti tabiat meréka itu, melainkan semata-mata akan menambah kehormatan tabiat yang baik-baik, yang ada padanya. Itulah maksud kami yang terutama sekali!

O, hendak bekerja bersama-sama untuk menghabiskan kerja yang bagus dan mulia yang akan meninggikan kesopanan dan kehormatan bangsaku, itulah kenang-kenangan kami, yang sama harganya dengan sekalian peperangan hidup. Sayang sekali saya tinggal berjauh-jauhan dengan tuan, betapalah besarnya hatiku kalau kita tinggal berdekatan, tentulah selalu saya boléh dapat bertanding pikiran dengan tuan. Dan dalam percakapan itu lebih mudah kita mengeluarkan pikiran dan kemauan hati.

Kita berkirim-kiriman surat, makin lama makin menyenangkan hatiku, dan pikiran kita rupanya banyaklah yang sesuai. Betapa suka hatiku hendak memperkenalkan tuan dengan bangsaku dan mema'lumkan hal keadaannya kepada tuan, betul seperti saya mengenal mema'luminya. Amat banyak hal yang bagus dan tersembunyi pada bangsaku. Patutnya se­karang telah lahirlah seorang pandai, ahli pengarang yang pandai mengatakan kepada bangsanya sekalian cita-cita dengan kata-kata yang menarik hati, seperti Fielding pandai berkata kepada bangsa Burma.

Yang seperti itu belum ada pada kami, yang ada ialah kitab yang ternama karena pedih isinya, karangan tuan Veth, yang menyebabkan banyak péna bergerak, dan kemarahan hati yang amat sangat!

Manakah tanah yang tidak ada cacatnya? Tanah Hindia dan sekalian tanah dimuka bumi ini masing-masing ada cacatnya. Kasihan, wahai engkau tanah Hindia! di tanah asing orang hampir tidak tahu kepadamu dan kitab-kitab yang seperti karangan tuan Veth, tentulah tiada akan menarik hati orang akan mengasihi engkau, tetapi tentulah orang akan menolak dan membenci engkau!

Augusta de Wit jauh berlainan pikirannya dengan pikiran pengarang-pengarang yang lain-lain. Ia menulis meriangkan hati tentang tanah Hindia, dan betapa pula bagus bahasanya! Dengan girang hati kami membaca karangannya didalam surat kabar "de Gids".

Tentang hal keadaan dan kepandaian anak negeri, Henri Borellah, yang seperti bermimpi, menceriterakan tanah Hindia dengan sebagus-bagusnya. Tetapi tentang hal yang lain-lain tidak senanglah hati membaca karangan Henri Borel itu, samalah keadaannya dengan karangan sahabatnya tuan Veth.

Sudahkah nyonya baca karangan Borel tentang "gamelan?" Pada perasaan kami karangan itu ialah permata mutu manikam dari karang-karangan! Dan sudahkah tuan membaca karangan Martine Tonnet tentang wayang orang diistana Sultan jokja, didalam surat kabar de Gids? Karangan itupun mahkota dari segala karang-karangan pula. Borel haruslah hendaknya pergi melihat orang menari serimpi. Alangkah bagusnya syair yang akan dibuatnya, setelah ia melihat tari itu! Tari puteri-puteri Solo dan jokja betui seperti tari bidadari dikayangan. Itulah tari sebenar-benar tari! Sayang kami tidak dapat pergi kesana. Acap kali orang meminta kami akan pergi kesana, tetapi kami tidak suka, karena kami mesti berpakaian seperti anak-anak raja perempuan, yakni harus berpakaian seperti anak-dara.

Tetapi sekarang pénaku telah tersesat lagi. O ya, kami suka benar membaca, tetapi sayang, sayang kami tidak tahu bahasa-bahasa asing dan tidak dapat kami mempelajarinya disini. Telah beruntung benarlah kami dapat berkata-kata dalam bahasa tuan. Ah, kami dahulu sungguh berniat benar hendak mempelajari bahasa-bahasa itu. O, betapa harapan kami hendak bersuka hati, membaca kitab-kitab ceritera bangsa asing didalam bahasa itu sendiri. Betapa juga bagusnya kitab yang diterjemahkan, tetapi kitab dalam bahasa asalnya tidak dapat tiada lebih bagus. Tahukah nyonya kitab ceritera-ceritera ajaib yang bagus, karangan Marie Marx-Koning? Kitab itu pada pendapat kami amat bagus. Pada perasaanku ia sangat menyukai karang-karangan van Eeden. Buah pikirannya dalam kitab yang bernama "'t Vioolce, dat weten wilde" menurut sepanjang pikiranku samalah bagus isinya dengan kitabnya yang bernama "De kleine Johannes". Bagaimanakah tentang isi kitab itu menurut pikiran nyonya? Pada pikiranku, isi kitab itu amat bagus, pikirannya benar dan karangannya élok.

Dengan suka hati saya membaca apa yang nyonya ceriterakan kepadaku tentang pendidikan anak tuan dan peri keadaan orang-orang miskin di tanah Belanda. ya, kesengsaraan orang miskin yang amat sangat dalam musim dingin itu telah banyak saya dengar. Kasihan, ya, kasihan sungguh kita kepada meréka yang sengsara dan celaka itu!

Saya sekarang berkirim-kiriman surat pula dengan seorang anak gadis bangsa Friesch; anak gadis itu kerap kali menceriterakan kepadaku hal keadaan dinegeri Belanda dan lebih-lebih keadaan di Friesland. Ia acap kali duduk dilantai yang dingin pada musim beku bersama-sama dengan orang miskin yang tinggal di rumah-rumah buruk dipadang pasir disana.

Dalam musim beku meréka itu tidak dapat bekerja, dan karena itu tidak pula mendapat makanan dan pakaian, demikian lagi apipun tidak ada dalam rumahnya untuk memanaskan rumah tangganya serta anak-anaknya yang dalam menangis. Bukan buatan sengsara meréka dalam hal itu.

Sengsara dan celaka yang seperti itu tidak adalah kami ketahui; tetapi nantilah dahulu, janganlah terburu-buru saya mengatakan itu. tidak jauh dari tempat kediaman kami bukan buatan pula sengsara yang ditanggungkan disana. Meréka tidaklah kedinginan, tetapi selalu dalam kelaparan, batu dan tanah sajalah yang belum dimakan oléh meréka itu. Bermacam-macamlah kesengsaraan yang didengar dan dilihat yang ditanggungkan oléh manusia dimuka bumi ini.

Ini lagi. Bagaimanakah kelak kesudahannya? nyonya tentu telah mendengar kabar, bahasa adalah 500 orang anak-anak menjadi yatim piatu, yang ayah bundanya mati karena penyakit koléra. Kasihan benar melihat budak-budak itu ditimpa oléh mara bahaya dan kesengsaraan itu; karena meréka masih kecil belum berdaya dan berakal, telah kehilangan ibu bapaknya. Tetapi karena pertolongan kiri kanan, sekarang meréka itu lebih beruntunglah dari pada kalau meréka itu tinggal pada ibu bapaknya. Sekarang meréka itu dipelihara dan dijagai orang, tetapi dahulu ketika orang tuanya masih hidup, boléh dikatakan tiadalah diindahkan dan dipeliharakan seperti sekarang.


10 Juni 1902 (VIII)Sunting

Bahasa Belanda ialah suatu kepandaian yang saya sukai benar-benar, sejak dari dahulu banyak orang berkata, yang saya pandai berbahasa Belanda. Tetapi berperasaan dalam suatu bahasa belumlah artinya ada berpengetahuan dalam bahasa itu! Beruntunglah saya karena saya sayang benar kepada bahasa Belanda!. Mengertilah saya sekarang, bagaimana halnya orang yang tidak ada perasaannya dalam bahasa itu, dan tentulah ia akan mempelajari bahasa itu seperti suatu hukumanlah baginya.

Lain dari pada 'ilmu bahasa, 'ilmu bumipun saya sukai benar dan demikian pula berhitungpun; tetapi kepada 'ilmu tambo (babad) selalu saya berhati berat. Bukannya karena saya tidak suka akan 'ilmu tambo itu, tidak suka mendengarnya, sekali-kali tidak, sayapun tahu benar bahwa banyak pengajaran didalamnya. Tetapi orang mengarangkannya untuk pengajaran disekolah rendah, tidak pandai sepanjang pikiranku. 'Ilmu itu haruslah saya pelajari hendaknya kepada guru yang pandai berceritera, yang dapat membaguskan dan menerangkannya. Pada 'ilmu babad itu, bagian yang pertamalah yang amat saya sukai yakni hal keadaan tambo yang lama-lama. Sayang sekali sedikit saja ceriteranya dalam kitab itu. Itulah bagiannya yang saya sukai, misalnya babad orang Masir, orang Gerik dan orang Rum.

Dengan besar hati selalu saya baca dalam surat-surat kabar tentang pasar malam di tempat tuan. Berdebar-debar hati kami dan mata kamipun bersinar-sinar, karena membaca kebagusan pasar malam itu! Tuan-tuan sekalian ada berhati mau dan suka hendak membuat pekerjaan yang baik itu. Kami semua dan bangsa kami sekalian, yang akan mendapat rahmatnya, mengucapkan selamat dan terima kasih atas keramaian dan kebaikan pasar malam itu. Girang benar hatiku mendengarkan ukir-ukiran Jepara banyak menarik hati penontonnya.

Ya, betapalah girang hati kami hendak melihat barang-barang tembaga yang bagus-bagus itu; belumlah banyak barang itu kami lihat, apalagi benda-benda yang ganjil-ganjil yang lain.

Besar hati kami melihatkan kegirangan hati orang Belanda hendak memajukan pertukangan dan kepandaian Bumiputra, sungguh besar hati kami mendengarnya! Kami betul-betul hendak berpongah hati akan bangsa kami, yakni bangsa yang amat sedikit diindahkan dan terlalu banyak dihinakan orang.

 
BÉNTÉNG LAMA DI JEPARA.

........................................................................................................................................

Tetapi hati dan pikiran kami ketika bercakap-cakap dengan tuan van Kol, tidak adalah ubahnya seperti kami berhadapan dengan seorang sahabat karib dan lupalah kami bahwa ia seorang asing bagi kami. Tetapi apa hendak dikata, ia terlampau sederhana, ramah dan seperti bapaklah lakunya bagi kami. Itulah pula yang menarik hati kami menerangkan sekalian kehendak kepadanya. Dimudahkannya kami berkata-kata itu dan dengan riang hatinya menerima percakapan kami. tidak usah lagi kami berkata panjang kepadanya: ia lekas mengerti akan maksud kami dan mema'lumi malcsud kami itu dengan sebaik-baiknya!

Sekaranglah pula burung nuri yang didalam hatiku itu dapat bersukacita menyanyikan bermacam-macam lagu setelah sekian lamanya tinggal diam membisukan dirinya.

Itulah suatu waktu yang berbahagia, yakni ketika'kami bersama-sama bercakap-cakap itu.

Amat sukarlah rasanya kami akan menceriterakan kegirangan hati kami itu. Besar benar hati kami menerima apa-apa yang baik pada pemandangan kami. apalagi kalau sekiranya benda yang bagus itu, biji mata dan kenang-kenangan kami sendiri

Terkenanglah pula oléhku masa yang lalu pada penghabisan tahun 1900. Burung nuri dalam hatiku masa itupun bersukacita menyanyikan lagu yang amat merdu meminta terima kasih atas segala kegirangan dan keuntungan yang telah kuterima itu.

Sungguh-sungguh adalah kiranya waktu yang amat ber­bahagia dalam hidup manusia dimuka bumi ini. Kenang-kenangan kepada waktu yang berbahagia itulah benda yang amat indah dalam hidup didunia ini; ialah yang akan menjadi suatu cahaya pada hari yang gelap-gulita dan menjadi obat yang dingin ketika hati dalam kedukaan.

Betapa baik hatinya tuan van Ko1 itu karena telah datang kemari dan pergi berpayah ketempat kami yang sunii menemui orang yang tidak pernah dikenalnya, biarlah ia tidak selalu, o, tidak selamanya sehaluan dengan pikiran kami!

........................................................................................................................................

Kami sekali-kali tidak suka akan menjadikan murid-möerid kami menjadi setengah Belanda atau menjadi Belanda jaawa. Maksud kami dengan pendidikan yang bébas itu, ialah akan membuat bangsa Jawa menjadi Jawa yang sejati, yang berhati kasih dan cinta kepada tanah dan bangsanya, lagi bermata dan berhati terang akan kebagusan dan kesengsaraan bangsanya! Kami hendak memberikan kepadanya adat tertib-sopan orang Eropa, dengan tiada hendak membuangkan adatnya sendiri, meiainkan kalau boléh, kami hendak mempertinggi kehormatan adat bangsa kami itu.

Karena percampuran beberapa tumbuh-tumbuhan atau binatang-binatang yang berlainan bangsanya, boléhlah orang mendapat bibit tumbuh-tumbuhan atau binatang yang lebih baik keadaannya. Dan tidak dapat tidak niscaya begitu pula keadaannya dengan adat istiadat bangsa-bangsa dimuka bumi ini, bukan? Apabila adat kita yang baik dicampur dengan adat orang yang baik pula, tiadakah kiranya akan bertambah kebaikan keadaan adat itu nanti?

Sekarang saya jawab pertanyaan tuan: "Apakah sebabnya maka kami mesti hendaknya pergi kenegeri Belanda?" Pertanyaan itu telah tuan tanyakan dahulu.

Untuk Rukmini karena salah satu dari kedua kepandaian yang dimaksudnya itu, hanyalah dinegeri Belanda dapat dipelajarinya.

Dan bagiku? Apakah akan jawabku? Saya dapat juga disini mempelajari sekalian maksudku itu, seperti dinegeri Belanda. Betul, tetapi bila saya mendapat pelajaran dinegeri Belanda, tiadakah lebih cakap dan lebih pandai saya mengerjakan kerja menjadi guru dan menjadi pendidik itu nanti? Disana pemandanganku akan bertambah luas, pikiranku bertambah tajam dan pand yang, dan sekalian itu tentulah akan menolong memudahkan pekerjaan yang akan saya tanggung itu. Tanah Eropa akan mengajar dan memberi saya pengetahuan, yang tidak dapat saya minta dan pelajari disini, di tanah air sendiri.

Lain dari pada kepandaian untuk mengajar disekolah rendah atau pekerjaan menjahit dan merénda, kami suka benar nanti hendak mengajarkan disekolah kami pengetahuan dalam hal badan manusia, bagian badan yang diluar dan didalam, serta kegunaan dan pekerjaan tiap-tiap bagian itu, supaya kita seboléh-boléhnya hidup dengan badan yang séhat. Banyaklah kecelakaan yang tidak akan terjadi atau akan ku­rang hébatnya, jikalau banyak orang mengetahui 'ilmu yang amat berguna itu! Mariiah saya sebutkan umpamanya: Baru-baru ini adalah seorang anak perempuan yang digiling keréta api; ia dibawa kekota supaya dapat diperiksa akan diobati oléh dokter, tetapi setiba disana ia telah seperti mayat, karena darahnya habis tertumpah sepanjang jalan. Pegawai polisi dan pegawai keréta api tidak tahu akan keadaan uraturat dalam badan dan tidak tahu pula memalut luka-luka.

Pengajaran keséhatan tubuh, membela orang sakit dan memalut orang luka, menurut perasaanku harus dimasukkan dalam pelajaran pendidikan. Adalah waktu ketikanya dalam hidup kita ini, kita terpaksa wajib menjaga orang sakit. Perempuan-perempuanlah yang acap kali akan berbuat demikian. umpamanya: ada kaum keluarga kita atau orang asing yang sakit keras dalam rumah. Berbahaya benar kalau kita salah membela orang sakit. Tentulah kita mudah salah membelanya, jikalau kita tiada berpengetahuan dalam hal itu. Bahaya yang demikian telah saya tanggung ketika seorang kesayanganku sakit keras.

'Ilmu itu hendak saya ketahui, sehingga dapatlah saya nanti mengajarkannya disekolah kami; sekalian hal itu mu­dah saya pelajari dinegeri Belanda, karena sekalian perkakas 'ilmu itu telah ada tersedia disana.

Dan apa pulakah lagi sebabnya maka kami patut tinggal beberapa lamanya dinegeri Belanda? Gunanya, yaitu akan menyucikan kami dari pada kekerasan pendidikan adat Jawa yang telah mengotorkan kami itu, sehingga kami sampai sekarang tidak dapat menyembunyikan diri disini dari pada keke­ rasan itu.

"Bertsmu dengan orang Eropa yang tidak kami kenal, meskipun sepasukan banyaknya,” kata Rukmini, "tidak ngeri kami, dan hal kami tinggallah sebagai biasa saja”; tetapi bertemu dengan seorang Jawa, takutlah kami, segeralah kami melarikan diri kami. Dan banyaklah lagi sebab-sebabnya yang lain.

Kami hendak melepaskan diri kami dari pada adat-adat yang buruk dan mengikat kami, lagi tidak dapat kami melepaskannya disini; sekalian kecelakaan yang ada tertaruh pada diri kami dan mengalangi kerja, hendak kami buangkan, supaya dapatlah pikiran kami menjadi bébas dan sempurna, sehingga dapatlah kami nanti mengembangkan sayap. jika sekiranya sekalian hal itu telah terbuang, tentulah pekerjaan yang hendak kami kerjakan itu mudah diperbuat.

Sebab itulah harus kami pergi ketempat yang lain, kenegeri asing, yang lain adat lembaganya serta keadaannya dari pada dinegeri kami. Besar pengharapan kami, tanah Eropa akan mendidik kami, supaya kami lebih cakap dan lebih pandai menyampaikan maksud, yang hendak kami ker­jakan nanti; dan boléh kami disana menguatkan badan kami sampai kebal dan tahan menanti panah-panah yang berbisa, yang akan dipanahkan oléh bangsa kami kepada kami, karena kami berani melakukan diri lain dari pada kebiasaan meréka itu.

Tanah Eropahlah yang akan mengajar kami betul-betul bébas! Adakah terang sekalian penjawabanku tentang pertanyaan "apa sebabnya” itu? Saya harap nyonya mengerti akan maksudku. Dan.... sesuaikah pikiran nyonya dengan pikiranku itu? Banyak lagi sebab-sebabnya, kami perlu tinggal untuk sementara dinegeri Belanda; tetapi saya berharap apa-apa yang telah saya ceriterakan di atas tadi, telah cukuplah itu bagi tuan.

17 Juni 1902 (V)Sunting

Baru sebentar ini saya baca dalam surat kabar, bahwa ada beberapa orang anak perempuan cina memohonkan permintaan, supaya dapat turut bersama-sama dalam ujian menjadi guru. Selamat! atas kemajuan itu! Besar hatiku mendengarkan hal itu. Orang-orang cina terlampau keras memakaikan adat-adatnya yang tua; tetapi sekarang dapat kita melihat, bahwa adat yang keras dan tua itu lambat lekasnya betul boléh dipatahkan! Itulah pula yang memberi saya keberanian dan yang menambah pengharapanku!

Alangkah besar pengharapan saya hendak berkenalan dengan anak-anak cina perempuan yang berani itu. Mau benar saya hendak mengetahui pikiran, cita-cita dan perasaan hati meréka itu. Saya hendak mengetahui benar bagaimana hati kecilnya. Sejak dahulu saya hendak bersahabat dengan seseorang gadis anak cina! Suka benar saya hendak menge­tahui apa yang terkandung dalam hati kecil anak perem­puan cina yang demikian. Tentulah didalamnya banyak tersimpan keadaannya yang baik. Adakah nyonya melihat orang cina beralat kawin?

Saya ada melihat baru sekali, cukup; peralatan itu tidak dapat saya lupakan. Orang cinapun merayakan juga kesukaan dan kedukaan yang berhubung dengan arwah-arwah kaum keluarganya yang telah meninggal dunia.

Di Semarang ada seorang cina raja uang mempunyai sebuah taman yang amat permai. Taman itu terletak diléréng sebuah bukit, o, bukan buatan bagusnya. Disana dibuatnya gua-gua batu dan bukit-bcekit yang ditanaminya dengan pohon rasam, bunga-bungaan dan pohon buah-buahan yang kecil-kecil. Tiap-tiap macam didalam kebunnya itu dihiasinya dan dibatasi oléh jalan-jalan kecil yang berkélok-kélok, simpang-siur kian kemari.

Ditengah-tengah kebun itu adalah sebuah kolam yang berjuru banyak, didalamnya penuh beiisi ikan gurami dan ikan mas yang berenang-renang disana. Dan di­tengah-tengah kolam itu pula adalah sebuah rumah peranginan kecil. Dekat kolam itu ada lagi sebuah bukit yang bergua dan berbilik mandi: dengan tangga yang berkélok-kélok melalui gua itu, boléhlah kita pergi kepuncak bukit itu. Disana adalah terdiri kelenting kecil dua buah dan pohon buah-buahan serta bunga-bungaan bermacammacam. tidak ubahlah penglihatan disana seperti suatu ceritera dongéng; yang kurang lagi hanyalah orang-orang cébol penunggu taman dan déwa-déwa yang keluar dari celah-celah batu dan lubang-lubang dibukit itu. Si cébol dan dewa-déwalah yang harus mencukupi taman itu, supaya menjadi dongéng. Buah pikiran yang menggambar taman sebagus itu dikepala, itulah syair namanya dan pekerjaan membuat taman itu, itulah suatu kepandaian yang mulia. Tetapi dimanakah kepandaian yang tiada menaruh kebagusan sebagai syair? Sekalian yang baik dan tinggi darajatnya, yang keramat atau bertuah, péndéknya sekalian apaapa yang moolia dalam hidup bersama-sama, itulah yang dinamakan dengan halusnya: syair!

Kami telah melihat cina tukang yang pandai membuat taman sebagus itu. cina itu hanyalah seorang baba yang miskin saja! Patung-patung yang dibuatnya seperti naga­-naga, harimau-harimau, dll. itu, sekaliannya didirikannya kian kemari di atas rumput, amat bagus.

Sayang sekali dipintu gerbang untuk masuk ke dalam taman surga dunia yang bagus itu, ada terdiri dua buah patung buatan Éropah, kedua patosng itu mengganggu kebagusan patung-patung yang banyak itu.

Adakah nyonya pergi dahulu ke Betawi melihat pasar malam disana? Tentulah ada! Bagaimanakah pikiran nyonya tentang bangsa kulit hitam? Apakah yang boléh tuan katakan tentang kepandaiannya? O, alangkah sukanya saya berpongah diri atas bangsaku itu! Meréka adalah juga berkepandaian, biarpun sedikit! Tetapi tuan, orang-orang Belanda, haruslah membimbingnya! nyonya tentulah mau berbuat demikian, bukan?

Kami ini boléh diumpamakan seperti anak-anak, dan orang-orang Belanda seperti pendidik kami. Bangsa tuanlah yang akan membimbing kami dan membela kami, supaya kami boleh menjadi laki-laki dan perempuan yang sebenarnya!

Saya percaya, bahwa tiadalah seorang juga di antara anak-anak didikan atau murid-mcerid itu, yang akan bersipat ku­rang terima kasih!

21 Juni 1902 (VI)Sunting

Radèn Ajeng Kartini, anak Radèn Mas Adipati Ario Sosrodiningrat, Regén Jepara, ber'umur 23 tahun, lahir di Moyong afdeeling Jepara, pada 21 April 1879, bermohon hendak belajar menjadi guru (bermaksud hendak mengambil diploma guru bantu dan guru kepala), dan menerima pengajaran dinegeri Belanda. Pergi kenegeri Belanda itu pertama-tama akan menambah pemandangan, melanjutkan pikiran dan mencuci kecelaan-kecelaan yang melekat pada dirinya lagi mengalangi usahanya, akan memasuki beberapa sekolah peng­ajaran dan pendidikan, supaya ia dapat mengetahui hal keadaan mendidik dan mengajar dalam sekolah dinegeri Be­landa; sekalian itu maksudnya supaya lebih berhasil nanti bila ia mengerjakan jabatan, yang amat disukainya dan akan ditanggungkan kepadanya.

Kedua, akan mempelajari 'ilmu keséhatan tubuh, membela orang sakit dan 'ilmu memalut orang luka, dan 'ilmu memberi pertolongan yang bermula bagi kecelakaan, supaya 'ilmu yang berpaédah dan yang amat perlu itu dapat diatjarkannya nanti kepada perempuan-perempuan Jawa.

Maksud yang terutama sekali kesopanan bangsa Belanda yang bagus itu akan diberikannya kepada bangsanya, supaya adat bangsa Jawa bertambah tinggi kehormatannya; akan membawa bangsanya kepadang pikiran dan perasaan yang lebih baik, supaya meréka itu boléh sampai kepada kerukunan yang lebih beruntung dalam hidup bersama-sama. Dan usahanya yang akan dilakukannya nanti, ialah mendirikan sekolah-sekolah untuk anak-anak perempuan Jawa. Mula-mula akan jadi percobaan, didirikan dahulu sebuah sekolah untuk anak-anak perempuan kepala negeri, dan anak-anak itu mestilah tinggal disekolah itu juga. Maksud dengan sekolah itu akan memberi tanah Jawa ibu-ibu yang bertabiat sopan dan berpengetahuan, supaya meréka itu nanti dapat memberikan kesopanan dan pengetahuannya ke­pada anak-anak perempuan yang nanti akan menjadi ibu pula, dan laki-laki yang nanti akan menjaga kesusahan dan kesentosaan dalam negeri!

Dengan hal yang demikian boléhlah ibu-ibu itu mengembangkan kesopanan bangsa Belanda kepada bangsa Jawa. Permintaan saya ialah kalau boléh Pemerintah sudi memberi pertolongan, supaya dapat saya menyampaikan maksud seperti yang tersebut di atas: akan menanggung segala biaya pengajaran (pelayaran pulang balik, pengajaran dan tempat tinggal); dan kalau saya telah tammat belajar, saya boléh membuka sekolah untuk anak-anak perempuan kepala negeri dengan murid-murid itu tinggal disekolah itu sekali. Suka benar kami hendak mendengar dari tuan, apakah yang patut kami perbuat. Wajibkah kami mengirim surat per­mintaan? Betapakah baiknya, kalau sekiranya surat permintaan itu tidak perlu? tetapi kalau wajib juga diperbuat, siapakah yang akan membuatnya, bapak atau kamikah? Dan kepada siapa dialamatkan? Kepada Gubernur jenderal atau kepada persidangan Tweede Kamer? Tuanlah yang kami harap akan menyelesaikan hal kami itu. Kami tahu dan merasa, bahwa tuanlah yang akan memberi pertolongan yang besar bagi kami, dan yang pandai serta berani mengemukakan hal kami, dan tuanlah pula yang suka membuat sekalian yang perlu, supaya permintaan kami itu diperkenankan. Tambahan lagi tuanlah yang akan menunjukkan jalan kepada kami, yang sebaik-baiknya akan kami turut, karena tuanpun bermaksud dan menaruh cita-cita: hendak membuat bangsa Jawa menjadi beruntung dan berbahagia.

Dari pada orang-orang tua kami, kami telah mendapat izin boléh mengusahakan diri kami untuk menyampaikan cita-cita kami yang berguna bagi bangsa kami. tidak mudah ia memberi kami izin itu, susah dan pilu hatinya, karena kami ini, ialah kekayaan dan kekasihnya yang dicintainya di atas dunia ini. Betullah cita-cita kami hendak berbuat baik, tetapi jalan yang akan kami tempuh penuh dengan kesusahan, karena demikianlah sudah nasibnya sekalian meréka yang merambah jalan, sejak dahulu sampai sekarang. Tetapi ketika dilihatnya, bagaimana sungguhnya dan tulus hati kami hendak mencapai maksud kami itu, dan ketika dilihatnya pula, bahwa nasib kami telah terikat menjadi satu dengan cita-cita kami, maka tidak maulah lagi meréka itu menolak permintaan kami dan baharulah meréka mengatakan, bahwa hidup dan usaha kami itu amat tinggi untuk bang­sa kami. Orang-orang tua yang kami kasihi itu telah memberi berkat akan kami, supaya kami nanti menjadi berbahagia untuk hidup bersama-sama. Telah berkatlah untuk mak­sud kami itu!

Susahlah hati kami dan putuslah pengharapan kami, kalau sekiranya kami memperbuat pekerjaan itu, dengan tidak mendapat berkat dari pada orang tua kami yang sangat kami kasihi. tidak dapatlah kami akan hidup damai dengan hati kami sendiri, jikalau kami selalu menurutkan kasih dan sayang kami kepada orang tua kami itu; tetapi suara yang ada dalam hati kami itu, kami tutup, supaya kami boléh bekerja dan berperang untuk kebaikan kemanusiaan, dan itulah pula maksud hidup yang dinamakan orang, hidup yang sempurna!

Sebab itulah kami banyak meminta terima kasih kepada orang tua kami, karena meréka itu telah memberi izin akan kami.

12 Juli 1902 (II)Sunting

Ibu dan bapak keduanya telah memberi izin akan kami. Kami telah mengirakan bahwa tidaklah akan menerima izin, melainkan angin ribut, guruh dan petir yang akan datang. 0! saya tidak dapat memikirkan hal itoè. yang bapak akan mengabulkannya, adalah persangkaan kami, tetapi bunda akan turut mengizinkan itu pula tiadalah berani kami memimpikannya! Kami sekarang tiadalah berjauh hati lagi kepada bunda, karena sekarang telah nyata baginya apa benar maksud kami itu. ya Allah, siapakah akan dapat menyangka, bahwa kami karena hal itu menjadi bertambah-tambah dekat kepadanya!

Kesudahannya datanglah waktunya pada kami akan mem­beri kenyataan itu. Dari mana saya dapat hati yang sabar itu, dan dari mana saya peroléh kepandaian berkata-kata dengan hati yang sabar demikian, tidak dapatlah saya katakan. Ti­adalah lebih dahulu saya pikirkan, apa yang hendak saya ka­takan; saya tidak dapat berpikir karena banyak barang yang menggoda dan memeningkan kepalaku. Tetapi setelah saya mulai berkata itu, datanglah sendiri kata-kata yang benar itu dari mulutku. Siapakah yang membuatnya sedemikian, dan memberi saya kata-kata yang seperti itu pada mu­lutku? Siapa, siapakah itu?

Adalah suatu kekuasaan yang lebih tinggi dan lebih besar dari pada segala kekuasaan yang terdapat dimuka bumi ini. Tentulah ada déwa-déwa yang baik hati yang mengelilingi ka­mi dan menunjuki kami memakai kata-kata yang sedemikian dimulut kami, ketika kami hendak menyatakan bagaimana perasaan hati, pikiran dan cita-cita kami! Lagi pula masih terdengar ditelingaku ibu dengan dukacita me'ngatakan: "O anakku, mengapa engkau tiada mempercayai saya, ibumu?” Kamipun mengaku kesalahan kami itu, dan kami ceriterakanlah sekaliannya kepada ibu? Kasihan, ibu. kekasihku itu! Belumlah berharga kami rasanya mencium kaki ibu yang pengasih, penyayang dan setia itu!

Saya tidak dapat rasanya mengatakan kepada nyonya siapa ibu bagi kami dahulu, dan apa ia sekarang, meskipun tubuhnya masih seperti dahulu jua! Sekarang baharulah kami mengetahui benar-benar, betapa banyaknya utang budi kami kepadanya, suatu dunia yang penuh dengan kasih dan cinta itu! Kamipun mengucap syukur kepada Allah, karena kami dengan damai boléh pergi dari ibu akan bekerja untuk kebaikan, yang sekarang telah dikenal dan diaku sendiri oléh bunda. Sekarang tiadalah kami bersuka raya oléh kebesaran hati seperti dahulu, melainkan kami sekarang hanyalah meminta syukur dengan hati yang tulus dan ichlas!

Sesudah itu kepada bapak kami meminta izin. Saya telah bersedia akan menerima kabar yang buruk dari bapak, ketika kami minta izin itu. O! dari mana saya mendapat hati yang dingin dan penyabar itu. tidak dapatlah saya katakan! Sayapun mendengar suara yang saya keluarkan dari hati yang pendiam dan penyabar itu. Saya yang sebagai tali api, lekas menyala, sekarang telah begitu sabar dan hatipun tidak bergerak lagi. Badankupun tidak bergerak pula; tetapi ketika saya mengeluarkan kata, apa benar perlunya saya menghadap bapak itu, maka ketika itu tampaklah oléh saya betapa duka hati bapak mendengarnya, dan hati saya yang keras seperti batu itupun menjadi lembutlah. O, betapa besar kehendak hatiku hendak memeluk bapak serta menghibur-hiburkan hatinya, tetapi ketika itu sekalian kekuatan dan suara saya­ pun hilanglah. Saya duduk dimukanya di atas tikar dan selalu melihatnya dengan air mata borlinang-linang. Terasa benar oléhku betapa remuk hati bapak dan sayapun turutlah pula berduka hati. O, sekaliannya maulah saya mem­berikan kembali kepada bapak!

Dalam hati saya timbullah permintaan: "Bapak ampunilah saya, o bapakku, ampunilah anak tuan ini, karena ia tidak dapat berbuat yang lain!”

Ketika itu tanggal 21 bulan Juni; saya sengaja mengambil hari itu, yakni hari lahir nyonya pergi dengan kaki yang berat kepada bapak, karena saya mau menyangkakan nyonya, yang seperti itu bagiku, ada disisiku pada waktu yang susah itu. Déwa-déwapun mengelilingi saya ketika itu. "Bapak saya yang dilangit”, menolong saya dalam peperangan dengan bapaku yang didunia ini. Ketika saya sudah mendapat apa yang diminta itu, duduklah saya seorang diri memikirkan hal itu dan tidaklah sedikit juga girang hati ku, karena sayapun turut penuh beriba hati merasai kedukaan hati bapak yang kukasihi itu. untuknyalah air mataku tercucur, bukanlah oléh karena kegirangan hati atau akan meminta syukur. Dari hati kecilku keluarlah permintaan: "ya Allah, mogamoga timbul apalah kiranya dari pada pemberian bapak bagiku itu bunga-bungaan dan buah-buahan untuk tanah air dan bangsa kami!”

Pada 21 Juni itu juga kami menulis surat-surat kepada tuan van Kol di Betawi, seiperti permintaannya dahulu itu.

Surat-surat itu berisi dengan keterangan nama, 'umur, kehendak dan cita-cita kami.

Yang perlu bagi kami ialah izin bapak, kalau ia tiada memberi izin, tidak dapatlah meréka itu menolong kami. Sekarang kesusahan itu telah hilang dan batu besar yang melintangi jalan kami itu telah terhindar. Sekarang ada pula hal yang kedua mengalangi: perkara uang. Orang tua kami tidak dapat membayar pelajaran kami dan kamipun tidak suka meminta belanja itu kepadanya.

Dua hari yang telah lalu saya mendapat surat yang panjang dan perlu dari nyonya van Kol. Kalau tidak perlu surat itu bagi saya dan kalau jari saya yang kaku ini dapat menyalinnya, maulah saya mengirimkan surat itu kepada nyonya, supaya dapat memperkatakan isinya. Sekarang kami hanyalah dapat menerangkan beberapa fasal dari isi surat itu. Menurut perasaan kami, patut kami mengucap syukur mendengar bunyi surat itu. Kecuali nasihat yang telah diberikannya itu lebih banyak lagi ia memberi pertolongan lain. Ialah yang telah memberi kami sebuah benda yang hidup tertaruh dalam hatinya.

Adalah suatu cahaya yang telah dimasukkannya kebadan kami, yaitulah cahaya yang tinggi darajatnya lagi bertuah. Kami seakan-akan mendapat berkat dari padanya! Kami tidak gentar dan tidak takut lagi, kami sekarang berhati dingin, percaya dan mengaku kepada kebesaran Tuhan. O, betapalah rendahnya kedudukan kami, rendahlah dari tanah layaknya. O, mudah-mudahan dapatlah juga kami sampaikan maksud itu; tetapi kami sendiri tiadalah agaknya akan hidup lagi, entahkan arwah yang ada dalam tubuh kamilah, yang akan melihatnya. Sungguh tidak adalah kegirangan dan kesukaan yang memenuhi hati ketika itu, melainkan kami berdiam dirilah saja mengucap syukur! ya Allah, kami meminta terima kasih, dan mengucap syukur kepada engkau, karena kami telah mendapat bahagia itu. Berapa banyak hal-hal yang dahulu tiada saya percayai, tidak saya akui, tetapi sekarang barulah kami percaya.

Tidak dapat saya menceriterakan kepada tuan, apa benar yang tersisip dihati kami kedua sekarang. Kami sungguh tidak dapat menceriterakannya, tetapi hanyalah dapat merasainya saja.

Sekadar yang dapat kami kabarkan kepada tuan yakni kami tidak putus mengucap syukur dengan sukacita, karena hi­dup kami ini telah bertambah bagus dan maksud kamipun telah bertambah tinggi harganya. Banyak, ya, amat banyak hal-hal yang telah lalu kami pikirkan. Senantiasa amat jauh, terlalu jauh kami cahari cahaya hati itu, kiranya tempatnya terlalu dekat pada kami, selalu ada dalam tubuh kami!

Perasaan kami, kami sekarang telah bertambah kuat dan "barang sesuatunya sekarang kami lihat dengan pertolongan cahaya itu. Rupanya telah lama ia bekerja dan hidup dalam hati kami, hal itu tiadalah kami ketahui. nyonya van Kollah yang membukakan pintu yang tertutup selama ini untuk kami.

O! oléh karena itulah maka kami banyak mengucapkan terima kasih kepadanya, lebih banyak dari pada jasa-jasanya yang lain yang telah diperbuatnya untuk kami, ataupun yang akan diperbuatnya lagi.

Sebelum saya menerima surat nyonya itu, bertanyalah ibu kepadaku: "Siapakah yang memberi engkau pikiran yang demikian itu?" Dan ketika itulah juga saya jawab: "Tuhanlah yang memberikannya kepada kami."

Tentulah saja ibu mula-mula mencoba mengubah pi­kiran kami akan membuangkan maksud kami itu, tetapi ketika dilihatnya kami tidak mau mengubah pikiran itu, maka iapun berkata dengan mengenangkan Allah subhanahuwatidakala: "ya anak-anakku, sekarang ma'lumlah dan percayalah saya, bahwa itulah rupanya nasib engkau kedua dan Tuhanlah juga yang telah menyuruh engkau hidup dengan jalan yang demikian."

Nyonya van Kol mengatakan kepada kami: "Banyaklah ini dan itu yang diperoléh orang dengan pertolongan manusia, tetapi lebih banyak lagi hal-hal lain, yang hanyalah dengan per­tolongan Allah saja baru dapat diperoléh. Tuhanlah yang menyuruh kita bekerja untuk mendapat barang sesuatu­nya, dan Ialah juga yang dapat memberi kita kekuatan batin dan ketetapan hati untuk berusaha. Percayalah kepada­ ku, bahwa sekalian yang kukatakan itu sebanar-benarnya menurut penanggunganku sendiri pada waktu yang sudah-sudah. Tuan sekarang baru berdiri dimuka pintu hidup tuan dan dipintu kerja tuan yang akan tuan tanggung dalam dunia ini. Kalau sekiranya tuan kelak telah ada didalam hidup tuan, baharulah tuan akan mengetahui, bahwa kita ini ialah manusia yang bébas dan kuat, dan barulah pula sebenar-benarnya kita jadi sahabat dan penolong bagi sesama kita manusia, yakni asal pertolongan yang akan kita berikan itu tidaklah terutama kita carikan pada orang lain, melainkan hendaklah pada diri kita sendiri dan pada Allah, Tuhan yang bersifat rahmat dan rahim itu. Dengan pertolongan lahir yakni dengan barang sesuatunya tuan mestilah ditolong, meskipun bagaimana jua hendaknya hal keadaan tuan. "Karena tidaklah tiap-tiap hari dapat orang mencahari dipasar hidup bersama-sama, kekuatan yang suci dan bagus seperti kekuatan tuan untuk kerja yang baik itu. Kekuatan yang sedemikian harus diterima dan diselenggarakan dengan sebaik-baiknya. Kalau sekiranya Pemerintah tidak hendak menolong tuan, maka perserikatan "Oost en West" mestilah mau menolong tuan."

Dengan tiada diminta-minta, perserikatan "Oost en West" telah mengatakan: ia suka hendak membantu kami dan mau bekerja untuk menyampaikan maksud kami itu. nyonya van Kol mengirimkan surat kabar yang berisi hal itu kepada kami. Mula-mula kissah perjalanan tuan Stoil tersebut didalamnya, dan diachir karangan itu barulah penulis menceriterakan hal kami, demikianlah bunyinya dalam "Oost en West."

"Kami percaya, bahasa tuan van Kol yang menjadi anggota dalam perserikatan itu sejak dari bermula sampai sekarang tiada lupa akan mengatakan kepada kedua anak gadis itu, bahwa maksud meréka kedua, yang mulia dan suci itu selalu akan ditolong dan dibantu oléh perserikatan kita."

Karena membaca kabar itu maka nyonya van Kol pun menambah pula suatu karangan kecil dalam surat kabar itu, yang menerangkan bagaimana pikirannya tentang kami, yaitu sesudah nyonya itu membaca isi surat kami kepadanya. nyonya itulah dengan jalan itu telah membukakan hati sekalian meréka yang kasih akan bangsa Jawa, pembaca "Oost en West", untuk kami.

Nyonya van Kol meminta pula di belakang itu, supaya saya memberi izin kepadanya akan menyuruh memasukkan isi suratku, yang beralamat kepadanya, ke dalam surat kabar itu.

Hal itu tidak menyenangkan hatiku, tetapi perlu "untuk ichtiar akan menyampaikan maksud kami itu." Dengan tiada membuat barang sesuatu, kata nyonya itu kepadaku lagi, "tidak dapat sahabat-sahabat pembaca surat kabar itu mengenal hati tuan dengan baik, dan menghargai maksud tuan dengan sepatutnya; betul seperti keadaanku sekarang ini, sesudah membaca surat yang sepucuk itu bagaimana tulusnya seorang perempuan muda bangsa Jawa telah mengeluarkan perasaan hatinya kepada seorang perempuan yang lebih tua, yang disangkanya dapat akan memberi pertolongan ke­padanya dan suka akan maksudnya yang baik itu. tidak ada sepatah kata jua dalam surat itu yang tidak boléh dibaca oléh orang banyak. Dan sebenarnyalah saya tidak tahu jalan yang lebih baik lagi akan membawa tuan ke dalam perhimpunan orang yang menyayangi tanah Jawa dan bangsanya itu. Buangkanyah malu-maiu tuan dan katakanlah kepadaku: "ya, baik!"

Tentang hal itu belumlah saya memberi keputusannya lagi. Saya harus meminta izin lebih dahulu kepada bapaku. Bapak telah meminta supaya perkara itu seboléh-boléhnya dirahsiakan. Kalau Pemerintah telah mengatakan "baik", bolehlah dunia dan penduduknya mengetahui hal itu. Sebetulnyalah kami harus berhati-hati mencari jalan yang akan ditempuh itu, tetapi menurut pendapatan kami sekarang, bahwa lebih banyaklah kami beruntung, apabila hal kami diceriterakan kepada orang banyak dari pada kalau dirahsiakan; yaitu kepada orang banyak seperti yang dimaksud oléh nyonya van Kol itu, dan kalau dalam hal itu Pemerintah menolak permintaan kami, tentulah kami tiada akan rugi. Dan siapakah yang tiada tahu, bahwa bukan sedikit di atas dunia ini permintaan yang ditolak orang saja?

Bukanlah yang meragukan saya karena saya akan menga­takan "ya, baiklah," ataupun karena saya akan merasa hati jikalau kenang-kenangan hatiku itu direncanakan kepada orang banyak dimuka bumi ini, sekaii-kali tidak. Perasaan hatiku sendiri, tiadalah kuhitung, hanya yang saya pandang ialah cita-cita kami itu saja! Dalam surat itu telah saya cungkil pula suatu fasal, yang tentu tiadalah akan menyenangkan hati bangsa kami, yaitu perkara kawin! Barangkali orang boiéh menghinakan saya, tetapi hal itu sekali-kali tiadalah akan membinasakan saya; yang boléh hanyalah membinasakan maksud kami itu. Adakah orang nanti, jikalau saya telah menjadi guru, mau menyerahkan anak-anaknya untuk diberi pendidikan, kalau sekiranya telah diketahui oléh mereka itu dengan siapa meréka berlawan? Atau barangkali lebih baiklah kami akan berperang berhadap-hadapan untuk mencahari kebenaran..... dan dikatakan kepada meréka itu sekarang pada pihak mana kami berdiri?Sejak dari dahulu inilah kenang-kenanganku yakni: akan mengeluarkan pikiranku tentang hal perkawinan itu; tetapi belumlah saya lakukan, sebab saya hendak menunggu dahulu, sampai saya dapat merampas kebébasanku.

Buah pikiran kami barangkaii akan diterima orang dengan baik pada pihak bangsa Eropa; dan dalam beberapa hal tentang' pengajaran dan pendidikan tentu banyaklah juga mereka bangsa Jawa, yang suka akan menerimanya. Tetapi bagaimanakah buah pikiran yang saya terangkan pada halaman yang bersama-sama dengan itu, entah akan diterima orang, tidak tahulah saya! Kami pestilah mau menanggung segala kesusahannya. Bagaimanakah pikiran nyonya tentang hal itu? Maukah tuan memberi saya pikiran yang baik? Dengan ibuku hendak saya perkatakan juga hal itu.

15 Juli 1902 (VIII)Sunting

Adikku Rukmini tentu telah memberitakan kepada nyonya akan kabar yang baik itu, bukan? Bahasa orang tua kami telah memberi kami izin. yang tidak disangka-sangka sekalipun sekarang telah menjadi: Ibuku tiadalah saja telah berdamai dengan maksud dan kenang-kenangan kami, tetapi sekarang iapun turut pula bermimpikan cita-cita itu! Karena kami sekarang menerangkan segala hal itu ke­ pada ibu, tidak adalah kami berselisih lagi dengan dia. Bahwa sebenarnyalah setelah kami terangkan sekaliannya kepada ibu, maka serasa berdekatlah pertalian kami sekarang dengan ibu yang baik, kekasih kami itu. Belumlah berharga kami rasanya akan mencium kaki ibu yang pengasih itu. Sungguh tidak dapatlah saya mengabarkan kepada nyonya, bagaimana dan apa ibuku bagi kami pada waktu yang sudah yang berpuluh-puluh tahun lamanya, dan apa ia bagi kami pada masa ini!................................................

Tidak, kami tidak suka lagi membuat kenang-kenangan, hanya sebuah dari pada kenang-kenangan kami akan kami simpan dan cukuplah yang satu itu saja. Dan kenang-kenangan yang satu itu, sungguhpun telah banyak membawakan kami penanggungan, kesukaan dan kesusahan, dapatlah juga hendaknya dengan itu kami membuat apa-apa, meskipun tidak banyak yang berguna untuk bangsa kami, lebih-lebih untuk keperluan perempuan-perempuan bangsa kami. jika sekiranya tidak dapat kami membuat sedemikian, berharaplah kami kesengsaraan dan peperangan kami itu dapat hen­daknya menarik pemandangan dan pikiran orang banyak un­tuk bermacam-macam hal yang perlu diubah. Dan jika sekiranya tidak pula sampai maksudku itu, ya, apa boleh buat, tetapi kamipun selalulah juga berniat hendak berbuat baik, dan kami percaya sungguh, bahwa air mata kami yang seka­rang rupanya cuma-cuma saja tercucur, nanti akan menjadi bibit tanam-tanaman dan akan menghamburkan buah dan bunga kelak, menjadi obat bagi meréka yang akan datang.

Pesan tuan kedua yang dibawa Annie, menyebabkan hati kami menjadi bimbang memikirkannya! Benar sekali kata tuan kedua itu dan kamipun sebab meminta terima kasih banyak kepada tuan. Pesan tuan: kalau sekiranya sekalian maksud kami baik lakunya dan kami jadi pergi ke negeri Belanda, haruslah juga kami pikirkan bagaimanakah hal kami kalau kami pulang kembali nanti? Siapakah yang akan kami dapati di Betawi lagi? Tentulah tidak ada seorang jua lagi yang menyukai maksud kami itu! Sekaliannya tentulah akan berubah! Apa akal lagi?

Sekarang tentulah kami, dengan tiada berpikir panjang akan memilih negeri Betawi, supaya kami dapat berdekatan dengan tuan kedua, itulah yang amat kami sukai, tetapi ka­lau demikian tentulah adikku akan membuang sekalian kenang-kenangan dan maksudnya itu, biarpun hal itu dilakukannya dengan sesenang-senang hatinya.

Jika sekiranya kami tinggal disini, haruslah ia belajar untuk menjadi guru, tetapi hatinya amat berat belajar menjadi guru itu. Berapa susahnya pula akan menanggung sesuatu kerja seperti menjadi guru itu, telah kami lihat, apalagi jikalau kita tiada cinta mengerjakan kerja itu. Rukmini sendiri telah berkata kepadaku: kemana saja engkau pergi, sayapun turut bersama-sama, dan jikalau saya tidak dapat kerja lain-lain dari belajar untuk menjadi guru...., biarlah saya berusaha dengan sedapat-dapatnya, akan menang­gung kerja dengan sebaik-baiknya. Tetapi dalam hal itu sa­ya amat merasa hati sayang kepadanya dan sayang kepada cita-citanya yang selama ini! Karena menjadi suatu kerugian yang besar. Pikirlah sekolah urusan rumah tangga dan rénda-merénda, tentulah akan menarik hati perempuan-perempuan Jawa. Itulah cita-cita perempuan-perempuan Jawa; anaknya nanti boléh pandai masak-memasak, menggulai dan rénda-merénda. Niscaya amat sedikit sajalah baru orang yang tajam pikirannya tentang mengerjakan kerja yang saja ingin itu dan tidak banyaklah pula di antara meréka itu yang ada menaruh perasaan untuk pendidikan pikiran dan kehormatan hati itu.

Haruslah ada barang sesuatunya yang akan diperlihatkan dan dapat diperhatikan oléh meréka itu, yakni barang yang dapat dilihat bagus oléh pemandangan mata dan oléh pera­saan hati. Dengan jalan begitu, barulah dapat bangsa kami menerima dan memuliakan maksud kami itu.

Kami harus memperhatikan kehendak dan pikiran bangsa kami, sebelum kami mengerjakan kerja yang kami cintai itu Pekerjaan dalam 'ilmu memperlihatkan benda-benda itu dapatlah ditanggung oléh adikku dan iapun suka benar mengerjakannya. Dan kamipun suka pula akan mengajarkan 'ilmu urusan rumah tangga, karena 'ilmu itu dalam perasaan hati kami berguna benar bagi bangsa Jawa, umpamanya: 'Ilmu menghitung dan mengeluarkan belanja dan membuat poringatan, 'ilmu keséhatan tubuh, 'ilmu memalut luka dsb.

Sayang benar kami tidak dapat bercakap-cakap memperkatakan sekalian hal itu dengan tuan. Tentulah banyak lagi kehendak kami yang patut dicoréng dalam daftar cita-cita kami itu. Hal itu perlu dan harus diperbuat. Kami tidak sombong suka mengatakan, bahwa buah pikiran kami itulah pikiran yang sebaik-baiknya untuk bangsa kami. Suka benar kami hendak mendengar pertimbangan dari pada orang, yang lebih tua dari pada kami, lagi telah banyak perasaian dan penanggungan, supaya dapat kami nanti memperhatikan dan memilih pikiran mana yang baik. O, betapa baiknya kalau kami ada berdekatan dengan tuan kedua, apalagi sekarang karena kami telah diizinkan oléh orang tua kami boléh mengerjakan kerja yang kami cintai itu. Karena izin itu seperti terhindarlah bagi kami sebuah batu besar yang merintangi kami dijalan. Dan alangan yang kedua lagi ialah: perkara uang dan perkara yang lain!

Marilah saya kabarkan kepada tuan apa pula, yang membesarkan hati kami lain dari pada yang telah kami ceriterakan itu. Baru-baru ini saya mendapat surat dari pada nyonya van Kol. Surat itu isinya perlu dan panjang serta menyukakan hati kami benar. Didalam surat itu dikabarkannya betapa su­ka hatinya tentang maksud kami itu, dan diperkatakannyalah pula keperluan maksud itu. Ia sekali-kali tidak suka mengabarkan apa-apa yang menjadi kesenangan dalam hidup yang akan kami tempuh, demikianpun tinggal dinegeri Belanda: "Tiadalah dapat tuan akan melenyapkan diri dari pada kesusahan dan duri-duri yang akan menimpa tuan, tetapi pula tidak adalah seorang juga boléh sampai maksudnya, kalau tiada menanggung kesusahan dan kesakitan, Sekalian hal itu berguna bagi manusia, supaya ia menjadi kuat dan percaya kepada Tuhan dan kepada dirinya sendiri." Begitulah katanya dalam suratnya kepadaku.

Nyonya van Kol menolong kami lebih dari pada nasihat yang telah diberikannya itu; ia telah memberikan kepada kami barang sesuatu yang datang dari hatinya sendiri dan yang hidup bersama-sama dengan nyawanya.........

Tentu saja hingga ini keatas kami wajib berhati-hati, te­tapi menurut pendapatan kami sekarang, kerja yang dirahsiakan itu, tidak adalah memberi faédah, melainkan boléhlah hal itu membawa kami kelurah yang dalam; dan mengabarkan kepada orang banyak membawa kami lebih lekas sampai ketempat yang dimaksud. Saya mengerti pula apa sebabnya bapak menyuruh merahsiakan hal itu dahulu, ialah karena ta senang' hatinya, kalau-kalau Pemerintah menolak permintaan itu, dan kalau demikian tentulah orang banyak akan mentertawakan kami. Sebab itulah saya disuruh bapak meminta kepada tuan, supaya yang mulia tiada akan mengabarkan hal itu dahulu kepada orang, atau memasukkan ke dalam surat kabar, dan dalam hal itu sudi menolong bapak, supaya ia dalam sehari dua ini boléh datang akan memohonkan permintaan itu. jikalau sekiranya perkara uang itu telah selesai, barulah sekalian orang boléh mengetahui kemauan dan maksud kami itu.

