Seratus Hari/Dipsa sanguini

"Tidak ada apa-apa di sini!" ujar seorang pemuda yang telah menuntaskan lubangnya tempat ia menggali. Sudah cukup dalam dan lebar tanah dikuat dengan cangkut di tangannya. Di sisi lubang tersebut telah terdapat setumpuk tanah dan batu-batu.

"Di sini juga tidak ada!" ucap yang lain.

Masing-masing tampaknya telah menyelesaikan lubang-lubang di tempat yang ditunjukkan oleh titik-titik di atas peta itu.

Seseorang dari mereka tiba-tiba teringat sesuatu. "Mungkin di tempat yang telah dicoret itulah terdapat harta karun yang dimaksud," gumammnya,

"Eh, apa maksudmu?" ucap teman yang berdiri di dekatnya, yang mendengar gumamannya.

Orang yang bergumam tadi pun segera beranjang dengan diikuti oleh pandangan penuh tanda tanya oleh rekan-rekannya. Ia memperhatikan peta dan menuju ke salah satu titik yang sudah diberi tanda silang, tapi bukan titik yang masih berlubang galian melainkan yang telah ditimbun kembali. Dengan semangat menggila ia menggali tempat yang ditunjukkan itu. Rekan-rekannya yang bagai mendapat semangat pun kemudian membantunya. Menggali dan menggali. Mereka pun mengais-ngais tanah untuk membuat lubang di atasnya.

Sementara itu sesosok bayangan tampak bergerak cepat, menyusuri tempat-tempat di mana terdapat lubang-lubang yang baru digali yang di sisinya atau di dalamnya ada seorang pemuda yang sedang mengamati atau mencari-cari. Dengan cepat ia menotok sana-sini. Tanpa suara pemuda-pemuda itu menjadi kaku dan berdiri, jonkok atau duduk mematung.

Bayangan itu terdiam sesaat tinggal beberapa orang yang masih belum ia bekukan. Orang-orang yang menggali lubang bersama-sama ini. Ia tidak ingin ada keributan dan lebih baik bila mereka tidak melihat dirinya. Dengan perlahan ia bergerak dan menotok mereka satu-satu pemuda-pemuda yang menonton penggalian itu. Tinggal tiga orang saja masih menggali.

"Ada, ada sesuatu di sini!" ucap seorang yang sedang menggali itu.

Bergegas ketiganya membuang cangkul mereka dan meneruskannya dengan tangan, takut cankul merusak apa yang tertanam di dalam sana. Tak sadar mereka bahwa rekan-rekan mereka telah berdiam seperti patung dengan sorot mata ketakukan.

"Ini... si Srampi!!" ucap seorang yang segera mengenali bahwa 'sesuatu' itu adalah mayat teman mereka yang telah lama menghilang.

"Hiyyyy!!!" ucap yang lain.

"Ada apa sebe...," ucap yang lain lagi tapi segera terputus saat melihat kedua rekannya sedang terdiam dengan sorot mata melotot ketakukan. Ia pun berbalik dan melihat seorang bertubuh subur dan besar sedang mengamat-amatinya. Sebelum ia sempat berucap, sosok itu telah menjulurkan tangannya dan badannya pun menjadi kaku.

"Bagus, bagus..!! Semua sudah lengkap. Tinggal menuai hasilnya aku!" ucapnya. Ia pun dengan enteng membawa satu-satu pemuda itu ke lubangnya masing-masing. Memudahkan untuk menguburkannya nanti.

Tak lama ia pun memulai dengan mengucurkan darah dari seorang pemuda. Rekan-rekannya yang lain, yang hanya dapat kaku berdiri dan kebetulan dalam posisi memandanginya, hanya dapat melihat dengan kengerian saat darah pemuda itu mengucur perlahan memenuhi wadah yang diletakkan di dekatnya. Cairan merah tua dan agak kental mengucur perlahan. Uapnya tampak sedikit membumbung dalam udara malam yang cukup dingin itu.

Setelah melakukan untuk dua orang lagi, Panutu pun pergi ke tempatnya merapal ilmu untuk memanfaatkan air kehidupan itu. Tidak semua pemuda dapat dimanfaatkannya sekaligus. Harus bertahap. Terlalu berlebih bisa-bisa ia keracunan dan mendapatkan luka dalam.

Sementara itu rombongan orang-orang telah menjelang di kaki bukit. Dengan muka tegang mereka berjalan menuju atas, berharap-harap cemas apa yang akan mereka hadapi nanti.

"Sebaiknya nak Reiche dulu yang muncul,.," tiba-tiba usul seseorang, "..orang itu 'kan gurunya.."

Usul itu segera disetujui oleh beberapa orang lain. Dengan berpura-pura keberatan Reiche akhirnya menyetujui hal itu. Lancar. Mirip dengan apa yang telah ia rencanakan. Desas-desus tambahan yang ia hembuskan tadi pagi telah menyebar dan membuahkan kesempatan kepadanya.

"Baik, aku akan ke sana. Tapi jika aku nanti berteriak butuh pertolongan, paman-paman harus segera keluar untuk membantu.., setuju!" ucapnya.

"Baik!!" ucap seseorang dan diamini oleh yang lain.

Lalu dengan berlangkah agak ragu-ragu Reiche meninggalkan mereka mulai mendaki menuju tempat guru dan para pemuda yang sedang menunggu ajalnya itu berada. Ia berharap rencananya berjalan lancar sama sekali.


Bila anda tidak berkenan dengan jalan cerita Seratus Hari yang dituliskan di sini, silakan anda mengubahnya!