Manajemen Lalu Lintas/Simpang susun

Untuk meningkatkan kelancaran serta untuk mengatasi pertumbuhan lalu lintas[1] yang tinggi diperlukan solusi untuk memperlancar persimpangan. Salah satu pendekatan yang digunakan adalah dengan membangun simpang susun sehingga dapat meningkatkan kapasitas persimpangan

Simpang susun di Los Angeles, California, Amerika Serikat.

Simpang susun adalah persimpangan tidak sebidang di mana dapat dilakukan perpindahan dari satu kaki persimpangan ke kaki lainnya melalui akses yang terhubung tidak sebidang, seperti di Cawang interchange Jakarta. Merupakan persimpangan yang biasanya diterapkan pada jalan bebas hambatan di mana konflik silang dihindari.

Bentuk simpang susun

sunting

Beberapa bentuk simpang susun dikembangkan diantaranya bertumpuk, merupakan simpang susun yang kompleks di mana tidak ada konflik silang; Jembatan Semanggi, merupakan salah satu simpang susun pertama yang dikembangkan di Indonesia; Simpang ketupat, di mana sebagian konflik masih terjadi secara sebidang; Separuh semanggi atau seperempat semanggi atau disebut juga simpang susun terompet.

Interchange

sunting
 
Simpang susun 4 lapis
 
Jembatan semanggi

Merupakan simpang susun yang kompleks dimana pengendara tidak akan bertemu dengan konflik silang. Interchange membutuhkan lahan yang cukup luas untuk mengakomodasi rampa serta biaya konstruksi yang tinggi.

Bertumpuk

sunting

Merupakan silang susun bertumpuk atau disebut juga sebagai Stack Interchange yang bisa mencapai 4 susun. yang merupakan simpang alternatif dari jembatan semanggi, lebih sempurna sehingga kapasitasnya bisa lebih tinggi, tetapi karena harus dibangun lebih dari dua susun biaya konstruksinya menjadi lebih tinggi.

Jembatan semanggi

sunting

Jembatan Semanggi adalah suatu simpang susun yang dibangun di era pemerintahan Presiden Soekarno. Jembatan ini disebut Jembatan Semanggi karena dibangun di kawasan Karet Semanggi, Setiabudi, akan tetapi banyak juga yang mengatakan karena bentuknya yang seperti daun Semanggi maka istilah Jembatan Semanggi digunakan. Jembatan semanggi ini merupakan salah satu simpang susun pertama yang dibangun di Indonesia. Alternatip lain dari simpang susun seperti ini adalah separoh semanggi yang diterapkan pada suatu simpang tiga.

Simpang ketupat

sunting
 
Suatu simpang ketupat

Simpang ketupat yang dikenal juga sebagai diamond interchange merupakan persimpangan antara jalan utama dengan dengan jalan minor, dimana jalan utamanya bebas hambatan dipisah pada bidang yang berbeda, sedang hubungan dengan jalan minor terjadi pada persimpangan sebidang, yang biasanya dikendalikan dengan lampu lalu lintas. Pada simpang ketupat ini biasanya masih ditemukan konflik yang cukup besar, sehingga kapasitasnya lebih rendah dari simpang susun tumpuk ataupun jembatan semanggi. Simpang ketupat biasanya dibangun pada lokasi yang sempit ataupun pada jalan toll dimana lintas utamanya mempunyai konflik yang lebih kecil dibanding dengan jalan minornya. Untuk meningkatkan keselamatan dan menurunkan biaya konstruksi[2], pada bagian yang ada konfliknya pada jalan minornya perlu dipasang lampu lintas.

Simpang susun sederhana

sunting

Flyover

sunting

Bentuk simpang susun yang paling sederhana adalah flyover atau disebut juga sebagai jembatan layang, yang dimaksudkan untuk menghilangkan konflik yang berpotongan langsung, ataupun untuk melewati suatu kawasan yang kumuh. Fly over banyak dibangun untuk menghindari persilangan sebidang dengan lintas kereta api ataupun persilangan dengan jalan toll.

Underpass

sunting

Selain Flyover juga dapat dibangun underpass atau terowongan yang fungsinya sama seperti flyover. Banyak dibangun di Jakarta untuk meningkatkan kapasitas perlintasan serta mengurangi angka kecelakaan khususnya pada persilangan dengan Kereta api.

Referensi

sunting
  1. Palmer News, Interchange Design : Escalating traffic volumes mandate creative approaches, Winchester, 2004
  2. Gilbert Chlewicki, New Interchange and Intersection Designs: The Synchronized Split-Phasing Intersection and the Diverging Diamond Interchange, 2nd Urban Street Symposium (Anaheim, California) — July 28-30, 2003