Kami sengaja benar berlaku sedemikian, karena kami hen­dak menjauhkan diri kami dari pada meréka, yang kurang pikiran dan tiada berbudi itu. cacat yang pertama dan sindiran meréka itu, yang datangnya seperti angin topan, telahkami rasailah.

18 Juli 1902 (II)Sunting

O, bunda! kami tidak cakap menceriterakan perasaan hati kami itu dengan sempurnanya. Sekaliannya rupanya telah kabur, telah menjadi pembicaraan anak kecil, perasaan hati kami amat kaya dan amat berkuasa rasanya! ya rabbi, saya mengucap terima kasih, begitulah kata hatiku, begitulah tutur dimulutku dan begitulah pula bunyi pénaku, serasa diudara atau disurgalah saya sekarang, di tempat Tuhan yang esa berdiam diri, dan kepadanyalah saya mengucap syukur itu!

O, bunda! kasihilah kami selalu dengan kasih yang sejadijadinya. Kasihmu itu amat berguna untuk kami, karena jalan yang akan kami tempuh sangatlah sukarnya!

21 Juli 1902 (VII)Sunting

Dalam hidup didunia ini adalah kedapatan saat-saat yang amat bagus benar. Kita rasanya tidaklah berpijak dibumi ini, hanya hidup kita terasa dihati, kita seperti terbang diawang-awangan, karena kegirangan dan sukacita, apalagi kalau kita memperoléh keperluan kita yang sangat kita cintai dan kita muliakan! Saat yang demikian sudahlah kami peroléh, ya ni ketika kami membaca surat tuan dengan hati yang girang bercampur rindu. Dari surat itu berembus rasanya udara yang amat sejuk dengan bersih dan sedapnya, yang asalnya dari langit pikiran yang amat tinggi dan mulia, mencuci dan menguatkan hati kami!

Bagaimanalah dayaku mengabarkan kepada nyonya pera­saan hatiku yang girang bercampur rindu itu, ketika kami membaca kata-kata emas yang tersebut dalam surat tuan itu. Sesungguhnya itulah suatu rahmat yang datang dari langit, kata kami! Sesungguhnyalah nyonya telah menolong kami lebih berharga dari pada nasihat yang tuan berikan itu. nyonya telah memberikan kepada kami barang sesuatu yang mulia, lagi keluar dari hati tuan sendiri dan hidup bersama-sama dengan nyawa tuan.

Telah jauh dan telah lama kami mencaharinya, tetapi tiadalah kami ketahui bahwa tempatnya sedekat itu, disisi kami: ia ada ditubuh kami!

Allah atau "God" kata orang Belanda, tidaklah lagi suatu kata yang kosong kepada kami sekarang. Kata itu yang acap kali dipakai orang dengan mudahnya saja, kami seka­rang menjadi suatu bunyi yang suci dan mulia. Terima kasih dan syukur kami kepada nyonya, sebab tuan telah membukakan dimata kami benda yang amat mulia dan telah kami cari-cari sekian lamanya!

Tidak dapat saya mengatakan betapa senangnya dan damainya hati kami sekarang dan betapa riang dan syukur hati kami; hati kami tidak takut dan tidak gentar lagi. Pada perasaan kami sekarang kami telah selamat dan sejahtera. Dalam perasaan kami adalah selalu seseorang yang menjaga kami, seseorang disisi kami. Ia pula yang akan menghiburkan hati, ialah yang akan memberi kami pertolongan dan kepadanyalah tempat kami bergantung dalam hidup kami yang akan datang, sekalian itu terasalah oléh kami.

Benarlah kata nyonya itu, bahwa kepada Tuhan tidak adalah kerja seseorang yang terlampau berat. Ialah pula yang mem­beri kita kekuatan untuk kerja kita yang disuruhkannya.

Yang kami sekarang telah mendapat tuan kedua ini, itulah suatu rahmat Tuhan kepada kami. Tuhan yang mahakuasa telah mengirim tuan kedua, meréka yang telah menjadi pahlawan dari kemauan hatinya yang mulia dan dari pesuruh Tuhan bernama kasih dan cinta kepada kami, laskar yang masih muda lagi belum berpengetahuan, supaya tuan kedua akan menolong kami, akan membimbing kami, meréka yang belum kuat berjalan dijalan yang sukar ditempuh.

Syukurlah, ya gustiku atas pemberiaanmu itu! Sebab itulah maka kata-kata de Genestet, dalam syairnya "Terugblik" amat kami muliakan dan bagus pada pemandangan kami, Waktu itu perasaan kami, bahwa hati kami ada kelaparan apa-apa, kami cari tetapi kami tidak tahu apa yang' kami cari itu....

Sekarang sungguhlah kami telah mendapat berkat dari pada Tuhan, dan hidup kami sekarang dalam pemandangan kami lebih bagus, usaha kami lebih baik dan badan kami sendiripun lebih senang dan kuat rasanya........

Ta dapat kami melupakan tuan, semenjak kami telah mendengar suara tuan berkata-kata dengan kami. Selalu mendengunglah ditelingaku kata-kata nyonya seperti bunyi suara yang keramat mengatakan: "Tidaklah lagi hidup untuk dirinya sendiri, melainkan hidup dengan ruh didalam tubuhnya."

Saya sangat berharap supaya kekuasaan perkataan itu ada padaku, biarpun barang sesaat saja akan mengabarkan kepada tuan perasaan hatiku dengan selurus-lurusnya dan sesuci-sucinya, seperti yang tergambar dalam hatiku! Sayang, tidak adalah kekuasaan itu bagiku, sebab itu lebih baik saya berdiamkan diri!

Terkenanglah oléh kami akan perkataan tuan itu, ketika kami mengulang membaca surat nyonya yang meminta akan memasukkan karanganku ke dalam surat kabar, lalu bertanyalah kami kepada diri sendiri: "Bagaimanakah kesudahannya kalau hal itu jadi diperbuat demikian?" Oléh karena perka­taan yang ramah dalam surat kabar "Oost en Weest" itu, tentulah kami akan diterima oléh sahabat-sahabat kami bangsa Eropa dengan baik, tetapi bagaimanakah kalau isi suratku itu akan dibaca oléh bangsaku sendiri? Boléh jadi permintaan kami tentang pengajaran dan pendidikan itu akan dite­rima meréka itu dengan besar hati, tetapi kebesaran hati itu akan hilanglah oléh kemarahan yang timbul dalam hati meréka itu, kalau membaca buah pikiranku tentang perkara kawin, dan yang pertama-tama sekali yang akan marah kepada kami ialah orang laki-laki.

Saya tidak mau menarik buah pikiranku itu kembali, biar barang sepatah kata juapun. yang sebenarnya banyak lagi yang hendak kuceriterakan tentang hal keadaan itu, dan itulah maksudku sejak dahulu hendak mengeluarkan suara tentang hal itu dengan sekeras-kerasnya akan mengabarkan kepada orang banyak, karena itulah menurut pikiranku suatu jalan yang sebaik-baiknya, patut ditempuh, dan akan memperbaiki segala hal yang tiada dimakan benang siku-siku. Tetapi lebih dahulu saya hendak menantikan waktunya, su­paya perdirianku teguh dan lurus di atas jalan yang kupilih itu, yaitu jikalau sekiranya saya telah memperoléh kebébasan dan kemerdékaan.

Tetapi sekarang lebih baik berperang berhadap-hadapan, dan sejak dari bermula sampai sesudah-sudahnya diterangkan kepada bangsa Bumiputera sekalian buah pikiran yang tersimpan dalam hati kami.

Siapa yang melémparkan raga, kata orang Belanda, mestilah menyambut raga itu kembali. Sebab itulah saya berharap, jika nyonya hendak memasukkan juga karanganku itu ke dalam surat kabar, baiklah nyonya sabar dahulu barang beberapa lamanya. Sepatah katapun saya tidak mau menarik kem­bali apa yang telah saya katakan tentang keganasan laki-laki Jawa itu, yang telah menjerumuskan perempuan-perempuan dan anak-anak bangsa kami ke dalam lurah-lurah kesengsaraan, tetapi perlunya saya minta nyonya sabar sedikit, ialah karena saya hendak mengukuhkan diriku lagi dengan beberapa hal yang lain, kalau-kalau kelak saya diserang orang, sehingga boléh merusakkan kebenaran.

Didalam karangan itu saya katakan bahwa makin lama makin banyak ibu bapak anak-anak Bumiputera mengehendaki pendidikan yang bébas untuk anak-anaknya perempuan. Sekalian itu boléh dipersaksikan dengan mata sendiri, bila dilihat betapa banyaknya anak perempuan dalam sekolah Gubernemén dan dalam sekolah partikulir. Apa yang saya tuliskan di atas ini sudahlah kejadian dengan sebenar-benarnya; kita sekali­an telah mengetahuinya, baik dilihat sendiri atau didengar dari sahabat kenalan kita dan orang lain, tetapi kami sendiri belum mendapat keterangan yang nyata. Bilangan yang menyatakan berapa banyaknya anak perempuan yang telah bersekolah amat perlu sekarang kami ketahui.

Sesudah itu saya hendak menceriterakan dalam karangan itu tentang sekolah Belanda untuk anak-anak perempuan bangsawan di Manonjaya (Priangan). Kabar yang membesarkan hati itu saya baca dalam surat kabar "de Echo", tetapi waktu ini saya tidak dapat mencari nomor surat kabar itu lagi; nomor yang berisi kabar yang menceriterakan, bah­wa sekolah Belanda untuk anak-anak perempuan bangsawan itu mendapat wang bantuan dari Pemerintah adalah saya simpan. Maksudku mau bertanyakan hal itu lebih jauh.

Baikkah maksud itu pada pikiran nyonya? Saya telah mengizinkan sekarang, nyonya akan menyiarkan karanganku itu dalam surat kabar, tetapi bertunggulah nyonya dahulu beberapa hari lagi akan melangsungkannya, sampai nyonya mendapat kabar dari padaku.

Tetapi pada badanku sendiri tiadalah akan saya indahkan, jikalau orang menyerang saya, karena saya berani memperkatakan adat yang sebusuk itu, yang menyuruhkan laki-laki bersenang-senang menurut sekehendak hatinya dengan hidup surga, pada hal dalam itu perempuan-perempuan bersengsara dan teraniaya seperti sekarang ini. Saya telah sedia menanti serangan meréka itu, menurut pikiranku mestilah meréka itu akan membéla dirinya dan menyerang saya. Saya hanyalah wajib menjaga dengan hati-hati kebenaran yang saya pertahankan, supaya seorangpun tidak dapatlah akan membinasakannya, bukan?

Kemarahan dan sindiran meréka itu yang pertama-tama sekali telah turunlah seperti hujan lebat menggoda kami, disebabkan oléh karangan tuan Stoll dalam surat kabar "Locomotief". Tetapi kami tiada mengindahkan hal itu. Kami se­lalu berusaha sungguh-sungguh akan menjauhkan diri kami dari sekalian hal, yang terpandang hina dan rendah seperti yang telah dibiasakan oléh meréka itu yang kekurangan pikiran dan kekurangan tertib-sopan.

Sindiran dan kiasan orang itu tiadalah kami acuhkan benar, tetapi yang merusakkan hati kami betul, ialah oléh karena kami ini selalu setia kepada cita-cita kami, itulah pula yang amat merusakkan dan menggoda hati orang tua kami! Tetapi hal itu dari dahulu sampai sekarang tidak dapat kami ubah.

Hal orang tua itu mudah pula dapat dipikirkan, yakni amat susah dan sedihlah hatinya akan mengalangi anak-anaknya, kekasihnya yang terutama dalam dunia ini, akan hidup dengan maksud yang sebagus itu, meskipun banyak kesusahannya, tetapi sudahlah demikian nasib meréka, tukang menebas jalan, dalam perkara apa jugapun dari dahulu sampai sekarang.

Sukur, sukurlah sekarang meréka itu dengan réla hati telah memberi kami izin, supaya kami boléh hidup dan berusaha menyampaikan cita-cita kami itu.

Bukan buatan besarnya terima kasih kami dalam hal itu! Amat susah hati meréka itu memberi kami izin dan sekian pula susahnya kami memintanya. Dalam waktu yang telah lalu amat banyak penanggungan kami: pikiran selalu berkacau, hati susah dan pilu, kerja banyak mubazir dan harapan acap kali putus. Itulah sebabnya maka kami sangat syukur dan terima kasih atas keizinan orang tua kami itu. Apalagi meréka itu telah memberi berkat atas maksud kami dan berkat itulah yang menjadi kawan kami pula, kemana kami pergi akan bekerja untuk mencari kebaikan. Betapalah susah hati kami, bila sekiranya kami pergi itu tidak dengan berkat orang tua kami, tentulah hal yang demi­kian akan menghinakan dan menyusahkan hidup kami; kami sungguh-sungguh sayang dan kasih kepada orang tua kami itu dan dalam hal itu kamipun wajib pula menempuh jalan yang kami kehendaki itu, dan tidak dapatlah kami akan dengar suara yang keras, keluar dari hati menyuruh kami berperang dan bekerja untuk kebaikan zaman yang akan datang! Saya rasanya masih mendengar ibuku berkata: "Wahai anak-anakku, saya percaya bahwa itulah nasib tuan kedua. Tuhanlah yang menyuruh engkau kedua hidup sedemikian." Suaranya itu sebagai suara orang yang menyerahkan diri dan beriba hati, perkataannya itu akan tinggal selalu dalam hati kami, akan menolong dan menghiburkan kami ditengah jalan yang akan kami tempuh. Dan hal bapak lagi!

Iba hatiku bukan buatan melihatnya bersusah hati dan sayapun turutlah pula berdukayita.

"O, bapakku", kata hatiku, "ampunilah saya ini, ampunilah anak tuan ini, ia terpaksa berbuat demikian."

Peperangan itulah yang sehébat-hébatnya lagi telah kami tanggungkan. Betapa syukur kami sekarang, tentulah nyonya dapat memikirkannya, apalagi karena keizinan itu tiadalah memperceraikan kami dengan orang tua kami, melainkan ialah menambah kukuh dan erat pertalian antara bapak de­ngan anaknya kedua belah pihak. Itulah rahmat Tuhan!

Kami sekarang masih berdiri dimuka pintu hidup kami, tetapi menurut perasaan kami, sekalian hidup didunia ini seperti telah habislah kami jalani, yaitu yang penuh dengan perasaan sedih dan peperangan yang hébat dalam hati kami. Banyaklah kitab boléh dipenuhi bila kami mau menceriterakan sekalian itu kepada nyonya, tetapi lambat lekasnya ten­tulah tuan akan mengetahuinya juga, biarpun dengan surat ataupun dengan mulut, jikalau kita kelak dapat bertemu. Sebagai seorang sahabat, sahabat kami yang sesungguhnya lahir dan batin, tentulah tuan berhak mengetahui hal hidup kami sekalian dengan secukup-cukupnya. Seka­lian itu akan tuan ketahui nanti.

Apabila saya sekarang mengingat waktu yang telah lalu, maka tampaklah oléhku sekalian perbuatan dan pertolongan Allah atas diriku, dan sayapun mengucap syukur, lebih-lebih saya memikirkan segala kesusahan dalam saat yang telah lalu itu, sesungguhnyalah Tuhan tiada melupakan dan meninggalkan hambanya.

Siapakah yang mengirimkan sahabat-sahabat itu kepada kami waktu dalam kesusahan, sedang dilamun ombak sengsara, hampir-hampir putus asa? Siapakah yang membawakan orang-orang asing yang tinggal sejauh itu ketempat yang sunyi ini, supaya meréka boléh memberi kekuatan dan harapan kembali dalam hati yang berputus asa ini?

Pertemuan itu bukanlah pertemuan tiba-tiba, melainkan itulah suatu perintah Tuhan kita!

Tuhan Allah, Tuhan seru sekalian alamlah yang mengirim meréka itu kemari, supaya boléh memberi kami, anak-anak muda, yang sedang payah berperang dengan cita-citanya, kekuatan dan keberanian yang baru. Pertemóean itulah yang menyebabkan hati kami menjadi berubah. Dahulu hati kami masih bimbang, tetapi sekarang telah tetaplah hati kami hendak mencapai cita-cita kami itu, meskipun berapa juga susahnya.

Dahulu perasaan kami tentang hal itu diawang-awangan saja, tetapi sekarang semuanya telah terang dan mudah tampaknya.

Tuhan Allah sajalah yang tahu akan rahsia dunia ini. Sekalian yang ada dibumi ini, semuanya didalam tangannya dan dalam perintahnya.

Ialah yang mempertemukan jalan-jalan yang jauh-jauh letaknya akan menjadi jalan yang baru.

Demikian halnya Allah telah mempersatukan jalan sahabat kami itu dengan jalan kami, supaya hati dan nyawa kami boleh menjadi kuat, karena bertemu dan bersekutu dengan hati dan nyawa meréka yang kuat itu, sehingga dapatlah kami membuat jalan yang baru untuk kemanusiaan yang ada di belakang kami. Dahulu kami tidak kenal seorang dengan yang lain, dan ta tahu kami siapa meréka itu. Sekarang sekonyong-konyong berdirilah kami berhadap-hadapan dan cinta-kasih-sayang sebelah-menyebelah bekerjalah sekuat-kuatnya memperhubungkan tali persahabatan kami. Hanyalah beberapa jam saja kami duduk bersama-sama dan ketika kami bercerai, barulah tahu kami bahwa kami akan bersahabat selama hidup.

Hal yang ajaib itu telah mulailah bekerja dan teruslah bekerja memperlihatkan kebesarannya! Sebulan lamanya sesudah pertemóean kami itu terjadilah suatu hal yang tidak pernah kami pikirkan dan tidak pernah pula kami mimpikan. nyonya tahu bahwa berjalan keluar rumah tiadalah diadatkan oléh anak-anak gadis bangsa Jawa, melainkan meréka itu harus tinggal di rumah, duduk bersembunyi dibalik dinding sampai seseorang laki-laki yang tiada dikenalnya, yakni suami yang diberikan Tuhan kepadanya meminta si anak gadis itu serta membawanya pulang kerumahnya.

Belumlah lama lagi kami mengetahui dunia ini dan kebébasan, tetapi sekarang kami telah turutlah terbang dengan mereka itu pergi menempuh jalan-jalan yang berpagar besi itu.

Yang tidak pernah kami kenang-kenangkan sekarang telah terjadi. Kami telah menumpang di Betawi di rumah sahabat-sahabat baharu kami.

"tidak ubahnyalah saya ketika itu seperti mengarungi sekalian yang saya cahari, dan tuan kedualah pula harus saya temui. Dan betapalah besarnya hatiku ketika saya telah bertemu dengan tuan."

Kami lahir kedunia maksudnya, supaya kami boléh ber­temu dimuka bumi ini dan supaya meréka itu boléh menunjuki kami dengan sebaik-baiknya untuk hidup kami yang akan datang. Sebelum meréka itu datang kamipun telah melayang-layang, tetapi ketika itu sekeliling kami masih gelap gulita. Dengan tiada disangka-sangka datanglah meréka itu memberi kami haluan yang tetap dalam penerbangan kami yang melayang-layang tidak bertujuan itu. Kesanalah tujuan kami, jalan itulah yang akan membawa kami ketempat cita-cita kami! ........................

Saya berharap didalam surat yang akan datang, saya akan menceriterakan tentang agama dengan seterang-terangnya. Se­nang hati kami karena nyonya mau memperkatakan hal itu dengan kami, karena dengan nyonya boléhlah kami memperkatakannya dengan sebébas-bébasnya. Marilah saya katakan dahulu kepada nyonya akan menyenangkan hati tuan: percayalah tuan bahwa kami akan tinggal selalu menurut agama kami. Besar harapan kami moga-moga dapatlah kami membaguskan maksud rukun-rukun agama kami pada pemandangan me­réka yang beragama lain.

Selalu kami mengetahui dan ma'lum, bahwa pada "batinnya" ujud segala agama yakni: "kebaikan". Segala agama maksudnya baik dan bagus, tetapi ó, manusia! "apakah yang telah kamu perbuat dengan agama itu?"

Agama maksudnya rahmat, akan mempertalikan sekalian machluk dibumi ini, putih dan hitam, tiada memandang pangkat, kepercayaan laki-laki atau perempuan. Sekaliannya anak cucu nabi Adam dan hamba Tuhan yang esa! tidak ada Tuhan yang lain, melainkan Allah, kata kami orang Islam, dan demikian pula kata sekalian meréka yang ber Tuhan yang esa. Allah itulah Tuhan yang menjadikan bumi dan langit.

Karena sekalian machluk. asalnya dari nabi Adam, boléh dikatakan sebagai bersaudara segala laki-laki dan perempuan dan haruslah hendaknya berkasih-kasihan, tolong-menolong dan bantu-membantu seorang dengan yang lain. Bahwa sesungguhnya tolong-menolong dan bantu-membantu dan berkasih-kasihan itulah yang terutama menjadi sendi sekalian agama.

Ya, ya, jikalau sekiranya sekalian orang mengetahui dan melakukan yang demikian itu, tentulah agama itu memperoléh seperti ujudnya yang asli, yakni: rahmat bagi kemanusiaan di atas dunia!

Itulah yang memanaskan hati kepada agama, karena meréka yang mempunyai sesuatu agama mencela, menghinakan dan terkadang-kadang memerangi meréka yang beragama lain. Hingga itulah dahulu perkara agama itu.

Sayang!...... di antara bahasa-bahasa tanah Eropa, bahasa Belanda sajalah yang pandai kami membacanya. Iba hati kami memikirkan hal itu. Suka benar kami hendak mempelajari bahasa-bahasa Eropa yang lain. Kenang-kenangan kami yang besar sekali hendak bersuka raya membaca kitab-kitab yang bagus, karangan bangsa-bangsa asing itu dalam bahasanya sendiri. Tetapi tidak adalah orang tempat kami akan mempelajarinya disini. Sekarang maksud kami hendak memulai belajar bahasa Perancis, karena untunglah ada di­ sini sekarang seorang guru perempuan, sahabat kami yang suka menolong kami mengajarkannya. Ia dahulu turut pula berkenalan dengan suami nyonya.

Adakah kitab-kitab yang tuan katakan dahulu, karangan tuan Lessing dan ceritera pendéta Ramabai, diterjemahkan orang dalam bahasa Belanda? Telah acap kali kami mendengar kabar, bahwa pendéta Ramabai itu ialah seorang perempuan Hindia yang berani. Ketika saya masih dalam sekolah, disanalah saya mula-mula mendengar namanya. Masih teringat oléhku sekalian ceriteranya itu. Saya ketika itu masih kecil, ber'umur kira-kira 10 atau 11 tahun. Tiadalah terkira-kira besar hatiku ketika mendengar ceriteranya didalam surat kabar. Gementar badanku karena kegirangan. Rupanya tiadalah perempuan bangsa kulit putih saja yang dapat hidup merdeka dan membébaskan dirinya! Pun...... perempuan bangsa kulit hitam, dapat pula membébaskan diri, hidup merdéka.

Beberapa hari lamanya kenang-kenanganku kepadanya dan tidak pernahlah saya dapat melupakannya. Lihatlah contoh yang baik memberanikan hati itu, sungguh dapat menggerakkan hati yang lain; demikianlah kekuasaannya atas diriku!

Sekarang saya jawab tentang permintaan nyonya yang mulia itu, meminta kami bekerja bersama-sama untuk perbendaharaan kitab-kitab pembacaan anak-anak. Dengan segala suka hati saya mengatakan, baiklah. Adikku dan saya amat bergirang hati karena beruntung boléh bekerja bersama-sa­ma dengan nyonya, artinya dapatlah kami membesarkan hati tuan; kami berharap sungguh dapatlah hendaknya kami mengerjakan pekerjaan itu, dan jikalau tidak ada aral yang melintangi kami, kami bermaksud pada achir tahun ini akan mengirimkan kepada tuan tanda mata kami sedikit untuk kerja nyonya yang bagus itu.[7]

Alangkah bagusnya keadaan itu, karena telah ada dalam perasaan hati kami yang nyonya akan memintanya kepada kami. Sepekan sebelum kami menerima surat nyonya itu kami duduk diluar rumah didalam kebun, dan ketika itu malamnya amat bagus diterangi oléh bulan. Tuan tahu bahasa anak-anak Jawa biasanya pada bulan terang bermain-main dan bernyanyi diluar rumah. Dimuka kami adalah bermain-main sekawan anak-anak kecil. Ketika itu terkenanglah oléh kami, betapa hal kami pada waktu kami masih kecil seperti itu. Disanalah timbul pikiranku hendak mengarangkan waktu yang beruntung itu. Lalu saya ambil kertas dan pinsil dan saya tuliskanlah sedang bulan memancarkan cahayanya itu sekalian permainan dan lagu nyanyian anak-anak, yang keluar dari mulutnya itu. Alangkah sekonyong-konyong keadaan itu, bukan? Tiada berapa lamanya kemudian dapatlah saya sepucuk surat dari pada tuan dengan permintaan yang tersebut itu.

Sekarang saya dan adik-adikku meminta banyak terima kasih atas kitab-kitab yang nyonya kirimkan untuk kami itu. Tahukah tuan apa yang kami katakan setelah membaca kitab-kitab itu? Kitab-kitab itu betul kitab-kitab untuk anak-anak, tetapi orang tua-tua boléh juga dan patut sekali membacanya, karena banyaklah pengajaran yang dapat dipetik oléh meréka itu didalamnya.

Panjanglah karanganku nanti bila saya katakan pikiran­ku tentang kitab itu sebuah-sebuah, tetapi percayalah nyonya, bahwa jaranglah kami membaca kitab-kitab dengan berhati girang, seperti membaca kitab yang tuan kirimkan itu. Tiadalah saja kitab-kitab itu kami baca untuk pembesarkan hati seketika lamanya, dan sesudah itu melupakannya, tetapi sekalian yang tersebut dalamnya kami tuliskan dalam hati dan tiadalah lagi dapat kami lupakan. Betapa besar hati kami mendengar nyonya ada mempunyai buah pikiran yang sebanyak itu. Kami banyak meminta terima kasih akan kebaikan nyonya itu. Tentulah banyak didalamnya yang dapat dipetik, lagi boléh dijadikan pengajaran. "Perbincangan yang perlu tentang perkara yang penting-penting" dalam kitab itu, kami pandang sebagai jadi hubungan isi surat nyonya yang achir kepada kami. Kami keduanya sebagai mendapat ijazah rasanya!

O, banyak kami meminta terima kasih kepada nyonya atas sekalian pemberian nyonya yang kami misalkan seperti intan mestika itu. jikalau sekiranya tuan dapat melihat ketika saya menulis surat ini, tentulah tuan dapat menyaksikan sendiri, bahwa mataku lebih banyak lagi mengucapkan syukur dari pada péna dan mulutku, dan lebih nyata lagi mengatakan apa yang terasa didalam hati kecilku tentang tuan.

Karangan nyonya yang bernama "Buah tangan pulang mu­safar", bukan buatan bagusnya, dan dengan itulah dapat tuan menambatkan hati bangsa Jawa kehati tuan dengan kukuhnya. Karangan itu seperti sebuah manikamlah dimata kami. tidak dapatlah lagi saya mengatakan telah berapa kali saya sudah merasai kelazatan karangan tuan itu, selalu membesarkan hatiku. Kalau sekiranya saya menjadi bapak tua itu, tentulah saya akan berbuat demikian juga, karena sangat kasih sayangnya akan anak yang dicintanya itu, dapatlah nyonya mengambil hati si tua itu. Seperti tampak oléh mataku sekarang bahasa si bapak dengan anaknya yang bagus itu dalam pangkuannya, dan tampaklah pula oléhku seorang nyonya Eropa, yang tiada malu dan enggan mengambil si anak itu dalam ribaannya, memeluk dan menciumnya, setelah itu berjabat tangan lagi dengan seorang désa yang bodoh serta sudi minum dirumahnya dengan cangkir yang seburuk itu!

Bukan buatan senang rasa hatinya dan sukanya melihat kelakuan yang demikian! Orang Jawa mémang adalah mempunyai suatu perasaan yang amat tajam atas hati yang peramah dan penyayang, apalagi kalau sekalian itu datangnya dan pada bangsa kulit putih, bangsa yang tinggi kedudukannya dalam pemandangan meréka itu.

Ah, betapakah baiknya kalau sekiranya sekalian bangsa ku­lit putih mengetahui, betapa mudahnya meréka boléh menarik hati saudara-saudaranya bangsa kulit hitam itu. Berilah meréka itu kasih dan sayang, tentulah tuan-tuan akan dicintai dan dikasihinya pula. Mengeluarkan kata yang tidak berapa susahnya bagi tuan, lihatlah betapa hasilnya.

Karangan tuan: "Apakah yang akan dibaca anak-anak?" telah saya baca dalam surat kabar "de Gids" pada dua tahun yang telah lalu. Ketika itu saya telah menyukai juga membaca buah-buah pikiran dalam hal itu. Pasal itu belumlah sekali juga diindahkan oléh bangsa Bumiputera, belum pernah sedikitpun meréka mengerjakan apa-apa untuk pembacaan anak-anak itu.

O, berapalah beruntungnya kami, hidup pada waktu ini dimana-mana saja banyaklah kerja yang patut diperbuat! Sebentar saja diunjukkan tangan telah dapatlah kami ker­ja yang baik dan berharga! Keadaan itu amat membesarkan hati kami! Apabilakah gerangan waktunya akan datang, bangsa kami akan terbangun dari pada tidurnya dan pergi bekerja mengerjakan kerja, yang telah berunggun-unggun banyaknya disana-sini, yang sekarang sedang menantikan tangan-tangan yang ringan! Adakah hidup juga kami kalau waktu itu datang?

O, tidak, janganlah kami berkehendak sebanyak itu. Biarlah kami mengucap syukur, jikalau sekiranya dapatlah ka­mi menebas jalan akan pergi kesana.

Dan bilakah waktunya yang kita sebenar-benarnya akan berhadap-hadapan, dan akan berjabat tangan akan meminta terima kasih kepada tuan atas sekalian yang bagus dan mulia, yang telah tuan berikan kepada kami itu dan yang akan kami terima lagi?

Sabarlah!............. ! harapan dan keberanian kami masih banyak. Selalulah kami mengucap syukur, karena kami telah mendapat tuan, dan sekali-kali tiadalah kami akan melepaskan tuan lagi, o, tidak! Bukankah sekarang nyonya telah suka menjadi sahabat kami, selalu akan memberi kami nasihat, dan akan menjadi penunjuk jalan kepada kami selama-lamanya? Tuan jawablah: suka; karena itu bukanlah untuk seorang dua saja, tetapi untuk bangsa kami sekalian, terutama untuk sekalian perempuan Jawa!

Tentulah kami akan beriba hati, kalau sekiranya waktu itu telah datang, yakni waktu kami akan memberi selamat tinggal kepada sekalian meréka yang telah bercampur-gaul dengan kami dan turut bersama-sama bersuka raya dan berbahagia dalam hidup kami. Tetapi maulah kami berangkat, setelah mendapat rahmat dari pada orang tua, kekasih kami. Rahmat itulah yang akan menerangkan haluan kami yang gelap gulita, yang akan mendinginkan hari yang panas dan yang akan melemah-lembutkan angin yang keras! Suatu kehéranan besar, yang tidak pernah masuk ke dalam pikiran kami dan belumlah pula pernah kami mimpikan, tetapi sekarang betul-betul telah terjadi: Ibu kami, yang lain pendidikannya dari pada kami, dan tiada sekali-kali sesuai dengan pendidikan kami, sekarang telah menurut kemauan kami dan merasa seperti kami juga, kehendaknya dan mimpinya betul seperti kami pula. Itulah suatu rahmat dari pada yang mahatinggi dan yang mahakuasa, yang datangnya dari Tuhan rabu'lalamin!

Sebenarnyalah juga kami lebih dahulu telah berjalan dijalan yang panjang dan berduri, tetapi lihatlah sekarang, bahwa kamipun telah sampailah juga kepintu hati ibu kami itu, dan sehingga dapatlah masuk sekalian cita-cita kami ke dalamnya; apabila pintu telah terbuka sekali, tentulah akan terbuka untuk selamanya. Banyaklah sengsara yang telah ditanggung oléh ibu kami yang baik hati itu. dan banyaklah pula kedukaan hati kami, karena hal itu pada waktu yang telah lalu, sebelum kami sampai kemuka pintu itu dan bertemu disana dengan ibu kami.

28 Juli 1902 (VIII)Sunting

Awan melindungi langit tiadalah berzaman-zaman lamanya demikian pula sinar matahari meneranginya. Sesudah malam yang gelap gulita, datanglah siang yang amat cuaca. Dengan keadaan itulah saya menghiburkan hatiku. Hidup manusia ini sungguhlah sebagai keadaan alam.

Yang kami pohonkan siang dan malam kepada Tuhan, ialah: kekuatan!

Hujan yang bermulalah, yang menyebabkan sebatang pohon berdaun dan bertunas, oléh hujan yang kemudian ditumbangkanlah pohon itu kebumi dan buruklah ia disana.

8 Agustus 1902 (X)Sunting

Berkirim-kiriman surat itulah suatu keadaan yang terutama dalam hidup kami. Hampir sekalian pengetahuan kami, kami peroléh karena berkirim-kiriman surat; kalau tidak karena berkirim-kiriman surat itu, mustahillah kami akan berani merusakkan adat istiadat dan kebiasaan yang telah setua itu.

Engkau tidak tahulah, atau yang sebenarnya mestilah engkau tahu apa benar artinya kepada kami surat-surat sahabat-sahabat kami itu, karena meréka semua ahli pikiran dan budiman belaka. Dari kemanusiaan meréka itu keluarlah pi­kiran yang suci dan mulia, yang membersihkan hati dan meninggikan darajat. Meréka itulah yang mengasah pikiran dan menghaluskan budi pekerti kami. Dari kantor pos banyaklah kami terima yang bagus-bagus, yang molék-molék, yang mahal-mahal, bermacam-macam intan dan mutiara, untuk kepala dan dada kami.

Sekalian perbincangan mémanglah terlukis juga didalam hati.

Tetapi tentulah engkau akan membenarkan pula, bahwa kata-kata dalam perbincangan itu lama-lama menjadi luput, meskipun pokok perbincangan itu akan tinggal tersisip dihati. Tetapi surat-surat dapatlah mengulang sekalian katakata yang ada didalamnya dengan lurus dan tetap, pada setiap waktu, bila saja dikehendaki.

10 Augustus 1902 (VI)Sunting

Apa yang tuan katakan kepada kami itu, ibuku telah acap kali mengatakannya kepada kami: "Sekalian kepandaian ialah kurnia gusti Allah. janganlah engkau menyangka kalau sekiranya engkau telah membuat barang sesuatu yang baik, bahwa pekerjaan itu perbuatanmu sendiri. Kita manusia hanyalah menjadi perkakas dan tukang yang mengerjakan sekalian kemauan Tuhan saja. Kebijaksanaan dan kepandaian dikurniakan kepada kita; dan dalam hal itu kewajiban kita yakni menjaga sekalian itu dengan sebaik-baiknya."

Itulah kepercayaan ibuku yang amat teguh, telah diperöléhnya, setelah merasai bermacam-macam penanggungan. Karena kepercayaan itulah maka ia mau memberi kami izin. Sekali-kali tidaklah kami memaksanya memberikan izinnya itu. Sekarang tawakkallah ia dalam hal itu, dan turutlah pula memimpikan cita-cita kami bersama-sama.

Jikalau orang mengumpatnya tentang hal kami, jawabnya péndék saja: "Meréka itu anak kami, tetapi bukanlah kepunyaan kami. Meréka itu kepunyaan Tuhan yang menjadikannya dan Tuhan pula yang mengatur hidup dan nasibnya. jalan kepadang "kebajikan" lahir dan batin, amat banyak; Allah telah menyuruh meréka itu menempuh jalan yang sukar dan ajaib; kami, orang tuanya percaya dan berharap kepada Allah, bahwa jalan yang ditujui meréka itu, ialah pergi kepada "kebaikan."

Betapalah besar hati ibuku nanti kalau kami kabarkan kepadanya apa yang telah tuan katakan kepada kami itu.

Sekarang ibuku tidak ada di rumah; ia pergi melihat seseorang adik kami yang perempuan sakit. Ibuku itu sahabat kami, dan iapun banyak meminta terima kasih atas sekalian pertolongan tuan kepada kami itu. Ibuku telah berkata kepadaku: "Saya berharap sekali hendak bertemu dengan nyonya van Kol akan meminta terima kasih, sebab ia telah membukakan pintu hatimu kedua. Sungguhpun ia tiada seagama dengan kita, tidak adalah alangannya, karena Tuhannya Tuhan kita pula, Tuhan segala machluk."

Beruntung benar kami rasanya, tuan telah memberi kami nasihat, supaya kami jangan bersombong diri. Kami banyak meminta tenma kasih atas nasihat tuan itu.

Tetapi senangkanlah hati tuan. Kami ialah anak dari seorang bapak yang berpangkat mui ia dan berkuasa, tuan telah tahu apa artinya dalam dunia Bumiputera kekuasaan dan kemuliaan yang seperti itu. Dimana saja berkumpulnya kekuasaan, kemuliaan, masyhur dan ternama, disitulah puncak tuah yang setinggi-tingginya dalam pemandangan dan kepercayaan bangsa kami; kami sejak dari kecil dimanjakan dan dimuhakan orang, tetapi sekarang muntah dan bencilah kami melihat hal itu. O, bukan buatan -pilunya hati kami melihat seseorang tua, yang telah putih rambut dikepalanya wadiyib menjongkokkan dirinya kepada anak-anak. ItuLah adat naman ya!!! Sungguhpun kami tidak dapat menolak segala adat yang menghinakan itu, tetapi tidak pernahlah kami menyukai orang mencium kaki kami.

Banyaklah hal yang telah menyuruh kami berfikir dan tepekur; makin lama makin teranglah hal itu pada hati kami, bahwa: Kewajiban kami, kewajiban yang amat tinggi sekali, yaitu kami wajib bersungguh-sungguh dengan segala kekuatan menjalankan daya upaya kami, supaya hasil sekahan usaha kami itu dapatlah setimbang dan berharga sebagai gunung kehormatan dan kemuliaan yang diberikan oléh anak Bumiputera kepada kami itu.

Cita-cita bangsawan Bumiputera wajiblah hendaknya: "kebangsawanan kami harus berbanding dan sama harganya dengan kehormatan bangsa kami!"

Hanyalah dari pada beberapa orang saja kami suka mendengar kata-kata yang halus dan manis, karena kepada meréka itu percayalah kami, meréka dalam hal itu sekali-kali tidaklah bermaksud hendak memanjakan atau memuji kami. Tetapi kata-kata meréka itu isinya ialah kekuatan yang amat berkat. yang mengukuhkan dan memberanikan hati kami pergi berbuat baik.

15 Augustus 1902 (I)Sunting

Karangan Nellie van Kol, yang amat menggembirakan hati didalam surat kabar "Oost en West" itu, telah dipetik oléh beberapa surat kabar disini; dan surat kabar "De Echo" umpamanya, telah menambah pula karangan itu dibawahnya, meminta supaya sekalian perempuan di tanah Hindia, terbuka hatinya suka membantu dan menolong kami. Sekalian hal itu membesarkan hati kami. Surat kabar "De Echo" itu telah mengutip pula beberapa perkataan dari suratku dan memasukkannya seperti perbuatan Nellie juga, dalam karangannya. Surat kabar itu meminta pula kepada kami, supaya isi surat itu sekaliannya atau sebagian boléh dimasukkannya ke dalam surat kabarnya. Menurut pikiranku tidak usahlah itu; cukuplah sebuah saja suratku disiarkan didalam surat kabar, apalagi didalam suratku yang kepada Nellie, telah diterangkannya segala halku itu. Ada pula seorang lagi meminta izin kepadaku hendak menyiarkan suratku yang berisi karangan tentang alat kawin orang Jawa. Hilda de Booylah yang memintanya itu, ia anak perempuan tuan Charles Boissevain, directeur surat kabar "Al­gemeen Handelsblad". Disalinnya surat itu dan dikirimnya kenegeri; dan sekarang kakaknya yang laki-laki yang menjadi sekertaris dikantor surat kabar itu meminta menyiarkan karanganku itu didalam surat kabarnya. Karena adalah akan memberi paédah besar bagi bangsa kami. Dalam tiap-tiap hal orang Belanda lebih mengerti kalau membaca surat-surat yang demikian, bahwa bangsa Jawa dalam beberapa hal mémang lebih tinggi darajatnya dari pada meréka itu dan da­lam bermacam-macam hal sama tinggi, dan dalam pada itupun belum tentulah pula, bahwa bangsa Jawa dalam bebe­rapa hal yang lain rendah darajatnya dari pada bangsa Be­landa. Begitulah kata tuan Boissevain.

Bagaimanakah pikiranmu tentang hal itu, Stella?

Saya sekarang sedang mulai menulis sebuah karangan untuk s.k. "Belang en Recht". Saya harap karangan itu akan diterima orang! Saya mengarangkan karangan itu dengan be­sar hati. Kalau karangan itu tidak diterima orang, biarlah ia kuubah sedikit untuk surat kabar yang lain.

Untuk Nellie kukumpulkan dongéng-dongéng Jawa dan adikku Rukmini sekarang sedang membuat gambar-gambarnya.

O, Stella, betapa banyaknya hal keadaan yang bagus-bagus, yang telah kami dengar dari mulut anak Bumiputera. Kebijaksanaan dan kebenaran, dikatakannya dengan mudahnya dan dengan merdu bunyinya. Betapakah baiknya kalau bahasamu kupelajari sampai pandai, betul seperti orang Belanda benar, dan kemudian kuartikan kata-kata yang manis dan yang merdu bunyinya untuk lagu itu! Sekiranya tuan-tuan sekalian mema'lumi cita-cita. hati kami, betapalah sayangnya engkau sekalian kepada kami. Kedudukan kami ini masih dekat kepada alam, kepada asal kejadian. Kebijaksanaan bangsa kami tidaklah memecahkan benak untuk mengertikannya. Sekaliannya kata-kata yang péndék-pendek, tetapi amat bagus bunyinya dengan sederhananya.

Alangkah baiknya kalau sekiranya dapat saya mengajarkan bahasa kami kepadamu; sehingga dapatlah engkau hendaknya bersuka hati memetik sekalian yang bagus-bagus dalam bahasa itu. Semakin dalam pengetahuanku tentang cita-cita hati mereka itu, makin tinggilah darajat meréka 'itu tampaknya dalam pemandanganku. Pada bangsamu orang-orang bijaksana dan pengarang-pengarang kitab, hanyalah terdapat didalam kumpulan orang yang patut-patut saja, demikian juga tertib dan kesopanan; dan orang banyaknya, bolehkah saya katakan terus terang?.... kasar. Tentu adalah juga di antara orang banyak itu yang tinggi kesopanannya, tetapi yang banyak sekali di antara itu, Stella? Hal itu tentulah engkau lebih ma'lum dari padaku.

Tetapi cobalah engkau pergi berjalan-jalan dengan saya kekampung-kampung, dan marilah kita masuki pondok mereka yang buruk itu dan dengarkanlah disana tutur mereka dan buah pikirannya....... Meréka itu sekaliannya tiadalah bersekolah, tetapi kata-kata yang dituturkannya itu tidak ubahnya seperti kata-kata dalam syair. Lemah-lembut, ringkas-ringkas dan merendah diri!

Jikalau kita kedua bertemu nanti boléhlah saya ceriterakan kepadamu bermacam-macam hal tentang bangsa ka­mi yang beradat halus itu, demikianlah juga tentang pikirannya dan perasaan hatinya. Engkau harus mengetahui keadaan itu dan mengasihi bangsa kami seperti kami mengasihinya.

Ahli-ahli syair dan ahli-ahli yang lain-lain banyaklah kedapatan di antara mereka itu; jikalau pada suatu bangsa adalah perasaannya untuk kebagusan, keindahan dan kecantikan hidup, mustahillah kesopanan batin, yang tersembunyi dalam hati bangsa itu rendah kedudukannya.

Sekalian yang suci dan mulia dalam hidup kita dinamai syair. cinta, sayang, kasih, kesetiaan, kepercayaan dan kepandaian, pendeknya sekalian yang dimuliakan, dihormati dan yang menambah keindahan, bernama: syair. Keadaan bangsa Jawa dan syair itu boléhlah dikatakan sehati dan senyawa. Sebab itu orang banyak, yaitu orang Jawa yang serendah-rendahnya, semunya pandai bersyair. Bagaimanakah pikiranmu tentang kehormatan yang amat memilukan hati yang dibeirikan anak-anak muda kepada orang tua-tua? Dan tentang memuliakan dan menghormati arwah-arwah meréka yang telah meninggalkan dunia itu?

Apabila mereka itu bersuka raya, selalu meréka mengenangkan arwah-arwah kaumnya yang telah meninggal dan meminta doa kepada Allah, supaya dilapangkan Tuhan juga hendaknya meréka itu dalam kubur. Dalam kesukaan dan kedukaan selalulah kami mengenangkan arwah-arwah kaum keluarga kami yang telah meninggal itu.

Dan perkataan ibu itu amatlah sucinya pada kami! Dalam waktu keputusan asa dan kesakitan, selalulah bibir yang pucat, yang tidak berdarah itu menyebut-nyebut kata "ibu" itu. "O, ibu, berilah kami pertolongan, berilah anak tuan bantuan."

Menyebut perkataan "ibu" itu dalam waktu kesakitan dan kesusahan, disanalah tampaknya bangsa Jawa amat memuliakan ibunya. Apakah sebabnya maka kami tidak memanggil bapak dan mengapakah maka "ibu" benar, yang kami panggil-panggil? Itu tidak lain sebabnya, karena manusia itu sejak dari kecilnya tahu dan merasa, bahwa "ibu" artinya dunia penjagaan dan kasih sayang!

Tiap-tiap barang yang terjatuh dari tangan, dipungutlah lekas kembali sambil mengatakan: "ya Allah, anakku!" Apakah arti kalimat itu dan apakah tandanya itu? Perlukah lagi saya akan menerangkannya?

Stella, saya bermaksud hendak meanpelajari bahasamu sungguh-sungguh, sehingga pandailah saya hendaknya mengertikan kepadamu, sekalian hal keadaan yang halus, terdapat pada bangsa kami. Sayapun mesti pula mempelajari benar-benar bahasaku sendiri, supaya dapatlah lagi saya mengertikan bahasa Belanda kepada bangsa kami, seperti yang telah kuketahui, betapa halusnya budi pekerti dan mulianya hati bangsamu itu. Maréka itu harus mengetahui, nienghormati dan mengasihi orang-orang budiman dan orang-orang besar bangsa Belanda, sekalian itu patut dilakukannya.

Kadang-kadang saya hendak bertangan sepasang lagi, supaya saya cakap mengerjakan sekalian yang kusukai. Kemauanku amat besar, tetapi kekuatanku terlalu kecil. Saya tentulah tidak boléh bekerja, sampai saya menjadi sakit, karena bekerja yang demikian, ialah suatu pekerjaan yang sangat bodoh. Tetapi mémang kerap kalilah saya menjadi bodoh, ya, karena kerap kali saya bekerja sampai larut malam; hal itu tidak baik untuk diriku. Dengan hal yang demikian barulah boléh maksudku sampai. Saya selalu hendak beker­ ja, tetapi akhirya nanti niscayalah saya tidak dapat bekerja lagi, karena badanku menjadi lemah. Alangkah malangnya saya kalau demikian. Sebab itulah sekarang saya berusaha, supaya saya tidak terlampau keras bekerja dan boléh hidup sempurna.

 
PENGGILINGAN TEBU DIDÉSA BATE, JEPARA.

15 Augustus 1902 (X)Sunting

Selamat! selamat! majulah kepandaian dan kerajinan Bumiputera; tentulah kepandaian dan kerajinan itu amat besar paedahnya pada waktu yang akan datang!

Tidak saya katakan kepadamu betapa besar hatiku melihat kemajuan itu. Saya mengucapkan banyak syukur kepada Allah atas hal itu. Kami suka sekali memuji bangsa kami dan mengangkat diri kami karenanya! Bangsa kami tiada terpandang, kerap kali dihinakan dan dianiaya orang!

Usaha tukang-tukang Jepara telah memberi berkat.

Tuan Zimmerman tercengang melihat perbuatan tukang-tukang bangsa kulit hitam, yang tiada diindahkan orang itu. Kepandaian bertukang kayu, bertukang emas, batik-membatik dan bertenun disini telah berarti. Tukang-tukang itu telah banyak menerima pesanan dari perserikatan "Oost en West" untuk keramaian St. Nicolaas. Kamipun turut berbesar hati. Sekarang dapatlah tukang-tukang itu memperbuat kenang-kenangannya yang bagus-bagus, buah pikiran yang indah-indah, yang terlukis dan tersembunyi dalam hatinya, mengaturkan ragi yang berombak-ombak dan warna yang berkilat-kilat, kilau-kilauan.

O, itulah yang amat membesarkan dan menyukakan hati, jikalau kita selalu boléh mencahari apa-apa yang bagus dan baik. cahaya yang asalnya dari Tuhan itu ada terkandung dalam tiap-tiap badan, biarpun badan itu amat buruk rupanya pada pemandangan orang. Kebenaran itu wajib hendaknya diketahui oléh sekalian orang pada waktu hidupnya, karena itulah kewajiban manusia yang membaguskan hidup, baik untuk hidup orang lain, baik untuk hidup diri sendiri.

Adalah seorang anak miskin datang kepada seorang perempuan tua. Orang tua itu bertanya, apakah kehendak si anak itu. Makan-makanan tidak ada padanya, apalagi perhiasan dan pakaian. Anak itu menjawab: "Saya tidaklah hendak meminta makan-makanan, perhiasan dan pakaian. ya ibuku, berilah saya bunga yang kembang dalam hati."

Bagaimanakah pikiranmu itu? O, cobalah engkau dengar permintaan anak itu dalam bahasa Jawa, betapa manis dan merdunya: "nyuwun sekar melati, hingkang mekar hingpun jering hati."

Perkataan yang demikian senantiasa boléh didengar. Kami sekarang sedang asyik menuliskan apa-apa yang bagus, yang kami dengar keluar dari mulut anak negeri itu. Perkataan "syair" tidak ada dalam bahasa kami; "syair" kata orang Jawa "bahasa-bunga", tidak benarkah perkataan itu? Kami sekarang mempelajari lagu-lagu bangsa Jawa. Tetapi bukanlah lagu yang meriangkan hati. Sudahkah engkau mendengar lagu-lagu itu dari bangsa kami sendiri? Gamelan tidak pernah berlagu riang, sedangkan dalam keramaian yang bergila-gilapun, lagu gamelan itu, selalulah yang merindukan hati, barangkali itulah sebabnya maka hidup itu selalu merindu dan tidaklah bergirang hati!

Surat ini sejak dari bermula sampai kehalaman ini saya tulis sedang mendengar nyanyi yang merdu, yang lagunya amat merindukan hati. Ketika itu hari telah malam, pintu dan jendéla masih terbuka, pohon cempaka yang tumbuh dimuka bilik kami itu sedang berbunga; sementara itu datanglah angin yang lemah lembut mendayu-dayu kemuka kami, membawa bau bunga yang semerbak itu, memberi selamat. Saya ketika itu duduk di atas tikar seperti sekarang, menghadapi méja rendah, disebelah kiriku duduklah adikku Rukmini yang sedang menulis juga, dan disebelah kananku duduklah Annie Glaser, pun di atas tikar sedang menjahit, dan dimuka kami duduk seorang perempuan membaca kitab hikayat dengan berlagu-lagu. O, berapalah énaknya! Seakan-akan dalam bermimpilah kami rasanya. Suaranya yang bagus dengan nyanyinya yang amat merdu seperti buluh perindu itu serasa menerbangkan hati dan nyawa kami tinggi keatas kayangan, tempat bidadari bersukacita. Betapa cita-citaku ketika itu supaya engkaupun turut bersama-sama duduk dengan kami dan bersama-samalah kita merasai, berbesar hati dan bermimpi. O, Stella, bermimpi bersama-sama!

Hidup ini bukanlah mimpi, tetapi ialah suatu kejadian yang sebenamja lagi mengecutkan hati, dan apa-apa yang benar itu tidak perlulah buruk jika kita tidak suka. Kebenaran itu tidaklah buruk, melainkan bagus, ia bagus selalu, kalau yang ada didalam hati kita itu bagus pula.

O, sebab itulah saya beharap agar pendidikan itu akan diperhatikan orang benar, terutama tentang budi pekerti yang berguna untuk kemajuan penguatkan kemauan hati. Kemauan itu haruslah selalu subur tumbuhnya dalam pendidikan anak-anak, ya, selalu....................

Tetapi sekarang telah sesat pula ketempat lain. Saya hendak membicarakan kepadamu tentang bangsa kami; bukanlah tentang pendidikan; hal itu nantilah kuceriterakan, bukan?

Disini adalah seorang perempuan tua tempat saya meminta sedekah bunga, yakni bunga-bungaan yang kembang dalam hatinya, yang harum baunya. Telah banyak saya diberinya, tetapi masih banyak lagi ada padanya, sangat banyaknya; dan saya inipun hendak meminta lebih banyak pula. Ia mau menambahnya, tetapi saya harus berusaha akan memperoléhnya; bunganya itu harus saya beli............Dibeli dengan apa! Dengan apa mesti saya beli?

Dan keluarlah suara yang penting dari mulutnya: "Puasalah engkau sehari semalam, dan berjaga-jagalah engkau seorang diri, terpisah dari yang lain."

"Habis malam datanglah siang"
Habis topan datanglah reda,
Habis perang datanglah menang,
Habis duka datanglah suka,"

Terdengar dengan merdunya sebagai doa ditelingaku. Itulah buah pikiran yang dikatakan oléh orang tua perempuan itu. Puasa dan berjaga-jaga itu hakikinya: "Menanggung kekurangan, kesengsaraan, insaf akan diri sampai cahaya datang. Mustahil cahaya akan datang saja kalau tidak didahului oléh gelap gulita; bagus, bukan?

