Pagi yang cerah. Burung-burung bernyanyi riang, Demikian pula dengan suasana hati dua orang pemuda yang telah menamatkan belajarnya di perguruan tulis-menulis dan hendak melanjutkan belajar ke kota Kern, kota pusat tlatah Nusantara. Reiche dan Arme akan pergi menuntut ilmu bersama-sama. Mereka berdua telah memenangkan semacam beasiswa dari perkumpulan penulis di kota tersebut. Adalah Paman Bücher yang mengajak mereka untuk ikut melamar dan mengirimkan karya-karya mereka mengenai ulasan buku-buku dari perkumpulan tersebut. Dengan persetujuan orang tua kedua pemuda tersebut Paman Bücher menjadi penanggung jawab mereka selama mereka bermukin di kota Kern.

Dikarenakan lamanya mereka akan belajar di sana, paman Bücher menawarkan Reiche agar ia menjual semua buku-bukunya. Bisa menjadi usaha yang menguntungkan bagi seorang pedagan buku seperti dirinya. Sebenarnya niat sebenarnya adalah untuk mencari sebuah kitab yang diduga dimiliki oleh Reiche. Kitab Seratus Hari. Guru Panengah yang ternyata berilmu tinggi pula telah berusaha menyatroni kamar Reiche di malam hari saat pemiliknya berada di toko buku akan tetapi tidak berhasil menemukan apa yang dimaksud. Kitab itu seperti hilang ditelah bumi. Reiche sendiri mengaku tidak tahu menahu mengenai kitab itu, walaupun ia mengakui pernah membacanya dan menyuruh Arme menerjemahkannya. Paman Bücher yang ternyata adalah keturunan dari keluarga Paras Tampan yang keturuan Rawarang, si Maling Kitab, merasa bertanggung jawab apabila kitab yang berisikan ilmu yang agak sesat itu terjatuh ke tangan sembarang orang. Reiche sendiri yang dicurigai telah menjalankan suatu ilmu yang tidak baik, tidak bisa dibuktikan kesalahannya. Jadi Arme, paman Bücher dan guru Panengah masih mencari-cari kitab itu. Yang tidak diketahui oleh Reiche adalah hubungan antar ketiganya. Ia merasa ketertarikan paman Bücher terhadap kitab itu adalah biasa suatu ketertarikan pemilik toko buku terhadap buku-buku langka belaka. Kitab itu telah ia sembunyikan dengan baik di suatu tempat. Jadi ia dengan lega menjual seluruh koleksinya kembali kepada paman Bücher, dari mana ia dulu membelinya.

Demikianlah kisah dua orang anak yang tumbuh di bawah didikan guru yang berbeda, menghasilkan watak yang berbeda pula. Sikap saling menghargai satu-sama lain sampai saat ini tidak membuat keduanya bersilang kepalan. Entah nanti di suatu waktu di masa depan.

Waktu pun terus berlanjut mengiringi orang-orang yang terus mencari ilmu untuk membuat hidupnya bermakna.

Selesai



Bila anda tidak berkenan dengan jalan cerita Seratus Hari yang dituliskan di sini, silakan anda mengubahnya!