Pertarungan pun terjadi, namun tidak seimbang. Ricky memang hebat, sedangkan Janus selalu mendapat pukulan dan tendangan yang keras. Bahkan bantingan yang cukup hebat. Kadang Janus harus mencoba menggunakan benda-benda yang di sekitarnya untuk melawan Ricky. Namun semua itu tidak ada arti, malahan benda-benda itulah yang menghantam dirinya. Ia terpelanting jauh ke dinding akibat tendangan Ricky.

“Hhhh....”, Janus kecapean dan merasa kesakitan. “Hhh, baru kali ini kulawan orang yang tangguh...”, ia terkesima atas kehebatan Ricky.

Roy dan teman-temannya kembali lega, termasuk Roselina. Gadis pun itu datang kepadanya dengan membawa sapu tangan, lalu menghapus peluh yang membasahi wajah Ricky.

“Plok...plok...plok...”.

“Hebat sekali...”, Jarot akhirnya keluar dari pengintaiannya sambil menepuk tangan. “Sang pangeran telah berhasil melawan musuh, dan sang puteri pun datang menghibur”, kata-kata Jarot bukanlah memuji tetapi mengejek.

Para anak buah Jarot pun menolong Janus dan membantunya untuk berdiri.

Mereka kembali ketakutan, dan ketakutan mereka lebih parah dari yang sebelumnya karena mereka didatangi oleh bos mafia yang lebih seram dan kekar serta didampingi oleh beberapa anak buahnya. Roselina berharap agar Ricky bisa melawannya. Apalagi para anak buahnya yang lain sudah kembali siuman dan mengambil senjata mereka.

Sebenarnya Jarot iri melihat Ricky, tetapi keiriannya itu bukan dikarenakan oleh kehabatan Ricky. Melainkan iri melihat Ricky yang sedang didampingi oleh gadis cantik. Ia terkesima melihat kecantikan wajah dan postur Roselina.

“Apa kau ingin seperti dia...”, tantang Ricky sambil menunjukkan Janus yang sedang meringis kesakitan.

“Baik anak muda, kita boleh bermain-main sebentar...”, sambut Jarot dengan tenang. “Ups, aku hampir lupa. Hei, kalian semua...! Senjatanya tolong diturunkan...”, perintahnya kepada semua anak buahnya.

“Kita bertarung secara jantan, oke...”, tantangnya.

“Oke...”, jawab Ricky dengan santai.

Jarot melepaskan jaket dari tubuhnya dan memberikannya kepada anak buahnya. Dua pistol yang masih tersarung di kedua ketiaknya dilepaskan dan diletakkan ke lantai. Bajunya pun ikut dibuka sehingga tampaklah lekuk-lekuk tubuh yang kekar, padat dan berisi. Ricky tak mau kalah. Ia juga membuka kaos oblongnya dan memberikannya ke Roselina. Roy, Roselina, dan juga teman-temannya kagum melihat postur tubuh Ricky yang tak kalah hebat dibanding postur tubuh Jarot.

Akhirnya, pertarungan pun dimulai. Jurus pertama, keduanya masih seimbang. Tak ada yang menang dan tak ada yang kalah. Semua orang yang ada di sekitarnya merasakan berdebar-debar.

Ternyata itu adalah ide Jarot untuk mengetahui sampai di mana kehebatan Ricky. Dia membiarkan Ricky menyerangnya. Namun dipatahkan Jarot, dan Jarot pun membalasnya dengan serangan yang sedikit hebat, dan memang bisa dipatahkan Ricky. Akhirnya Jarot tahu di mana kelemahan. Tapi, Jarot sadar bahwa dia tidak boleh berlama-lama melawannya. Ia merasa khawatir para polisi akan segera menyerang hotel. Dan memang benar polisi telah berada di luar hotel dengan menyerukan agar Jarot mengeluarkan para sandera.

“Bah, hebat juga yang satu ini”, Ricky kesulitan melawan Jarot.

“Hiaat....”,

Dengan mengerahkan segala tenaga Ricky mencoba menyerang dengan sebuah tinju. Namun Jarot bisa merasakan bahwa tinju Ricky sangat berbahaya meski belum mengenai dirinya.

“Trap...”

“Aduh...”

“Bugh...”

Ternyata Jarot menyambut tinju tersebut dengan menangkap tangannya. Tentu dibarengi juga dengan tenaga dalam. Kepalan Ricky dikunci lalu tubuhnya didaratkan sebuah tinju. Kemudian Ricky disiksa kembali dengan sebuah tendangan keras, mirip dengan tendangan sepak bola.