Pandai menahan lapar, itulah suatu kemenangan pikiran yang suci dari pada kelobaan lidah; dan tempat yang sunyi itulah sekolah tempat berpikir.

Ketika saya masih kecil sekalian hal itu telah kuperbuat, karena biasa saja, tiadalah saya bertanya-tanya, karena orang-orang yang lebih tua dari pada saya dan meréka yang sama dengan saya berbuat demikian, saya buatlah pula. Setelah itu datanglah waktunya hatiku mulai bertanya pada diriku sendiri: "Apakah sebabnya maka saya buat hal yang demikian, dan apakah sebabnya ini begini dan itu begitu? Apakah sebabnya................ apakah sebabnya?.........." Itulah pertanyaan yang tidak berkeputusan lagi dalam hatiku!

Sejak itu tidak maulah saya lagi membuat barang sesuatu yang tidak saya ketahui hal keadaannya. tidak sukalah saya membuat menurut seperti yang biasa saja, kalau saya tiada mengetahui betul apa sebabnya. Apa gunanya dan apa maksudnya. Saya tidak mau lagi belajar membaca kuran, mengapalkan pepatah dalam bahasa asing, pepatah yang tiada saya ketahui apa artinya, barangkali juga guruku yang laki-laki atau yang perempuan tiadalah juga mengerti pepatah itu. "Katakan kepadaku dahulu apa artinya, baharulah saya mau mempelajarinya." Saya telah berdosa, karena kuran kitab yang suci amat tinggi dan mulia akan diartikan kepada kami.

Sejak itu kami tidak suka puasa dan membuat apa-apa yang lain dengan tiada memikirkan panjang, dan sekarangpun setelah memikirkannya, tiadalah pula dapat kami membuat itu. Putuslah pikiran orang................ kamipun putus asa pula, karena tidak mau orang menerangkan kepada kami, apa-apa yang tidak dapat kami artikan itu. Tuhan kami ketika itu ialah angan-angan hati kami saja, kalau kami berbuat salah angan-angan kami menghukum kami, dan jika kami berbuat baik, maka kamipun mendapat berkat kami. Surga dan naraka kami ketika itu ialah angan-angan hati kami juga. Dari tahun ketahun kami bernama orang Islam, karena bapak kami orang Islam. Kami waktu itu orang Islam hanyalah namanya saja, lain tiada. Allah bagi kami ketika itu hanyalah suatu panggilan, sepatah kata, sebuah bunyi yang tiada berarti................Begitulah hidup kami sampai kepada suatu masa yang pikiran kami jadi berubah.

Pada hari Tuhan yang telah lama, telah bertahun-tahun, yang kami cintai dihati kami, sekaranglah baru kami dapat. Demikianlah lamanya dan sekianlah jauhnya kami telah mencahari. Dahulu kami tidak tahu, yang Ia didekat kami, selalu Ia ada dikeliling dan disisi kami. Ia ada didalam tubuh kami.

Siapakah orang yang menunjukkannya kepada kami? Betul telah lama terasa-rasa dihati kami, tetapi orang yang menunjukkan Tuhan kepada kami, yang telah sekian lama kami mencahari itu ialah Nellie van Kol. Dan siapakah orang yang membimbing kami dan menunjukkan jalan kepadanya, ialah ibu kami sendiri.

Betapalah dungu dan bebalnya kami ini, tiada mengetahui hal itu telah sekian lamanya, bahwa dekat kami adalah gunung mestika yang tiada kami lihat dan kami ketahui.

Bodoh, keras kepala dan mémang tinggi hatilah kami ini.

O, tidak dapatlah engkau pikirkan betapa besar hati ibuku melihat kami dengan perubahan ini, dan sekalian orang tua disinipun turutlah pula bersukacita. tidak ada sepatah kata yang keluar dari mulut meréka itu lagi, yang memarahi kami, dan jikalau kami menyesal dan menyalahi diri sendiri, karena budi pekerti kami yang sombong dan bodoh itu, maka merékapun berkatalah dengan lemah lembut serta membujuk dan memaafkan kami: "Barulah sekarang Tuhan berkehendak membuka hatimu, dan haruslah engkau mengucap syukur atas pemberiannya yang mulia itu!"

O, tidak dapatlah saya mengatakan kepadamu betapa tawakkal dan senang hati kami sekarang, betapa syukur dan terima kasihnya, dan bagaimana pula aman dan sentosa perasaan kami, karena kami telah mendapatnya, dan sebab kami telah mengetahuinya. Kami merasa sekarang, bahwa selalu adalah rasanya orang dekat kami dan yang menjaga kami. Tuhanlah jua yang akan membantu dan membujuk kami, dan ialah pula tempat kami berlindung didalam hidup kami pada waktu yang akan datang, itulah perasaan kami.

 
BILIK KERJA RADèN AJENG KARTINI.

17 Augustus 1902 (X)Sunting

Selamat pagi, lihatlah saudaramu ini datang lagi kepadamu akan berbincang. Hari masih pagi, sejuk dengan segarnya; saya duduk sekarang disudut dekat jendéla, mudah boleh memandang ke dalam kebun. Sekali lagi saya ceriterakan kepadamu keadaan kampung halaman kami rumah tangga kami dunia kami dan....... kurungan kami!

Sekarang saya hubung lagi perbincangan kita yang kemarin. O, jatuhlah air mataku melihatkan kegirangan hati orang tua-tua karena kami yang telah sesat dijalan ini, sekarang telah balik kembali kepada jalan yang benar. Adalah seorang tua disini telah memberikan kepada kami, karena kebesaran hatinya, satu susunan kitab-kitab dan hikayat-hikayat tanah Jawa, yang ditulis dengan huruf Arab. Tulisan itu akan kami pelajari sekali lagi membaca dan menulisnya. Engkau tahu bahwa kitab-kitab Jawa amat sukar mendapatnya, karena kitab-kitab itu ditulis dengan tangan; amat sedikit sekali yang dicécak. Kami sekarang sedang membaca suatu syair yang bagus dan berisi pengajaran yang baik-baik, terkarang dalam "bahasa bunga". Betapalah besar pengharapanku, yang engkau pandai hendaknya berbahasa kami. O, betapa suka hatiku hendak meriangkan hatimu bila engkau pandai membaca surat ceritera yang bagus-bagus itu dalam bahasa' Jawa sendiri. Kalau diterjemahkan tiadalah sebagus asalnya lagi.

Adakah ingin hatimu hendak belajar bahasa Jawa? Betul mempelajari bahasa itu susah, tetapi bagus! Itulah suatu bahasa perasaan, yang penuh dengan syair....... dan tajam. Kerap kali kami anak Jawa sendiri, tercengang melihat betapa tajamnya kadang-kadang perkataan bangsa kami. Apa saja yang engkau kehendaki dengan bahasanya bolehlah dapat diperbuatnya.

Cobalah katakan oléhmu apa-apa saja atau tunjukkan olehmu sesuatu barang, maka orang Jawa yang arif bijaksana, banyaklah kedapatan di antara orang Jawa yang sejati, yang dapat dengan lekas mensyairkan barang-barang itu, sehingga tercengang engkau mendengar betapa tajam dan geli perkataannya. Sepanjang pikiranku hal itu ialah sifat bangsa Timur. Sayang benar, ketika anugerah Allah itu turun kepada bangsa kami, saudara-saudaramu ini tertinggal di belakang saja. janganlah engkau menyangka bahwa saya hendak meminta pujianmu, karena sebenarnya demikianlah timbanganku. Lihatlah kenyataannya: Oléh karena déwa-déwa itu memandang kami seperti beranak tiri, hanya sedikitlah memberi kami kebijaksanaan dan kecerdikan itu, tetapi untunglah datang déwa yang lain memberi kami dengan sepenuh-penuhnya, hadiahnya yang bernama perasaan. Pada pikiranku terbanyak benar ia memberikan perasaan itu. Kami harus memakai sunggóeh-sungguh dan menjaga hati-hati kebajikan itu, supaya jangan menjadi kejahatan. Perasaan tajam mémanglah baik, tetapi terlampau tajam tidak baik lagi. Engkau lama lambatnya, barangkali sekarang engkau telah mengetahui, bahwa bagi saudara-saudaramu ini amat banyak sekali susah padanya menempuh jalan pertengahan. Apalagi bagi orang yang jauh sekali dipinggir, pertengahan itu sangatlah sukarnya akan dihampirinya. Saya mengatakan kesalahanku ini dengan terus terang, karena adalah permintaanku dalamnya. Mengertikah engkau apa maksudku itu? yakni: Tolonglah saya memerangi dan mengalahkan kesalahanku, maukah engkau? maukah engkau menunjukkan kepada sau­dara-saudaramu mana-mana,hal yang tidak baik itu? maukah engkau? maukah engkau melakukan seperti yang telah kami sangka, benar-benar seperti perbuatan seorang saudara, atau perbuatan seorang sahabat kami yang tulus dan ichlas?

Masih teringatkah oléhmu bunyi suratmu pada bulan Januari, yang memperkatakan tentang bunyi-bunyian, ahli-ahli kepandaian dan meréka yang berperasaan halus? Dalam hal itulah sahabat kami, seorang ahli pikiran yang pandai syair, telah mengajar kami dengan halusnya. Engkau tentulah segera akan mengetahui, jikalau sekiranya engkau bercampur-campur tiap-tiap hari dengan kami, bahwa pengajaran itu sungguh-sungguh kami pegang teguh, kami genggam erat. Dan ketahuilah oléhmu, bahwa dukacita tidaklah memerintah kami, melainkan ialah dibawah perintah kami. Menccengkil-cungkil kesakitan dalam hati itu artinya: mencari dukacita sendiri. Kewajiban kita ialah ,dengan sekuasa-kuasa badan, wajib mencoba supa­ya kita selalu lebih kuat dan perkasa dari pada kedukaan hati itu, supaya kedukaan itu boléh bekerja dibawah pe­rintah kita, akan meninggikan darajat kita!.....

Setelah beberapa hari lamanya hujan turun disini, kami pergi melihat kebun bunga-bungaan kami, yang telah binasa oléh hujan lebat. Disana kami lihatlah pohon bunga-bungaan yang binasa itu, penuh dengan tunas-tunas yang hijau. Habis hari berganti hari..... pohon-pohon bunga ros kami penuh pula dengan daun dan kuntumnya yang sangat harum baunya. Hujan, ya, hujanlah yang perlu baginya, supaya bunha-bungaan itu boleh menjadi sebagus itu. Hujan, ya, hujanlah pula yang berguna untuk cita-cita hati kami, supaya boleh tumbuh dan berbunga.

Sekarang tahulah kami. Air mata kami yang tercucur sekarang ialah berguna untuk menghidupkan biji sukacita, yang tumbuh dengan subur pada waktu yang akan datang.

Janganlan teraba-raba, janganlah menyesal-nyesal, janganlah menyumpah-nyumpah, jikalau sekiranya engkau didatangi oleh kedukaan, karena kedukaan itu perlu pula hidup di atas dunia, akan melakukan kewajibannya. Izinkanlah kedukaan itu dengan ichlas hatimu meninggikan darajatmu, sekalian itu boléhlah dikerjakannya, kalau eng­kau berhati baik. Benarlah kata budiman: "Api yang membersihkan emas, api itu lah pula yang menghancurkan kayu sehingga menjadi abu."

Sekarang harus saya menceriterakan kepadamu bagaimana jalannya kami berkenalan dengan Nellie van Kol. Barangali engkau sudah membaca dalam surat kabar tentang hal itu Apa yang akan saya ceriterakan kepadamu ini, ialah akan menjadi tambahan saja kepadamu: Pada pertengahan bulan April tuan van Kol menumpang semalam diróemah kami. Seorang perempuan Belanda, yang menyukai benar akan cita-cita saudaramu ini, menyuruh tuan itu pergi kemari, akan memperbincangkan cita-cita itu. Itulah asalnya pertemuan kami dengan tuan van Kol, dan pertemuan itu membesarkan hati kami, tidak dapat kami katakan.

Yang sebenarnya ia telah lebih dahulu menarik hati kami karena mengingatkan budinya untuk tanah Jawa dan bangsa Jawa: tetapi karena perjumpaan itu lebih kukuhah ia dalam kehormatan kami, bertempat dihati kami. Betul besarlah hati ketika bertemu dengan orang yang tinggi martabat itu. O, senang, senang sekali hatiku. Sesungguhnyalah suatu kejadian yang tidak akan hilang dari kenang-kenangan kami, ketika kami bertemu dengan orang-orang tuamu yang penyayang itu. Tahukah engkau bahwa sejak itulah mulai perubahan dalam hidup kami? Pertemuan itu membangunkan kami, menyuruh hidup dengan sebenarnya; dahulu dari pada itu hidup kami tinggal dimana saja, yang sebenarnya kami masih tidur, tidur nyenyak dan bermimpi. Sekarang hiduplah kami berperang dan berkelahi, berharap dan berputus asa, menanggung dan bersukacita, menangis dan bersorak sorai; itulah artinya hidup yang sebenar hidup! Kami telah merasai betapa enaknya menaiki puncak gunung kesukaan dan mencoba betapa pahitnya setelah menuruni lembah kedukaan. Sekalian itu tentulah telah engkau dengar dari pada ibumu. Saya sekarang berbesar hati, karena saya masih hidup.

Dari ibumu saya tahu, bahwa engkau suka benar akan maksud cita-cita kami. Engkaupun sendiri (telah mengatakan juga hal itu kepada kami. Tentulah engkau akan ber­besar hati pula mendengar, bahwa adalah lagi meréka, tiadalah sebarang orang saja, tetapi meréka yang tinggi martabatnya, pun suka benar akan kemauan kami itu. Meréka itu, ialah tuan van Kol dan isterinya.

Kepada tuan van Kol kami ceriterakanlah sekaliannya, dan kami minta supaya ia suka menguruskan hal kami itu, sebab itulah maka ia datang kemari dan iapun telah berjanji, bahwa ia dengan segala kekuatannya akan memban­tu maksud kami, betul seperti ayahmu hendak membantu kami pula.

Tidakkah besar hatimu mendengarnya bahwa hal-hal saudara-saudaramu ini akan diuruskan nanti oléh seorang yang bijaksana dinegeri Belanda dalam persidangan negeri? Se­kalian yang dapat diperbuatnya akan dikerjakannya hendak menolong saudara-saudaramu ini, supaya cita-citanya dapat disampaikannya. Ketika kami bercakap-cakap dengan dia tentang cita-cita hati kami itu selalu ia meminta, agar saya hendaklah lekas berkirim surat kepada isterinya. Isterinyalah yang dapat memberi kami nasihat. Mendengar hal itu hatikupun bercabullah dengan kegirangan. Betapa kasih serta hormatnya ia memperkatakan dan memuliakan is­terinya itu, yang menunjukinya dan memberinya nasihat bukan buatan. Tetapi lekaslah saya ma'lum, bahwa ialah bangsa laki-laki yang sebenarnya..... dan bukanlah sebarang laki-laki...... yang berkata sedemikian terhadap kepada perempuan. Bagi kami saat-saat yang demikian itulah waktu kami bersuka raya namanya. Laki-laki yang seperti itu tentulah banyak lagi, yakni laki-laki yang mau memandang perempuan tinggi dan menghormatinya karena ia perempuan.

Tiadalah saya tunggu lagi membuat itu. Sesudah tuan van Kol berangkat, maka saya tulislah surat itu. tidak tahu saya entah apa, entah bagaimana perasaanku waktu menulis surat itu, tetapi yang saya tahu hanyalah saya tidak ada berperasaan seperti kepada orang asing, pada hal belum pernah saya berkenalan ketika berhadapan dengan dia dan ketika berkata-kata menulis surat itu; dan begitulah pula perasaanku ketika bercakap-cakap dengan suaminya. Ketika menulis surat itu, maka nyonya itu kusangkakan sebagai ibuku; dengan tiada berpikir panjang, kucurahkanlah sekalian yang terasa dalam hatiku. Kepada suaminya tidak heranlah yang saya tidak usah malu-malu mengabarkan sekalian halku itu, karena ia sangat peramah dan baik hati, sebagian juga menerina bicara kami selalu dengan girang hati. Sungguh seperti bapaklah lakunya bagi kami. Besar hatiku sebab saya telah menurutkan hatiku dengan lekas berkirim surat kepada nyonya van Kol. Kamipun dengan lekas pula mendapat surat dari padanya dan betapa bagus bunyi surat itu! Kami merasa bukan buatan kayanya kami dengan sekian banyaknya kesukaan hati yang ditumpahkannya bagi kami itu. Tuhan telah memberi kami lagi seorang sahabat-hati, dan sahabat itulah pula yang mengajar kami pergi mencahari Tuhan yang esa sampai bertemu. tidak dapat saya terangkan kepadamu betapa besarnya untung kami ini! Kami tidak mau bersuka raya atas untung kami, yang kami telah berubah menjadi baik ini, tetapi kami, sengaja diam-diam dengan hati yang tawakkal mengucap syukur kepada Allah tentang sekalian yang telah kami peroleh itu. Dalam beberapa hari ini kami telah menerima lagi sepucuk surat dari Nellie, berisi bermacam-macam buah pikiran yang bagus dan mulia. Seperti suatu sungai mengalirlah kesucian hati dari tubuhnya. Itulah anugerah Tuhan kepada kami bertemu de­ngan seorang perempuan yang suci hati, lagi tinggi martabatnya. Ia berkata: "Baharulah kita boléh bernama sahabat manusia yang berhati tulus, jika kita menolong mereka itu dengan tiada lebih dahulu mencahari bantuan orang lain, hanya bantuan itu kita cahari terutama pada badan kita sendiri dan pada Tuhan kita." Kami banyak meminta terima kasih akan perkataannya itu. Kata itu lebih harganya kepada kami dari pada sekalian nasihat, yang telah dilimpahkannya untuk kami, ataupun yang akan datang. Apa yang dikeluarkannya dari hatinya dan yang diberikannya kepada kami, itulah "kasih" yang keluar dari hatinya, dari hati kecilnya. Sekarang ia berkata lagi: Orang yang sebaik-baiknya dan yang berhati pengasih dan penyayang, meréka itulah pula manusia yang lemah dan mudah bersalah. Serahkanlah dirimu kepada Tuhan. Ialah yang akan menyembuhkan luka hatimu dan yang akan menghapuskan air matamu."

Pada suatu hari, ketika saya sedang menulis surat ini adalah saya mendapat kedukaan yang boléh meremukkan hati dan memutuskan harap, jika sekiranya kami belum berkenalan dengan Nellie. Tetapi sekarang tiadalah lagi kami mencari penghiburan hati pada manusia, melainkan kami bergantunglah dengan sekuat-kuatnya pada tangan Allah. Oléh sebab itulah gelap gulita menjadi terang dan topan halilintar menjadi reda.

Kami tidak takut, sesungguhnya kami tidak takut, kemana saja kami pergi, selalulah ada Tuhan yang menjagai kami, melihatkan kami dan membimbing kami dengan kasih sayang.

Apakah gunanya kami mengindahkan manusia, kalau kami telah mengetahui akan Tuhan kami? Sekalian itu pekerjaannya dan telah ditakdirkannya lebih dahulu apa yang kami perbuat. Ialah yang akan memberi kekuatan untuk mengerjakan kerja itu.

Kami sudi memberikan sekalian apa yang ada pada kami, dan suka memberikan diri kami sendiri, demikianpun menerima: kesedihan yang melukakan hati. Air mata dan darah pastilah akan bercucuran dengan banyaknya, tetapi tidak mengapa; sekalian itu ialah akan membawa kami ketempat kemenangan. tidak ada terang cuaca yang tiada didahului oléh gelap gulta. Habis malam baharulah fajar menyingsing.

Sekarang tahulah kami akan Tuhan, dan hidup kami pun serasa bertambah bagus, hajat kami bertambah bagus dan bertambah baik. Allah telah memberi berkat sekalian itu!

Bagaimana pikiranmu tentang sekalian hal itu, Edie? Hanya sebuah yang kuketahui benar, ialah: engkau berhati besar mendengar hal keadaan saudara-saudaramu demikian itu.

Sekarang saya hendak bercakap-cakap dengan engkau sebentar, sudah itu haruslah surat ini berjalan. Kalau tidak, lama benar ia tertahan dan lagi ia telah terlalu panjang. Barangkali juga surat ini nanti menjemukan engkau. Katakanlah terus terang kepadaku! Berhati lurus itulah hendaknya sendi persahabatan kita. janganlah engkau malu mengatakan apa-apa yang terasa dihatimu, asal ada berguna bagiku, meskipun hal itu menyedihkan hatiku. Maukah engkau sedemikian, saudaraku? Makin bertambahlah hormatku kepadamu, jikalau engkau mengabulkan itu.

Kepadamu tidalah kami akan bersyak hati, bahwa engkau suka dan akan membiarkan saja, orang-orang kuli yang dibawah perintahmu dipukul dan diterajangi. Sayapun tidak suka melihat orang dipukul itu. Pilu hatiku bukan buatan melihat sipat binatang yang ada dalam hati manusia, sipat yang telah menarik hati manusia itu berubah menjadi binatang yang buas dan ganas menghinakan kehormatan ma­nusia itu.

Kami tidak mengerti adalah manusia, ya, ada pula perempuan-perempuan yang suka sekali pergi melihat orang dihukum siksa. Heran benar, tidak ada berhati manusia yang sedemikian dalam pemandangan kami. Engkaupun tahu pula, bahwa orang-orang rantai yang lari, biasanya dihukum pukul dengan rotan. Sesungguhnya orang yang tiada berhati manusialah yang suka melakukan pekerjaan memukul itu. Rendah dan hinalah, kalau orang Jawa yang melakukan kerja itu, dan bertambahlah, rendah dan hinanya, kalau orang Eropa yang suka berbuat demikian.

Saya telah melihat betapa seorang Eropa, bukannya orang bodoh, tetapi terpelajar, telah memukul móela-mula seorang anak kecil kemudian seorang perempuan dan seorang anak gadis kecil pada suatu peralatan, karena mereka itu tidak lekas melapangkan jalan untuk "tuan besar" itu. Saya menggertakkan gigiku melihat hal itu, supaya jangan keluar suaraku; tiap-tiap ia memalu itu diirisnyalah rasanya hatiku dengan sembilu. O, sangatlah pedihnya!

Tiadalah karena ngeri badanku melihat orang direjam demikian, tetapi amat pitu hatiku melihat kehinaan perbuatan itu, baik untuk orang yang dipukul, baik untuk yang memukul. Hukuman siksa itu tiadalah membaiki, hanya membusuki; demikian keyakinan kami.

Oleh karena itu anak-anak pegawai di tanah ini, radèn mas atau raden ajeng dan sebagainya yang mengatakan dirinya ialah machluk berpangkat tinggi dan berhak supaya dihormati seperti déwa-déwa oléh anak negeri, telah kerap kalilah kami melihat sampai mejemukan kami. Perbuatan yang demikian selalu meremukkan hati dan memanaskan darah kami. Melihat orang berbuat demikian kamipun diam. tidak bergerak dan tidak pandai berkata atau tertawa. Kemarahan dan iba hatilah yang menutup mulut kami itu. Seorang kenalan kami tahulah akan perasaan kami itu, lalu berkatalah ia: "Kami harus berbuat demikian, kalau tidak bagaimanakah kami yang hanya berpuluh-puluh orang ini dapat menjaga keamanan dan kesentosaan meréka yang beribu-ribu banyaknya itu? Telah lamalah kami lari diusir oleh mereka itu dan dilemparkannya kelaut, kalau sekiranya mereka itu tidak takut kepada kami."

Menurut perintah karena takut! Apabilakah pula waktunya akan datang, supaya orang akan menurut perintah karena Tuhan, yakni supaya kasih sayang sesama manusia, dapat masuk ke dalam hati manusia yang berjuta-juta banyaknya itu? Telah seribu sembilan ratus dua tahun pelajaran kasih sayang itu telah diajarkan, dan berapa ribu tahun lagikah maka kasih sayang itu boléh tersimpan dalam hati orang banyak menjadi haknya?

Ibumu sama sekali tahu akan hal hidup kami; sudahkah diceriterakannya kepadamu hal keadaan kami, ketika kami masih kecil, selalu dalam sengsara, karena diperintahi oléh saudara-saudara kami laki-laki dan perempuan, yang berkelakuan seperti raja-raja yang lalim?

Bagi kami telah diadatkan bahwa orang muda harus menurut sekalian perintah orang yang tua. Saudara Kartini yang sejak kecil telah mengehendaki kebébasannya dan merdéka, tidak suka diperbuat sedemikian. Kesudahannya tentulah saya selalu berbantah dengan kakak-kakakku laki-laki dan perempuan, karena saya tidak mau menurut perintah meréka yang sekehendak hatinya saja itu. Saya mau mengerjakan perintah itu, bila menurut pertimbanganku perintah itu adil dan baik. Demikianlah halku tatkala saya seorang anak kecil yang masih ber'umur 12 tahun, senantiasa berdiri dimuka satu pasukan musuh. Ketika itupun Tuhan tiadalah melepaskan saya. Ialah yang menolong mempertahankan saya waktu yang sukar itu. Banyaklah air mata yang memilukan hati, yang telah kami cucurkan ke­tika kecil. Tahukah engkau siapa sahabat kami waktu itu yang selalu membantu dan menolong kami? Kartono, tetapi ia biasanya tidak adalah di rumah, ia tinggal di Semarang. Persahabatan kami itu telah lama. sejak kami masih kecil. Semenjak saudaraku perempuan yang sulung telah dikawinkan, dan saudaraku laki-laki yang tertua pergi dari sini, berubahlah hal keadaan hidup kami. cita-cita kami masing-masing: "Kemerdékaan, sama rata, sama rasa dan persaudaraan!" Kami suka dikasihi dan disayangi, tetapi tidak ditakuti oléh saudara-saudara kami yang lebih muda.

Tiadalah saya hendak meninggikan diri apabila saya berkata, bahwa saudara-saudara kami yang kecil lebih suka bercampur gaul dengan kami dari pada dengan orang lain. Dalam percampuran kami selalu ada aturan dan perbandingan, tidak ada ketakutan. Kasih dan sayang menjadi tali yang kuat memperhubungkan kami sekalian. Berapalah banyaknya kami mendapat kesukaan dan keriangan dari saudara-saudara kami yang kecil itu! Banyak kami diajarnya. Demikian juga meréka yang telah bertahun-tahun menyiksa kami itu, ketika masih kecilpun jadi guru kami. Meréka itulah yang mengajar kami, bagaimana kami wajib bekerja, yakni tidak seperti meréka itu. Itulah lagi suatu keterangan yang menyatakan, bahwa kesengsaraan dan kesedihan hati perlu ada di atas dunia.

Meréka yang dahulu keras membantahi dan memerangi kami, sekarang datanglah kepada kami dengan kasih dan persahabatan yang baik. Sekalian hal itu tiadalah ditunjukkan meréka itu dengan kata-kata, melainkan dengan perbuatannya. Tiap-tiap surat iparku yang perempuan datang, selalu ia meminta supaya kami datang kepadanya, dan selalu berkata, bahwa kalau kami datang, memberi kebajikan kepada rumah dan ahlinya. Allah kaya, Allah mahakuasa!

Bolehkah kiranya ceritera hidup kami yang pendek itu dijadikan pula menjadi ceritera hidup dua bangsa, yakni bangsa Jawa dan bangsa Belanda? Adakah akan termakan oléh hati kita, bahwa Jawa dan Belanda akan hormat-menghormati dan kasih-mengasihi kelak?

Bagaimana memperbuatnya supaya kami sampai kepada kesengangan itu dan apa yang telah kami perbuat untuk keadaan itu tidak tahulah kami. Telah acap kali orang bertanyakan hal itu kepada kami. Hanyalah yang kami tahu bahwa kami mempunyai kasih dalam hati kami amat banyak. Itulah rahsia sekalian hal itu pada perasaanku.

Dengan girang hati kami berharap supaya banyaklah lagi hendaknya surat-surat dari Sawah Lunto yang akan pergi ke Jepara. Kabarkanlah sekalian hal kepada kami, ceriterakanlah sekaliannya, baikpun tentang kerja, hidupmu dan dunia disana.

Sayang! perkakas porterét itu kesukaan yang mahal harganya. Kalau tidak, sukabenar kami membuat porterét-porterét Jawa yang bagus-bagus dan ganjil-ganjil. Kami anak negeri sendiri boleh pergi kemana-mana melihat keadaan bangsa kami: ketempat itu, kemana bangsamu tidak boleh pergi, kami boléhlah pergi kesana.

20 Augustus 1902 (VII)Sunting

Kami kedatangan jamu dari Betawi, meréka sungguh-sungguh mencintai kepandaian bangsa kami dan meréka itu mau dan sanggup memajukan kepandaian itu. Sekaliannya ialah anggota-anggota pegurus "Oost en West” di Hindia, yang hendak membuka sebuah kedai barang-barang hasil kepandaian dan pertukangan bangsa Bumiputrera untuk keramaian Sint Nicolaas yang akan datang ini. Meréka itu suka benar, supaya hasil kepandaian dan pertukangan dari Jepara banyak tersedia disana.

Akan menguruskan pekerjaan itu telah terserah kepada kami dan kamipun amat suka mengerjakannya, itulah sebabnya maka saya tidak dapat lebih dahulu dari ini akan bercakap-cakap sekali lagi dengan sahabat kami di Princenhage. Suami tuan tentulah akan berceritera nanti betapa tingginya pertukangan ukir-mengukir dan kepandaian bertenun disini. Besarlah kesukaan hati kami, kalau kami dapat memberi tahukan kepada orang banyak akan kepandaian bangsa kami.

Menjadi penolong seperti itu ialah suatu kebajikan ke­pada kami, sebab dengan hal yang demikian dapatlah kami menunjukkan jalan kedunia yang baru untuk melakukan kepandaian yang keluar dari hati anak Bumiputera, yakni kepandaian yang menyuruh orang tidakajub dan menghormati tukangnya yang hina, orang Jawa, yang hampir tidak dihargai oléh sesama manusia.

Kalau kita melihat barang yang indah-indah itu, dan kemudian dilihat pula tukang yang membuatnya yang amat hina itu, demikianpun perkakasnya yang amat sedikit itu. tentulah kita akan tidakajub dan menghormati akan kepandaiannya itu, dan datanglah pula perasaan bagi kita, bahwa tukang itu ialah tukang yang sebenar-benarnya pandai. Pada suatu kali ketika kami tercengang melihat kepandaiannya itu, maka bertanyalah kami: "Hai tukang, dari manakah engkau ambil sekalian yang bagus-bagus itu?" Matanya yang tadinya melihat kebawah itu dipandangkannya sebentar kepada kami dan mulutnyapun tersenyum, lalu menjawab dengan mudahnya: "Dari hatiku, bendoro!"

Betapa besar hati kami mendengar jawabnya itu, dan be­tapa pula benci kami akan diri kami, sebab kami waktu itu duduk diserambi, tetapi ia duduk di tanah berjongkok dimuka kami, menghinakan dirinya, sedang martabatnya seratus kali lebih tinggi dari pada kami.

Mengapa? Apakah sebabnya? Karena kami dengan tiada disengajanya lahir kedunia menjadi anak seorang bapak yang berkuasa dan berpangkat tinggi. O, betapakah buruknya hal itu! .........................................................................................................

Syukurlah! usaha tuan serta kawan-kawan tuan yang lain, tentang keperluan yang penting itu telah membukakan mata negeri Belanda, yakni tentang pendidikan: pembacaan untuk anak-anak.

Beruntunglah tanah Belanda sebab mempunyai kekuasaan yang mulia sebagai tuan-tuan yang bekerja dengan hati-hati itu memperbaiki hati dan pikiran anak-anak Belanda. Dalam hal yang demikian beruntung benar anak Belanda kalau dibandingkan dengan anak Jawa yang tiada mempu­nyai sebuah juapun kitab pembacaan, lain dari pada kitab-kitab pengajaran disekolah. Seorang tuan yang ada bermaksud dan ada pula berkuasa untuk membaiki pendidikan anak-anak Bumiputera, telah merundingkan pada suatu kali tentang hal itu, yaitu telah beberapa tahun yang sudah, tetapi sekarang tidak adalah kami mendengar sedikit juapun lagi tentang hal itu.

Kami masih kecil ketika seorang inspekteur sekolah anak Bumiputera meminta, supaya kami karangkan ceritera-ceritera kecil tentang hidup anak-anak untuk anak-anak Bumiputera, dan karang-karangan itu akan diberi bergambar-gambar, dan akan dicetaklah dengan gambar itu sekali. Ketika kami tengah menulis karang-karangan itu, tiadalah kami menyangka-nyangka sedikit juapun, bahwa adalah nanti seorang juara perempuan, penebas jalan dinegeri Belanda, yang memberi anak-anak disana kitab pembacaan untuk pendidikan, akan meminta kepada kami, supaya kami sudi menolong bekerja membuat mahligai pendidikan yang bermenara indah-indah dan tinggi, mencapai udara yang suci, serta diberi berjendela yang bercerminkan kaca sejati banyak-banyak, tempat memandang kepada segala penjuru alam............... yang diperbuatnya untuk kekasihnya: budak-budak kecil yang nanti akan menjadi orang-orang besar pada waktu yang akan datang! Kami meminta kepada Tuhan, moga-moga biarpun sedikit dapatlah kami menolong kerja yang mulia itu.

Kami sekarang masih mengumpulkan dongeng-dongeng, ceritera-ceritera, permainan, dan pantun-pantun yang dimaksudi itu. Pada pikiranku, tidak mudah bagi kami akan menulis lagu dongeng-dongeng itu dengan tulisan musik. Pertama: karena kami, sungguhpun suka benar akan musik, tiadalah pernah mempelajarinya. Tetapi hal itu tidak mengapa, karena dapatlah juga diakali. Kesusahan yang terbesar ialah karena turun naik lagu pada bangsa kami tidak sama dengan turun naik lagu pada bangsa tuan, dan dalam hal itu adalah pula beberapa bunyi yang tidak ada dalam musik Eropa.

Pada pekan yang lalu kami bercakap-cakap dengan seorang Eropa, yang telah 20 tahun mengumpulkan bermacam-macam hasil kepandaian anak Bumiputera, pantun-pantun dan lagu-lagu, semuanya disimpan oleh tuan itu. Pun maksudnya hendak mengambil beberapa lagu Jawa, lagu gamelan akan penambah kumpualannya itu, tetapi sekarang belumlah dapat ia menuliskan lagu itu barang sebuah juapun, dengan tulisan musik, oleh karena kesusahan yang tersebut itu. Lagu-lgu gamelan itu memanglah amat susah, tetapi lagu-lagu nyanyian anak-anak amat mudah. Adalah berapa buah nyanyian anak-anak, yang telah kami coba melagukannya dipiano, hal itu dapat dilakukan; sekaliannya berbunyi tinggi dan rendah.

Rupanya adalah talipon yang tidak kelihatan, terentang dan "Lali jiwa" kemari, yang selalu dipergunakan oléh tubuhku yang tiada kelihatan pula. Karena kalau sekiranya tidak begitu halnya, tidak mengertilah kami, apa sebabnya ada beberapa pasal isi surat nyonya telah kami pikirkan, telah kami perbincangkan, ya, telah kami tuliskan pula sewaktu tuan menulis surat-surat itu. Dalam suratku yang bersabung dengan surat tuan, dapatlah nyonya membaca jawaban dalam beberapa hal yang telah nyonya tanyakan itu. Demikiainpun pikiran tuan tentang lagu-lagu, permainan dan dongéng-dongéng yang nyonya minta kirimkan itu telah pula kami perbincangkan sebelum kami menerimia surat tuan. Sungguh sayang sekali, kalau tidak dapat dituliskan dengan tulisan musik, karena nyanyian itulah yang membaguskan permainan dan dongéng-dongéng itu. Ketika kami masih anak-anak, kami tidak suka kalau tukang kabar yang berceritera itu tidak bernyanyi sedang berkabar, sebab demikianlah galibnya.

Beberapa hari yang lalu, kami telah berbantah tentang keperluan kitab-kitab. Lawan kami mengatakan, bahwa sekalian itu tidak berharga: cita-cita dan syair semuanya pekerjaan orang gila, kitab-kitab itu tidak ada seduit harganya, sama sekali tidak ada paédahnya.

Berapa besar hati kami ketika ésok harinya kami membaca didalam surat kabar "Amsterdammer" sebuah karangan nyonya tentang keperluan kitab-kitab itu.

Kami orang yang bodoh, masih dungu, dalam timbang-menimbang belum pandai; tetapi sekarang seorang ahli dalam hal itulah yang mengatakan.

Orang lawan kami itu betul ganjil, sebab itulah maka suka benar kami memperhatikannya dan mendengar pertimbangannya tentang hal itu. Ia seorang yang banyak bersipat baik, tetapi hatinya terlampau lemah. Padanya makin teranglah bagi kami, apa yang perlu sekali dimajukan untuk pendidikan anak-anak: "kemauan hati". Kalau tidak ada kemauan hati itu, sekalian sipat-sipat yang baik itu tidak berapa atau tidak ada harganya.

O, tidak dapat saya katakan kepada tuan, betapa terima kasih kami kepada tuan, yang telah menunjukkan kepada kami jalan kepadang kesenangan yang sebenar-benarnya, kepadang kemerdékaan yang mulia kepada Tuhan yang mahakuasa.

Siapa yang sebenar-benarnya mengerjakan suruh Allah, ialah yang bebas, tidak dapat ditawan orang. Meminta bantu kepada manusia, artinya menawankan diri kepada manusia.

Berapalah bagusnya dan berapalah tingginya pengajaran yang nyonya tunjukkan kepada kami itu. Kesenangan yang sebenar-benarnya, dimanakah tempatnya?

Ia tidak jauh, tetapi terlampau susah mencapainya; tidak dapat orang pergi kesana dengan tram, dengan keréta api, atau dengan kapal, dan uang emaspun tidak dapat membawa kita kesana. Bayaran perjalanan kesana amat mahal, yakni: air mata, darah dihati dan insaf mengenal diri. Dimana dia dicari?

Dibadan sendiri. Banyak benda boléh didapat didunia ini, yang membesarkan hati dan menyukakan kita, yang telah sekian lamanya kita cahari, yang bernama: kesenangan. Tetapi tiap-tiap kali mendapat yang bernama kesenangan itu, sekian kalilah pula kita merasai kesedihan, sebab yang kita peroléh itu tidaklah yang sebenar-benarnya.

Kesenangan yang sebenarnya, kesenangan yang selalu tinggal kekal, bertempat dalam tubuh dan bernama "kesenangan hati." Itu telah lama saya rasai dan nyonyalah pula yang mengajar saya menyebut nama itu.

Allah itu tidak mau kelintasan, kata orang. Ia tidak suka kalau orang menyembah allah-allah yang lain dari padanya, dan dihukumnyalah meréka yang membuat-buat dan menghormati allah-allah itu seperti Allah yang mahatinggi, dengan kekesalan dan kesedihan yang amat sangat.

Pun adalah kami bertemu dengan suatu kalimat yang isinya doa kasih sayang, bunyinya: "Tiadalah engkau boléh ber(mempunyai) allah-allah, yang lain dari padaku." Tidalah buh lagi dima'lumi dalam kalimat itu, bahwa manusia itu tinggal manusia juga,................. yakni machluk yang mudah bersalah.............

Sesungguhnya jika sekiranya dapat orang mema'lumi maksud kalimat itu dengan sebaik-baiknya, berapalah bagusnya. Tentulah banyak kedukaan yang akan terjauh dari pada meréka itu!

Benar jugalah bahwa banyak pula hal yang menyuruh kami senantiasa berinsaf diri, tetapi tiadalah kami hendak melupakan, bahwa nyonyalah yang telah memasang pelita dihati kami.

Bundaku amat berbesar hati dan meminta syukur akan perubahan, yang telah terjadi dihati kami. Ia amat ingin hendak bertemu dengan nyonya akan mengucapkan sendiri terima kasih atas kebajikan yang telah tuan perbuat untuk anak-anaknya ini: "membukakan hati kami akan Tuhan yang pengasih dan penyayang itu!"

Apakah sebabnya maka kami dahulu masuk bagian meréka yang tidak percaya akan Tuhan?

Karena amat banyak kami melihat hal yang hina, yang dibungkus bagus-bagus dengan syarat-syarat agama. O, tambahnya lagi dengki chianat dalam hati meréka itu satu dengan yang lain, sama-sama orang yang alim!

Kami ketika itu masih anak-anak dan berapalah panjangnya pikiran anak kecil?

Tidak dapat kami mengetahui dan mema'lumi, bahwa manusialah kiranya, yang berbuat jahat sambil menyebut-nyebut nama Tuhan, akan peliputi kejahatan yang telah diperbuatnya. tidak dapat kami mengetahui, bahwa sekalian yang ada didunia ini mula-mulanya bagus, tetapi kemudian oléh manusia diburukkannyalah sekalian yang bagus itu.

Sejak dahulu kami bertanya dan sekarangpun kami bertanya juga kepada siapa-siapapun bagaimanakah peijalanan hidupmu? Kami tidak mau menanyakan, apakah agamamu?

Kebaikan, itulah dahulu yang menjadi Tuhan kami, dan selalulah kami mau memperhambakan diri kepadanya; sekarang kamipun tahulah pula: Kebaikan dan Tahun esa adanya!

...............................................................................................

Sekarang kami sedang membaca sebuah syair yang berisi nasihat yang bagus-bagus dalam bahasa bunga. Kata syair tidak ada dalam bahasa kami, kami mengatakannya ba­hasa bunga, benarkah atau tidak? Adakah terkenang juga oléh nyonya malam-malam Hindia yang sejuk dengan terangnya, jikalau sekaliannya telah hening belaka, kecuali yang terdengar hanyalah lesir-lesir dipuncak kelapa, karena diembus oléh angin yang mendayu-dayu, bersih dengan harumnya, membawa bau kemuning, bau cempaka dan melati yang amat semerbak? Tiadakah sekali-sekali nyanyi-nyanyi yang merindukan hati datang menjelang tuan? Misalnya seperti nyanyi seorang Jawa yang berlagu-lagu dirumahnya untuk isi rumahnya dan orang sebelah-menyebelah rumahnya, menceriterakan hal ihwal kasih sayang pahlawan yang gagah berani, bermacam-macam alat keramaian dan tentang perempuan dan laki-laki yang molék-molék, ber'ilmu dan barkuasa; perihal putera-pcefera atau puteri-puteri pada masa purbakala?

Sekalian kitab bangsa kami terkarang dalam syair, dan membacanya mestilah dilagukan.

Waktu yang menyenangkan hati, ialah jikalau orang Jawa telah payah sesudah bekerja siang hari, pergilah ia meiepaskan lelalnya dengan bernyanyi-nyanyi menghilangkan sekalian kesusahan hidup, bernyanyi mengenangkan waktu purbakala, waktu yang amat permai itu; sekalian itulah yang dmjanyikannya seakan-akan ia membawa nyawanya dan dirinya ketempat itu. "Bangsa Jawa bangsa yang penuh kenang-kenangan," kata seorang sahabatku yang masih muda dengan sebenarnya. "Mémanglah sangat senangnya bermimpikan kayangan dalam tidur yang berzaman-zaman lamanya."

Keadaan itu benar; tetapi kami masih hidup dan kami perlu hidup, artinya kami wajib bergerak, maju kemuka!

Sahabat kami itu berkata pula: "Supaya sekaliannya sungguh-sungguh rajin bekerja dan dengan sebenarnya mengeluarkan kekuatannya, wajiblah kami membangunkan bangsamu!"

Karena hal itu banyaklah nanti kenang-kenangan yang bagus-bagus yang akan menjadi hilang lenyap; dan boléhkah kami, karena menakuti kehilangan itu, menahan diri supaia kami jadi bangun?

Bermimpi énak, mimpi itu bagus, tetapi apakah gunanya kalau mimpi tinggal mimpi saja? Kita harus menambah kesenangan dan keindahan mimpi itu, yakni mencoba supaya mimpi itu menjadi hal yang sebenarnya.

Amat banyak yang bagus-bagus pada bangsa Jawa! Karena tuanlah, maka dalam beberapa hari yang lalu ini, banyak kami mendengar bermacam-macam kebagusan dari mulut anak Bumiputera. yaitu sebab kami sekarang mengumpulkan dongéng-dongéng itu, jadi banyaklah kami bertemu dengan berupa-rupa orang bangsa kami, dan amatlah senang hati kami mendengarkan buah pikiran meréka itu.

Keterangan-keterangan meréka itu selalu ringkas, tetapi bahasanya amat bagus, dan sangat memilukan hati, karena kebenarannya dan kebijaksanaannya.

Betapalah ingin hatiku hendak mengirimkan kepada tuan sekalian buah pikiran yang bagus-bagus itu dalam bahasa yang amat merdu bunyinya itu: karena kalau diterjemahkan hilanglah kemerduannya itu.

Boléhkah banyak-banyak kami menerangkan kepada nyonya tentang hal keadaan bangsa kami? Pertanyaan itu tidak gunalah ditanyakan; karena tentulah tuan suka mendengar sekalian hal keadaan bangsa kami, sebab tuan kedua mémang sayang dan kasih kepada bangsa kami. Oléh karena cinta tuan kedualah maka kami mendapat kebagusan itu dalam hidup kami.

Bersama-sama dengan tuan percayalah kami, bahwa yang sebenar-benarnya itu tempatnya ialah dihati, dan tiadalah didunia.

Kami rasanya amat kaya dan senang karena telah mendapat sahabat-sahabat yang ada dihati kami itu. Amat lobakah kami ini karena dari siapa juapun maulah kami belajar?

...apalagi hendak belajar kepada meréka yang menambah pikiran dan meluaskan pengetahuan kami itu dengan jalan berkirim-kiriman surat?

Benci benar kami menerima surat yang tidak ada isinya, apalagi hendak membalas surat itu; sebab surat-surat yang sedemikian menyuruh kami bertanya: "Apakah gunanya ia ditulis?"

Kami betul-betul orang yang beruntung, karena kami dapat bercampur dengan meréka yang tinggi martabatnya itu.

Jauh ditengah-tengah pulau Selébés adalah seorang sahabat kami, manusia yang berhati bangsawan dan berpikiran mulia. O, alangkah hérannya kami melihat pekerjaannya yang mulja itu. Bagi kami seperti suatu keramaianlah, jika kami menerima surat dari Dr. Adriani, yang senantiasa amat bagus dan penuh berisi pengajaran. Betapa besar hati kami ketika kami bertemu dengan dia di rumah tuan Abendanon. nyonya Abendanon mempertemukan kami dengan dia, karena ia tahu, berapa banyaknya pengajaran yang akan kami terima dalam perjumpaan itu. Mengenangkannya dan memikirkan pekerjaannya saja, kepada kami sudah menjadi suatu bujukan, jikalau sekiranya kami disini melihat atau mendengar orang yang loba dan tidak ada menaruh kasih sayang. yang menyakitkan hati kami benar, ialah melihat kelobaan manusia, yang terkadang-kadang sungguh tidak ada batasnya.

O, berapalah senangnya hati kami yang selalu tinggal dalam dunia meréka, yang kaku dan dingin tidak mau mengacuhkan apa juapun, dan kebanyakan di antaranya tiadalah berhati dan berotak, jikalau sekiranya sekali-sekali kami dapat bertemu dengan seorang, yang hatinya penuh dengan kasih sayang, kegembiraan dan kebijaksanaan.

Syukur, ya. syukur kepada Allah, karena adalah kami berkenalan dengan manusia yang demikian, baik dékat ataupun jauh.

.................................................................................................................

Sayang sekali, tuan tidak kami kenal pada waktu perserikatan kami sedang maju. Sekiranya ada, tidak dapat tidak tuan akan berbesar hati. Tiga buah nyawa bersipat satu didalam tiga buah tubuh yang berdekat-dekatan lahir kedunia menjadi saudara! Banyaklah ribut yang telah menggoda kepala anak muda-muda itu dan banyaklah pula topan yang menyêrang hati meréka itu.

Saya ingat akan kata-kata tuan, "akan menyampaikan cita-cita wajiblah dibunuh beberapa kenang-kenangan."

Dari putik-putik bunga yang mati timbullah buah-buahan yang sampai masak; demikianlah pula halnya hidup manusia, bukan? Karena dari kenang-kenanganyang masih muda, dan lalu mati, bolehlah terkadang-kadang timbul kenang-kenangan lain, yang sampai masak menjadi buah...........

Sebuah kenang-kenangan yang besar telah matilah. Tatkala kami menguburkannya dengan air mata dan kedukaan yang amat sangat, terasalah oléh kami seperti sebuah sungai mengalir dalam badan kami dan waktu itu juga timbullah dihati kami suatu kenang-kenangan yang baru, yang lebih bagus dan lebih kuat! Kami ma'lumi dan rasai akan hal itu. Banyak lagi, ya, amat banyak lagi air mata dan kesedihan hati yang wajib tertucur, supaya dapat melepasKan dahaganya buah yang masih muda itu, hingga sampai menjadi buah yang masak.

Sabar, perbanyaklah sabar! Sekarang barulah kami ma'lumi apa yang dimaksudi tuan Abendanon, ketika ia menyuruh istirenya mengatakan kesabaran itu kepada kami. Banyaklah kiranya yang dahulu hanya bunyi saja kedengaran oléh kami, sekarang sekalian itu teIah ada berarti. ya, kami hanya boléh dan wajib berjalan lambat-lambat; "perjalanan itu amat jauh dan amat panjang; dan jalan itu amat curam dan sukar! Bersusah hati sendiri tiadalah mengapa; tetapi menggaduh sesuatu hal dalam perjalanan sangatlah mengecutkan hati kami.

Terkenanglah saya pada suatu malam, belumlah lagi berapa lama antaranya. Adalah seorang kenalan kami membawa berdua pergi mendengar musik di rumah komidi di Semarang. Itulah pertama kali selama hidup kami yang kami berdua saja, tidak bersama-sama dengan adikku de­ngan bapak atau dengan ibuku, duduk didalam manusia yang sebanyak itu. Kami hanyalah berdua saja, di antara orang-orang asing yang banyak itu. Dan sebentar terpikirlah oleh kami: Beginilah hidup kami nanti pada waktu yang akan datang kami hanyalah berdua saja dilautan hidup yang besar itu! Tetapi tawakkallah kami, karena adalah Tuhan yang menjaga kami!

Pada 20 hari bulan ini pikiran kami adalah di Tanjung Periuk. Disanalah tampak oléh kami kapal Willem II sedang berlayar meninggalkan pantai pulau Jawa, membawa suatu muatan yang amat mahal harganya, yaitu seorang sahabat yang tinggi martabatnya dan suci hatinya, yang amat kasih dan sayang akan tanah Jawa, pergi ketanah Belanda akan berbincang dalam persidangan Tweede Kamer, lebih keras dan perkasa dari pada yang sudah-sudah untuk keperluan berjuta-juta anak negeri tanah Hindia ini.

Willem II! Bawalah ia dengan selamat, untuk Hindia dan untuk anak isterinya!

Dalam hatiku adalah mengucap syukur, berasa pilu dan berharap, tetapi yang lebih terasa benar ialah penghiburan; kasih akan manusia, cinta akan kebenaran.................. sekalian itu benar belaka, tidak kosong dan bukanlah kata-kata yang sia-sia...................Kami percaya kepada kasih sayang!

Sekarang, o, guru kami, yang dicinta dan setia dan sahabat kami yang mulia dan pengasih, terimalah salam kami dan ucapan terima kasih banyak atas surat tuan, yang sangat membesarkan hati kami itu. Ialah yang menyuruh kami berinsaf diri dan menambah kekuatan serta membukakan pikiran kami yang baru.

2 September 1902 (VIII)Sunting

Sombonglah rasanya kami ini, karena kami mau melakukan diri kami menjadi seperti ibu bagi anak-anak yang lebih tua 'umurnya dari kami. Tetapi apalah gunanya dipikirkan 'umur itu? Sekalian manusia ingin kepada kasih sayang, baik orang tua-tua ataupun anak-anak kecil.

Sesungguhnyakah bahwa perempuan itu hanya kalau telah kawin baru boléh cukup kemuliaan yang diberikan Allah yang tersimpan dalam hatinya itu? Karena kemuliaan dan kehormatan yang terbesar bagi perempuan-perempuan, ialah menjadi ibu? Tetapi haruskah selamanya perempuan itu "beranak kandung" maka boléh menjadi ibu, menurut sebagai artinya kata itu: satu machluk yang penuh dengan cinta kasih sayang? Kalau sekiranya benar arti kata itu, ibu mesti beranak kandung, berapalah rendahnya pikiran manusia didunia ini, karena yang akan dikasihi oléh manusia hanyalah darah dagingnya dan sibiran tulangnya[8], yang dilahirkannya kedunia saja! Tetapi kalau demikian be­rapalah banyaknya ibu yang dikatakan orang ibu dimulut sahaja, karena ia telah melahirkan anak kedunia ini, dan pada halnya tidak layaklah ia mendapat nama ibu yang mulia itu.

Seorang perempuan yang menyerahkan dirinya kepada seseorang yang lain dengan segala kasih sayang yang ada dihatinya, dan dengan segala usaha yang ada pada dirinya, maka perempuan itulah yang boléh dikatakan ibu, yang sebenarbenarnya ibu, yakni ibu dihati.

Ibu dihati jauh lebih tinggi kemuliaannya dari pada ibu dimulut dalam pemandangan kami.

Kami berharap dan minta doa sungguh-sungguh, mudah-mudahan jikalau kami nanti dapat mencapai cita-cita kami, yakni menjadi guru sekolah, yang murid-murid kami itu nanti tiadalah akan menamai kami ibu dimulut saja, melainkan meréka itu akan memandang dan merasa sendiri, bahwa kami sebenarnya "ibu" bagi meréka itu, baik dimulut, baik dihati.

.................................................................................................

Kami berharap benar-benar Anneke di Bogor akan mendapati orang baik-baik dan peramah, karena ia di Hindia tinggal seorang diri akan menghiburkan hatinya dan pengganti ibu bapa dan rumah tangganya yang ada dinegeri Belanda.

