Manajemen Lalu Lintas/Jaringan jalan

Kaitan antara jaringan transportasi sangat erat dengan tata guna lahan di daerah sekitarnya yang akan diberikan akses ataupun dalam kaitannya dengan hubungan antar pusat pengembangan. Oleh karena itu jaringan yang baik sangat mempengaruhi mobilitas dan aksesibilitas pergerakan di dalam jaringan tersebut.

Pendekatan yang biasanya digunakan untuk perencanaan jaringan adalah pendekatan ekonomi, sosial, budaya serta pertahanan keamanan nasional dan tidak boleh melupakan hambatan phisik yang mungkin ditemui.

Pengertian Jaringan Jalan

sunting

Jaringan merupakan serangkaian simpul-simpul, yang dalam hal ini berupa persimpangan/terminal, yang dihubungkan dengan ruas-ruas jalan/trayek. Untuk mempermudah mengenal jaringan maka ruas-ruas ataupun simpul-simpul diberi nomor atau nama tertentu. Penomoran/ penamaaan dilakukan sedemikian sehingga dapat dengan mudah dikenal dalam bentuk model jaringan jalan. Model jaringan jalan merupakan penyederhanaan dari model ikonis jaringan jalan yang ada. Model ini dapat disederhanakan berbentuk ruas-ruas yang lurus, ataupun mengikuti keadaan sebenarnya.

Model Jaringan jalan

sunting

Kawasan perkotaan mempunyai konsentrasi populasi dan intensitas tata guna tanah yang tinggi. Tata guna tanah digunakan untuk perkantoran, pertokoan, industri, perumahan dan sekolah dan lain-lain. Kebutuhan akan akses tinggi sehubungan konsentrasi penduduk yang tinggi. Tiga tipe dasar bentuk jalan utama yang dikembangkan dalam kawasan di daerah perkotaan yaitu :

Kisi-kisi

sunting
 
Pola jaringan jalan kisi-kisi

Bentuk jalan utama ini, aslinya digunakan oleh orang Roma, diadopsi secara luas di seluruh kota-kota di Amerika Serikat. Bentuk ini mudah dilakukan meng-gunakan garis-garis lurus dan koordinat siku. Walaupun dapat menghasilkan jalan-jalan panjang monoton dengan sisi-sisi blok gedung yang suram, akan tetapi mempunyai keuntungan dalam memper-mudah pergerakan lalu lintas yang diinginkan. Menyebabkan penyebaran lalu lintas merata keseluruh petak dan sebagai konsekuensinya pengaruhnya pada suatu lokasi tertentu berkurang.

Hal ini juga memberikan kemudahan dalam menerapkan sistem satu arah. Keuntungan utama lainnya adalah mempermudah koordinasi alat pemberi isyarat lalu lintas dan sistem manajemen lalu lintas.

Linier/radial

sunting
 
Pola jaringan jalan linier

Tipe bentuk jalan perkotaan ini berkembang sebagai hasil keadaan topografi lokal yang terbentuk sepanjang jalur. Jalur jalan penyalur kemudian dihubungkan ke jalan utama. Lalu lintas bervolume besar dan lalu lintas lokal sekarang dapat menggunakan jalan yang sama dan mudah terbebani melebihi rencana dan begitu saja berkembang.

Sistem ini biasanya berkembang tanpa melalui proses perencanaan dan pengendalian ruang yang banyak ditemukan disekitar jalan arteri primer seperti pada banyak kota-kota yang berkembang pada jalur Pantura. Pola ini biasanya akan membentuk kota dengan pola radial.

Pola Ring-Radial

sunting
 
Pola jaringan jalan ring radial

Sistem transportasi berkem-bang dalam bentuk jaringan jalan menghu-bungkan pusat kota ke pusat kota lainnya. Sebagaimana kota berkembang, mereka cenderung mengikuti arah radial dari kawasan bisnis (CBD) sebagai pusat ke kawasan diluarnya. Beban jalan radial biasanya sangat besar sehingga sering mengakibatkan kemacetan lalu lintas pada jalan-jalan radial ini. Sebagai jawaban untuk mengantisipasi masalah tersebut adalah dengan pembangunan jalan lingkar untuk menghindari lalu lintas dari kawasan disekeliling pusat kota yang macet.

Pendefinisian jalan lingkar adalah jalan yang kurang lebih mengelilingi pusat kawasan kota, dan memungkinkan lalu lintas menghindari pusat kawasan ini. Praktisnya, terdapat tiga bentuk jalan lingkar sebagai: jalan lingkar inner (dalam), outer (luar) dan intermediate (menengah). Kawasan perkotaan de-ngan kelompok populasi besar cenderung memiliki satu atau lebih jalan lingkar intermediate sebagai tambahan jalan-jalan lingkar inner dan outer.

Jika kita bayangkan bentuk dasar jalan kota ini sebagai roda pedati lalu jari-jarinya sebagai rute-rute radial. Poros dari roda pedati sebagai jalan lingkar inner. Lokasi dan perencanaan jalan lingkar inner sangat tergantung dari: luas, layout dan penggunaan kawasan pusat. Sehingga pada praktisnya, jalan lingkar inner dapat berupa lingkaran, kotak atau memanjang. Walaupun biasanya digunakan untuk lalu lintas langsung yang memotong kota, kegunaan aslinya adalah melayani lalu lintas kota itu sendiri dengan menghubungkan masyarakat dan kegiatan luar sebagai distributor di antara radial. Jalan lingkar intermediate melayani kebutuhan lalu lintas yang diinginkan untuk mencapai titik antara jalan-jalan lingkar inner dan outer. Kota Jakarta mempunyai beberapa buah ring yaitu lingkar dalam (inner ring) , lingkar luar (outer ring) dan saat ini sedang dipersiapkan satu ring lagi diluar yang sebagian besar berada dalam wilayah Bodetabek.

Aksesibilitas

sunting

Didalam transportasi aksesibilitas adalah ukuran kemudahan untuk mencapai suatu tujuan, sehingga dikatakan kalau aksesibilitas tinggi adalah bila alternatip rute menuju suatu tempat banyak sehingga dapat dicapai dengan gampang dari beberapa tujuan.

Ukuran yang biasa digunakan dalam analisis lalu lintas adalah:

 

Dimana:

  •   = indeks zona asal
  •   = indeks zona tujuan
  •   = fungsi biaya perjalanan

Model aksesibilitas tersebut diatas bisa dibuat untuk pengguna kendaraan pribadi maupun pengguna kendaraan umum. Secara lebih mudah akssesibilitas bisa dihitung atas dasar panjang jalan per kilometer persegi, semakin panjang berarti semakin tinggi aksesibilitasnya.