“Dugh...”

“Gedebugh..., gubrak...”

“Goolll....”

Ricky terpelanting dan mendarat di belakang meja pendaftaran chek in. Ia meringis kesakitan dan berusaha untuk berdiri. Namun ia tak sanggup. Akhirnya, ia dibantu Roselina dan Roy untuk berdiri dan keluar dari tempat tersebut.

“Oke, bawa semuanya ke lantai lima...”, perintahnya sambil memakaikan baju dan jaketnya kembali serta menyarungkan pistol ke ketiaknya.

Roy dan teman-temannya dipaksa naik melalui tangga menuju lantai lima. Termasuk Ricky yang sedang dibantu Roselina untuk berjalan.

Sebenarnya peristiwa itu tidak diketahui oleh pihak kepolisian namun akhirnya dapat diketahui setelah salah seorang anggota Polisi yang ditugaskan menjaga Diamond Tapanuli Hotel berhasil melarikan diri meski pun tubuhnya telah bersimbah darah.

Kini situasi di luar telah dipadati oleh aparat Kepolisian dilengkapi dengan persenjataan berat. Polisi khusus pun dikerahkan untuk mencari tempat yang bisa dimasuki dengan aman. Para tim dari Dinas Kebakaran pun juga ikut berpartisipasi untuk mewaspadai terjadinya kebakaran, dan juga dibantu oleh tim Satuan Polisi Pamong Praja (Sat. Pol. PP.) Wilayah Kota Tarutung. Para pers dari berbagai media pun ikut ambil bagian untuk meliput situasi tersebut, Bonapit TV pun tak mau ketinggalan.

“Kapten Posman...”, panggil sang komandan ke salah satu bawahannya. “Tolong, jaga sekeliling hotel ini dengan anak buahmu...”, perintahnya dengan sedikit berdebar.

“Siap, pak kolonel...”, segera memanggil dan memerintahkan anak buahnya.

“Oke, semuanya jaga sekeliling hotel...”, perintahnya.

Para anak buah Posman pun segera mengamankan sekitar hotel dari berbagai arah. Dan dari arah lain, sebuah mobil dinas, mobil nomor satu di wilayah Tarutung berhenti, dan keluarlah seorang pejabat dari mobilnya. Ia berjalan mendekati komandan kepolisian tersebut yang sedari tadi sibuk mengatur para pimpinan satuan dan unit yang masih di bawah komandonya.

“Kolonel Yanto...! Apa bisa kira-kira kita selesaikan situasi ini...”, tanyanya kepada komandan.

“Eh, pak walikota....”, sedikit agak terkejut. “Mudah-mudahan saja, pak...”, jawabnya sedikit gemetar.

“Saya tidak yakin anda bisa menyelesaikan situasi ini...”, sanggah walikota. “Jangan kuatir, saya sudah mengubungi Tim KOPASUS TNI-AD dan Pusat Intelejensi Indonesia...”, sambungnya.

“Eh...! Apa....”, Kolonel Yanto Terkejut.

“Kenapa...”, tanyanya.

“Tidak apa-apa, pak...”, jawabnya gelisah.

Seketika itu juga para Tim KOPASUS TNI-AD berdatangan dan mengambil posisi titik-titik tertentu di sekitar hotel tersebut dengan membawa Tank dan senjata berat. Yanto mengernyitkan keningnya melihat kedatangan mereka.

Dari udara, dengan tiga helikopter, Para pasukan tim dari Pusat Intelenjensi Indonesia (PIN) pun turut ambil bagian. Mereka mendarat di lapangan luas yang tidak jauh dari hotel.

Komandan Kopasus dan PIN langsung menemui walikota, dan mereka menyalamnya.

“Syukurlah, akhirnya kalian cepat...”, sambut walikota.

“Itu sudah tugas kami, pak...”, balas komandan kopasus.

“Ya, benar...! Tapi, saya rasa lebih baik Kolonel Yanto dan timmu istirahat saja...”, sambung komandan tim PIN.

“Sial...”, gumam Yanto kesal.

“Semua pasukan mundur...”, Yanto menghubungi pasukannya melalui HT.

Para anggota Tim Polisi khusus terkejut mendengar perintah kolonel Yanto.

“Jangan ada yang masuk atau menembak sebelum saya perintah...”, perintah komandan KOPASUS TNI-AD kepada pasukanya via HT.