Anneke disini telah merasai bagaimana hidup seperti orang Jawa. jika sekiranya boléh, berapalah bagusnya kalau nyonya dapat melihat Anneke dari sudut pintu, bagaimana ia disini seperti saudara kami lakunya, duduk bersama-sama dengan kami di atas tikar. Pada suatu malam ia duduk bersama-sama dengan kami dibilik kami, dekat méja rendah, betul seperti saya sekarang duduk dekat méja itu pula; ia menjahit dan kami menulis; lain dari pada itu adalah lagi yang nomor empat, seorang sahabat kami, duduk bersama-sama membacakan kepada kami hikayat dengan bernyanyi.

Nyonya barangkali tahu juga, bahasa sekalian kitab centera bangsa kami tertulis dalam syair, atau "bahasa bunga kata kami, dan membacanya selalu dengan bernyanyi.

Pintu dan jendélapun terbuka belaka; dimuka bilik kami adalah sepohon batang cempaka sedang berbunga, yang mengirimkan baunya yang harum dan wangi itu kepada kami dengan angin yang lemah-lembut. Berapalah senang hati kami mendengarkan suara yang halus dan merdu itu, senang telinga mendengar lagunya, yang membawa hati kami kepada zaman purbakala, yang penuh dengan upacara yang keemasan, dengan jauhari dan bijaksana. dengan pahlawan dan raja-raja yang gagah berani, sakti dan keramat...................... Sangatlah senangnya hati mendengarkan mimpi cita-cita yang bagus itu! Dalam menulis dan mendengarkan mimpi itu lebih banyak kami menggigit péna dari pada melayangkannya di atas kertas. Dan dalam lingkungan orang Jawa yang sebenarnya itulah duduk ditengah-tengah anak-anak yang berkulit hitam, Bumiputera negeri yang panas, seorang anak perempuan yang berkulit putih, yang datang dari benua sebelah barat. O! berapalah sukanya hati kami jikalau sekiranya tuan dapat pula tinggal seperti itu bersama-sama dengan kami.

Sekarang kamipun telah mempelajari lagu-lagu itu, dan jikalau kami tiada kemalu-maluan, maulah kami bermimpi menyanyikan lagu itu untuk tuan.

Kemarin Annie telah membuat sesuatu kerja meniru seperti orang Jawa benar. Ia ingin sekali hendak pergi dari Jepara, jadi kami katakanlah kepadanya: "Mintalah kepada Sunan Mantingan; janjikan kepadanya bahasa engkau akan menaburkan bunga dimakamnya itu, jikalau maksudmu sampai."

Ia telah membuat hal itu. Dua hari yang telah lalu, dipikirkannyalah baik-baik hal itu. dan bésoknya pergilah ia bernazar. Dengan beberapa orang 'ulama pergilah kami kemarin kekubur keramat itu, kamipun mêmbawa bunga dan kemenyan.

Anneke bersama-sama dengan kami, setelah sampai ketempat keramat itu, duduklah dikaki kubur Sunan itu. Maka kemenyanpun dibakarlah, dan suara 'ulama-'ulama yang mendengung-dengung itu kedengananlah seakan-akan pergi kelangit, mula-mula lambat, tetapi makin lama makin keras dan makin asyik bunyi suara yang keluar dari mulut orang alim-alim itu. Waktu itu perasaan amat suci rasanya, dan berarti mulia. Kami duduk semuanya dengan menundukkan kepala, dan di atas kepala kami terdengarlah doa 'ulama-'ulama itu dan asap kemenyanpun naiklah keudara.

Seorang dari pada 'ulama-'ulama itu. berbangkitlah lalu berjalan lutut membawa bunga-bungaan Anneke, dan ditaburkannyalah dengan tidakzimnya di atas kubur Sunan itu dan di atas kubur yang lain-lain. Didekatku kedengaran oléhku orang tersedu-sedu menangis. Kiranya yang menangis itu, ialah Annie! Dengan kaki telanjang tanda kehormatan, masuklah ia ke dalam gobah itu, dan kamipun memberi hormat dan salamlah pula seperti adat kami kepada sekalian arwah meréka yang berkubur disana.

Dari tempat itu pergilah kami kesungai yang mengalir di belakang kubur itu, pergi membasuh kaki kami.

Kami minta kepada 'ulama-'ulama itu, supaya meréka itu akan memintakan dan mendoakan kepada Allah, moga-moga sampailah hendaknya maksud Annie itu.

Kekasihku, kami ingin benar bersama-sama dengan tuan membuat keadaan yang seperti itu.

Adalah banyak lagi dalam hidup bangsa Jawa yang meluluhkan hati, umnamanya kehormatan untuk arwah-arwah sekalian kaum keluarga kami yang telah mati, dan un­tuk orang tua-tua kami. Apa-apa saja yang kami perbuat, baik karena sukacita atau karena dukacita, senantiasa kami tidak melupakan kaum keluarga kami yang telah meninggalkan dunia.

Anneke tentulah sekali-sekali akan mengenangkan juga negeri Jepara, jikalau ia telah senang tinggal di Bogor, walaupun hidupnya disana boléh jadi seribu kali lebih'baik dari pada di Jepara. Siapa yang telah mengetahui Jepara, nyawa dan semangatnya negeri itu, tiada mudah dapat melupakan negeri itu, baikpun karena kasih atau karena bencinya.

Kemarin petang pergilah kami ketempat tukang ukir. alangkah indah-indahnya perbuatan meréka itu. Adalah 15 orang laki-laki dan tukang yang bekerja disana. Semuanya bekerja dengan berdikit-dikit, tetapi hasil kerjanya sekaIiannya halus dan rapih!

Adikku Rukmini segeralah pula turut bekerja, dan duduk bersama-sarna di atas bangku, mengukir dengan segala kesukaannya, seperti orang yang telah biasa duduk be­kerja disana.

15 September 1902 (VIII)Sunting

Bagaimanakah kataku hendak mengatakan kepada nyonya, betapa perasaan hati kami tatkala melihat kapal Willem II membawa kekasih kami berlayar! Kami melihat meréka itu dengan tersenyum simpul, tetapi air mata kami jatuh dihati. Lihatlah meréka itu sebagian dari hati dan semangat kami telah berangkat. Ibu kesayangan kami telah berangkat, dan sahabat kamipun telah pergi pula; tidak adalah lain bagi kami, lain dari pada tuan. Maukah nyonya menjadi ibu kami sekarang? dan menambah sayang dan kasih kepada kami? O, kekasihku, kekasihku, suka benar rasanya saya sekarang hendak terbang kepangkuan nyonya, meniarap dan bernaung dihati tuan, akan mendengarkan betapa kasihnya hati tuan kepada kami. Tinggallah tuan selalu mengasihi kami dan mempercayai kami! O, kekasihku, sesungguhnyakah tidak ada lagi nasib kita akan bertemu kembali dalam dunia ini? Kami tidak dapat dan tidak mau mempercayai itu.

Tuan Royaards yang menumpang di rumah tuan residén, pergi pula mengantar-antar sahabat kami berangkat dari sini; dan kamipun lekaslah tahu kepadanya, sebab kami telah acap kali melihat porterét-porterétnya. Saya suka benar melihat tingkah lakunya, dan ia amat ramah kepada kami. Ia tidak dapat pergi ke Jepara, katanya dengan tiba-tiba kepada ka­mi; ia akan bersukacita kalau sekiranya kami dapat melihatnya main komidi dan sebab itu dimintanyalah kami datang pergi melihatnya bermain, seperti Julius Cesar, pada hari Sabtu yang akan datang ini, tentulah ceritera itu akan menarik hati kami. Karcis panggilannya akan dikirimkannya kepada saudara kami yang laki-laki dan kalau sekiranya tidak dapat kami mengabulkan permintaannya itu, tiada pula mengapa. Baik benar ia, bukan? Ia berharap akan bertemu dengan kami nanti dinegeri Belanda; kamipun berharap pula demikian. Kami mengucap syukur kepada Allah, karena ka­mi telah bertemu dengan dia, meskipun kami barangkali tidak dapat mendengarnya bermiain; kami berbesar hati telah dapat bercakap-cakfip dengan dia. Tiadalah kami menyangkanyangka akan memperoléh hal yang sedemikian itu.

Tidak pernah kami selama ini mendapat pekan yang sedemi­kian penuhnya dengan kejadian-kejadian yang menggundahkan pikiran dan beberapa banyak lagi hal yang berlainlainan keadaannya, seperti yang telah terjadi pada pekan yang lalu. Dipekan itu telah timbul suatu kejadian pada sahabat kami yaitu kejadian yang kemudian hari boléh memberi paédah besar bagi hidupnya. Kamipun campur dalam per­kara itu. Dan sebab kami telah membuat apa-apa untuk menolong sahabat kami itu. karena itulah bapak tidak dapat mengampuni dosa kami. Masih terkenanglah oléhku ketika saya duduk dimuka bapak, dan berani menentang matanya, sebab tidak adalah dalam perasaanku, yang saya tidak berbuat salah. Dengan muka muram dan suara sedih berkatalah ia: "Ni, inikah balasan jasaku? Saya telah percaya kepadamu. Engkau tidak pernah menyakiti hatiku, tetapi sekarang engkau perbuatlah itu. Saya belum pernah marah benar kepadamu. Apa saja yang telah engkau perbuat tiadalah yang memarahkan hatiku; tetapi sekarang sebenarnyalah engkau telah menyakiti hatiku."

Sayapun tiada berkata sepatah juapun, tetapi saya tidak mau menundukkan kepalaku, karena saya percaya yang saya tiada bersalah. Duka hatiku yang bapak menyakiti hatinya dalam perkara itu; tetapi betapa besar hatiku mendengai pengakuannya, bahwa saya yang sudah-sudah belum sekali jua pernah menyakiti hatinya, dan iapun tidak pernah marah benar kepadaku. Dan dalam hal itu percayalah saya, bahwa adalah waktunya nanti, yang bapak akan berubah pikirannya tentang kesalahanku itu. tidak adalah kami berbuat barang sesuatunya, yang tidak boléh kami kabarkan. Tetapi hal itu benarlah tiada kami ceriterakan kepada bapak, bukannya ka­rena kami takut, melainkan karena ia rahsia onang lain. Dan kami tentulah tidak boléh senantiasa mengenal diri sendiri, te­tapi itu benarlah kemauan bapak. Kami boléh menolong orang lain, asal kami tiada sedikit juga akan dapat bahaya.

Barangkali pikiran itu amat sempurna, tetapi tidaklah sesuai dengan pendapatan kami, yang bermusuh sampai mati yang mendukakan hati kami, karena tidak dapat kami menerangkan pendapatan yang mulia itu kepada kaum kami. Kata loba untuk diri sendiri saja, tidak ada dalam bahasa kami......................bahasa yang sebagus itu. jikalau sekiranya kelobaan, itupun tidak adalah pula didalam hidup kami bersama-sama; betapalah baiknya! Sayang! Sekaliannya didalam dunia itu berputar, pada sumbunya yang bernama: "saya mau berbuat baik," jikalau telah berlebih-lebihan untuk diri sendiri, dan baru mau menolong orang, kalau diri sendiri tiada akan mendapat keberatan dan susah payah!

Kami tidak dapat menurut haluan yang demikian. Kami tidak dapat lagi membantu orang hanyalah dengan kata-kata saja; tetapi kami mesti berbuat baik, ialah dengan bukti dan contoh!

Sekarang bapak telah berubah bikirannya lebih lekas dari pada sangka-sangkaku. Pada malam hari yang pertama waktu saya dalam bersusah hati itu, sayapun telah mendapat ilham, dan tiadalah sekali-kali saya memikirkan bahwa nasihat yang telah saya berikan itu, adalah pula akan memberi bahagia kepadaku. Ketika itu banyaklah saya memikirkan hal orang, yang saya beri nasihat itu saja: tetapi lihatlah sekarang betapa paédahnya nasihat itu kepada diriku sendiri. Bapak tiba-tiba telah bermuka manis lagi kepadaku dan bercakap-cakap dengan saya seperti tiada kejadian suatu apapun. Kalau sekiranya saya sampai sekarang ini belum berkenalan dengan Nellie van Kol, betapalah susah hati dan sengsaraku melihat bapak marah dan tidak mau mengampuni dosa kami itu; tetapi sekarang adalah Tuhan tempat kami meminta bantu dan tempat kami percaya, sebab itulah maka kami sekarang menjadi tawakkal memikirkan keadaan yang seperti itu.

Setelah hal itu kejadian barulah kami mengucapkan selamat jalan kepada Annie. Betapa susahnya hati kami ketika itu ta” dapatlah kami sebutkan: tetapi dimuka kami kesedihan hati kami itu tidak dapat dilihat orang. Barangkali Anniepun merasa, yang kami tiada mengindahkan perceraian itu; tetapi tahulah kami sekarang: bahwa mendiamkan diri, itulah suatu tanda kemuskilan yang amat dalam.

Sesudah kami mengucapkan selamat jalan kepada Annie...........tidak dapatlah tuan menerka, apa yang telah kejdian pada kami; kami menyadi ibu dari seorang yang 'umurnya telah dua kali lipat ganda dari kami, yakni tempatnya mengadukan sekalian hal ihwalnya buruk dan baik.

Hal yang ganjil itu melembutkan hati kami. Banyak lah hal yang ganjil-ganjil yang telah terjadi pada kami, tetapi hal itulah yang seganjil-ganjilnya. Kami mendengarkan hal ihwalnya itu ialah dengan seizin orang tua kami. Oléh karena hal itu, dapatlah kami seorang sahabat, yang akan berbuat baik kepada orang Jawa dlan ialah pula yang akan menjadi seorang sahabat kami yang mencintai juga citacita kami. "Engkau kedua betullah jenaka, berani mengajar dan memarahi orang yang telah tua." Demikianlah kata tuan seakan-akan terdengar oléh kami, tetapi mendengar itu kamipun gelak tertawa-tawa.

Betul ajaib, karena dalam usaha kami hendak menolong orang, menunjukkan jalan yang baik dan kesenangan yang sebenar-benarnya, dan mencahari perdamaian hati, maka selalulah kami bertemu dengan orang orang yang kadangkadang lebih tua dari pada kami, yang gemar memegang tangan kami.

Senang sekali perasaan kami jika kami mengetahui bahwa kami sanggup menolong orang. Kami tiada sekali-kali menyangka, bahwa kami ini sebagai "pelita," dan sebab itu­lah maka orang yang berhati susah datang kepada kami meminta bantu dan bujukan, tetapi hanyalah kami sangka, ialah karena orang-orang itu mengetahui dan merasa pada dirinya, bahwa meréka itu adalah akan mendapat kasihan jika meréka pergi kepada kami. Besar hati kami mengetahui yang kami dapat mengasihi orang dan menyerahkan diri kami képadanya. Amat miskinlah hati meréka yang tidak dapat me­ngasihi orang lain!

Kami tanyakan képadanya macam-macam pertanyaan yang gila-gila, tetapi kami boléh berbuat sekalian itu, karena ia telah berjanji kepada kami.

Kami tanya umpamanya: "Apabila seorang laki-laki kasih dan cinta kepada seorang perempuan, apakah yang dipikirkannya lebih dahulu tentang perempuan itu; adakah kira-kiranya laki-laki itu berpikir: "Dapatlah saya menyenangkan hati perempuan itu?" atau "boléhkah saya bersenang hati karena perempuan itu?"

Orang tua yang kuganggu itu menggaruk kepalanya: "pertanyaan itu amat sukar menjawabnya, tetapi saya telah berjanji akan menjawab sekaliannya dengan tulus dan ichlas. Pada pikiranku pertanyaan yang kedualah yang mulay-mula diturut orang, dan apa perasaanku lagi sekalian laki-laki, kecuali beberapa orang, sekaliannya memanglan berpikir demikian, karena kebanyakan laki-laki itu amat loba akan kesenangan dirinya sendiri; engkau perempuan-perempuan lebih tinggi martabatmu dari pada laki-laki tentang- kebaikan hati."

Kami tahu, bahwa sebenarnyalah pendapatannya itu. Ia telah mengajar kami berhati sabar dlan mengemudikan ha­ti; dan acap kali pula ia menguji hati kami dengan berbagai-bagai hal keadaan yang penting-penting. cita-citanya dan usahanya yang terutama ialah harta-benda; sebab itulah ia acap kali menyalahi apa^apa yang kami kasihi dan kami cmtai. Kalau ia sungguh-sungguh mempermain-mainkan dan membatal-batalkan cita-cita kami, susahlah kami menahan hati kami supaya tinggal tawar dan dingin. Sekarang ia telah mengaku bahwa ia telah sengaja hendlak memper­main-mainkan kami, karena ia tiada mau membenarkan de­ngan mulutnya, bahwa apa yang kami katakan itu adalah terasa dihatinya, dan acap kali ia tengah malam tidak dapat tidur karena memikirkan hal itu. Dahulu tidak pernah ia memi­kirkan hal-hal yang sedemikian dan hidupnya seada-adanya saja. Sekarang tahulah ia betapa benar kosong kepalanya. Kami katakan kepadanya, bahwa hidup menanti gerak Allah saja amat mudah; tetapi cita-cita yang ada didalam hati itu, mustahillah dapat dibunuh, lambat-launnya ia akan tim­bul juga. Kalau cita-cita itu tidak penuh isinya atau ko­song, disitulah nanti ia akan berteriak meminta makan! "Sebenarnyalali hidupku ini tidak ada isinya; tetapi apakah sebabnya maka cinta-cinta hatiku ini dahulu tiada mau menjerit!"

"Ada, tetapi tuan tidak mau mendengarnya dahulu."

Ia tercengang mendengarkan bagaimana kami memikirkan beberapa hal yang bersamaan dengan pikirannya. "Kalau begitu benar juga kata orang tentang persaudaraan hati dll; takutlah saya memikirkannya," katanya sambil matanya bercahaya-cahaya, hendak berolok-olok. Sekarang kamipun dapatlah menanggungkan olok-oloknya itu, karena kami telah tahu, bahwa olok-olok itu ialah akan jadi perisai kepadanya, menandakan perasaan yang gembira mulai timbul dalam hatinya.

22 September 1902 (VIII)Sunting

Terimalah ucapan terima kasih kami, yang tuan telah turut berdukacita atas berangkatnya sahabat-sahabat karib kami itu. Kami dahulu berharap benar-benar yang nyonya akan bertemu dengan meréka itu. Menurut bunyi surat nyonya nyatalah, bahwa meréka itu tidak dapat bertemu dengan nyonya. Sebab masa meréka itu ada disana, nyonya sedang ada di Bogor. Pesiar betul rupanya nyonya waktu itu! Kekasihku, ibuku yang dicinta, lepaskan benarlah hati tuan, tentulah tuan akan berbalik muda, karena kegirangan hati!

Saya baca didalam surat kabar, bahwa musik orang ltalia pada waktu pacuan itu bukan buatan bagusnya. Dan Tuan Besar Gubernur jenderal beserta jamunya sekalian acap kali menunjukkan kegirangan hati meréka itu. Saya tidak tahu ketika itu bahwa di antara jamu itu, kekasihkou pun ada pula disana! Barangkali juga perasaan kami tiada halus benar, karena hati kami tiadalah tertarik hendak melihat pacuan kuda, sungguhpun kami terlalu suka melihat kuda-kuda yang bagus, yang terkadang-kadang boléh menawan kami!

Tetapi melihat kuda-kuda digertak dan dipukul dalam berlari itu, tidak dapatlah kami akan bertempik dan bersorak melihatnya; itu harus kami pelajari dahulu. Tetapi berharaplah kami supaya janganlah hal itu kami pelajari. Pa­cuan béndi nyonya-nyonya, itulah dugaan kami, yang sebagus-bagusnya dalam pacuan itu. Berapalah sedapnya mata memandang anak-anak gadis, yang masih muda remaja, dengan moléknya berpakaian putih dan berbunga-bunga, berkeréta berkeliling-keliling ditarik oléh kuda yang tangkas dan bersikap bagus.

Ketahuilah oléh nyonya, bahwa kami disini adalah pula dahulu mempunyai pacuan kuda. Tetapi beberapa tahun yang lalu, pacuan kudia Jepara dengan musik, bungabungaan dan dengan anggur sempanye, telah kami kuburkan diibu negeri yang lama, yaitu di kota Pati.

Perlukah juga saya katakan betapa besar hati kami mengatakan sekeram itu bagus sekali? Baik benarlah itu! Bertambah senang hati kami karena tuan sama-sama mengatakan sekeram itu bagus sekali! Baik benarlah ingatan nyonya, telah menyampaikan dengan segera kepadaku. Maukah nyonya mengatakan kepada paduka tuan, bahwa saya banyak meminta terima kasih atas kepercayaan paduka itu kepa­daku ?

Saya akan mengerjakannya dengan bersungguh-sungguh, sehingga tiada akan memberi malu, artinya: anak-gadis nyo­nya ini mau mencobakan kekuatannya menulis karangan itu, dan lihatlah nanti bagaimana jadinya. Tetapi adalah permintaanku sebuah: janganlah nyonya lekas menyangka, bahwa karangan itu tentulah bagus, dan sabarlah sedikit! Pekan yang lalu saya telah menolak suatu permintaan dan pada seorang nyonya, yang meminta saya mengarang tentang Kepandaian ukir-mengukir di Jepara, untuk surat kabar "de Echo". Yang sebenarnya maulah saya, tetapi sekarang saya banyak mempunyai kerja tulis-menulis, sebab itulah maka saya balas surat itu dengan mengatakan, bahwa saya tidak berani membuatnya. Itu sebenarnya bukanlah olok-olok saja nyonya itu akan mengarangkan hal itu didalam surat-surat kabar Betawi dan Surabaya.

24 September 1902 (IV)Sunting

Saya tidak dapat mengabarkan bagaimana kegirangan hati ka­mi ketika menerima kartu pos yang terbit dari hati yang suci dan sebuah kitab kecil dari tuan. Kami sungguh mengucap sukur karena tuan telah mengirimi kami surat itu. Sekarang beranilah pula kami membalas surat itu. Keji benar perbuatan kami yang kami telah mengalpakan tuan, malu benar kami mengenangkan hal itu! Kesalahan itu tidak dapat dimaafkan, dan lagi kamipun tidak mau memohonkan maaf kepada tuan, biarlah segala kesalahan kami kepada tuan itu kami tanggungkan dengan sabar dan tulus ichlas.

Kelemahan hati kamilah jua, yang menyebabkan maka seama mi kami berdiayn diri saja. Betapalah sedihnya hati kami mengaku kesalahan ini, kami yang hendak memikul pekerjaan sebesar itu. Tuan, yang semata-mata berhati pengasih, niscayalah menimbang hal itu tidak terlalu berat, kalau tuan mengingat 'umur kami yang masih muda dan kepandaianpun belum seberapa. Besar kesalahanku kepada tuan, tetapi lebih besar lagi kejahatan yang tertimpa pada badanku sendiri, karena telah berbuat yang sedemikian. Arnpunilah kami dahulu! Kami yang sudah-sudah terlalu lemah benar. Alaukah tuan menolong kami supaya boléh menjadi kuat? kami perlu kuat, supaya dapat'kami mengerjakan dengan patut akan pekerjaan besar, yang sungguh-sungguh kami hendak tanggung itu.

Kami masih muda, masih baru berdiri pada permulaan, baru berdiri dimuka pekerjaan kami, dimuka dunia penghidupan, kami anak-anak muda lagi bodoh, belum pandiai hidup, hanya berdiri berdua saja.

Telah banyaklah pikiran yang menggoda kepala kami yang masih muda ini dan telah banyaklah pula perasaan, yang menggoda hati remaja kami. Selalulah pula.besar harapan kami akan bekerja untuk sahabat-sahabat kami; tetapi kami anak-anak yang masih bodoh, belumlah pandai merengkuh meiepaskan diri dari pada pikiran dan perasaan yang telah menawan kami. Adikku telah menceriterakan kepada tuan, apa-apa yang telah menjadi kenang-kenangan dihati dan dikepala kami, apa-apa yang terjadi dalam hidup kami pada beberapa bulan yang baru lalu ini, tentang maksudmaksud dan mimpi-mimpi kami untuk waktu yang akan datang. Kami berharap benar, yang tuan akan menunjukkan kesukaan hati tuan akan maksud kami itu.

Dalam waktu yang gundah gulana, dan hari yang penuh dengan kesusahan, selalulah kenangan kami kepada tuan kedua, sahabat kami yang berhati mulia, akan membujuk hati kami, dan akan membantu dan menetapkannya. yang senantiasa menyedihkan hati kami didunia ini, ialah kelobaan manusia untuk keuntungan diri sendiri, yang acap kali tidak ada hingganya. Dan jikalau kami berhati gusar, karena melihat dan mengetahui kelobaan untuk diri sendiri "dajal yang buas itu" mengangakan mulutnya kian kemari pada sekalian penjuru alam ini; maka teringatlah oléh kami tuan kedua, dan hati kami yang sedih tadipun menjadi lembutlah. Kasih sayang itulah juga rupanya, meskipun bagaimana juga kelobaan manusia itu untuk diri sendiri, yang memerintah dunia ini.

Ketika kepalaku rasanya seperti terbakar karena berpikir dan hatiku luluh karena kesedihan melihat hal keadaan alam, maka kami kenanglah dengan segera tuan kedua, dan karena pengenangan itu, lepaslah dahaga kami dan timbul pula kekuatan kami.

Kerap kali kami memperkatakan tuan, mengingat tuan kedua, dan sangatlah senang hati kami berbuat demikian. Dengan tiada setahu tuan, tuanpun telah memberi kami ban tuan dan bujukan dalam waktu-waktu yang sukar. Kami mengucap syukur kepada Tuhan, karena kami telah bertemu dengan tuan dalam perjalanan kami ini, dan kami berharap serta mendoakan sungguh-sungguh, supaya persahabatan kita ini akan tinggal selama-lamanya. Tuan te­lah tahu sekarang sekalian kenang-kenangan kami, sekalian maksud dan cita-cita kami; tidak usahlah kami meminta pertolongan lagi kepada tuan, karena hati kamipun sudahlah mengatakan kepada kami, bahwa tuan telah lama berbuat demikian dan selalu akan berbuat juga yakni: memintakan doa untuk sahabat-sahabat tuan perempuan Jawa ini, kepada Tuhan yang mahatinggi, Tuhan yang nuahakuasa, Tuhan seru sekalian alam!

Bagaimana jugapun lainnya jalan-jalan yang kita tempuh. tetapi sekalian itu tujuannya ialah pergi kepada ujud yang satu: "kebaikan". Kamipun bekerja untuk kebaikan yang ,God" namanya kepada tuan, dan Allah kepada kami.

Apakah sebabnya sekalian itu tidak akan kami kabarkan kepada tuan? Kami selalu hendak berhati tulus dan ichlas kepada tuan.............sebab persahabatan, atau pertambatan apa juapun hendaknya yang tiada bersendi dengan hati yang tulus dan ichlas itu, tentu pertambatan itu tiada akan hidup selama-lamanya; tetapi kami ini berharap benar yang persahabatan kita, yang amat kami kasihi itu, akan tinggal hendaknya selama hidup kami......yang sudah-sudah kata Allah itu, hanyalah kata seruan saja bagi kami. syukur alhamduli'llah nama yang bagus itu, sekarang telah menjadi suatu bunyi yang amat suci dan berarti besar bagi kami.

O! bagaimanalah hendaknya saya ceriterakan kepada tuan, betapa tawakkal dan senangnya hati kami sekarang, karena mendapat Allah yang mahakuasa itu, dan dapatlah sekarang kami menyerahkan diri kepadanya, meminta bantu dan mempercayainya.

Hati kami sekarang tiadalah gusar sedikit juapun, selalu kami merasa aman dan sentosa dibawah penjagaannya. Karena Tuhan yang mengenal kita, yang melindungi kita dan yang menimbang kita dengan kasih-sayang!

Siapakah yang menunjukkan kami kepada Tuhan yang mulia itu, dan yang membangunkan kepercayaan kami akan Tuhan yang mahakuasa itu? yaitu nyonya Nellie van Kol.

Benarlah juga barangkali, bahwa telah lama sebelum hal itu kejadian, hati kami telah bergerak dan bekerja memikirkannya dan dengan tiada setahu kami, kamipun telah bekerja memperbaiki diri sendiri, tetapi yang tidak dapat dibantahi lagi, bahwa nyonya van Kollah yang menghapuskan awan yang terbentang dimuka kami, sehingga dapatlah sekarang ..cahaya" yang terang itu masuk ke dalam hati kami.

Ialah yang menunjukkan kami jalan kepada Tuhan yang amat pengasih dan penyayang yang tuan namai, ,God", dan kami Allah.

Kami merasa amat beruntung telah mendapat mutiara didalam hati kami sendiri, yakni kepercayaan yang sesungguhnya atas adanya Allah, Tuhan yang mahakuasa itu.

Kepercayaan itulah yang membawa kami melihat sekalian hal kejadian yang ada dibumi ini dengan cahaya yang lain dari pada cahaya yang biasa, yang lebih berbahagia; yakni cahaya yang menyenangkan dan menghiburkan hati kami serta memberi kami lebih bébas dan lebih beruntung ........................................................................

O! tidak puas rasanya kami mengucap syukur atas pemberian Tuhan kepada hambanya, yang ber-iama "berkirimkiriman surat". Telah banyak ia memberi kebajikan dan kasih sayang kepada hidup kami.

Bagaimanakah kejadian hidup kami gerangan didunia ini, kalau sekiranya pemberian yang mahabesar, kepandaian berkirim-kiiim surat itu tidak ada dibumi ini!

Pikiran yang bagus-bagus dari pada meréka yang budiman dan bijaksana yang tertulis dtidalam kitab-kitab, atau cétakcétakan lain, yang da tang kepada kami, sekaliannya bekerja sekarang untuk pendidikan, penambah pikiran, memuliakan dan meninggikan darajat kami........................makin besarlah kekuasaannya buah pikiran itu memajukan kami, jikalau asalnya dari budiman yang empunya sendiri; keluar dari hati dan otaknya yang suci itu.

Tidak putus-putusnya kami mengucap sukur akan keuntungan kami ini, yang telah menghubungkan tali persahabatan kami dengan budiman-budiman pikiran itu. Itulah yang menyenangkan hati dan memuliakan hidup kami. Bagi kami sebagai menghadiri keramaianlah kegirangan kami, ji­kalau menerima surat yang datang dari tuan-tuan, sebab tahulah kami bahwa surat-surat itu, seperti kata Nellie, berisi: "kesenangan hidup dan pikiran-pikiran yang menaburkan kasih sayang."

Tuan tentulah dapat menerka. siapakah meréka yang selalu meriangkan hati kami dengan keramaian, yang dikirimkannya dengan pos itu. Dengan segala kemauan dan kesukaan hati, senantiasa kami bacalah sekalian karang-karangan yang telah tuan berikan kepada kami itu.

Betapalah besar bahagia kami, karena kami telah berkenalan sendiri dengan pengarang karang-karangan yang amat berharga itu, dan telah menerima karang-karangan itu dari si pengarangnya sendin. nyonya Abendanon telah banyak menceriterakan kepada kami tentang pidato tuan di Betawi, dua tahun yang telah lalu. Dengan girang hatinya menceriterakan hal itu kepada kami. Amatlah besar harapan kami hendak membaca isi pidato tuan pada 3 September 1900 itu.

Betapalah besar hati kami mendengar, yang tuan dengan tiada setahu kami, telah memperlakukan permintaan kami itu. Senantiasa senanglah hati kami membaca barang sesuatunya, dalam surat-surat kabar yang kami terima, tentang hal tuan sendiri!

Apabilakah wakunya akan datang, supaya maksud dan cita-cita kami dapat berlaku? Kami berharap, yang waktu itu tentulah akan datang jua, dan tidak lama lagi kami akan menunggunya.

Sekarang kami banyak meminta terima kasih. atas kebaikan tuan, telah mengirimi kami kitab yang penuh berisi dengan pelajaran yang indali dan bagus; kami suka benar mem ba­can ya, karena banyaklah pengajaran didalamnya yang boléh kami petik. Dengan segala suka hati kami telah memperhatikan pula ceritera hidupnya "nyai Magdalenah." yang sudah-sudah telah banyak kami membaca ceritera-ceritera tentang perempuan yang saléh dan ber'ibadat itu; yang penghabisan sekali, didalam surat kabar "Hollandsche Revue". Sayang benar yang negeri Mapane amat jauh dan susah jalannya. Kalau tidak, berapalah besar hati kami hendak mengdenjungi tuan! Banyaklah hal yang hendak kami rundingkan dengan tuan, yang susah diperkatakan dalam surat. Panjang-panjang dan sepenuh-penuh isinya sepucuk surat, ta dapatlah dibandingkan kebaikannya dengan berbincang dan bercakap barang sejam lamanya. Didalam percakapan lebih mudah kita memperkatakan apa-apa yang terPikir dihati dan diotak kita.

Berita tentang ujian penghabisan dari murid-murid sekolah guru di Tomohon menarik hati kami benar. Makin panjang kami baca berita itu, makin bertambah girang' dan sukacita hati kami.

Bagi kami ituilah kegirangan hati yang terbesar sekali, yakni jikalau kami melihat tanda-tanda kemajuan anak Bumiputera. Kami selalos hendak memuji meréka itu dan meninggikan diri kami karenanya!

Betapalah suka hati kami hendak pergi ke Minahasa, hendak berkenalan dengan Bumiputera disana. Apa-apa saja yang datang dari sana, senantiasa menarik hati kami hendak memperhatikannya. Bukan buatan besarnya cita-cita kami hendak mengetahui hal ihwal tanah air dan bangsa meréka itu. Deimkian juga hendak mendengar keadaan sekolah usaha rumah tangga untuk gadis-gadis Bumiputera di Tomohon. Sekahan itu perlunya, ialah untuk menambah pelajaran kami.

Hendak mema'lumi hal ihwal tanah Minahasa dan Bumiputeianya, selalulah menjadi kesukaan kami. Apalagi kare­na sekarang adalah dekat negeri itu tinggal seorang sahabat kami, yang sedang mulai bekerja memajukan orang-orang. yang biadab disana, jadi makin bertambah tertariklah hati kami hendak mengetahui bangsa dan tanah itu.

Moga-moga beruntungiah tuan hendaknya dengan pekerjaan tuan yang mulia itu, itulah suatu doa yang terbit dihatiku tiap-tiap kali, apabila saya terkenangkan tuan atau memikirkan pekerjaan tuan.

Betapalah suka hati kami, kalau sekiranya kami dapat ting­gal barang beberapa lamanya di tempat tuan, bersama-sama dengan pendéta-pendéta yang lain. Tentulah senang hati dan pikiran tinggal bersama-sama dengan meréka yang suci hati itu, yang hidupnya hanyalah hendak memberi kasih dan sayang saja.

Jikalau hati sedang gusar dan masgul karena ditimpa oléh nasib yang malang, berapalah senangnya hati nanti disana dalam udara yang suci penuh dengan kasih dan sayang itu, masuk ke dalam hati mendamaikannya!

Pergaulan dengan manusia yang suci lagi berhati kasih, yang tiada mengindahkan dirinya untuk kesenangan sendiri, tentulah keadaan itu menyucikan hati sekalian meréka dalam pergaulan itu.

Siapa tahu entah maksud kami akan diperlakukan. Maksud yang baik itoë acap kali kejadian, setelah banyak mengeluarkan air mata terbit dari hati yang sedih.

Kalau kami boléh pergi ke Mojowamo, tentulah sekalian cita-cita dan mimpi-mimpi kami yang lain akan kami buang dan sekalian itu akan kami bunuh dan kami kuburkan dalam-dalam.

Adikku telah menceriterakan kepada tuan apa maksud kami nanti, jikalau kenang-kenangan kami tiada sampai; ji­ kalau kami tidak dapat belajar sehingga mendapat jabatan yang akan kami tanggung itu, maka kami akan membuangkan cita-cita kami hendak membuat sekolah untuk anak-anak ga­dis bangsawan bangsa Bumiputera itu. Sekali-kali tiadalah sebab kami takut di Mojowarno; dahulu telah saya kabarkan kepada tuan, bagaimana hal kami nanti disana: pada lahirnya rajin selalu bekerja. dibatin bersenang hati. Tetapi tuanpun ma'lum juga, berapalah sedihnya kami nanti, jikalau kami wajib membuangkan sekalian cita-cita, yang telah kami kandung dihati dan yang amat kami kasihi itu sudah sekian lamanya.

4 October 1902 (III)Sunting

Sebenarnyalah, telah acap kali saya mengambil péna hendak menulis surat kepada tuan, tetapi selalu ada aral ini dan itu yang mengganggu, sehingga terpaksalah saya mengundurkan menulis surat itu. Saya dahulu menantikan waktu yang baik............... tetapi sekarang saya lihat, bahwa waktu itu tiada akan tiba; melainkan waktu itu wajiblah dibuat sendiri.

Surat-surat yang terhadap kepada meréka yang tiada kita acuhkan, amat mudah menulisnya, artinya lebih lekas kita mengerjakannya dari pada surat-surat untuk meréka yang kita sayangi dan hormati. untuk meréka yang pertama tidak banyaklah atau hampir tiadalah apa-apa, yang akan kita kabarkan kepadanya, sepatah dua saja cukuplah; tetapi untuk sahabat-sahabat kita sukalah kita menulis sepanjang-panjangnya.

Pada tahun yang telah lalu kami senantiasa bersusah hati dikabupatén Jepara. Karena isinya berganti-ganti saja dilanggar oléh penyakit keras, yang menimbulkan ketakutan, kalau-kalau adalah di antara kekasih kami itu yang akan sampai ajalnya. Tetapi syukur sekalian meréka itu telah sembuh kembali!

Tahun baharu yang lalu membawakan kami sukacita membesarkan hati kami, tetapi ia beserta pula dukacita. Pada 24 Januari kami disini baralat kawin, mengawinkan adikku Kardinah, yang kecil sekali di antara kami bertiga, dan itulah kejadian yang membesarkan hati. Kegirangan itu sayang tercampur pula dengan kedukaan; kami yang dahulu hidup bersama-sama dengan berkasih-kasihan, sekarang telah bercerai-berai. Setelah adikku berangkat, bukan buatan sunyinya kami disini. Bersama-sama dengan Kardinah, banyaklah kasih sayang yang keluar meninggalkan rumah.

Kami telah pergi sekali mengunjunginya, pada bulan April. Ketika itu ia amat séhat dan rupanyapun gemuk; dahulu di rumah tiadalah demikian, pipinya telah mérah seperti jambu. Ibuku telah pergi pula melihatnya sekali lagi dalam bulan Augustus yang lalu. Ibuku pergi kesana dengan hati tidak senang, karena waktu itu adikku itu sakit keras. Pipinya yang mérah itu sekarang telah menjadi pucat, karena ia diserang oléh penyakit malaria. Sekarang syukurlah, adikku telah sembuh kembali, dan tinggal digunung untuk sementara supaya hawa yang dingin disana dapat memberinya kekuatan kembali.

Amatlah gembira hati kami membaca karangan tuan yang berarti dalam itu yang bernama: "Perserikatan bahasa dengan tanah Belanda". Kami mengucapkan banyak terima kasih akan kebaikan hati tuan telah mengirimi kami karangan itu. Tinggi harganya keramahan hati tuan bagi kami. Kami banyak pula membaca karang-karangan yang lain, yang ditulis orang, sebab membaca karangan tuan itu.

Menurut karangan tuan Mr. P. Brooshooft kepala pengarang surat kabar "de Locomotief", kami baca bahwa isterinya yang sangat dicintanyalah yang menerjemahkan karangan Professor Anton itu.

Berapalah senangnya hati seseorang laki-laki, yang isterinya bukanlah menjadi gusti dalam rumah tangganya dan menjadi ibu dari anak-anaknya saja, tetapi pula menjadi sahabatnya, yang suka memperhatikan kerjanya, dan hidup bersama-sama dengan dia dalam pekerjaannya itu. Itulah suatu hal yang tiada ternilai harganya oléh laki-laki, asal saja lakilaki itu tiada pandak pikirannya dan tiada sombong. Karena banyaklah laki-laki yang bersipat sedemikian, yang mengatakan isterinya suka memperhatikan pekerjaamiya, sebab hanyalah hendak mengetahui rahsianya saja. Dengan memperkatakan hal itu, telah mulai saya berangsur-angsur menjejak médan peperangan kemerdékaan perempuan yang tentulah telah acap kali dan telah puas tuan mendengarnya diEropah. Kemerdékaan itu tentulah amat menarik hati tuan, dan pada tahun yang akan datang, tentulah tuan akan lebih lanjut memikirkan hal itu, karena tuanpun sekarang perlu pula mendidik seorang anak tuan yang perempuan.

Jikalau kami disini meminta pengajaran dan pendidikan untuk anak-anak gadis, ya, bermohon sungguh-sungguh sampai makbul, maka keadaan itu bukanlah karena kami hen­dak menyuruh anak-anak gadis berlawan dengan anak lakilaki dalam peperangan hidup, sekali-kali tidak, melainkan ialah karena kami percaya benar akan kekuasaan besar, yang dikandung oléh perempuan, yakni: memajukan dirinya, sehingga cakaplah ia menanggung kewajiban yang amat besar, yang dikurniakan Allah kepadanya: menjadi ibu, pendidik yang pertama-tama untuk kemanusiaan dibumi ini! Bukankah dari perempuanlah manusia itu menerima pendidikannya yang bermula sekali, yang bekasnya acap kali tiadalah kurang artinya untuk si anak dalam hidupnya?

Perempuanlah, ya, ibu itulah yang mula-mula sekali menanamkan biji kebaikan atau biji kejahatan dihati manu­sia, yang nanti akan tumbuh dan tinggal selama hidup dihati manusia itu.

Tidaklah sia-sia orang berkata: "Ta disusukan dengan air susu bundanya."

Telah beberapa lamanya yang lalu, senantiasa kami menyangka, bahwa sekalian orang pandai yang banyak pengetahuannya, mulialah pula budi pekertinya. Sayang! tetapi untunglah lekas kami tersadar dari pada mimpi itu...untunglah lekas kami mengetahui, bahwa kepandaian yang banyak itu se­kali-kali bukanlah ia menjadi keterangan dari budi pekerti yang mulia. Betapa gusar dan sedihnya hati kami ketika mema'lumi keadaan itu. Dan ketika kami telah sadar dari kegusaran yang amat sangat itu, maka kamipun memikirkanlah hal itu dalam-dalam, dan lalu mencari sebab-sebabnya maka jadi sedemikian. Dalam hal itu. bertemulah pula kami dengan kebenaran yang kedua. "Sekolah itu saja tidak dapatlah menyempurnakan pengajaran anak-anak, terutama ahli rumahpun wajiblah serta mendidiknya! Sekolah untuk memajukan pikiran, isi rumah untuk pendidikan budi pekerti!"

Ibu menjadi tiang dalam rumah dan memikoal suatu pekerjaan yang besar dalam pendidik anak-anaknya tentang budi pekerti. Oléh sebab itu berilah anak-anak gadis pendidik­an yang sempurna, dan usahakanlah supaya ia cakap kelak memikul pekerjaannya yang seberat itu.

O, jika sekiranya diketahui oléh sekalian ibu yang telah diterimanya dalam pangkuannya itu, tatkala mendapat bahagia yang sebesar-besarnya bagi peremipuan: buah hati, biji matanya! Dengan anak itulah ia mulai menempuh waktu yang akan datang. O! tahu benar hendaknya meréka itu, terang dan jelaslah hendaknya dalam pemandangannya, apa pekerjaannya, karena ia telah menjadi ibu itu. Tiadalah untuk dirinya sendiri ia melahirkan anak itu kedunia. Ia wajib mendidik anaknya untuk ahli rumah yang amat besar di atas dunia ini, yang bernama: Perkumpulan hidup bersama-sama!

Karena keperluan yang amat besar, yang tersebut di atas itulah maka kami. minta pengajaran dan pendidikan untuk anak-anak gadis.

Kami sungguh-sungguh amat percaya, bahwa kesopanan bangsa Jawa mustahil akan maju dengan sekuat-kuatnya, selama perempuan-perempuan tidak diajar dan dididik dalam 'ilmu kesopanan itu.

Kepada perempuan-perempuan itu, wajiblah dibelikan dalam genggamannya kerja untuk memajukan kesopanan, kalau demikian barulah kesopanan itu akan berkembangan de­ngan sekuat-kuatnya kepada Bumiputera bangsa Jawa.

Adakanlah ibu-ibu yang ringan tangan dan tajam pikiran, supaya tanah Jawa boléh mendapat perempuan-perempuan yang pantas dan cakap bekerja untuk kemajuan. Meréka itulah nanti yang akan menanamkan lagi biji kesopanan dan 'ihnu kepandaian itu kepada anak-anaknya. Anak-anaknyayang perempuan itulah yang akan menjadi ibu pula dan anak-anaknya yang laki-lakilah yang akan menjaga kelak segala keperluan bangsanya.

O, apabilakah waktun ya akan tiba, yang bangsaku akan membenarkan buah pikiranku ini? Saya menyangka, bahwa waktu itu masih jauh, jauh benar lagi! Tetapi jikalau sekarang tiada juga datang permulaannya, tentulah waktu itu masih bertambah jauh juga tempatnya dan masih bertambah lama lagi akan didapat.

Sekalian permulaan itu amat susah mengerjakannya, dan" bagi kebanyakan meréka tukang penebas jalan hidup didunia ini penuh dengan racun penanggungan. Sebab itulah mudah kita memahamkan, bahwa orang-orang tua lebih suka menyuruh anaknya memilih salah suatu nasib yang dapat menjamin, bahwa si anak akan beruntung dengan hidup se­nang.............. dari pada nasib yang diketahuinya sejak dari bermula akan hidup dengan racun penanggungan.

Jikalau seseorang menyimpan dalam hatinya sesuatu citacita yang mulia, dan cita-cita itu tiadalah maksudnya untuk kesenangan diri sendiri, melainkan untuk kesenangan diri orang lain, berdosakah ia, jikalau ia hendak mencoba mencapai cita-cita itu, tambahan pula karena ia berbuat demikian, ialah akan merusakkan hati beberapa orang kekasihnya? Atau itukah kewajibannya yang terutama, yakni mencabut cita-cita itu dari hatinya, supaya kekasihnya jangan berhati susah ?

Bagaimanakah seseorang patut bekerja yang berfaédah untuk hidup bersama-sama, dengan mengurbankan dirikah? Atau dengan memajukan dirikah? Manakah kiranya yang baik, mengurbankan diri, supaya jangan merusakkan hati kekasih atau memajukan diri untuk kebajikan ahli rumah besar yang bernama perkumpulan hidup bersama-sama itu?

O, berapalah bagusnya, kalau kita mau, dapat dan boléh mengerjakan barang sesuatunya. Perkumpulan yang bagus demikian, sayang, hanyalah sedikit saja orang yang dapat memperoléhnya.

........................................................................

Dengan besar dan suka hati kami telah berkenalan dengan kitab ceritera Frits Reuter. Wah, itulah sebuah ceritera yang dapat menggelikan hati dan menyegarkan badan. Besar kegirangan kami mendapat anugarah yang bagus itu dari tuan! Lagi pula orang-orang lainpun disini telah merasai juga lazatnya ceritera kitab itu. Meréka itu. telah membuat pula sebagai kami: ketika meréka itu telah mulai membacanya, tidak dapat lagi meréka itu menceraikannya! Bagaimanakah pikiran tuan, sejak dari pukul tujuh malam sampai pukul tiga pagi terus sa ya membaca kitab itu. Itu bukanlah pekerjaan yang élok, hanya hal yang seperti itu. mudahlah kejadian, jikalau orang bercengkerma dengan jamu yang segirang itu. Lagi jikalau sekiranya maksud tuan memberikan bukui itu, supaya kami boléh kasih dan sayang kepada pengarang syair yang pandai itu, boléhlah tuan laerbesar hati, karena maksud tuan itu telah berlakulah. Frits Reuter sekarang telah kami kasihi dihati kami dan kami muliakan dalam ingatan kami.

Kitab Couperus yang amat bagus itu telah menyukakan hati kami. Biasanya kami suka membaca kitab-kitabnya karena bahasanya yang amat bagus itu. Orang-orang yang didalam kitabnya itu selalu tidak tangkas, tidak segar, sepanjang pendapatan kami. Tetapi bahasa dan isi kitabnya telah masuk ke dalam hati kami. Tutur katanya amat merdu! Tanah Belanda boléhlah berpongah diri karena ahli pengarang yang seperti itu!

Dan juga kitab tuan Vosmaer yang amat bagus itupun menyukakan hati kami. Dengan hati yang pilu kami membaca kitabnya yang bagus yang bernama "Inwiyding" itu. Baru sekali itulah, kami berkenalan dengan pengarang bangsa Belanda itu, kamipun banyak mengucap terima kasih akan pertemuan kami yang amat menggirangkan hati sebagai itu. Sesudah membaca kitab "Inwiyding" itu, kami mendapat kitab tentang dongéng orang Gerika dengan bergambar déwa-déwa dan déwi-déwi. Sedap hati melihat gambar-gambar itu dan memba­ca ceritera ceriteranya sesudah membaca kitab "Inwiyding"! O, melihat sekalian keindahan dengan mata kepala sendiri dan merasai kesenangan hati seperti kegirangan hati Sietske dan Frank itu, melihat rupa yang mahabesar, melihat sekalian mahabagus itu! Tidak, tidak, tidak boléhlah kami berharapan sebanyak itu! ......... Biarlah kami mengucap syukur, bahwa adalah orang dikaruniakan Tuhan yang pandai dan berkuasa tentang bahasanya, telah menggambarkan sekalian yang maha bagus itu dimata kami, dan kamipun adalah mengerti akan bahasanya yang bagus itu!

Telah dua bulan adalah seorang di antara ahli komidi bangsa Belanda datang ketanah Jawa, ke tanah airku yang bagus ini. Willem Royaards, ahli komidi dan ahli bicara, telah sekian lamanya menjalani tanah matahari kami dengan kemuliaannya; dan pada setiap tempat, dimana saja ia bermain, senantiasa ia menggirangkan hati penonton dengan kepandaiannya yang amat berkuasa itu.

Betapa suka hatinya tatkala kami hendak mendengar ia bermain. Pada bulan yang lalu kami telah berniat hendak meli­hat kepandaiannya itu, tetapi sayang, ketika itu ceritera yang akan dimainkan tidak jadi dilakukannya. Sungguhpun kami tidak dapat mendengar orang pandai itu main komidi, tetapi ada kegirangan hati kami yang lain, yang telah kami peiroléh. Kami telah bercakap-cakap dengan tuan itu sendiri. Tiadalah sekali-kali kami dahulu menyangka keadaan itu, karena dengan tiada disengaja kami bertemu dengan dia. Itulah suatu keuntungan yang menyenangkan hati kami, ialah yang menjadi obat jerih perarai[9] demam kepada kami pada waktu itu.

Adalah suatu hal perceraian yang menyedihkan hati, yang membawa kami kepada pertemuan yang tiada disangka-sangka itu. Kami ketika itu psrgi mengantar-antarkan sahabat-sahabat kami, yaitu tuan dan nyonya Ovink kekapal, yang akan membawa meréka itu balik ketanah airnya. Kapal kecil yang membawa kami kekapal besar itulah yang mempertemukan kami dengan tuan Royaards, yang waktu itupun turut juga mengantar-antarkan tuan dan nyonya Ovink itu.

Waktu itulah yang memasgulkan hati kami. Tuhan sajalah yang lebih mema'lumi, bahwa kami dengan sahabat-sahabat itu barangkali selama-lamanya tiadalah akan bertemu lagi, karena tiadalah meréka bermaksud akan balik ketanah Hindia lagi. tidak adalah harapan kami akan bertemu lagi dengan meré­ka itu, kalau sekiranya tiada Tuhan menggerakkan kami dapat pergi ketanah airnya itu!

Boléhkah kami berharap demikian?.................. waktu, yang akan memberi jawaban sekalian pertanyaan didunia, hidup ini, tentulah lama lambatnya akan memberi pula penjawaban pertanyaanku itu!

Meréka itu kami sayangi! Kami merasa seakan-akan sebagian dari badan kami lepas teranggut, ketika kedua kapal itu berlayar bertolak belakang! Meréka itu dengan kami sebagai senyawalah rasanya!

"tidak adalah persahabatan yang teguh, dan tidak adalah per­saudaraan hati yang tetap kedapatan di antara dua orang yang berlainan bangsanya, dan yang lahir dinegerinya masing-masing", kata orang acap kali. Hal kami itu menerangkan kata orang itu tidak benar, justa adanya!

Tidak adalah persahabatan antara meréka itu yang sebangsa boléh lebih teguh dan setia lagi dari pada persahabatan kami, antara anak-anak orang putih tanah Barat dan anak-anak orang hitam tanah Timur!

Nyawa yang gaib dibadan, yang hidup selama-lamanya dari dunia sampai keachirat, tidak samalah halnya dengan yang lahir;dan tiadalah ada padanya ba tas bangsa dan agama, dan dialah juga yang akan menghormati dengan gembiranya nyawa lain, yang diam didalam badan lain pula yang berkulit asing, karena dirasanya bahwa ia bersaudara dengan nyawa yang lain itu. Persaudaraan nyawa itu lebih teguh dan lebih dalam dari pada persaudaraan seibu-sebapa.

Beruntung benarlah meréka yang hidup didunia ini, yang tidak saja sesuai, karena persaudaraan seibu dan sebapa, tetapi juga meréka itu beradik dan berkakak, laki-laki dan perempuanpun bersaudara senyawa pula!

Tuan kemendur yang bartemu dengan tuan disini dahulupun sahabat kami, ialah yang menggantikan tuan Ovink menjadi assistent-resident di jombang, itulah pula kehertdak Allah yang tiada disangka-sangka!

 
KALI Jepara DILIHAT DARI KANTOR BOM (PEBIAN) JEPARA.

