Seratus Hari/Belajar Beladiri Bersama

Waktu pun berlalu dengan cepat. Tak terasa telah enam bulan berlalu sejak Arme mendapat kitab kuno dari orang yang mengaku keturunan Bayangan Menangis Tertawa dan di saat yang hampir bersamaan Reiche menerima kitab Seratus Hari dari kenalan ayahnya yang sudah dianggapnya paman sendiri.

Arme semakin tekun melatih gerakan-gerakan yang ditulis dalam kitab kuno yang diberikan kepadanya itu dan Reiche semakin bingung dengan penjelasan-penjelasan yang dibacanya, hasil terjemahan Arme. Bukan karena terjemahannya yang kurang tepat melainkan karena Reiche belum pernah sekalipun belajar beladiri sehingga tidak paham istilah-istilah yang digunakan. Untuk itu akhirnya ia meminta kepada ayahnya agar pamannya yang dulu menawari ia untuk mengajarkan bela diri, sudi mewujudkan niatnya tersebut. Yang sudah tentu disambut dengan gembira oleh orang tersebut.

Reiche yang telah banyak membaca dan mendengar bahwa belajar ilmu beladiri itu kadang membosankan orang mencapai suatu tahapan, memohon kepada ayahnya agar Arme dapat menemaninya. Dengan bersama-sama berlatih mereka dapat saling menghilangkan kejenuhan.

Awalnya orang yang sudah dianggap paman sendiri oleh Reiche agak keberatan karena ia tidak ingin ilmu andalannya diajarkan kepada orang yang bukan pilihannya. Tetapi setelah didesak oleh Reiche dan dipesan oleh ayah Reiche agar mengajarkan Arme dasar-dasar saja dan bukan gerakan-gerakan pamungkas, akhirnya orang itu pun setuju. Jadi Arme dan Reiche berlatih setelah pulang sekolah sampai menjelang senja, jurus-jurus dasar, kuda-kuda dan langkah-langkah kaki. Setelah Arme pulang, Reiche masih berlatih sedikit lagi jurus-jurus andalan dari orang yang dipanggilnya paman itu ditambah pula dengan kitab Seratus hari yang dipelajarinya secara diam-diam.

Bila mana Reiche masih berlatih dengan gurunya, Arme pun demikian. Tapi ia melatih jurus-jurus yang tertulis di dalam kitab kuno miliknya. Rangkaian gerakan yang diberi nama Menanti Mata Berkedip, suatu gerakan untuk menghilang dari pandangan orang yang dihadapi dalam bertarung. Gerakan yang berisi jurus-jurus menghindar dan bersembunyi di balik sudut mati mata.

Arme sedikit banyak berterima kasih atas kesempatan ia belajar bareng beladiri bersama Reiche. Dengan berlatih bersama dan berpasangan dalam menyerang dan bertahan, ia dapat mulai memahami maksud dari gerakan-gerakan dalam kitab kuno miliknya. Setelah sorenya berpasangan saling menyerang, ia dapat membayangkan sikap dan posisi tubuhnya dalam imaginasi dan melakukan gerakan-gerakan yang dulu diajarkan oleh orang tua di pinggir hutan tersebut.

Jadi boleh dikatakan bahwa baik Arme maupun Reiche mendapat kemajuan masing-masing sesuai 'kesempatan' yang mereka miliki. Demikianlah waktu berlalu, memberikan kesempatan kepada kedua anak manusia untuk saling mengembangkan diri mereka masing-masing.


Bila anda tidak berkenan dengan jalan cerita Seratus Hari yang dituliskan di sini, silakan anda mengubahnya!