Perjalanan hidup didunia ini banyak yang ajaib! Bahagia itu kadang-kadang mencahari jalan-jalan yang sesukar-sukarnya akan menemui kita, dan kita manusia yang berpikiran pandak acap kali lekas benar berkesal hati, kalau kita tidak dapat mengetahui tentang sesuatu hal yang kadim itu! Tetapi yang sebenarnya sekalian hal itu amat mudah, asal saja kita mau mema'luminya. tidak adalah cahaya yang timbul, yang tiada didahului dengan gelap gulita; hal itu boléh diperhatikan dari sehari kesehari, dari semalam kesemalam, habis malam berganti siang!

Berapalah girangnya hati kami, jikalau tuan di den Haag nanti bertemu dengan sahabat-sahabat kami, tuan dan nyonya Ovink! Masih sedih hatiku mengingat yang tuan dahulu tidak sempat pergi ke jombang. Disana sedianya tuan mudah boléh pergi melihat pendéta^pendéta di Mojowarno; tentu adalah paédahnya untuk tuan pergi kesana. Kamipun suka benar hendak pergi kesana, tetapi sayang, sampai sekarang belumlah dapat kami menyampaikan maksud itu. Kamipun telah bermaksud juga hendak tinggal beberapa lamanya disana, karena dalam perasaan kami, hidup didalam udara yang suci, yang penuh dengan kasih sayang, boléhlah membersihkan hati dan menguatkan badan!

Tidak adalah manusia, walau bagaimana juapun jahatnya, yang tidak dapat dikuasai oléh kasih dan sayang, yang ichlas dan mulia itu!

11 October 1902 (1)Sunting

O! tidak tahulah engkau, betapa senangnya hatiku, yang barang-barang hasil kepandaian anak negeri kami sekarang diketahui dan dihargai orang. Susah hatiku. mengenangkan, siapakah yang akan menghubung pekerjaan kami ini, jikalau kami tiada ada lagi disini? Kepada adik-adik kami perempuan belum dapat kami menyerahkannya. Meréka itu masih kecil benar, apalagi kalau pengakuan tentang perkara orang wajib ditanggungnya. Sekiranya adalah seorang Eropa yang datang mengerjakan pekerjaan itu disini, tentulah tukang-tukang bangsa kami itu akan disuruhnya bekerja untuk mengisi kantungnya sahaja. untuk kekuasaan hatinya atau akan menolong orang Jawa dengan cuma-cuma sahaja, menjadi orang ditengah dan jurutulis, antara tukang-tukang Jepara dan pasar penjualan hasil kepandaian meréka itu, tentulah orang putih itu tidak mau. Wajib adalah kasih dihatinya, pertama bagi kepandaian itu, dan kedua bagi orang Jawa, maka barulah orang itu dapat mengerjakan pekerjaan itu dengan tiada mengharapkan uang, dan dengan segala sukacita. untunglah perserikatan "Oost en West" telah mengasihani meréka yang kami lindungi itu, tetapi perserikatan itu patut pula mengangkat seseorang menjadi wakilnya disini, karena perserikatan itu tidak dapat berhubung sendiri dengan tukang-tukang itu, sebab meréka itu hanyalah pandai membaca dan menulis dalam bahasanya sendiri saja ....................................................................................................................................................

Yang pekerjaan orang penebas jalan itu, bukannya pekerjaan anak-anak dan bukan pula pekerjaan yang meriangkan hati, telah lama dan selalu kami ketahui; bahwa nasib itu penuh dengan racun penanggungan, telah kami ketahui juga; tetapi bahasa naraka yang ditaruh dihati, tidak Stella,tidaklah kami ketahui; o, tetapi biarlah seribu kali adanya naraka dihati kami, itupun jauh lebih baik dari pada tiada berperasaan! Sekalian barang yang terjulur dikerat orang; sekalian yang bercahaya-cahaya dicemarkan dan dikotorkannya. Sejak dari dahulu meréka itu selalu besar penanggungannya. Dunia ini senantiasa mau menerima manusia yang bersipat-sipat lain, ya berlainan dengan sipat-sipat yang telah lazim. Dan kalau seorang tiada berlaku seperti orang banyak, tentulah selama hidupnya akan diganggu orang, supaya terpaksa ia membuangkan pakaian yang dipakainya itu dan ditukarinya dengan pakaian yang biasa dipakai oléh orang banyak pula.

.....................................................................................................................................................

Saya tidak dapat menjanjikan apa-apa juapun, tidak suka saya berjanji itu kepadamu, Stella, karena saya ta tahu, dapatkah atau tidak perjanjian itu saya sampaikan. Amat burukkah Mojowarno itu pada pemandanganmu? Tetapi manakah yang baik kepadamu, kami menjadi gila di rumah, atau pergi mengobati kesedihan dan kedukaan kami ketempat yang mengandung udara kasih sayang itu? Kesanalah kami akan pergi, jikalau kenang-kenangan kami tiada sampai, karena tidak mau lebih lama lagi tertawan disini, dikurung oleh pikiran yang pandak dan budi pekerti yang hina, seperti biasanya disini. Kami terlalu pemanas hati, tidak dapat kami membiarkan saja meréka itu membuat sesukanya, seperti yang telah biasa, yang sangat kami hinakan dan benci.

Bukanlah musuh kami bangsa asing yang mematahkan sayap kami atau yang kami takuti benar, melainkan musuh kami bangsa kami sendiri, itulah yang memakan hati dan yang menelan otak kami. Tiadalah siapa jua yang dapat membujuk kami dan menolong kami, kecuali Allah dan kami sendiri!

O, Stella, katakanlah kepadaku, bahwa engkau tiada akan bersedih hati dan berputusasa, jikalau mendapat surat dari padaku memberi tahukan, yang surat-suratmu kepadaku hendaklah hingga ini keatas beralamat ke Mojowarno. Berilah kami bujukan, Stella. Dan lepaslah kami, meskipun dengan hati yang pilu, tetapi janganlah hendaknya dengan hati yang luka ke Mojowarno. Tempat itu tiadalah menakuti kami. Kami percaya sungguh², bahwa tempat itu dan alam sekelilingnya yang tinggi suci, berhati kasih-sayang, dapatlah akan menyembuhkan hati kami yang luka, yang selalu gemar mengurbankan diri sampai séhat dan bersih kembali. Tentu sajalah kedatangan kami disana dengan hati yang luka dan luluh, tetapi dalam hal itu Mojowarno tidak ada bersalah sedikit jua. Kalau demikian boléhlah sekaliannya akan hilang lenyap, Stella! Engkau sendiri telah kerap kali menunjukkan hal keadaan pénaku. Iapun di Mojowarno masih kutaruh nanti; karena disana tidak adalah suatupun yang akan mengalahkan dan memberanikanku dari pada badanku sendiri! Disini banyak benar yang melancarkan mulutku, asal saja dapat kusebut sekalian yang terasa dihatiku. Kalau saya menjadi guru pendidik, maka baru senang hatiku melihat yang maksud saya sampai, ialah jikalau orang percaya kepadaku dan menghargai saya. Kalau tidak demikian, tentu tidak maulah meréka itu menyerahkan anaknya kepadaku untuk diberi pendidikan. Tiadalah orang yang akan menyerahkan anaknya kepadaku jikalau saya katakan sekalian, yang telah kupikirkan dan sekalian yang terasa dihatiku; keadaan itulah yang akan memarahkan hati orang kepadaku. Tetapi seperti yang telah saya katakan kepadamu, kalau kami pergi ke Mojowarno hanyalah saja kepergian kami itu dengan hati yang luka dan ingatan yang kelam kabut.

Tahukah engkau apa artinya sekalian itu pada pénaku?

Tidak adalah yang lebih pandai berkata-kata dengan hati, lain dari pada darah yang ada dihati itu. Kejadian yang baru-baru ini telah menjadi suatu tanda pula dan mengingatkan kepadaku, bahwa saya dapat menghélakan diriku dengan pénakoé, sehingga sampailah pénaku..........itu tercecah ke dalam darah dihati. Banyaklah hati yang telah kusuruh menjadi iba dan pilu, dan air matapun jatuh bercucuran. Engkau tentulah telah tahu kepada harapanku, sehingga engkau tiadalah akan menyangka, bahwa sekalian itu kuceriterakan tidaklah karena saya hendak meninggikan diriku. Ia berguna kepadaku akan menerangkan betapa tingginya harga péna itu, kalau berdawat dengan darah dihati. Beberapa bulan yang sudah, telah tersedu-sedu pula seseorang perempuan yang tiada kukenal sedikit jua, ketika ia membaca beberapa patah kataku; karena ia merasa betapa hatiku sedih dan luka seperti disayat-sayat dengan sembilu, ketika kata² itu mengalir dari pénaku. Begitulah keras tertarik hatinya, sehingga dengan sebentar itu juga, bekerjalah ia pergi menolong kesusahan itu. Bésok harinya dapatlah ia memberi ichtiar kepada kami, tetapi sayanglah ichtiar itu terbuang saja sebab dibunuh oléh pikiran.

Orang tentu akan menyangka, yang saya senantiasa berbesar hati, jika orang mengatakan kepadaku, bahwa saya sungguh "pandai" mengarang.

Apakah gunanya pujian itu kepadaku? Saya suka tiap-tiap karanganku itu selalu melekat dihati meréka itu, Stella, dan berapa dalamnya maksud karangan itu, boléhlah diketahui, apabila digali. Didalam hatiku dan didalam ingatanku selalu digocoh dan digali, dan jika telah tersembur darah dari hatiku, maka barulah karanganku itu tetap harganya.

Pilu hati mengingatkan ke dalam itu, tetapi kataku itu benar sekali!

12 October 1902 (VIII)Sunting

Telah setahun saya mendengar dari diri sendiri suatu sipatku yang menyedihkan hati. Saya gila bercantik diri. jangan tuan bersembunyi hati kepadaku, jawablah benar-benar: Saya gila bercantik diri? Kaliau benar, dalam hal manakah? Sedih hatiku mendengarkannya, karena saya suka pada diri sendiri, atau pada orang lain, berkelakuan demikian.

Seseorang, bukanlah tukang fitnah mengatakan, bahwa saya berkata dengan bermain mata. Benarkah itu? Telah saya minta kepada adik-adikku akan memperhatikan sekalian pergerakan dan perbuatanku, dan mengatakan kepadaku apa-apa yang ganjil dilihatnya dan adakah saya biasa bermain mata? Adikku yang selalu berkata benar, mengabarkan, bahwa sejak dahulu ia tahu, yang mataku senantiasa bercahaya-cahaya, kalau saya asyik bercakap meski dengan siapa juapun.

Percayalah tuan yang keadaan itu, tiadalah dengan sengaja kuperbuat, dan tidak pernahlah saya berpikir, mau bercantik diri hendak menyenangkan hati orang, jikalau ada sesuatu yang kuperbuat; bilamana adalah meréka yang berkata demikian, maka keadaan itu sesungguhnya tiadalah dengan sengaja saya perbuat.

Itulah perasaan yang amat menyedihkan hati, karena sementara kita berusaha selalu menjadi seorang gadis yang bersipat yakin, tetapi sekonyong-konyong kedengaran orang berkata, bahwa kita seorang machluk bercantik diri dan biasa bermain mata. Tercenganglah saya mendengar hal itu, dan sedihlah hatiku bukan buatan. Percayalah kepadaku bahwa saya tiada sekali-kali akan berniat dan berbuat seperti itu.

Orang suka yang saya selalu hendaknya betertib, atau kemalu-maluan menundukkan kepala. Saya tidak suka berbuat demikian; saya suka melihat orang pada matanya, dan sekali-kali tidak sudi saya menundukkan kepala menurutkan saja apa yang dikatakan orang itu.

Saya tahu juga apa yang akan disuruh janjikan orang kepada kami, barangkali juga kemauannya dengan sumpah, bahwa jikalau kami pergi dari sini tiadalah akan berbuat malu bagi meréka itu, yakni yang kami sama-sama menanggung sakit dan senang dengan bangsa Eropa. Tentang hal itu janganlah meréka itu gusar.

Dari hati sendiri tiadalah kami hendak berpikir berbuat yang sedemikian; kalau begitu bukankah kami akan merusakkan sekaliannya? Kami sendiripun tidak boléh memperbuat itu; karena kami orang yang suka memberi contoh-contoh dalam hal kebaikan.

Nyonyapun tahu, yang kami tidak sedikit juga mau mengacuhkan apa kata "orang." Tetapi dalam hal itu sekali-kali tidak patut orang berkata: "Lihatlah keadaan itu, jikalau anak-anak gadis diberi pendidikan cara Eropa, maka kawinlah ia dengan orang Eropa." Itulah perbuatan yang amat merusakkan cita-cita kami, itu tidak boléh dirusakkan.

Tetapi yang sebenarnya kita semua dalam hidup bersama-sama dengan orang Eropa sama menanggung sakit dan senang. Apakah yang saya perbuat pada waktu ini? Tiadakah orang Eropa hidup dengan mengindahkan perasaan hati kita? Dan tiadakah kita hidup dengan menghormati perasaan hati orang Eropa?

Amat banyak boléh orang merampas, ya, sekalian yang ada padaku boléh dirampasnya; tetapi pénaku mustahil. Dia mestilah tinggal menjadi hakku, dan senantiasa dengan rajin memakainya menjadi senjata. janganlah hendaknya orang banyak benar menggoda kami, karena hati yang terlalu sabarpun boléh pula hilang, dan terpaksalah kami memakai nanti senjata itu, meskipun badan kami sendiri yang akan luka oléhnya. Percayalah tuan jikalau kami sampai pergi ke Mojowarno, kami akan memakainya benar-benar. Lain dari pada badan sendiri, suatupun tidak ada yang kami rugikan dan beranikan.

Tidak usahlah kami katakan kepada tuan, betapa kami, lebinlebih pada waktu ini, mencintakan sahabat-sahabat kami yang berhati setia! Kami sekarang telah berhati beku, sebab itulah kami hendak memanaskannya dengan kasih sayang dan dengan hati tuan. Kami acap kali menyalahkan hati kelobaan orang lain, tetapi bagaimanakah hati kami sekarang ini? Sangat lobanya! Tidakkah naman ya kelobaan yang sebenar-benarnya, jikalau menyuruh orang lain bersama-sama menanggung kesedihan dan kepiluan hati kami sendiri? Dan meminta kasih sayang, pada hal kami tahu bahwa kasih sayang untuk kami itu tidak dapat bercerai dengan kepiluan hati?

Tiadakah terasa oléh tuan, bahwa sipat kami sekarang telah mundur? Sesungguhnya kami sekarang keras, tiada menaruh kasih sayang lagi, dan tajam. O! acap kali kami terkejut melihat diri kami sekarang.

Ya Allah, berilah kami kekuatan, bantu dan tolonglah kami ini! Dan oléhmu, o kekasihku, berilah saya maaf di atas hati tuan yang telah pilu itu, karena membaca suratku ini. Berdiam diri saja tidak baik pula, tidak tulus. Ampunilah saya, kasihanilah anak-anak tuan yang berkulit hitam ini.

27 October 1902 (VIII)Sunting

O! alangkah baiknya jikalau sekiranya kami dapat mengatakan kepada tuan, betapa senang dan lembut hati kami, tiap-tiap kali, setelah tuan menunjukkan cinta dan kasih sayang tuan kepada kami. Dalam kesengsaraan yang sebagai ini, kamipun machluk yang berbahagia juga, menurut pertimbangan kami. Banyaklah orang miskin yang lebih bersengsara dari pada kami, yang hidup sebatang kara, tiada tersanak-saudara, berperang sendiri dalam hidup bersama-sama ini, tidak pernah mendengar kata yang lemah lembut, yang menyukakan hati, tidak pernah menerima pemandangan orang kasih kepadanya, ataupun berjabat salam melepaskan rindu hatinya seperti kami. Kami merasa, bahwa besarlah kurnia dan kekayaan yang jatuh kediri kami karena persahabatan dan kasih sayang tuan kepada kami.

Kasihanilah kami dan percayalah kepada kami selamanya, o ibuku yang dicinta, karena dengan hal yang demikian dapatlah kami bersenang hati. Kami banyak minta terima kasih akan cinta dan kasih tuan.

Téngoklah kami sekarang, telah mulai maju pula, sebab itulah kami dahulu menantikan jawab surat tuan, yang telah kami pahamkan itu. Kami simpan dia sebagai jimat.

Wahai tuan yang; dicinta, kami memohon bersungguh-sungguh, jangan tuan memikirkan juga akan kesenangan kami. Telah acap kali kami katakan kepada tuan, bahwa tiadalah kami mencari kesenangan untuk diri sendiri, melainkan untuk orang lain.

Percayalah, bahwa tidak adalah kami harapkan lagi dari tanah Eropa, dan demikian juga nasib kami pada waktu yang akan datang, bukanlah bunga ros untuk diri sendiri. Hanyalah satu saja mimpi kami lagi, satu saja kenang-kenangan kami kepada tanah Eropa, yakni melengkapkan kami untuk peperangan, yang telah kami kehendaki, yang berguna akan mencari keselamatan bangsa kami, saudara-saudara kami yang perempuan.

Sebenarnyalah, tiadalah kami berharap lagi apa juapun dari tanah Eropa seperti mimpi anak-anak gadis Eropa: "bersuka raya." Tiadalah pula kami hendak mencahari lagi persahabatan dan kecintaan orang disana bagi kami; dan demikian pun tiadalah kami akan berbesar hati, sebab pergaulan dengan bangsa Eropa; hanyalah saja yang kami harapkan dari sana, dan yang hendak kami cari pergi kesana, yakni apa yang perlu bagi maksud kami itu: kepandaian dan pengetahuan. Itulah saja yang kami pikirkan. tidak adalah alangannya bagi kami, jikalau kami di tanah Eropa nanti, tiada senang dan tidak dapat bercampur gaul dengan orang Eropa itu, asal saja kami dapat mencari apa yang berguna untuk maksud kami? Itulah gunanya kami pergi kesana dan tiadalah akan bersuka raya.

Yang mencahayakan hati kami pergi kesana, ialah hendak hidup bersama-sama dengan kakanda kami yang baik hati, yang ada disana, dan tiadalah kami bersaudara dengan dia karena seibu dan sebapak saja, tetapi kamipun bersaudara sehati dan sepikiran dengan dia!

Sebenarnya, tiadalah kami berharap yang benua Eropa akan memberi kami lebih berbahagia. Waktu itu telah lama luput dari kami. Kami menyangka dahulu sungguh-sungguh, bahwa "benua Eropa itulah dunia yang sebenar-benarnya, yang sebaik-baiknya dan yang sebagus-bagusnya."

Ampuni kami karena berkata sedemikian. Tetapi menurut pikiran tuan sendiri telah sempurnakah benua Eropa itu? Kamilah orang yang kesudahan sekali nanti yang tiada akan mengaku dengan syukur, bahwa banyak sungguh kebaikan datangnya dari dunia itu; tetapi maukah tuan menidakkan, bahwa di antara sipat-sipat yang amat bagus, yang amat tinggi dan mulia didunia tuan itu, acap kali kedapatan disana, yang kesopanan menjadi permainan olok-olok saja?

Kami selalu berkecil hati melihat pekerti yang keji-keji dan yang hina-hina dalam dunia hidup kami, tetapi janganlah tuan menyangka, bahwa sifat-sifat yang rendah itu dalam dunia hidup yang akan kami arungi, untuk mencapai maksud kami itu, tidak akan bertemu.

Barangkali juga lebih susah kami menanggungkan keadaan itu; karena pada meréka itu yang namanya telah ada mempunyai "kesopanan" sepatutnya sipat-sipat itu tidak mungkin ada.

Tuan sendiri tentulah lebih mengetahui hal itu dan pada kami; bahwa di antara beribu-ribu meréka itu yang dikatakan oléh dunia berbudi pekerti, tetapi yang sebenarnya hanyalah sedikit saja di antara meréka itu yang bersipat demikian. Luas pemandangan dan panjang pikiran itu, belumlah menjadi kepunyaan masing-masing orang Eropa, yang menurut patutnya dan wajibnya telah mestilah hendaknya meréka itu bersipat demikian; tetapi sedangkan pada kebanyakan salon, yaitu bilik yang sebagus-bagusnya dalam rumah-rumah orang Eropa yang dihiasi dengan perkakas yang mahal-mahal harganya, tempat menerima jamu yang pilihan duduk bercakap-cakap, masih ada juga didapat orang yang dungu dan bebal, yang tidak luas pemandangannya.

Sesungguhnya tiadalah kami mengira lagi, bahwa negeri Belanda seperti suatu negeri dikayangan; bahkan menurut penglihatan dan perasaan kami tentang orang-orang Belanda disini, dapatlah kami mengirakan, bahwa dinegeri yang kecil dan dingin itu, banyaklah kami akan melihat dan merasai keadaan yang menyedihkan dan menyakitkan hati.

Adalah orang yang menuduh kami, mengatakan, bahwa kami orang Jawa pembohong yang sejati, tidak boléh dipercaya, lagi kurang terima kasih.

Hal itu tiadalah saja kami baca dalam surat-surat, tetapi telah acap kali kami mendengarnya keluar dari mulut orang Belanda sendiri ..................... disinilah kami dapat mencoba akan kehalusan hati orang berkata itu.

Kamipun tersenyum jikalau mendengar atau membaca kata-kata yang terlalu manis itut, dan dalam hal itu terpikirlah oléh kami peri hidup pergaulan bangsa Eropa, yakni bagaimana meréka itu telah acap kali benar menunjukkan tanda cinta, tanda benar dan tanda berhati tulus kepada bangsa Bumiputera, dan sebab itulah maka ia melihat kebawah, dan mencaci orang Jawa yang pendusta dan yang sungguh tidak boléh dipercaya itu, dengan sekalian isi empedu yang ada didalam perutnya!

Sampai pada beberapa tahun yang telah lalu belumlah banyak benar kami bertemu dengan orang Eropa. Waktu yang pertama kali kami hadir didalam perkumpulan orang Belanda, ialah pada waktu Seri Baginda Maharaja Wilhelmina naik nobat. O! betapalah kami hendak menceriterakan berapa besar hati kami ketika mula-mula mengetahui tinggi, bagus dan mulianya orang bermain komidi dalam dunia bangsa Eropa! Waktu meramaikan raja naik nobat dan karena melihat keramaian itulah, maka kehormatanku bagi bangsa Eropa menjadi hilang lenyap. Kami melihat dua orang nyonya tengah berbincang-bincang, berkepit tangan dengan ramahnya, yang seorang bersandar kepada yang lain. Kami mendengar kata-kata kasih sayang dari seorang kepada yang lain. Dan dalam pikiran kami tentulah keduanya bersahabat baik. Tiba-tiba datanglah seorang tuan menceraikan kedua meréka itu, dan kedengaranlah kepada kami, apa kata nyonya yang dicari oléh tuan tadi kepadanya "kucing betina!"[10] Dan nyonya yang tinggal sendiri itu berkata kepada kawannya tadi: "Lihatlah perempuan pasik itu, memakai dirinya seperti orang gila." Baharu sebentar tadi ia telah mengatakan dengan sungguh-sungguh, bahwa kekasihnya itu amat cantik rupanya karena pakaian itu."

Sebentar-sebentar kami menyaksikan sendiri pada malam itu berbagai-bagai permainan komidi yang memuliakan perasaan liati seperti itu. Adalah kami melihat muka laki-laki yang rupanya mérah padani, yaitu "tuan-tuan" namanya yang menafaskan bau minuman keras dari mulutnya, jikalau meréka itu berkata-kata o, tempik sorak meréka itu sehingga pecah anak telinga mendengarnya............Kamipun menjadi kuyu karena itu, dan beringinlah kami hendak mélarikan diri kami kepada pergaulan yang ada kesopanannya.

O, jikalau sekiranya kami tukang fitnah dan suka menceriterakan kembali apa-apa yang telah dikabarkan oléh sahabat-sahabat itu dari seorang kepada yang lain, tentulah disini akan timbul suatu peperangan di antara meréka itu. Baru-baru ini seorang anak gadis sahabat kami menulis surat kepada kami, atas kegirangan hatinya telah dijamu oléh seorang perempuan. Kamipun minta terima kasih kepadanya, sebab telah menerima sahabat kami itu dengan hati yang baik. Tetapi apakah jawab perempuan itu kepada kami? "Menurut pendapatanku ia seorang gadis yang tiada berkelakuan, ia selalu bermuka masam, tidak pernah ia melihat dengan berhati senang, mulutnya selalu tajam."

Acap kali benar kami dapat menyaksikan dengan mata sendiri, betapa meréka itu berpeluk cium, tetapi pada hal yang sebenarnya meréka itu seorang dengan yang lain sangat berbenci-bencian.

Tiadalah nona-nona peranakan yang telah biasa dihinakan orang yang berbuat demikian, melainkan orang-orang putih yang berdarah Eropa sejati, yang telah diberi pendidikan, berbudi-pekerti dan berpengetahuan. Kami juga telah melihat betapa nona-nona Hindia yang bodoh dipermain-mainkan oléh orang-orang Belanda yang pandai dan berbudi pekerti.

Orang Jawa itu ialah pendusta yang asli, dan sekali-kali tidakboléh dipercaya!

Tentang tuduhan itu tidak usahlah dipanjangkan lagi, hanyalah kami bertanya: jikalau ada seorang anak berbuat salah karena kebodohannya, dan adalah seorang lagi telah balig dan telah berpikiran, berbuat salah dengan sengajanya dan dengan tipu muslihatnya, siapakah di antara kedua meréka itu, yang berdosa besar? Kadang-kadang kami bertanya kepada diri kami sendiri, apakah maksudnya kesopanan? Iakah...............iakah kepandaian yang amat halus tentang pandai berminyak air, dan mengulas tidak mengesan? O, apakah yang telah kami perbuat ini? Apakah pula yang telah kami katakan itu? Ampunilah kami, o, ibuku! Tuan tentulah tahu juga, yang kami bukanlah bermaksud hendak menyedihkan hati tuan, dan menista tuan, melainkan semata-mata ialah hendak berhati tulus kepada tuan. Hati tulus itulah yang terutama sendi persahabatan kita, itulah yang amat kita kasihi, bukan?

Jikalau kita berhati tulus acap kali dikatakan orang, kita tidak tahu berbudi bahasa. jikalau sekiranya tidak mesti, maka tidak sukalah kami tidak memakai budi bahasa itu; karena kepada kami bangsa Jawa budi bahasa itu boléh dikatakan sudah menjadi darah daging.

Cahaya yang asalnya dari tuan, menyuruh kami melihat dan bertanya: "Apakah gunanya kotak yang tiada berisi?". Pada pendapatan kami tuan wajib ma'lum, bagaimanakah pikiran kami tentang beberapa hal didunia bangsa Eropa; karena tuan rupanya menyangka, bahwa dunia bangsa tuan itu dalam perasaan kami ialah suatu cita-cita yang amat tinggi. Apa yang kami katakan "budi pekerti atau kesopanan yang sebenarnya" sudahlah tuan ketahui dan kamipun tahu pula, bahwa pikiran tuan tentang hal itu sesuai benar dengan pendapatan kami, yaitu: "kesopanan yang sebenar-benamja, sekali-kali tiadalah menjadi hak milik dari tanah-tanah yang mempunyai kesopanan saja." Kesopanan yang sebenar-benarnya itu adalah juga terdapat pada bangsa-bangsa, yang dihinakan oléh kebanyakan bangsa kulit putih, yang hanyalah percaya akan kemuliaannya sendiri.

Pada bangsa kami mémang adalah sipat-sipat yang hina, tetapi bersipat-sipat yang baikpun adalah pula, yakni yang boléh ditiru diteladan oléh bangsa-bangsa asing. Tuan telah melihat bahwa tabiat kami telah berubah; kalau tiada demikian, tentulah tiada perlu kami akan mengatakan sendiri sesuatu sipat kami yang amat baik dan telah 'umum bagi bangsa Jawa yakni sipat "pemalu".

Bapak telah mengatakan sekali kepadaku: "Ni, janganlah engkau menyangka, bahwa banyaklah orang Eropa yang sayang benar-benar kepadamu. Hanyalah sedikit sahaja di antara meréka itu yang betul-betul berhati demikian."

Hal itu tidak guna bapak mengatakan kepadaku; kami sendiripun telah mengetahuinya dengan sebaik-baiknya; kami boléh menghitung dengan jari tangan sebelah dan tidak gunalah dengan jari kedua belah tangan kami, siapa-siapalah yang berhati tulus kepada kami. Kebanyakan di antara meréka itu suka kepada kami hanyalah untuk meninggikan darajatnya atau karena keperluan lain-lain saja.

Sungguh keji benar! yang sebaik-baiknya, baiklah kami tertawa saja melihat keadaan itu, supaya janganlah hati kami menjadi panas dan marah. O, manusia itu kerap kali amat keji pekertinya dan bertabiat seperti orang gila. Tiadakah tuan ma'lum, bahwa banyak benarlah di antara meréka yang berteriak-teriak akan kemajuan kepandaian pertukangan Bumiputera, dan yang tidak putus memuji-muji pertukangan itu; berbuat sedemikian hanyalah karena turut-turutan saja, dan sekali-kali tiadalah oléh karena disebabkan hati yang ada merasa sayang akan kepandaian itu? Beberapa orang yang ternama asyik mengindahkan kepandaian Bumiputera itu, dan tiap-tiap orang boléh dikatakan amat sangat menyukainya! Adakah orang-orang itu berbuat demikian, karena kepercayaannya benar-benar? Hal itu apakah gunanya dipedulikan, sebab yang perlu bukankah maksud sahabat-sahabat yang berkata sayang kepada orang-orang Jawa dan kepandaian orang Jawa itu mudah boléh sampai?

Ta tahukah kami, pada pikiran tuan, apa sebabnya surat kabar "de Echo" suka sekali menerima karang-karangan kami, meskipun kami bodoh dan dungu? Itulah suatu daya upaya akan melariskan surat kabar itu. Surat kabar "de Hollandsche Lelie" memberikan beberapa ruang untuk karangan kami, dan kepala pengarangnya yang dahulu senantiasa meminta izin kepada kami akan memasukkan karangan kami* ke dalam surat kabarnya; apakah sebabnya? untuk pelariskan surat kabar itu! Surat-surat dari anak perempuan Timur yang sejati "anak gadis Jawa sejati", buah pikiran manusia yang setengah biadab, dan dikarangkannya sendiri dalam bahasa Èropah, o, betapakah bagusnya untuk menarik hati! Dan jikalau dengan putus asa kami meratapkan kesusahan kami dalam bahasa Belanda, maka itupun lebih lagi menarik hati. Dan...................o, Allah jualah yang akan menjauhkan!.......................... jikalau sekiranya kami meninggalkan dunia dengan hati yang hancur luluh, karena cita-cita kami mati kena tikam, ya, ya, hal itulah pula yang lebih bagus menarik hati pembaca surat-surat kabar itu.

O! adalah banyak orang yang amat menyukai benar, bermacam-macam daya upaya penarik hati.

.........................................................................

Bahwasanya amat banyak keadaan yang bagus-bagus dalam pengajaran tertib sopan bangsa Jawa. Tetapi sayang benar, karena tiap-tiap orang tiadalah mengerti akan hakikinya.

Orang hanyalah membaca apa yang tertulis saja, apa yang diajarkan oiéh orang pandai-pandai. umpama menahan lelah dan lapar; hakikinya itu maka orang wajib puasa dan tidur sekurang-kurangnya, supaya hidup kita didunia ini dan diachirat nanti boléh baik. Buah pikiran yang mulia itu tiadalah diketahuinya! "Bukanlah makan dan tidur maksud hidup didunia."

Saya anak Budha, tahukah tuan? Itulah sebabnya maka saya tidak makan daging. Dahulu ketika saya masih kecil, saya sakit keras, dokter-dokter tidak dapat menolong saya; meréka, itupun putus akal. Sesudah itu datanglah seorang cina (orang hukuman) sahabat kami, minta hendak menolong saya. Orang tua saya menerima permintaannya itu, dan saya pun sembuhlah. Apa yang tidak dapat ditolong obat-obat dokter-dokter itu dapatlah ditolong obat "dukun-dukun" yang tiada terpelajar. Ia menyembuhkan penyakitku hanyalah dengan menyuruh saya meminum air abu, yang telah dimanterakannya pada tepékong cina. Oléh sebab saya telah meminum obat itu, maka sayapun menjadi anaklah dari keramat cina Santikkong Welahan. Beberapa tahun yang sudah kami telah mengunjungi keramat itu. Keramat itu ialah sebuah patung emas yang diasapi dengan asap dupa siang dan malam. Pada waktu penyakit sampar berjangkit, dibawa oranglah patung itu kesana-sini, berkeliling dengan segala upacara akan menyumpahi jin dan sétan penyakit itu. Dengan segala keramaian tiap-tiap tahun dimuliakan oranglah hari lahif keramat itu. Orang cina dari sana-sini datanglah pada hari itu mengunjunginya. Dari orang-orang tua bangsa cina boléhlah didengar ceritera patung emas itu. Menurut kepercayaan orang cina patung itu hidup sebenar-benarnya.

Tanah air kami tanah yang gaib, penuh dengan wayang, ceritera yang ajaib, dongéng dan 'riwayat. Tuan tentu telah mendengar, betapa sabarnya hati orang Jawa meskipun ia dipukul oléh nasib yang malang dengan sedahsyat-dahsyatnya. cemburu kita melihat hatinya yang sesabar itu. "Inilah takdir" katanya, dan dalam takdir itulah diambilnya penghiburkan hatinya dan tawakkal. Nasib manusia itu telah tentu, sebelum ia melihat cahaya alam. Sebelum ia lahir untung dan malangnya telah ditakdirkan oléh Tuhan. tidak ada seorang manusia yang dapat menolak, apa yang sudah tertentu itu. Tetapi sebelumnya kemalangan itu terjadi, wajiblah kita mencari akal akan menolaknya. Kalau kemalangan itu datang juga, maka itulah tandanya takdir dari Tuhan. tidak ada yang lebih berkuasa didunia ini dari pada' takdir itu.

Tahukah tuan apa artinya keadaan itu bagi kami? Kami wajib tetap berusaha, maju menyampaikan maksud kami, biarpun sekalian hal yang datang itu mesti menjadi. Meréka itupun nanti akan sabar dan berkata: "Inilah takdir".

Sebelum sekalian itu terjadi, tentulah meréka itu akan mengganggu kami; dan jikalau meréka melihat apaapa perbuatan yang telah kejadian, maka dikatakannyalah: "ini takdir' dan sabarlah meréka. ya Allah, berilah kami akan kodratmu!

Susah amat memikirkan hal itu; kami sekarang sedang menyisihkan diri kami dari pada kekasih-kekasih kami itu, mengungkai tali persahabatan, yang dahulu telah menjadi keuntungan bagi kami.

Tetapi lebih baik berpondok kecil yang sempurna dari pada beristana yang telah runtuh; lebih baik bersampan yang sempurna dari pada terapung-apung dikapal yang bagus dan telah pecah.

Telah lama antaranya saya pergi tidur, dengan tiada mendapat ucapan selamat tidur dari bapa sendiri.

Beberapa bulan yang telah lalu tidak pernah bapak pergi tidur sebelum pergi kebilik kami, dan berhenti dimuka bilik kami sebentar, akan melihat anak yang dikasihinya ini, dan menyebut nama si anak, sebelum ia pergi tidur. jikalau pintu bilikku tertutup, maka diketuknyalah pintu itu; si anak gadisnya itu wajib mendengar, bahwa bapak kekasihnya itu tiadalah melupakannya.

Waktu yang manis dan berbahagia itu sekarang telah lenyap! Dahulu saya banyak mendapat kasih sayang, ya, lebih dari pada sepatutnya. Dan jikalau seseorang mendapat lebih tentulah orang lain mendapat kurang.

Allah itu amat adil. Sekarang giliranku lagi akan hidup dengan kurang, karena saya telah lama benar hidup berlebih-lebihan. Sedih hatiku mengenangkannya, tetapi baginya, bapak yang kukasihi itu, saya berharap dan bermohon sungguh-sungguh kepada Tuhan, dapat apalah kiranya ia membuangkan saya dalam hatinya. Bapak, kekasihku yang dicinta itu, tidaklah akan berhati susah benar jikalau dapat membuat yang sedemikian.

Saya masih kasih dan cinta kepadanya dengan sepenuh-penuh hatiku, meskipun apa juga yang akan kejadian kelak, ia kusayangi juga seperti dahulu;................. hanya................. saya wajib membinasakan diriku sekarang, berhati kasih dan cinta tiada dengan cahaya seperti cita-citaku.

Alangkah bagusnya waktu yang lalu, ya, amat bagus! Saya banyak mengucapkan syukur atas kenang-kenangan yang kukasihi itu dan atas tahun-tahun yang amat berbahagia itu!

Aduhai bapakku yang malang, baginya lebih baik saya dahulu tidak menjadi anak Budha, dan kalau begitu dapatlah ia menaruhku dengan hati yang tidak rusak, walaupun saya ditaruhnya hanyalah dalam kenang-kenangan saja.

Benar kata Nellie: Hidup itu kadang-kadang lebih ganas menceraikan kita dari pada maut; kasih dan sayang yang tiada ternilai harganya dan salatu'rrahim yang amat suci, yang dirampas oléh malaku'lmaut, lebih teguh tinggalnya terpateri dalam hati dari pada jikalau ia dirampas oléh hidup.

Aduhai malangnya bapakku yang tua itu, sudahlah takdir kepadanya pada hari tuanya menanggungkan hal sedemikian oléh karena anak yang dikasihinya ini.

Alangkah pilu hatinya menanggungkan itu. ya Allah, ampunilah dosaku itu. Tiadalah ia saja yang banyak berpenanggungan dan berduka hati pada waktu sekarang dan pada waktu yang akan datang, tetapi kamipun telah berperang dan menanggungkan kesengsaraan yang berat itu. Kami memohonkan sungguh-sungguh kepada Tuhan yang mahakuasa, moga-moga janganlah banyak ia terlalu berdukacita karena kami, dan berharaplah kami mudah-mudahan dapatlah ia nanti meninggikan dirinya atas keadaan kedua anak-anaknya yang perempuan ini. Hal itulah kelak yang akan memperdamaikannya dengan hatinya yang sekarang amat kecéwa oléh karena kami itu.

21 November 1902 (VIII)Sunting

Jikalau kami menaruh kasih dan cinta, maka wajiblah kami berbesar hati dan mengucap syukur, jikalau sekiranya kekasih kami itupun berbesar hati pula menerima dan memberi kasih sayang, bukan? jikalau kami menaruh kasih sayang, maka harapan kami yang sebesar-besarnya, ialah yang kekasih kami itu akan beruntung dan berbahagia. Dan berbahagialah meréka yang banyak memberi orang kasih sayang, dan banyak pula orang yang mengasihinya. Maksudku disini bukanlah kasih sayang antara laki-isteri, karena hal itu amat halus, tidak dapatlah saya mema'luminya. Saya berkata disini ialah tentang kasih sayang yang boléh dirasai oléh orang banyak, sungguhpun perasaan itu bagi seorang tidak sama dengan bagi seseorang yang lain.

Kelobaan dirikah itu, jikalau saya berharap, supaya meréka tempatku kasih itu, kasih pula kepadaku, demikianpun meréka akan berbesar hati kali pula atas bahagiaku, meskipun bahagiaku itu datangnya karena saya telah memberikan hatiku kepada orang lain?

21 November 1902 (X)Sunting

Ketahui oléhmu, bahwa lemariku yang bertingkat empat itu, tiga tingkat telah penuh dengan kitab-kitab. Pada tingkat yang keempat kami lapangkan untuk porterét-porterét sahabat-sahabat kami dan tanda mata yang lain-lain; dengan secara demikianlah sahabat kami, adalah kami kumpulkan. Porterétmu terletak antara porterét ibuku dan porterét kakanda Kartono; terjauh sedikit dari porterét Dr. Adriani seorang pandai yang budiman dan seorang sahabat orang banyak yang mulia. Sudah itu tei'letak porterét seorang anak yang manis lagi suci dan segar rupanya, sebagai sekuntum bunga yang baru kembang, yang amat kami kasihi. Porterét bapakpun adalah pula dengan pakaian angkatan. Porterétmu terletak betul dalam suatu perkumpulan orang yang baik-baik, sungguh! Itulah tempat yang setiap hari wajib kami kunjungi; tiap-tiap hari sebelum kami melihat wajah sahabat-sahabat yang kami kasihi dan yang setia itu, belumlah ada permulaannya hari itu bagi kami.

.................................................................................

Kalau kami pikirkan betul-betul, baik benarlah tiada sekalian maksud kami Allah sampaikan. jikalau sekiranya sekalian maksud kami berkenan, berapakah hinanya kami ini; karena dengan hal yang demikian tiadalah kami akan menaruh cita-cita lagi, dan orang yang tiada bercita-cita itu amat buruk keadaannya. Acap kali pula terjadi jikalau kami bermaksud apa-apa tiadalah berpikir; dan jikalau maksud itu sampai, maka barulah kami menyesal. Menurut pendapatan kami sendiri tahulah kami, bahwa cita-cita hati yang sampai itu acap kali bercampur dengan air mata.

Adalah perasaan kami, yang kita nanti akan bertemu juga, tetapi tidak lama, hanyalah beberapa ketika saja. Setelah kita bertemu berjabat salam, lalu bercerai pula, sekalian itu terjadi dalam beberapa saat sahaja. Kita sebelah-menyebelah hanyalah sebentar saja memperlihatkan diri, kemudian bercerailah untuk selama-lamanya. Sungguh gila, bukan, perasaan kami itu, dan tidak dapatlah pula kami membuangkan perasaan itu dari kepala kami.

Apakah sebabnya maka kami berharap hendak bertemu lagi, apabila pertemuan pikiran kita telah sebaik itu; lebih dari itu agaknya tidak berguna lagi; bukankah pikiran itulah yang sebaik-baiknya ada pada kita? Dan jikalau kita kedua belah pihaknya telah mempunyai benda yang sebaik-baiknya itu, apakah lagi yang kita kehendaki?

.........................................................................................................

Bagaimanakah pendapatanmu tentang sekeram api buatan Jepara yang berukir-ukir itu? Tiada baguskah? O! tidak dapat saya katakan kepadamu, berapa besarnya bahagia kami, yang kepandaian tanah air kami makin diketahui dan makin dihargai orang. Selamatlah sekalian sahabat-sahabat orang Jawa yang mulia itu, yang telah memasyhurkan kepandaian itu keluar Hindia, dan bersama-sama dengan hasil kepandaian itu ialah lagi cita-cita bangsa Bumiputera yang bagus; yang tersembunyi dalam hati meréka itupun diketahui orang asinglah pula.

Kami berharap sungguh-sungguh, bahwa kegemaran meréka itu tentang kepandaian Hindia itu janganlah hendaknya seperti yang acap kali kejadian, menjadi suatu kesukaan yang lekas akan hilang lenyap.

Tidak, kesukaan itu tidaklah akan hilang lenyap; kami berharap janganlah hendaknya begitu, meskipun kami wajib mengaku, bahwa kebanyakan orang sekarang ini yang menunjukkan kesukaannya tentang kepandaian kami, berbuat demikian ialah karena turutan saja,........... orang-orang yang pertama kali membangunkan pekerjaan itu, meréka itulah yang bekerja dengan hati dan kepercayaannya sendiri, dan meréka itulah pula lama-lambatnya yang akan mengalahkan kesukaan orang yang hendak meniru-niru itu saja.

Tetapi tiadakah hal yang seperti itu telah biasa kejadian

Berkas:Cikar gerobak kerbau desa bawu jepara.jpg
GEROBAK (CIKAR) DIDÉSA BAWU, JEPARA.

bagi sekalian hal yang baru-baru, dan kemudianpun akan berusia panjang?

Tidak usahlah lagi saya uraikan hal itu dengan panjang lebar.

....................................................................................................................................................

Tengoklah, saya suka benar hendak me i hidup bersama-sama dengan berbagai-bagai kumpulan manusia di atas dunia ini. Misalnya hidup bersama dengan kuli-kuli tambang di tempat menambang, atau hidup dikampung Bumiputera Serani bersama-sama dengan anak negeri yang beragama Serani itu, tinggal dikampung Tionghoa, dikampung Melayu, ya, dimana juapun. Apalagi yang kusukai benar ialah hendak tinggal hidup dikampung dan desa bersama-sama dengan bangsa sendiri. Itulah yang amat meriangkan hatiku benar, karena saya ketahui bahwa dengan cara demikian, makinlah hatiku akan tertawan kepada hangsaku nanti, cita-cita hati bangsa apa juapun, baru boleh dikenal dengan sebaik-baiknya ialah jikalau kita tinggal beberapa lamanya bersama-sama dan hidup bersama-sama dengan mereka itu.

Banyaklah “adat-adat yang bagus telah kulihat pada bangsaku: sekalian itu menjadi permulaan yang menarik kesenangan hatiku, sekiranya saya boleh menyampaikan maksud hidup bersama-sama dengan mereka itu. Seboleh-bolehnya kami cahari pergaulan dengan orang-orang kampung kebanyakan, dan kalau sekiranya kami berjalan sendiri saja, selalu kami mengunjungi sehuah dua rumah. dikampung. Mula-mulanya amat ganjil dan heranlah mereka itu melihat kami, tetapi sekarang telah menjadi bia j

Tangan anak kecil lekas penuh kalau di : begitu tangan suatu bangsa yang masih seperti anak-anak. Mereka itu amat halus perasaannya akan hati yang ramah, dan amat besar kesukaannya untuk bersenda gurau. Senda gurau yang kecil mudahlah membawa mereka itu tertawa-tawa, dan kerja yang berat dikerjakannya dengan bersuka-suka hati. Telah beberapa bulan lamanya, tiap-tiap beberapa banyak orang kuli negeri bekerja dipekarangan kami. Mereka itu sedang mem perbaiki rumah di belakang, dan dekat itu kami akan mendapat sebuah pendopo yang bagus.

Pada waktu tempoh ketika orang melepaskan lelah, acap kali kami pergi ketempat bekerja itu akan bercakap-cakap dengan orang-orang kuli itu. cobalah engkau pikirkan, saudara-saudaramu itu duduk diunggunan pasir, dan berkelilingnya duduklah orang-orang kuli yang telah payah bekerja itu. Mer€ka itu hampir tiada berpakaian pada badannya sambil merokok dan makan sirih. Akan bercakap-cakap dengan mereka itu, wajiblah kami dahuk yang mengeluarkan kata: kalau ta? perlu maulah orang yang dibawah kita sehari-harian berdiam diri saja, dari pada, memulai berkata dengan orang yang di atasnya.

Betul bagus benar kebiasaan itu dalam percakapan itu banyaklah kami dengar hal mereka itu, yang kalau sekiranya tiada kami berbuat sedemikian, tiadalah. kami akan mendengarnya. Orang? kuli itu bekerja dibawah perintah seorang Belanda peranakan (senyur). Ia mula² amat pendiam, selalu memisahkan dirinya dan tiadalah pula ia mau memberi tabik kepada kami kalau ia pulang atau pergi. Sekarang kami telah berkenalan dengan dia kamilah yang mula-mula memberi tabik kepadanya dan menyapa dia. Ia mula-mula amat malu, tetapi sekarang telah pandailah ia berbincang dengan riangnya!

Ia orang baik hati, dan pandai bercampur gaul dengan kuli-kulinya: sungguhpun mereka itu bekerja bebas, tetapi selalu hormat kepadanya. Acap kali kami dengar orang-orang kuli itu berkelakar dengan "tuan” itu, itulah suatu tanda, bahwa kepala kerja itu baik hati kepada mereka itu. jikalan mereka itu kena marah atau wajib mengubah pekerjaannya sekali lagi, tiadalah kami dengar mereka merajuk. Bagus itu, bukan? kepada senyur itu banyaklah kepala-kepala boleh mengambil contoh.

12 December 1902 (VIII)Sunting

Maksud tentang ukiran itu telah sampailah bagus, pada pendapatan kami meja nyonyalah yang sebagus-bagusnya di antara perbuatan si Singo, dan selalulah kami tercengang melihat pekerjaannya itu.

Senang hati melihat betapa si tukang itu selalu bertambah maju. syukurlah baru-baru ini ia dapat terlepas dari pada suatu kesengsaraan yang amat besar. Adalah sebelas rumah yang berkeliling rumahnya habis terbakar. Pohon-pohon kelapa yang dipeka: an rumahnya semuanya telah menyala, tetapi tidakajublah kita melihat karena rumahnya itu ta? binasa. Seisi kampungnya itu pergilah melihat keajaiban itu, bertanyalah kepada si punya rumah yang beruntung itu, “ilmu atau jimat dan sihir apakah yang dipakainya, maka tidak binasa sedikit jua, sedang rumah-rumah yang berkelilingnya habis musnah dimakan api. "Tidak” ia tidak ber'ilmu, tidak berjimat, tidak ada sihir yang dipakainya, hanyalah yang ada padanya "Gusti Allah” yang memeliharakannya dan anak isterinya.” Bagus benar jawabnya itu, bukan'? Tetapi ketahuilah lagi oleh nyonya, bahwa pada besok harinya sesudah kebakaran itu, datanglah tukang itu kepada kami, dan pikirlah oleh tuan, kedatangannya itu ialah meminta syukur kepada kami, sebab rumahnya tinggal selamat tiada binasa. tidak dapat kami menolak kepercayaannya, bahwa rahmat dari kamilah maka api itu tidak datang memusnahkan rumahnya. Itulah kekocatan doa kami kepadanya, maka rumahnya terpelihara tiada mendapat kecelakaan! Apa pikiran tuan tentang hal itu? Betul-lah sedih hati melihat kepercayaan yang semudah dan setulus itu, betul kepercayaan anak kecil!

Sayapun bertanya kepada diriku sendiri, baikkah saya buang akan kepercayaan hati mere yang tulus sebagai anak kecil itu, dan yang memberi bahagia kepadanya itu? Dan kepercayaan apakah yang lain yang akan saya berikan kepada mereka itu penukar kepercayaannya itu? Sebodoh-bodoh orang dapatlah merusakkan barang sesuatu, tetapi memperbaikinya? Kepercayaan kami belumlah dapat kami berikan kepadanya. Mustahilkah orang boleh memberikan kepercayaannya kepada orang lain? Kepercayaan yang sebenar-benarnya, yang sebetul-betulnya, yakni kepercayaan ya tiada dipungut atau tiada dipusakai, terbitnya semata-mata dari hati. tidak senanglah hati kami mendengar yang kami dikatakan oleh mereka itu berkekuasaan sedemikian. Kami dan orang lainpun tidak adalah yang berkuasa sebagai itu.

Banyaklah kami menerima kebaikan hati dari sahabat-sahabat kami, orang kebanyakan itu. Sebab itu adalah beberapa lamanya kami membenci sekalian agama, karena banyak benar kami lihat mereka itu yang tidak menaruh kasih ang sedikitpun, dan agama itu dijadikannya selimut penutup hatinya yang bersipat keji itu. Tetapi lama-lama baharulah kami tahu, bahwa bukanlah agama yang salah dalam hal itu, melainkan manusialah jua yang memperburuk sekalian pemberian Tuhan yang baik-baik di atas dunia ini. Agama yang sebai k-baiknya dan setinggi-tingginya yaitu menurut pendapatan kami, ialah "kasih sayang”. Oleh sebab. itu perlu benarkah mesti orang masuk menjadi orang Serani, maka baru boleh hidup dengan perintah Tuhan yang sebagus itu? Orang yang beragama Budha, Berahma, Yahudi, Islam dan orang biadabpun, bolehlah hidup suci dalam dunia kasih sayang itu.

....................................................................................................................

Adalah barang sesuatu yang sangat menyusahkan hatiku, sehingga lenyaplah badanku rasanya didalam hal itu: mendengar musik yang merdu. Orang boleh melakukan sekehendak hatinya di atas kami, jikalau kami sedang dimabuk lagu musik. jikalau kami hendak membuat barang uatu yang perlu dilakukan dengan hati yang berani, baru dapat oleh kami mengerjakan itu, apabila kami telah melenyapkan diri kami dahulu dengan musik yang merdu. Begitulah keras kekuasaan musik bagi kami. Tetapi adalah pula sekali-sekali kekuasaan musik tiada kami indahkan.

Kalau tiada demikian tentulah acap kali kami wajib menahan diri kami, supaya jari-jari kami ini jangan bergerak dibuaikan oleh bunyi gamelan, yang menuangkan api gembira pada urat-urat badan kami. Dan adik-adik kami yang perempuan \merasai pula sedemikian jikalau mendengar bunyi gamelan itu. Ketika kami masih -anak-anak, telah pandai kami menari, kami belajar sendiri saja; dan ketika kami sedang pandai berjalan sedikit-sedikit telah mulailah tangan dan ba­dan kami bergerak-gerak, mendengar bunyi gamelan. Dan ke­tika masih budak-budak, kami berniat hendak menjadi pan­dai tari, lalu bersahabatlah kami ketika itu dengan pandai tari. Acap kali ibuku memakaii kami seperti pakaian pandai tari, dan sayapun menarilah sampai jatuh terguling-guling. O! dosa yang suci; dengan segala senang hati berpangkulah kami di atas ribaan pandai-pandai tari itu; kami heran melihatkan kebagusan kepandaiannya itu, dan mereka itupun amat sayang kepada kami.

Kemudian, amat lama sekali kemudian dari pada itu, baharulah kami ma'lumi, siapakah mereka yang amat kami muliakan itu, dan kami hinakanlah kepandaian mereka itu karena pekerti mereka itu, dan malulah kami akan diri kami sebab kami telah penuh berniat hendak menjadi pandai tari dahulu.

Dan kemudian itu lagi, belajarlah kami menyisihkan ke­pandaian dari orang yang melakukannya.......... dan sampai sekarangpun kami masih mempelajarinya jua, kami tiadalah mau mengindahkan bagaimana hidup si pengarang, tetapi hanyalah kami wajib menghormati kepandaiannya saja, seperti Multatuli, kebijaksanaannyalah yang dihormati.

Seperti yang telah saya terangkan dahulu, kami berniat benar hendak bercampur gaul dengan orang-orang yang lain bangsa, lain kepercayaan dan lain tujuannya. Baru-baru ini di Semarang kami telah berkenalan dengan beberapa orang kaum Said. Kakandaku banyak berkenalan dengan orang-orang yang baik dan saleh. Ia telah membawa kami kepada seorang kapitan Arab, dan disanalah kami ketahui bahwa kami bersaudara dengan dia. Karena kami seorang dengan seorang bertanya-tanyakan hal itu, maka kami ketahuilah bahwa keluarganya, yakni neneknya yang laki-laki bersahabat dengan nenek kami, bapaknya dan pamannya dahulu kawan-kawan sama-sama bermain dengan bapak, paman dan anak angkat nenek kami.

Oleh karena beberapa hal maka sahabat-sahabat itu telah bercerai-berailah dan sekarang dengan sekonyong-konyong cucu-cucunya telah bertemulah dan berkumpullah pula kembali.

Senanglah hati melihat rumah orang asing didalamnya, dan seisi rumahnya menerima kami sangat ramah. Keadaan yang seperti itu acap kali kami dapati, kalau kami bertemu dengan orang-orang bangsa asing, yang tidak kami kenal, tetapi mereka itu atau orang tuan ya adalah berkenalan dahulu dengan nenek kami.

Begitulah juga adalah kami bersahabat lagi dengan orang-orang kampung Habsi, dan orang tua mereka itu dahulu bersahabat dengan nenek-nenek kami. Kami selalu diterimanya dengan ramah dirumahnya. Baru-baru ini seorang anaknya laki-laki kawin dengan seorang gadis Habsi disini.

Kami adalah datang pada peralatan itu. Banyak di antara adat-adat mereka itu yang tua-tua telah dibuangnya, sehingga karanganku tentang peralatan yang demikian tidak benar lagi. Karangan itu telah lama saya karangkan ketika saya masih kecil, dan pada beberapa tahun yang telah sudah tersiarlah karangan itu didalam "Tiydschrift voor taal- land en vol­ kenkunde van Nederlandsch Indie". Saya tidak tahu, patutkah saya berbesar hati melihat beberapa adat-adat tua meréka itu telah terbuang, apalagi melihatkan apa-apa telah dipakai oleh meréka itu akan pengganti adat-adat yang tua itu. Amat buruklah rupanya meniru-niru adat² Eropa dan dicampurkan ke dalam adat sendiri. Sebenamjalah mereka itu menyuruh orang-orang Eropa tertawa melihatnya. Choja yang ternama itu hina baginya, jikalau pada alat kawinnya itu ia akan mengunjukkan cerana emas yang bagus, yang berisi sirih kepada isterinya, ketika mereka itu bertemu. Mempelai yang baru-baru ini kami lihat memberi isterinya suatu karangan bunga buatan, dari pada pelbagai kertas berwarna, dan diikat dengan bermacam-macam pita-pita yang berkibaran kain kemari. Bunga kenanga, cempaka dan melati tiadalah dipakai lagi oleh mereka itu untuk menghiasi pakaian anak dara itu, melainkan sekaliannya bunga buatan dari pelbagai warna. Bukantah mereka itu menurut adat Eropa?

Adalah suatu adat yang dibuangnya, yang amat menggirangkan hati kami. Sudah menjadi adatlah bagi mereka itu, bahwa pengantin dalam tiga hari yang bermula kawin tidak boleh pergi keluar rumah. Orang-orang tua pengantin itu, yang tidak lama boleh tinggal disini, ingin sekali hendak membawa pengantin itu kerumah kami, tetapi tiadalah dapat, karena hari yang tiga itu belumlah habis. Betapa tercengangnya dan besarnya hati kami mendengar ketika ia berkata kepada isterinya: "Besok petang-petang pengantin saya bawa kekabupaten."

"Dimana boleh itu, hari belum habis? masakan boleh?" jawab isterinya.

Dan choja itupun menjawab lagi: "Kangjeng regen mengatakan, bukanluh aturan yang demikian, hanyalah adat sahaja. Adat itu tidak ada yang diikutinya; untung dan celaka itu pembawaan orang sendiri. Kalau hati kita ichlas membuang adat, selamatlah kita dan tiadalah suatu apa juapun yang akan menggoda kita. Hati saya menurut seperti kata kangjeng. Pekerjaan ini sudahlah selamat, dan tiadalah lagi apa-apa yang datang menggoda kita."

Mata kamipun bercahaya-cahayalah melihatnya, maulah rasanya kami menjabat tangannya ketika itu. lapun sebagai seorang Timur yang teguh dan setia memakai adat-adatnya, sekarang iapun mengaku, bahwa adat-adiat itu tidak lain dari pada aturan yang kebiasaan saja, yang boleh dibuang seperti membuang pakaian yang telah tua, jikalau ia tiada memadai lagi, dan adat itu sekali-kali tiadalah bersangkutan dengan untung dan malang nasib hidup kita.

Kami seribu kali lebih beruntung. Kami bermaksud yang mulia dan kami menaruh kasih sayang! Alangkah baiknya kalau kiranya kami boléh memberikan sedikit dari kekayaan kami ini. Tetapi kesenangan hati tidak dapatlah seorang juga memberikannya kepada kita, jikalau kita sendiri tidak mau mengehendakin ya.

Kami tidak berani memikirkan hal itu, apalagi mengharapkannya, tetapi tetapi berapalah senangnya hati kami, ji­ kalau hati yang telah beku itu dapat dihidupkan kembali oléh cahaya Allah, sehingga teranglah ia bersinar-sinar! Oléh karena mengingatkan hal itu sekalian, maka datanglah perasaan yang mendamaikan hati kami yang amat ajaib itu, dan kamipun mengucap syukurlah. Kayalah hidup kami didunia ini, sungguhpun banyak berisi racun didalamnya, tetapi banyaklah pula manisan-manisan yang amat lazat sertanya.

Amat senanglah rasanya hati kami serta banyaklah rahmat bagi kami, sekiranya kami dapat menolong sesama manusia. Harta benda tidak ada pada kami. Dan apa yang ada dapat kami berikan, kami berikanlah.......... yaitu kasih sayang kami. Kadang-kadang ajaib benar kami melihat, orang-orang yang tua dari pada kami, yang telah kawin dan ibu dari pada beberapa orang anak-anak, telah menangis mengatakan kesusahannya diribaan kami. Betapalah kami akan mengucap syukur kalau sekiranya dapat kami menghapuskan air mata mereka, biarpun barang setitik.

Barang siapa yang telah mengenal akan perasaan yang demikian, tidak dapat dan tidak maulah ia melupakannya.

Janganlah tuan bersusah hati memikirkan hal kami, wahai kekasihku, jikalau sekiranya nasib kami pada waktu yang akan datang ada berbahaya. jika sekiranya masih ada didunia ini air mata yang akan dihapus, dan ada juga lagi hati yang mengehendaki kasih sayang, maka sahabat-sahabatmu yang berkulit hitam ini masih ada kerjanya dan tentulah mereka masih........... bersenang hati. Sesungguhnya janganlah tuan bersusah hati memikirkan hal kami, baikpun sekarang atau nanti, janganlah tuan berbuat demikian. Serahkanlah kami kepada Tuhan seru sekalian alam, Tuhan yang amat pengasih dan penyayang.

Ialah yang akan menolong dan membujuk serta memban­ tu dan menerangkan kami jalan. Tawakkallah tuan, jangan­ lah bersusah hati, kami tahu akan Tuhan kami. Dan Tuhanpun tahu pula akan kami, ialah akan menunjukkan kami dengan segala kecintaan jalan yang terang. jikalau kami hendak berbuat yang baik, ialah akan meno­ long kami, dan jikalau kami hendak berbuat yang jahat, tentulah saja kami tiada akan terlepas dari pada hukuman. Kepercayaan itulah yang memikul kami, dan yang memberi hati kami menjadi tawakkal dan senang.

Kami bemiat sungguh-sungguh hendak menjadi kuat benar-benar......... sehingga dapatlah kami hendaknya meno­ long diri sendiri. Menolong diri sendiri acap kali lebih susah dari pada menolong orang lain. Dan siapa yang dapat menolong dirinya sendiri tentulah lebih mudah menolong orang lain.

 
Desa cikeumeuh dekat Cultuurtuin (kebun tanam-tanaman) di Bogor.


3 Januari 1903 (VII)Sunting

Bagaimanalah saya akan meminta terima kasih kepada tuan tentang isi surat dan pidato tuan dalam kerapatan Tweede Kamer pada 26 November yang baru lalu ini; sesungguhnya tidak dapatlah kami dengan cukup meminta terima kasih kepada nyonya atas segala kebajikan tuan bagi kami. Berutang budilah kami kepada tuan, tidak dapat kami akan membayar, ialah yang akan kami bawa kedunia yang baka. O, bagaimanalah saya dapat menceriterakan kepada tuan, apa yang terasa dan telah mengalir dihati dan dipikiranku ketika membaca surat tuan dan sebagian dari pidato itu, yang bergaris dibawahnya. Tercucurlah air mata kami membacanya. Tuhan itu mahabesar, Tuhan itu mahakuasa dan Tuhan itulah yang pengasih dan penyayang. Itulah suatu rahmat Tuhan. Kamipun melihat seorang akan seorang, tetapi tiadalah tampak suatu juapun, karena pikiran kami telah memandang sejauh-jauhnya, mengenangkan tanah-tanah seberang yang jauh itu, dan sahabat-sahabat kami yang bertempat disana, lagi kami kenangkan pula akan waktu dan kejadian yang akan timbul pada hari yang akan datang. Kami kedua sama memikirkan dan mengenangkan sekalian itu pada waktu itu. Sedang hati yang penuh dengan perasaan yang meminta terima kasih pada ketika itu, timbullah pula didalamnya kesedihan dan kepiluan yang amat sangat.

Hati kami menjadi sayu, karena kami tidak dapat ketika itu juga meminta terima kasih kepada sahabat-sahabat kami yang setia dan mulia hati itu, menjabat tangannya atau memeluknya, yang telah memberi kami kegirangan hati itu.

Sayu hati kami mengenangkan orang-orang tua kami, kekasih hati kami, jantung hati kami itu, bahwa kepada me­reka kedua suatu tanda kedukaan yang akan menghancurkan hatinya, jikalau mendengar kabar yang membesarkan hati kami itu.

Wahai orang tuaku yang malang!

jikalau maksud kami sarnpai, maka hal itu artinya bagi meréka, bahwa mereka akan bercerailah dengan anak-anaknya, dan ditambah lagi dengan berduka hati. Betapalah remuk dada dan hancurnya hati meréka itu, jikalau kapallah yang akan memperceraikannya dengan anak-anak yang amat dikasihinya dan membawa si anak itu ketanah asing yang sejauh itu. Adakah meréka akan kembali lagi dengan selamat?........

Adakah lagi meréka akan bertemu pula dengan orang tuan ya nanti?

Mereka itu amat kasih akan kami, lebih-lebih bapakku kepadaku, sebab apabila bapak melihat wajahku, teringatlah ia akan ibunya, pun amat dikasihinya; apalagi mukaku itu serupalah pula dengan porteretnya sendiri.

Moga-moga Tuhan akan melembutkan hati mereka yang amat pilu, susah dan menanggung percintaan itu apabila cita-cita kami akan kami sampaikan. Keadaan itu memanglah suatu kelobaan hati benar, tetapi kami berharap sekali yang waktu itu akan lekas datang.

Saudaraku, Stella dan sahabat-sahabatku yang lain tentulah akan bersuka hati benar, kalau sekiranya pekerjaan tuan yang mulia itu sampai berhasil. Dengan besar hati kami telah membaca pidato tuan, meminta pertolongan kepada Pemerintah akan membantu beberapa orang anak negeri yang amat tuan kasihi; setelah itu kami baca pula penjawaban menteri jajahan, dan kemudian ucapan terima kasih tuan!

Kepada tuan saya berkata dengan tulus dan ichlas hatiku, meminta terima kasih. Kepada nyonya tuan, kami berharap yang sejauh itu, tempat kami berharap akan mengusahakan kepada tuan-tuan kedua, bahwa kesayangan tuan, telah berusaha dengan sejadi-jadinya untuk kami. tiadalah tercurah kepada orang yang kurang terima kasih. Berhati tetaplah tuan bekerja untuk pekerjaan yang mulia, wahai sahabatku!

Bukan sedikit rasanya peperangan dan penanggungan kami karena cita-cita hati itu. Dan kami percaya, bahwa banyaklah lagi kesusahan yang akan kami tanggungkan,

sebelum kami dapat meninggalkan sekalian hal yang akan menyedihkan hati, dan dalam pada itupun lebih banyak pula hal keadaan yang kami sayangi dan kasihi, akan pergi kenegeri yang sejauh itu, tempat kami' berhanap akan mengusahakan diri kami, supaya cakap dan pandailah kami kelak dalam pekerjaan yang hendak kami tanggung itu.

Akan dapat musuh yang ganas, kita sekali-kali tiada perlu berbuat jahat ataupun mengganggu orang lain. Sekarang umpaman ya banyaklah orang sedang mengasut-asut kaum keluarga kami, supaya kami seboleh-bolehnya jangan dapat menyampaikan maksud kami. "tidak pantas," kata mereka itu yang kami mau pergi kenegeri Belanda. Dan berapa pula malu yang akan ditanggung nanti karena pergi kesana itu "dengan ongkos orang lain".

Dan ada pula di antara mereka itu yang bersedih hati melihat saya mengarang, dan diberinya saya isyarat, supaya saya berhenti memperbuat hal itu. "tidak pantas, seorang anak gadis," mengarang surat untuk orang banyak. Bah, seorang perempuan yang belum kawin, namanya terbebar kesana sini: kalau ia ada bersuami tidak mengapalah, boléhlah dimaafkan kalau ia berbuat demikian!

Dari Dr. Adriani baru-baru ini saya mendapat sepucuk surat yang amat panjang, membicarakan berbagai-bagai hal yang tentu akan menyukakan hati tuan juga. Saya menceriterakan kepadanya, apa yang telah tuan perbuat untuk kami, dan ia amat berbesar hati mendengarnya. Ia menulis kepadaku: "Apa yang telah dikatakan nyonya van Kol kepada tuan, itulah ujud segala agama; pengakuan atas mempercayai Tuhan seperti seseorang, tidaklah suatu pengertian, tidaklah pula suatu kebaikan, melainkan itulah yang sebenar-benarnya Maliku'rrahman!"

Banyak lagi hal-hal yang bagus dan berpaódah didalam suratnya. Betapa suka hatiku hendak membacanya bersama-sama dengan tuan, dan memperkatakan isinya dengan tuan. Saya perlu lagi membalas surat itu.

Adalah pula dikatakannya kepadaku: "Tetapi sepanjang penglihatanku, bahwa agama Serani itu ujudnya tiadalah akan memberi orang berbahagia, hanya akan menjadii jambatan antara manusia dengan Tuhannya, itulah mak­ sud agama Serani."

14 Januari 1903 (IX)Sunting

Adikku yang kecil, sekali-kali tidak mau menjadi priayi, apalagi priayi dalam golongan pemerintah negeri; dan jikalau nyonya sekali-kali ada memperkatakan surat-suratku dengan tuan, tentulah tuan akan mengetahui, bahwa saya tiadalah bersedih hati dalam hal itu, melainkan mémanglah amat besar hati kami mendengar maksud dan hajat adik kami itu. Senang hati kami, yang adikku tidak ada bermaksud seperti maksud beribu-ribu mereka bangsa kami; mereka itu menyangkakan, bahwa menjadi priayi itulah bahagia yang setinggi- tingginya dalam dunia ini, sebab mereka mema'lumi keenakan seperti raja kecil, berbaju berkancing letter W., dan berpayung emas!

Girang hati kami, bahwa segala cahaya dan upacara itu ta masuk dihatinya; lebih senang lagi hati kami mengingatkan hal itu karena ia semuda itu telah ada berpengakuan yang demikian, dan ia hendak mencahari jalan sendiri, tiadalah seperti jalan yang telah pasar ditempuh oleh beribu-ribu orang.

Lebih baik menurut pikiranku, ia berusaha untuk menolong mereka yang dilanggar oleh kesakitan, dan pergi bersekolah untuk menjadi dokter. Boleh jadi juga dalam hal itu masuklah kelobaan diri saya sedikit; karena saya suka melihatnya menjadi dokter, sebab dalam hal itu amat banyak dan bagus yang patut diperbuat dan.......... karena dapatlah pula ia menyampaikan kenang-kenangan kami. Berapalah banyak paedahnya nanti, kalau bangsa Eropa dan bangsa Bumiputera timbal-balik dapat hormat-menghormati. Ia boleh berusaha supaya anak negeri akan mempercayai obat-obat Eropa, dan dokter Eropa boléhlah pula memperhatikan obat- obat Bumiputera yang amat mudah itu, yang telah dipastikan mujarrabnya.

Saya telah bercakap-cakap dengan adikku itu tentang kol ah Dokter D.Jawa, tetapi tidak adialah niatnya hendak pergi belajai kesana, dan kainipun tidak suka pula menggagahinya dalam hal itu.

17 Januari 1903 (VII)Sunting

Telah tiga pekan lamanya disini tidak turoèn hujan sedikit juapun. Sekarang disini terlampau panas. Belum pernah kami merasai panas sebagai itu, baikpun ketika musim kemarau yang sekeras-kerasnya.

Bapakku telah putus asa, bibit padi disawah telah merah, karena kepanasan.

Wahai bangsaku yang malang! Dahulu anak negeri di afdeeling ini cukup makannya, dan tidak tahulah meréka itu akan kesengsaraan kekurangan makanan. Tetapi apa yang tidak ada, tentulah boléh datang; dan kekeringan yang amat sangat didalam musim penghujan itu telah memberi tanda, bahwa bermacam-macamlah kesengsaraan yang akan tiba. Bagaimanakah gerangan halnya nanti, jikalau sekiranya hari selalu saja panas seperti itu? Sudah datangkah sekarang pertukaran musim? Alangkah lekasnya kalau demikian, karena telah dua kali pagi bertiuplah angin, yang biasanya datang dalam bulan Mei. Dan telah mulaikah sekarang mu­sim kemarau?

Betul susah sekali hati kami sekarang; seorang juapun tidak berkuasa akan mengubahnya. Amat pilu hati melihat sekalian bibit-bibit, yang telah ditaburkan dan ditanam orang, semuanya sekarang telah mérah karena kekurangan air, semuanya hampir mati dan tidak dapat ditolong sedikit juapun. Sayang tidak pandai orang membuat hujan! Dan hari yang sepanas itu melesu dan meletihkan badan pula, tidak suka bekerja. Apa pikiran tuan tentang ratap tangis seorang anak negeri di tanah panas ini! O, betapa susah hati meréka yang bekerja disawah dan diladang didalam panas seperti disini sekarang.......... apalagi namanya saja disebutkan didalam musim hujan! Kirimilah kami sebagian dari hawa dingin negeri tuan itu dan tuan ambillah panas disini sebanyak tuan suka. Sekiranya dapat kita berbuat dimikian, betapalah bagusnya!

25 Januari 1903 (IX)Sunting

Lamalah saya duduk memandang kekertas ini dan tidak tahulah saya apa yang hendak saya tuliskan lain dari pada permulaan kata; banyaklah pikiran yang merawankan hatiku, banyaklah pula perasaan yang timbul dalam ingatanku. Pada waktu itu terkenanglah oléhku sekalian hal yang terjadi didalam hidupku, dalam beberapa tahun yang lalu.

Dalam kegirangan dan sukacita datanglah pula kedukaan yang amat sangat, keputusan asa dan waswas yang menyedihkan hati. Bagi kami rasanya pada waktu yang sudah-sudah, telah bermacam-macam hidup didunia yang kami tanggungkan. Tahun-tahun yang kami ini tidak bersuka ria lagi sebagai anak-anak, telah jauh benar rasanya terletak di belakang kami. Tiap-tiap hari dalam pekan yang baru ini, ba­nyaklah pula hal-hal yang kejadian seperti dahulu bagi kami. Adalah hal yang merayukan hati, dan ada pula yang menyuruh kami minta terima kasih. Sekalian perasaan pada ketika itu adalah didalam hatiku; tetapi perasaan yang memilukan hati itulah yang berkuasa benar di antara sekaliannya.

Ketika saya menulis surat ini terasalah pula dalam hatiku sekalian perasaan itu; karena itu lemaslah saya rasanya. Tetapi sekali-kali saya tidak suka menurutkan hatiku ini; sekalian kata-kata tuan yang pagi tadi, hendak saya pegang sungguh-sungguh didalam hatiku. Saya tidak suka dikuasai oleh pikiran yang menyusahkan hatiku itu, tetapi sekalian kepiluan hati itu, wajiblah sekarang dibawah perintah saya.

Atas sekalian yang tuan katakan ditepi pantai dan dikeréta tadi pagi kepada kami, o, betapalah hendaknya kami akan minta terima kasih kepada tuan? [11] tidak adalah kata-kata bagiku, akan menyatakan perasaan kami itu kepada tuan. Ia hanyalah terasa Saja, tetapi tidak dapat dikatakan! Kami amat mengucap syukur dan amat beruntung, karena telah berbincang dengan tuan. Demikianlah sedapnya kata-kata dan seorang sahabat yang berhati tulus. Kemarin semalam-malaman itu saya selalu mengenangkan kata-kata tuan, dan sekaliannya menguatkan hatiku. Kami berdua lama memperkatakan hal itu kemarin dan hari inipun juga; dan jikalau bapak telah bertambah sembuh sedikit dari pada sakitnya, kamipun hendak mengabarkan hal itu kepadanya. Sekarang boléhlah kami angsur memberi tahu dahulu kepada ibuku, dan memulai perlahan-lahan menulis keringkasan permintaan kami itu.

jikalau perkara itu telah selesai, kami tulislah nanti beberapa pucuk surat kenegeri Belanda. Sekarang amat tetaplah hati kami. Itulah yang perlu sekali bagi kami dahu­lu; kata yang lurus, benar dan menetapkan hati dari pada seorang sahabat yang tulus hatinya, telah teguhlah melekat dihati kami.

Kami ingin benar dahulu hendak berbincang dengan tuan kedua. Dengan segala suci hati saya meminta terima kasih kepada tuan atas kata-kata dan nasihat tuan kedua.

yang menyuruhkan kami lagi berniat hendak pergi kenegeri Belanda, ialah cita-cita hati kami hendak menjauhi untuk sementara dunia, yang telah melukai hati kami dengan ganasnya itu. Sengsara yang seperti dinaraka itu tidak patut kami tanggungkan lagi. Negeri Belandalah yang akan membuangkannya dan akan menggantinya pula dengan kesukaan lain, yang bergunung-gunung banyaknya.

Terimalah ucapan terima kasih kami, karena tuan telah menunjukkan hal itu kepada kami.

27 Januari 1903 (X)Sunting

Saya mengenangkan waktu yang telah lalu, ketika kami dengan ayah bundamu bersuka hati, berjalan-jalan ditepi laut disini, laut kami! Itulah waktu yang mulia, tidak dapat dilupakan! Dan waktu yang baru lalu ini, yakni waktu kami duduk ditepi pantai bersama-sama dengan ayahmu, akan tinggallah pula selalu dalam kenang-kenangan kami. Disanalah bapakmu berbincang dengan kami tentang maksud-maksud kami.

Berapalah besar harganya perbincangan itu, yang keluar dari hati seseorang yang amat kami muliakan dan kami kasihi, apalagi ia seorang dari pada sahabat kami, yang kami ketahui berhati tulus dan ichlas.

Apakah hasilnya perbincangan itu bagi kami? Saya semalam-malaman itu tidak dapat tidur. Saya tidur pada malam itu berguling kekanan berguling kekiri, karena kepalaku penuhlah dengan kata-kata bapakmu yang sungguh-sungguh, lagi terbit dari hatinya yang kasih sayang itu!

Itulah yang amat perlu bagi kami, itulah yang telah lama kami kenang-kenangkan, yakni kami hendak mendengar kata yang sesungguhnya, yang keluar penuh dengan kasih sayang, dari hati masuk kehati, bertentangan mata dengan mata.

Bésoknya pagi-pagi benar bapakmu mesti berangkat pula. Sedihlah hati kami memikirkan itu. Kami pergi mengantar-antarkan yang mulia itu, dan dikeréta kami hubunglah pula percakapan yang ditepi pantai kemarin. Achir kalam, ialah kami hendaklah selekas-lekasnya mengirim sepucuk surat permintaan kepada Gubernur jenderal, dengan seizin orang-orang tua kami, supaya Pemerintah akan membantu kami, menyampaikan pendidikan kami, berguna untuk perempuan Jawa pada waktu yang akan datang dan pendidikan itu akan kuterima di........................Betawi!

Tidakkah engkau héran mendengar kabar itu, saudaraku? Saya tidak tahu bagaimana pendapatanmu tentang hal itu. Tetapi tiadakah engkau akan mengatakan, yang saya selalu berputar pikiran? Mula-mula dengan segala kekuasaan hati hendak pergi kenegeri Belanda; bumi dan langit telah bergerak supaya maksudnya itu dapat disampaikan, dan karena usaha sahabat-sahabatnya, dapatlah meréka pergi kesana; tetapi sekarang meréka berkata: "Saya tinggal disini!" 333

Apakah katamu tentang pikiran yang selalu bertukar-tukar itu. Tetapi lebih baik, jika sesat berbalik surut, dari pada sesat telanjur, yang kadang-kadang karena kesombongan hati tidak mau mengaku akan kesalahan itu.

Tahukah engkau apabilakah maksud kami hendak pergi ketanah Belanda itu telah bulat?

Dalam bulan December tahun 1901, ketika kami sedang menanggung kesusahan hati, yang tidak tepermanai itu. Ketika itu timbullah dihati kami maksud yang buas hendak pergi berjalan jauh, berpisah diri dari tempat yang telah meracun menyakiti hati kami itu. Berjalan, berjalan ja­uh pergi ketempat yang berudara lain, bernapas, hidup pada hawa yang lain, dan jikalau hati kami yang luka parah telah sembuh, pikiran serta barangkali juga badan kami telah kuat, berbaliklah kami menjelma seperti lahir kembali kedunia, ke dalam pergaulan yang lama akan bekerja untuk perubahan yang baik...............

Kesusahan yang seperti dinaraka itu, tidak boléh kami tanggungkan lagi. Tanah Belandalah yang akan menjaga, supaya kesusahan itu tiada akan datang kembali, dan orangpun tidak akan mengenangkan kami lagi; sayang sekali hendak melupakan kami itu lekaslah akan kejadian. Demikian ju­ga oléh sebagian dari dunia bangsa Bumiputera lekaslah pula kami dilupakannya, yakni oléh Bumiputera, yang hendak kami usahakan, kalau nanti kami kembali dari negéri Belanda.

Apakah yang menanti kami di tanah Belanda? Kesusahan yang bergunung-gunung, yang belum sedikit jua kami ma'lumi hal keadaannya. Bapakmulah yang menerangkan sekalian hal itu kepada kami, dan ditunjukkannyalah pula kesengsaraan yang akan kami tanggung nanti disini, yang datangnya dari pada meréka yang akan kami tolong itu, jikalau kami kembali kelak dari tanah Belanda.

Sekalian itu sungguh benar, o cita-citaku yang malang! Engkau tahu, bahwa itulah suatu cita-cita kami yang amat besar hendak belajar ketanah Belanda, untuk pekerjaan yang hendak kami tanggung kelak....................... Demikian pula keadaan bapakku yang baru-baru ini telah sakit keras menyuruh kami pula lebih lanjut berpikir. yang mulia itu amat sayang kepada kami...........

Segala yang kejadian baru-baru ini di tempat sakitnya itu masih tergambar dimataku. Disanalah kami lihat betapa sayangnya si jantung hati kami itu kepada kami. Tetapi bertanyalah saya kepada diriku sendiri, dapatkah kami akan mengubah maksud kami itu, jikalau sekiranya bapakmu tidak datang kemari, dan yang mulia tidak berkata sedemikian kepada kami? tidak tahulah saya............... tetapi sesungguhnyalah kataku ini, bahwa orang tuaku keduanya patut benar banyak meminta terima kasih kepada bapakmu. Dan kamipun sendiri sangatlah terima kasih kepada yang mulia itu!

Lamalah kami berdua beradik memperbincangkan kata-kata bapakmu itu, serta memikirkannya. Achir kalam ialah: Pergi ketanah Belanda itu biarlah kami lupakan dahulu dalam hati, dan sekarang kami berharap, supaya kami boléh lekas pergi ke Betawi.

Sekalian itu ialah kemauan diriku sahaja. Tetapi dalam hal itu haruslah kami ma'lumi baik-baik, apakah kebaikannya yang terutama benar, jikalau kami belajar di Betawi. Tentulah di Betawi kami boléh lekas mulai bekerja, tetapi jikalau kami pergi ketanah Belanda, tentulah kami masih lama akan menanti. Saya selalu memikirkan kata bapakmu: "Apakah sebabnya tidak dibuat lekas apa-apa yang dapat dikerjakan? Pekerjiaan itu lekaslah habis kalau dikerjakan; tetapi dengan jalan pergi kenegeri Belanda, masih jauh tempatnya pada waktu yang akan datang." Bapak­mu berkata sambil mengambil umpama: Adalah seorang yang luka parah meminta pertolongan, maka datanglah seseorang, dan berkata: "O, sahabatku, sekarang saya tidak suka menolongmu, karena saya akan belajar dahulu, bagaimana orang memalut luka." Orang itupun berjalanlah pergi belajar; dan jikalau telah diketahuinya kepandaian palut-memalut luka itu, maka orang yang luka tadi telah lama mati.

Bapakmu berkata pula: "Adalah sebuah mutiara yang terletak dilaut yang amat dalam. Engkau tahu bahwa ia ada disana, tetapi engkau tidak tahu dimana benar tempatnya itu. Engkaupun masuklah kelaut, hendak mengambilnya cara begitu saja. Air laut sementara itu telah sampai kedagumu, kemudian datanglah seorang berkata: "Hai sahabatku, janganlah berbuat demikian, janganlah pergi lebih jauh, air telah sampai kedagumu, kalau engkau tenggelam, tidak dapatlah mutiara itu oléhmu. Baiklah kembali dan masuk­lah engkau ke dalam sebuah perahu, ajuklah dahulu laut itu, dan kemudian baharulah engkau pancing mutiara itu."

Bapakmu berkata, jikalau benar-benar kami suka, dengan segera kami boléh membuka sebuah sekolah, ta usahlah kami membuat ujian suatu apapun. tidak adalah tersebut dalam undang-undang negeri, bahwa orang harus membuat ujian dahulu, maka boléh memberi pengajaran kepada anak-anak gadis Bumiputera. Kami boléh mengambil lagi beberapa orang guru-guru perempuan Belanda, hal itu perkara kecil. Tetapi bagaimanakah pikiranmu, dapatkah kami membuka sebuah sekolah, kalau tidak dipelajari dahulu bagaimana hal keadaan mengajar? Benarlah juga bahwa kami mendirikan sekolah kami itu............(tertawa kita mendengar kata itu, lagi sombong bunyinya) hanyalah terutama maksudnya untuk pendidikan budi pekerti, lebih dari pada pendidikan untuk 'ilmu kepandaian. Sebab itulah kami tidak suka sekolah itu didirikan oléh Pemerintah, melainkan baik didirikan oléh orang partikulir saja, kalau tidak tentulah wajib kami menurut beberapa undang-undang peraturan sekolah. Kami hendak membuat sekolah kecil seperti kehendak kami sahaja, mengajar anak-anak tiada seperti disekolah biasa, melainkan seperti seorang ibu mendidik anak-anaknya.

Sekolah itu tidak boléh dibandingkan dengan sekolah biasa, melainkan dengan sebuah rumah-tangga yang besar, dan segala anggotanya akan berkasih-kasihan, yang seorang mengajari yang lain, dan ibunya tiadalah seperti ibu dimulut sahaja, melainkan ibu sebenar-benarnya ibu......... perempuan yang mendidik badan dan pikiran anak-anaknya.

Maksud bapakmu itu acap kali kami pikirkan, tetapi begini: jikalau kami tidak dapat pergi belajar, haruslah kami tinggal di rumah sahaja; dalam hal itu tidak dapatkah kiranya kami mengambil beberapa orang anak gadis regén-regén di rumah seberapa kebupatén kami dapat menerima? Meréka itu disuruh bersekolah disini seperti biasa, dan di rumah kamilah akan menanggung pendidikan budi pekertinya, sambil bermain-main membela anak-anak itu memperbaiki tingkah lakunya; dan ketika anak-anak kami itu pergi kesekolah, kami ambil lagi anak-anak kepala negeri yang lain, kami ajari meréka itu di rumah merénda, menjahit d.s.b.

Sementara itu dlengan tiada setahu meréka itu kami ketuk-ketuklah hatinya, supaya maulah meréka itu mengambil buah pikiran yang tersimpan dalam maksud kami itu. Tetapi jikalau dapat kami mendirikan sebuah sekolah, kami lebih suka dahulu belajar. Benarkah atau tidak pendapatanku ini, saudaraku? Sekolah itu tentu akan didirikan di Magelang atau di Salatiga. Bapakmu telah memperkatakan hal itu dengan bapakku, dan tidak adalah alangannya lagi; alangannya hanyalah pergi ketanah Belanda itu sahaja. Senanglah hati, bukan?

cara yang seperti tersebut di atas itu, demikianlah halnya nénékku yang laki-laki dahulu mendidik anak² kepala negeri. Nénékku dahulu menyuruh datang kemari seorang guru untuk mendidik anak-anaknya dan lagi pengéran-pengéran dari Solo, dan seorang regén di Jawa Tengahpun mengirimkan pula anak-anaknya yang laki-laki kepada nénék untuk pendidikan itu. Lihatlah pendapatan itu bukanlah pendapatan baru; jadinya maksud kami yang dikatakan orang baru benar itu, ialah yang sebenarnya pendapatan yang telah tua, berasal dari nénék kami. Maksud dan buah pikiran kami itu pusaka dari nénék kamilah. Nénék kami itulah orang yang menebas jalan; kami ini hanyalah melanjutkan pekerjaannya sahaja. Nénékku yang laki-laki dan yang perempuan itu keduanya orang baik hati.

Bapakmu telah menunjukkan kepada kami apa yang akan jadi isi surat permintaan itu; hanyalah sebaris perkataan sahaja, tetapi kami perlu mengirim sepucuk surat peringatan bersama-sama dengan surat permintaan itu. Didalamnya wajib kami tuliskan seterang-terangnya maksud dan kenang-kenangan kami. Surat peringatan itu haruslah keluar dari hati kami sendiri, tidak boléh sedikit juga dipikirkan, bahwa ia akan dihadapkan kepada Gubernur jenderal, melainkan kami tuliskan sahajalah apa yang terasa dihati kami.

Bapakmu suka membacanya lebih dahulu jikalau kami kehendaki, tetapi menurut pikiran yang mulia tidak usahlah kami menyerahkan surat itu kepadanya.

Kami wajib menulis dengan seada-adanya apa yang keluar dari dalam hati kami sahaja.

31 Januari 1903 (X)Sunting

Hari ini suratku wajib habis, karena bésok pos ditutup. Dengan pos itu ia akan kukirimkan. Sungguhlah waktoé itu lekas sekali melayang! Pada hari ini telah sepekan lamanya bapakmu datang kemari.

Marilah sekarang kita perkatakan keperluan kita. Maukah, engkau? Méja kecil dan papan tempat kitab-kitab itu telah kusuruh kerjakan kepada tukang ukir. Ia masih bekerja juga. Tetapi engkau tentu akan sabar sedikit dulu, bukan? Tukang itu amat banyak kerjanya untuk perserikatan "Oost en West." Méja kecilmu itu kami buat bersegi delapan dan berukir seperti contoh kain batikku, lukisan Jawa sejati! Kayunya seperti méja itu juga, dari kayu sana (berwama hitam), itulah kayu yang sebaik-baiknya yang boléh didapat disini. Papan tempat kitab-kitab itu kami suruh buat dari dua bilah papan, tidaklah terlalu besar betul seperti permintaanmu kepadaku. ukur- an yang sebenarnya saya telah lupa. Sekarang dua buah méja saya suruh buat, berlain-lainan bangunnya. Marilah kuterangkan keadaannya sedikit. Méja itu berkaki tiga berukir-ukir, dan ditengah-tengahnya itulah terletak papan méja itu.

Sekeram kecil yang baru-baru ini kami kirimkan kepada Gubernur jenderal, betul amat bagus. Bapakmu yang telah melihatnya disini, memuji benar kehalusan perbuatannya. Sekarang kami suruh buat lagi dua buah sekeram api, yang sebuah bangunnya seperti lokan, terbuat dari pada tiga bilah papan seperti akar yang berlipat tiga, dan sebuah lagi bangunnya seperti garuda dan sayapnya boléh digerak-gerakkan.

Selalu keluarlah dari kepala kami pikiran yang baru-baru, dan sangatlah kami bersenang hati, yang perserikatan "Oost en West" mau menyuruh memperbuat sekalian itu. Kadang-kadang terbitlah pikiran itu ketika kami telah terguling di tempat tidur, dan sebentar itu juga melompatlah kami dari tempat tidur, terus memasang lampu, dan buah pikiran itu kami gambarkanlah; karena boléh jadi bésok paginya kami lupa, jadi sayanglah kalau tidak digambarkan lekas.

Katakanlah kepada ibumu, bahwa kami telah memperkatakan dengan orang tua kami tentang maksud hendak pergi ke Betawi itu, dan tentang sekolah di Meester Cornelis atau di Salemba itu. tidak ada alangannya lagi bagi meréka itu. Telah senanglah hati, bukan? Meréka itu amat bergirang hati yang kami masih tinggal di tanah Jawa. "Susah hatiku, jika engkau pergi," kata bapakku, "saya harus selalu hendaknya dapat melihatmu," kasihan, bapakku itu! Sekarang telah baiklah begitu. Meréka amat mengucap syukur kepada orang tuamu. Kami wajib berjanji kepada ibuku supaya tinggal bersama-sama dan bekerja bersama-sama. Boléhkah lebih bagus lagi dari itu? Itulah kemauan kami benar.

Bukankah baik dahulu itu yang kami hanyalah suka pergi ketanah Belanda sahaja? Sekarang meréka itu bersuka hati dengan Betawi. jikalau kami dahulu itu hendak pergi ke Betawi sahaja, tentulah ada pula alangannya. Sekarang dengan mudah dan lekas surat permintaan kami berlayar beserta dengan surat peringatan kami, dan surat keterangan dari bapakkupun menerangkan tidak ada beralangan tentang maksud-maksud kami.

Betapalah akan girangnya hati Annie Glaser nanti! Tentulah kami akan berkumpul bersama-sama pula, dan sebagai sahabat yang setia akan bersama-samalah kami merasai pahit dan manis, sakit dan senang. Kemarin kami mendapat sepu- cuk surat dari padanya, cobalah pikir oléhmu, bersama-sama dengan surat itu ada dikirimnya sebuah daftar pertanyaan yang patut kujawab dari seorang tuan. Tuan itu amat suka menyelidiki hal-hal yang perlu sekarang untuk pendidikan bangsa Jawa. Ia amat suka hendak mendengar pertimbangan kami tentang hal itu. Tuan itu ialah Mr. Slingenberg yang bekerja digedung ministerie van Koloniën. Ia disuruh Pemerintah kemari akan membuat undang-undang hukuman baru. Annie berkata, bahwa tuan itu sungguh-sungguh hendak bertanya, dan ia bekerja dengan sekuat-kuatnya serta hendak mencahari daya upaya yang dapat diperbuatnya untuk kami. Ia tidak dapat lagi akan datang kemari, karena pada pertengahan bulan Februari yang akan datang, ia hendak berangkat kembali ke Eropa. Sebab itulah maka pertanyaan itu wajib lekas dijawab dengan seterang-terangnya!!!

Pertanyaan yang diberikannya kepada kami itu sungguh amat berharga, yakni pertanyaan yang selalu terkandung dalam hati kami. Sebab itulah pula maka kami tidak mau dan tidak dapat menjawabnya dengan lekas dan tidak senonoh sahaja. Marilah kusebutkan umpamanya: Pertanyaan yang pertama begini bunyinya: "Atur-aturan manakah yang baik dilakukan penambah kepandaian dan kema'muran bangsa Jawa?"

Itulah suatu pertanyaan yang diselidiki oléh orang pandai-pandai yang telah putih rambutnya, dan dapatkah kami menjawab pertanyaan itu dengan satu, dua, tiga sahaja lagi dengan terangnya!

Kedua: "Dengan jalan manakah pengajaran wajib diperbaiki dan diluaskan?" Dapatkah kami menjawab pertanyaan itu dengan sepatah kata sahaja? Tentulah sekurang-kurangnya beberapa lembar kertas berguna penjawab.

Pertanyaan yang kelima dapat dijawab dengan lekas atau dengan sepatah kata sahaja: "Tiadakah harga atau arti kemanusiaan perempuan dalam hal memajukan bangsa Jawa terlalu sedikit sekali diperhatikan oléh orang besar-besar negeri?"

Tuan yang membuat pertanyaan itu, tentulah seorang yang baru memikirkan hal itu. Pertanyaan yang penghabisan amat senang hati menjawabnya. "Dengan cara bagaimanakah yang sebaik-baiknya dilakukan supaya dapat dimulai menambah kesopanan dan kepandaian perempuan Jawa, baik bangsawan ataupun orang banyak? jikalau hal itu sampai kejadian tiadakah nanti akan bersalahan dengan adat istiadat negeri?" Sekalian pertanyaan itu bagus-bagus benar, kami akan memperbincangkannya lebih terang: baikkah? Meréka itu telah menyuruh kami mengeluarkan pikiran dan perasaan hati kami. Kalau sekiranya tidak ada diperbuatnya pertanyaan itu tiadalah kami akan berpikir dan merasa sebagai itu. Kami malam kemarin sampai larut malam menuliskan sekalian peringatannya itu dan akan kami beri keterangannya baik-baik.

Sungguh ganjillah perjalanan dunia ini! yang satu menjolok yang lain. Dan yang sebenarnya sekalian itu tali-bertali. Adalah lagi pikiran yang timbul dihati kami, yang barangkali tiadalah akan menyenangkan hati Pemerintah, jikalau buah pikiran kami itu dapat didengarnya, karena Pemerintah yang sekarang kuat akan agama Serani.

Apa pikiranmu tentang soatu utusan (zending) yang tiada bermaksud hendak menyuruh orang masuk agama Serani, dan menjauhkan sekalian agama, tetapi maksudnya hanyalah hendak berbuat baik akan bangsa Jawa, percintaan kepada yang baik sahaja? Apakah sebabnya maka tidak dapat pada tempat-tempat yang lain di tanah Jawa dibuat sekolah-sekolah seperti di Mojowarno, dengan tiada dilindungi oléh soatu bendéra agama? Dengan hal yang demikianlah dapat orang mengélakkan tombak yang diacukan oléh orang Islam kepada dirinya. Orang Islam senantiasa menghinakan meréka yang mula-mula seagama dengan dia, tetapi kemudian meninggalkan agama itu, dan masuk kepada agama yang lain. Dalam pemandangan orang Islam berbuat yang sedemikian, ialah suatu dosa yang sebesar-besarnya. Orang Islam yang sekarang beragama Serani menghinakan pula meréka yang beragama Islam, karena ia sekarang telah beragama sebagai orang Belanda. Disangkanyalah bahwa darajatnya karena itu sama tinggi dengan Belanda. tidak gunalah lagi saya uraikan benar, apa kesudahannya hal yang seperti itu dalam hidup bersama-sama.

jikalau orang sungguh-sungguh hendak mengajar bangsa Jawa sesuatu agama, baik, dan ajarkanlah kepadanya supaya ia tahu mengenal Tuhan yang satu, Tuhan yang pengasih dan penyayang, Tuhan segala machluk, Tuhan bagi orang Serani, orang Islam, orang Budha, orang Yahudi d.s.b. Ajarkanlah kepada mereka agama yang sebenarnya, yakni: agama dihati. Agama itu mémanglah dapat dipakai oléh orang Serani, oléh orang Islam d.s.b. Pikiran kami negeri Belanda hendaklah mengirim ke Hindia ini orang-orang yang berbudi pekerti, yang berpelajaran, yang tinggi kemanusiaannya, yang mau hidup bersama-sama dengan bangsa Jawa, karena kasih akan sesamanya manusia; hidup dengan bangsa itu berkasih-kasihan serta mengajar, mengobat dan menolong meréka itu didalam segala hal apabila perlu. Anak negeri itu hendaklah dibiarkan hidup dengan sederhana, dan jangan diajar boros, tetapi perlu ditegur meréka itu baik-baik, bila meréka itu mengerjakan adat dalam negeri yang bersalahan dengan kasih dan cinta! Pekerjaan itu nanti boléhlah ditanggungkan kepada anak negeri sendiri, pada waktu ini, belumlah ada di antara anak negeri yang kuat mengerjakannya………………… Péndéknya, adakanlah pekerjaan utusan itu, tetapi tidaklah dengan air serani.

Boléhkah dikerjakan demikian? Sebenarnya amatlah susah mencari orang yang cakap-cakap mengerjakan kerja itu. Tetapi nantilah saya ulangi lagi memperkatakan hal itu kembali. Lebih dahulu mestilah diadakan sendiri kesucian hati, dan pada sekalian pengajaran harus hal itu diperhatikan. Bagaimanakah memasukkan kepada orang yang telah balig dan yang hampir balig sendi kesucian hati itu? Pada pikiranku dangan kitab-kitab ceritera. Orang haruslah mengeluarkan surat-surat kabar yang banyak berisi dengan ceritera yang menarik hati, supaya banyak orang membacanya, tetapi ceritera itu wajiblah beralasan dengan pengajaran pendidikan. Maksud yang sedemikianlah yang hendak kami ajarkan kepada anak-anak kami, sambil bermain-main meréka itu diajar dan diberi pendidikan. Apakah sebabnya dengan jalan yang demikian tidak dapat pula diajar orang-orang yang sudah balig?

Di Betawi kami berharap nanti banyak kami akan berkenalan dengan murid-murid Sekolah Dokter Jawa, supaya banyaklah kami dapat memperkatakan hal itu dengan meréka itu, dan mencoba-coba barangkali dapatlah beberapa orang yang suka mengerjakannya. Meréka itulah nanti boléh diharap, yang akan mengerjakan pekerjaan jadi utusan tidak dengan air serani.

Adikku yang perempuan yang bungsu, Sumatri, baru-baru ini telah membuat ujian klein-ambtenaar. Ialah anak gadis Jawa yang pertama sekali telah membuat ujian itu! Bagus, bukan?

1 Februari 1903 (IX)Sunting

Sekarang tentang orang-orang tua kami sendiri. Iba hati melihat kegirangan hati meréka itu oléh karena kami akan tinggal disini. juga meréka itu amat menerima kasih kepada tuan! Kalau dipikir-pikir benar, baik juga kami dahulu meminta sungguh-sungguh hendak pergi kenegeri Belanda. Sekarang kedua orang tua itu berbesar hati dengan ke Betawi dan tiadalah pula ada beralangan untuk maksud-maksud kami yang lain, hanyalah ibuku meminta yang kami berdua selalu hendaknya tinggal bersama-sama dan bekerja bersama-sama. Adakah yang lebih bagus dari itu lagi? Itulah pula yang kami kehendaki benar.

Saya wajib meminta terima kasih lagi atas nasihat tuan yang terbit dari hati persahabatan itu. Amat besar kebaikan percakapan tuan itu bagi diriku. Apalah pula sebabnya maka tidak akan saya katakan kepada tuan, bahwa keberatan dari pihak-pihak sanak saudara belumlah kami pikirkan, yakni tentang pergi kenegeri Belanda itu adalah akan memberi berbahaya bagi hal keadaan kami sendiri. Tetapi meréka itu yang dibibirnya menamai sahabat-sahabat kami, tentulah amat suka menyiarkan kabar, bahwa kami tentulah akan menjadi Belanda benar, kalau kami telah pergi kenegeri Belanda itu, dan banyaklah nanti ibu-ibu yang gusar hatinya akan menyerahkan anak-anaknya kepada kami. syukur alhamduli'llah yang tuan lekas membukakan mata kami sebelum hal itu kejadian, sebab itulah maka saya banyak meminta terima kasih kepada tuan!

Tadi pagi, ketika kami dalam keréta, kami telah mempersaksikan lagi dengan mata sendiri suatu kepercaiaan anaknegeri yang benar-benar seperti kepercayaan anak-anak.

Ketika itu meréka ada di tanah lapang. Manusia dan binatang berkumpul bersama-sama meminta doa kepada Tuhan yang mahatinggi, supaya tanah yang dahaga itu akan dituruni hujan.

Dimuka sekali duduklah beberapa orang alim dan di belakang meréka itu senteri-senteri perempuan berpakaian putih, dan sebelah menyebelahnya duduklah beratus-ratus orang laki-laki dan perempuan serta anak-anak. Biri-biri, kambing, kuda dan kerbau ditambatkan orang pada beberapa pancang. Seorang 'ulama yang mengepalai sekalian itu berdirilah dimuka dan meminta doa dengan suara yang nyaring. Orang yang banyak itu menjawab "amin", "amin"; sementara itu kambing dan biri-biripun turutlah pula mengembik.

Itulah sembahjang "istira" namanya. Itulah suatu kepercayaan dalam agama yang memilukan hati dan yang dipercayai oléh bangsa kami yang masih bertabiat seperti anak-anak itu.

Sembahjang meminta rahmat itu tiga hari tiga malam lamanya. Tentu mengertilah tuan betapa besarnya hati meréka itu, dan betapa syukurnya kepada Allah, karena sesudah itu haripun hujanlah dengan lebatnya. Doa meréka itu telah berlaku! Tahukah tuan apa kata orang? Oléh karena kami di tempat mendoa itu ada hadir bersama- sama! tidak dapat kami memasukkan kepercayaan dalam hatinya, bahwa kami dalam hal itu tidak ada berbuat apa-apa juapun.

Dahulu dari itu di tempat-tempat lain, adalah pula diadakan oléh meréka itu sembahjang istira, dan setitikpun tidak turunlah hujan; kebetulan pada tiap-tiap tempat itu tidak adalah kami hadir, dan pada persangkaan meréka itu karena kami tidak menghadiri orang sembahjang disanalah, maka tidak turun hujan. Sebab itulah maka anak-anak negeri percaya sungguh, bahwa kamilah yang memberi berkat sembahjang itu. Sebab itulah pula doa itu lekas dikabulkan!

Benarlah amat pilu hati melihat meréka itu mempercayai agama dengan kepercayaan anak kecil itu!

Acap kali saya berharap, supaya saya ada menaruh perkakas porterét dan pandai memporterét, untuk hal-hal yang ganjil yang ada pada bangsa kami itu, lebih-lebih dimana-mana orang Belanda tidak dapat masuk. Banyak benar yang hendak kami perlihatkan dan perkatakan hal-hal bangsa kami dengan sebaik-baiknya, sehingga orang Belanda boléhlah tahu benar-benar nanti akan keadaan bangsa Jawa.

Adalah orang yang berjanji kepadaku hendak memporterét orang menanam padi, sejak dari bermula sampai kesudahannya, kerbau-kerbau dan bocah angonnya (anak kecil tukang gembala), sekaliannya akan diporterétnya. Sayananti akan memberi keterangan porterét-porterét itu, yakni menurut perasaan dan pemandanganku tentang kepercayaan anak negeri, bangsaku sendiri.

Tuan tentulah mengetahui, bahwa saya amat suka membuat apa juapun untuk tuan kedua. Demikianpun untuk keperluan perserikatan "Oost en West" selalu saya mau mengerjakannya, karena dalam hal itu tiadalah orang lain yang saya tolong, melainkan diriku sendiri, sebab sekalian itu berguna untuk bangsa kami, dan perasaanku telah menjadi satu dengan bangsa itu. Sekalian yang saya perbuat untuk bangsaku berguna pula untuk diriku. Minta sajalah apa apanya kepadaku, suruhlah saya acap kali, janganlah tuan takut, bahwa sekalian itu akan memberati saya. Hanyalah dalam hal itu yang saya minta atas kesudian hati tuan sekalian, jikalau sekiranya kehendak tuan itu tidak lekas datang seperti kemauan tuan, tuan akan sabar sediikit.

Saya telah bercakap dengan pandai emas, tentang pergi ke Solo, supaya ia disana boléh belajar mengerjakan kulit penyu. Si tukang itu mau sekali, ketika kukatakan hal itu kepadanya. Ta telah pandai membuat sisir dan adalah perkakas baginya, tetapi mencat belumlah ia pandai benar, dan kepandaian ito pun nanti akan dipelajarinya pula di Solo, Dan lagi disana orang pandai pula mengerjakan tulang dan mutiara, pekerjaan itu harus pula dipelajarinya dan iapun suka pula mempelajarinya.

Kami sekarang dalam waktu permulaan benar hendak memajukan kembali kepandaian bangsa kami yang bagus itu. Dan sekalian pekerjaan itu tentulah tidak lekas akan sempurna seperti patutnya.

Saya mendapat sepucuk surat yang baik isinya dari tuan Dr. Piyzel, seorang dari kepala pengarang surat kabar "Eigen Haard” beserta beberapa buah gambar tentang pekerjaan mengukir. Gambar-gambar itu sungguh bagus cétaknya, bukan? Saya peroléh adalah beberapa buah, dicétak di atas kertas tebal yang bagus. Tahukah tuan lagi apa yang menyukakan hatiku? Karena nyonyalah yang mula-mula sekali menyuruh saya mengarang dengan nama sejati. Tetapi tidak senang pula hati kami, sebab adalah orang yang membuat kami untuk menjadi perkakas melakukan barangnya. Rupanya hal itu tela menjadi adatlah kepadanya.

Senang hati kami mendengar kabar, bahwa di tanah Minahasa ada pula seorang anak gadis Bumiputera yang mempunyai cita-cita "gila” seperti cita-cita kami. Lihatlah, rupanya bukanlah kami saja orang yang "gila”. jikalau bangsawan disini tidak berkenan akan kami, dan anak negeripun tidak pula suka kepada kami, maka kami pergilah lari kepada saudara jauh yang sepikiran itu, kami pisahkanlah diri kami dari pada tempat yang ramai ini ketempat yang tidak dikenal orang, dan disana mencari kerja untuk kepala, hati dan tangan, Tentulah ada tempat didunia yang amat luas itu, yang orangnya suka akan menerima kami.

Saudaraku perempuan yang sulung baru-baru ini ada disini. kemarin ia telah berangkat kembali, tetapi ia tiada akan terus pergi ke Kendal, melainkan singgah dahulu ke Kudus kepada mentuanya yang perempuan, akan mempertahankan diri kami pada mentuanya itu. Sekalian hal yang kami tanggungkan baru-baru ini, menyebabkan kami menjadi pendiam dan insaf. Lihatlah ke Kudus, telah pergi seorang yang hendak mempertahankan diri kami, ialah yang dahulunya sangat melawan pikiran kami. Sekali-kali tiadalah kami pecahkan kepala kami akan membuat sebuah pidato, yang dapat mengibakan hatinya kepada kami. Kami hanyalah berkata dari hati kehati, dan tiba-tiba pilulah hati kami melihat saudara kami itu, dengan air matanya berlinang-linang, dan dengan suara yang gementar, berkata: "Baik, sampaikanlah maksud-maksudmu itu, sampaikanlah cita citamu, saya akan memintakan engkau doa kepada Tuhan, supaya Ia akan memberi engkau rahmat!"

Kami bertanya lagi kepadanya: "Tiadakah engkau akan merasa hati, jikalau orang-orang lain menghinakan dan menyalahi kami?" Ia menjawab: "Orang-orang yang berkata sekarang sekeras-kerasnya itu, nanti akan menutup mulutnya juga!" Saudaraku menyangka, yang mentuanya itu mau, dan suaminyapun mau juga memperkenankannya.

Bagaimanakah hal kami sekarang di rumah? Dahulu tidak boléh kami memperkatakan maksud kami dengan orang lain; sekarang meréka itu sendiri memperkatakannya. Kami baru-baru ini memperkatakan bermacam-macam hal keadaan dengan seorang asing; berapalah besarnya hatiku melihat, karena ketika itu selalu saya berdiri dekat bapak. Dalam dunia pikiranpun, saya anaknya juga, itulah nyanyian dalam hatiku ketika itu! Bapak meminta orang itu datang kemari, ialah akan menguji pikiran seorang dengan yang lain, karena hal yang seperti itu berpaédah untuk kami. O! adalah akan sampai rupanya mimpi kami itu, bahwa permulaan perjalanan kami itu dengan segala berkat meréka itu!

O, cobalah tuan pikir, sebelum kami mengirim surat kepada tuan Siythoff, kami pekan yang lalu telah mendapat surat yang baik isinya dari padanya. Dalam surat itu ia mengatakan, bahwa ia menyesal karena telah mengatakan kami keras kepala, dan kekerasan kepala itulah, yang memaksanya menghormati kami serta berjanjilah pula ia dengan segala suka hati mau menolong kami. Apabila kami perlu akan pertolongan itu, boléhlah kami segera memberi tahukan kepadanya.

4 Maart 1903 (VIII)Sunting

Saya baru-baru ini sangat sakit. Beberapa hari lamanya orang bersusah hati oléh karena saya, dan penanggunganku waktu itu bukan buatan sakitnya. syukurlah, kesengsaraan itu telah hilang, dan kesusahan itu telah ditanggung. O! dengan obat yang amat mudah saja orang membuangkan penyakit itu. Kami telah menuliskan nama-nama obat itu dalam kitab peringatan kami, yang berguna nanti untuk anak-anak kami.

Kemarin telah saya mulai lagi bekerja, adalah baik saja, dan hari ini saya mula-mula berkeréta sesudah sakit. Pilu hatiku melihat betapa bapak meminta syukur atas kesembuhan diriku ini. Saya tentulah duduk dekatnya, dan bapak selalu memegangku seakan-akan takutlah ia yang saya akan hilang. Itulah waktu yang amat berbahagia, kenang-kenangan yang berharga bagiku, itulah mestika untuk waktu yang akan datang! O, kami berdua telah banyak menanggung, dihati dan dibadan.

9 Maart 1903 (VIII)Sunting

Kami telah mendapat surat, bahwa didalam sedikit hari lagi penyu itu akan tiba disini, setelah itu barulah pandai emas itu akan pergi ke Solo. Senang hatiku sekarang, karena telah tiga cabangnya kepandaian anak negeri di tempat tumpah darahku, yang telah mulai hidup kembali, dan kami sekarang bekerja akan mencari juga cabangnya yang lain, hendak menghidupkannya. Meréka itu tahu dan ma'lum sekarang, bahwa maksud kami ialah hendak menyelamatkan meréka itu; meréka itu mengerti sekarang akan keuntungannya; dan dihormatinya kerja kami. Dengan segala suka hati dan rajin meréka itu sekarang bekerja bersama-sama dengan kami. Sekalian apa yang kami buat untuk meréka itu, tentulah akan menjadi sia-sia saja, jikalau sekiranya meréka tidak tahu, bahwa kami bermaksud baik dan memandang untuk keselamatannya. Saya mengucap syukur sebab meréka itu telah mengerti akan hal itu.

Senanglah hati melihat betapa sekarang cabang-cabang kepandaian itu telah hidup kembali. Perempuan-perempuan yang menenun kain "dringin” telah banyak sekarang mulai bekerja, sampai dikampung, berkeliling kampung Melayu banyaklah anak Bumiputera yang bekerja. Sekaliannya adalah maju saja. Pandai emas itu sekarang telah banyak orang upahannya dan murid-muridnya. Dan lagi ada pula budak-budak yang minta belajar untuk mengukir kayu. Itulah suatu hal yang menggirangkan hatiku. di antara anak² itu adalah seorang anak dari kota, jadi tidaklah anak kampung Belakang Gunung, kampung orang pandai-pandai ukir. Murid-murid yang lain kami sendiri mencaharinya; tetapi murid yang seorang, yang datang dari kota itu, ia sendiri memintanya kepada kami. Itulah yang sebenarnya. suatu tanda akan menyenangkan dan menyukakan hati! syukur hatiku dalam hal itu!

Anak-anak yang masih kecil di rumah, nanti akan menyambung pekerjaan kami itu, jikalau kami tidak ada di rumah lagi; kami akan menunjuki meréka itu dari jauh, kalau sekiranya mereka itu patut ditunjuki.

Adalah seorang mengadu kepada kami tentang orang yang tiada terima kasih, dan tentang dengki chianat kepada sesama manusia. Kami katakan kepadanya, bahwa jikalau ia kesal hati, karena manusia tidak terima kasih itu, tentulah kesalahannya sendiri.

Ia melihat kami tercengang dengan matanya yang besar, serta bertanya: "Kesalahanku jikalau orang kurang terima kasih kepadaku?”

"ya, kesalahan tuanlah itu, kalau tuan bersusah hati karena itu; janganlah sekali-kali kita berbuat baik karena hendak mendapat terima kasih dari orang lain: kita berbuat baik maksudnya hanyalah karena pekerjaan itu baik, dan kita sendiri bersuka hati mengerjakannya.”

Menurut pikiran dan sangkaku obat yang sebaik-baiknya, supaya diri kita jadi bersenang hati, dan hidup orang lain dapat kita perbagus, hendaklah kita mencoba dengan sebanyak-banyaknya mema'lumi berbagai-bagai hal. Makin banyak kita ma'lumi, makin kurang kesakitan hati kita, makin kasih dan makin adil timbangan kita untuk orang lain. Hal yang achir itu menyebabkan hidup orang lain menjadi bagus, dan hal yang pertama itu memperbagus hidup diri sendiri; tidak bersakit hati akan sesuatunya, itulah artinya berbahagia.

Ia bertanya kepada kami lagi:

"Apakah yang akan engkau perbuat, jika engkau bertemu dengan seorang yang menarik hatimu?”

"Saya akan berbesar hati dan mengucap syukur, karena keadaan itu artinya, yang saya telah bertemu dengan seorang saudara sepikiran, dan makin banyak saudara sepikiran itu kita peroléh, makin baiklah hal kita, dan makin senanglah hati kita.”

"Saudara-saudara sepikiran ta” pernah akan engkau peroléh!”

Keras sekali katanya itu; tentulah ia menyangka, bahwa sekalian laki-laki bangsa kami amat rendah budi pekertinya, atau boléh jadi juga ia menyangka, yang kemanusiaanku amat tinggi!

Sekiranya diketahuinya betapa saya telah bergirang hati, karena menerima sepucuk surat dari pada seseorang yang tidak kami kenal, seorang muda, saudara sepikiran, niscaya berubahlah. persangkaannya itu! Saya hendak mengirimkan surat itu nanti kepada tuan, kalau ada sempat. Surat itu surat dari seorang murid Sekolah Dokter Jawa. Dan isinya surat itu ialah suatu tanda bersuka hati, yang timbulnya tiada disangka-sangka, karena ia membaca karanganku didalam surat kabar "Eigen Haard”, yang bepermulaan dengan kata pendahuluan dari tuan itu. Seperti laku anak-anak betul............amat muda kesukaan hatinya yang bercahaya-cahaya itu, tetapi bocah pikirannya seperti kepunyaan orang kebanyakan saja............sendi yang teguh tampak dalam dirinya.

Itulah keindahannya orang pandai mengarang, meréka yang tiada dikenalnya mengatakan sahabat ke padanya, karena segala katanya berkenan dihati meréka itu! Saya berbesar hati memikirkan, bahwa tuanlah yang mula-mula membawa saya kesana dengan memakai nama sendiri. Tentulah ada berkatnya, jikalau kami dibela orang yang amat kami kasihi, sebagai tuan.

jikalau karangan itu ada memberi paédah, maka keadaan itu menurut kepercayaanku, terjadinya sebab tuanlah yang membawanya kedunia yang terang ini. Banyak pendapatanku bertambah karenanya, dan iapun telah sampai pula ketempat yang dimaksudnya.

untuk tukang-tukang ukir kami, karanganku itu amat menyenangkan hatinya. Oléh karena karangan itu telah bertimpalah pesanan datang.

19 April 1903 (IX)Sunting

Menahan hati sendiri, itulah yang perlu benar saya pelajari.

Baik benar banyaklah meréka itu dalam waktu yang achir ini telah memberi saya nasihat dalam hal itu.

Saya acap kali melihat tempat penyimpanan kertas tulisku dengan hati kasihan; tetapi saya harus menyabarkan hatiku; kesukaanku hendak menulis ta? boléh selalu saya manjakan; kesukaanku hendak menulis tidak boléh kuperbuat akan melepaskan lelahku saja.

Sedikit kabar yang menyenangkan hati. Mentua saudaraku Sulastri yang perempuan, suka benar hendak menolong kami, dimana juapun; yang sebaik-baiknya baginya tentulah di Magelang, karena disanalah kaum keluarga dan sahabat-sahabatnya diam, dan sekalian meréka itu menyukai pendidikan yang bel Iparku lekas sekali menyukai maksud itu.

25 April 1903 (I)Sunting

Penakut, itulah kesalahan yang ta? dapat diampuni, karena kami sendiri tiadalah dengan selekas-lekasnya mengirim surat kepadamu, ketika telah putus mupakat, bahwa kami untuk sementara tidak dapat memetik buah dari hasil pekerjaanmu yang mulia itu…………tidak adalah orang lain yang lebih heran lagi tentang keputusan itu, lain dari pada kami sendiri. Sekaliannya telah kami sangka akan datang, tetapi tidak pernah sekali-kali kami menyangka dahulu, bahwa kami akan berkata dengan kemauan kami sendiri: "Kami tinggal disini!”

janganlah engkau pikirkan untuk diri kami, kaupikirkanlah sahaja keperluan kami itu, dan apa daya upaya yang sebaik-baiknya untuk menyampaikannya; bagaimana yang akan baiknya, kami serahkanlah diri kami.

O, janganlah engkau menyangka, bahwa kami telah bertukar pikiran; tidak sekali kali. Sedangkan sekarang surat permintaan kami telah terkirim kepada Gubernur jenderal, kami masih percaya sungguh-sungguh, bahwa untuk murid-murid kami kelak, pendidikan di tanah Eropa itulah yang sebaik-baiknya bagi kami. Tetapi ada lagi kebenaran yang lain, yang melintanginya; untuk keperluan kami pada waktu ini lebih baik kami tinggal di Hindia!

Engkau tahu bahwa dahulu itulah suatu cita-citaku yang terbesar, dan sekarangpun masih begitu juga yakni menyempurnakan pendidikan kami mestilah hendaknya di Eropa. Mengertikah engkau betapa susah hati kami hendak bercerai dengan cita-cita itu, apalagi pada waktu sekarang, waktu yang boléh menyampaikannya? Sekiranya kami berbuat seperti kesukaan hati saja, tentulah kami dengan hal yang demikian hendak mencahari kesukaan untuk kami sendiri, karena kamipun tahu, bahwa keperluan yang besar itu dengan jalan yang lain dari pada pergi ke Belanda, lebih baik boléh dikerjakan. Kami sekarang bekerja tiadalah untuk diri kami sendiri, melainkan untuk keperluan itu saja. Pada waktu ini terbaiklah kami mengerjakannya tinggal disini. Maksud kami yang terutama sekali, hendak bekerja untuk orang banyak. Meréka itu harus tahu dahulu kepada kami; jikalau kami sekarang pergi saja dari sini, tentulah kami akan menjadi orang asing kepadanya. Dan jikalau beberapa tahun sesudah itu kami balik kemari, meréka itu melihat kami seperti perempuan Eropa. Apabila orang tidak suka menyerahkan anak-anaknya kepada orang Eropa, tentulah kesukaan meréka itu bertambah kurang lagi akan menyerahkan anaknya kepada seorang perempuan Jawa, yang dipandangnya telah menjadi orang Belanda.

Maksud kami ialah untuk bangsa kami. jikalau bangsa kami tidak menyukai kami, apakah paédahnya Pemerintah membantu kami? Lebih baik sekarang dengan selekas-lekasnya

mulai bekerja, dan mengatakan kepada orang banyak suatukeadaan yang benar: lihatlah, sekarang adalah sebuali sekolali untuk anak gadis Bumiputera!

Pada waktu ini orang sedang asyik memperkatakan kami, diseluruh tanah Jawa orang tahu kepada kami, dan api itu harus selalu kami nyalakan. Kalau kami pergi dari sini, lama merantau, tentulah kesukaannya kepada kami itu makin la­ma makin kurang, kesudahannya hilang sama sekali. Kami se­karang dengan badan sendiri perlu memberi tahukan diri kami kepada orang banyak, dan mencoba mengambil hatinya serta mengajar meréka itu mempercayai kami. Sekiranya kami telah mendapat hati dan pekerjaan itu, barulah boléh kami maju berjalan kemuka.

Maksud pergi kenegeri Belanda itu tidaklah sekali-kali kami buang habis, Stella. Kami selalu boléh pergi kesana. Dan 'Iyikalau kami dari Betawi pergi kesana, lebih baiklah dari pada kami pergi dari sini kenegeri Belanda. Pertama-tama: untuk orang-orang tua kami. Tentulah meréka itu boléh biasa nanti berjauhan tempat dengan kami, dan dengan hal itu meréka itu. lama-lama tiadalah akan canggung lagi mengenangkan yang kami telah pindah lebih jauh ketempat lain. Bagi kamipun baik pula begitu. Lihatlah, kami belum pernah keluar rumah. Sekarang tiba-tiba tempat yang baik ini, tanah air kami, ditukari dengan tanah asing, jauh dari sekalian yang kami kasihi. Perubahan itui amat besarlah bagi kami.

Tetapi sekalian hal itu ialah perkara kecil, dalam hal itu kami tahu selalu melakukan diri, dan tiadalah kami takuti. Perkara yang terutama, ialah: kebencanaan untuk maksud kami sendiri. Hal itu tidak pernah kami pikirkan, barangkali lupa kar"na kepongahan dan keberanian, atau karena terlampau berani dan terlampau pongah; pilihlah mana yang enerkau sukai!

Oléh karena kebesaran hati kami atas cita-cita itu tiadalah lagi kami mengenangkan sedikit juga pikiran orang banyak, ya, kehormatanlah bagi kami dahulu jika dapat melawan pikiran meréka itu yang bersalahan dengan pikiran ka­mi , pikiran kami itu; kami muliakan sendiri, dan tiadalah kami mengacuhkan celaan orang, karena kami percaya sungguh acas kebaikan kemauan hati serta kenang-kenangan dan pekerjaan kami itu. Kami sampai sekarang masih mengatakan pikiran kami baik, tetapi dalam hal itu tidak boléh kami berl>uat de.mikian. Kami harus mendengar buah pikiran orang banyak. Bukantah kami hendak bekerja untuk bangsa kami, sebab itulah perlu kami berbuat supaya meréka hendaknya jangan melawani kami, artinya: kami tidak boléh dengan kasar mencela buah pikirannya, yang sejak kecil sampai besar bersama-sama hidup dengan dia, yakni pikiran meréka yang kuno itu.

Sabar! Kata orang-orang yang budiman kepada kami, kami adalah mendengarnya, tetapi sekaliannya kami tidak mengerti. Sekarang barulah kami mengerti, Stella, sekarang barulah kami tahu, maksud kata yang selalu dipakai si pengubah dunia: Sabar!

Kami tidak dapat mempercepat perjalanan keadaan itu, melainkan boléh jadi memperlambatnya, karena tergesa-gesa itu. Kalau orang banyak tiada menyukai kami, tentulah keperluan itu akan menjadi lambat. Sebab tentulah orang akan bergusar hati memberi anak-anak gadisnya pendidikan yang bébas, takut yang meréka itu nanti akan menjadi seperti kami, menjadi contoh yang tiada disukai oléh meréka itu.

Sabar, sabar sampai achir zaman, Stella! Saya amat bersedih hati ketika kebenaran itu masuk ke dalam hatiku. Kami harus menahan hati, menjaganya, supaya karena kesukaan hati itu maksud kami jangan terganggu. nyonya van Kol menulis dalam suratnya kepada kami: "Akan mencapai cita-cita itu, haruslah orang membunuh beberapa kenang-kenangan."

Kenang-kenangan yang pertama telah kami bunuh; memberikan diri kami seperti seadanya kepada orang banyak.

Tidak, tidak boléh orang banyak tahu, apa yang kami perangi. Nama musuh yang akan kami perangi itu tidak boléh didengar orang. "Beristeri banyak," itulah namanya. jikalau diketahui orang nama musuh kami itu, tentulah tidak ada seorang juga yang akan menyerahkan anaknya kepada kami, untuk diberi pendidikan. Saya amat bersedih hati memikirkan hal itu; seperti dengan dustalah kami memulai mengerjakan pekerjaan kami itu.

Kenang-kenangan kami ialah supaya orang mesti tahu benar-benar kepada kami, dan karena kepercayaannya kelak, barulah meréka itu mau menyerahkan anaknya kepada kami. Hal itu tidak boléh jadi.

Kami masih berdiri dihadapan kerja kami, dan kami lihat kenang-kenangan kami telah berangsur sebuah2 telah hilang..........! O, Stella, janganlah engkau memberati menyalahi kami, karena membuangkan kenang-kenangan yang besar itu dengan berdukacita atas kehilangannya itu. Dukacita seperti sekarang telah mencukupilah. Engkau selalu mengetahui, bahwa itulah suatu kenang-kenangan kami yang besar: hendak pergi ketanah airmu dan disana kami hendak mengumpulkan pengetahuan untuk bangsa kami. tidak usahlah saya memperkatakan itu lagi. Saya banyak meminta terima kasih, dan orang tuakupun demikian juga kepadamu atas sekalian jerih payahmu bagiku,.................dan yang tidak berhasil itu! Tidak, Stella, pekerjaanmu itu tidak hilang, pekerjaan tuan-tuan sekalian, tidak kami memakan buahnya sekarang; tetapi untuk keperluan kami ia amat berguna. Pikiran orang banyak telah memandang keperluan itu, dan ahli pikiranpun telah memikirkan pula hal itu. Hasil pikiran sekalian itu tentulah nanti akan memberi berkat bagi bangsa kami.

Sekarangpun telah adalah orang yang berkuasa bertanyakan kepada kami tentang pendidikan bangsa Jawa.

Adakah mustahil orang-orang itu akan berbuat demikian, kalau tuan sekahan tiada menarik hati ahli-ahli pikiran kami? Adakah Pemerintah dan orang banyak itu mau bekerja menolong kami, kalau tuan-tuan lebih dahulu tiada bekerja untuk kami? Stella, seribu kali saya meminta terima kasih atas hatimu yang berkasih sayang sebanyak itu.

Tidak kekasihku pekerjaan dan kepandaianmu tiadalah hilang. Atas nama bangsaku saya meminta terima kasih kepadamu. Bagi orang Jawa sekalian jerih payahmu itu akan berbahagia.

Maksud kami ialah kalau surat permintaan itu dikabuldengan segera kami akan berangkat ke Betawi. Rukmini untuk belajar menggambar, menjahit dan merénda, 'ilmu kesehatan tubuh, membela orang sakit dan memalut orang luka. untuk menggambar ia akan belajar kepada seorang guru sekolah gymnasium; untuk 'ilmu keséhatan tubuh ia belajar di Sekolah Dokter Jawa. Saya belajar akan menjadi guru. 'Ilmu itu telah saya pelajari beberapa bulan lamanya kepada seorang guru kepala. Saya hanyalah hendak membuat sebuah ujian saja. Kalau sudah kubuat itu sekolah kami pun akan dibukalah di Magelang atau di Salatiga, keduanya negeri yang berhawa sejuk dan banyaklah dokter-dokter opsir bertempat disana. Maksud-maksud kami amat tinggi: kalau sekolah itu telah sedia dan sekaliannya baik perjalanannya, maka kami hendak mengadakan pelajaran untuk tabib-tabib perempuan, perempuan pembela orang sakit dan dukun beranak. Dokter-dokter opsir itu akan mengajar mereka itu dan Rukmini akan mengepalai pelajaran itu. Pekerjaan yang seperti itu hanyalah dapat ditanggung oléh seorang perempuan, yang berbudi pekerti yang baik dan berpengetahuan.

Kami telah meminta kepada Pemerintah uang bantuan untuk mendirikan sekolah itu. Kalau permintaan itu tiada diperlakukan, kami akan meminta tolong kepada orang partikulir. Barangkali permintaan itu akan diperkenankan juga, kalau sekiranya kami meminta pertolongan kepada Seri Baginda Maharaja Wilhelmina.

Demikianlah juga dahulu pikiran bapakku: belajar di Hindia, sesudah itu untuk meluaskan pemandangan pergi ketanah Eropa. Tidaklah seperti maksud kami dahulu, belajar di Eropa dan tinggal disana beberapa tahun lamanya.
Telah setahun sampai sekarang yang saya amat bersukacita berkirim surat kepadamu atas kedatangan tuan van Kol. Dan betul setahun sesudah itu, engkau mendapat surat ini. Stella, kasihilah saya sedikit lagi! Oléh karena hormatmu kepada segala sayang yang telah engkau tumpahkan kepadaku itu, saya berharap sungguh-sungguh kepadamu: Kasihilah saya sedikit lagi.

14 Mei 1903 (IX).Sunting

Baru-baru saya mendapat porterét-porterét sawah yang amat bagus; saya nantikan dahulu sampai padi masak, supaya boléhlah saya bermimpi-mimpi. Kalau karangan mimpi itu ada baik, akan saya kirim bersama-sama dengan porterét-porterét itu pergi ketanah Belanda untuk dicétak.
Kami kemarin pergi ke Belakang Gunung. Berapa senangnya hati kami melihat kepandaian meréka itu yang amat bagus dan melihat keselamatan hidup tukang-tukang kami itu! Kami lihat rumah si Singo telah berubah sejak kami pergi baru-baru ini kesana. Ia sekarang telah mempunyai sebuah rumah kayu dan sebuah rumah batu! Senang hati melihatnya! Rupanya meréka itu amat berbahagia! O, cobalah tuan pergi melihatnya sedang bekerja! Kanak-kanak yang diajarnya itu sekarang telah pandai pula. Senang hati melihat kanak-kanak bekerja! Kami kemarin pergi kesana dengan beberapa orang kenalan baik kami. Betullah seperti sangkaku dahulu; sebab sekarang meréka itu telah pergi kesana, maka kepandaian tukang-tukang yang hina itu bertambah tinggilah pada mata meréka itu.

7 Juni 1903 (VIII)Sunting

Baru-baru ini saya telah berkenalan dengan seorang perempuan yang masih muda remaja; wajahnya hampir serupa dengan anak gadis yang akan menjadi menantu tuan. Ia amat bagus, o, amat bagus benar dan memandang kemana-mana dengan berbesar hati serta berbahagia; meskipun demikian telah banyak penanggungan si muda itu! Lihatiah begitu hendaknya sekalian anak-anak gadis tuan ini! Kalau demikian tentulah meréka itu akan sepadan dengan ibunya yang manis itu. Kami menyangka anak muda itu baru berumur 15-16 tahun, dan hampir tidak percayalah kami bahwa ia telah menjadi ibu. Tubuh yang lemah lampai dan ha­lus itu telah menjadi ibu! Sayang benar saya duduk berjauhan dengan dia, sehingga tidak dapatlah saya bercakap-cakap dengan dia.

 
GUNUNG MURIA DILIHAT DARI SAWAH DÉSA BATE, JEPARA.

Kami bertemu dengan dia dan dengan beberapa orang lain di rumah bapak muda.

Kami lebih dahulu telah berniat, pada malam itu akan menjawab sekalian tanya-tanya dan kata-kata orang kepada kami dengan kata "ia" atau "tidak" saja, karena kami berharap, kalau demikian diperbuat, tentulah orang tiada mau mendekati kami.

Hal itu baik jalannya, sampai seorang muda. suami si ibu yang bagus itu, datang duduk bersama-sama dengan kami. Ia mula-mula menceriterakan yang ia berkenalan baik de­ngan Kartono, dan bersama-sama dengan dia membuat ujian. Dengan tiada disengaja tertariklah hatiku mendengarkan katanya itu, tetapi saya lawani juga sedapat-dapatnya. Tiba-tiba ia memperkatakan kepandaian kami, bermacam-macam kepandaun bangsa Jawa, hal bangsa kami, agama Islam dsb dan tiada dengan disengaja saya telah asyiklah berbincang-bincang dengan dia.

nyonya, lihatlah bagaimana maksud kami yang sungguh tadi, sekarang telah menjadi sia-sia saja!

Pada malam itu banyaklah saya mendengar hal yang indah-indah, yang dahulu ta pernah saya ketahui!

Betapa girangnya hati kami melihat tari wayang sebagus itu. Demikian bagusnya ia menari, sehingga tidak dapat kita memahalingkan mata dari padanya. Ia menari amat halus dan amat bagus. Ia yang sebenarnya seorang perempuan, tetapi ketika ia menari itu perlu ia menarikan tari seorang laki-laki. Senang hati melihat apa-apa yang dipertunjukkannya itu! Pertunjukan yang menyatakan kekuatan dan keberanian, tetapi berapalah halus dan moleknya yang ditarikannya. Itulah kebagusan dan keindahan kepandaian kami, tiap-tiap gerakan badan dan tiap-tiap garisannya itu halus dan mulia dipandang!

Saya tidak akan melupakan keramaian di Demak yang dua hari itu. Tahu benar saya akan hal itu! Kami telah larut malam baharulah pergi tidur, tetapi kami tidakdapat tidur nyenyak.

Dimanakah boleh?.... Karena diluar rumah kedengaran orang bermain gamelan yang amat merdu bunyinya dan lebih-lebih suara orang bernyanyi yang amat indah. Kami tidak dapat tidur..... nyanyi yang amat merdu seperti buluh perindo itu menarik hati kami, dan dalam hati kami timbullah pikiran: Itulah barangkali kesudahannya kami mendangarnya.

Gamelan dan nyanyian tidak dapat kami dengar di Betawi sebagus itu.

Pada hari itu sebagai bermimpilah saya memberi selamat tinggal kepada 'umurku yang sedang remaja, demikianlah perasaan hatiku ketika itu.

Tiap-tiap perubahan dalam dunia hidup kami, adalah kebagusannya masing2 dan tiap-tiap perceraian mendukakan hati kami.

Wahai ibu yang kukasihi, maukah nyonya menolong kami nanti lalam waktu yang baru-baru 'di tempat asing itu.

Tambahlah kasih tuan kepada kami, jikalau telah datanglah waktunya nanti yang kami tidak dapat lagi melihat wajah-wajah kekasih kami sekalian, karena meréka itulah yang perlu untuk menyenangkan hati kami.

Kami pandai, banyak menanggung kekurangan, tetapi "ka­sih sayang" tidak. nyonya telah tahu bukan, bahwa surat permintaan kami telah berjalan beberapa lamanya? Apakah akan jawabnya nanti?

27 Juni 1903 (IV)Sunting

Tentulah segala pekerjaan tuan kepada kami telah hilang, karena tidak adalah sepucuk juga surat yang datang dari padaku. Ampunilah saya, wahai mamanda yang baik budi. Adikku tentu telah mengatakan kepada tuan, yang saya da­lam bulan Februari dan Maart sakit keras, dan kemudian segala waktuku habis dirampas oléh pengajaran. Banyak pekerjaan yang telah saya tinggalkan dahulu. Telah banyak benar kesalahanku, apalagi kepada sahabat-sahabatku. tidak adalah saya mengirim kepada meréka itu sepatah katapun. Sekarang saya ma'lumi betapa salahnya perbuatanku yang dahulu itu; sepatah kata selamanya lebih baik dari pada berdiam diri saja. Dalam waktu beistirahat tidak mau saya dahu­lu mengambil témpoh itu untuk kesenangan diriku, melainkan makin keraslah saya mau bekerja, karena banyaklah lagi yang hendak saya pelajari.

Tetapi hidupku sendiri telah memberi saya témpoh dengan cara yang tiada senang.

Hari inilah saya baru bangun dari tempat tidur, sesudah sakit yang dua pekan lamanya terbaring saja. Hampir sekalian penyakit telah datanglah kepadaku. Selesma, demam, sakit béngék, pusing kepala, sakit perut dan kesudahannya sakit puru campak dan sakit cacar air (ketumbuhan). Benar-benar sekalian itu telah mengancam saya. Orang tuaku dan adik-adikku tidak pernah keluar dari tempat tidurku; kekasih saya itu semuanya amat sungguh menjaga dan memeliharaku. Penjagaan meréka itu boléh benar menjadi contoh. Adikku Rukmini seperti bidadari kasihnya menjagaku. O! tidak tahulah tuan betapa sayangku kepada anak itu; setiap hari rupanya makin teguhlah ia terikat dihatiku. Ia selalu mengatakan, bahwa saya lebih mulia dari padanya, tetapi itu tidak benar; ialah yang lebih mulia dari padaku; tentulah pengakuan tuan tentang hal itu demikian juga.

Baru-baru ini kami mendapat sepucuk surat yang panjang isinya dari nyonya van Kol, yang telah membesarkan hati kami benar, karena mendengar kabar yang tuan telah mengirim surat kepadanya tentang hal kami. Disanalah kami melihat kesayangan tuan yang sungguh dan persahabatan tuan yang tulus bagi kami. Saya banyak meminta terima kasih kepada tuan, wahai sahabat yang kusayangi dan yang berhati suci!

Sekarang tuan tentu tidak bergusar hati lagi, karena kami akan tinggal di Hindia juga. Kami harus menyampaikan terima kasih dan salam kepada tuan dari tuan dan nyonya van Kol. Waktu ini amat banyak kerjanya, kalau ada témpoh ia akan berkirim surat kepada tuan. Sekarang biarlah kami saja membalas surat yang kepada tuan dan nyonya itu. Ten­tang hendak pergi kenegeri Belanda itu, sebenarnya sama pikirannya dengan tuan. Bahwa sebenarnyalah tidak pernah nyo­nya van Kol membayang-bayangkan kepada kami, bahwa kami akan bersenang-senang hati nanti kalau telah tinggal dinegeri Belanda, tetapi sejak dari semulanya ia menunjukkan ke­pada kami dengan sungguh-sungguh akan keberatan, kesusahan, kecéwaan dan kesedihan hati yang bergunung-gunung itu, yang menanti kami dinegeri Belanda. Tetapi ka­rena sedemikian harapan kami dahulu, maka iapun berbuat sedapat-dapatnya, supaya harapan kami yang besar itu dapat disampaikan.

Betul héran kita karena ialah, yang berusaha dengan sedapat-dapatnya, supaya kami dapat pergi kenegeri Belanda, dan ialah pula sekarang dengan lemah lembut dan kasih sayang yang telah menimbang maksud kami yang bertukar itu.

Dunia hidup bersama-sama ini telah banyak mengajar ka­mi, lebih-lebih dalam beberapa bulan yang baru lalu ini. Ialah pula yang mengajar kami membédakan antara persahabatan yang benar dengan persahabatan yang pura-pura.

Tentulah saja pengajaran itu kami peroleh dengan meiuKakan hati kami. Bukan buatan banyaknya kami telah berutang budi kepada Nellie. Ia telah mengajar kami menimbang de­ngan lemah lembut. Doakanlah kami! Kami selalu memandang dan mengingat kepada Tuhan. Sekalian kemauannya mestilah menjadi!

Harapankoa besar benar hendak borkirim surat kepada tu­an, sebab itu berbaringlah saya di atas sebuah kursi panjang menulis surat ini dengan pinsil. Saya berharap yang tuan laki isteri menerima surat ini dalam segala keselamatan. Terimalah dari adikku hormat yang terbit dari hati yang suci dan salam tidakzim dari anak tuan,

KARTINI.

Kami belum mendapat jawab tentang surat permintaan kami itu. Kami amat ingin hendak menerimanya.

4 Juli 1903 (VIII)Sunting

Telah banyak benar kami berperang dan menanggung kesengsaraan. Pada pikiran kami telah cukuplah itu, dan oléh karena penanggungan dan peperangan itu telah patutlah rasanya kami mendapat bagianya: Menjadi pengantin bangsa kami, bangsa yang kami cinta itu! Maksud hati kami itu rupanya akan sampai benarlah, tetapi sekarang tiba-tiba telah terjauh pula kami dari maksud itu. Ibu, wahai ibuku! Diamlah tuan, janganlah meratap, janganlah mengeluh, janganlah menangis.

Saya mau mendoa, mendoa sampai keachir zaman, meminta sungguh-sungguh; walaupun apa jua yang akan kami peroléh pada waktu yang akan datang, tetapi tetaplah kami meminta, moga-moga kami dapatlah tinggal seperti biasa: berhati berani, percaya dan berserah diri!

Acap kali benar kami mengatakan kepada orang lain: ja­nganlah berputus asa, dan janganlah menyumpahi kesengsaraan karena putus harapan. Dalam kesengsaraan itu adalah terletak kesenangan. tidak adalah sesuatu hal yang terjadi, yang bersalahan dengan kata kasih-sayang.

Apa yang disumpahi sekarang, bésok akan menjadi rahmat. Percobaan itu ialah pendidikan dari Tuhan yang mahakuasa. Siapa yang mengatakan dan mempercayai hal itu dihatinya sendiri, haruslah pula pandai menanggungkannya. Sekarang gilirankulah pula menanggungkan dengan diri sendiri sekalian nasihat-nasihat yang telah kuajarkan dahulu itu.

Saya sekarang sekali-kali tiada mau lagi memikirkan peperangan, penanggungan, kesusahan dan percobaan itu; sekaliannya membuat kepalaku pusing dan hatiku sakit; saya hendak bernapas sekarang dalam hawa bunga-bungaan yang semerbak baunya, dan mandi dalam cahaya matahari; sekaüan itu adalah pula tersedia dan itulah pula yang akan jadi pembujuk dan penyenangkan hatiku.

Sekarang saya ceriterakan kepada tuan bunga-bungaan yang semerbak baunya dalam taman kami itu.

Ibuku, kami telah mulai mengerjakan pekerjaan kami yang menyenangkan hati itu.

Sampaikanlah kepada suami nyonya terima kasihku atas nasihatnya, menyuruh kami bekerja selekas-lekasnya dengan tiada menaruh surat ujian. O! cobalah tuan pikirkan. Sekolah kami telah bermurid tujuh orang, dan selalu datang permintaan hendak menjadi murid. Senang hatiku sekarang!

Kami dahulu tidak berani berharap yang pekerjaan itu akan begini jadinya.

Anak-anak itu amat senang hatinya, dan orang-orang tuanya bergirang hati! Murid-murid yang pertama ialah anak seorang pegawai yang amat saléh dalam jajahan negeri kami. Kami telah bercakap-cakap dengan ibunya. Karena telah terang kepadanya sedikit-sedikit, maka maulah ia kesudahannya menyerahkan anak gadisnya kepada kami. Adik si gadis itu yang perempuan belum lagi ber'umur lima tahun, tidak suka tinggal di rumah, ia suka benar dan harus turut pula bersekolah. ya Allah, sekian kecilnya, sehingga ia hampir tidak dapat melihat keatas méja. Kalau saya tidak menyuruhnya duduk di atas bangku-kaki, saya ambillah ia di atas pangkuanku. Anak kecil itu dengan segala kekerasan hatinya hendak turut beker­ja bersama-sama. Kemudian dari pada anak-anak itu, datanglah pula gadis-gadis anak soorang collecteur dan seorang lagi gadis anak assistén collecteur. Dua hari yang telah sudah, jaksa di Karimun Jawa mengirim anaknya kemari belajar. cobalah ibuku pikirkan, meréka itu mengirimkan anaknya kemari, dan diséwakannyalah disini tempat tinggal dengan membayar makan! Kami amat mengucap syukur! Orang tua anak-anak itu amat berbesar hati akan maksud kami itu, sehingga adalah beberapa orang yang memberikan anak­nya benar-benar kepada kami...... tetapi kami belum suka menerimanya.... nanti, dengan segala suka hati kami menerimanya. Pada hari ini telah datanglah adik perem­puan si Husin, murid Sekolah Dokter Jawa, mau belajar disini. Kemarin telah datang pula seorang ibu yang masih muda kepada kami, dengan sesalnya mengatakan kepadaku, yang rumahnya amat jauh dari tempat kami, kalau tidak, maulah ia sendiri datang belajar. Sekarang ia tidak dapat belajar, sebab itulah sekalian pengajaran yang tidak dapat diterimanya akan diserahkannyalah kepada anaknya. Dan coba pula tuan pikirkan, anaknya itu belum lagi ber'umur setahun. Kalau ia telah ber'umur enam tahun akan diserahkannya anak itu kepada kami, meskipun dimana juga kami tinggal; iapun meminta sungguh-sungguh supaya kami akan menerima anaknya itu.

Anak-anak murid kami itu datang kemari empat kali sepekan dari pukul 8 sampai pukul 12 1/2. Meréka itu bela­jar menulis, membaca dsb., menjahit dan merénda serta belajar masak-memasak. Kami mengajar meréka itu bukanlah seperti aturan yang biasa disekolah, melainkan menurut pendapatan kami sendiri, sebagaimana kesukaan anak-anak Jawa belajar.

O! ibuku, tuan kedua baiklah datang melihat anak-anak itu, tentulah tuan akan berbesar hati melihatnya. Meréka itu datang dengan berpakaian bagus, dan amat manislah rupanya, tubuhnya segar dan hatinya masih suci. Meréka itu memudahkan pula pekerjaan kami, sebab kencang otaknya, lekas dapat menerima pengajaran dan cakap, apalagi lekas mau menurut apa yang dikatakan. Meréka lekas percaya kepada kami dan bébas bercakap-cakap dengan kami.

Adalah pula di antara meréka itu seorang anak yang bagus, mula-mula amat banyak tingkahnya, tetapi sekarang besar hati kami melihatnya, tidak bertingkah lagi. Ia tidak mau lagi menjilat-jilat bibirnya, dan tidak mau lagi bermain-main dengan matanya yang bagus itu, melainkan bersungguh-sungguh mengerjakan pekerjaannya. Rupanya tingkahnya yang buruk dahulu itu asalnya karena tidak ada kerjanya!

Betapa bagusnya meréka itu bercampur gaul bersama-sama. Meréka bercakap-cakap seorang dengan seorang, dalam bahasa Jawa tinggi dengan halusnya, sedikitpun tidak adalah kakunya.

Pada hari ini adalah seorang di antara kami dalam rumah yang akan merayakan hari lahirnya. Kami hendak menjamu meréka itu dengan cara yang amat ganjil. Meréka itu pagi ini patutnya merénda dan menjahit, tetapi kami buat hari ini hari memasak-masak. Berapalah sikapnya tangan-tangan yang kecil dan yang halus-halus itu bekerja! yang seorang membuat kué putu, yang seorang lagi membuat kué lapis dan yang seorang membuat kué serikaya. Mérah padam muka meréka itu mengerjakannya.

Lihatlah pula mata meréka itu bercahaya-cahaya! Dengan besar hati meréka itu pulanglah kerumah masing-masing memperlihatkan masakannya itu kepada orang tuanya. Lihatlah, itulah suatu rahmat, rahmat yang besar bagi kami. Kamilah yang membuat pekerjaan itu yang mula-mula sekali untuk adik-adik kami yang perempuan itu.

Kardinahlah nanti yang akan mengajar menjahit, merénda dan masak-memasak dan Sumatri akan mengajarkan kepandaian yang lain.

Beruntunglah kami masih ada lagi menaruh perkakas un­tuk menjahit dan merénda; selama barang-barang itu masih ada juga, meréka itu akan memperoléhnya dari kami dengan tiada membayar; dan kemudian anak-anak, yang orang tuanya berada, tentulah harus menyediakan sendiri perkakas untuk anaknya. Tetapi perkakas sekolah yang lain tidak adalah pada kami. Dimanakah dapat kami membeli kitab-kitab bacaan bahasa Belanda dan bahasa Jawa? Maukah ibu memintanya kepada tuan? Kalau sekolah itu tinggal baik dan murid-muridnya bertambah banyak, maka adalah harapan kami...... akan meminta uang bantuan. Boléhkah hal itu pada pikiran nyonya? Bantuan itu bukanlah untuk kami sendiri, tetapi berguna untuk pembantu ongkos-ongkos sekolah itu. Pegawai-pegawai negeri yang berpangkat rendah, sekali-kali tidak dapat sedikit juga mengeluarkan uangnya. Kepala-kepala negeri yang bergaji ƒ 50.— hanyalah dapat memelihara anak isterinya saja, dan kadang-kadang isterinyapun turutlah pula bekerja keras; tidak adalah lagi uangnya berlebih untuk pembeli apa-apa yang lain. Dan kamipun tidak dapat pula selamanya memberi sekalian keperluan anak-anaknya itu. nyonyapun tentulah ma'lum hal itu.

Kalau saya telah boléh berjalan, kami akan pergi ke Semarang; saya harus diperiksa oléh dokter disana. Penyakit béngék dan pusing kepala itu haruslah hendaknya hilang benar-benar, tidak boléh datang lagi berulang-ulang kepadaku. Dan waktu itu kami akan pergi pula membeli barang-barang yang perlu untuk anak-anak kami. Kami disini sekarang tiadalah mempunyai jarum rénda dan batu-tulis barang sebuah juapun.

5 Juli 1903 (VI)Sunting

Berapalah baik dan sayangnya tuan kepada kami, selalu tuan hendak menggirangkan hati kami. Dan jikalau saya pikirkan betapa kami, apalagi saya, hendaknya membalas se­kalian kebaikan dan kesayangan tuan itu. Rupanya amat kurang terima kasih kami, hampir tidak adalah ubahnya, seakan-akan saya tidak menghargai sekalian kebaikan dan kesayangan tuan..... Anakanda K. betul pandai benar berdiam diri seperti orang bisu.

Ampunilah saya, wahai mamanda yang baik hati!

Pada dua hari yang terlampau, tuan berkirim salam dengan mengirimkan sebuah kitab "Album Kern", ketika itu pikiran sayapun melayanglah ke Sonder, dan saya berjanji akan mengikut pikiran itu dengan tutur kataku. Dan saya sekarang amat berbesar hati karena janjiku dapat kusampaikan.

Kami meminta terima kasih kepada tuan atas salam yang terbit dari hati tuan yang kasih-sayang lagi amat berharga itu; dan kitab itu telah saya baca dengan girang hati.

jikalau sekiranya sekalian buah pikiranku perihal tuan saya tuliskan, tentulah bergunung-gunung surat yang akan tuan terima dari sini!

nyonya van Kol dengan ramahnya dan baik hatinya memperbincangkan tuan, itulah yang membesarkan hati kami, ka­rena itulah suatu cita-tiita kami benar, bahwa sekalian meréka yang kami kasihi dan kami hormati itu, hendaknya akan bertemu satu dengan yang lain, dengan hati yang baik.

Bagaimanakah tuan keduanya sekarang. mamanda? Adakah tuan keduanya didalam séhat dan baik-baik saja di Sonder? Adakah pernah tuan melihat disana orang-orang dari Toraja? Saya dapat memikirkan sungguh-sungguh yang tuan bersusah hati, karena tuan harus meninggalkan pekerjaan tuan beberapa lamanya. Dimana hati kita telah tertumpah, tidak mudah kita meninggalkan tempat itu; disitulah adanya nasib kita yang akan datang, dan disanalah dun ia hidup kita.

Sekarang saya ceriterakan kepada tuan kabar yang menyenangkan hati. Sambil menanti-nanti apa-apa yang akan datang, kami telah memulai juga pekerjaan kami itu. di rumah telah kami dirikan sebuah sekolah, dan telah ada bermurid tujuh orang banyaknya, anak-anak gadis kepala-kepala negeri. Tapi kami mendapat kabar, bahwa ésok akan datang lagi tiga orang anak-anak dari luar negeri.

Kami bermula sekali bermurid hanyalah seorang saja, tetapi tidak berapa lamanya murid itu telah menjadi lima orang dan keésokan harinya menjadi delapan orang, dan beberapa hari lagi murid kami akan menjadi sepuluh orang.

Selalu kami berbesar hati melihat anak-anak kami itu. Segar tubuh meréka, lagi suci hatinya, dan betapalah pula bagusnya meréka itu bercampur-gaul bersama-sama. Me­réka itu lekas percaya kepada kami; meskipun meréka itu perlu memperhatikan adat tertib sopan, tetapi meréka itu selalu bébas, tiadalah ada perbédaan pangkat dan darajat dalam pergaulan kami. Kesanalah pula kami hendak pergi. Betapalah pula anak-anak itu memudahkan kerja kami, karena kencang otak meréka itu, lekas masuk pengajaran kepadanya, lagi cakap dan mau menurut sekalian apa yang dikatakan. Belumlah sekali juga kami terpaksa mesti menghukum meréka itu.

Anak-anak itu amat suka datang dan belajar dengan riang hati lagi rajin, dan orang-orang tuanya sangat bersukacita dalam hal itu. Sekalian itu menunjukkan kepada kami, bahwa kami hanyalah mengerjakan apa-apa, yang sepatutnya telah lama dibuat orang. Besar rahmat yang dicurahkan oleh Tuhan yang pengasih penyayang kepada kami. Bagus dan berbahagia benar pekerjaan yang diberikannya ke­pada kami itu. Moga-moga dapatlah kami mengerjakannya dengan sepatutnya, dapatlah pula kiranya kami selalu memuliakan kepercayaan orang kepada kami!

Itulah yang kami kehendaki benar-benar, yang kami minta sungguh-sungguh, supaya boléh kami mendidik hati kecil mereka itu, yang suci, segar dan yang belum ada bernoda itu, hati yang putih seperti kaca, dan dapatlah kiranya kami membentuk budi pekerti didalamnya.

Mendoalah tuan untuk kami. Moga-moga tuan akan memberi rahmat akan maksud dan pekerjan kami itu!

O! adalah pula orang nanti hendaknya, yang suka berbuat seperti kami. Mémang banyaklah orang sekarang yang cakap berbuat demikian, tetapi meréka itu patut digocoh dahulu supaya bangun. Kami telah mencoba menghubungkan salatu'rrahim kami dengan anak-anak gadis dan perempuan-perempuan yang sama banyak pengetahuannya dengan kami, tetapi maksud itu tidak berlaku. Membebarkan kemauan itu, biarlah kami bekerja sendiri. Seperti perbuatan kami seka­rang ini barangkali lebih mustajab. Dan..... tidak adalah usaha yang lebih baik dari pada memberi contoh yang bagus dan berani bekerja dahulu.

Seorang anak muda yang tidak kami kenal, murid Sekolah Dokter, telah mengirim sepucuk surat kepada kami, menyerahkan dua orang adiknya, anak mamak mudanya kepada kami.

Ia minta kalau boléh kami akan membentuk dengan sebaik-baiknya budi pekerti anak-anak itu. Kami wajib mengirim surat kepada anak gadis-gadis itu. Kami suka sekali mengerjakan kerja itu, tetapi tidak tahulah kami entah maksudnya itu adalah akan sampai.

Anak muda itu amat gembira dan banyak cita-citanya. Ada­lah lagi seorang anak muda tempat saya berkirim-kiriman surat. Anak itu ialah anak paman kami. Berapalah besar hatinya ketika ia boléh berkirim surat kepadaku!

Kami lebih banyak berbahagia dari pada orang-orang lain, oléh karena asal kami dan pangkat bapakku. Itulah yang terutama sebabnya, dan ada pula lagi hal yang lain-lain, yang menyebabkan kami mudah membuat barang sesuatunya.

Apa yang kami perbuat sekarang semuanya baru. Dahulu tidak pernah anak-anak gadis berkirim-kiriman surat dengan anak-anak muda. Sekarang seperti biasa sajalah kami berbuat sedemikian, dan seakan-akan begitulah biasanya. Ka­mi bercampur-gaul dengan meréka itu seperti orang bersahabat, dan meréka itu memandang kami seperti saudara-saudaranya yang perempuan.

Itulah suatu keadaan bagi meréka itu yang baru benar; karena kami yang berasal tinggi, sekali-kali tiadalah hina bagi kami akan bercampur-gaul seperti bersahabat dengan meréka yang berasal rendah.

Saudara sepupu kami itu telah mempercayai kami dan memandang kami seperti saudaranya yang lebih tua dari padanya, tempat ia meminta nasihat, dan iapun amat suka mendengarkan kata kami. Selalu saya méminta, kepada Tuhan sungguh-sungguh, moga-moga kami tiadalah akan mendapat malu atas kepercayaannya itu; kami berharap supaya kami selalu boléh memberi apa-apa yang dimintanya dan yang dicarinya pada kami.

Besar bukan buatan hati kami berkenalan dengan budi pekerti yang muda, suci dan gembira itu! O! kami berharap moga-moga dunia hidup bersama-sama ini tiadalah akan merusakkan cita-citanya itu!

tidak pernah rasanya kami lebih besar berbahagia, lain dari pada bahagia yang kami peroléh karena membantu orang lain.

Héranlah kami memikirkan, karena kami selalu merasa yang kami lebih tua dari pada meréka, yang sebaya dengan kami, dan kadang-kadangpun dari pada orang-orang yang mémang lebih tua dari pada kami. Tentulah itu sebabnya karena kami telah banyak merasai penanggungan, dan telah banyak pula hal yang telah dipikirkan dan diurungkan.

Amat sombong bunyinya, jikalau kami disini menyebutkan anak-anak kami, pada hal meréka itu patutlah kami namai adik-adik kami yang tiada sebegitu muda dari pada kami. Tetapi meréka itu sendiri telah menyangka kami seperti ibunya, dan tidaklah seperti saudara-saudaranya.

Ibu dan saudara perempuan dari orang bersama-sama, ba­nyak-banyak, o, moga-moga Tuhan akan menjadikan juga kami yang demikian!

Sekolah kami kalau boléh janganlah keadaannya seperti sekolah benar-benar, dan kamipun janganlah seperti guru sekolah, melainkan sekolah itu haruslah keadaannya betul-betul seperti sebuah rumah tangga yang besar, dan kami menjadi ibu-ibu anak-anak itu.

Kami akan mengajar meréka itu bersipat kasih sayang dengan berbukti sekali, seperti yang telah kami ma'lumi dan kami pakaikan.

Ketika kami masih muda adalah suatu pedóman yang kami pakai dan yang mudah sekali diikut: Apa-apa yang tidak engkau sukai diperbuat orang di atas dirimu, janganlah sekali-kali engkau perbuat di atas diri orang lain.

nyonya van Kol banyak menceriterakan kepada kami ceritera nabi Isa dan rasul2 Petrus dan Paulus. Sekalian itu menyenangkan hati kami mendengarnya.

Apa pedulinya kita agama mana yang dipakai orang, dan bangsa apa dia. Orang berhati tinggilah ia menjadi orang baik, dan budi pekerti yang bangsawan, tinggal bangsawan juga. Hamba Allah yang bersipat demikian adalah didalam tiap-tiap agama dan segala bangsa.

Saya telah membaca kitab "Quo Vadis,"-dan héranlah saya memikirkannya, dan saya kasihilah orang-orang yang bersengsara karena agama itu, sebab dalam penanggungan yang seberat itu meréka masih mengucap syukur dan amat percaya kepada Tuhan yang mahatinggi, serta menghormati Tuhan dengan nyanyian yang bagus-bagus. Saya telah turut berpilu hati dengan meréka itu, ataupun bersukacita bersama-sama.

Tahukah tuan kitab "Wiy beidén" karangan Edna Lyall? Itulah kitab yang amat bagus juga. Ia memperkatakan me­réka yang tiada mengaku akan keadaan Tuhan dan orang-orang Serani, pun jua memperkatakan, bahwa agama Serani itulah agama yang sebenar-benarnya, dan keadaan agama Serani yang telah diputar-putar dan diubah-ubah orang, seperti yang telah acap kali kejadian didunia ini. Luke Raeburn ialah seorang yang mulia hatinya, meskipun ia tiada mengaku kepada Tuhan, dan anaknya Frica Raeburn, bagus dan mulia hati, yang mula-mulanya tiada mengaku kepada Tuhan, tapi kemudian menjadi orang Serani yang percaya sungguh kepada Tuhan dengan tulus dan saléh.

Bapak dan anak yang berkasih-kasihan satu dengan yang lain, sehidup dan semati bersama-sama.

Telah kami baca pula: "De ziel van een volk" tentang aga­ma Budha. Itulah pula hikayat yang amat bagus. Sekarang kami amat suka benar hendak membaca tentang agama Yahudi. Barangkali kitab-kitab karangan tuan Zangwill yang akan memberi kami apa yang kami cari itu: "Droomen van het Ghetto."

7 Juli 1903 (VIII)Sunting

Bésok kami akan mengajar pula..... itulah yang menyenangkan hati kami kedua..... sembilan orang murid-murid, dan banyak pula lagi meréka yang meminta masukkan anak-anaknya, di antaranya ada pula anak-anak orang Melayu. Itulah suatu kemenangan! Demikianlah dunia hidup ini, ada yang jatuh ada yang berdiri, ada yang tertarung ada yang berjalan, ada yang kalah ada yang menang.

Antara surat ini dengan surat yang akan datang, adalah surat-surat yang tidak dapat disiarkan. Dalam surat-surat itu adalah diterangkan juga, bahwa pengarang surat itu dan adiknya Raden Ajeng Rukmini telah menolak besluit Gubernemén, tidak suka menerima uang bantuan yang ƒ 4800.— itu untuk belajar di Betawi itu; dan demikian lagi dikabarkannya tentang perkawinannya yang akan terjadi seperti tersebut dalam surat 1 Augustus 1903 (VII).

24 Juli 1903 (VIII)Sunting

Sekarang adalah pengharapanku yang besar sekali kepada nyonya, tetapi yang sebenarnya kepada tuan. Maukah nyonya menyampaikan permintaanku itu kepada suami nyonya yang mulia itu? Hati kami sangat tertarik kepada seorang anak muda, dan kami suka benar melihatnya, supaya hidupnya berbahagia.

Anak muda itu bernama Salim[12], anak Sumatera datang dari Riau. Pada tahun ini ia telah membuat ujian penghabisan di H.B.S. di antara sekalian murid-murid yang membuat ujian itu, dari ketiga H.B.S. di Hindia ini, ialah yang mendapat nomor satu dalam ujian. Anak itu amat suka sekali hendak pergi belajar kenegeri Belanda untuk menjadi dokter. Sayang sekali maksudnya itu tidak dapat disampaikannya, karena kekurangan belanja. Bapaknya hanya bergaji ƒ 150.— saja.

Meskipun ia akan menjadi kelasi, maulah ia asal dapat pergi ke Belanda. Tanyakanlah tempatnya kepada Hasim. Ia kenal kepada anak itu, dan iapun telah mendengarnya bercakap-cakap di Stovia. Anak itu berani dan pandai, patut benar ditolong!

Ketika kami mendengar keadaannya serta cita-citanya itu, timbullah hasrat dihati kami yang sebesar-besarnya hen­dak menolongnya akan memudahkan menyampaikan cita-ci­tanya itu. Waktu itu terkenanglah kepada kami akan bes­luit Gubernemén yang terbit pada 7 Juli 1903 itu...... bes­luit penjawaban yang kami nanti-nanti dengan hati yang pilu, dan demikianpun menerima dengan hati yang pilu pula.

Wajibkah hasil daya upaya sahabat kami yang mulia itu, dan hasil harap-harapan, doa dan cita-cita kami akan hilang lenyap saja, tidak dipergunakan?

tidak dapatkah orang lain mempergunakannya? Gubernemén telah memberi kami uang bantuan ƒ 4800.— untuk menyempurnakan pendidikan kami. tidak dapatkah uang itu diberikan kepada orang lain, yang barangkali lebih perlu, tetapi sekali-kali tidak kuranglah dari pada kami, yang harus pula ditolong?

Berapalah baiknya jikalau sekiranya Pemerintah suka membayar ongkos pengajarannya itu semuanya yang besarnya kira-kira f 8000.—; kalau tidak dapat sekian banyaknya, kamipun akan mengucap syukur, apabila Salim boléh kiranya menerima uang yang ƒ 4800.— yang telah diberikan kepada kami itu. Dan berapa kekurangannya, biarlah kami mintakan pertolongan kepada orang lain.

O! berilah ia merasai lazat cita kesukaan, yang telah lama menjadi cita-cita dihati kecil kami, dan yang tidak dapat ka­mi peroléh itu.

jadikanlah kami berbahagia, dengan memberi orang lain, yang mempunyai kenang-kenang, perasaan dan maksud yang sama dengan kami itu, bahagia. Kami telah mengetahui bagaimana halnya menyimpan perasaan yang hidup dalam hati, cita-cita seperti api dalam dedak didada yang busung. O! janganlah hidup yang muda sebagus itu, dan kekuatan yang sesegar itu dibiarkan saja hilang melayang! Ia wajib diusahakan dengan sebaik-baiknya untuk keperluan bangsa Bumiputera, karena kekuatan yang demikian amat berguna be­nar bagi meréka itu.

jika Salim nanti sampai menjadi dokter, alangkah ba­nyaknya kebajikan yang boléh dibuatnya untuk bangsanya! cita-cita Salimpun: bekerja untuk bangsa kami.

Permintaan kami ini ialah suatu permintaan yang gila, hal itu kami ketahui; tetapi ya Allah, jika sekiranya ia dapat dikabulkan! Wahai ibuku, tentulah peperangan yang telah berbulan-buelan, bertahun-tahun yang telah kami tanggungkan, tiadalah akan hilang lenyap, tiadalah akan menjadi sia-sia saja.

Berilah kiranya kami merasai kelazatan hadiah yang jarang-jarang bertemu itu, melihat dalam hidup kami hasil penanggungan kami itu, yakni: cita-cita Salim wajib disampaikan.

Moga-moga Tuhan akan mengabulkan doa kami ini!

Salim sendiri tidak tahu akan kerja kami ini; sedangkan bahasa kami ada didunia inipun ia tidak tahu. Ia hanyalah mengetahui, bahwa ia dengan segala kesungguhan hatinya bermaksud hendak menyampaikan pelajarannya, supaya dapatlah ia nanti bekerja untuk bangsanya, tetapi sekalian itu tidak dapat dilakukan, karena ia tidak beruang.

Kami hidup, berharap dan berdoa untuk Salim[13]

1 Augustus 1903 (VII)Sunting

Inilah sepucuk warkah yang pandak akan mengabarkan kepada tuan dengan selekas-lekasnya, tentang perubahan yang baru dalam nasib hidupku. Saya tiadalah lagi akan menjadi seorang perempuan yang berdiri sendiri saja un­tuk menyampaikan maksud kami; seorang laki-laki yang kuat dan mulia hatinya akan berdiri disisiku, menolong menyam­paikan usahaku, yang berpaédah untuk bangsa kami!

Dalam hal itu usahanya telah jauh, dan telah adalah buktinya padanya, sedang saya ini ialah baru memulai.

O, ia seorang yang baik, pengasih dan penyayang, selainnya dari pada berhati mulia, ia berkepala terang dan cakap.

Ia telah pergi kesana, ketempat yang dicintai oléh tunangannya ini, tetapi Ni tidak boléh pergi, karena tidak diizinkan oléh bangsanya: kenegeri Belanda.

Itulah suatu perubahan yang amat besar, kami berdua bantu-membantu, dan tambah-menambah mana yang kurang, akan berjalan terus, menempuh jalan yang singkat, pergi menyampaikan cita-cita kami, untuk keselamatan bangsa kami.


Banyak buah pikiran kami yang sama. Tetapi sekarang nyonya belum juga tahu, siapakah tunanganku itu: Radèn Adipati joyo Adiningrat, Regén di Rembang. Hingga inilah dahulu! Dengan lekas di belakang ini saya akan menulis lagi, dan harapanku lebih panjang dari pada surat ini.

1 Augustus 1903 (VIII)Sunting

Saya ber'hajat, hendak menghargakan benar-benar nama yang diberikan orang kepadaku itu: anak kekasih Allah.

Bukankah sudah kami katakan kepada tuan, bahwa kami telah lama menjauhkan diri dari sekalian bahagia untuk diri sendiri? Sekarang hidupku yang mencinta demikian itu telah meminta supaya saya menyampaikan janjiku itu. Sekarang suatupun tiadalah hal yang akan teramat sedih menyusahkan hati kami, yang teramat berat, dan yang teramat keras, asal saja kami dengan hal yang sedemikian dapat menolong dengan sebutir pasir untuk membuat mercu yang amat bagus itu, yang bernama: bahagia Bumiputèra.

Sekarang saya hendak menguji: berapakah harga kemanusiaan diriku?

Kemarin, betul-betul suatu hari yang penting pula bagi kami...... Kami mendapat surat dari Departement van Onderwiys, Eeredienst en Niyverheid menanyakan kepada kami, sudikah kami menerima pemberian Pemerintah itu, yakni kami akan diajar untuk menjadi guru dll. Sekiranya kami tidak sudi, haruslah kami memberi keterangannya hitam di atas putih, supaya dapat dikirim kepada Gubernur jenderal.

Bagaimanakah hendaknya keterangan yang diminta itu patut diaturkan? Dengan péndék dan buang kulit tampak isi sajakah, yaitu dikatakan saja yang saya tidak dapat menerima pemberian itu, karena saya telah bertunangan; atau saya tidak sudi menerima karena saya sekarang telah mendapat jalan bekerja yang lebih baik akan menyampaikan cita-citaku untuk bangsaku? Berusaha disisi seorang laki-laki yang cakap dan berhati mulia, yang saya hormati tinggi, dan bersama-sama dengan saya amat cinta akan bangsanya, dan yang sudi pula monolongku dengan sungguh-sungguh dalam usahaku, tentulah dalam hal itu saya boléh bekerja berbuat baik untuk bangsa kami itu, lebih banyak dari pada jika kami berdua sama-sama perempuan saja, yang masing-masing berdiri sendiri, mengerjakan pekerjaan itu.

Dan Rukminipun tidak mau pula menerima pemberian itu, karena ia tidak dapat, tidak cakap dan tidak mau berjalan sendiri. la bermaksud dengan jalan yang lain hendak menyampaikan cita-citanya. Kemudian tentulah kami meminta banyak terima kasih dan menghormati Pemerintah, yang telah menunjukkan lagi sebenar-benarnya terutama bermaksud mau memajukan keperluan yang berguna untuk anak Bumiputera; asal saja seseorang dari pada anak Bumiputera mengeluarkan suaranya, tentulah suaranya itu akan didengar oléh Pemerintah; dan jika sekiranya anak Bumipute­ra mengeluarkan suaranya untuk bahagia anak negeri pada waktu yang akan datang, tentulah maksudnya itu akan disampaikan oléh Pemerintah. jika Pemerintah telah berbuat begitu, niscayalah tanah Belanda akan bertambah dekat didalam hati anak negeri. Sekarang kami telah mengaku, bahwa Pemerintah mau berbuat demikian; dan tanah Belanda mau memberi bahagia akan tanah Hindia. Sekalian kataku itu bukanlah kata yang bohong, kami percaya benar-benar. ............

Sekalian anak negeri yang kenal kepadaku telah berharap dan memintakan doa: "Bendoro Ajeng Tini tidak boléh pergi kelain tempat lain dari pada kekabupatén."

Dan meréka yang berhati sederhana itu, sekarang telah bergirang hati, karena maksudnya akan sampai. Dan anak negeripun berbesar hati, karena begitulah pula niatnya untuk "bendoronya." Lihatlah oléh tuan betapa sahabat-sahabatku itu bergirang hati. Vox populi vox dei. (Suara Bumiputera itulah suara Tuhan). jikalau benar kata itu maka ialah akan menjadi suatu kenyataan, bahwa Tuhan telah mengubah jalanku, lain dari pada jalan yang hendak kutempuh dahulu.

Moga-moga tuan akan menjadi suatu rahmat, tempat orang banyak akan bernaung, seakan-akan sebuah pohon yang rindang, tempat orang banyak bernaung melepaskan lelahnya dalam panas terik. Begitulah niat beberapa orang tua akan saya.

Mudah-mudahan dapatlah kiranya saya menyampaikan niat orang-orang tua yang berhati sederhana itu.

Adalah sekarang sebuah pekerjaan yang berat menanti saya; benar-benar terlampau beratnya; tetapi jika saya dapat menyampaikannya, maka tiadalah ada kebajikan yang lain, yang sebaik-baiknya dapat kuperbuat untuk bangsaku.

Suruhan atas diriku, bekerja hendaklah sampai-sampai, karena itulah perbuatan yang sebaik-baiknya untuk hidup didunia.

Meski bagaimana juapun halnya untungku sekarang ini, itulah untung bahagia yang sebaik-baiknya dan yang se- bagus-bagusnya dalam hati anak Bumiputera. Perkawinanku itu akan memberi kebaikan hagi cita-cita kami itu. Ialah akan memajukan pikiran orang-orang perempuan, ibu anak-anak, supaya meréka akan menyuruh anak-anak gadis diberi pendidikan. Keadaanku ini lebih berharga dari pada seribu kata-kata yang menggembirakan hati, sebab keada­anku ini teius masuk ke dalam hati meréka itu sendiri. Me­réka itu sekarang telah mendapat kebenaran, bahwa kebagusan" dan kekayaan terlipurlah oléh budi pekerti dan pikiran yang sempurna.

Sekarang teringat oléhku akan kataku sendiri, ketika seorang bertanya kepadaku, bagaimana patutnya orang mendidik anak-anak gadis dan perempuan bangsa Bumiputera maka sayapun berkata: Bangsa Jawa itu samalah dengan bangsa-bangsa lam di Hindia ini, yang suka akan cahaya dan pancawarna, karena meréka itu sekalian anak yang bercahayakan matahari. Kalau demikian berilah meréka itu kehendaknya itu; tetapi apa yang diberikan kepadanya itu, haruslah baik dan sejati.

tidak boléh kami seka.rang berkasar-kasar mengubah adat isti adat tanah kami ini; anak Bumiputera bangsa kami ini tentu akan mendapat cahaya dan cemerlang yang dikenendakmja itu. Kebébasan perempuan tentulah akan datang ia sungguh akan datang; tetapi kami tidak dapat melekaskan kedatangannya itu.

Kami tidak dapat menolak kedatangan sesuatu kecelakaan; ia mesti datang, tetapi sesudah itu datanglah kemenangan!

Kami tiadalah akan hidup lagi apabila kemenangan itu da­tang; tetapi biarlah, apatah salahnya?

Kami telah turut menolong membuka jalan, yang pergi menuju ketempat itu ingatan itupun telah membesarkan hati kami!

janganlah tuan bersusah hati; suamiku itu tiadalah akan melemahkan sayapku; karena saya pandai terbanglah, maka saya tmggi dilihatnya dalam pemandangannya. Ialah yang akan memberi saya waktu banyak-banyak, supaya saya dapat membebarkan sayapku kian kemari; ialah yang akan meluaskan padang kerjaku.

Ia sudi menerima anak tuan ini, dan tiadalah ia akan menyuruhku akan menjadi orang didapurnya saja.

8 Augustus 1903 (VIII)Sunting

Tahukah tuan hari ini, apakah? Hari inilah hari yang menyatakan, bahwa kita telah tiga tahun bersahabat. Tiga tahun yang telah lalu kita mula-mula bertemu. Tiga tahun yang telah lalu, ketika itulah pula tiga orang anak-anak gadis bersuka raya atas pemberian Tuhan kepadanya: sahabat-sahabat yang disukai oléh hatinya! Anak-anak gadis itu sekarang telah menjadi perempuan besar, keningnya te­lah berkerut dan hatinyapun telah seperti keluar dari dalam api. Telah angus dan menjadi debukah hati itu, atau telah menjadi sucikah dia sekarang, karena telah mandi dalam api itu? ............... Kami tahadi amat bergirang hati, berkeliling méja tempat saya duduk sekarang; tadi kami berlima duduk disana sama-sama bekerja. Yustinah, dukun beranak dan kami berempat. Ia datang kemari tadi pagi dan menumpang disini sampai pekan yang akan datang. Kami sayang sekali kepadanya, sebab ia seorang yang baik dan bagus. Ia mempergunakan waktunya disini dengan sebaik-baiknya, dan belajar kepada kami menjahit dan merénda; tahadi ia sedang menekat selop. cepat sekali ia belajar, dengan sebentar saja telah pandai ia mengerjakan pekerjaan itu. Berapalah besarnya hati dan senang perasaanku tadi pagi, ketika ia merebahkan kepalanya seperti seorang saudara kandung kebahuku, ketika saya menerangkan kepadanya kerja me­rénda dan menjahit itu. Sekarang ia merasa seperti dirumahnya sendiri. Saya amat suka melihat matanya yang selalu riang dan bercahaya-cahaya itu, dan banyaklah pula berarti. Ia anak orang désa. O, berapalah banyak berkatnya, jika pengajaran itu datang dari hati yang penuh dengan kasih cinta! nyonya tentulah akan berbesar hati melihatnya. Ia selalu berhati gembira mendengarkan kata saya, dan betapa suka hatinya bertanya-tanyakan apa yang tidak diketahuinya itu. Sekiranya tuan ada dekat kampu-ng halaman kami, maulah saya membawanya kepada tuan nanti.

Perempuan itu telah menolong 48 orang perempuan yang bersalin. Wah, ia masih kecil, hampir serupa anak-anak.

Regén Rembang akan datang kemari pada tanggal 17 bulan ini; saya telah meminta kepadanya yang ia akan membawa anak-anaknya sekali; saya suka benar hendak berkenalan dengan meréka itu, karena merékalah yang akan menjadi bahagia bagi kami pada waktu yang akan datang. untuk meréka itu, jikalau perlu, maulah saya bekerja dan hidup, berperang dan menanggung kesengsaraan. Saya berharap yang meréka akan cinta dan kasih kepadaku. Itulah yang saya minta kepada bapanya, yang ia akan memberikan anak-anak itu sekaliannya kepadaku. Kenang-kenangan saya: banyak-banyak meréka itu hendaknya yang akan menj-adi anak kepadaku, rupan ya cita-cita itu sekarang akan sampai.

Banyak lagi orang yang hendak memberikan anaknya ke­ padaku, ump: assistén collecteur disini, yaitu seorang anak regén yang kaya. Ia berkata kepadaku: "jadikanlah anak saya bujang tuan, suruhlah ia menyapu lantai rumah tuan, mengambil air, dan kerja lain-lain, asal saja ia boléh tinggal dengan tuan." Saya mendengar katanya itu sambil teisenyum, tetapi dalam hatiku saya menangis.

Saya tidak berkata sepatah juapun kepadanya, dan saya tidakmau berjanji apa-apa kepadanya, melainkan saya meminta doa moga-moga sekalian anak-anak yang diserahkan orang Kepadaku itu, dapatlah saya peluk dalam hatiku, dapatlah saya pehharakan dengan kasih sayang.

Hanyalah seorang anak kecil saja yang akan saya bawa ke Rembang, seorang gadis yang kira-kira ber'umur delapan tahun, yang telah diberikan orang tuanya kepadaku. Ia anak seorang guru dan telah pergi kesekolah. Anak itu betul-betul baik, tajam pikirannya dan cakap. Kalau ada kecakapannya, maka sayapun hendak menyerahkannya untuk belajar suatu kepandaian yang disukainya. Sekarang ia lianya mendapat pengajaran menjahit dan rnerénda dari pada adik-adikku.

Dikeiesicténan Rembang adalah gadis-gadis dan perempuanpererapuan yang sama pelajarannya dengan kami; dengan mereka itulah saya hendak berkumpul bersama-sama.

Iparku yang perempuanpun, seorang yang telah kena penyakit kesopanan" Eropa, sangatlah menyenangkan hati­ ku. Waktuku tinggal di rumah orang tuaku, tidak berapa lagi; hanyalah tinggal dua bulan saja, kemudian datanglah oiang yang akan melindungiku itu menjemput saya. Ia Bersama-sama dengan adiknya, Regén Tuban, baru-baru ini datang kemari. Harinya telah ditentukan pada tanggal 12 bulan November yang akan datang; sekalian itu akan dilakukan dengan diam diam, hanyalah kaum keluarga saja yang akan menghadirinya, kami keduanya tiada akan memakai pakaian pengantin, ia akan berpakaian angkatannya, dan saya akan berpakaian seperti yang biasa tuan lihat. Sekalian itu lalah permintaanku dan permintaannya. Anak-anaknya sayang tidak dapat datang kemari bersama-sama, meréka masih kecil dan perjalanan kemari amat susah.

25 Augustus 1903 (VIII)Sunting

Di Rembang nanti banyak dan luaslah pekerjaanku, dan syukurlah saya tiada akan bekerja seorang diri saja; ia telah berjanji akan menolongku dengan sungguh-sungguh. Itulah kehendak, harapan dan maksudnya: akan menolongku yang berkehendak akan berbuat jasa bagi anak Bumiputera. Ia sendiripun telah bertahun-tahun bekerja membuat sedemikian. lapun berkehendak akan memberi anak-negeri pendidikan dian pengajaran; oléh sebab ia sendiri tidak dapat memberi, sebab itulah ia menyuruh orang lain mengerjakannya. Banyaklah kaum keluarganya yang disuruhnya belajar, dan ialah yang memberi meréka belanja pengajaran.

yang diharapkannya kepadaku ialah: yang saya akan mem­beri rahmat kepada anak-anaknya dan anak-anak negerinya.

Moga-moga maksudnya itu dapat saya sampaikan dan janganlah ia menjadi kecéwa.

Saya mengucap lagi karena kaum keluarganyapun suka benar akan pilihannya itu. Meréka itu mengharapkan yang saya akan memberi anak-anaknya pendidikan. Dengan beker­ja seperti pendidik, itulah saya akan datang kesana, dan pekerjaan yang lain tiadalah saya acuhkan lagi.

Kadang-kadang lupalah saya, bahwa berbuat seperti sekarang ini banyaklah cita-citaku yang akan hilang; saya berpikir, bahwa sekarang jalan lainlah yang akan saya turut, lain dari pada jalan yang telah saya rentangi dahulu. Dan sayapun memikirkan dan mengenangkan hal itu selalu, karena ialah yang memberi saya hati yang sabar dan yang membesarkan hatiku.

Suatupun tidak adalah yang sempurna didunia ini, dan suatupun tidak boléh pula sempurna benar dalam alam ini.

Saya dahulu berharap, bermaksud dan meminta doa supaya saya akan menjadi ibu bagi orang banyak atau men­jadi saudara bagi meréka, dan sekarang Tuhan telah memberi saya kurnianya itu, meskipun kurnia itu sedikit dari maksudku dahulu itu.

lapun bermaksud demikian juga hendak memajukan darajat bangsa kami. Ia sungguh amat baik bagi anak Bumiputera dan pegawai-pegawainya; meréka itu kasih kepadanya seperti menatang minyak yang penuh.

Dua hari yang lalu assistén collecteur itu semalammalaman duduk dekat bapak memperkatakan anak gadisnya itu. Ia hendak memberikannya, supaya dapat beroléh pendi­dikan. Isterinyapun telah memperkatakan hal itu pula dengan saya, dan sekarang suaminya pula yang datang meminta kepada bapak.

Anak-anak yang lain dari sini ada pula yang menurut dengan daku; tidak tahulah saya, entah akan saya bawalah anak-anak itu sekaliannya atau tidak; sedih hatiku menolak permintaan meréka itu, dan sayapun tidak mau menjanjikannya. Biarlah kita lihat dahulu, bagaimana keadaanku nanti disana.

Saya sekali-kali tiadalah bermaksud hendak membuang-buang témpoh, untuk tandang-bertandang. untuk keperluan itu akan kami tentukan hari-harinya, dan pada hari-hari yang lain tiadalah orang akan saya terima, kecuali dalam hal yang perlu. Orang tentulah akan memaafkan saya, jika diketahuinya, bahwa saya berbuat demikian, bukanlah karena sombong saya, melainkan karena waktu amat berguna kepadaku untuk menolong orang banyak, barangkali juga untuk menolong anak-anaknya sendiri.

untunglah negeri Rembang negeri yang sunyi; dan betapalah senang hatiku karena iapun tidak suka pula berjalanjalan seperti saya.

Besar hatiku lagi karena residén disanapun suka pula akan cita-cita kami itu. Tentulah saya tidak akan canggung tinggal disana.

Tahukah tuan siapa yang akan saya dapati lagi disana yaitu sahabatku yang besar sekali: laut! Laut disana hanyalah 100 langkah saja jauhnya dari rumah kami.

Ketika orang mengatakan kepadanya, bahwa saya amat su­ka memajukan pertukangan emas dan ukir-mengukir, maka iapun berkata, bahwa disanapun ada pula tukang emas dan tukang ukir, meréka itu hanyalah menantikan orang yang akan memberi aturannya saja. Iapun pandai pula bertukang. Kerja itu menyéhatkan badan. Dan dengarlah pula suatu kabar yang baik...... Barangkali Singowirio pergi bersama-sama; itulah tukang ukir yang tinggal di Belakang Gunung.

Ke Betawi tidak mau ia menurutkan bendoronya itu, tetapi sekarang karena jalan kami telah berubah, maulah ia menurutkan saya. Banyaklah maksud kami yang baik untuknya.

Akan memajukan perkara pertukangan, maka haruslah dahulu sedia uang dan petunjuk. Bermula sekali harus dibuat rumah pertukangan yang besar dan mempunyai tukang banyak-banyak, dan anak-anak yang patut diajar untuk menjadi tukang; anak-anak itu harus diperhatikan selalu pekerjaannya, sebab itulah meréka akan bekerja dekat rumah kami. Sekiranya adalah uang untuk mendirikan rumah pertukangan itu, dan untuk membeli perkakasnya dan membayar orang upahan, serta memelihara beberapa orang murid, maka Singo suka menjadi kepala pertukangan itu.

Pada pikiranku pokok untuk mendirikan pertukangan itu dalam setahun, selama-lamanya dalam dua tahun boléhlah dapat kembali.

Saya dahulu hendak mendirikannya disini, tetapi oléh karena maksud hendak pergi ke Betawi itu, maka maksud itupun tiadalah menjadi. Adik-adik kami tentulah boléh juga akan menguruskan pertukangan itu, tetapi pekerjaan itu amat payah untuk anak-anak kecil itu. Lagi amat besar penanggungannya. Tetapi sekarang keadaan itu telah lain. Kami sendiri diapat mengerjakannya, asal kami dapat mengumpulkan uang untuk mengerjakannya, dan ten­tulah pertukangan anak negeri Bumiputera akan maju dan berbahagia.

Baru-baru ini kami berjalan bersama-sama dengan tuan Brandes, adik Dr. Brandes; ia suka sekali mendengar kabar tentang hasil pertukangan anak negeri. Ketika saya berkata tentang hendak mendirikan sebuah toko kecil un­tuk hasil pertukangan anak Bumiputera itu di Semarang, maka iapun suka pula hendak menolong dengan segera. Tuan harus mengetahui pula, bahwa orang di Semarang tidak suka memesan barang-barang ke Betawi, jika barang-barang itu dapat dibeli di Semarang. Banyak orang hendak mendi­rikan toko itu dan meminta pertolongan kepada kami, tetapi kami tidak dapat berjanji, melainkan kami menyuruh meréka pergi minta pertolongan kepada perserikatan "Oost en West". Rupanya orang telah mendapat jalan yang baik. Perserikatan "Oost en West" wajib membuka sebuah toko di Semarang. untuk berbuat sedemikian perlu uang, dan perserikatan "Oost en West" tidak banyak menaruh uang. Ketika saya mengatakan hal itu kepada tuan Brandes, maka iapun berkata: "janganlah tuan bersusah hati tentang perkara uang itu. uang itu boléhlah didapat asal tuan mau menguruskan hal yang lain." Sayapun menjawab: "Sepatutnya orang yang halus perasaannya, yang akan men­dirikan toko di Semarang itu. Orang yang demikianpun boléhlah dapat, asal saja tuan suka menyuruh tukang-tukang itu memperbuat benda-benda yang bagus."

Saya telah mendapat surat dari padanya, ia telah memperbincangkan perkara itu dengan beberapa orang sahabatnya, dan banyaklah meréka yang suka menolong pekerjaan itu dengan uang.

Saya katakan juga kepadanya bermacam-macam daya upaya tentang hendak memajukan kepandaian ukir-mengukir.

Dengan segera ia bertanya berapa banyaknya uang yang perlu bagi kami untuk mengerjakan pekerjaan itu. Saya belum mengatakan kepadanya, berapa uang berguna, karena saya harus bertanya dahulu kepada orang pandai-pandai: berapa upah mendirikan rumah pertukangan itu, dan be­rapa harga kayu, berapa upah orang mengerjakannya, dan berapa upah tukang-tukang ukir itu dibayar, untuk meréka itu bekerja dalam beberapa bulan.

Rumah pertukangan itu mula-mulanya haruslah sederhana saja, tidak usah bagus. Perkara yang terutama, ialah uang mestilah ada sekian banyaknya, sehingga kira-kira lima puluh orang tukang dapat bekerja selalu; artinya meréka itu tidak usah lagi menantikan hasil pekerjaannya laku dahulu, maka dapat upah.

Rembang itulah tempat yang amat baik untuk tukang ukir, sebab disitu banyak tumbuh pohon jati dan pohon sono (sana).

Singopun menyukai maksud itu. Sekiranya ada beruang sekarang! Kalau pekerjaan itu baik jalannya, banyaklah orang nanti yang suka menurutkan saya! Sebab itulah pu­la maka saya menjadi seorang perempuan kaum muda. Sebenarnyalah itu, bahwa saya akan membawa uang jujuran yang ganjil.

Regén Rembang kawin dengan seisi kota. Apa pula sebabnya maka ia akan berdiri antara anak Bumiputera dan isterinya itu?

ya, alangkah malangnya saya ini, karena waktu saya tiba disana nanti dalam waktu banyak keramaian, puasa, lebaran dan tahun baru. Saya telah katakan bahwa saya tidak mau, yang orang akan mencium kakiku. tidak pernah saya mengizinkan orang berbuat demikian kepadaku. Saya suka dikasihi oléh meréka itu dalam hatinya, tetapi tidak suka hormat-hormat diluar sahaja!

tidak dapat saya mengenangkan waktu yang akan datang, kalau tidak bersama-sama dengan Rukmini. Bagaimanakah halku jika ia tidak ada, dan bagaimanakah pula halnya nanti kalau tiada saya? Kalau saya mengenangkan hal itu, maka semalam-malaman mata sayapun tidak mau lelap sedikit juapun.

19 October 1903 (VIII)Sunting

Sudah tahukah tuan? Tanggal yang susah ditetapkan, sekarang atas permintaannya yang sekeras-kerasnya, telah dilekaskan....... Tidaklah pada 12 hari bulan akan dilangsungkan, melainkan pada 8 hari bulan November, kira-kira pukul 5 petang, dan hari Rabu tanggal 11 hari bulan saya­ pun berangkatlah dari rumah.


3 November 1903 (VIII)Sunting

Anak nyonya telah hidup kembali, ia hidup benar-benar. Hatinya gembira dan bergerak kembali. Gerakan itu bukanlah karena duka dan sengsara, bukanlah karena keputusan asa yang pedih dan muram, melainkan karena cinta yang penuh dan sejati, mendesir-desir dalam hatiku.

Alangkah kurangnya terima kasihku atas kekayaan yang sebanyak itu dalam diriku! cinta yang sebanyak-banyaknya! ya, cinta yang dapat memberi sekaya-kayanya. Saya sebagai anak kekasih Allah boléh memberikan yang ada padaku, dan sayapun mau memberikannya, penuh dengan cinta dan sayang kepada sekalian yang mengelilingiku. Apa yang telah nyo­nya dan sahabat-sahabat yang lain berikan kepadaku, akan saya berikan pula dengan bunganya sekali kepada orang yang lain. O, amat banyak, ya, amat banyak benar orang yang lapar dan haus kepada cinta!

Alangkah ganjil dan ajaibnya hal keadaan dalam hidup manusia. Terang sekali tampaknya, bagaimana lekat hatinya kepada bapakku, sejak meréka itu mula-mula bertemu, dua tahun yang lalu. Semenjak itu selalulah ia datang-datang kepada kami, dan akhirya bapakku bersahabatlah dengan dia.

Dan kepada isterinya yang malang itu adalah suatu cita-cita hendak datang kepada kami, bersama-sama de­ngan suaminya dan anak-anaknya akan pergi berkenalan dengan kami. Regén Rembang dan isterinya itu keduanya memanggil bapakku "bapak" pula. Si isteri yang suka sekali hendak berkenalan dengan kami itu, sayang sebelum ia dapat menyampaikan cita-citanya itu, maka iapun berpulanglah kerahmatu'llah.

Beberapa hari ia akan berpulang itu, dilihat-nya isterinya dalam mimpi: isterinya sedang duduk tepekur tengah sembahjang dan meminta dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan yang mahatinggi: "Supaya Allah mempersahabatkannya dengan Radèn Ajeng Kartini dari dunia sampai keachirat tinggal kekal selama-lamanya." Sejak itu maka namakupun tidak dapat dilupakannya lagi dari kenang-kenangannya.

ya, sebetulnya regén itu banyaklah penanggungannya; kematian isteri itu suatu kehilangan yang amat besar kepadanya, ia sangat cinta dan sayang kepada isterinya itu.

Pengharapannya yang terutama untuk dirinya sendiri ialah, supaya biji mata bapaku, "wasiat-jati"nya demikianlah saya dinamai oléh regén itu akan menolongnya dalam kedukaan dan kesengsaraannya itu.

O, ya, berilah saya doa yang berkat, bila saya pada sebelas hari bulan ini menaiki rumahku yang baru itu. Tentulah doa itu akan memberi berkat bagiku, bila hakékatnya tangan tuan yang mulia itulah membimbing saya masuk ke dalam hidup yang baru dan beban yang besar itu!

7 November 1903 (VIII)Sunting

Bundaku yang dicinta, terimalah salamku pada malam yang achir dari anak tuan, yang masih gadis ini, sebelum ia akan dikawinkan. Bésok pukul setengah enam kawinlah kami. Sayapun tahulah siapa pada hari bésok, semata-mata akan mengenangkan saya dalam hatinya yang penyayang itu.

Wahai kekasihku, sampaikanlah juga salamku kepada suami tuan dan sangkakan dalam ingatan tuan, yang tuan dipeluk dan dicium oléh anak kandung tuan yang sebenarnya.

K.

Rembang, 11 Dec.1903 (VIII dan IX)Sunting

Sahabat-sahabatku yang baik dan dicinta. Seperti saya tidak tahu, yang tuan mencintai kedatangan suratku ini, surat yang pertama-tama sekali dari rumahku yang baru ini. syukur kepada Allah, rumah dalam segala hal baik untukku dan penuh dengan sekalian yang saya cintai, tempat kami sekalian bersama-sama beruntung dan berbahagia.

Betapalah sedih hatiku, yang saya sebab beberapa alangan, baru sekaranglah dapat menulis surat ini kepada tuan kedua. Maafkanlah saya, hai kekasihku! Baru-baru saya datang amat banyak kerjaku, kemudian anak-anak kami ditimpa oléh penyakit, dan kesudahannya sekali saya sendiri menjadi kurang* séhat, karena lelah dan payah pada waktu yang sudah-sudah. Saya merasa badanku kurang senang dan dalam hal itu saya harus menjaga diriku baik-baik. Sekarang saya telah segar dan rianglah pula kembali seperti dahulu, dan saya lihat waktu yang akan datang dengan pemandangan yang bersukacita. Perlukah juga hal itu saya ceriterakan kepada tuan, o kekasihku? Saya doakanlah hari waktu saya mengunjukkan tanganku kepadanya, kawan yang telah diberikan oléh Tuhan kepadaku, yang akan menjadi sahabat bagiku dalam perjalanan hidupku yang amat berharga dan kerap kali bukan buatan sukarnya itu. Sekalian yang bagus dan mulia yang terbayang-bayang dahulu dimataku boléhlah saya lakukan dan saya sampaikan sekarang disini. Mimpi yang sampai sekarang masih saya mimpikan, kiranya sudah beberapa tahun yang lalu adalah yang telah dilakukan oléh suamiku, tetapi ada pula yang masih dimimpikannya juga. Kerap kali saya menjadi héran dan tidakajub karena karmi dalam segala hal semata-mata boléh dikatakan seperasaan dan sepikiran serta cita-cita kamipun sama pula.

Tuan kedua tentulah akan sayang kepadanya, bila tuan telah kenal kepadanya, tuan tentulah akan tercengang melihatnya betapa terang kepalanya, dan akan menghargakan kebaikan hatinya yang amat suci itu. Karena itulah saya sekarang berpikir, yang orang bangsawan mestilah hendaknya untuk orang banyak; dan itulah pula sebabnya maka saya kehendaki, supaya orang-orang bangsawan itu ma'lum hendaknya akan kewajibannya, dan kewajiban itulah yang patut diperlukan benar-benar oléh orang-orang bangsawan itu; ia, raja-hatiku, telah dahululah melakukan kewa­ jiban itu.

Pada hari ini telah sebulan lamanya saya dibawa oléh suamiku kemari, keafdeelingnya, menaiki rumahnya yang sekarang telah menjadi rumah kami berdua.

Agaknya menerima raja Belanda sekalipun tiadalah akanlebih kehormatan orang disini. Seluruh negeri Rembang bersuka raya; sejak dari batas pada tiap-tiap rumah, terkibarlah bendéra si tiga warna; béndi-béndi séwaanpun berbendéra pula. Anak negeri betul-betul bergirang hati, kegirangan dan kesukaan itu semata-mata terbit dari hatinya yang ichlas. Meréka bersama-sama bersorak dan bersukacita, karena suamiku membawaku keberanda muka; sebab anak negeri mesti pula melihat Gusti Puteri yang baru itu.

Saya duduk atau berdiri senantiasa didekatnya dengan tiada berkata-kata, dengan air mata berlinang-linang, dan dengan hati yang perasaannya melimpah-limpah; dalam hatiku adalah terima kasih, ada kesombongan, sombong karenanya, karena ia tahu benar mengambil hati ra'jatnya yang amat sayang kepadanya itu. Saya mengucap terima kasih karena sebuah cita-citaku yang besar telah menjelma atas dirinya; dan berbahagia besarlah rasanya saya duduk disisinya.

Hendaknya dapatlah tuan melihatku semenjak telah bersuami dan menjadi bunda ini, betapa kesenangan hatiku telah memancar-mancar terbit dimataku, mulut dan pénaku tidak dapat mengatakan atau menuliskan kegirangan hati­ku karena kekayaan ini!

Dan anak-anak kami! Bagaimanalah saya akan menceriterakan kepada tuan betapa kekayaan kami ini? Sekaliannya anak-anak yang manis lakunya, sehingga hatikupun lekaslah melekat kepadanya; dan meréka makin lama makin kuat bergantung dihatiku. Bapaknya telah meletakkan sendi yang kukuh pada hati meréka itu, dan telah mendidiknya seperti pendidikan yang selalu saya ingini, sederhana dan rendah hati. Anak-anakku itu tiadalah menyangkakan dirinya lebih tinggi dari pada orang yang serendah-rendahnya dalam rumah; sekalian orang sama kepadanya. Disini telah saya dapati tanah yang dikerjakan, kerjaku hanyalah akan menanaminya saja lagi.

Saya berharap dalam bulan Januari sekolah kami dapat didirikan. Kami sekarang mencari seorang guru perempuan yang baik. Selama kami belum mendapat guru itu, sayalah yang akan memberi pengajaran untuk sementara; dan apabila saya karena bermacam-macam hal tidak boléh memberi pengajaran itu, maka salah seorang dari padabadik-adikkulah yang akan mengerjakan pekerjaan itu, sampai saya boléh mengajar kembali.

Ada dua tiga orang tua, yang telah meminta kepadaku akan mengajari anak-anaknya. Maksud kami disini bila kami boléh mendapat seorang guru perempuan yang baik, akan membuka sebuah sekolah di rumah kami, untuk anak-anak gadis kepala-kepala negeri.

Kalau sekiranya kami boléh mendapat seorang guru perem­puan yang baik, guru itulah nanti yang akan memberi anak-anak kami pengajaran yang menajamkan pikirannya dan lagi pendidikan untuk budi pekertinya.

jikalau pekerjaan itu telah maju jalannya, dapatkah kami mengharapkan uang bantuan dari Gubernemén? Wang sekolah wajiblah hendaknya serendah-rendahnya, anak-anak itu dapat makan dan tempat tinggal dari kami.

Boléhkah saya membuat peringatan tentang hal itu?

Orang-orang tua anak-anak itu sangat percaya kepada kami, dan meminta kalau boléh sekarang sekolah itu diadakannya dan kamipun wajib memberinya. Sudahlah; nantilah saya tulis lebih lanjut tentang hal itu kepada tuan.

Saya percaya sungguh-sungguh yang di rumah kami akan terdiri sebuah sekolah anak-anak perempuan, yang dipimpin oléh seorang guru perempuan bangsa Eropa dan oléhku sendiri, sebagai guru'yang "tertinggi" sekali!

Maksud kami bersama-sama terlampau besar. Maulah rasanya saya membayar berapa juapun banyaknya, asal kami dapat memperbincangkan sekalian itu dengan tuan kedua.

Saya tulis surat ini pukul lima pagi-pagi. Anak-anakku telah bangun, dan bergantung berkeliling kursiku. Bunda wajib memberi meréka itu susu dan roti.

Tuan hendaknya mesti melihat anakku yang bungsu, ia belum ber'umur 2 tahun, tetapi ia amat cerdik. Bila saya duduk, maka datanglah ia membawa bangku kaki kepadaku. Bangku itu tiadalah terangkat oléhnya, melainkan selalu dihélakannya kepada bundanya. Kaki bundanya tiadalah boléh tergantung. Setelah itu kesayanganku itu memanjatlah dengan segera keatas pangkuanku. jikalau saya sudah membuat barang sesuatunya, maka sekalian anakku itu bereboét-rebut, berduga-duga mengunjukkan ini dan itu kepadaku, dan kesayanganku si Sis yang kecil sekali membawakan saya senduk dan garpu bertambun-tambun. Siapa yang nakal tidak boléh datang kepada bundanya. Keriangan yang sebesar-besarnya bagi anak-anak itu, ialah apabila meré­ka itu mandi bersama-sama dengan saya, dan sayapun bersukacita bukan bóeatan. Suatu kesukaan besarlah kepada­ku melihat muka anak-anak kecil yang bersih dan tertawa-tawa itu.

Sekarang saya selalulah membicarakan hal keadaanku saja. Saya belum lagi mengucapkan terima kasih kepada tuan atas kesayangan tuan yang tiada berhingga, yang telah saya dapati dalam beberapa hari ini. Tuan kedua telah meriangkan hatiku dengan surat-surat tuan yang telah saya terima di Jepara tiada dapat kuperikan. Atas surat tuan itu kupohonkan banyak terima kasih kepada tuan, kekasihku. Dan nyonya, bunda, buah hatiku, saya ciumlah tuan dengan segala sukacita pada kedua belah pipi tuan atas keselamatan tuan menyambut kedatanganku, yang bermula sekali disini. Karena itu saya sangat bersenang hati dan berbahagia!

16 December.Sunting

Barulah sunyi sekarang. Sekalian kerja telah selesailah.

Saya tidak dapat menghubung suratku sebelum kejadian ini telah lalu.

Tuan sekali-kali tidak dapatlah menerka, siapa yang telah menumpang dengan kami dan siapa yang telah berangkat tadi pagi. nyonya dan tuan Bervuts dari Mojowarno! Meréka itu mula-mulanya pergi ke Jepara kepada orang-orang tuaku dan mereka menyuruhnya datang kemari. Itulah suruhan Tuhan yang amat menyenangkan hati; kami meminta syukur berlipat ganda, karena keadaan yang tiada disangka-sangka telah membawakan kami ni'mat. Amat sangat ingin benar hatiku hendak berkenalan dengan nyonya dan tuan yang mulia. Keinginan hatiku itu telah sampai dan cara bagaimana pula sampainya! Dahulu selalu saya kenangkan kedua hamba Allah yang berhati mulia ini dengan segala sukacita, sekarang kesukaan hatiku itu telah bercampur dengan syukur dan terima kasih.

Kemarin dahulu suamiku itu sehari-harian itu dalam segar dan riang, dan petangnya itulah datang nyonya dan tuan Bervuts; oléh mereka itu, tampak benar betapa girangnya hati suamiku pada malam itu, dan dengan tidak sedikit juga disangka-sangka, dua jam kemudian ia menjadi sakit keras. Hampir tengah malam waktu kami akan pergi tidur dengan bergirang hati, kami ucapkanlah selamat tidur kepada jamu kami itu. Sejam kemudian dari pada itu suamiku tiba-tiba menjadi sakit keras; dalam waktu tiga menit saja ia merasa amat keras sakitnya se­hingga iapun menyangka yang ia ésoknya tiada akan hidup lagi. Bagaimana susahku waktu itu, tentulah dapat tuan pikirkan. Saya suruh orang membangunkan Dokter Bervuts. Mereka itu bermaksud akan berangkat bésok pukul delapan pagi, tetapi ia dan isterinya tidak sampai hati akan meninggalkan kami sendiri dalam kesusahan yang demikian. Sebab itulah mereka itu berangkat pukul satu tengah hari, tetapi maksud itupun tiadalah pula sampai, karena suamiku waktu itu perlu mendapat pertolongan dokter, dan dokter kami tatkala itu pergi komisi. Penyakit itu ialah penyakit memulas-mulas, yaitu suatu penyakit yang belum pernah dirasai oleh suamiku selama hidupnya. Petang kemarin barulah ia berangsur sembuh dan dapat tidur. Betapa syukur saya kepada Allah, tentulah tuan dapat memikirkannya. Tadi pukul delapan pagi baharulah berang­kat sahabat baru kami itu. Suamiku makin lama bertambah sembuh, hanyalah badannya sekarang masih kurang kuat. Pada waktu ini ia telah setengah jam lamanya tidur nyenyak. Saya harap Tuhan akan menyembuhkannya dengan segera!

Héran, héran benarlah yang isteri suamiku yang pertama itu sampai pada hari mautnya selalu memperbincangkan saya. Ia sangat ingin berkenalan dan bersahabat dengan saya. cita-citanya selalu hendak pergi ke Jepara dan membawa anak-anaknya kepadaku. Porterétku tidak sekejap jua lepas dari tangannya, sehingga sampai ia berpulang selalu porterét itu adalah ditangannya.

Sesudah ia berpulang kerahmatu'llah dan dukacita telah hilang, maka sekalian orang, demikianpun kepala-kepala bangsa Bumiputera, mempunyailah satu maksud saja.......... yakni maksud yang telah disampaikan pada 8 Novem­ber. Sebab itulah boléh dikatakan sekalian orang bersukacita, tatkala menerima kedatangan kami.

Suamiku menerima surat tuan sangat berbesar hati. Pakaian kuda untuk perserikatan "Oost en West" telah lama sudah, dan sekarang telah dibungkus, dan apabila su­amiku telah sembuh, maka dengan segeralah akan dikirimkan. Suamiku pun telah memesan pula bermacam-macam tempat rokok terbuat dari bulu burung merak, dan dalam itu kami sedang mencari kain Lasem yang bagus dan sejati. cobalah nanti kita lihat apa yang dapat kami kerjakan untuk "Oost en West."

Akan menyuruh tukang-tukang ukir Jepara bekerja disini, amat bagus menurut timbangan suamiku. Ia akan menolong saya dengan sekuat-kuatnya dalam hal itu, démikian juga dalam segala hal lain-lain yang hendak saya perbuat. Akan mendirikan sebuah sekolah pertukangan untuk Bumiputera, itulah suatu cita-citanya yang telah lama tersimpan dalam hatinya.

Suamiku suka benar melihat, yang saya akan mengarang sebuah kitab ceritera-ceritera dan babad Jawa. Ia hendak mengumpulkan ceritera-ceritera itu untukku, dan kami akan berdaya bersama-sama mengerjakan pekerjaan itu. Maksud itu menyenangkan hatiku!

Adalah banyak lagi kerja yang lain, yang hendak dibuatnya bersama-sama dengan saya; di atas méja tulisku telah ada dua buah karangan bekas tangannya.


Rembang, 6 Maart 1904 (VIII)Sunting

Bunda kandungku yang dicinta.

O, hendaknya dapatlah kiranya oléhku memelukkan tanganku keléhér tuan, karena saya sangat berahi hendak menceriterakan sendiri ketelinga tuan dan akan menjadikan tuan kawanku dalam rahsia kami yang baik tentang bahagiaku yang amat menyenangkan hati. Kalau ada dengan takdir Allah pada achir bulan September akan datanglah rahmat kepada kami dan akan memperteguh tali kasih sayang kami yang sekarang telah memperhubungkan kami. Bundaku, o bunda kandungko, betapalah senang perasaanku kelak, bila anak yang akan lahir ini, yang berasal dari darah kami kedua, menyebutkan ibu kepadaku!

Dapatkah tuan memikirkan itu? Saya akan menjadi ibu kandung! Ibuku, telah saya jadikan orang tualah tuan karena itu!

Saya buat tuan akan menjadi ma' tuanya! Datangkah tuan nanti melihat cucu tuan itu? Akan pergi ke Betawi tidak dapatlah saya lakukan. Maksud kami mula-mula hendak pergi tamasya untun témpoh barang sebulan, tetapi sekarang kami wajib menghilangkan maksud itu. Dalam beberapa bulan ini saya tidak boléh mengendarai keréta dan lain-lainnya! Dan apabila anak kami telah lahir, sayapun tidak dapat pula pergi berjalan. Oleh karena itu Betawi tiadalah akan saya lihat lagi, yaitu selama tuan masih di Betawi sekarang. Apakah paédahnya saya pergi kesana lagi kalau tuan kedua tidak ada lagi disana? Suamiku sangat beruntung, berbahagia karena biji matanya yang masih dalam kandunganku ini.

Itulah saja lagi yang kurang dalam......bahagia kami.

Rembang, 10 April 1904 (III)Sunting

Sahabat-sahabatku yang terhormat.

Betapakah hérannya tuan melihat, yang tuan tidak sedikit juga mendapat kabar dari padaku tentang surat-surat yang terbit dari hati yang suci dan tentang pemberian tuan yang indah itu, pemberian yang sangat meriangkan, menyukakan hati kami. jika sekiranya tiap-tiap pikiranku yang mengenangkan tuan selalu dengan mengucap banyak terima kasih, sekalian itu saya tuliskan, tentulah akan bertimbun-timbun tuan mendapat surat dari padaku. Maafkanlah saya, o sahabat-sahabatku yang dicinta, karena surat ini tidak dapat lebih lekas mendapatkan tuan.

Perubahan dari seorang anak gadis yang sederhana telah menjadi isteri, ibu dan perempuan dari seorang kepala negeri yang tertinggi, -yakni suatu perubahan dalam dunia Bumiputera yang tidak sedikit artinya-amat besar, sehingga saya sejak bermula tidak dapat sedikit jua memikirkan hal yang lain dari pada mengenangkan daya upaya bagaimana patutnya saya melakukan kewajibanku yang baru itu.

Bukanlah kewajiban itu saja yang saya ichtiarkan, tetapi adalah pula suatu percobaan yang harus saya tanggungkan. tidak berapa lamanya sesudah kami kawin, maka suamiku jatuh sakit keras. Kemudian saya sendiri mulai pula sakit-sakit. Sampai sekarang hawa negeri Rembang belumlah begitu sesuai dengan badanku. Kamipun disini tinggal ditepi laut juga. Dalam hal tinggal ditepi laut di Jepara menjadikan suatu kesukaan, maka diam ditepi laut di Rembang mendatangkan suatu gangguan. Disini kami harus hati-hati menjaga angin laut, yang kurang séhat itu karena mengandung hawa kerang dan lumpur. Tetapi marilah sekarang saya, pun jua atas nama suamiku, mengucapkan terima kasih dahulu kepada tuan kedua, atas tanda mata yang bagus itu, yang tuan berikan kepada kami pada hari kawin kami. Lebih-lebih pula saya amat menyukai hadiah itu, karena ia menggambarkan Thuringerwoud, yang masyhur lagi telah acap kali tuan ceriterakan kepadaku, yaitu suatu tempat pula, kemana sahabat-sahabatku bangsa jérman suka sekali pergi tamasya.

Gambaran yang indah dan porterét kota Jena yang bagus itu, kami gantungkan dibilik tempat kami duduk-duduk, tempat suamiku menyimpan kekayaannya dalam hal gambar-menggambar, karena iapun seorang yang amat suka kepada gambar-gambar dan patung-patung yang bagus-bagus. Kerap kali saya melihat akan gambar-gambar itu dengan segala suka hati, dan dalam hal yang demikian melayanglah beberapa pikiranku dengan cinta dan terima kasih kepada sahabatku di Jena.

Betapalah baik hati tuan, sesungguhnyalah amat baik, karena tuan hendak mengirimi saya "boomkuk", suatu macam kué asal dari jérman, yang tidak boléh tinggal dalam peralatan. Tuan tidak dapat menyampaikan kenang-kenangan itu menjadi suatu hal yang sesungguhnya kejadian; tetapi bagiku sekalian itu, saya pandang seperti telah kejadianlah dan saya hormatilah ia benar-benar.

Sekarang saya hendak menceriterakan kepada tuan hal keadaan hidupku yang baru dan kaya sekarang ini, bukankah tuan suka sekali mendengar hal itu? Tuan dahulu selalu mengacuhkan benar betapa hidupnya sahabat tuan anak perempuan Jawa itu, dan acap kali bersusah hati memikirkan nasibnya pada waktu yang akan datang.

syukur, syukurlah apa yang tuan takutkan dahulu, rupanya tiadalah ada bersebab. Bukankah sekarang perempoan muda itulah yang telah menulis kalimat-kalimat itu kepada tuan, dan lihatlah pula dimatanya betapa bahagia dan kesenangan hatinya telah bersinar-sinar, sehingga tidak dapatlah ia mencari kata-kata yang akan menceriterakan sekalian kesukaan hatinya dan bahagia itu!

Suamiku...... bukan saja ia suami kepadaku, tetapi iapun sahabatku sepikiran juga. Kalau tidak demikian masakan saya akan diambilnya menjadi isterinya, dan masa­kan saya dapat menambahkan diri saya kepadanya! Seluruh tanah Jawa orang telah tahu, bahwa saya ini berlainan dari pada perempuan yang lain.

Segala ya